Jumat, 08 Juli 2011

BEI Cabut Suspensi Saham MIRA & SAIP

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia telah mencabut penghentian saham sementara atau suspensi atas PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) dan PT Surabaya Agung Industry Pulp Tbk (SAIP).

Menurut Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa BEI, Umi Kulsum saham MIRA disuspensi pada 30 Juni 2011 lalu. Pencabutan saham MIRA dan waran 2 di pasar negosiasi pun diputuskan untuk dicabut suspensinya.

Pada saat yang sama, BEI juga membuka suspensi atas efek PT Surabaya Agung Industry Pulp Tbk (SAIP) di pasar negosiasi dan reguler pada sesi I. Sementara untuk saham SAIP pun kembali diperdagangkan baik di pasar reguler dan pasar tunai mulai sesi I perdagangan hari ini.

Tifa Finance Targetkan Pembiayaan Rp1 T di 2011

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Tifa Finance Tbk (TIFA) menargetkan pembiayaan sebesar Rp1 triliun pada 2011. Pembiayaan yang telah direalisasikan sebesar Rp500 miliar hingga pertengahan tahun ini.

Direktur Utama PT Tifa Finance Tbk, Suwito Djohan menuturkan, perseroan menargetkan pembiayaan Rp1 triliun didukung dari ekonomi membaik dan unit bisnis pembiayaan perseroan untuk pertambangan, perkebunan, konstruksi dan konsumsi.

Hingga Juni 2011, perseroan telah merealisasikan pembiayaan sebesar Rp500 miliar. Perseroan merealisasikan pembiayaan sebesar Rp600 miliar pada 2010. "Porsi pembiayaan kita sebesar 75% untuk alat berat dan 25% untuk konsumsi," kata Suwito, Jumat (8/7).

Pendanaan pembiayaan sebesar Rp1 triliun akan didapatkan dari hasil penawaran umum saham perdana, perbankan dan medium term notes (MTN). Perseroan telah menerbitkan MTN sebesar Rp100 miliar. "Pendanaan mayoritas dari pinjaman perbankan yang didapatkan dari Bank Mandiri, CIMB Niaga, dan BCA, kita akan jajaki obligasi," ujar Suwito.

Lebih lanjut ia mengatakan, perseroan menargetkan aset sebesar Rp1,1 triliun pada 2011. Laba bersih perseroan naik 30% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp28 miliar. " Kita harapkan laba bersih sebesar Rp35 miliar pada 2011," tambah Suwito. [hid]

BLTA batal beli dua kapal tahun ini

JAKARTA. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) berniat membatalkan pemesanan dua kapal chemical tanker yang dijadwalkan dikirim pada tahun ini. Alasan pembatalan karena harga kapal itu naik tajam mengikuti perubahan nilai tukar mata uang.

Presiden Direktur BLTA, Widihardja Tanudjaja, menjelaskan, BLTA memesan kedua kapal tersebut di Jepang ketika kurs rupiah terhadap yen masih stabil. Kini, “Harga kapal itu sudah naik tiga kali lipat karena selisih kurs,” kata Widihardja, Kamis (7/7).

Rencana BLTA membeli kapal merupakan bagian dari agenda ekspansi perusahaan. Manajemen BLTA, sebelumnya, berencana menambah empat kapal chemical tanker pada tahun ini.

Dari rencana empat kapal, dua kapal telah datang terlebih dahulu pada 14 April lalu. Dengan tambahan dua kapal, BLTA kini memiliki sekitar 98 kapal. Dari jumlah tersebut, sebanyak 68 kapal merupakan jenis chemical tanker. Nilai total kedua kapal tersebut sekitar US$ 40 juta.

Manajemen BLTA menjelaskan, nilai investasi dua kapal terakhir yang siap dibatalkan berkisar US$ 30 juta-US$ 40 juta. “Kalau bisa, maka akan kami batalkan pesanannya,” kata Widihardja.

Untuk menyiasati bisnisnya, BLTA akan mengganti kapal chemical tanker tersebut dengan kapal elpiji. Kapal elpiji ditargetkan datang pada Agustus nanti. Namun, tidak disebutkan berapa nilai investasi kapal tersebut.

Manajemen BLTA juga menolak menyampaikan proyeksi kinerjanya yang terbaru setelah perubahan rencana ekspansi tersebut.

Sebelumnya, manajemen BLTA pernah mengemukakan pendapatan dari jasa pengangkutan kimia pada tahun ini bisa meningkat 8% daripada pemasukan untuk tahun sebelumnya. “Pendapatan sulit diprediksi karena besarnya pengaruh peristiwa di luar negeri, seperti krisis Libia yang belum selesai dan masalah keuangan yang melanda negara Eropa,” kata Widihardja. Pendapatan BLTA pada tahun lalu US$ 656,85 juta

Widihardja juga menolak memberikan estimasi laba bersih tahun ini. Dia bilang, kenaikan harga minyak mempengaruhi kinerja BLTA. Sebab, minyak menyumbang sekitar 40% biaya operasi kapal. Pada 2010, BLTA rugi bersih US$ 154,40 juta.

Pasar tenaga kerja AS jadi obat kuat bursa Asia

Pasar tenaga kerja AS jadi obat kuat bursa Asia
TOKYO. Mayoritas saham di bursa Asia melesat di akhir pekan. Dengan demikian, bursa kawasan regional sudah melesat selama tiga minggu berturut-turut. Kian membaiknya data ritel dan pasar tenaga kerja AS menjadi obat kuat bagi bursa Asia.

Pada pukul 09.14 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific naik 0,4% menjadi 137,88. Dengan demikian, sepanjang minggu ini, bursa Asia sudah melesat sebesar 1,7%. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik 1%, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,2%, dan indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,6%.

Sejumlah saham yang mempengaruhi pergerakan bursa regional antara lain: BHP Billiton Ltd naik 0,9% di Sydney seiring optimisme permintaan bahan bakar akan mengalami kenaikan di AS dan Toyota Motor Corp naik 1,3% di Tokyo. Sementara, Shinhan Financial Group Co mengalami penurunan di Seoul.

"Pasar tenaga kerja AS mengalami rebound pada Juni setelah anjlok pada Mei karena dampak gempa Jepang terhadap industri otomotif," jelas Juichi Wako, senior strategist Nomura Holdings Inc.

Suspensi dibuka, saham SAIP diperdagangkan turun 1,15%

JAKARTA. Saham PT Surabaya Agung Industry Pulp Tbk (SAIP) kembali diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai mulai Jumat (8/7) ini.

Sebelumnya, pada 5 Juli lalu, bursa menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham ini karena mengalami kenaikan harga kumulatif yang signifikan. Selama periode 21 Januari hingga 4 Juli 2011, saham ini mengalami kenaikan sebesar Rp 305 atau 234,62%.

Pasca diperdagangkan kembali, saham SAIP sudah turun 1,15% ke level Rp 430 per saham hingga pukul 10.33 di Jakarta.

Listing Perdana, Saham TIFA Naik 3,75%

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Pada pembukaan perdagangan saham, saham PT Tifa Finance Tbk (TIFA) mencapai harga Rp270 per saham, Jumat (8/7).

Harga ini naik 3,75% dari harga saham perdana. Frekuensi sebesar 2.661 lot dengan transaksi Rp329 juta. Harga saham TIFA sempat mencapai harga terendah sebesar Rp210 per saham dan tertinggi Rp240 per saham.

PT Tifa Finance Tbk mencatatkan saham perdana di papan pengembangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham TIFA pada perdagangan saham hari ini.

Perseroan bergerak di jasa keuangan ini melepas sekitar 278 juta saham ke publik dengan harga penawaran Rp200 per saham. Dana hasil penawaran umum saham perdana yang berhasil diraih sebesar Rp55,60 miliar. Dana hasil penawaran umum saham perdana untuk penambahan modal kerja dalam melakukan pembiayaan sewa guna usaha.

Jumlah saham yang dicatatkan di BEI 1.079.700.000 saham. Adapun kepemilikan saham setelah penawaran umum saham perdana yaitu PT Dwi Satrya Utama sebesar 38,61%, Tan Chong Credit Pte Ltd sebesar 35,64%, dan masyarakat sebesar 25,75%. Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp107,47 miliar dan laba bersih sebesar Rp28,22 miliar pada 2010. [hid]

Hari pertama listing di bursa, saham TIFA sudah meroket 70%

JAKARTA. Di hari pertama pencatatannya di Bursa Efek Indonesia, Jumat (8/7), saham PT Tifa Finance Tbk (TIFA) langsung melejit. Hingga perdagangan pukul 10.02 WIB, TIFA sudah meroket Rp 140 atau setara 70% ke level Rp 340 per saham. Adapun, harga pembukaan saham ini di Rp 200 per saham.

TIFA menawarkan 278 juta saham atau 25,75% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan kepada publik dalam hajatan penawaran umum (IPO).

Adapun dana yang berhasil dihimpun lewat IPO ini sebesar Rp 55,6 miliar. Dana ini akan digunakan untuk penambahan modal kerja perseroan dalam melakukan pembiayaan sewa guna usaha.

Dikabarkan bakal akuisisi 4.000 tower, saham TBIG berlari kencang

JAKARTA. Saham PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) mengalami aksi beli pagi ini. Bahkan kenaikannya merupakan yang terbesar dalam lima bulan terakhir. Pada pukul 09.34, TBIG tercatat naik 2,1% menjadi Rp 2.475. Ini merupakan level tertinggi sejak 26 Januari lalu.

Disinyalir, aksi borong investor atas saham ini terkait dengan aksi korporasi perusahaan. Dikabarkan, TBIG berencana mengakuisisi 4.000 tower yang dimiliki PT Indosat.

Seluruh sektor menghijau, IHSG pagi dibuka naik signifikan

Seluruh sektor menghijau, IHSG pagi dibuka naik signifikan
JAKARTA. Di akhir pekan ini, Jumat (8/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan penguatan cukup signifikan 0,77% menuju posisi 3.971,285.

Seluruh sektor yang berada di bursa saham mengalami reli. Penguatan paling tajam antara lain terjadi pada sektor aneka industri, keuangan, dan manufaktur.

Hingga pukul 09.33 WIB, tercatat sudah 76 saham yang mengalami kenaikan, dan 16 saham mengalami penurunan. Sementara, 69 saham lainnya belum beranjak dari harga penutupan kemarin.

Saham PT Tifa Finance Tbk (TIFA) yang meroket hingga 70,00% ke Rp 340 memimpin sebagai top gainers. Selanjutnya, di jajaran top gainers ada PT Wahana Ottomitra Citramulia Tbk (WOMF) yang naik 5,06% ke Rp 415, dan PT Surabaya Agung Industry Tbk (SAIP) yang reli 4,60% ke Rp 455.

Saham-saham pengisi top losers mengalami penurunan cukup dalam, antara lain PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang turun 14,06% ke Rp 5.500, PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) yang turun 12,26% ke 136, dan PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) yang jatuh 9,38% ke Rp 1.450.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo memperkirakan, hari ini IHSG akan bergerak naik pada kisaran 3.909 - 3.980. "Kenaikan yang terus berlangsung di indeks Dow Jones Industrial diharapkan bisa menghapus sentimen bearish yang masih ada," ujarnya. Penutupan di atas rekor 3.962 bisa membuka potensi kenaikan lebih lanjut hingga ke kisaran 4.000 - 4.050.

Saham pilihan Satrio untuk tren naik kali ini adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Mitra ADiperkasa Tbk (MAPI), PT Charoen Popkhand Tbk (CPIN), PT JAPFA Tbk (JPFA), PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG), dan PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG).

Universal: Penutupan di atas rekor buka potensi indeks naik di atas level 4.000

JAKARTA. Dalam hasil riset hariannya, Universal Broker memprediksi, kenaikan yang terus berlangsung pada indeks Dow Jones Industrial diharapkan bisa menghapuskan sentimen bearish yang masih ada di dalam negeri.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diperkirakan akan bergerak naik pada kisaran 3.909-3.980. Penutupan diatas rekor 3.962 akan membuka potensi kenaikan hingga kisaran 4.000-4.050.

"Saham pilihan kami untuk trend naik kali ini adalah: ASII, BBRI, MAPI, CPIN, JPFA, AMFG, dan ADMG," jelas tim riset Universal Broker.

eTrading: Saham ASII, GGRM, dan MNCN boleh menjadi incaran

JAKARTA. Pada perdagangan hari Kamis (7/7), indeks Dow Jones ditutup naik 93 point (0,74%) ke level 12.719,49. Hal ini menyusul keluarnya data penjualan ritel dan lapangan pekerjaan yang tercatat naik melebihi estimasi semula.

Sementara itu, IHSG kemarin (7/7) ditutup naik 30 point (0,78%) ke level 3.939,47 dengan asing tercatat melakukan net buy pada pasar regular sebesar Rp 240 miliar dengan saham-saham yang paling banyak dibeli antara lain BMRI, ADRO, IMAS, BBNI, dan MAPI.

"Secara teknikal, pada perdagangan kemarin IHSG berhasil bergerak rebound dengan candlestick yang membentuk white marubozu sementara RSI mulai menunjukkan tanda trend reversal, namun perlu diwaspadai indikator stochastic yang masih berada di area overbought," papar Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities.

Pada perdagangan hari ini (8/7), IHSG diperkirakan akan bergerak pada range 3.908-3.962 dengan saham-saham yang layak diperhatikan antara lain ASII, GGRM, dan MNCN.

Asing mulai incar sukuk Indonesia

JAKARTA. Pasar obligasi syariah atau sukuk Indonesia bakal semakin cerah. Indikasinya, imbal hasil (yield) sukuk global terbitan pemerintah Indonesia terus menurun. Ini sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa peringkat utang Indonesia akan naik ke level investment grade.

Mengacu ke data Royal Bank of Scotland Group Plc, sukuk Indonesia yang jatuh tempo pada April 2014 ini menawarkan yield 2,63%, Jumat (1/7) lalu. Ini merupakan yang pertama kali selama enam bulan terakhir, imbal hasil sukuk Indonesia lebih kecil daripada yield sukuk terbitan pemerintah Malaysia.

Di hari yang sama, sukuk Malaysia yang jatuh tempo pada 2015 itu mencetak yield 2,68%. “Ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas kredit dan peringkat utangnya," ujar Sergey Dergachev, Senior Portfolio Manager Union Investment Privatfonds yang berbasis di Frankfurt, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Indonesia yang peringkat utangnya empat level di bawah Malaysia, diprediksi bakal meraih predikat investment grade jika pemerintah mampu mengendalikan inflasi tanpa menggerus pertumbuhan ekonominya.

Ahmad Najib Nazlan, Deputi Tresuri Divisi Tresuri dan Pasar Modal Bank Muamalat Malaysia Bhd.di Kuala Lumpur menyatakan, Indonesia sebaiknya meneruskan rencana penerbitan sukuk global mengingat permintaan yang terbilang tinggi.

Indonesia berniat menawarkan sukuk global dengan nilai minimal US$ 500 juta, Oktober tahun ini. Jangka waktu sukuk berkisar tujuh tahun- sepuluh tahun.

Lembaga pemeringkat internasional melihat prospek Indonesia semakin cerah. Fitch Ratings mengerek peringkat utang Indonesia menjadi BB+, satu langkah menuju investment grade. Standard & Poor’s juga menetapkan peringkat Indonesia di BB+.

Melihat kondisi ekonomi Eropa yang masih labil, investor lebih tertarik masuk pasar emerging market, seperti Indonesia. "Kenaikan peringkat utang Indonesia serta penurunan peringkat Eropa mencerminkan perbedaan antara negara berkembang dengan likuiditas melimpah dan negara maju yang berupaya mengatasi defisit anggaran," tutur Philip Wee, Ekonom Senior DBS Group Holdings Ltd di Singapura.

Sentimen dari AS bikin Nikkei melaju kencang

Sentimen dari AS bikin Nikkei melaju kencang
TOKYO. Mayoritas saham di bursa Jepang mengalami kenaikan pagi ini. Sentimen positif datang dari AS, di mana perusahaan di Negeri Paman Sam itu menambah lapangan kerja baru lebih banyak ketimbang prediksi analis.

Pada pukul 09.55 waktu Tokyo, indeks Nikkei 225 Stock Average Jepang naik 1,1% menjadi 10.178,17. Sejumlah saham yang mempengaruhi pergerakan bursa Jepang diantaranya: Nissan Motor Co naik 1,9%, Canon Inc naik 1,8%, dan Inpex Corp naik 1,8%.

"Lapangan pekerjaan AS mengalami rebound pada Juni setelah pada Mei lalu melorot akibat dampak gempa Jepang terhadap sektor otomotif," jelas Juichi Wako, senior strategist Nomura Holdings Inc.

Asing Masih Beli, IHSG Dibuka Naik 0,5%

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia pada perdagangan Jumat (8/7) pagi dibuka naik 19,62 poin atau 0,5% ke 3.959,10. Volume perdagangan mencapai 154 juta saham senilai Rp195,4 miliar.

Perdagangan diwarnai dengan 82 saham naik, 16 saham turun dan 70 saham stagnan. IHSG mengalami net foreign buy mencapai Rp18,6 miliar dengan pembelian asing sebesar Rp70,05 miliar dan penjualan asing sebesar Rp51,3 miliar.

Indeks JII naik 4,9 poin ke 547,79, indeks ISSI naik 0,9 poin ke 127,23 dan indeks LQ45 naik 7,4 poin ke 703,96. Penguatan didukung sektor industri dasar yang naik 21,4 poin ke 1.215,28, sektor pertambangan naik 16,2 poin ke 3.304,68.

Bursa saham Amerika Serikat ditutup naik tajam pada perdagangan Kamis (7/7). Hal ini dipengaruhi data ekonomi seperti peningkatan jumlah tenaga kerja dan penjualan ritel membuat optimisme pelaku pasar.

Indeks Dow Jones naik 93,47 poin atau 0,74% ke level 12.719,49. Indeks S&P 500 naik 14 poin atau 1,05% ke level 1.353,22. Indeks Nasdaq naik 38,64 poin atau 1,36% ke level 2.872,66.

Sementara minyak mentah berjangka ditutup di atas level US$98 per barel Jumat (8/7) dini hari tadi. Minyak kehilangan beberapa momentum dari data persediaan, setelah rilisnya data pekerjaan yang positif.

Minyak mentah untuk pengiriman Agustus naik US$2,02, atau 2,1%, menjadi US$98,67 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah mencapai intraday tertinggi US$99,42 dan terendah di US$96,99.

Saham yang menguat seperti saham GGRM naik Rp1.250 ke Rp50.500, ASII naik Rp1.100 ke Rp66.500, UNTR naik Rp550 ke Rp25.600, ITMG naik Rp500 ke Rp45.250, IMAS naik Rp250 ke Rp9.500, INTP naik Rp250 ke Rp16.850.

Saham turun seperti SCMA turun Rp900 ke Rp5.500, JTPE turun Rp150 ke Rp1.450, HMSP turun Rp100 ke Rp28.650.

Investor dalam Proses Akumulasi Saham BUMI

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Laju saham BUMI, Jumat (8/7) belum akan lepas dari kisaran trading-nya saat ini. Tapi, saham ini sangat menarik karena investor dan pelaku pasar dalam proses akumulasi. Target terdekat adalah Rp3.200.

Pengamat pasar modal David Cornelis mengatakan, saham PT Bumi Resources (BUMI) paling menarik akhir pekan ini. Sebab menurutnya, saham sejuta umat ini masih dalam proses akumulasi oleh para pelaku pasar dan investor setelah technical correction sejak 24 Juni 2011.

Dia menjelaskan, sudah 8 hari saham BUMI melakukan konsolidasi 'di bawah' dan berada di level support kuatnya di sekitar Rp2.950. “BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp2.925 dan Rp3.100 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (7/7).

Pada perdagangan Kamis (7/7) saham BUMI ditutup melemah Rp25 (0,83%) ke level Rp2.975 dari sebelumnya Rp3.000. Harga intraday tertingginya mencapai Rp3.050 dan terendah Rp2.950. Volume transaksi mencapai Rp53,6 juta unit saham senilai Rp160,8 miliar dan frekuensi 2.068 kali.

Lebih lanjut David menegaskan, saat ini, saham anak usaha grup Bakrie ini masih dalam proses akumulasi, setelah terjadi techical correction dua pekan lalu. “Sekarang, saham BUMI sudah mendekati saatnya untuk bergerak 'trending',” tandasnya.

Sebab, secara historis, saham BUMI melakukan minor konsolidasi tidak lebih dari 3-4 pekan. Karena itu, target terdekat ada di level Rp3.125-3.200 . “Level tersebut, bisa dicapai dalam waktu dekat. Tapi, untuk saat ini belum ada sinyal untuk bergerak di atas trading range-nya saat ini Rp2.925-Rp3.100,” tandasnya.

Saham BUMI, menurutnya, akan beranjak dari kisaran tersebut stelah proses akumulasi selesai dan performa kinerja keuangan kuartal II/2011 dirilis di atas ekspektasi. “Saya rekomendasikan buy on weakness di level support kuatnya Rp2.950 itu,” imbuhnya. [ast]

Pefindo Tegaskan Peringkat AA untuk JSMR

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat AA untuk PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebagai perusahaan dengan obligasi yang beredar senilai Rp5 triliun.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers Pefindo, Jumat (8/7). Prospek untuk peringkat tersebut adalah stabil. Hal itu mencerminkan posisi JSMR yang dominan pada industri jalan tol.

Pertumbuhan pendapatan yang stabil terutama didorong oleh ekspansi usaha yang berhasil dan struktur tarif yang lebih baik, kuatnya indikator profitablitas, dan fleksibilitas keuangan yang kuat. Tapi peringkat tersebut dibatasi oleh struktur modal perusahaan yang agresif dan risiko bisnis pembangunan jalan tol baru.

Pemegang saham perseroan hingga Maret 2011 antara lain Pemerintah Indonesia sebesar 70%, Morgan Stanley and Co Int sebesar 2,5%, karyawan perusahaan sebesar 0,6% dan masyarakat sebesar 26,9%.

ISAT akan Jual Tower ke TBIG

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Indosat Tbk (ISAT) dikabarkan sedang didekati PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) untuk mengakuisisi 4 ribu tower milik perseroan.

TBIG dikabarkan sudah menyiapkan dana untuk rencana ini hingga US$500 juta. Dana itu sebagian diperoleh dari pinjaman beberapa bank.

Saham ISAT pada perdagangan kemarin naik Rp100 ke Rp5.150 dengan volume 2.820 saham senilai Rp7,2 miliar sebanyak 250 kali transaksi.

MTFN akan Jadi Perusahaan Migas

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Capitalinck Investment Tbk (MTFN) dikabarkan akan meakukan backdoor listing menjadi perusahaan migas.

Perseroan juga akan berganti nama menjadi PT Kineta Petroleum Tbk. Dalam waktu dekat saham MTFN diperkirakan akan menuju Rp1.700-2.000.

Pada perdagangan kemarin saham MTFN ditutup turun Rp30 ke Rp1.200 dengan volume 84 saham senilai Rp50,2 juta sebanyak 20 kali transaksi.

MITI Sedang Dilirik Perusahaan Batubara Besar

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Mitra Investindo Tbk (MITI) dikabarkan sedang dilirik perusahaan batubara besar untuk diakuisisi.

Perseroan juga disebut-sebut akan mengakuisisi tambang batubara di Sumatera dan Kalimantan. Saham MITI diperkirakan akan bergerak menuju level Rp100-150 per lembar.

Saham MITI kemarin ditutup naik Rp16 ke Rp68 dengan volume 581.130 saham senilai Rp18,5 miliar sebanyak 2.758 kali transaksi.

Produksi CPO BWPT naik 54,4% sepanjang semester satu 2011

Produksi CPO BWPT naik 54,4% sepanjang semester satu 2011
JAKARTA. Produksi PT BW Plantation Tbk (BWPT) sepanjang semester pertama 2011 meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di paruh pertama 2011, produksi tandan buah segar (TBS) BWPT mencapai 242.851 ton.

Jumlah tersebut naik 53% dari produksi perseroan di kuartal satu 2010 yang sebesar 161.600 ton. Sementara, Sedang produksi minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) selama enam bulan pertama tahun ini meningkat 54,4% dibanding dengan semester satu 2010 menjadi 59.683 ton.

Manajemen BWPT menjelaskan, kenaikan produksi tersebut ditopang oleh dua faktor. Pertama, bertambahnya tanaman sawit yang sudah memasuki usia matang. “Tanaman baru yang menghasilkan sekitar 4. 000 hektare (ha),” kata Kelik Irwantono, Sekretaris Perusahaan BWPT, Kamis (7/7). Produksi TBS sawit dari tanaman itu mencapai 11 ton per ha.

Tanaman sawit BWPT yang memasuki usia matang di tahun ini adalah pohon yang ditanam pada 2007. Saat itu BWPT menanam sawit di lahan seluas 4.393 ha. Dengan tambahan tersebut, maka luas lahan yang tanamannya sudah menghasilkan tahun ini mencapai sekitar 19.663 ha. Sekadar informasi, lahan tertanam BWPT di akhir 2010 lalu mencapai 52.060 ha.

Faktor kedua, cuaca pada semester pertama 2011 lebih baik dari periode yang sama tahun sebelumnya. “Semester satu 2010 produksi kami turun, sekarang cuaca lebih baik terlihat peningkatan yang signifikan,” kata Kelik.

Namun, manajemen BWPT tidak mengubah target produksi tahun ini. BWPT menargetkan produksi naik 10%-15% dari tahun sebelumnya.

Alasannya, perusahaan perkebunan ini memperkirakan pertumbuhan produksi pada semester dua 2011 tidak akan meningkat signifikan dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara, harga rata-rata CPO BWPT pada semester satu 2011 mengalami kenaikan 10%-15% dibanding periode yang sama tahun lalu. Di semester pertama 2010 harga rata-rata CPO BWPT senilai Rp 6,5 juta per ton.

Tapi, manajemen BWPT bungkam soal hasil penjualan perseroan kuartal satu 2011. Alasannya, belum ada laporan volume penjualan. “Tapi hitung-hitungannya sudah kelihatan, produksi naik 54,4% harga jual naik 10%-15%,” kata Kelik. Asal tahu saja, di semester satu 2011 penjualan BWPT Rp 275,67 miliar.