Jumat, 29 Juli 2011

Kuartal kedua, marketing sales APLN capai Rp 2,5 triliun

Kuartal kedua, marketing sales APLN capai Rp 2,5 triliun
JAKARTA. Marketing sales PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) di kuartal kedua 2011 naik dua kali lipat dibandingkan kuartal pertama 2011.

"Kuartal kedua tahun ini kami perkirakan bisa mencapai Rp 2,5 triliun," ujar Wakil Presiden Direktur APLN Indra Wijaya, Jumat (29/7).

Kontribusi terbesar datang dari beberapa proyek baru APLN. Seperti Apartemen Green Bay di Pluit, Apartemen Green Lake di Sunter, dan perumahan Grand Taruma di Karawang. Green Bay, misalnya menyumbang 27% dari total marketing sales. Sisanya merupakan campuran dari proyek-proyek yang sudah rampung, seperti Central Park.

Sekedar mengingatkan, pada kuartal pertama tahun ini APLN membukukan marketing sales sebesar Rp 1,1 triliun. Pencapaian ini merupakan yang tertinggi dibandingkan perusahaan properti lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Terimbas Regional, IHSG Sesi I Ditutup Merah

INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan sesi I Jumat (29/7), IHSG ditutup melemah 0,85% ke level 4.110,21.

Pelemahan indeks siang ini dipengaruhi pelemahan bursa regional dan global. Dow semalam ditutup melemah 0,51%, sementara di Asia, Shanghai turun 0,47%, Hang Seng turun 0,73%, KLSE turun 0,27%, Nikkei turun 0,53%, STI turun 0,24%, dan Seoul turun 0,79%.

Sebanyak 190 saham tercatat turun siang ini, 63 saham stagnan, dan 64 saham naik. Indeks LQ45 melemah 0,99% ke level 725,75, sementara JII turun 1,22% ke level 565,24.

Volume perdagangan tercatat sebanyak 3,06 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2,53 triliun. Namun, asing justru masih berada di pasar dengan mencatatkan net foreign buy senilai Rp95,5 miliar.

Saham-saham yang melemah tajam siang ini adalah MLBI yang turun 1,17%, ASII turun 2,09%, GGRM turun 0,97%, ITMG turun 0,68%, MYOR turun 2,02%, dan HRUM turun 3%.

IHSG Terus Terkoreksi, Sebaiknya Profit Taking

INILAH.COM, Jakarta- Koreksi IHSG siang ini masih akan berlanjut hingga penutupan. Investor pun disarankan melakukan profit taking pada saham-saham yang sudah memberi keuntungan.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti terus melemah. “Indeks akan mengarah ke level support 4.089 dan 4.162 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (29/7).

Menurutnya, pelemahan indeks hari ini dipicu oleh dua faktor krusial. Pertama, negosiasi kenaikan plafon kredit AS hingga akhir pekan ini yang belum mencapai kata sepakat. “Pasar khawatir jika AS mengalami down grade rating utangnya dan berakhir pada gagal bayar,” ujar Willy.

Dia memaparkan, proposal dari pimpinan Kongres Partai Republik yang sedianya di-voting semalam, ternyata batal. Sebab, Partai Demokrat dan Pemerintah Obama sudah menyatakan penolakannya atas proposal tersebut. “Alhasil, kalaupun voting dilakukan, hasilnya akan sia-sia sehingga situasi market semakin tidak pasti dan cenderung panik,” ucap Willy.

Faktor krusial lannya adalah karena hari ini adalah akhir pekan menjelang libur panjang. Ada satu event yang tidak bisa diabaikan market, yakni momentum awal bulan puasa yang mulai pekan depan. “Kondisi ini, membuat market sedikit lesu,” ungkap Willy.

Pelaku pasar yang menganut agama Islam, menurutnya, cenderung melakukan aksi jual hari ini. Karena secara historis, awal puasa selalu mengalami penyesuaian pada pergerakan bursa secara signifikan. Apalagi sentimennya tidak pasti dari Amerika. “Daripada pusing bermain saham, lebih baik fokus puasa dan jual saham sekarang,” tandas Willy.

Karena itu, ia memperkirakan, pada empat hari di awal puasa, Senin-Kamis pekan depan, indeks akan melaju dengan berat. Sebab, pelaku pasar yang Muslim lebih memilih profit taking sebagai persiapan puasa. Namun, selama indeks masih bertahan di atas support 4.089, masih aman. “Jika tembus ke bawah level tersebut, indeks akan menuju support berikutnya 4.050,” tandasnya.

Dalam situasi ini, Willy merekomendasikan profit taking untuk saham-saham yang sudah memberikan keuntungan. Namun, bagi investor yang belum mengambil posisi, disarankan untuk stand by dan mengambil posisi pada saham-saham yang sudah terkoreksi dalam. “Tapi, akumulasi beli itu harus didasarkan pada positifnya laporan keuangan,” paparnya. [ast]

Terpangkas 36 Poin, IHSG Hampir Tinggalkan 4.100

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 36 poin akibat aksi ambil untung di saham-saham unggulan. Indeks pun bersiap meninggalkan level 4.100.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menguat tipis 8,101 poin (0,19%) ke level 4.153,928 dan menjadi satu-satunya bursa di regional yang menguat. Krisis utang AS semakin mendekati tenggat waktu namun belum juga ada kesepakatan.

Sayangnya, penguatan ini tak bertahan lama. Setelah menanjak hingga ke posisi tertingginya di level 4.160,498, indeks langsung terkena tekanan jual dan ambruk hingga ke level 4.105,293.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (29/7/2011), IHSG terpangkas 36,164 poin (0,88%) ke level 4.109,663. Sementara Indeks LQ 45 melemah 7,306 poin (0,99%) ke level 725,751.

Tekanan jual kembali terjadi di saham-saham unggulan dan lapis dua. Saham-saham ini memang sudah naik terlalu tinggi dan cepat hanya dalam beberapa kali perdagangan saja.

Rata-rata penurunan yang diderita indeks sektoral di lantai bursa lebih dari satu persen. Hanya indeks sektor infrastruktur yang mampu menguat meski tipis.

Aksi ambil untung banyak dilakukan pemodal lokal, sementara investor asing hingga siang ini masih melakukan pembelian bersih (foreign net buy) dengan jumlah yang tipis.

Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 94.547 kali pada volume 3,547 miliar lembar saham senilai Rp 2,774 triliun. Sebanyak 62 saham naik, 189 saham turun, dan 62 saham stagnan.

Berikut kondisi bursa-burs di Asia hingga siang hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 12,65 poin (0,47%) ke level 2.696,13.
  • Indeks Hang Seng terkoreksi 163,73 poin (0,73%) ke level 22.407,01.
  • Indeks Nikkei 225 turun 65,56 poin (0,66%) ke level 9.835,79.
  • Indeks Straits Times turun tipis 7,52 poin (0,24%) ke level 3.182,33.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Sarana Menara (TOWR) naik Rp 1.850 ke Rp 12.700, Indomobil (IMAS) naik Rp 500 ke Rp 12.500, Multibreeder (MBAI) naik Rp 500 ke Rp 30.500, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 350 ke Rp 31.600.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 4.000 ke Rp 336.000, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.500 ke Rp 70.250, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 500 ke Rp 51.000, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 350 ke Rp 51.000.
(ang/dnl)

Naik 3,24%, Bank Mega Bukukan Laba Rp431,37 M

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Bank Mega Tbk (MEGA) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 3,24% menjadi Rp431,37 miliar pada Semester 1-2011 dari Rp417,82 miliar pada periode serupa 2010.

Kenaikan laba Semester 1-2011 Bank Mega ini disebabkan adanya peningkatan pendapatan bunga bersih menjadi Rp1,14 triliun dari Rp1,04 triliun pada periode serupa 2010. Pendapatan operasional lainnya juga naik menjadi Rp471,06 miliar pada Semester 1-2011 dari Rp303,78 miliar pada periode serupa 2010.

Kewajiban Perseroan pada Semester 1-2011 turun menjadi Rp47,14 triliun dari Rp47,23 triliun pada periode serupa 2010. Sedang ekuitas turun dari Rp4,37 trilun menjadi Rp4,23 triliun.

Agung Podomoro Tawarkan Kupon Obligasi 9,5-11,5%

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Agung Podomoro Land Tbk menawarkan kupon bunga obligasi I tahun 2011 senilai Rp800 miliar dari 9,5%-11,5%.

"Untuk kupon bunga obligasi bertenor waktu tiga tahun sebesar 9,5% hingga 10,5% dan kupon bunga obligasi bertenor waktu lima tahun sebesar 10,5% hingga 11,5%," ujar Direktur PT Indo Premier Securites Shiantaraga, Jumat (29/7).

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) melakukan penawaran umum Obligasi I Agung Podomoro Land Tahun 2011 sebesar Rp800 miliar.

Dana penawaran obligasi itu rencananya akan digunakan seluruhnya untuk pengembangan usaha Agung Podomoro melalui akuisisi perusahaan yang memiliki proyek properti yang berlokasi di Jakarta, Bali, dan Bogor.
Proyek yang akan diakuisisi dapat berupa apartemen, hotel, pusat perbelanjaan dan perumahan.

Surat utang akan diterbitkan dalam dua seri, yakni Seri A berjangka tiga tahun dan Seri B berdurasi selama lima tahun.

Adapun yang ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi adalah PT Deutsche Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Standard Chartered Securities Indonesia, dengan Wali Amanat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Menurut Shiantaraga, adapun jaminan obligasi ini adalah 125% proyek Central Park.

Sedangkan masa penawaran awal diperkirakan pada 29 Juli sampai 5 Agustus 2011 dan perkiraan tanggal efektif pada 12 Agustus 2011, serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia 24 Agustus mendatang. [cms]

Kinerja positif jadi daya tarik saham JSMR

Kinerja positif jadi daya tarik saham JSMR
JAKARTA. Saham PT Jasa Marga (JSMR) menjadi salah satu incaran investor pagi ini. Pada pukul 10.56, saham operator jalan tol ini naik 0,64% menjadi Rp 3.925.

Data Blommberg menunjukkan, sejumlah broker yang terbanyak mengempit kepemilikan saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 2,29 miliar, Deutsche Securities senilai Rp 412,13 juta, dan Philip Securities senilai Rp 392,5 juta.

Kinerja JSMR yang positif sepertinya menjadi daya tarik saham ini. JSMR membukukan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp 751,7 miliar pada semester I-2011. Angka itu tumbuh 15% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 653,6 miliar.

Merugi hingga 205%, saham GIAA ikut terpojok

Merugi hingga 205%, saham GIAA ikut terpojok
JAKARTA. Cobaan seakan tak pernah berhenti hinggap di saham PT Garuda Indonesia (GIAA). Setelah kemarin terpukul akibat sentimen mogok kerja pilot, hari ini, saham maskapai penerbangan terbesar di Indonesia itu kembali terkikis. Pada pukul 10.49, saham GIAA terjun 1,9% menjadi Rp 510.

Sentimen negatif yang mempengaruhi aksi jual investor pada hari ini adalah kinerja GIAA yang mengecewakan. Seperti yang diberitakan sebelumnya, dalam laporan keuangannya, maskapai nasional ini mencatat kerugian bersih sekitar Rp 185 miliar.

Kinerja Garuda ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan semester pertama 2010 lalu. Ketika itu, perusahaan penerbangan yang baru dilanda aksi mogok para pilot ini mencetak laba bersih sekitar Rp 60,61 miliar. Ini artinya, laba bersih Garuda anjlok sebesar 205,2%.

ENRG Bukukan Laba Rp34 Miliar

Headline
INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan laba bersih sebesar Rp34 miliar pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya mengalami rugi bersih sebesar Rp75 miliar.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers yang diterbitkan Jumat (29/7). Ebitda perseroan naik menjadi Rp380 miliar pada semester pertama 2011. Pendapatan perseroan naik dari Rp865,55 miliar pada semester pertama 2011 dari periode sama sebelumnya Rp543,41 miliar. Menurut Direktur Utama ENRG Imam Agustino pencatatan laba bersih ini didukung dari peningkatan produksi di Kangean PSC, dan Bentu PSC sebesar 12,82%. Selain itu, tren pergerakan harga minyak dunia dan harga jual gas yang semakin kompetitif memberikan kontribusi signifikan. Rasio pinjaman terhadap modal ENRG pun cukup rendah di level 0,7 kali juga mendukung kinerja perseroan.

Produksi minyak naik dari 6.500 barel per hari pada semester pertama 2010 menjadi 7.059 barel per hari pada semester pertama 2011. Sedangkan produksi gas dari 41 BBTU/day pada semester pertama 2010 menjadi 47,9 BBTU/day. [cms]

Naik 17,49%, Kredit BRI Ditopang Kredit Mikro

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Per Juni 2011, pertumbuhan kredit BRI mencapai 17,49% atau Rp265,82 triliun.

Menurut Direktur Bisnis Kelembagaan BRI Asmawi Syam, pertumbuhan kredit ini disokong oleh kredit mikro yang tingkat pertumbuhannya mencapai 35,39% dari Rp62,02 triliun menjadi Rp83,97 triliun per Juni 2011. "Untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada nasabah mikro, BRI terus menambah jumlah Teras BRI yang merupakan kepanjangan tangan dari BRI Unit," tuturnya.

"Pengembangan Teras BRI dimulai pada akhir 2009 dan per Juni 2011 jumlah Teras BRI mencapai 929 unit yang tersebar di pasar tradisional di seluruh Indonesia," tandasnya.

Sementara penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) BRI sampai akhir Juni 2011 tercatat Rp31,39 triliun kepada lebih dari 4,58 juta debitur. Outstanding KUR BRI pada triwulan II 2011 Rp13,2 triliun dan total debitur 1,82 juta orang. [cms]

Kupon obligasi Agung Podomoro 9,5% hingga 11,5%

Kupon obligasi Agung Podomoro 9,5% hingga 11,5%
JAKARTA. PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menawarkan obligasi dengan kupon 9,5%-10,5% untuk seri A dan 10,5%-11,5% untuk seri B. Rencananya, perusahaan properti ini akan menawarkan obligasi perdana maksimal sebesar Rp 800 miliar.

Obligasi seri A akan berjangka waktu tiga tahun. Sedangkan untuk seri B bertenor lima tahun. Sebagai jaminan, APLN mengagunkan Central Park Mall dengan rasio penjaminan 125%.

Dalam prospektusnya, APLN mengatakan, penerbitan surat utang ini untuk mengakuisi perusahaan properti yang memiliki proyek di wilayah Jakarta, Bali maupun Bogor. Proyek itu bisa berupa apartemen, perhotelan, pertokoan, pusat perbelanjaan, pusat rekreasi, ataupun perumahan.

APLN berencana memiliki sekitar 35% hingga 100% perusahaan tersebut. Dua dari perusahaan yang dibidik itu adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Agung Podomoro.

Adapun akuisisi ditargetkan paling lambat terlaksana pada 2013. "Pada saat ini perseroan sedang dalam tahap ekspansi," ujar Direktur Utama APLN Trihatma Kusuma Haliman, Jumat (29/7).

Pefindo memberikan peringkat A untuk obligasi yang diharapkan dapat memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam pada pertengahan Agustus 2011. APLN menunjuk PT Deutsche Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Standard Chartered Securities Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi oblgasi.

Masa bookbuilding 25 Juli - 5 Agustus 2011 dan masa penawaran dijadwalkan pada 16 Agustus - 19 Agustus 2011.

Kinerja semester I positif, saham BBRI bergerak liar

Kinerja semester I positif, saham BBRI bergerak liar
JAKARTA. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) keluar masuk zona hijau pagi ini. Di transaksi pagi, saham BBRI sempat ngendon di posisi Rp 6.950 atau naik 0,73%. Namun, pada pukul 10.43, saham BBRI tercatat turun 0,74% menjadi Rp 6.750.

Pergerakan liar saham bank pelat merah ini seiring dengan kinerja perusahaan di paruh pertama 2011. Seperti yang diketahui, laba bersih BBRI di semester I tahun ini naik ke posisi 6,78 triliun atau US$ 797 juta dari Rp 4,32 triliun pada periode sama tahun lalu.

Kelebihan beban, Garuda tekor Rp 185 miliar

Kelebihan beban, Garuda tekor Rp 185 miliar
JAKARTA. Kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada semester pertama tahun ini menukik. Dalam laporan keuangannya, maskapai nasional ini mencatat kerugian bersih sekitar Rp 185 miliar.

Kinerja Garuda ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan semester pertama 2010 lalu. Ketika itu, perusahaan penerbangan yang baru dilanda aksi mogok para pilot ini mencetak laba bersih sekitar Rp 60,61 miliar. Ini artinya, laba bersih Garuda anjlok sebesar 205,2%.

Sejatinya, pada enam bulan pertama tahun ini, pendapatan usaha Garuda tidaklah terlalu buruk. Garuda berhasil memperoleh pendapatan sekitar Rp 11,21 triliun atau naik 44,64% ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Namun, besarnya pendapatan Garuda juga ternyata membuat beban usaha juga membengkak. Selama Januari hingga Juni lalu, beban usaha Garuda mencapai Rp 11,55 triliun. Ini artinya besar pasak daripada tiang.

Beban usaha terbesar masih dari operasional penerbangan. Porsinya mencapai 54,7% dari total beban usaha Garuda.

Hingga pukul 10.32 WIB, harga saham GIAA sudah anjlok sebesar 1,92% dilevel Rp 510 per saham.

Inflasi mereda, rupiah kembali gagah pekan ini

JAKARTA. Rupiah kembali menguat pada pekan ini. Salah satu penyebabnya, investor asing terus meningkatkan kepemilikannya atas aset-aset Indonesia. Mereka berspekulasi, tingkat inflasi akan mereda.

"Sentimen positif dari melambatnya tingkat inflasi dan ekspektasi bahwa Indonesia akan mendapatkan kenaikan peringkat dari Fitch memicu masuknya dana asing," jelas Wiling Bolung, head of treasury ANZ Panin Bank. Dia menambahkan, ketidakpastian yang terjadi di AS juga menyebabkan dollar tertekan.

Pada pukul 09.14, rupiah menguat 0,2% sepanjang minggu ini menjadi 8.509 per dollar. Pada 27 Juli lalu, rupiah menyentuh posisi 8.476, yang merupakan posisi terkuat sejak Maret 2004 lalu.

Pendapatan naik tiga kali lipat, saham BORN naik ke level tertinggi empat bulan

JAKARTA. Saham PT Borneo Lumbung Energi (BORN) pagi ini membumbung tinggi. Pada pukul 09.51, saham BORN naik 3,7% menjadi Rp 1.420. Ini merupakan lonjakan tertinggi sejak 24 Maret lalu.

Aksi beli yang melanda saham BORN seiring kinerja positif perusahaan. Asal tahu saja, laba bersih BORN di semester I 2011 melejit ke posisi Rp 826,8 miliar dari sebelumnya Rp 20,65 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini disebabkan melonjaknya tingkat pendapatan sebesar tiga kali lipat.

BRI Kantongi Laba Bersih Rp6,79 Triliun

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia TBK (BRI) mencatatkan laba setelah taksiran pajak sebesar Rp6,79 triliun per Juni 2011 atau naik 57,14% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Demikian disampaiakan Direktur Bisnis Kelembagaan BRI Asmawi Syam di Jakarta, Jumat (29/7). Pada Triwulan II-2010, BRI meraup laba Rp4,32 triliun. "Pada posisi akhir Juni 2011 portofolio kredit Bank BRI tercatat sebesar Rp265,82 triliun meningkat Rp39,58 triliun atau tumbuh 17,49% dibanding periode yang sama 2010 Rp226,24 triliun dengan tingkat NPL net berada di level 1,02%," ujarnya.

Dijelaskan Asmawi, dari sisi pendanaan, BRI berhasil meningkatkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) menjadi sebesar Rp294,63 triliun pada posisi akhir Juni 2011 atau meningkat 15,06% dari periode yang sama 2010 Rp256,05 triliun.

"Yang menggembirakan, pertumbuhan dana tersebut didominasi oleh pertumbuhan tabungan yang mencapai 21,06%, yaitu dari Rp102,23 triliun di triwulan II 2010 menjadi Rp123,76 triliun di triwulan II-2011," ucapnya. Ia menambahkan pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan pembukaan unit kerja baru, pemasaran, hingga pengembangan fitur produk.

Dengan pertumbuhan kredit dan pertumbuhan DPK, loan to deposit ratio (LDR) BRI pada akhir Juni 2011 mencapai 90,22% atau meningkat dari posisi akhir Juni 2010 yang sebesar 88,36%. "Hal ini menunjukkan BRI mampu menjalankan fungsi intermediary dengan baik," ucapnya.

Selain dari ekspansi kredit yang berkualitas, pertumbuhan laba juga didukung oleh petumbuhan fee based income yang mecapai 30% year on year. [cms]

Laba Bersih Intiland Turun 45,6%

Headline
INILAH.COM, Jakarta – PT Intiland Development Tbk (DILD) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 45,6% dari Rp223,06 miliar pada semester pertama 2010 menjadi Rp101,87 miliar pada semester pertama 2011.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers yang diterbitkan Jumat (29/7). “Namun laba bersih semester I 2010 lebih disebabkan dari hasil penjualan investasi jangka panjang sebesar Rp136 miliar yang berasal dari divestasi anak usaha perseroan yakni PT Grand Interwisata.

Apabila dihitung secara operasional dengan tidak memasukan hasil penjualan PT Grand Interwisata, maka laba bersih semester I 2011 justru meningkat sebesar 16,7 persen,” ujar Direktur Pengelolaan Investasi Archied Noto Pradono.

Meski laba bersih turun, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 10,2% dari Rp455,26 miliar pada semester pertama 2010 menjadi Rp501,08 miliar pada semester pertama 2011. Archied menuturkan, peningkatan pendapatan disebabkan oleh naiknya penjualan sebesar 12,7% menjadi Rp442,51 miliar pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya. “Kontributor terutama berasal dari proyek 1Park, perumahan talaga bestari, Graha Famili, Graha Natura, dan Ngoro Industrial Park,” tutur Archied.

Sementara itu, jenis sektor usaha, rektor residensial baik perumahan atau apartemen memberikan kontribusi terbesar, yakni Rp231,50 miliar atau 46,1 persen dari total pendapatan. Kontribtor berikutnya yakni pendapatan dari sektor kawasan industri Rp211 miliar (42,1%), perkantoran sebesar Rp37,33 miliar (7,4%), hotel Rp3,7 miliar (1%), dan lain-lain sebesar Rp18,34 miliar (3,6%).

Sepanjang semester I 2011, menurut Archied manajemen dapat menjaga posisi neraca perseroan dalam kondisi sehat. Hal ini terlihat salah satunya dari kemampuan manajemen menjaga tingkat rasio utang terhadap ekuitas sebesar 14%. Nilai aset dan ekuitas perseroan juga mengalami kenaikan dengan nilai masing-masing menjadi sebesar Rp4,72 triliun dan Rp3,73 triliun.

Pendapatan dari sektor perhotelan di tahun 2011 seluruhnya berasal dari Whiz Hotel Yogyakarta yang beroperasi sejak November 2010. Angka pendapatan tersebut mengalami penurunan dibandingkan semester I 2010 karena pada semester I 2011 terkena dampak turunnya tingkat hunian hotel akibat meletusnya gunung Merapi serta divestasi PT Grand Interwisata pada tahun lalu. Pada saat ini kinerja Whiz Hotel Yogyakarta telah kembali membaik dengan tingkat hunian rata-rata mencapai 80%. [cms]

Kinerja Emiten Topang IHSG Dibuka Naik 0,18%

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (29/7) IHSG dibuka naik 0,18% ke level 4.153,69.

Sentimen positif pasar pagi ini lebih disebabkan dukungan dari laporan kinerja keuangan emiten pada Semester 1-2011 yang cukup baik. Asing pun masih bercokol di pasar dengan mencatatkan net foreign buy sebesar Rp10,21 miliar.

Indeks LQ45 dibuka naik 0,27% ke level 735,1, sedang JII naik 0,31% ke level 574,01. Volume perdagangan pagi sebanyak 263,06 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp284,76 miliar.

Dow semalam ditutup turun 0,51%, sedang di Asia, Shanghai turun 0,17%, Hang Seng turun 0,37%, KLSE turun 0,24%, Nikkei turun 0,08%, STI turun 0,11%, dan Seoul turun 0,28%.

Saham-saham yang naik tajam pagi ini adalag UNTR yang naik 1,28%, ASII naik 0,2%, RLKM naik 1,36%, INDF naik 0,79%, BBRI naik 0,73%, dan BMRI naik 0,63%.

Namun, hari ini indeks akan dibayang-bayangi aksi jual.

Pertumbuhan kredit naik, saham BMRI bergerak volatil

Pertumbuhan kredit naik, saham BMRI bergerak volatil
JAKARTA. Saham Bank Mandiri (BMRI) bergerak liar pagi ini. Setelah sempat melonjak hingga bertengger di posisi 8.000 atau naik 1,26%, saham bank pelat merah ini terjungkal ke zona merah. Pada pukul 09.45, saham BMRI turun 0,63% menjadi Rp 7.850.

Lonjakan saham BMRI terkait dengan kinerja perusahaan. Selama perhitungan tahun ke tahun kredit PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami pertumbuhan 26,9% menjadi Rp 276,7 triliun pada Juni 2011 dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 217,9 triliun.

Adapun pertumbuhan kredit tertinggi ada pada sektor mikro yang mencapai Rp 8,5 triliun atau mencapai 41,2% (yoy) dibandingkan pada periode sebelumnya hanya Rp 6,0 triliun, pembiayaan tersebut disalurkan kepada 592 ribu nasabah. Kemudian, diikuti kredit sektor mikro, kecil dan menengah yang tumbuh 31,6% menjadi Rp 37,8 triliun.

Laba di Atas Estimasi, Hold Saham ASII

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) pada Semester 1-2011 mencetak pertumbuhan laba bersih dan pendapatan, masing-masing sebesar 33,4% YoY dan 24% YoY, menjadi Rp76,26 triliun dan Rp8,6 triliun.

Pertumbuhan laba bersih ditopang oleh kenaikan harga komoditas, ketersediaan pembiayaan konsumen dan inflasi yang stabil. Manajemen mengatakan bahwa meski terjadi bencana di Jepang, perseroan yakin tidak akan berdampak signifikan pada pencapaian akhir 2011 karena prospek permintaan tetap tinggi.

Menurut Samuel Sekuritas, selama Semester 1-2011, divisi otomotif mengkontribusikan 49,89% dari total pendapatan, bisnis alat berat dan pertambangan batubara menyumbang 33,58%, bisnis jasa keuangan dan agribisnis masing-masing menyumbang 7,3% dan 6,94% terhadap total pendapatan. Sementara, Divisi usaha infrastruktur dan logistic dan teknologi informasi mengontribusikan 3,12% dan 0,84% kepada total pendapatan. "Pendapatan dan laba bersih selama Semester 1-2011 sedikit di atas estimasi kami dan pasar yang mencerminkan 55% dari proyeksi kami di 2011 dan 52% dari estimasi pasar untuk 2011. Kami pun merekomedasikan hold untuk saham Astra," ujar Samuel dalam ulasan pasarnya, Jumat (29/7).