Selasa, 09 Agustus 2011

UNTR yakin target penjualan alat berat 7.500 unit tercapai tahun ini

UNTR yakin target penjualan alat berat 7.500 unit tercapai tahun ini
JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) yakin target penjualan alat berat tahun ini bisa mencapai 7.500 unit. Target penjualan ini sudah tercapai 4.300 unit pada semester I 2011.

"Penjualan alat berat bisa sampai 7.500 unit sampai akhir tahun ini," ujar Corporate Secretary UNTR, Sara Loebis, di Jakarta, Senin (8/8). Di Juli lalu UNTR pun berhasil menjual 700 unit alat beratnya.

Dari semua alat berat tersebut mayoritas terjual untuk sektor pertambangan. Penjualan ini mengalami kenaikan menjadi normal ketimbang penjualan Mei 2011 yang turun akibat terganggu gempa dan tsunami Jepang Maret silam.

Namun, tambah Sara, penjualan alat berat di bulan Agustus diperkirakan akan mengalami penurunan. Mengingat bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ramadan. Ditambah juga dengan siklus akhir tahunan yang biasa penjualan mengalami penurunan.

"Tidak setiap bulan bisa terjual sampai 700, tapi di Agustus ini diperkirakan tidak sampai 700 unit. Namun, di bulan-bulan biasa bisa mencapai 700," ungkapnya.

Analis: Saham sektor perbankan masih positif

JAKARTA. Meski situasi pasar saham Indonesia memburuk terimbas sentimen negatif global, namun, sektor perbankan dinilai masih berpotensi untuk terus tumbuh.

Equity Analyst PT Trimegah Securities Tbk Hanel Tania merekomendasikan saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia (BBCA). Menurutnya, ketiga bank merupakan bank yang memiliki kapasitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, baik dari sisi konsumsi maupun investasi.

"Top pick kami BBNI karena berbeda dari tren di sektor perbankan. Secara keseluruhan neraca BBNI akan menurun sejalan dengan perbaikan kinerja fundamental," tuturnya, Jakarta, Senin (8/8)malam.

Hanel bilang, perbankan merupakan sektor yang mampu menghasilkan profit tanpa meningkatkan profil risiko mereka secara berlebihan. Sebagai pendukung jalannya roda perekonomian, perbankan akan diuntungkan dari pertumbuhan ekonomi yang disebabkan perbaikan struktur demografi ke depan. Namun, valuasi yang relatif tinggi akan membuat saham di sektor perbankan memberikan return yang sejalan dengan peningkatan keuntungan tahunan.

Sektor lain yang dinilai masih memberikan prospek positif dan masih menjadi daya tarik investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah batubara, crude palm oil (CPO), metal, dan retail.

Untuk kali pertama, harga emas menembus level US$ 1.770

Untuk kali pertama, harga emas menembus level US$ 1.770
MELBOURNE. Kontrak harga emas kembali mencetak rekor baru. Untuk kali pertama, harga emas menembus level US$ 1.770 per troy ounce. Kecemasan akan perekonomian global membuat pasar saham jeblok sehingga membuat emas kembali menjadi incaran.

Pagi tadi, kontrak harga emas untuk pengantaran Desember di New York naik 3,6% ke rekor tertinggi di level US$ 1.774,80 per troy ounce. Pada pukul 14.56, kontrak yang sama berada di posisi US$ 1.759,40 per troy ounce. Kontrak harga emas untuk pengantaran cepat naik 3,1% ke level tertinggi sepanjang sejarah di posisi US$ 1.772,38.

Jika dilihat, harga emas sudah melejit 23% sepanjang tahun ini. "Pasar saat ini merasa cemas akan terjadinya resesi global yang lain. Penurunan peringkat kredit rating AS memercikkan banyak kekhawatiran dan pasar juga tengah bingung dengan situasi Eropa," urai Natalie Robertson, commodity analyst Australia & New Zealand Banking Group Ltd.

S&P Dihujani Kritik, dari Harga Diri Hingga F**k

Headline
INILAH.COM, Washington - Jika ada lembaga pemeringkat yang paling banyak dikritik saat ini, itu adalah S&P. Itu terjadi setelah perusahaan ini menurunkan tingkat rating utang pemerintah Amerika, Jumat (5/8/11) dari AAA menjadi AA+

Baik ekonom, terlebih politisi, ramai-ramai menolak penurunan rating utang pemerintah Amerika yang dilakukan salah satu lembaga pemeringkat terpercaya itu.

Berikut komentar sejumlah kalangan di Amerika yang mengkritik S&P seperti ditulis Huffingtonpost.com


CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett: "Saya bisa pergi keluar minum-minum sepanjang malam, sebab investasi saya masih bagus."

Mantan Menteri Keuangan Larry Summer: "Tak ada yang bagus yang bisa dikatakan tentang apa mereka laklukan."

Menteri Keuangan Timothy Geithner: "(Standard and Poor's) memperlihatkan kelemahan pemahaman mengenai informasi dasar soal anggaran fiskal."

Bekas pimpinan Penasihat Ekonomi Presiden Obama Christina Romer: "Sialan...f**k."

CEO Forbes Inc Steve Forbes: "Ini manuver politik."

Mantan pimpinan The Fed Alan Greenspan: "Ini menghajar harga diri dan jiwa Amerika..."

Pemenang hadiah Nobel ekonomi Paul Krugman: "Tak ada alasan serius yang membuat utang pemerintah Amerika diturunkan ratingnya."

Presiden Obama: "Tak ada masalah apa yang lembaga pemeringkat katakan, Amerika akan selalu jadi negara AAA."'

Komentar yang mengritik S&P itu membuktikan bahwa pernyataan seseorang ditentukan dimana dia berdiri.

Baca bagaimana lembaga pemeringkat melakukan penilaian di sini

[ram]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1763380/sp-dihujani-kritik-dari-harga-diri-hingga-fk

Reminder Cum Date Diden UNSP 09/08/2011

Hari ini 09 August 2011 adalah Cum Date untuk pelaksanaan kegiatan Corporate Action sebagai berikut :

No.

Kode Efek

Nama Efek

Jenis Kegiatan

1.

UNSP

BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 4.3.- per saham

BWPT Raih Peringkat 'idA'

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Peftndo) telah menetapkan peringkat terhadap Obligasi I BW Plantation Tahun 2010 seriilai Rp700 miliar dengan peringkat idA (single A).

Dalam keterangannya perseroan ke BEI, Selasa (9/8) disampaikan, peringkat ini diberikan untuk PT BW Plantation Tbk (BWPT) dan obligasi I BW Plantation Tahun 2010 yang masih beredar. Prospek peringkat Perusahaan adalah "Stabil".

"Efek utang jangka panjang dengan peringkat IdA mengindikasikan bahwa kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut, dibandingkan dengan obligor lainnya di Indonesia
adalah kuat. Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi, dibandingkan dengan efek utang yang peringkatnya lebih tinggi," ujar Pefindo.

Utang Indonesia Sudah Rp 1.900 Triliun, Pemerintah Diminta Stop Biayai Pembangunan dari Utang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- LSM Koalisi Anti Utang (KAU) mendesak agar pemerintah tidak lagi mengandalkan dana yang berasal dari utang luar negeri sebagai salah satu sumber untuk membiayai pembangunan di dalam negeri.

"Semakin besar kita mengandalkan utang maka akan semakin besar bahaya yang bisa berdampak pada ekonomi nasional," kata Ketua LSM Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan di Jakarta, Jumat. Menurut dia, isu utang seharusnya saat ini menjadi "debat panas" di dalam DPR karena banyak hal yang harus diperhatikan terkait hal itu.

Ia mencontohkan, hal penting yang harus dicermati terkait dengan utang adalah sejauh mana jumlah cicilan pokok dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar utang tersebut. Dani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga harus belajar dari kekisruhan dalam penentuan pagu utang AS yang sempat menjadi perdebatan hangat baik di dalam tubuh pemerintah AS maupun kongres negara itu.

"Di AS terlihat isu utang menjadi krusial tetapi di Indonesia isu utang masih belum menjadi debat politik yang panas," katanya. Sebelumnya, Kepala Biro Humas Bank Indonesia Didi A Johansyah juga menilai, total utang luar negeri Indonesia baik pemerintah maupun swasta yang terus meningkat hingga kwartal I tahun ini patut terus dicermati.

"Meski ekonomi kita stabil dan fundamental ekonomi bagus, tetapi utang luar negeri harus terus dicermati dengan mengingatkan pelaku bisnis untuk mengelola utang luar negerinya secara berhati-hati," kata Didi di Jakarta akhir Juni lalu.

Jumlah utang luar negeri Indonesia sampai kwartal I 2011 mencapai 214,5 miliar dolar AS, meningkat 10 miliar dolar AS dibanding posisi akhir 2010. Jumlah tersebut terdiri atas utang Pemerintah sebesar 128,6 miliar dolar AS dan utang swasta 85,9 miliar dolar AS.

Sedangkan rasio utang dibanding PDB saat ini 28,2 persen lebih baik dibanding 1997/1998 sebesar 151,2 persen. Sementara rasio utang jangka pendek dibanding cadangan devisa saat ini 42,6 persen lebih baik dibanding posisi 1997/1998 sebesar 142,7 persen.

Ramai Aksi Jual, IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 2,66%

INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan sesi 1 Selasa (9/8) ini, IHSG ditutup melemah 2,66% ke level 3.747,48.

Pengumuman BI rate hari ini yang diperkirakan tetap di level 6,75% diperkirakan tidak akan memberi efek sentimen signifikan pada IHSG. Samuel Sekuritas dalam ulasan pasarnya Selasa (9/8) memperkirakan secara teknikal support kuat indeks berada di level 3.764 dan support berikutnya di level 3.710. Jika level support tersebut tertembus, IHSG akan mematahkan pola trend bullish yang terbentuk sejak 2009.

Bursa AS semalam kembali mengalami koreksi signifikan sekitar 6% memfaktorkan penurunan rating utang AS oleh S&P dan diperparah dengan penurunan rating obligasi negara bagian dan beberapa perusahaan yang terkait seperti Fanny Mae, Freddy Mac dan Berkshire Hathaway. Langkah positif bank sentral Eropa melakukan pembelian obligasi Spanyol dan Italia gagal memberi sentimen positif di pasar global.

Harga komoditas dunia kembali melanjutkan koreksinya dengan harga minyak anjlok 5,5% ke level US$81,3/barel diikuti harga metal dunia seperti Nikel -5.6% dan Timah -7.6%.

Bursa Asia hingga siang ini masih terkoreksi tajam, memfaktorkan anjloknya bursa AS dan penguatan nilai tukar Yen. Shanghai turun 1,1%, Hang Seng turun 6,01%, KLSE turun 2,39%, Nikkei turun 3,12%, Seoul turun 3,12%, namun STI berhasil stabil.

Investor juga akan memfaktorkan rilis data inflasi China di bulan Juli sebesar 6,5% YoY, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi. Harga minyak meneruskan koreksinya ke level US$77,1/barel pagi tadi atau turun 4,3%.

Sebanyak 257 saham tercatat turun siang ini, sedang 26 saham yang naik, dan 29 saham stagnan. Indeks LQ45 pada penutupan sesi 1 turun 2,72% ke level 663,39, sedang JII turun 2,81% ke level 515,07. Asing terpantau masih menepi dari pasar hingga siang ini dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp587,05 miliar.

Volume perdagangan siang sebanyak 3,79 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp3,78 triliun.

Saham-saham yang turun tajam siang ini adalah ITMG turun 4,63%, ASII turun 2,3%, DSSA turun 9,48%, GDYR turun 10%, AALI turun 4,48%, dan HMSP turun 3,21%.

Sesi pertama, IHSG melorot 2,67%

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tersengat sentimen global. Pada penutupan pukul 12.00, indeks tercatat melorot 2,67% menjadi 3.747,48.

Dari semua sektor yang ditransaksikan, hanya ada satu sektor yang naik yakni sektor perdagangan sebesar 0,14%. Sisanya memerah, dengan penurunan terbesar dialami oleh sektor pertambangan dan industri dasar dengan penurunan masing-masing 3,77% dan 3,19%.

Penghuni top losers siang ini antara lain: PT Star Pacific (LPLI) yang turun 15% menjadi Rp 191, PT Kedaung Sentral Industrial (KDSI) turun 15% menjadi Rp 205, dan PT Langgeng Makmur Plastic Industri (LMPI) turun 13% menjadi Rp 295.

Sementara itu, di posisi top gainers terdapat saham-saham: PT Perdana Bangun Pusaka (KONI) naik 16% menjadi Rp 220, PT Argha Karya Prima Industry (AKPI) naik 13% menjadi Rp 1.440, dan PT Sunson Textile Manufacture (SSTM) naik 10% menjadi Rp 190.

IHSG Terkoreksi, Pilih Saham yang Sudah Anjlok

INILAH.COM, Jakarta – Koreksi siang ini diperkirakan akan berlanjut hingga penutupan. Namun, saham yang sudah terkoreksi dalam bisa dijadikan pilihan.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya memperkirakan, indeks saham domestik akan melemah hingga penutupan sore nanti. “Indeks akan bergerak dalam kisaran support 3.625 dan 3.818 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (9/8).

Menurutnya, koreksi indeks hari ini dipicu negatifnya bursa regional yang rata-rata turun di atas 5%, setelah Dow Jones anjlok 634,76poin (5,55%) ke level 10.809,80. Tapi menurutnya, koreksi indeks saat ini tidak terlalu berbahaya dibandingkan 2008. Saat itu, Dow Jones turun ke level 8.000-an sedangkan sekarang Dow Jones masih bertahan di atas 10.000. “Saya justru melihat, yang paling berbahaya adalah saat korontokan IHSG pada 2008,” tandas Willy.

Dengan rontoknya market saat ini, pasar sebaiknya tidak melihat krisis AS semata faktor ekonomi tapi juga politis antara kubu Partai Demokrat dengan Republik. “Tapi, yang perlu diingat pasar, tak ada satu negara pun di dunia yang bangkrut,” tandasnya.

Saat ini, satu rating AS dipangkas ke level AA+ dari AAA, telah membuat market hancur lebur. Padahal, banyak negara dengan rating jauh di bawah AA+. “Karena itu, yang terjadi di Amerika bukan semata ekonomi, tapi juga politik,” ungkapnya.

Rezim Partai Republik sudah meninggalkan utang yang terlalu besar hampir 100% Produk Domestik Bruto (PDB) untuk pemerintahan Obama dari Partai Demokrat akibat biaya perang yang berkepanjangan. “Inilah ujian bagi Obama sebagai presiden pertama yang berasal dari kulit hitam di AS,” imbuhnya.

Tapi, Willy yakin pada akhirnya, Obama akan mendapatkan jalan keluarnya dan akan mendapat dukungan di Kongres termasuk Partai Republik.

Hanya saja untuk saat ini, market domestik berada dalam tekanan. Apalagi, koreksi indeks juga mendapat ancaman dari kerontokan bursa Eropa siang ini. Sebab, bagaimanapun, kerontokan bursa Dow Jones 634,76 poin akan berpengaruh negatif bagi bursa Eropa. “Jadi, pada saat pembukaan bursa Eropa, akan terjadi guncangan pada IHSG,” ucapnya.

Tapi, di tengah kepanikan pasar, pertemuan Bank Sentral AS nanti malam diharapkan Willy bisa memberikan kesejukan bagi market.

Apalagi, dari fundamental ekonomi Indonesia, tak ada yang perlu diikhawatirkan. Sebab, cadangan devisa RI mencapai level tertinggi dalam sejarah US$122,7 miliar dan nilai ekspor sudah mencapai US$200 miliar per Juni 2011. “Pada saat yang sama, laba bersih emiten kuartal kedua 2011 mencapai rata-rata 25%,” ungkapnya.

Karena itu, koreksi market saat ini, justru jadi kesempatan untuk mencicipi harga, akumulasi beli, saham-saham yang sudah terlalu murah.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bakrie and Brothers (BNBR), PT Borneo Lumbung Energi (BORN), PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bumi Resources (BUMI), PT Salim Ivomas Pratama (SIMP), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan PT AKR Corporindo (AKRA). “Saya rekomendasikan strong buy saham-saham tersebut,” imbuh Willy. [ast]

Antam Akan Terbitkan Obligasi US$50 Juta

Medium
INILAH.COM, Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan menerbitkan obligasi dengan mekanisme penawaran umum berkelanjutan senilai US$350 juta pada kuartal 4-2011.

Obligasi ini untuk membiayai proyek perseroan. "Kita akan menawarkan obligasi rupiah berjangka pada kuartal keempat. Obligasi ini akan ditawarkan baik domestik dan luar negeri," ujar Direktur Keuangan PT Aneka Tambang Tbk Djaya Tambunan, Senin (8/8) malam.

Lebih lanjut ia mengatakan, penerbitan obligasi ini 35% dari kebutuhan pendanaan dan 65% dari dana internal. Saat ini perseroan juga fokus untuk mengerjakan proyek Halmahera.

Seperti diketahui, Antam berencana untuk membangun proyek Feronikel di Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara. Proyek tersebut membutuhkan investasi mencapai US$ 1,6 miliar. PT Aneka Tambang Tbk menganggarkan dana sebesar Rp 1 miliar, sebanyak 65% akan diambil dari dana internal sementara sisanya 35% dari eksternal. [cms]

Inilah Negara yang Bursanya Rentan Gangguan Krisis

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Krisis keuangan global yang baru akan melanda Asia jauh lebih sulit daripada yang terakhir, terutama negara-negara sangat terkena ke pasar luar negeri atau masih memperbaiki anggaran dari krisis 2008-2009.

Hal ini disampaikan lembaga peringkat kredit Standard and Poor's Senin (8/8) seperti dikutip Reuters.

S&P, yang mendatangkan murka dari Washington akibat memangkas peringkat utangnya dari AAA menjadi AA akhir pekan lalu mengatakan bahwa itu belim memprediksi tayangan ulang dari krisis utang yang melumpuhkan pasar, dan ekonomi dunia ke dalam resesi tiga tahun lalu.

Tapi itu memperingatkan bahwa penurunan peringkat di Asia di masa mendatang, jika asumsi itu salah. "Jika perlambatan baru datang, kemungkinan akan menciptakan dampak yang lebih dalam dan lebih lama daripada yang terakhir," S & P mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Implikasinya di kawasan Asia-Pasifik kemungkinan akan lebih negatif dari pengalaman sebelumnya, dan penilaian negatif yang lebih besar akan mengikuti. Kami sedang menunggu dan tetap mengamati."

S & P mengatakan asumsi krisis utang Eropa dan masalah utang Washington tidak cenderung mengarah pada "dislokasi tiba-tiba" dalam sistem keuangan dan perekonomian negara-negara maju.

Atas dasar itu, ia menambahkan, penurunan peringkat kredit AS, pertama dalam sejarah ini, tidak akan berdampak langsung pada perbankan di kawasan Asia-Pasifik.

Permintaan domestik, perusahaan dan sektor rumah tangga di Asia Pasifik relatif sehat, likuiditas eksternal banyak dan tingkat tabungan tinggi - kecuali Selandia Baru, Jepang dan Vietnam.

Pernyataan S & P mengambil nada lebih gelap ketika mempertimbangkan kemungkinan bahwa asumsi yang terlalu merah, mencatat bahwa Asia masih sangat tergantung pada ekspor ke Barat. "Mengingat kesalingterkaitan pasar global, gangguan tak terduga yang tajam di dunia berkembang pasar keuangan dapat mengubah gambar," katanya, seraya mencatat bahwa ekonomi AS dan Eropa bisa kembali kontraksi atau stagnan.

"Dalam skenario ini, pengalaman krisis keuangan global 2008-2009 menunjukkan bahwa ekonomi tergantung ekspor dengan eksposur yang besar ke AS dan atau Eropa, akan merasakan dampak ekonomi yang paling menonjol," kata S & P. "Itu hal-hal yang tidak mungkin akan sangat berbeda saat ini."

S&P mencatat negara-negara yang rentan terhadap gangguan di pasar modal asing adalah Pakistan, Sri Lanka, Fiji, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dan Indonesia.

Dia juga mengatakan beberapa negara, sekali lagi termasuk Selandia Baru, juga masih memperbaiki keuangan pemerintah mereka dan mungkin lebih terbatas dalam menanggapi krisis global segar. "Dampak buruk pada kawasan Asia Pasifik dalam skenario yang mungkin akan mengharuskan pemerintah untuk menggunakan neraca untuk mendukung sektor ekonomi dan keuangan sekali lagi," kata S & P. "Dan menurut kami, sebagian besar pemerintah akan segera membutuhkan obligasi dengan segera. Tetapi beberapa dari mereka terus menanggung bekas luka dari penurunan baru-baru. Kapasitas fiskal Jepang, India, Malaysia, Taiwan, dan Selandia Baru memiliki penyusutan yang retaif dibanding sebelum level 2008."

Sesi I IHSG Kembali Terpangkas 102 Poin

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengurangi tingkat koreksinya menjadi 'hanya' 102 poin (2,6%) setelah pagi ambruk lebih dari 250 poin. Aksi beli selektif di saham yang sudah murah cukup membantu IHSG.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka anjlok 155,037 poin (4,02%) ke level 3.695,229. Indeks terkena tekanan jual masif buntut ambruknya Wall Street akibat turunnya peringkat utang AS.

Indeks langsung terjun bebas sesaat setelah pembukaan perdagangan ke level terendahnya di 3.590.942. Tekanan jual langsung melanda seluruh saham-saham di lantai bursa.

Menjelang penutupan sesi siang, kepanikan investor mulai reda dan bisa berpikir rasional kembali. Aksi beli selektif di saham-saham yang sudah murah mampu menahan laju jatuhnya bursa sehingga tak terlalu dalam.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Selasa (9/8/2011), IHSG terpangkas 102,789 poin (2,67%) ke level 3.747,477. Sementara Indeks LQ 45 jatuh 18,555 poin (2,73%) ke level 663,391.

Saham-saham berbasis komoditas dan finansial menjadi yang paling banyak terkena tekanan jual, indeks sektor agri dan tambang melemah lebih dari 3%. Sementara sektor lainnya juga melemah, namun hanya sekitar 2%.

Investor sempat panik di awal perdagangan menyambut sentimen negatif pemangkasan beberapa perusahaan finansial di AS yang punya hubungan dengan utang negeri paman sam tersebut. Efek domino itu ditanggapi negatif oleh investor.

Investor asing makin getol membawa dananya keluar dari pasar modal, hingga siang ini sudah tercatat investor asing melakukan penjualan bersih (foreign net sell) lebih dari Rp 500 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan hari ini berjalan ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 100.284 kali pada volume 4,433 miliar lembar saham senilai Rp 4,033 triliun. Sebanyak 23 saham naik, sisanya 258 saham turun, dan 29 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia jatuh semakin dalam hingga siang hari ini, bursa saham Korea bahkan sempat dihentikan sementara karena terkena koreksi cukup tajam. Bursa saham Singapura hari ini libur memperingati hari kemerdekaan.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia hingga siang hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 27,88 poin (1,10%) ke level 2.498,94.
  • Indeks Hang Seng jatuh 1.232,06 poin (6,01%) ke level 19.258,51.
  • Indeks Nikkei 225 ambruk 304,25 poin (3,34%) ke level 8.793,31.
  • Indeks Kospi terjun 100,60 poin (5,38%) ke level 1.768,85.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Argha Karya (AKPI) naik Rp 170 ke Rp 1.450, Axiata (EXCL) naik Rp 100 ke Rp 5.200, Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 50 ke Rp 1.380, dan Waran Trada Maritim (TRAM-W) naik Rp 40 ke Rp 1.670.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 2.050 ke Rp 42.200, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.500 ke Rp 63.550, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 1.300 ke Rp 12.400, dan Good Year (GDYR) turun Rp 1.000 ke Rp 9.000.

(ang/qom)

Bursa Korea Jatuh 10%, Perdagangan Dihentikan Sementara

Seoul - Bursa Korea Selatan dilanda aksi jual hebat hingga hampir 10%. Indeks saham di Korsel merosot tepatnya 9,9% sehingga memaksa otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan saham.

Perdagangan saham di bursa Korea pada Senin (9/8/2011) dihentikan sementara selama sekitar 5 menit yakni dari pukul 09.19 waktu setempat hingga 09.24 waktu setempat menyusul anjloknya indeks KOSPI hingga 9,9% untuk meredam kepanikan jual.

Namun pada setelah dibuka, indeks KOSPI tercatat turun 'hanya' 7,89% pada pukul 12.23 waktu setempat. Kemerosotan bursa Korsel berbarengan dengan anjloknya bursa regional.

"Orang-orang mulai membuang saham untuk obligasi dan uang tunai," ujar seorang fund manager sebuah perusahaan lokal, seperti dikutip dari AFP.

Pengawas pasar modal Korsel, Financial Supervisory Service mengatakan pihaknya akan memperkuat monitoring di pasar guna mendeteksi setiap rumor ataupun perdagangan yang tidak fair. Otoritas juga akan memberikan panduan kepada para broker, lembaga dana pensiun dan manajer aset untuk membantu menstabilisasi pasar.

"Tidak ada negara secara individual bisa merespons guncangan pasar. Dengan melihat perekonomian kita yang kecil dan terbuka, maka kita perlu memperkuat kerjasama kebijakan dengna negara lain," ujar menteri keuangan Korea, Bahk Jae-Wan Bahk.

Kemerosotan bursa Korsel sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir perdagangan, mengikuti bursa global. Indeks KOSPI sudah merosot hampir 14% dalam 5 hari terkahir perdagangan.

"Investor sepertinya bereaksi berlebihan namun sentimen sepertinya akan tetap negatif untuk beberapa waktu," ujar Jeon Jeong-Woo, fund manager Samsung Asset Menagement.
(qom/ang)

Intervensi tak berhasil, yen terus menguat

JAKARTA. Intervensi yen yang dicanangkan pemerintah Jepang pada 4 Agustus lalu untuk meredakan penguatan yen, sepertinya belum memperlihatkan hasil. Pergerakan mata uang yen terhadap the greenback per pukul 11.19 WIB terus menguat 0,7873 poin ke posisi 77,154 yen.

Apressyanti Senthaury, analis Divisi Treasury Bank BNI melihat adanya kecemasan yang menyelimuti sistem finansial global dan resesi ekonomi yang masih terimbas dari penurunan peringkat utang AS oleh S&P sehingga mendorong aksi capital flight to safe-haven. Salah satu diantaranya adalah yen.

Hari ini, Apressyanti memprediksi, yen akan bergerak dengan kecenderungan rangebound hingga menguat, meski Menteri Keuangan Noda terus memantau pergerakan di pasar valas di tengah ketidakpastian yang membayangi outlook ekonomi global.

Selain itu, penguatan yen juga dipicu spekulasi bahwa Perancis, sebagai negara dengan ekonomi kedua terbesar Eropa mungkin menghadapi pemangkasan peringkat AAA. Tentunya, hal ini akan mengeruhkan situasi perekonomian dunia yang tengah digelayuti awan mendung oleh persoalan AS.

"Mata uang Negeri Sakura ini akan bergerak mendekati level supportnya di 76,5 yen per dollar AS dengan resistancenya di 78,5," jelasnya.

IHSG Naik 3,96% YtD dari 30 Desember 2010

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan sebesar 3,96% secara year to date dari IHSG ditutup di level 3.703 pada 30 Desember 2010 menjadi 3.850,26 pada penutupan perdagangan saham Senin (8/8).

Penurunan IHSG ini didorong dari faktor global di mana Dow Jones ditutup melemah pada perdagangan saham Kamis (4/8) dan lembaga pemeringkat S&P 500 menurunkan peringkat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ pada Jumat (5/8).

Pada pembukaan perdagangan saham 3 Januari 2011, IHSG ditutup di level 3.727,52. Minggu kedua Januari, IHSG kembali melemah dengan ditutup di level 3.455 pada perdagangan saham 11 Januari 2011. IHSG pun terus beranjak naik dengan ditutup di level 3.501,50 pada perdagangan saham 18 Februari 2011.

IHSG pun kembali mencetak level 3.607,11 pada penutupan perdagangan saham 25 Maret 2011. Kemudian IHSG menyentuh level 3.707 pada penutupan perdagangan saham 1 April 2011, dan terus beranjak naik di level 3.801,08 pada penutupan perdagangan saham 21 April 2011.

Pada penutupan perdagangan saham 1 Juli 2011, IHSG terus mencetak rekor dengan ditutup di level 3.927,10. IHSG akhirnya pun mencetak rekor di level 4.003,69 pada penutupan perdagangan saham 8 Juli 2011. IHSG kembali mencetak rekor hampir 4.200 pada penutupan perdagangan saham 1 Agustus 2011 dengan ditutup di level 4.193,44.

Kenaikan IHSG ini didukung dari arus dana asing yang masuk ke bursa saham Indonesia. Selain itu, kinerja keuangan emiten pada semester pertama 2011 juga memberikan sentimen positif ke bursa saham Indonesia.

Tetapi IHSG pun kembali ke level 3.850 pada penutupan perdagangan saham Senin (8/8). Penurunan IHSG ini karena faktor global di mana lembaga pemeringkat S&P menurunkan surat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+. Kapitalisasi pasar saham pun turun dari Rp3,540 triliun menjadi Rp3,478 triliun pada perdagangan saham Senin (8/8). Transaksi rata-rata harian mencapai Rp5,24 triliun pada 2011 dan transaksi rata-rata harian pada Agustus 2011 mencapai Rp9,46 triliun periode 8 Agustus 2011. [cms]

Swiss franc terus menerus cetak rekor penguatan

Swiss franc terus menerus cetak rekor penguatan
JAKARTA. Swiss franc terus mencatatkan rekor tertinggi seiring lesunya ekonomi global. Swiss franc kembali menanjak dipicu berkembangnya risk aversion atau keengganan investor mengoleksi aset-aset berisiko setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor’s menggunting peringkat utang Amerika Serikat (AS).

Hingga perdagangan pukul 11:20 WIB, Swiss franc berada di titik tertinggi terhadap dollar AS yaitu di 0,7509. Mata uang Swiss ini pernah berada di titik terlemah yaitu 0,9732 pada 11 Februari silam. Saat ini rata-rata pergerakan Swiss franc ada di 0,8735.

Bank Nasional Swiss yang antara Maret 1009 hingga Juni 2010 melakukan intervensi pasar untuk meredam kenaikan mata uang tersebut. Bahkan Rabu lalu, otoritas moneter Swiss ini memangkas bunga acuan hingga 0%. Swiss National Bank (SNB) juga mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut jika mata uang terus terdepresiasi di mana hal ini telah mendorong ekonom berspekulasi apakah SNB akan melakukan intervensi lagi.

Pandangan pasar akan tertuju pada sidang yang akan dilakukan oleh The Fed nanti malam. "Kondisi daily dan intraday trend masih bearish dengan downtrend potensial berlanjut," kata Erwin Poernomo, Analis Valas Valbury Asia Futures.

Ia menganjurkan agar investor mewaspadai areal support di 0,7308-0,6882. "Jika areal tersebut utuh, maka koreksi akan terbatas," kata Erwin.

Penurunan peringkat kredit AS masih mempengaruhi harga minyak

Penurunan peringkat kredit AS masih mempengaruhi harga minyak
JAKARTA. Harga Minyak kembali terkoreksi tajam hari ini. Kontrak harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan September anjlok 5,01% ke posisi US$ 77,24 per barel. Ini merupakan level terendah dalam sepuluh tahun belakangan.

Menurut Suluh Adil Wicaksono, analis Asia Kapitalindo Futures menerangkan, pasca rilis Data Manufaktur AS Bulan Juni yang buruk membuat permintaan terhadap minyak juga ikut turun. Ditambah lagi, over supply dari negara OPEC membuat harga minyak semakin jatuh. Kabarnya, OPEC kemungkinan akan melakukan pertemuan untuk merespon kejatuhan minyak tersebut.

Kemerosotan harga minyak di New York terjadi setelah Standard & Poor's menurunkan peringkat kredit AS dari tingkat tertinggi yang memicu kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi AS akan memburuk dan mengurangi permintaan bahan bakar. "Pada minggu ini, pengaruh penurunan peringkat kredit AS masih mengena pada tren harga minyak," kata Suluh, Selasa (9/8).

Terlebih sepertinya pihak Departemen Energi AS belum memiliki alasan untuk menaikkan cadangan minyaknya walaupun data cadangan minyak mentah AS terus terkoreksi. Suluh meramal, untuk level support, sepekan ini harga minyak mentah bisa anlok mencapai US$ 74,40 per barel. "Tapi kemungkinan minyak akan rebound. Jikapun naik, harga tertingginya di US$ 80 per barel,"lanjutnya

Kontrak berjangka indeks AS menunjukan sinyal rebound

Kontrak berjangka indeks AS menunjukan sinyal rebound
NEW YORK. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) Selasa ini berhasil rebound. Pada 03:14 EDT, bursa futures S&P 500 naik hingga 2,9% lalu Dow Jones futures naik 2,7% dan Nasdaq 100 futures naik 3,2%.

The Federal Reserve melalui pertemuan FOMC berencana mengeluarkan pernyataan sekitar 2:15 am waktu New York. Pelaku pasar yakin Bank Sentral Amerika ini akan memberikan keputusan yang bisa memacu pertumbuhan ekonomi AS yang tengah terpuruk.

"Bursa berjangka AS naik dengan harapan uluran tangan The Fed. Otoritas Moneter AS harus melakukan quantitative easing jilid 3 atau melakukan stimulus lain dengan skala yang besar," kata Stephane Ekolo, chief European strategist Market Securities di London.

Menurutnya, bursa juga akan dipengaruhi oleh berita seputar perkembangan krisis di Eropa. "Bisa diperkirakan, apapun beritanya akan terjadi gelombang yang cukup keras di market," jelasnya.

Menurut data yang dikumpulkan, saat ini valuasi S&P sebesar 11,3 kali yang merupakan level terendah sejak Maret 2009.

IHSG Naik 3,96% YtD dari 30 Desember 2010

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan sebesar 3,96% secara year to date dari IHSG ditutup di level 3.703 pada 30 Desember 2010 menjadi 3.850,26 pada penutupan perdagangan saham Senin (8/8).

Penurunan IHSG ini didorong dari faktor global di mana Dow Jones ditutup melemah pada perdagangan saham Kamis (4/8) dan lembaga pemeringkat S&P 500 menurunkan peringkat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ pada Jumat (5/8).

Pada pembukaan perdagangan saham 3 Januari 2011, IHSG ditutup di level 3.727,52. Minggu kedua Januari, IHSG kembali melemah dengan ditutup di level 3.455 pada perdagangan saham 11 Januari 2011. IHSG pun terus beranjak naik dengan ditutup di level 3.501,50 pada perdagangan saham 18 Februari 2011.

IHSG pun kembali mencetak level 3.607,11 pada penutupan perdagangan saham 25 Maret 2011. Kemudian IHSG menyentuh level 3.707 pada penutupan perdagangan saham 1 April 2011, dan terus beranjak naik di level 3.801,08 pada penutupan perdagangan saham 21 April 2011.

Pada penutupan perdagangan saham 1 Juli 2011, IHSG terus mencetak rekor dengan ditutup di level 3.927,10. IHSG akhirnya pun mencetak rekor di level 4.003,69 pada penutupan perdagangan saham 8 Juli 2011. IHSG kembali mencetak rekor hampir 4.200 pada penutupan perdagangan saham 1 Agustus 2011 dengan ditutup di level 4.193,44.

Kenaikan IHSG ini didukung dari arus dana asing yang masuk ke bursa saham Indonesia. Selain itu, kinerja keuangan emiten pada semester pertama 2011 juga memberikan sentimen positif ke bursa saham Indonesia.

Tetapi IHSG pun kembali ke level 3.850 pada penutupan perdagangan saham Senin (8/8). Penurunan IHSG ini karena faktor global di mana lembaga pemeringkat S&P menurunkan surat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+. Kapitalisasi pasar saham pun turun dari Rp3,540 triliun menjadi Rp3,478 triliun pada perdagangan saham Senin (8/8). Transaksi rata-rata harian mencapai Rp5,24 triliun pada 2011 dan transaksi rata-rata harian pada Agustus 2011 mencapai Rp9,46 triliun periode 8 Agustus 2011. [cms]