Kamis, 12 Mei 2011

Krisis Eropa kembali menjadi momok, rupiah sore ini keok

Krisis Eropa kembali menjadi momok, rupiah sore ini keok
JAKARTA. Pergerakan rupiah sore ini menunjukkan sinyal pelemahan. Pelaku pasar kembali cemas akan kredit utang Eropa sehingga menyebabkan penurunan di bursa saham regional.

"Kecemasan akan kredit utang Eropa, khususnya Yunani, kembali menjadi pemicu utama. Kondisi itu membuat permintaan dollar semakin meningkat. Di satu titik, ada kebutuhan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan sehingga bisa menekan laju inflasi," jelas Prakriti Sofat, regional economist Barclays Capital di Singapura.

Catatan saja, pada pukul 16.19, rupiah tercatat melemah 0,5% menjadi 8.563 per dollar. Kemarin, posisi rupiah sempat bertengger di level 8.522, yang merupakan level paling perkasa dalam tujuh tahun terakhir.

Koreksi sektor tambang dan perbankan menumbangkan IHSG 0,77% di sore ini

Koreksi sektor tambang dan perbankan menumbangkan IHSG 0,77% di sore ini
JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisinya di zona hijau, pada hari ini. Dari awal hingga akhir perdagangan, indeks tertekan, dan ditutup jatuh 0,77% ke level 3.808, 710.

Delapan sektor terkoreksi, dengan kejatuhan terbesar pada sektor pertambangan yang tumbang 1,51%, diikuti sektor perbankan yang menukik 1,09%. Sektor lainnya melemah antara 0,21% hingga 1,07%. Hanya dua sektor, yaitu konstruksi dan infrastruktur yang bertahan di zona hijau, dengan kenaikan masing-masing 0,66% dan 0,19 %.

Sebanyak 135 saham melemah, sementara 90 saham terkoreksi, dan 90 saham lainnya tidak bergerak. Perdagangan sore ini diramaikan dengan transaksi 11,715 milliar saham, dan nilai transaksi mencapai Rp 90 trilliun.

Saham yang menjadi pemimpin top losers adalah Champion Pasific Indonesia (IGAR) yang anjlok 11,76% ke Rp 450. Diikuti, Bank Windu Kentjana (MCOR) yang turun 11,51% RP 123, Sona Topaz Tourism (SONA) masih melanjutkan koreksinya hingga tersungkur 18,15% ke Rp 3.100.

Adaro Energy (ADRO) menjadi pemimpin anggota MSCI indeks yang terkoreksi hari ini, dengan pelemahan mencapai 3,23% ke Rp 2.250, begitu juga dengan Astra Agro Lestari (AALI) yang turun 2,29% ke Rp 23.500.

Saham yang berhasil menguat ke posisi top gainers adalah Ricky Putra Globalindo (RICY) melesat 32,43% ke Rp 245, dan Pool Advista Indonesia (POOL) yang menanjak 24,68% ke Rp 960. Satu-satunya Anggota MSCI stock yang berhasil naik adalah Telkom (TLKM) yang menguat 1,32%.

Pamor emas terdongkrak kecemasan atas inflasi dan krisis utang Eropa

Pamor emas terdongkrak kecemasan atas inflasi dan krisis utang Eropa
SINGAPURA. Belum adanya sinyal krisis utang Eropa bakal berakhir, dan kecemasan percepatan inflasi kembali mengangkat pamor emas sebagai aset lindung nilai.

Emas untuk kontrak pengiriman Juni d Divisi Comex bursa NYMEX-AS menguat 0,3% ke level US$ 1.505,6 per ons troy, setelah kemarin tumbang ke posisi US$ 1.501,4 per ons troy.

Kepala riset komoditas Commerzbank AG Eugen Weinberg menyebut, lebih murahnya harga emas menjadi kesempatan pembelian emas fisik yang lebih besar.

"Permintaan emas saat ini tinggi di tengah inflasi global dan krisis utang Eropa. Hal ini kemungkinan akan berlangsung cukup lama di pasar, sehingga menjaga permintaan emas tetap tinggi," sebutnya.

Kemarin, Gubernur Bank of England Mervyn King mengatakan, tidak nyaman dengan inflasi yang masih tinggi. Hal ini mengisyaratkan bank sentral kemungkinan perlu menaikkan suku bunga tahun ini. Sementara, di China tingkat inflasi di atas 5%.

Pejabat Uni Eropa, ECB dan Dana Moneter Internasional mulai mengevaluasi ekonomi Yunani, kemarin. Kajian dilakukan sebelum Yunani dijadwalkan menerima bantuan 12 miliar euro pada Juni nanti.

Naik 124,49%, BEI Suspensi Saham ARTI

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) mulai perdagangan Kamis (12/5).

Hal ini disampaikan Pjs Kadiv Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy dan Ph Kadiv Perdagangan Saham BEI Eko Siswanto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta Kamis (12/5). Suspensi ini dilakukan sehubungan dengan peningkatan harga kumulatif yang signifikan saham ARTI sebesar Rp305 atau 124,49%, yaitu dari harga penutupan Rp245 pada tanggal 2 Mei 2011 menjadi Rp550 pada 11 Mei 2011.

Suspensi yang dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai ini dilakukan dalam rangka cooling down dan bertujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham ARTI.

Harga Komoditas Pukul IHSG Kamis (12/5) Melemah

Headline
INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan Kamis (12/5) dibuka turun 0,44% ke level 3.820,9, mengikuti pelemahan saham regional yang terpukul oleh penurunan harga komoditas.

Saham sektor komoditas pagi ini memang penyumbang tertinggi untuk pelemahan indeks atau turun sebesar 0,69%. Sementara indeks LQ45 juga ikut turun 0,64% ke level 681,99, sedang JII turun 0,61% ke level 529,83.

Di Asia Shanghai turun 0,59%, Hang Seng turun 0,91%, KLSE turun 0,17%, Nikkei turun 0,79%, STI turun 0,7%, dan Seoul turun 1,3%.

Saham-saham yang turun tajam pagi ini adalah ITMG turun 1,05%, UNTR turun 1,74%, PTBA turun 1,14%, INTP turun 1,17%, AALI turun 0,83%, dan ASII turun 0,25%.

Analis: Pasar menanti bunga acuan, rupiah berpeluang konsolidasi hari ini

Analis: Pasar menanti bunga acuan, rupiah berpeluang konsolidasi hari ini
JAKARTA. Rupiah berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi, hari ini. Pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan membahas tingkat suku bunga acuan.

Head of Research Treasury Divison Bank BNI Nurul Eti Nurbaeti mengestimasi bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan di posisi 6,75%, seiring deflasi yang terjadi di bulan April 2011.

Namun, di sisi lain, penguatan rupiah bisa terjadi menyusul rencana lelang SBI dan SBIS dengan target indikatif masing-masing Rp 24 triliun dan Rp 0,35 triliun. "Ini mengisyaratkan dukungan bagi rupiah, yang terus menunjukkan eksistensinya di market, baik regional maupun global," kata Nurul dalam riset hariannya.

Dia memprediksi, hari ini, rupiah berpotensi bermain di area support Rp 8.510 dan Rp 8.505 per dollar AS, serta resistance Rp 8.575 dan Rp 8.570 per dollar AS.

Kemarin, Rabu (11/5) mata uang garuda ditutup menguat pada level Rp 8.526 per dollar AS, setelah sebelumnya dibuka di posisi Rp 8.547 per dollar AS. Penguatan ini terjadi di tengah lemahnya dollar dan reli Indeks Harga Saham Gabungan yang mampu menjangkau level 3.838.

Meski laba bersih UNSP diprediksi turun, analis tetap berikan rekomendasi BUY

Meski laba bersih UNSP diprediksi turun, analis tetap berikan rekomendasi BUY
JAKARTA. PT Sucorinvest Central Gani memprediksi laba bersih PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) tahun ini kami perkirakan akan mengalami penurunan 25%. Penurunan akibat tahun lalu UNSP mencatat pendapatan lain-lain cukup besar.

Selain itu penurunan laba bersih tahun ini juga diakibatkan oleh kenaikan biaya bunga. "Namun demikian laba operasional UNSP tahun ini diperkirakan mengalami kenaikan 22%," ujar Frederick Daniel Tanggela, Analis Sucorinvest. Saat ini UNSP ditransaksikan di bawah PER ‘11 rata-rata industri sebesar 12,2x. Dengan asumsi tersebut, target harga 12 bulan UNSP menurut perhitungan Frederick adalah Rp 540 per saham. "Kami memberikan rekomendasi BUY," rekomendasi dia.

Frederick melihat adanya potensi pelemahan harga komoditi crude palm oil (CPO) dan karet pada semester kedua tahun ini. Namun demikian, harga rata-rata CPO dan karet sepanjang tahun 2011 diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 21% dan 20% dibandingkan tahun 2010. Kenaikan harga di pasar internasional diperkirakan akan mendorong kenaikan harga jual rata-rata UNSP untuk produk CPO sebesar 13% (neto sesudah pajak) dan produk karet sebesar 20%.

Tahun lalu produk kelapa sawit memberikan kontribusi 72% terhadap total pendapatan UNSP. Diperkirakan tahun ini produk kelapa sawit akan memberikan kontribusi lebih besar lagi menjadi sekitar 80% dari total pendapatan. Kenaikan tersebut terutama akibat meningkatnya kepemilikan UNSP atas saham anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, yang dibeli dengan menggunakan dana hasil penerbitan saham baru.

Sepanjang 2011, Frederick memperkirakan pendapatan UNSP mencapai Rp 3,89 triliun dengan laba bersih Rp 607 miliar.

IHSG Mei Optimis Menuju 4000

Headline
INILAH.COM, Jakarta- Menjelang akhir Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini akan segera ke level 4.000. Apa penyebabnya?

Yuganur Wijanarko dari HD Capital mengatakan beberapa alasannya. Pertama pascalaporan keuangan kuartal pertama 2011 dirilis, dimana terjadi peningkatan laba, valuasi PER emiten big cap consumer (ASII) perbankan (BMRI) dan batubara (ADRO, PTBA, BUMI) turun signifikan, “Hal ini membuat IHSG menjadi murah kembali di mata investor asing,”ujarnya.

Selain itu, dengan naiknya laba di kuartal pertama ini, analis menaikan proyeksi laba untuk sisa akhir tahun dan 2012. Penguatan rupiah juga bagus untuk menahan imported inflation akibat kenaikan bahan pangan dan komoditas lainnya.

Yuga menambahkan, peningkatan laba yang cukup signifikan untuk laporan keuangan 2010 dan kuartal pertama 2011 terjadi di grup Bakrie, menjadi katalis positif lainnya. Misalkan ENRG yang sebelumnya rugi, bisa kembali profit pascalaporan keuangan tiga bulan pertama 2011 yang keluar.

Adapun secara teknikal, sejak IHSG di 3.700 (April) weekly MACD sudah cross buy dengan potensi move di atas 4.000. “Ini berarti, kemungkinan Mei tidak akan terjadi koreksi IHSG,” katanya.

Beberapa saham pilihan Yuga adalah Bank Mandiri (PER 2011 11 kali) dan Bank BRI (PER 2011 13 kali) dengan target harga satu bulan Rp7.400 dan Rp 6.600. Kemudian Gajah Tunggal (PER 2011 6 kali) dan Truba Alam (TRUB) dengan target harga 1 bulan masing-masing Rp3.000 dan Rp90.

Sedangkan saham tambang juga direkomendasikan seperti Bukit Asam (PER 2011 16 kali), Adaro Energy (PER 2011 16 kali) dan Indo Tambang Raya (PER 2011 28 kali). Masing-masing memiliki target harga 1 bulan Rp24.500, Rp2.500 dan Rp49.000. [ast]

Rabu, 11 Mei 2011

BPS: Kenaikan Pertamax Dorong Inflasi Mei

Jakarta - Kenaikan harga bensin jenis pertamax menjadi Rp 9.050/liter awal bulan ini berpotensi mendorong inflasi. Belum lagi harga beras telah berhenti turun.

"Minggu ini harga beras cenderung bertahan, mulai berhenti penurunannya tapi juga belum naik," ujarnya saat ditemui usai rapat Ketahanan Pangan di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (11/5/2011).

Selain itu, Rusman menyatakan diperkirakan masih ada potensi inflasi dari harga emas dan perhiasan yang pada beberapa waktu ini mengalami kenaikan. Begitu juga dengan kenaikan harga pertamax yang terjadi mulai 1 Mei ini menjadi Rp 9.000.

"Kalau ada pengaruhnya sedikit, kemudian juga ada pertamax yang 1 Mei kemarin naik dari Rp 8.600 menjadi Rp 9.050, walaupun bobotnya tidak terlalu besar tapi itu akan memberikan sumbangan pada inflasi yang memang kecil," jelasnya.

Namun, Rusman menyatakan potensi deflasi masih bisa terjadi mengingat harga pangan lainnya masih mengalami penurunan.

"Tapi komoditas lain minggu kedua ini masih meluncur ke bawah. Semua masih turun, trennya turun, cabai merah sekarang pada level Rp 15 ribu, itu turun, masih mengalami penurunan kalau cabai merah itu 15%, cabai rawit masih turun, bawang merah masih turun, gula pasir masih turun, cuma beras yang mulai berhenti penurunannya," jelasnya.

Dengan demikian, Rusman menyatakan potensi deflasi dan inflasi potensinya masih 50:50.

"Sehingga kalau pertanyaannya kembali ke inflasi ini akan ada inflasi atau deflasi, saya akan mengatakan 50:50 sekarang ini. Kalaupun ada deflasi itu bisa terjadi, kalau ada inflasi barangkali akan kecil. Jadi peluang deflasi masih bisa terjadi, tapi kalau bulan April peluang deflasinya kuat sekali kalau sekarang mulai, tapi nggak ada inflasi yang mengejutkanlah di bulan Mei ini," tegasnya.

Untuk menjaga inflasi ini, Rusman menyatakan Bulog untuk berupaya memperkuat cadangan beras dan menyalurkan beras sehingga tidak terjadi tekanan inflasi karena harga beras.

"Kita bicarakan secara serius untuk memperkuat cadangan, Bulog harus all out," tandasnya.

(nia/dnl)

Mei Masih Berpotensi Deflasi

Kepala BPS Rusman Heriawan. Foto: okezone
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan masih akan terjadi deflasi pada Mei. Meskipun ada inflasi, namun tekanannya tidak akan signifikan.

Kepala BPS Rusman Heriawan menjelaskan tren penurunan masih terjadi, seperti dari faktor cabai merah, cabai rawit, bawang merah, gula pasir masih.

"Jadi peluang deflasi masih bisa terjadi, tapi kalau April peluang deflasinya kuat sekali," ungkap Rusman di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (11/5/2011).

Dia melanjutkan, meskipun akan terjadi inflasi namun tekanannya tidak akan besar. "Tapi tidak ada inflasi yang mengejutkanlah di Mei ini," jelas Rusman.

Rusman mengungkapkan saat ini kenaikan pertamax yang terjadi memang memberikan tekanan inflasi, namun nilainya tidak akan besar. "Walaupun bobotnya tidak terlalu besar tapi itu akan memberikan sumbangan pada inflasi yang memang kecil," tutur Rusman.

Selain itu, kata Rusman, tekanan inflasi dikhawatirkan datang dari beras. "Minggu ini harga beras cenderung bertahan, mulai berhenti penurunannya tapi juga belum naik," tukas Rusman.
(ade)

Mei Masih Berpotensi Deflasi

Kepala BPS Rusman Heriawan. Foto: okezone
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan masih akan terjadi deflasi pada Mei. Meskipun ada inflasi, namun tekanannya tidak akan signifikan.

Kepala BPS Rusman Heriawan menjelaskan tren penurunan masih terjadi, seperti dari faktor cabai merah, cabai rawit, bawang merah, gula pasir masih.

"Jadi peluang deflasi masih bisa terjadi, tapi kalau April peluang deflasinya kuat sekali," ungkap Rusman di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (11/5/2011).

Dia melanjutkan, meskipun akan terjadi inflasi namun tekanannya tidak akan besar. "Tapi tidak ada inflasi yang mengejutkanlah di Mei ini," jelas Rusman.

Rusman mengungkapkan saat ini kenaikan pertamax yang terjadi memang memberikan tekanan inflasi, namun nilainya tidak akan besar. "Walaupun bobotnya tidak terlalu besar tapi itu akan memberikan sumbangan pada inflasi yang memang kecil," tutur Rusman.

Selain itu, kata Rusman, tekanan inflasi dikhawatirkan datang dari beras. "Minggu ini harga beras cenderung bertahan, mulai berhenti penurunannya tapi juga belum naik," tukas Rusman.
(ade)

ENRG teken kontrak enam tahun penjualan gas kepada PLN

ENRG teken kontrak enam tahun penjualan gas kepada PLN
JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah menandatangani kontrak enam tahun penjualan gas kepada PT Perusahaan Listrik Negara. Harga jual gas tersebut senilai US$ 4,9 per million British thermal unit (mbtu).

Produsen minyak dan gas ini dalam pernyataannya hari ini, menyebut akan memasok rata-rata 2,5 juta kaki kubik gas per hari dari blok Gelam TAC di provinsi Jambi.

Rupiah makin perkasa, penguatannya mencapai yang terbesar sejak Maret 2004

Rupiah makin perkasa, penguatannya mencapai yang terbesar sejak Maret 2004
JAKARTA. Mata uang rupiah kembali menguat hari ini. Kondisi itu sejalan dengan melesatnya pasar saham di kawasan regional seiring dengan kenaikan harga komoditas. Sentimen lainnya, China dikabarkan akan meningkatkan impor barangnya.

"Melesatnya pasar saham di Asia seiring dengan kinerja positif perusahaan dan relinya harga komoditi. Kami juga melihat euro menguat, yang artinya pelemahan dollar dan penguatan rupiah," papar Joanna Tan, regional economist Forecast Singapore Pte kepada Bloomberg.

Catatan saja, rupiah menguat 0,3% menjadi 8.528 per dollar pada pukul 16.15. Itu merupakan level paling perkasa sejak Maret 2004 lalu.

Rebound di pasar saham dan komoditas membuat mata uang Asia kuat

Rebound di pasar saham dan komoditas membuat mata uang Asia kuat
SEOUL. Mayoritas mata uang Asia sore ini menguat. Kali ini, penguatan dipimpin oleh won Korea Selatan dan ringgit Malaysia. Lonjakan di pasar saham dan komoditas turut mendongkrak optimisme terhadap pemulihan ekonomi global. Hal itu juga meningkatkan permintaan investor terhadap aset-aset emerging market.

Pada pukul 15.00 waktu Seoul, won menguat 0,8% menjadi 1.074,95 terhadap dollar. Sementara, ringgit Malaysia menguat 0,4% menjadi 2,98 dan baht Thailand menguat 0,4% menjadi 30,95. Penguatan juga dialami oleh dollar Taiwan yang menguat 0,3% menjadi NT$ 28,65.

"Dengan adanya rebound, baik di pasar saham dan komoditas, investor lebih berani mengambil resiko lebih tinggi," jelas Shigehisa Shiroki, chief trader on the Asian and emerging markets team Mizuho Corporate Bank Ltd di Tokyo.

Dia menambahkan, resiko inflasi di China semakin meningkat, sehingga membuka peluang lebih besar bagi yuan untuk mengalami apresiasi. "Itu menjadi faktor lain yang mendongkrak mata uang Asia," imbuhnya.

Right issue IMAS tunggu RUPS di bulan Juni

Right issue IMAS tunggu RUPS di bulan Juni
JAKARTA. Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) Gunadi Sindhuwinata membenarkan kabar rencana perseroan untuk menggelar right issue di tahun ini.

"Kami sudah menyampaikan ke Bapepam-LK. Intinya, kami mau melepas saham baru sekitar 345 juta lembar saham," ujar Gunadi kepada KONTAN,
Rabu (11/5).

Jadwal pelaksanaan right issue IMAS akan ditentukan setelah Rapat Umum Pemegang Saham yang bakal digelar Juni 2011.

Mengenai target dana yang hendak dihimpun dari aksi tersebut, Gunadi belum dapat menyebutkan. "Nilainya nanti tergantung harga di pasar.
Kami berharap harga setinggi-tingginya. Mudah-mudahan bisa Rp 9.000-an per saham," ujarnya.

Sekedar informasi, harga saham IMAS pada penutupan perdagangan sore ini adalah Rp 8.850 per saham atau naik 4,12% dibandingkan penutupan kemarin.

Gunadi menambahkan, tujuan right issue adalah untuk mendanai pengembangan usaha dan membayar utang kepada pihak ketiga. Sayang,
lagi-lagi ia belum mau mengungkapkan porsi alokasi dana right issue untuk kedua tujuan tersebut. "Tergantung dapat berapa. Nanti baru bisa tahu optimalnya berapa yang akan disisihkan untuk utang dan pengembangan," imbuhnya.

KRAS Harapkan Kuartal II Pasar Baja Membaik

Logo KS
JAKARTA - PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berharap, pasar baja pada kuartal II tahun ini akan membaik dibanding kuartal sebelumnya. Dengan demikian, kinerja perusahaan baja pelat merah tersebut akan meningkat dibanding kuartal I-2011.

Direktur Utama KRAS Fazwar Bujang mengatakan, turunnya laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini disebabkan belum maksimalnya kapasitas pabrik hot strip mill (HSM) seiring revitalisasi dan modernisasi pabrik yang ditingkatkan menjadi 3,5 juta ton dan perbaikan mesin boiler. "Kapasitas maksimum pabrik HSM baru bagus pada Maret, sehingga menyebabkan kinerja kuartal I turun," kata dia di Jakarta, Rabu (11/5/2011).

Faktor lainnya yang menyebabkan turunnya laba bersih perseroan pada tiga bulan pertama tahun ini adalah penjualan baja yang menurun dan harga baja yang belum naik. Harga baja baru naik pada Februari-Maret seiring naiknya harga bijih besi. Namun, hal itu dibarengi dengan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut tidak memberi imbas positif terhadap kinerja perseroan lantaran penjualan baja menggunakan mata uang dolar.

Karena itu, Fazwar berharap, pada kuartal II tahun ini, kinerja perseroan akan lebih baik didorong kondisi pasar baja akan membaik ditambah mulai berproduksinya kapasitas pabrik HSM secara maksimal. "Kuartal II, produksi mulai bagus. Kalau pasarnya baik, maka (kinerja) bisa bagus," imbuh dia.

Seperti diketahui, BUMN baja tersebut pada kuartal I-2011 mengalami penurunan laba bersih sekitar 76 persen menjadi Rp113,52 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp468,05 miliar. Penurunan laba bersih didorong menurunnya penjualan baja perseroan sekitar empat persen dari periode yang sama 2011 sebesar Rp4,41 triliun menjadi Rp4,24 triliun.

Wakil Ketua Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Irvan K Hakim menyatakan, permintaan baja nasional secara keseluruhan pada tahun ini akan meningkat menjadi sembilan juta ton per tahun. "Permintaan baja lebih tinggi dari tahun lalu. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan bisa naik sekitar 7-12 persen dibanding tahun lalu," kata dia.

Naiknya permintaan baja nasional tersebut didorong gencarnya pembangunan infrastruktur, konstruksi maupun dari minyak dan gas (migas). Dia memperkirakan, negara kawasan Asia pada Juni tahun ini akan menaikkan harga jual bajanya. Hal itu didorong antisipasi naiknya harga biji besi dan baja setengah jadi pada kuartal III. Harga baja setengah jadi dalam empat hari ini, menurut dia, sudah mengalami kenaikan sebesar USD20 per ton. “Kalau bahan baku naik, kan harus antisipasi. Kita ikuti yang terjadi di global," ujar dia.

Saat ini, harga baja pelat hitam (hot rolled coil/HRC) berada di kisaran USD750-800 per ton dan harga baja canai dingin (cold rolled coil/CRC) sekitar USD850-900 per ton. Adapun, negara yang sudah menaikkan harga bajanya, diantaranya India, Korea dan Turki.

Pabrik Blast Furnace

Sementara itu, Fazwar menargetkan peletakan batu pertama (ground breaking) pabrik blast furnace bisa direalisasikan pada akhir semester I tahun ini. Saat ini, pematangan lahan pabrik, yang berlokasi di Cilegon tersebut sudah mencapai 20 persen. "Ground breaking pabrik tersebut pada akhir Juli (2011)," ungkapnya.

Pembangunan pabrik berkapasitas 1,2 juta ton per tahun tersebut diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp5,92 triliun. Rincian investasi itu terdiri atas keperluan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) sebesar Rp4,6 triliun, tanah dan persiapan lahan Rp420,41 miliar, biaya pra operasi Rp66,77 miliar, biaya bank sebesar Rp324,2 miliar, bunga pinjaman selama masa konstruksi sebesar Rp161,04 miliar dan modal kerja Rp346,02 miliar.

Tujuan pembangunan pabrik itu untuk menurunkan biaya produksi slab baja, mengurangi bahan baku impor, serta memanfaatkan sebagian bahan baku lokal seperti bijih besi dan batu bara. Rencananya, pembangunan pabrik tersebut dilakukan pada kuartal III-2011 dan ditargetkan rampung pada kuartal I-2014 atau kuartal II-2014.
(J Erna/Koran SI/wdi)

Bentuk JV, AKR Corporindo Bangun Jalan Tambang di Kalimantan

Ilustrasi
JAKARTA - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) telah mendirikan sebuah perusahaan joint venture (JV) yang dikhususkan untuk membangun dan mengelola jalan tambang batu bara (hauling roads) di Kalimantan Tengah.

Anak perusahaan Perseroan, PT Anugrah Karya Raya, yang bergerak di bisnia batu bara, mendirikan PT Berkah Rukun Bersama sebuah usaha joint venture dengan porsi kepemilikan 50:50 dengan PT Austral Byna pemilik konsesi hutan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

PT Berkah Rukun Bersama akan membangun, mengembangkan, dan mengoperasikan jalan tambang batu bara yang tidak hanya akan mendukung operasi tambang batu bara Perseroan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah tetapi juga akan menyediakan fasilitas jalan tambang kepada perusahaan batu bara lainnya yang berada di sekitas lokasi jalan tambang.

"Pendirian anak usaha joint venture ini adalah salah satu strategi AKRA untuk memperluas jaringan infrastruktur logistiknya guna melayani industri yang terkait dengan energy," jelas Presiden Direktur AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo dalam keterangan tertulisnya kepada okezone di Jakarta, rabu (11/5/2011).

AKRA juga telah memulai pembangunan terminal batu bara di Pelabuhan Buntok Baru, di sisi sungai Barito, Kalimantan Tengah yang akan digunakan sebagai titik pengiriman batu bara di wilayah Kalimantan Tengah.

Dengan pendirian anak usaha jalan tambang batu bara ini dan telah diterimanya seluruh perijinan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan konsesi batubara kami, AKRA siap untuk memulai aktivitas penambangan di konsesi tambang batu bara AKRA dalam beberapa minggu ke depan.
(wdi)

Kontrak Jual-Beli 6 Tahun Energi Mega Jual Gas USD4,9/MMBTU ke PLN

Logo Energi Mega Persada
JAKARTA - PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah menandatangani perjanjian jual beli gas dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Gas itu diambil dari Blok Gelam TAC di Jambi, Sumatera.

"Volume gas yang dikontrakkan adalah sebesar 4.990 BBTU dengan masa kontrak selama enam tahun dari Mei 2011 sampai Mei 2017," jelas Direktur Utama ENRG Imam Agustino dalam keterangan tertulisnya kepada okezone di Jakarta, rabu (11/6/2011).

Blok Gelam TAC sendiri diharapkan dapat mulai memproduksi gas untuk PLN pada Oktober 2011 dengan rata-rata produksi sebesar 2,5 juta kaki kubik per hari dengan harga sebesar USD4,9 per MMBTU. "Perjanjian tersebut termasuk eskalasi harga jual gas sebesar tiga persen per tahunnya," imbuhnya.

Dia melanjutkan, pihaknya berharap dapat meningkatkan harga jual gas secara berkala menjadi di atas USD4 per MMBTU dalam 24 bulan ke depan.

ENRG, melalui anak usahanya memiliki 100 persen kepemilikan di Blok Gelam. Selama tahun 2010, blok Gelam memproduksi hampir 300 barel minyak per hari.
(wdi)

AIG Akan Jual Saham Bailout Senilai US$9 Miliar

Headline
INILAH.COM, Jakarta - American International Group (AIG) akan menjual 100 juta saham dan obligasi pemerintah AS sebesar 200 juta saham hasil bailout dan mulai kembali ke kontrol publik.

Mengutip Reuters, Perusahaan mengajukan prospektus untuk penawaran saham pada hari Rabu. Ini tidak menunjukkan harga yang ditawarkan, meskipun pada penutupan Selasa menawarkan senilai $ 8,89 miliar.

Obligasi pemerintah juga memiliki opsi untuk dijual sebanyak 45 juta lembar saham tambahan untuk menutupi kelebihan penjatahan. AIG akan menjual 100 juta saham, dengan total 300 juta saham.

Indeks CPI China dan Komoditas Bangkitkan Pasar

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah dan indeks saham kompak menguat. Tingginya CPI China dan kenaikan harga komoditas jadi katalisnya. Data tersebut menjadi indikator tingginya inflasi Asia termasuk RI.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, secara keseluruhan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh data inflasi tahunan Consumer Price Index (CPI) China. Angkanya dirilis di atas prediksi dari level 5,2% ke level 5,3%.

Lalu, menurutnya, inflasi bulanannya pun naik dari -0,2% menjadi 0,1%. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terkuatnya 8.524 dan 8.544 sebagai level terlemahnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (11/5).

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (11/5) ditutup menguat tajam 29 poin (0,33%) jadi 8.526/8.536 per dolar AS dari posisi kemarin 8.555/8.560.

Lebih jauh Christian mengatakan, tingginya inflasi China telah memicu ketakutan pasar atas indikasi tingginya inflasi di Asia secara keseluruhan sehingga rupiah turut terapresiasi. "Sebab, tingginya inflasi di kawasan Asia memberikan peluang lebih besar pada kenaikan BI rate dari level 6,75% saat ini," tambahnya.

Selain itu, lanjut Christian, penguatan rupiah juga dipicu kenaikan harga komoditas baik minyak maupun emas. Mata uang yang berbasis komoditas seperti dolar Australia pun menguat. "Sebenarnya, rupiah juga termasuk mata uang berbasis komoditas karena ekspor RI lebih banyak komoditas terutama batu bara," imbuhnya.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,4407 dari sebelumnya US$1,4350 per euro," imbuh Christian.

Dari bursa saham, pengamat pasar modal Irwan Ariston Napitupulu mengatakan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) sebesar 37,622 poin (0,98%) ke level 3.838,142 karena secara teknikal, IHSG sudah kembali dalam tren bullish setelah bursa global juga berada dalam pembalikan arah menguat. Apalagi, bursa Eropa siang tadi dibuka positif.

Selain faktor regional, indeks juga mendapat dukungan dari aktifnya pergerakan saham-saham di grup Bakrie sehingga mendorong penguatan saham-saham lain. Secara teknikal, saham-saham grup Bakrie belum bergerak banyak.

Sebab, lanjut Irwan, pada saat saham-saham lain sudah mencapai puncaknya pascakrisis 2008, saham-saham grup Bakrie, belum kembali ke level puncak sebelum krisis 2008. “Ssekarang pasar melihat bahwa sudah saatnya masuk di grup Bakrie setelah level resistance ditembus,” tuturnya.

Karena itu, trader atau pelaku pasar mulai agresif melakukan perburuan di saham-saham Bakrie dan menjadi trigger bagi saham di sektor perbankan. Saham-saham di sektor ini pun sudah mulai bangkit dari level bottom-nya.

Karena itu, saham-saham di grup Bakrie dan perbankan jadi trigger market hari ini. Akibatnya, transaksi di saham-saham pertambangan pun sudah mulai meningkat. “Kondisi itu, tampak dari transaksi di bursa yang semakin ramaim,” imbuh Irwan. [mdr]