Selasa, 20 September 2011

Kekhawatiran Krisis Eropa Kembali Menekan Wall Street

New York - Bursa Wall Street kembali amburadul meski akhirnya berhasil memperkecil pelemahannya. Memuncaknya kekhawatiran terhadap gagal bayar Yunani yang bisa memicu pelemahan ekonomi dunia membuat investor beringsut dari pasar saham.

Mengawali perdagangan, bursa Wall Street langsung merosot tajam hingga lebih dari 200 poin. Saham-saham terus menerus tertekan karena investor kecewa dengan para pemimpin Eropa yang dinilai gagal membuat solusi baru untuk menangani krisis Eropa.

Namun selanjutnya pejabat kementerian keuangan Yunani mengatakan setelah melakukan pertemuan Uni Eropa dan IMF pada Senin, negara tersebut hampir mencapai kesepakatan dengan para pemimpin internasional untuk menerima dana talangan tambahan. Yunani kini diambang gagal bayar karena hanya memiliki dana tunai yang cukup untuk beberapa pekan ke depan saja.

Para pemimpin internasional sebelumnya meminta Yunani untuk memperkecil sektor publik dan memperbaiki pemungutan pajak guna menghindari gagal bayar dalam beberapa pekan.

"Untuk beberapa waktu, ini seperti pemikiran ada harapan pembicaraan akan mengambil nada yang lebih positif dan konstruktif," ujar Peter Kenny, managing director Knight Capital seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/9/2011).

Pada perdagangan Selasa (19/9/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup melemah 108,08 poin (0,94%) ke level 11.401,01. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 11,92 poin (0,98%) ke level 1.204,09 dan Nasdaq melemah 9,48 poin (0,36%) ke level 2.612,83.

Saham-saham sektor energi dan finansial mencatat kinerja terburuk sepanjang sesi perdagangan Senin. Indeks sektor jasa peminyakan PHLX merosot 1,7% seiring merosotnya harga minyak hingga 2,6% karena kekhawatiran seputar berkurangnya permintaan.

Indeks bank KBW turun 2,8%, saham Citigroup turun 4,4% menjadi US$ 27,71.

Saham Apple Inc berhasil menahan laju kemerosotan Nasdaq setelah harga sahamnya melonjak hingga 2,8% menjadi US$ 411,63. Saham produsen iPad ini melonjak setelah masuk dalam daftar perusahaan yang berpotensi menaikkan atau mulai memberikan dividen.

Sementara Caterpillar Inc justru mencetak kinerja terburuk di Dow Jones setelah sahamnya merosot 1,5% menjadi US$ 84,60. Hal itu terjadi setelah Raymond James memangkas peringkat produsen alat berat terbesar dunia tersebut akibat pelemahan ekonomi dunia.

Volume perdagangan cukup tipis, dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 7,11 miliar lembar saham, sedikit di bawah rata-rata harian yang sebesar 7,9 miliar lembar.

Harga Minyak Merosot

Terkait kekhawatiran berkurangnya permintaan minyak dunia akibat krisis global, harga minyak mentah dunia kembali merosot hingga titik terendahnya dalam 1 bulan terakhir.

Minyak WTI kontrak Oktober merosot US$ 2,26 menjadi US$ 85,70 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman November merosot US$ 3,08 menjadi US$ 109,14 per barel, yang merupakan titik terendah sejak 24 Agustus.

(qom/qom)

Senin, 19 September 2011

Yah.. Seiring Asia, IHSG Ditutup Turun 2,09%

INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia ditutup melemah 80,13 poin atau 2,09% ke 3.755,05. Volume perdagangan mencapai 3,5 miliar saham senilai Rp3 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 244 saham turun, 24 saham naik dan 56 saham stagnan. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp93,9 miliar dengan penjualan asing mencapai Rp1,02 triliun dan pembelian asing sekitar Rp932,8 miliar.

Indeks JII turn 9,8 poin ke 516,90, indeks ISSI turun 2,1 poin ke 122,17 dan indeks LQ45 turun 15,7 poin ke 654,34. Pelemahan dipimpin sektor pertambangan yang turun 47,2 poin ke 2.857,32 disusul sektor perkebunan turun 30,62 poin ke 2.245,03.

Sejak pembukaan indeks terus tertekan seiring pergerakkan bursa regional dan AS. Indeks tidak dapat bertahan di atas level 3.800 yang pada akhir pekan lalu dijaga dengan sukses. Level tertinggi hari ini di 3.834,08 dan level terendah di 3.739,51.

Mayoritas bursa Asia melemah seperti indeks Hang Seng turun 2,7% ke 1.891,95, indeks Nikkei naik 2,2% ke 8.864,16, indeks Shanghai turun 1,7% ke 2.437,79 dan indeks ASX turun 1,6% ke 4.081,50.

Bank Sentral Eropa Net Buyer Emas I Sejak 20 Tahun

Medium
Bank sentral Eropa telah menjadi net buyer emas untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, tanda baru dari bagaimana turbulensi dalam pasar mata uang dan utang telah merevolusi pasar logam mulia.

Pembelian kecil dibandingkan dengan ukuran pasar emas global, tetapi menyoroti perubahan yang luar biasa dari gelombang penjualan besar oleh bank sentral Eropa. Peran bank sentral di pasar emas akan menjadi topik utama perdebatan pada konferensi London Bullion Market Association tahunan, pertemuan terbesar industri emas, di Montreal minggu ini seperti dilansir Financial Times.

Beralih dari menjual untuk membeli telah membantu mendorong harga emas naik lebih dari 25% sepanjang tahun ini, mencapai rekor nominal $ 1.920 per troy ons bulan ini. Pergeseran di Eropa muncul akibat bank sentral di pasar negara berkembang juga menaikkan cadangan emasnya.

Meksiko, Rusia, Korea Selatan dan Thailand semua melakukan pembelian dalam jumlah besar tahun ini, dalam sebuah langkah untuk mengurangi eksposur mereka terhadap dolar. Secara global, bank sentral ditetapkan untuk membeli lebih banyak emas tahun ini daripada setiap saat sejak runtuhnya sistem Bretton Woods 40 tahun yang lalu - saat terakhir nilai dolar itu terkait dengan emas. "Kita akan kembali ke waktu ketika emas terlihat sangat banyak sebagai uang," kata Jonathan Spall, direktur penjualan logam mulia di Barclays Capital, FT.com dalam sebuah wawancara video. "Ini telah menjadi pembalikan lengkap dari sikap kita melihat selama 1990-an."

Bank Sentral Eropa telah menambah sekitar 25.000 ons, atau 0,8 ton emas untuk cadangan mereka pada tahun sampai saat ini, menurut data dari Bank Sentral Eropa dan Dana Moneter Internasional.

Dibandingkan dengan penjualan rata-rata hampir 400 ton per tahun sejak 1999, ketika mereka menukar non-yield dan unfashionable bulliom untuk utang. Konsumsi emas dunia sekitar 4.500 ton per tahun.

Sebagian besar pembelian di Eropa dihubungkan dengan kepindahan ke Estonia yang bergabung dengan blok mata uang tunggal awal tahun ini. Cadangan bank sentral Estonia untuk membeli emas untuk meningkatkan ECB, ECB mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Januari. Di tempat lain, Malta membeli 3000 ons.

Bank sentral Eropa belum menjadi net buyer sejak tahun 1985, menurut data dari World Gold Council. "Motivasi bank sentral Eropa untuk mendiversifikasi dari emas ke dalam aset mata uang dolar aset memiliki dampak negatif kebijakan fiskal dan moneter AS," kata Natalie Dempster, kepala pemerintahan urusan kelompok industri pertambangan.

Sebuah putaran ketiga pelonggaran kuantitatif akan membuat penjualan emas "terlihat kurang menarik dari sebelumnya", ia menambahkan. Pergeseran untuk membeli muncul karena beberapa politisi menyerukan anggota zona euro berutang seperti Portugal, Spanyol atau Italia yang akan dipaksa untuk menjual cadangan emas mereka untuk mengurangi utang mereka. Namun, harga emas saat ini dari langkah tersebut akan sulit mengatasi tumpukan utang negara, sementara analis percaya akan memperkuat kekhawatiran investor tentang zona euro.

Hanya 22 saham yang naik, indeks tersungkur di penutupan sore

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk kian dalam pada penutupan sore ini. Pada pukul 16.00, indeks tersungkur 2,09% menjadi 3.755,05.

Terdapat 232 saham yang dilanda aksi jual. Sementara, hanya ada 22 saham yang berhasil naik dan 52 saham lainnya diam tak bergerak. Volume transaksi hari ini melibatkan 3,518 miliar saham senilai Rp 3,109 triliun.

Sektor yang paling besar menggerus indeks adalah sektor keuangan sebesar 2,9%. Baru kemudian disusul oleh sektor consumer goods dan industri dasar dengan penurunan masing-masing 2,79% dan 2,43%.

Sejumlah saham top losers hari ini antara lain: PT Sekawan Intipratama (SIAP) turun 17,95% menjadi Rp 96, PT Central Omega Resources (DKFT) turun 17,48% menjadi Rp 2.950, dan PT Kedawung Setia Industri (KDSI) turun 16,67% menjadi Rp 225.

Sedangkan tiga saham top gainers di antaranya: PT Inti Agri Resources (IIKP) naik 17,24% menjadi Rp 680, PT Akbar Indo Makmur (AIMS) naik 15% menjadi Rp 230, dan PT Skybee (SKYB) naik 13,33% menjadi Rp 680.

Penuh Tekanan Jual, IHSG Terjungkal 80 Poin

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal 80 poin akibat aksi jual di saham-saham unggulan dan lapis dua. Pedagangan berjalan lesu, investor masih melakukan aksi tunggu.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 8.850 per dolar AS dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp 8.800 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG terpangkas 44,458 poin (1,15%) ke level 3.790,723. Bursa saham lokal terseret arus negatif bursa-bursa di Asia.

Indeks terus terkoreksi secara perlahan sejak dibukanya perdagangan dan sama sekali tidak menyentuh zona hijau. Tekanan jual terjadi di saham-saham unggulan dan lapis dua.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG melemah 49,568 poin (1,30%) ke level 3.785,613 di tengah perdagangan yang sepi. Investor masih berhati-hati dan waspada terhadap ancaman krisis utang Eropa.

Tekanan jual terasa makin dahsyat menjelang penutupan bursa saham. Indeks jatuh semakin dalam dan sempat mendarat di posisi terendahnya hari ini di 3.743,626.

Mengakhiri perdagangan awal pekan, Senin (19/9/2011), IHSG ditutup terjungkal 80,129 poin (2,09%) ke level 3.755,052. Sementara Indeks LQ 45 ditutup ambles 15,760 poin (2,36%) ke level 654,336.

Seluruh indeks sektoral memerah terkena tekanan jual yang cukup marak. Indeks sektor aneka industri, konsumer, properti, finansial dan manufaktur jatuh lebih dari dua persen.

Tak satu pun indeks sektoral yang mampu menguat, aksi jual dilakukan baik oleh investor lokal maupun asing. Transaksi pemodal asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) Rp 94,812 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 91.040 kali pada volume 3,518 miliar lembar saham senilai Rp 3,109 triliun hanya setengah dari transaksi rata-rata harian. Sebanyak 24 saham naik, sisanya 243 saham turun, dan 56 saham stagnan.

Koreksi IHSG bukan yang paling dalam di Asia, bursa saham Hong Kong lah yang jatuh paling dalam. Bursa-bursa lainnya di regional juga terperangkan di teritori negatif.

Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di regional sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai jatuh 34,96 poin (1,41%) ke level 2.447,38.
  • Indeks Hang Seng anjlok 537,36 poin (2,76%) ke level 18.917,95.
  • Indeks Straits Times ambruk 34,66 poin (1,24%) ke level 2.754,38.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Chandra Asri (TPIA) naik Rp 325 ke Rp 4.025, Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 275 ke RP 5.200, Telkom (TLKM) naik Rp 100 ke Rp 7.450, dan Sumber Alfaria (AMRT) naik Rp 100 ke Rp 3.400

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Sepatu Bata (BATA) turun Rp 1.000 ke Rp 59.000, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 950 ke Rp 14.050, Astra Internasional (ASII) turun Rp 900 ke Rp 65.000, dan Unilever (UNVR) turun Rp 800 ke Rp 16.050.

(ang/qom)

Won keok ke level paling lemah dalam enam bulan terakhir

Won keok ke level paling lemah dalam enam bulan terakhir
SEOUL. Won hari ini keok ke level paling lemah dalam enam bulan terakhir. Pada penutupan perdagangan di Seoul, pasangan (pair) dollar AS dan won Korea selatan (USD/KRW) berada di level 1.137,07 per dollar. Itu artinya, won keok 2,2%. Padahal di sepanjang pekan lalu, pelemahan yen sudah mencapai 3,1%.

Pelemahan won Korea Selatan hari ini dipicu oleh kecemasan investor akan kemungkinan default Yunani. Kondisi itu mendongkrak permintaan dollar dan memangkas permintaan aset-aset emerging market.

"Pasar saat ini tengah didominasi oleh kecemasan luar biasa. Reaksi investor sangat sensitif atas rumor sekecil apa pun. Taka ada investor yang rela melepas dollarnya saat ini," jelas Kim Seong Soo, currency trader Kyongnam Bank.

BUMI Jual Saham BRMS Rp 17,5 Triliun

Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menjual sebagian sahamnya di PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) senilai Rp 17,52 triliun kepada Bumi Plc yang dahulu bernama Vallar Plc.

Seperti dikutip dari prospektus ringkas perseroan, Senin (19/9/2011), jumlah saham yang akan dilego sebanyak 20,85 miliar lembar saham.

Atas transaksi tersebut, makan Bumi Plc akan menguasai 75,1% saham di BRMS. Rencananya, perusahaan kongsi Grup Vallar dan Bakrie itu akan menerbitkan convertible bonds (CB).

Nilai dari surat utang itu sendiri diperkirakan US$ 2 miliar atau setara Rp 17 triliun jika memakai kurs Rp 8.500 per dolar AS. Surat utang itu juga bisa dikonversikan menjadi sebanyak-banyaknya 107,70 juta saham Bumi Plc.

Sementara untuk bunga dari surat utang itu ditetapkan 2% tiap tahunnya dan akan jatuh tempo dalam janka waktu 66 bulan atau setara lima tahun enam bulan.

Setelah transaksi ini, kepemilikan BUMI di BRMS akan berkurang menjadi hanya 11,99%. Perseroan berharap dapat mengurangi tingkat utang dan fokus pada bisnis pertambangan batubara pasca transaksi ini.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 13.55 waktu JATS, harga saham BUMI turun 25 poin (-0,92%) ke level Rp 2.675 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 643 kali dengan volume 98.179 lot senilai Rp 131,763 miliar.
(ang/dnl)

BI : Pasar saham paling besar terimbas krisis global

BI : Pasar saham paling besar terimbas krisis global
JAKARTA. Sentimen negatif akibat krisis ekonomi global terhadap Indonesia berdampak paling besar ke pasar saham.

Koreksi harga saham terjadi di hampir seluruh sektor. Utamanya di sektor pertambangan, perdagangan, dan pertanian. Kendati demikian, koreksi IHSG relatif lebih kecil dibanding kawasan Asia.

"Meskipun lebih besar dibanding Malaysia, Filipina dan China," kata Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Perry Warjiyo dalam Seminar Nasional bertajuk Krisis Keuangan AS dan Eropa serta dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia, Senin (19/9).

Data terbaru yang dipaparkan BI menunjukkan dalam sebulan terakhir indeks pasar saham dunia terkoreksi 10,4%. Asia terkoreksi 14%, Jepang terkoreksi 12,1%, Hongkong terkoreksi 13,3%, Malaysia terkoreksi 5,1%, Filipina terkoreksi 3%, Thailand terkoreksi 7,7%, Vietnam terkoreksi 2,2%, sedangkan Indonesia terkoreksi 6,96%.

Selain pasar saham, sentimen negatif juga menekan pasar obligasi pemerintah (SBN). Namun, penjualan SBN oleh asing relatif lebih kecil dan mampu dibeli pelaku domestik. Khusunya, oleh perbankan dalam negeri.

"Itu sebabnya, yield SBN tidak mengalami kenaikan signifikan," ujar Perry.

Ia menambahkan, dibandingkan kawasan sekitar, yield SBN masih relatif menarik investor asing. Namun, Perry mengingatkan porsi asing yang lebih besar dibandingkan kawasan perlu terus diwaspadai.

Yield SBN Indonesia saat ini sebesar 6,8%, lebih tinggi dibandingkan angka inflasi. Di kawasan ASEAN, yield obligasi pemerintah Indonesia ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia (3,6%), Filipina (6%), dan Thailand (3,4%). Adapun yield obligasi pemerintah di Vietnam mencapai 12,6% atau tertinggi di ASEAN. Akan tetapi, inflasi Vietnam paling tinggi di antara negara-negara ASEAN.

ANTM siapkan penerbitan obligasi berbasis rupiah

ANTM siapkan penerbitan obligasi berbasis rupiah
JAKARTA. Babak baru dalam rencana penerbitan obligasi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali bergulir. Jika sebelumnya perusahaan pelat merah ini sempat mengungkapkan akan menerbitkan obligasi berdenominasi dollar, ternyata yang sedang dirancang adalah obligasi rupiah.

"Yang sedang dikerjakan ANTM adalah bond rupiah dan kita sudah dapat mandat untuk itu," kata sumber Kontan yang mengetahui proses penerbitan obligasi tersebut. ANTM pun telah menunjuk Deutsche Bank, Standard Chartered Bank dan Mandiri Sekuritas sebagai penjamin emisi penerbitan obligasi itu.

Selain itu, ternyata ANTM sudah meminta proses rating obligasi berdenominasi rupiah ke Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). "Yang sedang diproses adalah pemeringkatan untuk obligasi rupiah, kalau dollar tampaknya belum," kata Direktur Utama Pefindo Ronald Tauviek Andi Kasim, kemarin (18/9).

Sebelumnya, KONTAN mencatat, ANTM berniat menerbitkan obligasi tahap pertama senilai US$ 150 juta. Perusahaan metal dan mineral ini memang berencana menerbitkan obligasi secara bertahap, terlebih ANTM membutuhkan dana segar sebesar US$ 350 juta untuk pembangunan proyek Feronikel Halmahera Timur (FeNi Haltim).

Direktur Keuangan ANTM Djaya Tambunan pernah menyebut, perusahaan akan menerbitkan obligasi berdenominasi dollar, dengan alasan pendapatan perusahaan dalam dollar. "Sehingga kalau kita terbitkan dalam rupiah kita harus swap," tambahnya.

Krisis Utang Euro Picu Saham Eropa Bakal Anjlok

Medium
INILAH.COM, London - Tiga indeks utama saham Eropa diperkirakan akan dibukan melemah pada perdagangan Senin (19/9) karena krisis utang euro terus menyeret pada sentimen pasar.

Mengutip CNBC, FTSE diprediksi akan turun 47 poin, indeks DAX turun 53 poin dan indeks CAC-40 turun 48 poin. Kurangnya tindakan tegas dari para menteri keuangan Uni Eropa yang bertemu di Polandia Jumat lalu dan pencegahan penularan di zona euro tengah menjadi konsen pasar saat ini.

Uni Eropa dan IMF akan mengadakan konferensi dengan Athena untuk membahas bagaimana negara ini berencana untuk memastikan talangan defisit anggaran sedang berada di trek dengan reformasi dalam rangka untuk menerima bantuan tahap berikutnya bulan depan. Perdana Menteri Yunani membatalkan perjalanan yang direncanakan ke AS minggu ini untuk mengatasi krisis yang mendalam di negaranya.

Sentimen negatif lainnya adalah Moody's yang pesimis pada paket penghematan Italia. Lembaga pemeringkat ini memprediksi akan memberikan 'credit negative' untuk regional Italia dan pemerintah lokal karena akan meningkatkan tekanan pada anggaran daerah yang sudah meregang.

Di Amerika Serikat Presiden Barack Obama sedang mengatur untuk mengungkap rencananya untuk mengurangi defisit publik dengan menyediakan tabungan sebesar $ 3 triliun pada 10 tahun mendatang sebagai bagian dari kesepakatan yang disahkan pada awal Agustus untuk menaikkan batas utang federal. Ini termasuk menerapkan tarif pajak minimum untuk siapa pun yang berpenghasilan lebih dari $ 1 juta per tahun, yang dijuluki dengan 'Buffett Rule'.

Bursa Asia terbenam seiring kecemasan investor atas krisis utang Eropa

Bursa Asia terbenam seiring kecemasan investor atas krisis utang Eropa
SEOUL. Sebagian besar bursa Asia melorot siang ini. Pada pukul 15.56 waktu Seoul, indeks MSCI Asia Pacific, di luar bursa Jepang, turun 2,5% menjaid 403,99. Dalam setiap lima saham yang melorot, hanya ada satu saham yang berhasil naik. Sementara, sepuluh sektor yang ditransaksikan memerah.

Indeks Kospi Korea Selatan turun 1%. Sedangkan indeks Hang Seng Hongkong dan indeks S&P/ASX 200 Australia juga turun dengan penurunan masing-masing 2,6% dan 1,6%. Selain itu, indeks NZX 50 Selandia Baru juga turun 0,1%.

Sejumlah saham yang pergerakannya turut mempengaruhi bursa Asia antara lain: Esprit Holdings Ltd yang anjlok 18% di Hongkong dan BHP Billiton Ltd turun 1,7% di Sydney. Penurunan juga terjadi pada saham Industrial & Commercial Bank of China Ltd sebesar 3,8% di Hongkong.

Aksi jual yang melanda bursa Asia dipicu oleh kecemasan investor mengenai penyebaran krisis utang Eropa. Apalagi hingga saat ini, pimpinan Eropa belum juga menemukan strategi untuk mengatasi krisis utang di kawasan tersebut. Ujung-ujungnya, outlook kinerja perusahaan eksportir Asia, saham-saham perbankan serta produsen bahan baku.

"Investor berharap adanya respon respon positif terhadap krisis utang Eropa. Tapi kenyataannya, yang mereka dapatnya hanyalah ketidakpastian dan belum ada penyelesaian sama sekali," jelas Tim Schroeders dari Pengana Capital Ltd di Melbourne.

BBRI, UNVR, dan ASII menjadi bluechip penggerus indeks terbesar di sesi I

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penurunan 49,57 poin menjadi 3.785,61. Aksi jual saham-saham bluechips menjadi salah satu penyebabnya. Tiga diantaranya yaitu:

- Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
Saham BBRI turun 3,10% menjadi Rp 6.250 di sesi I. Sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini adalah Macquarie Capital senilai Rp 33,01 miliar, CLSA Indonesia senilai Rp 21,19 miliar, dan RBS Asia Securities senilai Rp 14,5 miliar.

- Saham PT Unilever Indonesia (UNVR)
Saham UNVR turun 2,97% menjadi Rp 16.350 di sesi I. Sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 4,02 miliar, UBS Securities senilai Rp 980 juta, dan Macquarie Capital senilai Rp 403,68 juta.

- PT Astra International (ASII)
Saham ASII turun 1,21% menjadi Rp 65.100 di sesi I. Sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini adalah Credit Suisse senilai Rp 18,48 miliar, JPMorgan Securities senilai 10,86 miliar, dan Merrill Lynch Indonesia senilai Rp 6,92 miliar.

Penurunan 127 saham memukul IHSG 1,29% di sesi I

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penurunan 1,29% pada penutupan sesi I pukul 12.00.

Sepuluh sektor yang ditransaksikan kompak memerah. Sektor consumer goods tergerus paling besar 1,65%. Baru kemudian disusul oleh sektor keuangan yang turun 1,55% dan sektor agrikultur yang turun 1,54%.

Sementara itu, di sesi I, hanya 27 saham yang berhasil mempertahankan posisi di zona hijau. Sementara, 174 saham lainnya melorot dan 61 saham tak berubah. Volume transaksi hari ini melibatkan 1,626 miliar saham senilai Rp 1,279 triliun.

Saham-saham di posisi top losers antara lain: PT First Media (KBLV) turun 12,16% menjadi Rp 650, PT Alkindo Naratama (ALDO) turun 9,72% menjadi Rp 325m dan PT Multifiling Mitra Indonesia (MFMI) turun 8,77% menjadi Rp 260.

Sementara itu, saham-saham top gainers siang ini dihuni oleh: PT Skybee (SKYB) naik 13,33% menjadi Rp 680, PT Capitalinc Investment (MTFN) naik 10,53% menjadi Rp 420, dan PT Agis (TMPI) naik 8,04% menjadi Rp 215.

Penjualan Asing Makin Tekan Akhir Sesi I IHSG

INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan sesi I Senin (19/9) ditutup anjlok 1,29% ke level 3.785,61.

Penurunan tajam IHSG siang ini masih seiring koreksi yang terjadi di bursa regional meski secara teknikal indeks berada dalam momentum bullish jangka pendek yang cukup kuat. Pelemahan saham regional ini seiring kembali munculnya pesimisme krisis utang di Eropa dan AS akan memicu perlambatan ekonomi di dua area tersebut dan potensi Yunani gagal mendapatkan bantuan dari EU seiring masih minimnya perbaikan kondisi fiskal negara tersebut.

Di Asia Shanghai turun 1,41%, Hang Seng turun 2,1%, KLSE turun 0,86%, STI turun 0,73%, dan Seoul turun 0,53%, sedang Nikkei naik 2,25%.

Samuel Sekuritas dalam ulasan pasarnya hari ini melihat koreksi yang kembali terjadi pada nilai tukar Rupiah juga menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Samuel memprediksi support indeks berada di level 3.800.

Bursa AS menutup akhir pekan kemarin dengan menguat sekitar 0,6% masih memfaktorkan pulihnya optimisme di Eropa pasca kesepakatan beberapa bank Sentral untuk meningkatkan likuiditas bank-bank di Eropa. Harga minyak dunia ditutup terkoreksi di akhir pekan kemarin ke level US$87,9/barel diikuti oleh harga metal dunia seperti Nikel -1,3% dan Timah -2,1%.

Koreksi Indeks ini juga dipicu oleh koreksi harga komoditas yang terjadi di akhir pekan lalu dan pagi tadi harga minyak kembali melemah ke level US$86,9/barel. Harga batubara NEWC masih bergerak sideways dan berada di level US$123,6/ton.

Sebanyak 190 saham turun siang ini, sementara 29 saham naik, dan 61 saham stagnan. Volume perdagangan siang sebanyak 1,12 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,09 triliun. Asing yang pagi tadi lebih banyak pembelian, siang ini sudah mulai menjual dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp43,75 miliar.

Indeks saham unggulan LQ45 sesi I ditutup turun 1,5% ke level 660,02, sementara JII juga merosot 1,34% ke level 519,7.

Saham-saham yang turun tajam siang ini adalah BATA turun 1,66%, ASII turun 1,21%, GGRM turun 1,15%, AALI turun 2,23%, UNVR turun 2,96%, dan AMFG turun 5,81%.

Koreksi Berlanjut, Cermati Saham Kriteria Khusus

INILAH.COM, Jakarta- Koreksi bursa siang ini tampaknya akan berlanjut hingga penutupan. Namun, saham yang berorientasi ekspor, fokus pada pasar domestik dan berfundamental kuat bisa menjadi piilhan.

Pada sesi pertama perdagangan Senin (19/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 49,57 poin (1,29%) ke level 3.785,613. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 yang turun 10,07 poin (1,50%) ke angka 660.023.
Laju indeks siang ini kurang ramai, hanya didukung oleh volume transaksi yang tercatat mencapai 1,123 miliar lembar saham di pasar reguler dan total mencapai 1,701 miliar. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp1,098 triliun di pasar reguler dan total Rp1,269 triliun dan 46.822 frekuensi kali. Hanya 29 saham menguat, sedangkan 189 saham melemah dan 61 saham stagnan.
Pelemahan indeks sesi pertama, juga diwarnai aksi jual asing yang mencatatkan transaksi nilai jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp43,7 miliar. Rinciannya, transaksi beli mencapai Rp347,1 miliar sedangkan transaksi jual sebesar Rp390,8 miliar.
Semua sektor saham, kompak mendukung pelemahan indeks. Sektor konsumsi memimpin koreksi 1,65%, disusul sektor perkebunan dan keuangan yang masing-masing turun 1,54%, industri dasar turun 1,51%, manufaktur 1,49%, aneka industri 1,29%, properti 1,01%, perdagangan 0,93%, pertambangan 0,91% dan infrastruktur 0,80%.

Kepala Riset Valbury Asia Securities Alfiansyah memperkirakan, pergerakan indeks saham domestik hingga penutupan sore bakal melemah. Menurutnya, karena support 3.790 sudah ditembus, indeks berpeluang mengarah ke level support berikutnya 3.745 berdasarkan pola pivot point. “Sedangkan support 3.790 berubah jadi level resistance dan 3.865 jadi resistance berikutnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (19/9).

Pelemahan indeks hari ini, menurut Alfiansyah, salah satunya masih dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah menjadi konsentrasi pelaku pasar domestik saat ini karena pergerakannya sangat berpengaruh pada kondisi makro ekonomi Indonesia secara luas. “Karena itu, pasar saham mengalami kepanikan saat rupiah kembali melemah 91 poin ke level 8.894 per dolar AS,” ujarnya.

Dia menegaskan, selama pergerakan nilai tukar rupiah masih fluktuatif dalam kisaran yang lebar, indeks saham akan terdampak negatif. “Karena itu, indeks berpeluang melemah hingga penutupan kecuali jika terjadi pembalikan arah menguat pada rupiah,” papar dia.

Memang, lanjutnya, Bank Indonesia sudah membatasi transaksi dalam valuta asing. Pinjaman juga harus lebih banyak dalam rupiah dan membatasi pinjaman dalam dolar AS. Kebijakan ini diharapkan bisa menjaga rupiah pada level stabil. “Tapi, pasar punya penilaian berbeda sehingga rupiah tetap saja melemah,” ucap Alfiansyah.

Di sisi lain, seiring rencana European Central Bank (ECB) yang menyediakan fasilitas pendanaan (likuiditas) dolar AS, para hedge fund juga mulai menarik dananya dari pasar domestik. ECB bekerjasama dengan The Fed, Bank of England, Bank of Japan, dan Swiss National Bank (SNB).

Tapi, Alfiansyah menilai, penarikan dana ini semata untuk memenuhi kebutuhan likuiditas di pasar global. “Itu juga dilakukan karena bisa jadi mereka melihat peluang profit jangka pendek pada instrument investasi di pasar global,” tuturnya.

Pada saat yang sama, lanjutnya, asing juga berekspektasi positif atas Federal Open Market Committee (FOMC) meeting pada Rabu (21/9) dan Kamis (22/9) yang diperkirakan bakal menggulirkan Quantitative Easing (QE) tahap ketiga. “Mereka punya harapan atas pasar modal di AS. Karena itu, mereka keluar terlebih dahulu dari Indonesia,” imbuhnya.

Dalam situasi ini, Alfiansyah, merekomendasikan positif saham-saham yang berorientasi ekspor, mendapat dukungan dari konsumsi domestik dan berfundamental kuat di sektor perkebunan, pertambangan, industri dasar, konsumsi, properti, perbankan dan grup Astra.

Saham-saham pilihannya adalah PT Astra Agro Lestari (AALI), PT London Sumatera Plantation (LSIP), PT Adaro Energy (ADRO) dan PT Aneka Tambang (ANTM). Lalu, PT Semen Gresik (SMGR) dan PT Intraco Penta (INTA).

PT Astra Internasional (ASII), PT Indika Energy (INDY), PT Bumi Serpong Damai (BSDE), PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), PT Jasa Marga (JSMR) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). “Saya rekomendasikan buy on support dengan pola trading buy pada saham-saham tesebut,” imbuh Alfiansyah. [ast]

Koreksi Bursa Asia Seret IHSG Jatuh 43 Poin

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi 43 poin mengawali perdagangan awal pekan. Bursa saham lokal terseret arus negatif bursa-bursa di Asia.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka stagnan di posisi Rp 8.800 per dolar AS sama seperti penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Pada perdagangan preopening, IHSG melemah 43,852 poin (1,15%) ke level 3.791,329. Sedangkan Indeks LQ 45 turun 10,884 poin (1,62%) ke level 659,212.

Mengawali perdagangan awal pekan, Senin (19/9/2011), IHSG terpangkas 44,458 poin (1,15%) ke level 3.790,723. Indeks LQ 45 melemah 11,034 poin (1,65%) ke level 659,062.

Hingga pukul 9.35 waktu JATS, koreksi IHSG bisa sedikit ditahan, turun 37,078 poin (0,97%) ke level 3.798,103. Sementara Indeks LQ 45 melemah 8,344 poin (1,26%) ke level 661,752.

Pada akhir pekan lalu, IHSG menguat 60 poin atas aksi beli di saham-saham unggulan. Indeks mengakhiri pelemahan yang sudah terjadi dalam lima hari perdagangan terakhir.

Seluruh bursa di Asia memerah akibat kehati-hatian investor menyusul masih belum berakhirnya krisis utang di Eropa. Sentimen negatif ini menghentui pergerakan IHSG.

Berikut situasi bursa-bursa regional pagi ini:
  • Indeks Komposit Shanghai anjlok 32,10 poin (1,29%) ke level 2.450,24.
  • Indeks Hang Seng jatuh 409,17 poin (2,10%) ke level 19.046,14.
  • Indeks Straits Times melemah 24,88 poin (0,89%) ke level 2.764,16.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka stagnan di posisi Rp 8.800 per dolar AS sama seperti penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

(ang/ang)

Bapepam Terus Telaah Untuk Kelola Saham Terlantar

Medium
INILAH.COM, Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) terus melakukan penelaahan untuk pengelolaan saham terlantar.

Penunjukan lembaga untuk mengelola saham terlantar memerlukan dasar hukum agar tak disalahkan dalam mengelola saham terlantar di masa mendatang. Hal itu disampaikan Kepala Biro PKP Sektor Riil Bapepam-LK Anis Baridwan, Senin (19/9). "Kita masih terus melakukan penelaahan untuk mengelola saham terlantar, nanti saham tersebut mau diapakan," ujar Anis.

Lebih lanjut ia mengatakan, pengelolaan saham terlantar ini akan masuk dalam Biro Perundang-undangan dan Hukum. Hal ini dilakukan agar lembaga yang ditunjuk nanti memiliki dasar hukum dan saham terlantar dapat dikelola. "Fund itu ada dasar hukumnya agar tak disalahkan siapa yang kelola," kata Anis.

Anis belum dapat memastikan kapan penelaahan penunjukan lembaga untuk mengelola saham terlantar itu selesai.

Seperti diketahui, saham ditelantarkan adalah pemilik mengabaikan haknya, sebagian besar jumlahnya odd lot, dan biasanya tercatat secara warkat di Biro Administrasi Efek (BAE). Jumlah saham yang terbatas sering kali pemilik saham melakukan peminjaman KTP saat go public atau terkait registrasi (sebelum berlakunya scriptless). Selain itu, kemungkinan terjadinya saham ditelantarkan karena berubahnya rasio saham menjadi makin kecil terkait aksi korporasi yang dilakukan emiten. Meskipun saham tersebut ditelantarkan tetapi diharapkan perusahan dapat melindungi hak-hak pemegang saham. [cms]

Investor kembali mengoleksi emas

Investor kembali mengoleksi emas
MELBOURNE. Sudah dua hari terakhir, kontrak harga emas ditransaksikan naik. Pada pukul 11.57 waktu Singapura, kontrak harga emas untuk pengantaran cepat naik 0,9% menjadi US$ 1.828,74 per troy ounce. Sementara itu, kontrak harga emas untuk pengantaran Desember juga naik 1% menjadi US$ 1.832,90 per troy ounce.

Sepertinya, kecemasan investor terkait krisis utang Eropa, yang dimulai dari Yunani, kian menjadi-jadi. Salah satu penyebabnya, pemerintah Eropa gagal menelurkan strategi baru untuk memulihkan perekonomian di kawasan tersebut. Alhasil, permintaan emas sebagai safe haven semakin melonjak.

"Masalah yang menggelayuti perekonomian global belum akan hilang dalam satu hingga dua hari. Sebagai konsekuensi, banyak investor yang memburu emas, khususnya pada saat harga emas melorot," urai Liu Yangyi, manager China National Peal Diamond Gem & Jewelry Import & Export Corp.

Saham China Coal Energy Disuspensi Senin (19/9)

Saham China Coal Energy Disuspensi Senin (19/9)
INILAH.COM, Jakarta - Saham China Coeal Energy disuspensi pada perdagangan Senin (19/9) pagi di Hong Kong Stock Exchange.

Mengutip Reuters, tidak ada rincian lebih lanjut terkait suspensi tersebut. Saham turun 17% sebelum suspensi.

Operasional tambang China National Coal di provinsi utara Shanxi ini dihentikan setelah delapan penambang tewas dalam banjir tambang batubara di salah satu anak perusahaan di sana, media pemerintah Xinhua News melaporkan pada Sabtu.

Bursa China terhempas ke level terendah 14 bulan

Bursa China terhempas ke level terendah 14 bulan
SHANGHAI. Bursa China terhempas pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini. Pada pukul 11.30 waktu setempat, Shanghai Composite Index turun 1,4% menjadi 2.447,38. Ini merupakan level terendah dalam 14 bulan terakhir atau sejak 14 bulan lalu.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar tergerus siang ini. Ambil contoh, saham Industrial & Commercial Bank of China Ltd dan Poly Real Estate Group Co yang melorot paling dalam di sektor perbankan dan properti. Selain itu, Sinoma International Engineering Co turun 2,7%.

Aksi jual yang melanda bursa China hari ini terjadi setelah Perdana Menteri China Wen Jiabao mengungkapkan, pemerintah akan mengambil langkah untuk mengontrol laju inflasi. Selain itu, investor berspekulasi, penundaan rencana initial public offering (IPO) sejumlah perusahaan akan memangkas permintaan saham-saham yang ada saat ini.

"Rencana IPO perusahaan besar menjadi penyebab utama penurunan pasar saham China, karena menggerus likuiditas di pasar. Saat ini bukan merupakan waktu yang tepat untuk menghimpun dana. Namun, pengetatan kebijakan pemerintah menyebabkan perusahaan tak memiliki pilihan lain," jelas Tu Jun, strategist Shanghai Securities Co.

Sekadar tambahan, Shanghai Composite Index sudah terjungkal hingga 13% di sepanjang tahun ini. Penurunan tersebut melanjutkan koreksi dalam di sepanjang 2010 sebesar 14%.