Selasa, 09 Agustus 2011

TBIG Closing Akuisisi Infratel Pekan Ini

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) akan melakukan closing akuisisi 100 persen saham PT Mitrayasa Sarana Informasi (Infratel), perusahaan penyedia menara telekomunikasi independen pekan ini.

Hal ini disampaikan Chief Financial Officer TBIG Helmy Yusman Santoso usai acara buka puasa di Jakarta, Senin (8/8) malam. "Kita sekarang lagi tahap finalisasi. Due dilligence sudah lebih dari 60 persen. Minggu ini mau close," ujarnya.

Molornya jadwal akuisisi, menurut Helmy, karena proses due dilligence dan legal perlu klarifikasi mengingat yang namanya tower asset itu jumlahnya ratusan.

Per Juni 2011 perseroan sudah memiliki 5.381 tenant dengan 3.610 site. Perseroan berencana untuk mengakuisisi 672 tenant yang sudah menghasilkan revenue. "Sementara, akuisisi infratel merupakan yang belum menghasilkan revenue," tukasnya.

Dengan rampungnya akuisisi terhadap Infratel ini nantinya, lanjut Helmy, target di kuartal 3-2011 setidaknya sudah aman. Adapun dana akuisisi diambil dari dana hasil IPO. Namun, berapa besarnya, dia belum bersedia mengungkapnya. "Nanti, minggu ini akan dirilis," ungkapnya.

Perseroan berhasil meraup dana dari hasil IPO sebesar Rp1,1 triliun. Sebagian dana ini sudah diabsorbsi untuk pembangunan tower. Perseroan juga di awal tahun sudah mengagarkan capex sebesar US$120 juta untuk tahun ini.

IHSG Rebound, Cermati Saham Fokus Pasar Domestik

INILAH.COM, Jakarta – IHSG akan melanjutkan upaya penguatannya hari ini. Saham yangberorientasi pada pasar domestik bisa menjadi pilihan.

Nico Omer Jonkheere, analis dari Valbury Asia Securities mengatakan, IHSG hari ini akan melanjutkan upaya rebound. Karena memang tidak ada alasan untuk turun seperti kejadian dua hari sebelumnya. Koreksi pasar yang dipicu pelemahan bursa Wallstreet, membuat investor yang menggunakan margin di BEI terpaksa harus melakukan forced sell. “Ini menambah kecepatan turun IHSG,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, sebenarnya sentimen dalam negeri sedang bullish, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Apalagi sektor finansial sebenarnya tidak menghadapi masalah likuiditas.

Saat ini yang terjadi adalah masalah solvabilitas yang disebabkan oleh utang publik negara-negara maju yang membengkak, bahkan melebihi kemampuan PDB untuk menservis utang publik. “Kalau masalah solvabilitas pada utang pemerintah, maka hanya Bank sentral yang bisa menanganinya,” paparnya.

Sejumlah bank sentral pun sudah melakukan aksi moneter, seperti Bank Sentral Eropa (ECB) membeli surat utang Italia dan Spanyol. Kemudian Bank Sentral Inggris, serta Bank sentral Jepang yang meng-intervensi pasar uang dengan jual yen. Federal Reserve AS dipastikan akan mengumumkan program quantitative easing jilid 3. “Jadi praktis tidak ada liquidity hang di pasar,” katanya.

Di tengah situasi ini, Nico merekomendasikan investor untuk beli saham yang berorientasi pasar domestik. Terutama yang membukukan kinerja bagus pada semester pertama 2011 dan dalam dua tahun ke depan masih bisa mengalami percepatan pertumbuhan pendapatan.

Pasalnya, dalam tiga tahun ke depan, bank-bank sentral negara maju yang massive melakukan penggelontoran likuiditas, akan menghadapi kendala peningkatan utang. “Saat itu, diperkirakan ekonomi memasuki era depresi.”

Beberapa saham yang direkomendasikan adalah Clipan Finance Indonesia (CFIN), Tunas Baru Lampung (TBLA), Mayora Indah (MYOR), TB Bukit Asam (PTBA), Bumi Resources (BUMI), London Sumatera (LSIP) danBW Plantation (BWPT).

Sedangkan untuk saham perbankan, Nico menyarankan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Bukopin (BBKP), ”Rekomendasi beli untuk semua emiten ini,” tutupnya.

Pada perdagangan Senin (8/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 71,377 poin (1,83%) ke level 3.850,266, dengan intraday terendah di 3.714,92 dan tertinggi di 3.920,81. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 9,832 miliar lembar saham, senilai Rp9,474 triliun dan frekuensi 216.771 kali.

Sebanyak 54 saham naik, sisanya 239 saham turun, dan 56 saham stagnan. Koreksi bursa didukung larinya dana asing dari pasar domestik. Nilai transaksi jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp1,136 triliun. Rinciannya adalah transaksi jual sebesar Rp3,177 triliun dan transaksi beli mencapai Rp2,041 triliun. [mdr]

Inilah Rekomendasi Saham Pilihan Selasa (9/8)

INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa (9/8) diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan perekonomian global sehingga indeks masih fluktuatif. Indeks akan bergerak di kisaran 3.801-3.930.

Demikian dikatakan analis saham Panin Sekuritas, Purwoko Sartono kemarin. "Besok (hari ini) kami perkirakan indeks akan bergerak fluktuatif pada kisaran support-resistance 3.801-3.930. Dapat diperhatikan peluang trading pada saham bluechip yang sudah oversold," katanya.

IHSG akhirnya berhasil menipiskan pelemahannya pada perdagangan kemarin, setelah sempat anjlok -5%. Kondisi panic selling yang terjadi di pasar berangsur pulih oleh aksi bargain hunting terhadap saham-saham yang turun terlampau tajam. Penurunan rating hutang AS oleh S&P ditenggarai menjadi katalis negatif bagi bursa regional.

Demikian dikutip dari data BEI, Senin (8/8). IHSG ditutup melemah 71,38 poin atau 1,8% ke 3.850,27. Volume perdagangan sebesar 9,8 miliar saham senilai Rp9,4 triliun. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp1,1 triliun dengan penjualan asing sebesar Rp3,1 triliun dan pembelian asing mencapai Rp2,04 triliun.

Sementara menurut analis saham AMCapital, Andre Mahardika, IHSG secara teknikal ada indikasi bullish lagi. Indeks akan bergerak di kisaran suport 3.850 dan 3.700 dengan resistence 3.998. "Secara teknikal IHSG Kembali mengkonfirmasi potensi bullish , namun mengingat regional masih mengalami krisis Info yang belum transparan, status IHSG secara rumor masih Wait And See," katanya.

Dari sthocastic, secara teknikal sthocastic IHSG potensi bullish kembali. Dari DMI, IHSG masih dalam tekanan jual yang tinggi , wait and see menunggu kondisi market hari ini. "Menurut saya IHSG jng terlalu khawatir karena ekonomi Indonesia masih bagus," lanjutnya.

Ditambahkan Andre, saat ini semua saham mengkonfirmasi bullish jangka pendek, lakukan transaksi saham dengan batas stop profit dan stop loss. "Jika anda ingin hold saya hanya menyarankan pilihlah saham yang berfundamental baik seperti UNVR, MPPA,INDF dan MAIN."

Saham yang layak dipantau seperti saham KLBF dengan dapat melakukan pembelian saat koreksi di 3.150-3.175 dengan potensi jual di 3.250 dan stop loss di 3.100. Saham BJBR, investor dapat melakukan beli saat tertahan di support 1.080-1.090. Dengan potensi jual di harga 1.120 dan stop loss di 1.050.

Saham BMRI dapat melakukan pembelian di 7.150 dengan potensi jual di 7.500 dengan stop loss di 7.100. Saham BUMI dapat dibeli saat koreksi di harga 2.725 dengan potensi jual di 2.800.

Indeks acuan Brazil alami penurunn terbesar sejak 2009

Indeks acuan Brazil alami penurunn terbesar sejak 2009
NEW YORK. Seluruh 66 saham yang diperdagangkan pada Bovespa Index Brazil terjungkal ke level terendah sejak April 2009. Pemangkasan peringkat utang AS memicu kecemasan terjadinya perlambatan ekonomi AS, yang merupakan partner dagang kedua terbesar Brazil.

Pada pukul 16.15 waktu New York, indeks Bovespa turun 8,1% menjadi 84.668,29. Ini merupakan penurunan terbesar sejak Oktober 2008. Sebelumnya, indeks acuan Brazil ini sempat terperosok 9,7%.

Saham-saham yang mempengaruhi pergerakan indeks Brazil ini sebut saja Patreleo Brasileiro dan Vale SA yang pergerekannya mengikuti harga minyak dan logam.

"Investor kian cemas mengenai aset beresiko seiring outlook pertumbuhan ekonomi gkobal kian buruk dan memburuk," urai Carlos Camacho, analis GAP Asset management di Rio de Janeiro.

Dia menambahkan, sentimen negatif tidak hanya datang akibat pemangkasan utang AS saja, melainkan juga kecemasan akan outlook pertumbuhan, khususnya AS dan Eropa," urainya.

S&P alami penurunan terbesar sejak bear market pada 2008 lalu

S&P alami penurunan terbesar sejak bear market pada 2008 lalu
NEW YORK. Sebagian besar bursa saham AS terjungkal. Kondisi ini semakin memperbesar penurunan yang dialami Standard & Poor's 500 Index sejak bear market pada 2008 lalu. Pelaku pasar cemas, penurunan peringkat utang AS oleh S&P akan memperburuk perlambatan ekonomi global.

Pada pukul 16.00 waktu New York, indeks S&P 500 melorot hingga 6,7% menjadi 1.119,51. Dengan demikian, dalam tiga hari terakhir, penurunan indeks mencapai 11%. Ini merupakan penurunan terbesar sejak November 2008 dan merupakan level terendah sejak September 2010. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan 5,6% menjadi 10.809,85.

Sepuluh sektor yang tergabung dalam indeks S&P 500 mengalami penurunan lebih dari 3,8%. Saham-saham yang pergerakannya mempengaruhi bursa AS antara lain: Bank of America Corp yang melorot 10%, Ford Motor Co turun 8,4%, Caterpillar Inc turun 8,4%, dan Chevron Corp turun 7,5%.

"Tidak ada alasan untuk naik kereta saat ini. Ya, memang harga saham di pasar sudah sangat murah, namun saat ini emosi sangat tinggi. Banyak ketidakpastian di sana. Investor memilih untuk tidak mengambil resiko. Sangat ironis," papar Keith Wirtz, chief investment officer Fifth Third Asset Management.

Treasury naik

Sementara itu, kemarin malam, treasury AS ditransaksikan naik. Tingkat yield untuk treasury berjangkawaktu dua tahun mengalami penurunan ke rekor terendah. Kenaikan itu terjadi setelah Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda mengatakan, treasury AS masih menarik.

Bahkan, Bill Gross dari Pacific Investment Management Co, meningkatkan kepemilikannya atas treasury AS dari 8% menjadi 10%, serta memangkas kepemilikan dana tunai dari 29% menjadi 15%.

"Jika Anda seorang investor dan khawator mengenai apa yang tengah terjadi terkait likuiditas dan keamanan, Anda sama sekali tidak mempunyai pilihan lain daripada treasury market," jelas chief investment officer Fort Washington Investment Advisors Nick Sargen di Cincinnati.

Panic Selling di Wall Street, Dow Jones Jatuh 634 Poin

New York - Badai jual kembali melanda bursa Wall Street, setelah Amerika Serikat (AS) kehilangan peringkat triple-A. Investor melakukan panic selling sehingga membuat indeks S&P 500 merosot lebih dari 6%.

Pada perdagangan Senin (8/8/2011), indeks Dow Jones ditutup ambles 634,76 poin (5,55%) ke level 10.809,85. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 79,92 poin (6,66%) ke level 1.119,46 dan Nasdaq merosot 174,72 poin (6,90%) ke level 2.357,69.

Indeks S&P 500 merosot 17,9% dari titik tertingginya yang dicapai pada 29 April lalu. Kemerosotan tajam tersebut juga membuat indeks Dow Jones terpuruk di bawah level 11.000.

Kemerosotan indeks saham terjadi dalam volume perdagangan yang sangat besar, mencapai 17,89 miliar lembar saham. Ini adalah volume perdagangan di New York Stock Exchange terbesar sajak 'flash crash' pada 6 Mei 2010. Volume perdagangan tersebut hampir 2 kali lipat dari rata-rata harian yang sebesar 8,47 miliar lembar saam.

"Kita mulai melihat aksi jual tidak beraturan yang sesungguhnya, lebih dari apa yang sudah kita lihat," ujar Matthew Peron, kepala analis dari Northern Trust seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/8/2011).

Indeks Volatilitas CBOE yang merupakan panduan kekhawatiran investor melonjak hingga 50 persen menjadi 48. Untuk pertama kalinya VIX melampaui level 40, sejak Mei 2010. "Kita mulai bergerak ke kepanikan," tambah Peron.

Di Knight Capital, Jersey Citi, salah satu lokasi perdagangan terbesar di AS, atmosfirnya semakin memanas karena penurunan semakin besar menjelang penutupan. Setelah akhir perdagangan, para pialang berkumpul, memandangi layar komputer dan mendiskusikannya setiap hari.

"Ini sangat menakutkan, sungguh. Saya benci ketika pasar ditutup di bawah titik terendahnya, karena saham-saham diatur untuk naik pada hari berikutnya," ujar Joseph Mazzella, seorang analis senior.

Kemerosotan yang terjadi di seluruh pasar saham global telah menyapu dana investor keluar hingga US$ 1,35 triliun, berdasarkan anjloknya indeks dunia MSCI hingga 5,2%. Indeks mulai pekan ini dengan nilai pasar US$ 26,42 triliun. Indeks S&P 500 sendiri telah kehilangan nilainya hingga US$ 729,3 miliar setelah anjlok 6,66%.

(qom/qom)

Senin, 08 Agustus 2011

Duh,, Koreksi Berlanjut, Wall Street Negatif Lagi

Headline
INILAH.COM, New York - Investor masih panik dengan fowngrade utang AS oleh S&P sehingga menyebabkan Wall Street bergerak negatif pada perdagangan Senin (8/8).

Indeks Dow Jones turun hampir 200 poin dipimpin oleh Bank of Amerika yang turun 8,3% dan saham Alcoa turun 4,2%. Indeks S&P dan Nasdaq juga merosot ke level terendah sejak Februari 2009 dan November 2008, demikian dikutip dari yahoofinance.com.

Sementara harga minyak turun tajam serta harga emas melonjak hingga di atas US$1.700 per ons. Investor masih berbondong-bondong investasi ke logam mulia sebagai alternatif safe haven. Hal ini menaikkan saham pertambang emas, Newmont Gold yang naik 2,8%.

Bursa saham Eropa rata-rata turun hingga 2%. Meskipun Bank Sentral Eropa akan membeli obligasi milik Italia dan Spanyol.

Penurunan dialami saham McDonald 1,2%, saham Coca-cola turun 0,1%. Saham Warre Buffet Berkshire Hathway turun 1,4%, saham AIG turun 5,9%.

Setelah penutupan perdagangan Wall Street pada Jumat pekan lali, Standard & Poor menurunkan peringkat utang AAA pemerintah AS menjadi AA+. Sistem politik AS dinilai menjadi kurang stabil dan kesepakatan pengurangan defisit yang dicapai oleh anggota parlemen pekan lalu itu tidak cukup bermanfaat.

Investor panik, bursa saham Wall Street tumbang

Investor panik, bursa saham Wall Street tumbang
NEW YORK. Indeks bursa Wall Street tumbang setelah Standard & Poor's memangkas peringkat surat utang Amerika Serikat. Indeks bursa dilanda aksi jual besar-besaran.

Saham Bank of America Corp (BAC) dan Citi Group telah anjlok sedikitnya 5,4%. Harga saham Exxon Mobil Corp dan Chevron Group telah menurun sebesar 2,7% setelah harga kontrak minyak mentah diperdagangkan di level terendah dalam delapan bulan terakhir.

Saat dibuka, indeks Dow Jones dibuka melemah sebesar 1,7% menjadi 11.246,69. Sementara indeks Standard & Poor's melorot 2,1% ke level 1.174,66 pada pukul 9.34 waktu New York. Indeks Standard & Poor's telah melemah 7,2% pekan lalu.

Begitu pun juga dengan indeks Nasdaq yang melorot 2,5% ke level 2.468. "Ada panic selling," kata Chief Invesment Strategist Raymond James & Associates, Jeffrey Saut.

Dia mengatakan, tidak ada faktor fundamental yang memicu terjadinya aksi jual. "Kita tidak sedang menuju resesi. Bukan saatnya untuk panik," tegasnya.

Asal tahu saja, Sabtu (7/8) pekan lalu, Standard & Poor's telah menggunting peringkat utang Amerika Serikat untuk pertama kali dalam sejarah. Peringkat surat utang Amerika Serikat dipangkas dari AAA menjadi AA+.

Wintermar Raih Kotnrak senilai US$33,8 Jt

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Wintermar Offshore Marine Tbk memperoleh kontrak dari PT Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) senilai US$11,3 juta dan kontrak senilai US$12,5 juta

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Senin (8/8). Dari konsorsium ConocoPhillips, Star Energy dan Premier Oil di proyek West Natuna Transportation System.

Perseroan melalui anak usaha meraih kotrak dua tahun daro PT Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore utnuk menyediakan satu unit kapal jenis Multi Purpose Suply tipe class B. Kotrak tersebut akan berlaku pada semester II tahun ini.

Secara terpisah PT Wintermar telah meraih kontrak 3 tahun dari West Natuna Transportation system (WNTS) untuk penyediaan tiga unit kapal jenis PPV. Kontrak ini akan berlaku pada bulan Juli.

WNTS merupakan konsorsium perusahaan minyak dan gas itnernational yaitu ConocoPhillips, Star Energy Primer Oil. Ketiga kapal perseroan untuk mengangkut proyek pipa gas tekanan tinggi berdiameter 28 inci sepanjyang 600 km. Selain itu ladang gas dan West Natuna ke Singapura. Gas tersebut merupakan sumber energi penting bagi kompleks industri di Singapura.

Wall Street Diprediksi masih akan Turun

Headline
INILAH.COM, New York - Bursa saham Wall Street diprediksi akan melemah pada perdagangan Senin (8/8). Pasar masih panik dengan penurunan rating utang AS oleh S&P menjadi AA+.

Indeks Dow Jones diperkirakan akan merosot 234 poin ke 11.165. Indeks Standard & Poor akan turun 29,10 poin ke 1.168,70 dan indeks Nasdaq akan merosot 56,25 poin menjadi 2.130,75 yang dikutip dari yahoofinance.com.

Sementara harga emas melonjak hampir US$60 karena investor mencari safe haven lindung nilai. Setelah penutupan perdagangan Wall Street pada Jumat pekan lali, Standard & Poor menurunkan peringkat utang AAA pemerintah AS menjadi AA+. Sistem politik AS dinilai menjadi kurang stabil dan kesepakatan pengurangan defisit yang dicapai oleh anggota parlemen pekan lalu itu tidak cukup bermanfaat.

Bursa Asia menurun tajam hingga 1,9%. Saham Eropa melemah setelah Bank Sentral Eropa mengatakan Minggu malam akan secara aktif menerapkan pembelian program obligasi dalam upaya untuk menenangkan kekhawatiran pasar. Sebab krisis utang kawasan euro akan menyebar ke Italia dan Spanyol.

Bursa saham Dow Jones turun 5,8% pekan lalu, kinerja terburuk mingguan sejak 6 Maret 2009. Sedangkan indeks S&P jatuh 7,2% atau terburuk sejak akhir 2008. Nasdaq menutup minggu ini turun 8%, terburuk sejak akhir 2008 juga.

Ancora Jual Bahan Peladak ke ADRO Senilai US$75 Jt

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) melakukan transaksi penyediaan bahan peledak dengan PT Adaro Indonesia senilai US$25 juta per tahun untuk 3 tahun.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Senin (8/8). Transaksi dilakukan PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) yang sahamnya dimiliki perseroan hingga 50% untuk menyediakan bahan peledak/explosive (berupa ammonium nitrate).

Perdagangan ammonium nitrate dan asam nitrate serta segala pengembangan dari derivative nitrat merupakan kegiatan usaha utama PT MNK.

Cargil Rampungkan Tender Offer Sorini

JAKARTA: PT Cargill Asia Pacific Holding Pte Ltd melalui anak usahanya PT Cargill Foods Indonesia menguasai 97,99% saham PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk setelah merampungkan tender offer saham dari pihak shareholder.

Sebelumnya pada 28 Januari 2011, raksasa pertanian asal negeri Paman Sam itu telah merampungkan akuisisi sebanyak 85,01% saham di Sorini dari kepemilikan PT AKR Corporindo Tbk dan UOB Kay Hian Pte Ltd senilai Rp3.500 per lembar saham atau setara US$300 juta.

Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, hari ini, perseroan kembali menambah porsi kepemilikannya di Sorini melalui tender offer dari tiga shareholder perseroan yaitu Kanwarlal Motilal Chopra yang menjabat presiden direktur perseroan, Sunit Kumar Dhoka, dan Moeljono Tedjo yang keduanya menjabat sebagai direktur perseroan.

Transaksi pembelian di IDX itu dilakukan oleh Bahana Sekuritas pada 10 Mei 2011. Bahana tercatat membeli sebanyak 530.000 saham atau senilai Rp1,85 miliar dari Moeljono Tedjo, sebanyak 675.000 saham atau senilai Rp2,36 miliar dari Sunit Kumar Dhoka, dan sebanyak 4,16 juta saham atau senilai Rp14,56 miliar dari Kanwarlal Motilal Chopra.

Sampai dengan kuartal 3 bulan pertama tahun ini, Sorini membukukan laba bersih Rp28,71 miliar atau turun tipis 4,9% dibandingkan dengan kinerja periode yang sama 2010 sebesar Rp30,21 miliar. Penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh penurunan penjualan bersih perseroan sebesar 2% menjadi Rp399,82 miliar dibandingkan dengan kinerja periode yang sama 2010 sebesar Rp408,01 miliar.

Bram Klaeijsen, Regional Director Asia Pacific Region Cargill yang juga menjabat sebagai Presiden Komisaris Sorini sebelumnya mengatakan Cargill akan berupaya membuat pendapatan Sorini meningkat tiga kali lipat dalam 5 tahun ke depan.

Bila per 31 Desember 2010 pendapatan yang dibukukan Sorini mencapai Rp1,87 triliun, dalam 5 tahun ke depan akan meningkat menjadi Rp5,62 triliun.

Dia mengungkapkan pihaknya kini tengah menyusun berbagai strategi bisnis untuk mencapai target tersebut. "Kami sedang menyiapkan rencana bisnis dan sumber daya manusianya. Dalam 2 tahun ini pendapatan Sorini mungkin tidak akan terlalu besar karena masih dalam tahap perencanaan dan integrasi. Tapi mengijak tahun ketiga akan mulai terakselerasi," katanya.

Menurut dia, Sorini merupakan tumpuan pertumbuhan bisnis Cargill di Indonesia. "Makanya kami banyak menempatkan orang-orang dari luar untuk membantu aplikasi meningkatkan produk dan proyek," ujarnya.

Bram mengungkapkan nilai investasi yang dikeluarkan oleh Cargill dalam proses persiapan tersebut lebih dari US$100 juta. (faa)

Saham ELTY Terbanyak Dibeli Asing Senin (8/8)

Medium
INILAH.COM, Jakarta - Saham ELTY hari ini terbanyak dibeli investor asing mencapai 38,4 juta saham dari volume perdagangan 481,2 juta saham dengan total transaksi Rp68,5 miliar.

Demikian dikutip dari data BEI, Senin (8/8). IHSG ditutup melemah 71,38 poin atau 1,8% ke 3.850,27. Volume perdagangan sebesar 9,8 miliar saham senilai Rp9,4 triliun.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp1,1 triliun dengan penjualan asing sebesar Rp3,1 triliun dan pembelian asing mencapai Rp2,04 triliun.

Urutan kedua saham BNBR mencapai 24,7 juta saham dari volume perdagangan 783,3 juta saham dengan total transaksi senilai Rp47,4 miliar. Urutan ketiga saham TLKM mencapai 20,1 juta saham dari volume perdagangan 32,3 juta saham dengan total transaksi senilai Rp243,4 miliar.

Urutan keempat saham IPOL mencapai 11,5 juta saham dari volume perdagangan 66,1 juta saham dengan total transaksi senilai Rp11,5 miliar. Urutan kelima saham BBTN mencapai 10,3 juta saham dari volume perdagangan 47,5 juta saham dengan total transaksi senilai Rp69,9 miliar.

Urutan keenam saham KRAS mencapai 10,2 juta saham dari volume perdagangan 62,5 juta saham dengan total transaksi senilai Rp61,5 miliar. Urutan ketujuh saham ENRG mencapai 9,6 juta saham dari volume perdagangan 916,7 juta saham dengan total transaksi senilai Rp180,1 miliar.

Urutan kedelapan saham MASA mencapai 8,2 juta saham dari volume perdagangan 50,8 juta saham dengan total transaksi senilai Rp24,8 miliar. Urutan kesembilan saham UNSP mencapai 7,07 juta saham dari volume perdagangan 153,2 juta saham dengan nilai transaksi Rp57,4 miliar.

Urutan kesepuluh saham MNCN mencapai 6,03 juta saham dari volume perdagangan 15,1 juta saham dengan nilai transaksi Rp14,3 miliar.

Negara G20 Sepakat Tak Panik Hadapi Krisis Utang AS

Gb
Jakarta - Indonesia dan negara-negara anggota G20 bersatu menghindari kepanikan di pasar global imbas kebijakan utang Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, negara-negara anggota G20 secara rutin melakukan komunikasi melalui saluran telepon untuk membicarakan kondisi ekonomi dunia terkini.

"Intinya kita rutin di level deputi itu melakukan conference call. Misalnya, pada saat tsunami. Mereka conference call. Pada saat sekarang ini mengamati debt ceiling (batas atas utang) juga conference call," ujar Agus Marto saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (8/8/2011).

Sementara Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang PS Brodjonegoro membenarkan hal tersebut.

"Pokoknya G20 ingin menunjukan komitmen. G20 ingin menghindari kepanikan pasar global dan mengapresiasi langkah dari Amerika Serikat dan Eropa," ujarnya.

Bambang masih enggan mengungkapkan hasil pembahasan ataupun kesimpulan dari teleconference G20 tersebut.

"Itu kan tidak boleh di-share hasilnya sebelum diumumkan, mungkin hari ini akan diumumkan oleh Perancis sebagai ketuanya," jelasnya.

Bambang menilai langkah antisipasi dari pemerintah Indonesia akan lebih terfokus pada menjaga stabilitas pasar surat utang negara dan ketahanan APBN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Sedangkan untuk pasar modal, ia mengatakan, pemerintah tidak bisa mengintervensi dan menyerahkannya pada mekanisme pasar.

"Yang penting kami waspada, jangan panik berlebihan. Pokoknya kami punya mekanisme (antisipasi), punya crisis management protocol untuk menjaga SUN. Dan itu akan menjadi prioritas," ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai, dampak dari penurunan peringkat kredit AS oleh Standard & Poor (S&P) secara otomatis akan meningkatkan biaya utang negara adidaya tersebut.

"Ada kemungkinan dana-dana (yang harusnya masuk ke AS) cari safe haven. Nah safe haven ini bisa komoditi, bisa (investasi) di emerging market. Jadi dua itu pelariannya,” ujarnya.

Sementara untuk pertumbuhan ekonomi AS, kemungkinan masih akan terganggu dan lambat dan akan sedikit menyenggol aktivitas perdagangan atau ekspor.

"Ekspor (Indonesia) ke AS bukan yang paling besar. Kalau secara region-nya itu (ekspor Indonesia terbesar) ke Asia Timur. Jadi kalaupun (perlambatan ekonomi AS) ada dampaknya (ke Indonesia), memang ada dampaknya, tapi minim lah," tandasnya.

(nia/hen)

AS Masih Terancam Downgrade Berikutnya

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Rupiah berhasil menguat, setelah pelemahan IHSG berhasil diminimalisasi. Pembelian obligasi Italia dan Spanyol oleh ECB cukup meredakan sentimen AS yang terancam downgrade berikutnya.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah di awal sesi, lebih dipicu oleh kepanikan investor pascapemangkasan peringkat kredit AS oleh Standar & Poor's Rating Service (S&P) ke level AA+ dari level AAA. Hanya saja, jelang sesi dua, European Central Bank (ECB) terlihat membeli obligasi Italia dan Spanyol.

Menurutnya, tindakan ECB itu cukup menenangkan pasar yang sebelumnya juga cemas dengan kondisi di Eropa. "Karena itu, rupiah ditutup di level terkuatnya 8.500 dan 8.551 sebagai level terlemahnya setelah dibuka di angka 8.510 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/8).

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (8/8) ditutup menguat 43 poin (0,50%) ke level 8.500/8.510 per dolar AS dari posisi akhir pekan lalu 8.543/8.553.

Rupiah pada akhirnya mendapat sentimen positif. Sebelumnya, mencuat kecemasan bahwa Eropa tidak mau membantu Italia dan Spanyol. "Setelah down grade AS, tindakan ECB cukup memberikan kelegaan bagi pasar keuangan dunia," ungkap Firman.

Menurut Firman, pembelian obligasi Italia dan Spanyol sebesar 20-25 juta euro atau setara dengan US$35 juta. Tapi, beberapa analis memperkirakan, angkanya bisa lebih besar lagi. "Sebab, pembelian tersebut baru dilakukan di awal sesi Eropa, belum dihitung hingga penutupan," ungkapnya.

Sementara itu, lanjutnya, jika dilihat dari pelemahan bursa saham, market masih panik atas downgrade AS. Karena itu, penurunan akan terjadi pada transaksi AS nanti malam. Buruknya sentimen AS akan berlanjut hingga akhir Agustus.

Sebab, menurut Firman, setelah peringkat utang di-downgrade akan ada penurunan peringkat berikutnya jika kondisi ekonomi AS memburuk. "Dengan memburuknya data ekonomi AS terkini, ada potensi downgrade peringkat AS berikutnya," paparnya.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). "Terhadap euro, dolar AS melemah ke level US$1,4315 dari sebelumnya US$1,4280 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) sebesar 71,38 poin (1,82%) ke level 3.850,26 dipicu oleh kerontokan bursa regional yang rata-rata mencapai 4%. Pasar merespon negatif penurunan peringkat utang AS oleh Standard & Poor’s Rating Service (S&P) pada Sabtu (6/8) WIB, bersamaan dengan penutupan Wall Street. Peringkat kredit AS turun jadi AA+ dari AAA.

Menurutnya, yang ingin dilihat pasar saat ini adalah apakah bursa AS akan kembali anjlok seiring down grade peringkat kredit AS itu atau hanya turun bertahap. Hanya saja, lanjut Cece, investor asing memang melakukan aksi jual.

Situasi ini tidak sepenuhnya negatif. Sebab, aksi itu semata untuk mendapatkan harga saham (barang) yang murah. “Secara teori, jika ekonomi AS dan Eropa melambat, investor dua benua itu akan beralih ke Indonesia seperti Surat Utang Negara (SUN) dan bursa saham,” timpalnya. [mdr]

Inilah Lima Sektor Saham Pilihan Trimegah

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Research Trimegah Securities menilai lima sektor ekonomi di Indonesia memiliki prospek positif dan masih akan menjadi daya tarik investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lima sektor itu antara lain perbankan, batu bara, crude palm oil (CPO), metal dan ritel. Analis saham PT Trimegah Securities Tbk, Hanel Tania mengatakan, sektor perbankan telah menjadi sektor favorit investor. Namun, investor telah banyak beli saham perbankan.

Hanel menuturkan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan penghasilan dan potensi investasi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. Tapi, defisit pasokan pendanaan telah terbukti selama 10 tahun terakhir dan akan sangat dipengaruhi keadaan makro ekonomi secara keseluruhan.

Pengetatan moneter dan persaingan semakin ketat juga akan memaksa bankir untuk mengambil risiko yang lebih tinggi demi mempertahankan keuntungan.

"Dengan pengetatan moneter dan bankir akan mengambil risiko untuk mempertahankan keuntungan sehingga bank dapat menghasilkan profit tanpa perlu meningkatkan profil resiko mereka secara berlebihan," ujar Hanel, dalam siaran pers yang diterbitkan, Senin (8/8).

Lebih lanjut ia mengatakan, perbankan sebagai pendukung jalannya roda perekonomian akan diuntingkan dari pertumbuhan ekonomi yang disebabkan perbaikan struktur demografi ke depan. Tapi, valuasi yang relatif cukup tingii akan membuat saham di sektor perbankan akan memberikan return sejalan dengan peningkatan keuntungan tahunan.

Pihaknya pun merekomendasikan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). "Ketiga bank tersebut merupakan bank yang memiliki kapasitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia baik dari sisi konsumsi mapun investasi," kata Hanel.

Hanel menambahkan, top pick saham adalah BBNI. Hal ini dikarenakan secara keseluruhan resiko neraca BBNI akan menurun sejalan dengan perbaikan kinerja fundamental. [hid]

Inilah Daftar 'Top Foreign Sell' Senin (8/8)

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham KIJA hari ini terbanyak dijual investor asing mencapai 70,1 juta saham dari volume perdagangan 313,7 juta saham dengan total transaksi Rp47,8 miliar.

Demikian dikutip dari data BEI, Senin (8/8). IHSG ditutupmelemah 71,38 poin atau 1,8% ke 3.850,27. Volume perdagangan sebesar 9,8 miliar saham senilai Rp9,4 triliun.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp1,1 triliun dengan penjualan asing sebesar Rp3,1 triliun dan pembelian asing mencapai Rp2,04 triliun.

Urutan kedua saham BBRI mencapai 44,9 juta saham dari volume perdagangan 110,8 juta saham dengan total transaksi senilai Rp710,7 miliar. Urutan ketiga saham ASRI mencapai 44,8 juta saham dari volume perdagangan 181,8 juta saham dengan total transaksi senilai Rp68,2 miliar. Urutan keempat saham BBNI mencapai 38,5 juta saham dari volume perdagangan 86,3 juta saham dengan total transaksi senilai Rp345,4 miliar.

Urutan kelima saham BSDE mencapai 30,5 juta saham dari volume perdagangan 53,4 juta saham dengan total transaksi senilai Rp47,6 miliar. Urutan keenam saham LPKR mencapai 30,4 juta saham dari volume perdagangan 79,2 juta saham dengan total transaksi senilai Rp56,3 miliar.

Urutan ketujuh saham BUMI mencapai 23,2 juta saham dari volume perdagangan 296,4 juta saham dengan total transaksi senilai Rp813,3 miliar.
Urutan kedelapan saham BBCA mencapai 21,4 juta saham dari volume perdagangan 51,1 juta saham dengan total transaksi senilai Rp404,3 miliar.

Urutan kesembilan saham BORN mencapai 16,6 juta saham dari volume perdagangan 72,8 juta saham dengan nilai transaksi Rp91,4 miliar. Urutan kesepuluh saham INDF mencapai 14,3 juta saham dari volume perdagangan 29,5 juta saham dengan nilai transaksi Rp183,4 miliar.

CIMB Niaga Terbitkan Subdebt Minimal Rp1 T di 2012

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) berencana menerbitkan subdebt (obligasi subordinasi) minimal Rp1 triliun pada 2012.

Demikian dikatakan Direktur Strategy & Finance CIMB Niaga, Wan Razly Abdullah di Jakarta, Senin (8/8). "Dengan adanya subdebt sekitar Rp1 triliun akan meningkatkan CAR kurang lebih 1%," tandasnya. Ia menambahakan kalau subdebt kurang dari Rp1 triliun maka akan mahal dalam hal biayanya.

Menurut Razly subdebt yang akan diterbitkan itu dalam bentuk rupiah bukannya dolar. "Subdebt ini juga akan digunakan untuk penyaluran kredit," tukasnya.

Adapun di tempat yang sama, Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid menambahkan, alasan menerbitkan subdebt tahun depan karena lebih murah dibandingkan right issue. "Subdebt itu lebih murah daripada right issue," tukasnya. [hid]

Downgrade AS, Bursa Asia Sentuh Level Terendah

Headline
INILAH.COM, Sydney – Saham Asia jatuh, memimpin indeks regional ke penutupan terendah hampir setahun. Aksi S&P menurunkan peringkat kredit AS, menambah kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi global.

Indeks MSCI Asia Pacific, yang pekan lalu terkoreksi, dan jatuh lebih dari 10% dari level tertingginya pada Mei, pada perdagangan Senin (8/8), merosot 2,5% ke level 122,97 pada pukul 4:40 di Tokyo, angka penutupan terendah sejak 10 September 2010. Sekitar 13 kali lebih banyak saham turun.

"Sentimen mencapai puncaknya dengan downgrade AS, dan ekuitas pasar merupakan tempat yang lebih disukai untuk mengekspresikan kepanikan," kata Prasad Patkar, di Platypus Asset Management Ltd, Sydney "Akan dibutuhkan upaya lain secara global yang terkoordinasi oleh bank sentral dan regulator, demi meredakan kekhawatiran tentang dampak ketidakpastian yang berkepanjangan."

Koreksi indeks Asia-Pasifik berkurang setelah Bank Sentral Eropa mengatakan akan membeli obligasi pemerintah Italia dan Spanyol. Namun, juru bicara ECB masih menolak memberikan komentar.

Beberapa bank rebound setelah negara Kelompok Tujuh (G7) berjanji mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mendukung stabilitas keuangan dan pertumbuhan. Selain sepakat menyuntikkan likuiditas dan mengintervensi mata uang jika perlu.

Indeks Hang Seng di Hong Kong merosot 2,2%, siap untuk menutup di level terendah dalam setahun. Indeks komposit Shanghai turun 3,8%, dan anjlok 20% dari level tertinggi 8 November, yang sinyal pasar beruang sehingga-dipanggil untuk beberapa investor. Pemerintah China dijadwalkan merilis data ekonomi besok, termasuk inflasi Juli yang diperkirakan tetap pada tinggi secara tahunan 6,4%.

Indeks Nikkei 225 Stock Average turun 2,2%, indeks S & P / ASX 200 Australia kehilangan 2,9% ke bawah level 4.000, menandai koreksi 20% dari level tertinggi April 2010. Indeks Kospi Korea Selatan turun 3,8%, terdalam dalam hampir dua tahun, karena spekulasi penjualan luar negeri menambah ke kekhawatiran investor atas downgrade utang AS.

Indikator volatilitas Hong Kong dan Korea Selatan melonjak dua kali lipat dalam sepekan terakhir. Indeks Volatilitas HSI dari Hang Seng melonjak 56% pada 5 Agustus, keuntungan satu hari terbesar sejak data indeks dimulai pada 2001.

Indeks Asia-Pasifik pekan lalu mencatat pelemahan mingguan terbesar hampir tiga tahun, dengan meningkatnya kekhawatiran bahwa pemulihan global melemah. Jika ditutup kurang dari 124,94, maka ini akan lebih rendah dari posisi terakhir pada 15 Maret, ketika indeks berada di level terendah untuk tahun ini, pascagempa terburuk di Jepang.

Adapun koreksi pekan lalu adalah penurunan mingguan terbesar untuk indeks MSCI Asia-Pacific sejak Oktober 2008, ketika pasar kredit membeku, setelah runtuhnya Lehman Brothers Holdings Inc. Indeks itu turun lebih dari 10% dari level tertinggi 2 Mei, yang dinilai beberapa analis sebagai sinyal koreksi.

Tiga dari empat negara berkembang terbesar, yang dikenal sebagai BRIC, juga mendekati koreksi pasar, dimana indeks Bovespa Brasil memulainya pada 27 Juli kemarin. Demikian juga indeks komposit Shanghai dan indeks Sensex di Bombay hari ini. Indeks MICEX Rusia turun 16% dari level tertinggi yang dicapai 6 April, pada 5 Agustus lalu.

Li & Fung Ltd, pemasok terbesar dunia untuk pengecer seperti Wal-Mart Stores Inc, turun 2,3% di Hong Kong. Sony Corp, yang mendapatkan hampir setengah pendapatan di AS dan Eropa, merosot 3,8% di Tokyo. Toyota Motor Corp, produsen mobil terbesar dunia, turun 1,6 persen.

Billabong International Ltd, produsen surfwear terbesar dunia, yang mendapat hampir setengah penjualan dari Amerika, turun 4,2% di Sydney.

“Downgrade AS telah menambah masalah yang signifikan bagi ekonomi global dan pasar saham untuk diatasi," kata Tim Schroeders, analis di Pengana Capital Ltd, Melbourne. "Risiko tetap downside untuk pertumbuhan ekonomi, dengan re-pricing pinjaman AS mungkin memicu biaya modal lebih tinggi di masa depan."

Minyak mentah untuk pengiriman September turun 4,2% di New York Mercantile Exchange, sementara indeks logam utama, termasuk tembaga dan aluminium, turun 3,7% akhir pekan lalu. Aluminum Corp of China Ltd turun 2% di Hong Kong. BHP Billiton Ltd, perusahaan tambang terbesar dunia, tenggelam 4% di Sydney. Dongkuk Steel Mill Co, perusahaan baja Korsel, anjlok 11% di Seoul.

Rio Tinto Group, perusahaan tambang terbesar kedua dunia, turun 4,6% di Sydney, penutupan terendah lebih dari setahun. Rio dan Mitsubishi Corp menawarkan US$ 1,55 miliar untuk saham di Coal & Allied Industries Ltd. yang tidak dimilikinya.

Commonwealth Bank of Australia, bank terbesar Australia dari nilai pasar, mengurangi koreksi menjadi 1,4% setelah jatuh 2,2%, sebelum pernyataan G-7, dan setelah Bank Sentral Eropa mengindikasikan akan membeli obligasi Italia dan Spanyol untuk meredam krisis utang Eropa. [ast]

Saham PGAS Teraktif Diperdagangkan Senin (8/8)

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham PGAS teraktif diperdagangkan pada hari ini dengan transaksi mencapai 8.450 kali senilai Rp482,6 miliar dengan volume 154,4 juta saham.

Demikian dikutip dari data BEI, Senin (8/8). IHSG ditutup melemah 71,38 poin atau 1,8% ke 3.850,27. Volume perdagangan sebesar 9,8 miliar saham senilai Rp9,4 triliun.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp1,1 triliun dengan penjualan asing sebesar Rp3,1 triliun dan pembelian asing mencapai Rp2,04 triliun.

Urutan kedua saham BUMI dengan transaksi sebanyak 6.490 kali senilai Rp813,3 miliar dengan volume perdagangan mencapai 296,4 juta saham. Urutan ketiga saham BBRI dengan transaksi sebanyak 5.986 kali senilai Rp710,7 miliar dengan volume perdagangan mencapai 110,8 juta saham. Urutan keempat saham CPIN dengan transaksi sebanyak 5,917 kali senilai Rp214,5 miliar dengan volume perdagangan mencapai 85,4 juta saham.

Urutan kelima saham BMRI dengan transaksi sebanyak 4.800 kali senilai Rp583,4 miliar dengan volume perdagangan mencapai 79,5 juta saham. Urutan keenam saham ENRG dengan transaksi sebanyak 4.673 kali senilai Rp189,1 miliar dengan volume perdagangan mencapai 916,7 juta saham. Urutan ketujuh saham ASII dengan transaksi sebanyak 4.126 kali senilai Rp524,7 miliar dengan volume perdagangan mencapai 8,01 juta saham.

Urutan kedelapan saham BHIT dengan transaksi sebanyak 3.499 kali senilai Rp15,1 miliar dengan volume perdagangan mencapai 70,7 juta saham. Urutan kesembilan saham BBCA dengan transaksi sebanyak 3.108 kali senilai Rp404,3 miliar dengan volume perdagangan mencapai 51,1 juta saham. Urutan kesepuluh saham ELTY dengan transaksi sebanyak 3.051 kali senilai Rp68,5 miliar dengan volume perdagangan mencapai 481,2 juta saham.