Sabtu, 05 Maret 2011

50 Emiten Kena Sanksi Rp 1 Miliar oleh Bapepam


Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah memberikan sanksi administratif kepada 50 emiten terkait keterlambatan pelaporan pada medio Januari hingga 2 Maret 2011. Total sanki denda yang terhimpun mencapai Rp 1,029 miliar.

Menurut Kepala Biro Perundang-undangan Bapepam-LK Robinson Simbolon, penetapan sanki diharapkan dapat memberi efek jera kepada perusahan publik, dan agar patuh akan peraturan pelaporan yang dimaksud regulor pasar modal.

"Denda ini juga bukan untuk cari uang, tapi supaya jangan telat lagi. Penetapan denda beragam, karena yang diatur adalah terlambat per hari denda Rp 1 juta. Dan maksimal Rp 500 juta," tutur Robin di kantornya, Jalan Wahidin, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (4/3/2011).

Ke-50 emiten dikenakan denda atas keterlambatan penyampaian laporan yang beragam. Diantaranya Laporan Realisasi Penggunaan Dana (LRPD), Laporan Keuangan Tengah Tahun (LKTT), Laporan Tahunan (LT), Laporan Hasil Pemungutan Efek (LHPE).

Emiten-emiten yang didenda adalah Evergreen Invesco Tbk, Asia Natural Resources Tbk, Kokoh Inti Arebama Tbk, Mahaka Media Tbk, PLN (Persero) , Sugih Energy Tbk, Metro Realty Tbk, Mitra Intl Resources Tbk, Fast Food Indonesia Tbk, Perdana Bangun Pusaka Tbk, Pelita Sejahtera Abadi Tbk, Multipolar Tbk, Arpeni Pratama Ocean Line Tbk.

Kemudian, Central Omega Resources Tbk (peringatan tertulis), Sat Nusaperdana Tbk, Eratex Djaja Tbk, Delta Dunia Makmur Tbk, Century Textile Industri Tbk, Apac Citra Centertex Tbk, Sekar Bumi Tbk, Davomas Bumi Tbk, Karwell Indonesia Tbk, Panasia Filament Inti Tbk, Panasia Indosyntec Tbk, Sunson Textile Manufacturer Tbk, Goodyear Indonesia Tbk, Indomobil Sukses Makmur Tbk, Kedawung Setia Industrial Tbk, Keramika Indonesia Asosiasi, Mulia Industrindo Tbk, Muliaglass, Nipress, Bakrie Sumatera Plantation Tbk, Dayaindo Resources Intl Tbk, Bank Nusantara Parahyangan Tbk, Bumi Serpong Damai Tbk, Berlian Laju Tanker Tbk.

Juga ada, Mayora Indah, Perkebunan Nusantara III, Mitra Energi Persada, FIF, Mandiri Tunas Finance, Aneka Kemasindo Utama, ATPK Resources, Cipendawa, Dayaindo Resources, Tiga Pilar Sejahtera Food, Wahana Phonix Mandiri, BNBR, Nusantara Infrastucture.

Menimang Prospek Akuisisi Indosiar

Headline
Foto: Istimewa
Oleh:
Pasar Modal - Sabtu, 5 Maret 2011 | 09:09 WIB
TERKAIT

INILAH.COM, Jakarta – PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengumumkan rencana akuisisi PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM). Aksi korporasi yang dinilai prospektif. Benarkah?

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/3), PT Indosiar Karya Mandiri Tbk (IDKM) anjlok 4,9% ke Rp960 dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) terperosok 12,7% ke Rp1.170. Sedangkan PT Surya Citra Media Tbk (SMCA) naik 2,6% ke Rp3.900.

Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi pertama hari ini mencabut suspensi ketiga saham yang berlaku sejak Selasa (22/2) lalu, karena rencana pengambilalihan Indosiar sudah dilaporkan melalui keterbukaan informasi.

Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Securities mengaku, langkah akuisisi yang dilakukan SCMA terhadap IDKM sangat positif. Hal ini karena kinerja dan fundamental SCMA yang lebih baik dari IDKM, “Melihat beberapa indikator, termasuk laporan keuangan, tidak heran bila SCMA mengakuisisi IDKM,”ujarnya.

SCMA dinilai lebih pantas mengakuisisi IDKM. Lihat saja kapitalisasi pasar SCMA yang jauh lebih besar mencapai Rp7,3 triliun, ketimbang IDKM yang hanya Rp2,04 triliun. Sedangkan total debt to equity ratio (rasio utang terhadap ekuitas) SCMA hanya 0,74 kali, lebih kecil dari IDKM sebesar 2,15 kali.

Price to earning ratio (PE) dan price book value (PBV) SCMA juga dinilai lebih rendah mencapai 16,45 kali dan 5,2 kali, dibanding IDKM yang mencapai 56,11 kali dan 6,45 kali. Adapun, rasio return on equity (ROE) SCMA juga lebih bagus mencapai 18,21% ketimbang IDKM sebesar 3,53%.

Tidak hanya itu,dari sisi profit, SCMA lebih unggul. Laba bersih dan laba usaha SCMA mencapai 23,49% dan 37%, sedangkan IDKM hanya 4,4% dan 35%.

Seperti diketahui, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), induk usaha Surya Citra Media (SCMA), akan mengakuisisi 551,7 juta lembar saham PT Indosiar Karya Media (IDKM), setara dengan 27,2% kepemilikan. Harga pembelian saham Indosiar dari PT Prima Visualindo mencapai Rp900 per saham, dengan total nilai transaksi sebesar Rp496,537 miliar.

Dalam langkah konsolidasi kedua perusahaan televisi nasional ini, opsi merger memang sempat menyeruak, selain pilihan akuisisi. Hal ini dipertegas keterbukaan informasi beberapa waktu lalu, dimana manajemen EMTK dan SCMA mengakui telah mengantongi persetujuan dari dewan komisaris untuk melakukan merger maupun akuisisi atas IDKM.

Namun setelah melalui pengkajian, akuisisi menjadi pilihannya. “Lebih baik akuisisi memang, karena kalau merger akan lebih sulit, terkait keuangan dan manajemen kedua perusahaan,” katanya.

Bagaimanapun, Edwin masih mengkhawatirkan beban utang IDKM yang cukup besar. Karena hal ini dapat membebani dan mengganggu fundamental SCMA di masa mendatang. “Harus ada komitmen dari manajemen IDKM terkait utangnya. Ini harus selesai di atas kertas,” tegasnya.

Berbeda dengan Head of Research PT Sinarmas Sekuritas Jeff Tan yang menilai, besarnya utang Indosiar, tidak akan berpengaruh signifikan terhadap SCMA. Terutama karena akuisisi ini akan meningkatkan pertumbuhan iklan dan menumbuhkan daya saing perseroan terhadap rivalnya,”

Saya kira akan bagus bagi SCTV di mana iklan TV masih bertumbuh pesat sekitar 20%-23%, dan akan menambah daya saing SCTV terhadap Grup MNC,”ujarnya.

Dengan akuisisi ini, SCMA akan menjadi pemegang saham pengendali baru di IDKM dan terkena kewajiban melakukan penawaran tender (tender offer) saham IDKM. Perseroan menyatakan harga tender offer akan disamakan dengan harga akuisisi.

Adapun dana untuk penawaran tender dan akuisisi itu seluruhnya diambil dari sumber internal EMTK dan pinjaman. Bergantung pada kajian lebih lanjut, pinjaman itu dapat dibiayai kembali oleh sebagian ekuitas dan penggalangan dana terkait lainnya.

Analis Indo Premier Securities Ikhsan Binarto menilai, tender offer ini akan menekan keuangan EMTK, mengingat biayanya yang cukup besar. Kendati demikian, ia menilai prospek bisnis pertelevisian masih menjanjikan dengan potensi belanja iklan yang besar. "Apalagi pangsa pasar SCTV dan Indosiar masih lebih baik ketimbang MNC Group dan Trans Corp," katanya.

Edwin menambahkan, pilihan konsolidasi SCMA dan IDKM adalah tepat. Terutama mengingat tren di masa depan, bahwa iklan akan memilih masuk ke industri televisi yang memiliki infrastruktur kuat, seperti memiliki radio atau koran. “Mereka harus bersatu, kalau perang sendiri-sendiri akan kalah. Apalagi infrastruktur tidak mendukung,” ujarnya.

Ia merujuk pada para pesaing di industri televisi, yang cenderung bergabung untuk memperluas pasar, seperti RCTI, Global TV, dan MNC TV yang tergabung dalam grup MNC; Trans Tv dan Trans 7 dalam Trans Corp, kemudian TV One dan ANTV dalam grup Viva. “Dengan bergabung, SCMA dan IDKM berkesempatan meningkatkan pangsa pasar dan menaikkan penjualan iklan,” paparnya. [mdr]

Wall Street Akhir Pekan Didera Aksi Profit Taking

Headline
Foto: Istimewa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Sabtu, 5 Maret 2011 | 08:04 WIB
TERKAIT

INILAH.COM, New York - Bursa saham Wall Street ditutup melemah pada penutupan perdagangan saham Jumat (4/3) karena aksi ambil untung dan kekhawatiran geopolitical serta kenaikan harga minyak.
Data pengangguran Amerika Serikat turun di bawah 9% untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir. Tetapi investor kembali fokus terhadap Libya dan penyelesaian kisruh di Libya. Demikian seperti dikutip dari yahoofinance.com.

Harga minyak mentah Brent naik di atas US$116 per barel. "Setelah indeks saham bergerak rally, tetapi bursa saham sensitif terhadap peristiwa yang terjadi dan harga minyak," ujar Director of trading and derivatives Schwab Center for Financial Research Randy Frederick.

Data ekonomi yang dikeluarkan awal minggu ini telah meningkatkan harapan khususnya laporan data tenaga kerja. Di sisi lain saham bank turun setelah Bank of America Merrill Lynch menyatakan pendapatan kuartal pertama akan turun karena kenaikan harga minyak dan klien mengurangi aktivitas.

Broker juga menurunkan peringkat saham Citigroup Inc dan Goldman Sachs Group Inc menjadi netral dari beli. Goldman turun 2,1% ke level US$161 dan saham Citi turun 3% ke level US$4,54. Indeks KBW bank turun 1,5%.

Indeks Dow Jones turun 88,32 poin atau 0,72% ke level 12.169,88. Indeks S&P 500 turun 9,82 poin atau 0,74% ke level 1.321,15. Indeks Nasdaq turun 14,07 poin atau 0,50% ke level 2.784,67. Selama seminggu ini, indeks Dow Jones naik 0,3% dan Nasdaq serta S&P naik 0,1%.

Volume perdagangan saham naik menjadi 7,3 miliar saham di bursa saham New York, NYSE Amex, dan Nasdaq atau di bawah rata-rata harian 8,47 miliar saham.

Departemen tenaga kerja menyatakan payrolls naik menjadi 192 ribu pada Februari di atas prediksi sekitar 185 ribu. Tingkat unemployment turun ke 8,9% dari 9%. [cms]

Bakrie Sumatera Plantations Ganti Nama Anak Usaha

Headline
Foto: Istimewa
Oleh: Charles MS
Pasar Modal - Sabtu, 5 Maret 2011 | 06:41 WIB

INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) telah melakukan perubahan nama salah satu anak usahanya pada 3 Maret 2011.

Hal ini disampaikan Fitri Barnas, Corporate Secretary dalam keterbukaannya ke BEI, Jumat (4/3) malam.

Adapun anak usaha yang nanmanya diganti tersebut adalah BSP Netherlands B.V. Perseroan kemudian menggantinya menjadi BSP Netherlands Finance B.V.

IPO Notes PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS)

PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk mulai beroperasi sejak tahun 1994 dan bergerak di bidang jasa pelayaran angkutan barang-barang curah terutama batubara, transshipment dan pengoperasian pelabuhan yang menunjang jasa pelayaran.

Perseroan melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan-perusahaan terkemuka seperti PT Adaro Indonesia, PT Semen Gresik, PT Kaltim Prima Coal, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk dan PT Berau Coal. Kerjasama dalam bentuk kontrak jangka panjang tersebut sangat baik untuk menjaga kelangsungan usaha perseroan.

Perseroan akan menggunakan dana dari hasil IPO tersebut untuk membiayai sebagian kebutuhan dana untuk pembelian 20-30 set kapal tunda dan tongkang dan/atau floating crane. Hal tersebut akan mendukung ekspansi usaha perseroan di masa yang akan datang.

Perseroan memiliki Option Agreement dengan PT Indika Energy Tbk, sehingga setelah pelaksanaan Option Agreement tersebut PT Indika Energy Tbk akan memiliki 51% saham perseroan.

Perseroan memiliki prospek usaha yang baik dengan didukung oleh keadaan perekonomian Indonesia yang membaik, meningkatnya permintaan batubara Indonesia, dan juga dengan adanya kenaikan tingkat produksi perusahaan-perusahaan batubara. Dengan demikian, hal-hal tersebut akan berdampak positif bagi usaha perseroan.

Namun ada beberapa risiko utama yang dapat mempengaruhi jalannya usaha perseroan seperti:

  1. Risiko pengakhiran atau tidak diperpanjangnya kontrak-kontrak penyediaan jasa perseroan.
  2. Risiko kenaikan harga bahan bakar atau biaya operasional lainnya.
  3. Risiko pendapatan perseroan dan anak perusahaan yang sangat bergantung pada industri batubara nasional
  4. Pengangkutan laut sangat bergantung pada kondisi cuaca
  5. Risiko perubahan nilai tukar mata uang asing

Perseroan memiliki struktur keuangan yang baik. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah aset dan ekuitas di laporan neraca perseroan dari tahun 2005 sampai dengan laporan per September 2010.

Perhitungan rasio-rasio keuangan untuk perseroan adalah sebagai berikut:

- Net Profit Margin per 30 September 2010 adalah 28,5% dan per 31 Desember 2009, 2008 dan 2007 adalah 35,5%, 11,9% dan 21,3%.

- ROE per 31 Desember 2009, 2008 dan 2007 adalah 35,7%, 13,1% dan 30,7%.

- ROA per 31 Desember 2009, 2008 dan 2007 adalah 19,3%, 7,0% dan 16,5%.

- PER’09 adalah 10x pada harga Rp 1.500 dan 13x pada harga Rp 1.900. PER’10E adalah 12x pada harga Rp 1.500 dan 15x pada harga Rp 1.900. PER’11E adalah 8,7x pada harga Rp 1.500 dan 11,02x pada harga Rp 1.900

Perbandingan dengan perusahaan-perusahaan lain yang sejenis di industri:

- Seroja Investments Ltd (Singapura): PER’11E 38,12x

- Courage Marine Group Ltd (Singapura): PER’11E 16,97x

- Golden Ocean Group Ltd (Singapura): PER’11E 4,79x

Pendapat Kami:

MBSS merupakan perusahaan pelayaran yang telah memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun. Perseroan juga merupakan salah satu perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia. Kontrak jangka panjang yang didapat dari perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia dapat menjaga kelangsungan usaha perseroan. Option Agreement perseroan dengan PT Indika Energy Tbk akan berdampak positif terhadap perseroan secara keseluruhan. Perseroan memiliki prospek usaha yang baik di masa yang akan datang. Beberapa strategi usaha yang sedang dijalankan perseroan diharapkan dapat meminimalisasi risiko-risiko usaha yang dapat merugikan perseroan.

Kami agak kesulitan untuk mendapatkan perusahaan pembanding yang jenis usahanya sama dengan MBSS, akan tetapi MBSS lebih mirip dengan perusahaan Courage Marine Group Ltd dari Singapura. Dengan menggunakan PER’11E 8,7x-11,02x pada rentang harga yang ditawarkan Rp 1.500-Rp 1.900, kami menilai valuasi perseroan tersebut lebih murah dibandingkan dengan valuasi Courage Marine Group Ltd tersebut.

DISCLAIMER :

This material is issued by PT Sinarmas Sekuritas, a member of the Jakarta and Surabaya Stock Exchanges, represent the opinion of PT Sinarmas Sekuritas, derived its judgment from sources deemed reliable, however, PT Sinarmas Sekuritas and its affiliated cannot guarantee its accuracy and completeness. PT Sinarmas Sekuritas or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein or have positions in the securities recommended herein and may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this material. PT Sinarmas Sekuritas, its employees and its affiliates, expressly disclaim any and all liability for representation or warranties, expressed or implied, here in or omission there from or for any loss how so ever arising from any use of this material or its contents or otherwise arising in connection there with. Opinion expressed in this material are our present view and are subject to change without notice.

Gali Lubang Tutup Lubang, Bakrie Kembali Ngutang US$ 600 Juta



Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd (LHH), suatu perusahan yang berkedudukan di Nevis, West Indies, mendapat fasilitas pinjaman US$ 1,345 miliar dari Credit Suisse AG, cabang Singapura sebagai Structuring Agent.

Menurut Sekretaris Perusahaan BNBR Sri Dharmayanti, jatah pinjaman yang menjadi hak perusahaan Grup Bakrie itu sebanyak US$ 601,75 juta.

"Hasil dari pinjaman itu sebagian besar digunakan untuk melunasi kewajiban-kewajiban perseroan yang ada saat ini," katanya dalam keterbukaan informasi di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (4/3/2011).

Ia mengatakan, kewajiban perseroan dari perjanjian fasilitas pinjaman itu terpisah dari kewajiban LHH.
(ang/dnl)

Jumat, 04 Maret 2011

BI Rate Ditahan, Rupiah- IHSG Semakin Tangguh

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju semakin kencang setelah BI menahan tingkat suku bunga acuan yang berarti inflasi di dalam negeri masih terkendali. Indeks menutup perdagangan akhir pekan dengan melaju 48 poin.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pun ditutup menguat di posisi Rp 8.790 per lembar dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.805 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka naik 24,042 poin (0,69%) ke level 3.518,581. Turunnya harga minyak dunia menjadi sentimen positif terhadap indeks juga nilai tukar rupiah.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menguat 36,941 poin (1,05%) ke level 3.531,480. Invetor masih melakukan aksi beli selektif saham-saham unggulan, terutama saham bank.

Indeks masih kuat berjalan di zona hijau dan sempat menembus level tertingginya di 3.538,661. Posisi terendahnya pun positif, di level 3.495,097 tepat pada pembukaan bursa.

Mengakhiri perdagangan akhir pekan, Jumat (4/3/2011), IHSG melesat 48,364 poin (1,38%) ke level 3.542,903. Sementara Indeks LQ 45 naik 11,590 poin (1,86%) ke level 632,823.

Langkah Bank Indonesia (BI) menahan BI Rate direspons positif oleh investor di lantai bursa. Saham-saham bank kembali menjadi sasaran empuk para penanam modal.

Meski demikian, tidak semua sektor industri di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat. Beberapa masih ada yang ketinggalan di zona merah, seperti sektor perdagangan.

Transaksi di bursa melonjak akibat adanya penjualan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) oleh Salah satu perusahaan milik keluarga Rotschild yaitu Vallar Plc senilai Rp 13 triliun. Saham BUMI ini diperdagangkan di pasar negosiasi dengan total transaksi Rp 21,316 triliun oleh beberapa broker.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign nett sell) sebesar Rp 5,9 triliun di seluruh pasar. Meski dana asing keluar cukup besar, indeks masih bisa positif.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 99.542 kali pada volume 12,187 miliar lembar saham senilai Rp 26,801 triliun. Sebanyak 131 saham naik, 80 saham turun, dan 90 saham stagnan.

Kompak dengan IHSG, bursa-bursa Asia pun kembali tancap gas dengan penguatan yang signifikan di zona hijau. Bursa China memimpin penguatan sore ini.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional hingga sore hari ini:

  • Indeks Komposit Shanghai melesat 39,19 poin (1,35%) ke level 2.942,17.
  • Indeks Hang Seng melonjak 286,44 poin (1,24%) ke level 23.408,86.
  • Indeks Nikkei 225 bertambah 107,64 poin (1,02%) ke level 10.693,66.
  • Indeks Straits Times menguat 30,96 poin (1,02%) ke level 3.068,31.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 2.150 ke Rp 44.250, Bayan (BYAN) naik Rp 750 ke Rp 17.500, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 500 ke Rp 10.500, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 500 ke Rp 22.600.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Petrosea (PTRO) turun Rp 500 ke Rp 25.500, Multibreeder (MBAI) turun Rp 200 ke Rp 13.450, Mayora (MYOR) turun Rp 200 ke Rp 9.650, dan Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 170 ke Rp 1.170.

Vallar Resmi Beli Saham BUMI Rp 5,3 Triliun












Jakarta - Salah satu perusahaan milik keluarga Rotschild yaitu Vallar Plc membeli saham PT Bumi Resources Tbk senilai Rp 5,34 triliun. Harga rata-rata penjualan berada di rentang Rp 2.109-3.070 per lembar saham.

Seperti dikutip dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (4/2/2011), PT Credit Suisse Securities Indonesia (CS) memfasilitasi pembelian saham BUMI itu dari tiga broker lainnya, yaitu PT Recapital Securities (LK), PT Deutsche Securities (DB), dan Sinarmas Sekuritas (DH).

Seluruh transaksi dilakukan di pasar negosiasi. Recapital melepas 1.175.262 lot saham BUMI atau setara 587,631 juta lembar di harga Rp 2.750 per lembar. Transaksi dilakukan satu kali senilai Rp 1,175 triliun.

Sementara Deutsche Securities melepas 1.736.378 lot saham BUMI atau setara 868,189 juta lembar di harga Rp 2.500 per lembar. Transaksi dilakukan satu kali dengan nilai Rp 1,736 triliun.

Sedangkan Sinarmas Sekuritas melepas 2.916.743 lot saham BUMI atau setara 1,45 miliar lembar saham di harga Rp 2.109 per lembar. Transaksi dilakukan enam kali dengan total nilai Rp 2,432 triliun.

Seperti diketahui, pada November 2010 terjadi kesepakatan antara Vallar, BUMI, dan Berau. Di mana Bakrie & Brothers (BNBR) selaku pengendali BUMI akan melepaskan 5,2 miliar (25%) saham BUMI.

Vallar akan melakukan swap dengan 90,1 juta saham baru Vallar seharga 10 poundsterling per saham kepada BNBR. Dengan demikian BNBR akan menguasai 43% saham Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan memiliki 25% saham BUMI.

Hingga penutupan perdagangan Sesi I, harga saham BUMI naik 75 poin atau setara 2,43% ke level Rp 3.150 per lembar saham.

BI Rate Ditahan 6,75%


Jakarta - Bank Indonesia (BI) menahan tingkat suku bunga acuannya yaitu BI Rate di level 6,75%. Kebijakan ini dilakukan karena laju inflasi diyakini masih sesuai target.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah dalam siaran pers, Jumat (4/3/2011).

"Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk sementara ini mempertahankan BI Rate di level 6,75%. Kebijakan ini tidak mengubah arah kebijakan moneter BI," kata Difi.

Dikatakan Difi, BI terus memperkuat upaya pengendalian inflasi khususnya yang berasal dari imported inflation dari kenaikan harga komoditas internasional.

"BI meyakini inflasi dapat dijaga pada sasarannya sebesar 5% plus minus 1% di 2011, dan 4,5% plus minus 1% di 2012," tukas Difi.

Vallar Resmi Beli Saham BUMI Rp 5,3 Triliun


Jakarta - Salah satu perusahaan milik keluarga Rotschild yaitu Vallar Plc membeli saham PT Bumi Resources Tbk senilai Rp 5,34 triliun. Harga rata-rata penjualan berada di rentang Rp 2.109-3.070 per lembar saham.

Seperti dikutip dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (4/2/2011), PT Credit Suisse Securities Indonesia (CS) memfasilitasi pembelian saham BUMI itu dari tiga broker lainnya, yaitu PT Recapital Securities (LK), PT Deutsche Securities (DB), dan Sinarmas Sekuritas (DH).

Seluruh transaksi dilakukan di pasar negosiasi. Recapital melepas 1.175.262 lot saham BUMI atau setara 587,631 juta lembar di harga Rp 2.750 per lembar. Transaksi dilakukan satu kali senilai Rp 1,175 triliun.

Sementara Deutsche Securities melepas 1.736.378 lot saham BUMI atau setara 868,189 juta lembar di harga Rp 2.500 per lembar. Transaksi dilakukan satu kali dengan nilai Rp 1,736 triliun.

Sedangkan Sinarmas Sekuritas melepas 2.916.743 lot saham BUMI atau setara 1,45 miliar lembar saham di harga Rp 2.109 per lembar. Transaksi dilakukan enam kali dengan total nilai Rp 2,432 triliun.

Seperti diketahui, pada November 2010 terjadi kesepakatan antara Vallar, BUMI, dan Berau. Di mana Bakrie & Brothers (BNBR) selaku pengendali BUMI akan melepaskan 5,2 miliar (25%) saham BUMI.

Vallar akan melakukan swap dengan 90,1 juta saham baru Vallar seharga 10 poundsterling per saham kepada BNBR. Dengan demikian BNBR akan menguasai 43% saham Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan memiliki 25% saham BUMI.

Hingga penutupan perdagangan Sesi I, harga saham BUMI naik 75 poin atau setara 2,43% ke level Rp 3.150 per lembar saham.

BPS: Inflasi Rendah, Tak ada Alasan BI Rate Naik


Jakarta - Tidak ada alasan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate dari posisi saat ini 6,75%, jika mengacu pada data laju inflasi Februari 2011 lalu.

"Dinaikkan atau tidak, kan kemarin sudah dinaikkan. Tidak ada dasar (menaikkan BI Rate) jika dari inflasi," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Gedung BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (4/3/2011).

Ia menambahkan, inflasi di Februari 2011 mencapai 0,13%, sehingga laju inflasi kumulatif (Januari-Februari 2011) adalah 1,3%. Inflasi year on year (Februari 2011 dibanding Februari 2010) mencapai 6,84%. Atas dasar tersebut, kecuali hal-hal lain, kecil kemungkinan bank sentral menaikkan BI Rate.

"Inflasi tidak, kecuali BI memiliki pertimbangan lain," tambahnya.

Siang ini, BI akan mengumumkan BI Rate, yang juga sedang ditunggu oleh pelaku ekonomi Indonesia.

Pelaku pasar sendiri BI Rate akan bertahan pada level 6,75%. Pasar pun tengah mengantisipasi dengan kecenderungan IHSG yang menguat. Pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (4/3/2011), IHSG menguat 36,941 poin (1,05%) ke level 3.531,480.

Saham Bank Diburu Jelang BI Rate, IHSG Melaju 36 Poin


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju 36 poin sambil menunggu keputusan BI Rate yang akan diumumkan Bank Indonesia siang ini. Invetor masih melakukan aksi beli selektif terhadap saham-saham bank.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka naik 24,042 poin (0,69%) ke level 3.518,581. Turunnya harga minyak dunia menjadi sentimen positif terhadap indeks juga nilai tukar rupiah.

Indeks konsisten berjalan di zona merah sepanjang perdagangan Sesi I, bahkan sempat menembus level tertingginya di 3.531,969. Posisi terendahnya pun positif, di level 3.495,097 tepat pada pembukaan bursa.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (4/3/2011), IHSG menguat 36,941 poin (1,05%) ke level 3.531,480. Sementara Indeks LQ 45 naik 8,904 poin (1,43%) ke level 630,137.

Investor masih melakukan aksi beli selektif sambil menunggu BI Rate yang akan diumumkan pada hari ini oleh Bank Indonesia. Transaksi di bursa melonjak akibat adanya penjualan saham Bumi Resources (BUMI) oleh sejumlah broker di pasar negosiasi yang nilainya mencapai Rp 5,3 triliun.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 48.616 pada volume 4,88 miliar lembar saham senilai Rp 10,811 triliun. Sebanyak 102 saham naik, 78 saham turun, dan 89 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih kuat bertahan di zona positif hingga siang hari ini. Kini bursa Hong Kong menjadi pemimpin penguatan bursa regional.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional hingga siang hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai naik 6,13 poin (0,21%) ke level 2.909,11.
  • Indeks Hang Seng melesat 294,58 poin (1,27%) ke level 23.417,00.
  • Indeks Nikkei 225 menguat 122,74 poin (1,16%) ke level 10.708,76.
  • Indeks Straits Times melompat 36,03 poin (1,19%) ke level 3.073,38.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra Internasional (ASII) naik Rp 750 ke Rp 55.300, Bayan (BYAN) naik Rp 600 ke Rp 17.350, Astra Agro (AALI) naik Rp 450 ke Rp 22.550, dan Adira (ADMF) naik Rp 400 ke Rp 11.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 300 ke Rp 41.800, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 250 ke Rp 25.100, Mayora (MYOR) turun Rp 200 ke Rp 9.650, dan Surya Citra (SCMA) turun Rp 175 ke Rp 3.625.
(ang/qom)

IHSG Tersengat Penguatan Global


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat tipis ditopang penguatan saham-saham perbankan. Investor melanjutkan aksi beli selektif meski dibayangi tingginya harga minyak dunia.

Pada perdagangan, Kamis (3/3/2011), IHSG naik tipis 8,342 poin (0,23%) ke level 3.494,539. Sementara Indeks LQ 45 naik 2,614 poin (0,42%) ke level 621,233.

Menguatnya bursa-bursa global secara signifikan akan memberikan sentimen positif pada pergerakan IHSG. Investor selanjutnya akan menantikan pengumuman BI Rate siang ini. Pada perdagangan Jumat (4/3/3011), IHSG diprediksi akan menguat dan kembali duduk di level 3.500.

Bursa Wall Street tadi malam kembali mencetak hari terbaiknya dalam 3 bulan terakhir, menyusul surutnya harga minyak. Namun lonjakan indeks saham dibayangi rendahnya volume perdagangan.

Pada perdagangan Kamis (3/3/2011), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melesat 191,40 poin (1,59%) ke level 12.258,20. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 22,53 poin (1,72%) ke level 1.330,97 dan Nasdaq menguat 50,67 poin (1,84%) ke level 2.798,74.

Bursa Jepang juga langsung mengekor penguatan di Wall Street. Indeks Nikkei-225 dibuka melesat 164,75 poin (1,56%) ke level 10.750,77.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

eTrading Securities:

Pada perdagangan hari ini IHSG ditutup naik 8 point (+0.24%) ke level 3,494.54 menyusul aksi beli yang dilakukan oleh para investor baik asing maupun domestic menyusul data inflasi bulan Februari yang tercatat lebih rendah dari estimasi semula menjadi stimulus yang positif. Asing pada hari ini tercatat melakukan net buy sebesar Rp281 miliar di pasar reguler dengan sektor yang paling banyak dimasuki adalah sektor banking. Secara teknikal terlihat ruang penguatan IHSG mulai terbatas, dimana indikator stochastic sudah mulai memasuki area jenuh beli dan MACD mulai bergerak landai. Pada perdagangan besok (4/3) IHSG diperkirakan akan bergerak dikisaran 3,455-3,568 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. INDF, KRAS, dan BBCA.

Kresna Sekuritas:

IHSG berkonsolidasi menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia. Inflasi yang lebih baik dari ekspektasi membuat sebagian pelaku pasar mengharapkan BI Rate untuk tetap di level 6.75%. Untuk hari ini IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3,450-3,530 dengan MEDC dan AALI sebagai saham pilihan hari ini.

Panin Sekuritas:

IHSG kemarin bergerak mixed meski akhirnya ditutup menguat menyusul aksi beli investor terhadap saham perbankan. Sentimen dari kemungkinan dipertahankannya BI Rate membuat saham perbankan, otomotif bergerak menguat ditengah melemahnya saham pertambangan. Hari ini kami melihat indeks masih akan bergerak konsolidasi pada kisaran 3.465-3.510. Saham pilihan : INTA, ASII, CMNP, JPRS.

Finan Corpindo Nusa:

IHSG menguat tipis didorong oleh penguatan bursa regional ditengah kenaikan harga minyak yang melampaui USD 100 per barel. Sektor-sektor yang membukukan penguatan terbesar adalah aneka industri, manufaktur dan perkebunan. Untuk Jumat IHSG diperkirakan akan melanjutkan penguatan dengan support 3.480 dan resistance 3.510.

Kamis, 03 Maret 2011

Indeks Futures AS Bisa Dorong Wall Street Naik

Headline

INILAH.COM, New York - Indeks Futures AS menunjukan kenaikan untuk Wall Street pada perdagangan Kamis (3/3). Investor bersiap merespon laporan mingguan tentang pengangguran dan Bank Sentral Eropa yang akan memutuskan tingkat suku bunga.

Beberapa saham ditutup naik pada perdagangan Rabu kemarin dengan proyeksi pekerjaan. Pada Kamis waktu AS, akan merilis data klaim pengangguran tepatnya pukul 08:30. Walaupun investor tetap waspada dengan krisis politik di dunia Arab dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak turun pada Kamis ini setelah Liga Arab menganggap Libya bersedia berdamai. Meskipun pedagang tetap skeptis dengan propsek itu akan mengakhiri krisis di Libya.

Para ekonom mengharapkan awal bulan klaim pengangguran 400 ribu setelah pada pekan lalu 391 ribu sesuai jajak pendapat yang dilakukan Briefing.com.

Pada Rabu kemarin data ADP sektor swasta menunjukan dapat menyerap 217 ribu pekerjaan dan jumlah ini bukan sebagai indikasi penyerapan pekerjaan dari sektor pemerintah. Namun ini positif bagi psikologi pasar. Data penjualan ritel juga akan dirilis hari ini. Investor akan mengacuhkan keputusan soal suku bunga dari Bank Sentral Eropa.

Bank secara luas diperkiakan akan mempertahankan suku bunga secara stabiul di 1 persen. Tetapi bisa menjadi bank pertama yang menaikkan suku bunga kalau mencoba untuk memerangi inflasi.

Saham BUMI Terbanyak Dibeli Investor Asing

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham BUMI hari ini terbanyak dibeli investor asing mencapai 63,5 juta saham dari volume perdagangan 151,7 juta saham dengan total transaksi Rp464,3 miliar.


Demikian dikutip dari data BEI, Kamis (3/3). Indeks ditutup ditutup naik 8,3 poin (0,24%) ke 4.94,5. Volume perdagangan mencapai 6,5 miliar saham senilai Rp4,5 triliun. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp310,08 miliar dengan pembelian asing sebesar Rp1,6 triliun dan penjualan asing Rp1,3 triliun.

Urutan kedua saham BNBR mencapai 58,8 juta saham dari volume perdagangan 521,5 juta saham dengan total transaksi senilai Rp35,2 miliar. Urutan ketiga saham BBRI mencapai 26,2 juta saham dari volume perdagangan 45,1 juta saham dengan total transaksi senilai Rp221,4 miliar. Urutan keempat saham BMRI mencapai 18,9 juta saham dari volume perdagangan 38,6 juta saham dengan total transaksi senilai Rp238,8 miliar.

Urutan kelima saham MNCN mencapai 8,9 juta saham dari volume perdagangan 30,7 juta saham dengan ttoal transaksi senilai Rp32,6 miliar. Urutan keenam saham ASRI mencapai 8,3 juta saham dari volume perdagangan 42,06 juta saham dengan total transaksi senilai Rp10,5 miliar. Urutan ketujuh saham BBTN mencapai 7,7 juta saham dari volume perdagangan 23,6 juta saham dengan total transaksi senilai Rp34,6 miliar.

Urutan kedelapan saham BBCA mencapai 7,01 juta saham dari volume perdagangan 25,5 juta saham dengan total transaksi senilai Rp169,8 miliar. Urutan kesembilan saham PTPP mencapai 6,7 juta saham dari volume perdagangan 20,5 juta saham dengan nilai transaksi Rp12,2 miliar. Urutan kesepuluh saham LSIP mencapai 5,9 juta saham dari volume perdagangan 28,7 juta saham dengan nilai transaksi Rp65,5 miliar.

Data AS dan Korsel Picu Bursa Eropa Positif

Headline
INILAH.COM, London - Bursa saham Eropa pada perdagangan Kamis (3/3) naik dengan data ekonomi AS yang positif dan harga minyak yang terus turun.


Indeks FTSE naik 60,3 poin (1,02%) ke 5.975,2, indeks CAC naik 40,19 poin (1%) ke 407.51 dan indeks DAX naik 57,07 poin ke 0,7%) ke 7.238,19 seperti dikutip dari finance.yahoo.com.

Sikap pemimpin Libya dan Presiden Liga Arab yang menyetujui rencana perdamaian dari Presiden Venexuela Hugo Chavez untuk mengakhiri krisis di Afrika Utara. Hal ini membuat harga minyak Bren menjadi US$115 per barel. Meskipun terjadi kekerasan antara kelompok demontran dengan pendukung Muamar Gaddafi terus menekan pasar.

Data pengangguran AS yang turun dan pernyataan The Fed dengan kondisi ekonomi AS telah membantu menaikan pasar modal AS. Selain itu kenaikan produksi industri manufaktur Korsel juga memberikan harapan pemulihan ekonomi AS. "Gangguan mungkin tetap timbul dari ketidakpastian di dunia Arab," ata Zahid Mahmodd, dealer senior di Capital Spreads.

Inilah Daftar 10 'Top Foreign Sell' Hari Ini

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham PGAS hari ini terbanyak dijual investor asing mencapai 39,1 juta saham dari volume perdagangan 70,7 juta saham dengan total transaksi Rp252 miliar.


Demikian dikutip dari data BEI, Kamis (3/3). Indeks ditutup ditutup naik 8,3 poin (0,24%) ke 4.94,5. Volume perdagangan mencapai 6,5 miliar saham senilai Rp4,5 triliun. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp310,08 miliar dengan pembelian asing sebesar Rp1,6 triliun dan penjualan asing Rp1,3 triliun.

Urutan kedua saham TRUB mencapai 18,8 juta saham dari volume perdagangan 51,1 juta saham dengan total transaksi senilai Rp3,1 miliar. Urutan ketiga saham UNSP mencapai 15,9 juta saham dari volume perdagangan 82,1 juta saham dengan total transaksi senilai Rp29,8 miliar. Urutan keempat saham KIJA mencapai 15,9 juta saham dari volume perdagangan 196,9 juta saham dengan total transaksi senilai Rp23,1 miliar.

Urutan kelima saham LPKR mencapai 13,1 juta saham dari volume perdagangan 96,04 juta saham dengan ttoal transaksi senilai Rp52,2 miliar. Urutan keenam saham BORN mencapai 12,5 juta saham dari volume perdagangan 34,1 juta saham dengan total transaksi senilai Rp49,3 miliar. Urutan ketujuh saham CPIN mencapai 9,9 juta saham dari volume perdagangan 25,5 juta saham dengan total transaksi senilai Rp38,3 miliar.

Urutan kedelapan saham BDMN mencapai 6,6 juta saham dari volume perdagangan 9,4 juta saham dengan total transaksi senilai Rp59,3 miliar. Urutan kesembilan saham RODA mencapai 6,3 juta saham dari volume perdagangan 10,7 juta saham dengan nilai transaksi Rp1,1 miliar. Urutan kesepuluh saham BHIT mencapai 5,8 juta saham dari volume perdagangan 45,4 juta saham dengan nilai transaksi Rp8 miliar.

Saham Bank Angkat IHSG Naik Tipis 8 Poin

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 8 poin disokong oleh penguatan saham-saham bank. Namun sayangnya, penguatan ini belum mampu mengembalikan IHSG ke level 3.500.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis di Rp 8.805 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.810 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menguat tipis 1,215 poin (0,03%) ke level 3.487,412. Bangkitnya bursa-bursa di Asia memberi sentimen positif terhadap laju indeks.

Dengan volume perdagangan yang tidak terlalu ramai membuat indeks bergerak fluktuatif. Indeks sempat jatuh ke posisi terendahnya di level 3.483,803.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (3/3/2011), IHSG menguat 13,087 poin (0,37%) ke level 3.499,284. Investor mulai memburu kembali saham-saham bank dan konsumer.

Volume dan nilai transaksi perdagangan meningkat atas akuisisi yang dilakukan PT Bank Rakyat IndonesiaTbk (BBRI) terhadap PT Bank Agro Niaga Tbk (AGRO) senilai Rp 303 miliar yang difasilitasi Bahana Securities (DX) dan OSK Nusdana Securities (DR).

Menutup perdagangan, Kamis (3/3/2011), IHSG naik tipis 8,342 poin (0,23%) ke level 3.494,539. Sementara Indeks LQ 45 naik 2,614 poin (0,42%) ke level 621,233.

Maraknya pembelian terhadap saham-saham di sektor finansial, terutama bank tampaknya belum mampu mengangkat indeks kembali ke level 3.500. Saham-saham itu tak hanya diburu oleh investor asing, tetapi juga investor lokal.

Transaksi investor asing pada perdagangan hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign nett buy) senilai Rp 310,148 miliar di pasar negosiasi dan reguler. Dana asing kembali parkir di bursa.

Hampir seluruh sektor industri di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat. Kenaikan paling tinggi dicetak oleh sektor aneka industri, sementara sektor tambang dan industri dasar mendekati akhir perdagangan.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 90.998 pada volume 6,496 miliar lembar saham senilai Rp 4,767 triliun. Sebanyak 127 saham naik, 77 saham turun, dan 90 saham stagnan.

Bursa-bursa di regional bergerak mixed sore ini, padahal pagi tadi seluruhnya menguat secara signifikan. Beberapa laju penguatannya tertahan, namun hanya bursa China yang masuk zona merah.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia sore hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai turun 9,98 poin (0,34%) ke level 2.903,83.
  • Indeks Hang Seng naik tipis 73,76 poin (0,32%) ke level 23.122,42.
  • Indeks Nikkei 225 menguat 93,64 poin (0,89%) ke level 10.586,02.
  • Indeks Straits Times naik 25,82 poin (0,85%) ke level 3.053,33.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra Internasional (ASII) naik Rp 550 ke Rp 54.550, Unilever (UNVR) naik Rp 300 ke Rp 16.500, Intraco Penta(INTA) naik Rp 275 ke Rp 3.050, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 250 ke Rp 23.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 2.100 ke Rp 42.100, Bayan (BYAN) turun Rp 900 ke Rp 16.750, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 35.850, dan Bank Tabungan Pensiunan (BTPN) turun Rp 250 ke Rp 11.200.
(ang/qom)

BEI Belum Niat Delisting Arpeni dari Bursa

Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) belum akan mendelisting PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL), karena tidak juga melaporan kinerja keuangan triwulan III-2010. Otoritas baru akan meminta keterangan kepada APOL terkait kondisi terkini yang dihadapi mereka.

Demikian disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito kepada detikFinance, Kamis (3/3/2011).

"Iya, sebenarnya (sanki lanjutan)suspensi. Tapi kondisinya perseroan sudah disuspensi. Kita ga langsung delisting, karena merugikan pemegang saham," jelasnya.

Memang manajemen APOL sudah dikenakan sanksi peringatan tertulis III dan denda Rp 150 juta, karena belum menyampaikan laporan keuangan diaudit sejak 30 September 2010. Sanksi ini merupakan lanjutan setelah sebelumnya sudah ada peringatan tertulis II dan denda Rp 50 juta pada 14 Februari lalu.

Bahwa, sanksi suspen terakhir telah dialamatkan kepada saham APOL di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada 20 Desember 2010.

Bursa kini ingin mengetahui kondisi perusahaan, hingga syarat sebagai emiten dengan menyampaikan laporan keuangan secara berkala, lalai dilakukan manajemen APOL.

"Ya memang peringatan ini karena laporan keuangan. Kalau sudah begitu, kita lihat penyebabnya apa," papar Eddy.

"Kita lihat jawaban mereka seperti apa. Ketemu kan dulu sudah sering. Kalau dibutuhkan (bertemu kembali)," ucapnya.

BEI juga menilai, saat ini perseroan masih dalam kondisi yang berat. Hingga Bursa memberikan waktu kepada manajemen untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

"Perseroan berat. BEI punya tentang rasa," tuturnya.

Menurut Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil I Gede Nyoman Yetna, keputusan terakhir didasarkan atas ketentuan III.1.6.1.1 peraturan No.1-E bahwa laporan keuangan internal yang diaudit, harus disampaikan Bursa paling lambat 3 bulan setelah laporan keuangan interm dimaksud.

Juga atas ketentuan II.6.3 Peraturan I-H tentang sanksi peringatan ketiga dan tambahan denda RP 150 juta. Bursa mengatakan, hingga tanggal 1 Maret 2011, manajemen Arpeni juga belum menyampaikan laporan keuangan periode yang dimaksud.

"Mengacu pada ketentuan II.6.3 Peraturan I-H Tentang Sanksi, Bursa telah memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp 150 juta kepada Arpeni Pratama Ocean Line," imbuhnya.

Laporan Keuangan Telat, Arpeni Kena Denda Rp 150 Juta


Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi sanki peringatan tertulis III serta denda Rp 150 juta kepada PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL), karena tidak menyampaikan laporan keuangan diaudit sejak 30 September 2010.

Menurut Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangan tertulisnya, keputusan ini didasarkan atas ketentuan III.1.6.1.1 peraturan No.1-E bahwa laporan keuangan internal yang diaudit, harus disampaikan Bursa paling lambat 3 bulan setelah laporan keuangan interm dimaksud.

Juga atas ketentuan II.6.3 Peraturan I-H tentang sanksi peringatan ketiga dan tambahan denda RP 150 juta. Bursa mengatakan, hingga tanggal 1 Maret 2011, manajemen Arpeni juga belum menyampaikan laporan keuangan periode yang dimaksud.

"Mengacu pada ketentuan II.6.3 Peraturan I-H Tentang Sanksi, Bursa telah memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp 150 juta kepada Arpeni Pratama Ocean Line," ucapnya dalam keterbukaan informasinya, Rabu (2/3/2011).

Sebelumnya, BEI juga mengenakan sanksi peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp 50 juta pada 14 Februari lalu. Juga ada sanksi peringatan tertulis I pada 6 Januari 2011.