Jumat, 29 April 2011

DGIK Jaga Kepentingan Pemegang Saham

INILAH.COM, Jakarta - PT Duta Graha Indah Tbk (DGIK) konsiten untuk tetap menjaga kepentingan karyawan dan pemegang saham di tengah menyeruaknya kasus penyuapan yang dilakukan salah satu managernya.

"Sehubungan dengan situasi yang berkembang dan mencermati apa yang sedang terjadi saat ini, terutama menyangkut persoalan Manager Pemasaran PT Duta Graha Indah Tbk, Saudara Muhamad El Idris, maka kami sedang mengambil langkah-langkah baik secara internal maupun secara eksternal," ujar Sekretaris Perusahaan DGIK Djohan Halim dalam siaran persnya, JUmat (29/4).

Secara internal, lanjutnya, tentu pihak manajemen akan melaporkan dan mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan dan pencapaian Perseroan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan diadakan pada Bulan Mei 2011.

"Secara eksternal, kami akan mengikuti dan mendukung seluruh proses hukum yang berlangsung dengan lancar dan proposional menghadapi situasi ini. Perusahaan menjaga kepentingan karyawan, baik yang tetap maupun tidak tetap yang berjumlah kurang lebih 10.000 orang yang tersebar di 11 kantor cabang Kami di seluruh Indonesia, serta lembaga serta mitra terkait dengan kegiatan usaha kami seperti Perbankan, Supplier serta mitra kami."

Tentu saja, menurut Djohan, sebagai perusahaan publik, manajemen akan berupaya menjaga kepentingan Pemegang saham publik Perseroan yang berjumlah sekitar 2.000 investor. Duta Graha pun berharap proses selama proses hukum ini berlangsung, kiranya perusahaan tetap dapat beroperasi melewati masa-masa sulit seperti ini. "Kami merupakan perusahaan konstruksi nasional yang telah beroperasi sejak 1982 dengan membangun gedung-gedung dan infrastruktur lainnya seperti Gedung Bursa Efek Indonesia, Grand Indonesia, Rumah Sakit Siloam Gleneagles, gedung yang pernah menjadi gedung tertinggi di Indonesia yakni, Gedung Amartha Pura dan pembangunan jalan pasca tsunami di Nias."

Sebelumnya diberitakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tiga tersangka kasus dugaan suap proyek sarana Sea Games XXVI pada November 2011 di Palembang. Ketiganya adalah Sekretaris Kemenpora Wafid Muharram, serta 'R' diduga perantara dan M, pejabat pelaksana pembangunan PT Duta Graha Indah.

Pemegang Saham BLTA Setujui IPO Anak Usaha

INILAH.COM, Jakarta - Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menyetujui anak usaha perseroan PT Buana Listya Tama untuk melakukan penawaran umum saham perdana.

Hal itu disampaikan Presiden Direktur BLTA Widiharja Tanudjaja, Jumat (29/4) seusai RUPSLB BLTA. "Kita minta persetujuan PT Buana Listya Tama untuk go listing. Sekitar 99,93% pemegang saham menyetujui agenda itu," tutur Widihardja.

Terkait rencana penawaran umum saham perdana PT Buana Listya Tama, Widiharja mengatakan, selama road show k beberapa tempat hasilnya positif. Perseroan telah melakukan roadshow ke Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, New York dan London. "Sambutannya positif," ujar Widihardja.

Saat ditanya mengenai penetapan harga saham perdana, Widihardja menuturkan, penetapan harga saham perdana masih dikaji. Dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk membayar utang ke induk usaha PT Berlian Laju Tanker Tbk.

Selain itu, PT Berlian Laju Tanker Tbk akan mendatangkan dua kapal pada kuartal kedua ini. Jenis kapal yang didatangkan yaitu kapal tanker kimia dan kapal tanker gas.

PT Buana Listya Tama Tbk akan melepas sekitar 7,26 miliar saham atau setara 39,75% saham ke publik.Dalam penawaran umum saham perdana ini, perseroan juga akan menerbitkan waran sebanyak-banyaknya 3,60 miliar waran seri I.

Perkiraan jadwal penawaran umum saham perdana tanggal efektif pada 10 Mei 2011, roadshow international pada 18 April-3 Mei 2011, book building 14 April-3 Mei 2011, penjatahan 16 Mei 2011, pengembalian uang pemesanan dan distribusi saham secara elektronik pada 18 Mei 2011, dan pencatatan saham selambatnya di Bursa Efek Indonesia pada 23 Mei 2011. [cms]

Penjualan Dongkrak Laba Bersih PTBA Naik 108%

INILAH.COM, Jakarta - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) berhasil mencetak kenaikan laba sebesar 108,07% pada kuartal 1-2011 menjadi Rp760,92 miliar dari Rp365,7 miliar pada periode serupa 2010.

Kenaikan laba bersih kuartal 1-2011 ini disebabkan peningkatan laba usaha yang sangat signifikan menjadi Rp944,64 miliar pada kuartal 1-2011 dibanding periode serupa 2010 senilai Rp422,92 miliar. Laba sebelum pajak penghasilan pada kuartal 1-2011 mencapai Rp1,02 triliun atau naik dari Rp480,85 miliar pada kuartal 1-2010.

Penjualan kuartal 1-2011 juga mengalami kenaikan menjadi Rp2,32 triliun dari Rp1,78 triliun pada periode serupa 2010. Kewajiban kuartal 1-2011 tercatat mencapai Rp2,7 triliun atau turun dibanding periode serupa 2010 sebesar Rp2,28 triliun. Sementara jumlah ekuitas mencapai Rp7,2 triliun.

Pendapatan di 2010 melorot, saham KRAS dilanda aksi jual

Pendapatan di 2010 melorot, saham KRAS dilanda aksi jual
JAKARTA. Saham PT Krakatau Steel (KRAS) didera aksi jual. Pada pukul 10.56, saham KRAS tercatat turun 1,71% menjadi Rp 1.150. Melorotnya saham KRAS terjadi setelah perusahaan baja pelat merah tersebut merilis kinerjanya.

Meski laba bersih KRAS melompat 114%, namun hal itu tidak disokong oleh tingkat pendapatannya. Seperti yang diberitakan KONTAN sebelumnya, di kuartal I 2011, KRAS mencatatkan penurunan pendapatan selama 2010 sebesar 12,16% menjadi Rp 14,86 triliun.

Hal tersebut disebabkan penjualan produk baja di dalam negeri selama 2010 merosot 13,48% menjadi Rp 13,25 triliun. Padahal pada tahun 2009 penjualan baja di pasar lokal bisa mencapai Rp 15,32 triliun.

Selain itu, pendapatan KRAS dari real estate dan perhotelan juga turun jadi Rp 192,46 miliar dari sebelumnya yang mencapai Rp 121,75 miliar. Kontribusi pendapatan rekayasa anjlok 30,14% jadi Rp 467,81 miliar.

Tapi untungnya, KRAS masih tertolong dengan menyusutnya beban pokok penjualan yang harus mereka tanggung.

Indofood Raup Laba Rp 1 Triliun dalam Tiga Bulan

Jakarta - PT Indofoof Sukses Makmur Tbk (INDF) meraup laba Rp 1,17 triliun dalam periode tiga bulan pertama tahun ini. Laba ini naik 52,8% jika dibandingkan perolehan laba tahun lalu pada periode yang sama Rp 765,69 miliar.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan, Jumat (29/4/2011), penjualan perseroan pun naik dari Rp 9,3 triliun di triwulan I tahun lalu menjadi Rp 10,76 triliun di periode yang sama tahun ini.

Perseroan berhasil menekan beban operasi menjadi Rp 74,65 miliar di triwulan I-2011 dari tahun sebelumnya Rp 123,14 miliar. Ini membuat laba sebelum pajak naik menjadi Rp 1,66 triliun dari tahun sebelumnya pada periode yang sama Rp 1,17 triliun.

Atas pertumbuhan laba itu, laba bersih per saham dasar perseroan pun naik dari Rp 72 per lembar di triwulan I-2010 menjadi Rp 84 per lembar di periode yang sama tahun ini.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 10.58 waktu JATS, saham INDF turun 50 poin (0,89%) ke level 5.550 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 67 kali dengan volume 1.536 lot senilai Rp 4,278 miliar.
(ang/dnl)

Triwulan I Laba PTBA Naik 2 Kali Lipat Menjadi Rp 760 Miliar

Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bukukan laba Rp 760,32 miliar di triwulan I tahun ini, naik dua kali lipat dari perolehan laba periode yang sama tahun lalu Rp 373,03 miliar. Laba baik disokong tumbuhnya penjualan serta turunnya beban pokok.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan, Jumat (29/4/2011), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang itu mencatat penjualan sebesar Rp 2,31 triliun di tiga bulan pertama tahun ini, naik dibanding tahun lalu Rp 1,78 triliun.

Beban pokok penjualan berhasil diturunkan meski penjualannya naik, dari Rp 1,075 triliun tahun lalu menjadi Rp 1,071 di tahun ini. Dengan demikian, laba kotor perseroan pun melonjak jadi Rp 1,24 triliun dari sebelumnya Rp 706,74 miliar.

Perseroan juga bisa mengurangi kerugian kurs menjadi hanya Rp 3,13 miliar di triwulan I tahun ini, sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu rugi selisih kurs perseroan mencapai Rp 17,57 miliar.

Dengan naiknya laba, laba bersih per saham dasar emiten berkode PTBA itu pun naik menjadi Rp 330 per lembar, dari sebelumnya tahun lalu sebesar Rp 162 miliar.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 10.46 waktu JATS, harga saham PTBA naik 50 poin (0,22%) ke level Rp 22.540 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 172 kali dengan volume 1.462 lot senilai Rp 16,471 miliar.

Hemat biaya pokok penjualan, laba bersih KRAS meroket 114%

JAKARTA. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mencatatkan penurunan pendapatan selama 2010 sebesar 12,16% menjadi Rp 14,86 triliun. Hal tersebut disebabkan penjualan produk baja di dalam negeri selama 2010 merosot 13,48% menjadi Rp 13,25 triliun. Padahal pada tahun 2009 penjualan baja di pasar lokal bisa mencapai Rp 15,32 triliun.

Selain itu, pendapatan KRAS dari real estate dan perhotelan juga turun jadi Rp 192,46 miliar dari sebelumnya yang mencapai Rp 121,75 miliar. Kontribusi pendapatan rekayasa anjlok 30,14% jadi Rp 467,81 miliar.

Tapi untungnya, KRAS masih tertolong dengan menyusutnya beban pokok penjualan yang harus mereka tanggung. Selama 2010, beban pokok pendapatan KRAS hanya Rp 12,62 triliun. Padahal di tahun 2009 beban pokok penjualan KRAS bisa mencapai Rp 15,73 triliun.

Karena itu, laba kotor KRAS meningkat 88,52% menjadi Rp 2,23 triliun. Tak heran hasil laba usaha KRAS juga ikut terangkat sampai 37 kali lipat menjadi sebesar Rp 992,93 miliar.

Karena penghematan dari beban pokok penjualan tersebut hasil laba bersih KRAS juga terangkat 114,82% jadi Rp 1,06 triliun. Pendapatan lain-lain KRAS justru turun menjadi Rp 394,22 miliar. Bandingkan dengan pendapatan lain-lain KRAS selama 2009 lalu yang mencapai Rp 442,72 miliar.

Penurunan penghasilan lain-lain KRAS terdorong karena mereka tak lagi mendapatkan laba penjualan investasi dan laba penyelesaian kewajiban imbalan kesehatan pasca kerja. Dimana pada pos tersebut sebelumnya KRAS bisa memperoleh Rp 501,58 miliar.

SCG Building Materials bakal ambil alih 93,47% saham KIAS

JAKARTA. SCG Building Materials Company Limited bakal mengambil alih kendali dalam PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk (KIAS).

Pemegang saham mayoritas perseroan sudah meneken perjanjian Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan SCG Building, pada 27 April 2011. Rencananya, perusahaan asal Thailand itu akan mengambil alih sejumlah 7,875 miliar saham atau setara 93,47% saham KIAS.

Sekretaris Perusahaan KIAS Suparman Surjadi menyebut, perjanjian itu bisa mengakibatkan perubahan yang fundamental dalam jalannya operasional perseroan. "Dalam bentuk perubahan pengendali atau perubahan penting dalam manajemen," ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, hari ini.

Transaksi penjualan saham ini akan dilaksanakan apabila sudah terpenuhinya seluruh syarat dan kondisi yang telah disepakati.

Adapun, hingga pukul 10.43 WIB, saham KIAS diperdagangkan naik 9,2% ke level Rp 95 per saham.

Laba bersih melonjak 43%, saham ASII kian menjadi incaran

JAKARTA. Saham PT Astra International (ASII) menjadi salah satu saham yang menggerakkan indeks pagi ini. Pada pukul 10.32, saham ASII tercatat naik 0,54% menjadi Rp 55.900. Sebelumnya, saham ASII sempat menyentuh posisi Rp 55.950 atau naik 0,62%.

Melonjaknya saham ASII terkait dengan kinerja perusahaan di tiga bulan pertama tahun ini. Seperti yang diberitakan sebelumnya, ASII mengalami lompatan laba bersih sebesar 43% pada kuartal pertama tahun 2011 menjadi Rp 3,014 triliun dibandingkan periode serupa tahun lalu.

Hal ini didukung peningkatan pendapatan di semua lini bisnis. Kuartal pertama 2011, pendapatan bersih ASII mencapai Rp 38,693 triliun atau naik 30% dari kuartal pertama tahun lalu. Hanya saja, bisnis otomotif dan alat berat sedikit mengalami gangguan suplai akibat pengaruh bencana gempa bumi dan tsunami Jepang.

BRI Raih Laba Rp3,260 Triliun

Logo Bank BRI. Foto: Tangguh Putra/okezone
JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan laba (setelah taksiran pajak) pada triwulan I-2011 sebesar Rp3,260 triliun.

Angka ini meningkat signifikan sebesar 51,58 persen dibanding kuartal I-2010, yaitu sebesar Rp2,151 triliun. Peningkatan laba ini didukung oleh total aset Bank BRI yang meningkat sebesar 20,70 persen dari Rp303,383 triliun menjadi Rp366,734 triliun.

Disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (29/4/2011), sejalan dengan itu peningkatan modal mengalami pertumbuhan sebesar 33,03 persen dari Rp30,247 triliun pada triwulan I tahun 2010 menjadi Rp40,238 triwulan I tahun 2011.

Kemudian untuk dana pihak ketiga (DPK) BRI berhasil meningkat sebesar 20,32 persen dari Rp241,497 triliun di triwulan I 2010 menjadi sebesar Rp290,575 triliun di triwulan I 2011.

Adapun untuk komposisi DPK BRI pada triwulan I 2011 masing masing adalah Giro 15,23 persen (Rp44,266 triliun, Tabungan Rp117,795 triliun (40,54 persen) dan Deposito Rp128,513 triliun (44,23 persen).

Posisi LDR BRI berada pada 85,75 persen, ROE meningkat dari 33,61 persen menjadi 37,73 persen. Sedangkan untuk ROA juga meningkat dari 3,71 persen menjadi 4,41 persen. Sementara CAR BRI meningkat 15,44 persen menjadi 15,60 persen.

Analis: Ada kemungkinan harga emas menyentuh US$ 1.800 tahun ini

SINGAPURA. Kenaikan harga emas di bulan April merupakan yang terbaik sejak November 2009. Keoknya dollar dan tingginya tingkat inflasi mendorong investor untuk memborong emas sebagai lindung nilai.

Di Singapura pukul 08.29, kontrak harga emas co Comex New York untuk pengantaran cepat tak banyak mengalami perubahan di posisi US$ 1.536,72 per troy ounce. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh rekor di posisi US$ 1.540,85 per troy ounce. Sepanjang bulan ini, harga emas sudah melonjak 7,3%.

Kenaikan juga dialami kontrak harga emas untuk pengantaran Juni di New York yang naik 0,4% menjadi US$ 1.537,20 per troy ounce. Angka tersebut mendekati harga rekor yang dicapai kemarin di posisi US$ 1.538,80 per troy ounce.

"Pelemahan dollar mendorong investor ke pasar emas. Apalagi banyak spekulasi kalau harga emas akan terus mengalami reli. Ada kemungkinan harga emas menyentuh US$ 1.800 tahun ini," jelas Lim Han Jo, trader Tongyang Futures Co.

Gerak Saham BUMI Masih 'Sideways'

INILAH.COM, Jakarta – Laju saham BUMI, Jumat (29/4) diprediksi sideways. Kondisi ini tampak dalam 10 candle terakhir. Jika tembus Rp3.400 dengan volume yang besar, penguatan berikutnya ke level Rp3.600.

Technical analyst dari Jsxpro.com Tommy Yu mengatakan, potensi sideways-nya saham PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan karena secara teknikal masih berada dalam fase konsolidasi. Hal ini bisa dilihat dalam 10 candle terakhir.

Karena itu, dia menegaskan, pergerakan saham ini di akhir pekan akan sideways. Tapi, dilihat dari trennya, saham sejuta umat ini masih berada dalam up trend sehingga masih aman. “BUMI akan bergerak terbatas dalam kisaran support Rp3.300 dan Rp3.400 sebagai resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (28/4).

Pada perdagangan Kamis (28/4) saham BUMI ditutup menguat tipis Rp25 (0,75%) menjadi Rp3.350 dibandingkan sebelumnya Rp3.325. Harga intraday tertingginya mencapai Rp3.350 dan terendah Rp3.300. Volume transaksi mencapai 122,8 juta unit saham senilai Rp409,7 miliar dan frekuensi 1.915 kali.

Lebih jauh Tommy mengatakan, level support BUMI juga ditahan oleh indikator Exponential Moving Average (EMA)-20. Karena itu, saham BUMI memiliki double support yakni support terdekatnya dan support EMA20-nya di level yang sama Rp3.300. “Akibatnya, saham BUMI susah turun di bawah level tersebut,” ujarnya.

Tapi, menurutnya, sampai kapan saham BUMI akan konsolidasi juga belum bisa dipastikan. Tapi, dilihat dari volume transaksi kemarin, cukup besar 122,8 juta unit saham. Karena itu, jika dalam 1 atau 2 candle ke depan volumenya naik dan bisa menembus Rp3.400, saham ini akan terus menguat.

Kondisi itu, lanjut Tommy, bisa dibuktikan di pekan depan Senin (2/5) atau Selasa (3/5). Target penguatan berikutnya diharapkan di level Rp3.550-3.600 jika Rp3.400 berhasil ditembus ke atas dengan volume transaksi di atas 200 juta unit saham. “Investor bisa lebih merasa oke,” ucap Tommy.

Jadi, kenaikan harus diiringi dengan tenaga yang direpresentasikan oleh besarnya volume transaksi. Jika naik tanpa besarnya volume transaksi, justru berbahaya karena berpeluang turun. “Untuk akhir pekan ini, pergerakan saham BUMI masih susah dipastikan menguat atau melemah,” tandasnya.

Apalagi, dalam tiga hari sebelumnya, pergerakan saham tidak diiring besarnya volume transaksi. Baru pada perdagangan Kamis (28/4) volumenya besar hingga tiga kali lipat dari volume tiga hari sebelumnya.

Bagi investor jangka panjang, dia menyarankan lebih baik hold saja. “Bagi trader jangka pendek, lebih baik bermain cepat. Buy on weakness di level Rp3.300 dan bisa jual di level mendekati Rp3.400,” imbuh Tommy. [mdr]

ASGR Berpeluang ke Rp 1200

INILAH.COM, Jakarta - PT Astra Graphia Tbk (ASGR) akan segera melaju ke level Rp1.200. Hal ini dipicu rencana perseroan membagi dividen dan memperbesar capex.

ASGR dikabarkan akan membagikan dividen sekitar Rp47,36miliar atau 40%. Peningkatan pembagian dividen itu seiring kenaikan laba bersih 2010 sebesar 76,88% menjadi Rp118,41 miliar, dari Rp66,95 miliar pada akhir tahun sebelumnya.

Selain itu, ASGR akan menambah capex menjadi Rp200 miliar untuk 2011, baik untuk ASGR maupun anak perusahaannya, AGIT (PT Astra Graphia Information Technology). Dana ini akan dipergunakan untuk pembelanjaan modal dan memperkuat teknologi jangka panjang.

Salah satunya menggarap pasar solusi keamanan transaksi kartu kredit di Indonesia dengan pihak Fico Australia. Kabar inilah yang membuat ASGR berpeluang terkerek ke Rp 1200.

ASGR pada perdagangan Kamis (28/4) kemarin ditutup di level Rp830, atau naik Rp20 (2,5%). [ast]

Harga emas kembali tembus rekor setelah the Fed tahan suku bunga

NEW YORK. Kemarin malam, kontrak harga emas kembali melaju menembus rekor baru. Dengan demikian, harga emas tertinggi sepanjang sejarah tercipta dalam dua hari berturut-turut.

Melejitnya harga emas terjadi setelah the Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunganya di level rendah, sehingga memupuskan prospek penguatan dollar dan mendongkrak permintaan emas sebagai investasi alternatif.

Asal tahu saja, kontrak harga emas di divisi Comex, New York, untuk pengantaran Juni naik US$ 14,10 atau 0,9% menjadi US$ 1.531,20 per troy ounce pada pukul 13.49 waktu New York. Sebelumnya, kontrak yang sama menembus rekor di level US$ 1.538,80 per troy ounce. Sepanjang setahun terakhir, harga emas sudah naik 31%.

Sementara itu, kontrak harga emas untuk pengantaran cepat naik 0,7% ke rekor tertinggi di posisi US$ 1.538,47.

"Pasar emas bukan membentuk buble dan harga emas akan terus naik dalam jangka panjang karena kebijakan moneter global bertentangan dengan ekonomi riil," jelas John Hathaway, senior managing director of Tocqueville Asset Management LP.

Harga minyak masih bergerak mendekati level tertinggi dalam 31 bulan terakhir

SYDNEY. Di New York, harga minyak pagi ini ditransaksikan mendekati level tertinggi dalam 31 bulan terakhir. Melejitnya harga minyak terjadi setelah dollar keok ke level paling rendah sejak 2008 terhadap mata uang utama dunia lainnya.

Pada pukul 09.07 waktu Sydney, kontrak harga minyak untuk pengantaran Juni di New York Mercantile Exchange berada di posisi US$ 112,81 per barel. Kemarin, harga minyak sempat naik 10 sen menjadi US$ 112,86 sebarel, yang merupakan level paling tinggi sejak 22 September 2008.

Jika dihitung, sepanjang bulan ini, harga minyak sudah naik 5,7% dan setahun terakhir kenaikannya mencapai 32%. Sementara, kontrak harga minyak jenis Brent untuk pengantaran Juni turun 11 sen menjadi US$ 125,02 per barel di ICE Futures Europe exchange, kemarin.

"Volume transaksi di pasar sangat kecil dan tidak 100% mengarah ke aksi jual saat ini. Penyebabnya, ada dua hari libur berturut-turut di Eropa sehingga investor banyak yang malas melakukan transaksi. Hal itu saya prediksi masih akan berlangsung hingga minggu depan," jelas Carl Larry, President of Oil Outlook & Opinions LLC di Houston.

Sekadar tambahan informasi, hari ini merupakan hari libur nasional Inggris untuk merayakan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Sementara, market di sejumlah negara lain seperti Jerman dan China akan ditutup pada 2 Mei karena libur nasional.

ADMF bagi dividen 65%

ADMF bagi dividen 65%
JAKARTA. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) bagi dividen sebesar 65% dari laba bersih sepanjang tahun 2010.

Tahun lalu ADMF membukukan laba bersih senilai Rp 1,47 triliun naik 21% dibanding laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,21 triliun. “Sudah saatnya ADMF memberikan dividen besar, tahun lalu laba kita besar. Selain itu ekuitas kita berlebih,” kata I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan ADMF. Pembayaran dividen akan dilakukan pada bulan Juni 2011.

Sedang sisa laba bersih sepanjang 2010 menurut Stanley Setia Atmadja, Direktur Utama ADMF akan digunakan untuk working capital ADMF.

Selain bagi-bagi dividen, ADMF juga akan membayar utang obligasi Adira Dinamika Multi Finance III seri B sebesar Rp 51 miliar pada 13 Mei 2011, obligasi Adira Dinamika Multi Finance II seri C sebesar Rp 90 miliar pada 8 Juni 2011. Pembayaran obligasi tersebut menggunakan kas internal perusahaan.

Dengan pembayaran tersebut maka debt to equity ratio (DER) ADMF menjadi sebesar 0,7 kali. Namun bulan Mei 2011 ADMF akan kembali menerbitkan obligasi senilai Rp 2 triliun maka DER akan menjadi 1 kali.

Penguatan IHSG Mulai Goyah-goyah

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin masih mampu naik tipis di tengah positifnya kinerja keuangan emiten dan rencana pembagian dividen. Indeks berhasil cetak rekor baru lagi.

Pada perdagangan, Kamis (28/4/2011), IHSG naik tipis 3,998 poin (0,10%) ke level 3.808,929. Sementara Indeks LQ 45 turun tipis 0,266 poin (0,04%) ke level 680,894.

Posisi IHSG yang sudah terlalu tinggi dan mencetak rekor terbarunya membuat investor mulai memilih untuk keluar sejenak. Profit taking pada perdagangan akhir pekan ini diprediksi akan semakin marak. IHSG pada perdagangan Jumat (29/4/20110 diprediksi akan bergerak fluktuatif cenderung melemah.

Bursa Wall Street tadi kembali melanjutkan penguatannya dipicu oleh kuatnya laporan keuangan. Investor terus berekspektasi laporan keuangan akan menunjukkan kinerja yang gemilang. Dow Jones Transportasi Average bahkan mencatat rekor tertingginya setelah naik 1,2% menjadi 5.510,06.

Pada perdagangan Kamis (28/4/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup menguat 72,35 poin (0,47%) ke level 12.763,31. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 4,82 poin (0,36%) ke level 1.360,48 dan Nasdaq menguat 2,65 poin (0,09%) ke level 2.872,53.

Sementara bursa Jepang pagi ini libur untuk memperingati libur nasional.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

eTrading Securities:

IHSG pada perdagangan kemarin (28/4), ditutup menguat sebesar 3,99 poin (0,10%) ke level 3.808,93. Sektor yang menjadi pendorong penguatan IHSG pada perdagangan kemarin adalah sektor macam-macam industri yang menguat 0,70% disusul oleh sektor pertambangan yang menguat 0,49%. Sementara sektor yang mengalami pelemahan terbesar
adalah sektor infrastruktur yang tercatat melemah 0,63%. Investor asing tercatat membukukan pembelian bersih (foreign net buy) sebesar Rp 372,99 milliar, dengan saham yang paling banyak dibeli adalah BUMI, ASII, BBRI, dan UNTR.

Secara teknikal, pada perdagangan kemarin IHSG bergerak menguat tipis dengan candlestick membentuk pola spinning top setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan. Sementara dilihat dari pergerakan indikator, tampak candlestick masih berada di area garis upper Bollinger band, indikator stochastic mencoba membentuk golden cross di area overbought, sementara indicator William’s% R mulai bergerak downtrend di area overbought. Pada perdagangan hari ini (29/4), IHSG diperkirakan akan bergerak dikisaran 3,777-3,830 dengan saham- saham yang dapat diperhatikan a.l. PTPP , BBCA, dan BUMI.

Kresna Securities:

Meskipun kembali mencetak rekor baru, tekanan jual kembali menahan penguatan IHSG. Munculnya spinning tops dan candlestick yang deadcross mengindikasikan tekanan jual masih dapat berlanjut. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3,780-3,830 dengan ASII dan UNTR sebagai saham pilihan.

Bursa Wall Street Lanjutkan Penguatan

New York - Saham-saham di bursa Wall Street kembali melanjutkan penguatannya dipicu oleh kuatnya laporan keuangan. Investor terus berekspektasi laporan keuangan akan menunjukkan kinerja yang gemilang.

Dow Jones Transportasi Average bahkan mencatat rekor tertingginya setelah naik 1,2% menjadi 5.510,06, dipimpin lonjakan saham Norfolk Southern hingga 8%,

Pada perdagangan Kamis (28/4/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup menguat 72,35 poin (0,47%) ke level 12.763,31. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 4,82 poin (0,36%) ke level 1.360,48 dan Nasdaq menguat 2,65 poin (0,09%) ke level 2.872,53.

Volume perdagangan berjalan moderat dengan transaksi di New York Stock Exchange sebesar 7,49 miliar lembar saham, di bawah rata-rata harian yang sebesar 7,73 miliar lembar saham.

Namun penguatan saham-saham terjadi dalam volume yang tipis dan ditambah data perekonomian terbaru, maka diyakini kenaikan harga saham-saham sudah mulai tidak stabil.

"Ada diskoneksi di pasar saat ini, kita mendapatkan berita yang beragam," ujar Jonathan Corpina, kepala operasi lantai NYSE dari Meridian Equity Partners seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/4/2011).

Kenaikan saham-saham terhambat sebagian perusahaan yang menurunkan estimasi laporan keuangannya seperti Procter & Gamble Co. Saham P&G tercatat turun 0,8% setelah memangkas proyeksinya hingga akhir tahun.

Sementara sentimen positif masih datang dari pernyataan Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang akan mempertahankan dukungannya untuk kebijakan moneter yang longgar. Hal itu terus mendorong harga saham-saham bersamaan dengan kenaikan inflasi.

"Karena biaya operasional terus naik, maka jelas akan berdampak pada basis untuk pergerakan ke depan. Melihat harga-harga komoditas, minyak dan energi pada tingkat yang diperdagangkan sekarang, tanpa ada akhir dalam jangka pendek, maka hal itu akan diperhitungkan pada kuartal II," jelas Corpina.

Bagian II Kisah Morgan Stanley Tertipu Bank Garansi Palsu 'Bank Mandiri' US$ 55 Juta

Jakarta - Morgan Stanley sedang dibuat bingung oleh Bank Garansi palsu 'Bank Mandiri' yang diterbitkan berkaitan dengan fasilitas kreditnya kepada Lee Man Investment Co Ltd sebagai peminjam dan obligor yang terdiri dari PT General Energy Bali, Tjandra Limanjaya, Geolink Worldwide Ltd, Merryline International Pte Ltd, City Energy Pte Ltd dan PT General Energy Indonesia.

Bagaimana kisah Bank Garansi palsu itu bisa sampai mengguncang Morgan Stanley? Semua ternyata melibatkan sebuah sindikat pemalsuan. Kisah Bank Garansi palsu 'Bank Mandiri' itu bermula pada tahun 2007 ketika Omega Consultan & Management yang terdiri Tony Pribadi Ridwan dan Koen Semedi Prakoso alias Nicholas Koen dkk menawarkan bertindak sebagai Financial Advisor PT General Energy Bali (GEB) dalam penerbitan Bank Garansi itu melalui Abdul Djalil selaku direktur .

Baik Tony dan Koen menyanggupi pembuatan Bank Garansi untuk General Energy Bali hanya dalam 2 bulan, dan ternyata faktanya bisa selesai lebih cepat hanya dalam waktu 1 bulan. Dari pihak General Energy Bali menerima tawaran pembuatan Bank Garansi tersebut karena atas permintaan mendesak dari pihak Morgan Stanley untuk memperpanjang atau memperbarui perjanjian kredit dengan Lee Man karena Bank Garansi yang diterbitkan tahun 2007 sudah tidak berlaku lagi karena utang Lee Man sudah lunas terbayar.

GEB pun diminta Morgan Stanley untuk memperbarui bilyet giro untuk jangka waktu 1 tahun sehingga GEB memutuskan untuk menerima tawaran Omega Consultan untuk penerbitan Bank Garansi tersebut. Dan pada 8 Juli 2008, Omega mengirimkan surat no 12/Omega/TP/GEB/VII/2008 kepada GEB perihal financial advisor dalam rangka fund raising. Dalam tawaran tersebut, Omega mendapatkan fee dari fund raising sebesar Rp 600 juta yang dibayar 2 tahap masing-masing Rp 400 juta setelah terbitnya mandat dan Rp 200 juta setelah terealisasinya dan diterimanya pencairan dana pertama kali atau penerbitan instrumen surat utang itu.

Terkait penerbitan Bank Garansi 'Bank Mandiri' itu, GEB juga telah menyerahkan sejumlah dokumen penting kepada Onega seperti profil perusahaan, feasibility study, power purchase agreement (PPA). GEB juga menyerahkan dokumen kontrak EPC antara GEB dengan Shanghai Electric tertanggal 5 Maret 2008 kepada Omega guna keperluan pengurusan proses pembiayaan di Bank Mandiri Jakarta sebagaimana tercermin dalam tanda terima.

Dan akhirnya, pada tanggal 27 Agustus 2008, terbitlah Bank Garansi 'Bank Mandiri' yang ditekan oleh Martono selaku Senior Manager dan Yan Pranasurya MBK selaku Department Head. Bank Garansi nomor MBG7912127298508 atas nama PT GEB itu untuk kepentingan Morgan Stanley Bank International Limited senilai US$ 55 Juta.

Selanjutnya, Abdul Djall dari pihak GEB meminta klarifikasi kepada pihak Omega karena Nicholas Koen diketahui menerbitkan bilyet giro palsu. Abdul Djall merasa perlu meminta keterangan dari Omega dikarenakan info seputar kredibilitas Omega. Meski sudah diberi penjelasan oleh pihak Omega, namun Abdul Djall tidak puas dan akhirnya minta nasihat kepada penasihat hukumnya. Selanjutnya, pihak penasihat hukum meminta keterangan melalui nomor telpon dari pihak 'Bank Mandiri' yang ternyata tidak terjawab dan setelah diperiksa oleh penasihat hukum GEB diketahui ternyata nomor tersebut hanyalah sebuah wartel di Gedung menara BDN Thamrin.

Ditelusuri kemudian, ternyata diketahui oleh GEB bahwa Bank Garansi dengan nomor MBG7912127298508 tertanggal 27 Agustus 2008 yang diurus Omega Consultan dan Management itu palsu dan tidak pernah terdaftar di Bank Mandiri. Kasus pemalsuan Bank Garansi ini telah masuk ke pengadilan. Untuk dakwaan terhadap Tony Pribadi, surat dakwaan telah disusun oleh Jaksa Penuntut Umum adalah Satria Irawan pada 11 Februari 2011. Tony telah ditahan sejak 17 Desember 2010.

Dalam surat dakwaan Tony tersebut, juga melibatkan Nicholas Koen, Agus Purwanto, M Amiruddin Halim, Bambang Irawan dan Sulastri. Keempat pihak yang disebut terakhir disebut dalam dakwaan masih DPO. Mereka semua didakwa karena telah memalsukan surat yang menimbulkan kerugian bagi Abdul Djall dan juga GEB.

Sementara terhadap Nicholas Koen, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menyatakannya bersalah karena melakukan tindak pidana pemalsuan surat dengan hukuman 1 tahun penjara. Nicholas Koen sendiri sudah meninggal dunia setelah sebelumnya sempat ditahan.

Di tengah kisruh pemalsuan Bank Garansi tersebut, GEB diketahui mengajukan gugatan kepada Morgan Stanley dan Lee Man Investment ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 29 Juni 2010. GEB mengugat karena merasa telah dipakai sebagai formalitas sebagai pihak yang ikut menandatangani perjanjian utang 'New Facility Agreement' tertanggal 27 Agustus 2008.

Sementara pada tanggal 28 September 2009 Morgan Stanley telah mengajukan gugatan kepada Lee Man Investment Limited dengan mendaftarkan ke Pengadilan Hong Kong untuk membayar pinjaman yang telah jatuh tempo pada tanggal 01 September 2009 sebesar US$ 54.850.000 dengan Bank Garansi palsu tersebut.

Seperti diketahui, tanggal 27 Agustus 2008 telah ditandatangani 'New Facility Agreement' tersenilai US$ 51,7 juta antara Morgan Stanley (MS) sebagai kreditur dengan Lee Man Investment Co Ltd sebagai peminjam dan obligor yang terdiri dari PT General Energy Bali, Tjandra Limanjaya, Geolink Worldwide Ltd, Merryline International Pte Ltd, City Energy Pte Ltd dan PT General Energy Indonesia. Sebagian jaminan keamanan bagi kewajiban peminjam yang tercantum dalam 'New Facility Agreement' maka diterbitkan bank garansi dari 'Bank Mandiri' yang ternyata dipalsukan itu.

Pengacara pengacara Morgan Stanley, Frans Hendra Winarta yang dikonfirmasi mengenai kasus Morgan Stanley dengan GEB itu mengaku saat ini sedang diupayakan perdamaian.

"Mereka sedang mengupayakan perdamaian, semoga dapat tercapai dalam waktu dekat," ujar Frans melalui pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (27/4/2011).

Sementara pengacara GEB, Hotman Paris Hutapea ketika dikonfirmasi lebih jauh mengenai perkembangan kasus tersebut mengaku belum bisa berkomentar banyak.

"Kamu tahu-tahu saja kasus itu, jawaban saya No Comment. Soal perdamaian dan sebagainya, saya bilang no comment karena masih kasus," ujar Hotman Paris Hutapea kepada detikFinance.

Bagian I Kisah Morgan Stanley Tertipu Bank Garansi Palsu 'Bank Mandiri' US$ 55 Juta

Jakarta - Tak hanya melibatkan bank nasional, kisah tipu menipu ternyata juga melanda bank kelas internasional. Salah satunya dialami oleh bank internasional asal Amerika Serikat, Morgan Stanley yang tertipu garansi palsu 'Bank Mandiri' senilai US$ 55 Juta atau sekitar Rp 500 Miliar.

Kisah ini bermula dari penandatanganan 'New Facility Agreement' tertanggal 27 Agustus 2008 senilai US$ 51,7 juta antara Morgan Stanley (MS) sebagai kreditur dengan Lee Man Investment Co Ltd sebagai peminjam dan obligor yang terdiri dari PT General Energy Bali, Tjandra Limanjaya, Geolink Worldwide Ltd, Merryline International Pte Ltd, City Energy Pte Ltd dan PT General Energy Indonesia.

Sebagai jaminan keamanan bagi kewajiban peminjam yang tercantum dalam 'New Facility Agreement' maka diterbitkan bank garansi. Bank Garansi atas permintaan dari PT General Energy Bali ini dikeluarkan oleh 'Bank Mandiri' dengan nomor MBG7912127298508 tertanggal 27 Agustus 2008 senilai US$ 55 juta yang ditujukan bagi Morgan Stanley Bank International Ltd. Bank Garansi tersebut dikeluarkan di bawah perundang-undangan negara bagian New York.

Sebagai konfirmasi atas Bank Garansi tersebut, Divisi Legal 'Bank Mandiri' mengeluarkan surat konfirmasi No. JCCOTH/L/BG/2450808 tertanggal 27 Agustus 2008 yang menyatakan bahwa Martono dan Yan Pranasurya (pihak yang menandatangani Bank Garansi) memiliki wewenang untuk menandatangani bank garansi senilai US$ 55 juta. Surat konfirmasi tersebut dilegalisir oleh notaris publik Drs Atrino Leswara SH.

Bersamaan dengan surat konfirmasi tersebut, 'Bank Mandiri' juga mengeluarkan surat konfirmasi yang menyatakan bahwa jika ada pertanyaan yang perlu diajukan terkait dengan bank garansi tersebut, dapat menghubungi 'Bank Mandiri' di beberapa nomor telepon.

Namun Morgan Stanley tidak melakukan konfirmasi/klarifikasi atas penerbitan Bank Garansi tersebut ke Bank Mandiri. Baru pada tanggal 13 Agustus 2009 Morgan Stanley mengajukan konfirmasi kepada Bank Mandiri Bank Garansi bernomor MBG7912127298508 tanggal 27 Agustus 2008 senilai US$ 55 juta dalam rangka pengajuan tuntutan pembayaran (klaim) Irrevocable Bank Guarantee tersebut kepada Bank Mandiri.

Surat konfirmasi tersebut kemudian dibalas Bank Mandiri dengan bantahan. Bank Mandiri merespons surat konfirmasi Morgan Stanley itu melalui surat tertanggal 14 Agustus 2009 yang ditandatangani oleh Martono dan Parluhutan Siregar yang menyatakan Bank Garansi yang dimaksud Tidak pernah dikeluarkan oleh dan terdaftar di Bank Mandiri, oleh karena itu bank garansi tersebut bukan menjadi tanggung jawab Bank Mandiri. Martono merupakan pihak yang 'dicatut' dalam Bank Garansi dari 'Bank Mandiri' itu.

"Merujuk pada fax Anda (Morgan Stanley) tertanggal 13 Agustus 2009, dengan ini kami nyatakan Bank Garansi itu tidak pernah diterbitkan dan tercatat di PT Bank Mandiri (persero) tbk," demikian surat balasan dari Bank Mandiri yang ditandatangani Regional Credit Operations Jakarta Thamrin, Martono dan Team Leader Parluhutan Siregar tertanggal 14 Agustus 2009 dengan nomor surat TOP.CRO/RCO.JTH/5094/2009.

Dalam surat balasan kepada Morgan Stanley itu juga dinyatakan bahwa karena Bank Garansi itu tidak pernah diterbitkan Bank Mandiri, maka setiap risiko yang berkaitan dengan Bank Garansi tersebut tidak menjadi tanggung jawab Bank Mandiri.

Berdasarkan dokumen Bank Garansi 'Bank Mandiri' dan Surat Bantahan dari Bank Mandiri yang diperoleh detikFinance, tanda tangan Martono yang tercantum dalam bank garansi dan surat konfirmasi bantahan dari Bank Mandiri memang jauh berbeda.

Dokumen Bank Garansi yang diterbitkan 'Bank Mandiri' itu juga banyak kejanggalan, seperti tidak menggunakan kop Bank Mandiri, tidak ada nomor surat dan cap resmi dari Bank Mandiri. Selain itu, Bank Garansi yang bernilai sangat besar itu ternyata hanya diteken oleh seorang Senior Manager yakni Martono. Padahal mestinya Bank Garansi senilai tersebut diteken oleh pejabat yang lebih tinggi seperti direksi.

Bank Mandiri saat diterbitkannya Bank Garansi juga diketahui tidak ada Unit Kerja bernama Jakarta City Credit Operations IV Thamrin. Kertas/warkat yang dipergunakan bukan produk Bank Mandiri, demikian pula kode Nomor Irrevocable Bank Guarantee dan Surat-surat bukan standar Bank Mandiri.

Bagaimana Bank Garansi palsu 'Bank Mandiri' itu bisa sampai ke tangan Morgan Stanley? Nantikan berita berikutnya...