Jumat, 29 Juli 2011

Meski Asing Net Buy, IHSG Tetap Turun 0,36%

INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (29/7) ditutup melemah 15,03 poin atau 0,36% menjadi 4.130,80. Volume perdagangan mencapai 6,1 saham senilai Rp5,7 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 188 saham turun, 89 saham naik dan 67 saham stagnan. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp275,3 miliar dengan pembelian asing mencapai Rp1,9 triliun dan penjualan asing sebesar Rp1,6 triliun.

Untuk indeks JII turun 5,8 poin ke 566,4, indeks ISSI turun 1,2 poin ke 132,4 dan indeks LQ45 turun 4,5 poin ke 728,5. Penguatan sektor perkebunan 3,9 poin ke 2.447,56 dan sektor infrastruktur 2,5 poin ke 781,09 tidak dapat membawa indeks positif.

Indeks terseret penurunan sektor pertambangan hingga 22,3 poin ke 3.363 dan sektor industri dasar turun 26,1 poin ke 1.289,2. IHSG hanya saat dibuka saja di zona positif termasuk level tertinggi yaitu di 4.160,50. Selanjutnya indeks lebih bertahan di zona negatif dengan level terendah di 4.102,82.

Kinerja Positif Emiten Tak Mampu 'Ceriakan' IHSG

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan dengan suram, melemah 15 poin. Kinerja emiten-emiten yang positif tak mampu mengangkat IHSG keluar dari teritori negatif.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis di posisi 8.505 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.500 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menguat tipis 8,101 poin (0,19%) ke level 4.153,928 dan menjadi satu-satunya bursa di regional yang menguat. Krisis utang AS semakin mendekati tenggat waktu namun belum juga ada kesepakatan.

Sayangnya, penguatan ini tak bertahan lama. Setelah menanjak hingga ke posisi tertingginya di level 4.160,498, indeks langsung terkena tekanan jual dan ambruk ke zona merah.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG terpangkas 36,164 poin (0,88%) ke level 4.109,663 akibat aksi ambil untung di saham-saham unggulan. Indeks pun bersiap meninggalkan level 4.100.

Indeks menyentuh posisi terendahnya hari ini di 4.102,823, nyaris kembali bercokol di level 4.000. Sektor industri dasar dan aneka industri menyeret IHSG semakin jatuh ke zona merah.

Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (29/7/2011), IHSG melemah 15,027 poin (0,37%) ke level 4.130,800. Sementara Indeks LQ 45 terpangkas 3,221 poin (0,44%) ke level 729,836.

Kinerja emiten yang positif gagal membawa IHSG kembali ke zona hijau. Padahal, rata-rata emiten tersebut membukukan kinerja yang melebihi ekspektasi.

Derasnya sentimen negatif memang sulit dibendung, terutama soal krisis utang uni Eropa dan AS yang tak kunjung usai. Parlemen AS kini sedang berjuang keras karena tenggat waktu akan segera tiba di 2 Agustus 2011.

Akhirnya, tekanan jual pun terjadi di saham-saham unggulan dan lapis dua. Namun, menjelang penutupan perdagangan, investor mulai berburu saham-saham yang sudah terkena profit taking sehingga laju pelemahan IHSG bisa sedikit ditahan.

Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 274,897 miliar di seluruh pasar meski tekanan jual masih sangat besar.

Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 160.559 kali pada volume 6,519 miliar lembar saham senilai Rp 5,716 triliun. Sebanyak 87 saham naik, 187 saham turun, dan 66 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, hanya bursa saham Singapura yang berhasil menguat tipis. Kekhawatiran atas krisis utang Eropa dan AS masih membayangi para pelaku pasar di regional.

Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia sore hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 7,05 poin (0,26%) ke level 2.701,73.
  • Indeks Hang Seng turun 130,49 poin (0,58%) ke level 22.440,25.
  • Indeks Nikkei 225 terkoreksi 68,32 poin (0,69%) ke level 9.833,03.
  • Indeks Straits Times naik tipis 0,58 poin (0,02%) ke level 3.190,43.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Sarana Menara (TOWR) naik Rp 1.850 ke Rp 12.700, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 750 ke Rp 32.000, Multibreeder (MBAI) naik Rp 500 ke Rp 30.500, dan Indomobil (IMAS) naik Rp 450 ke Rp 12.450.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 5.000 ke Rp 335.000, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.250 ke Rp 70.500, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 850 ke Rp 50.500 dan Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 50.900.

(ang/qom)

Laba TRST Capai Rp120,9 M Terdongkrak Penjualan

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Trias Sentosa Tbk (TRST) pada semester I 2011 meraih laba bersih hingga Rp120,9 miliar dari Rp27 miliar di tahun 2010 semester I.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (29/7). Perseroan mengalami peningkatan penjualan mencapai Rp1,08 triliun dari Rp804,6 miliar di tahun 2010 semester I.

Dengan beban penjualan pokok Rp878,9 miliar maka laba kotor mencapai Rp202,6 miliar dari Rp96,7 miliar di semester I 2010. Dengan beban usaha mencapai Rp51,7 miliar maka laba usaha mencapai Rp150,9 miliar dari Rp46,6 miliar.

Laba sebelum pajak mencapai Rp151,8 miliar dari Rp38,09 miliar. Untuk laba bersih perseroan mencapai Rp120,9 miliar dari Rp27,007 miliar di semester I 2010.

Sedangkan laba bersih per sama sebesar Rp43,1 dari Rp9,6 per lembar. Untuk jumlah aset hanya naik tipis menjadi Rp2,09 triliun dari Rp2,02 triliun.

Laba bersih terkikis, harga saham TLKM naik tipis

Laba bersih terkikis, harga saham TLKM naik tipis
JAKARTA. Kinerja PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) di paruh pertama 2011 terbilang mengecewakan. Laba bersih perusahaan di semester I 2011 turun tipis sebesar 1,5% menjadi Rp 5,94 triliun dari sebelumnya Rp 6,03 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Meski begitu, kinerja TLKM sepertinya tidak berdampak besar atas pergerakan harga sahamnya. Pada pukul 14.52, saham TLKM tercatat naik 0,68% menjadi Rp 7.350.

Data yang dihimpun dari Bloomberg menunjukkan, tiga broker yang teraktif mengempit saham ini adalah Kim Eng Securities senilai Rp 25,44 miliar, Macquarie Capital senilai Rp 25,22 miliar, dan Credit Suisse senilai Rp 18,64 miliar.

Laba bersih naik 11 kali lipat, saham COWL membumbung 35%

JAKARTA. Di saat indeks memerah, saham PT Cowell Development (COWL) siang ini meroket tinggi. Lonjakannya mencapai posisi tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada pukul 14.44, saham COWL melambung hingga 35% ke level Rp 178. Ini posisi paling tinggi sejak 19 Desember 2007 lalu.

Aksi borong saham COWL terkait dengan kinerja perusahaan yang juga mengkilap. Asal tahu saja, laba bersih COWL di semester I 2011 naik 11 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 29,83 miliar.

Berdasarkan data Bloomberg, broker asing yang paling rajin mengoleksi saham ini adalah Phillip Securities senilai Rp 4,06 miliar, eTrading Securities senilai Rp 2,67 miliar, dan Mega Capital senilai Rp 1,83 miliar.


Rugi Bersih Indosiar Capai Rp15,20 Miliar

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Indosiar Visual Karya Mandiri Tbk (IDKM) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp15,20 miliar pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya laba sebesar Rp23,94 miliar.

Demikian seperti dikutip dari keterangan yang diterbitkan Jumat (29/7). Perseroan mengalami penurunan pendapatan dari Rp447.56 miliar pada semester pertama 2010 menjadi Rp358,14 miliar pada semester pertama 2011.

Pada pos beban usaha program dan penyiaran, perseroan mengalami peningkatan dari Rp189 miliar pada semester pertama 2010 menjadi Rp252,41 miliar pada semester pertama 2011. Laba kotor perseroan turun dari Rp257,94 miliar pada semester pertama 2010 menjadi Rp126,72 miliar pada semester pertama 2011.

Laba usaha perseroan turun dari Rp142 miliar pada semester pertama 2010 menjadi Rp22,33 miliar pada semester pertama 2011. Jumlah kewajiban perseroan naik dari Rp652,89 miliar pada Desember 2010 menjadi Rp748,48 miliar pada Juni 2011.

Aset perseroan naik dari Rp961 miliar pada Desember 2010 menjadi Rp1,94 triliun pada Juni 2011. Kas perseroan dari Rp30,85 miliar pada Desember 2010 menjadi Rp14,97 miliar pada Juni 2011. [hid]

Pilihan Saham di Tengah Koreksi Indeks

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Koreksi masih melanda bursa domestik akhir pekan ini. Namun, investor bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengambil posisi pada saham-saham yang sudah terkoreksi dalam. Apa pilihannya?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan Jumat (29/7), ditutup melemah 36,16 poin (0,87%) ke level 4.109,663.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya menyarankan investor untuk stand by dan ambil posisi pada saham-saham yang sudah terkoreksi dalam. Menurutnya, koreksi IHSG saat ini, memang sebaiknya digunakan investor untuk merealisasikan keuntungan, terutama untuk saham-saham uang sudah memberikan gain.

Namun, investor yang belum mengambil posisi, bisa membeli di harga bawah, “Tapi, akumulasi itu harus didasarkan pada positifnya laporan keuangan,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Saham-saham yang menjadi pilihannya adalah PT Citra Marga Nusaphala (CMNP) yang akan melakukan right issue pre-emptive atau placement di level Rp1.560, PT AKR Corporindo (AKRA) yang akan membagikan dividen Rp20 pada 24 Agustus dan Price to Earnings Ratio (PER) yang sangat murah di level 2,95 kali. “Ini saham termurah dan akan membagikan dividen,” tutur Willy.

PT Bakrie and Brothers (BNBR) juga harus diperhatikan karena laporan keuangannya diekspektasikan positif sehingga bakal memperlancar agenda kuasi reorganisasinya. Apalagi, laporan keuangan anak usahanya seperti ELTY mencatatkan kenaikan laba.

Lalu, PT Borneo Lumbung Energi (BORN) yang laba bersihnya naik 400% pada kuartal II/2011, PT International Nickel Indonesia (INCO) yang defensif dalam situasi market yang panik dan PT Telkom (TLKM) yang mengagendakan program buy back saham untuk jangka 6 bulan atau 1 tahun. “Saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut,” imbuhnya.

Sedangkan analis HD Capital Yuganur Wijanarko menyarankan saham pembuat kosmetik Martina Berto (MBTO).Menurutnya, momentum lebaran biasanya diwarnai peforma yang cukup baik untuk saham sektor consumer goods. Pelaku pasar mulai memfaktorkan kinerja laporan keuangan untuk semester pertama 2011 akan terus belangsung sepanjang tahun,didukung kuatnya daya beli masyarakat.“Rekomendasi beli dengan target harga Rp600,” ujarnya.

Saham lain pilihannya adalah Astra International (ASII) dengan target hargaRp73.500.Aliran dana asing diperkirakan akan berlangsung di saham dengan kapitalisasi terbesar ini, untuk menjadikannya inti dan panutan untuk memenuhi permintaan konsumen dan kredit domestik. “Rekomendasi beli ASII dengan target harga bisa mencapai Rp73.500,” ucapnya. [ast]

Kuartal kedua tahun ini, ADRO pecahkan rekor kinerja produksi

Kuartal kedua tahun ini, ADRO pecahkan rekor kinerja produksi
JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memecahkan rekor kinerja produksi batubara dan volume penjualan, serta pemindahan lapisan penutup di kuartal kedua 2011. Pada kuartal kedua 2011 produksi batubara meningkat 19% menjadi 12,2 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Adapun pemindahan lapisan penutup juga meningkat 30% dari kuartal kedua 2010 menjadi 75,4 juta bcm. Pencapaian ini ditunjang oleh penggunaan alat berat yang baru dan lebih besar serta kinerja para kontraktor yang baik.

Cemerlangnya kinerja operasional perseroan mendorong pula peningkatan volume penjualan sebesar 27% menjadi 13,11 juta ton pada kuartal kedua 2011. Menguatnya permintaan dari India, China, Korea Selatan, serta pasar dalam negeri, ditambah kontrak baru dengan Thailand juga memicu peningkatan di kuartal kedua tahun ini.

Utang AS Picu Bursa Eropa Diprediksi Melemah

Headline
INILAH.COM, London - Bursa saham Eropa diprediksi melemah pada perdagangan Jumat (29/7). Pasar merespon negatif penolakan Partai Republik terhadap usulan anggaran yang dilakukan pemimpin Kongres.

Dolar melemah tipis di perdagangan Asia terhadap euro menjadi EUR 1,4272. Pelemahan ini karena pasar khawatir meningkatnya biaya kredit bagi pemerintah Italia stelah lelang mengecewakan pada Kamis kemarin.

Sementara lembaga pemeringkat Moody's mengumumkan sedang melakukan kajian terhadap peringkat kredit Spanyol. Peringkat ini berpotensi mengalami turun kelas. Namun pasar akan diramaikan laporan kinerja perusahaan seperti Total, Anglo American, BSkyB, Vodafone.

Sementara bursa Asia melemah seperti indeks Hang Seng turun 0,6% ke 22.416, indeks Nikkei turun 0,6% ke 9.833, indeks Shanghai turn 0,3% ke 2.700, indeks ASX turun 0,8% ke 4.424.

Kian tertekan, saham GIAA alami penurunan terbesar dalam lima bulan terakhir

Kian tertekan, saham GIAA alami penurunan terbesar dalam lima bulan terakhir
JAKARTA. Pergerakan saham Garuda Indonesia (GIAA) semakin tertekan di sesi II. Pada pukul 14.36, saham GIAA tercatat anjlok 3,85% menjadi Rp 500. Ini merupakan penurunan paling besar sejak lima bulan terakhir atau sejak 21 Febuari lalu.

Investor sepertinya memutuskan untuk melepas saham GIAA setelah maskapai ini merilis kinerjanya di semester I 2011. Dalam laporan keuangannya, maskapai nasional ini mencatat kerugian bersih sekitar Rp 185 miliar.

Kinerja Garuda ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan semester pertama 2010 lalu. Ketika itu, perusahaan penerbangan yang baru dilanda aksi mogok para pilot ini mencetak laba bersih sekitar Rp 60,61 miliar. Ini artinya, laba bersih Garuda anjlok sebesar 205,2%.

Meski catatkan kenaikan laba bersih, aksi jual melanda saham GGRM

Meski catatkan kenaikan laba bersih, aksi jual melanda saham GGRM
JAKARTA. Kinerja PT Gudang Garam (GGRM) terbilang memuaskan di sepanjang sesi I 2011. Hal itu terlihat dari pencapaian laba bersih yang naik 28,651% menjadi Rp 2,29 triliun. Sekadar informasi, pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih GGRM hanya mencapai 1,78%.

Meski membukukan kenaikan, namun pergerakan harga saham produsen rokok ini malah sebaliknya. Pada pukul 14.31, saham GGRM melorot 1,07% menjadi Rp 50.950.

Data Bloomberg menunjukkan, sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini adalah Credit Suisse senilai Rp 7,29 miliar, Bahana Securities senilai Rp 6,37 miliar, dan Danareksa Sekuritas senilai Rp 2,74 miliar.

Yen perkasa atas dollar, bursa Asia melempem di akhir pekan

Yen perkasa atas dollar, bursa Asia melempem di akhir pekan
TOKYO. Bursa Asia melempem di akhir pekan. Kemerosotan terjadi setelah yen menyentuh level tertinggi dalam empat bulan atas dollar. Selain itu, pemerintah dan Senat AS memutuskan untuk menunda voting terkait batasan utang AS.

Pada pukul 15.17 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific turun 0,8%. Penurunan hari ini memperbesar jumlah kemerosotan indeks acuan di kawasan regional menjadi 1,9% di sepanjang pekan ini. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Stock Average turun 0,7%, indeks Kospi Korea Selatan turun 1,1%, dan indeks Taeix turun 1,4%.

Saham-saham yang pergerakannya turut mempengaruhi bursa Asia antara lain: Nintendo yang turun 21%, Sony turun 3,3%, TDK Corp turun 5,6%, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co turun 1,4%.

"Sangat tidak bisa dipercaya. Para pemimpin AS itu tidak hanya bermain-main dengan kondisi pasar finansial melainkan juga tugas mereka sebagai penentu kebijakan. Saya rasa mereka akan segera mencapai kata sepakat untuk menghindari default. Namun, resiko mereka tidak menemukan kata sepakan kian meningkat," jelas Shane Oliver, head of investment strategy AMP Capital Investor Ltd.

Bahas Buyback di SingTel, Telkom Dekati KBUMN

INILAH.COM, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih membicarakan rencana buy back saham Telkom di Singtel.

“Buy back sedang dibicarakan dengan Singtel. Itukan barang besar, jadi tidak bisa kaya beli kacang. Yang jelas saat ini masih dalam tahap pembicaraan,” tukas Deputi Bidang Industri Strategis dan Manufaktur Kementerian BUMN, Irnanda Laksanawan di kantornya Jakarta, Jum’at (29/7).

Irnanda membenarkan telah terjadi pertemuan antara direksi Telkom dengan pemerintah. Namun, pertemuan tersebut menurutnya masih dalam pembicaraan, belum mengarah ke pembagian saham.

“Pertemuan itu hanya baru pembicaraan awal saja. Namun begitu, kita amanatkan terlebih dahulu kepada Telkom untuk melakukan RUPS dulu,” ujar dia.

RUPS itu sambung dia juga bermacam-macam ada RUPS RKAP, audit dan lain-lain. “Itu masih dalam tahap pembicaraan, belum ada ke share swap,” pungkas dia. [hid]

BRI Optimis Targetkan Laba Rp14 T di 2011

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Perolehan laba BRI pada semester I-2011 yang mencapai Rp6,79 triliun meyakinkan perseroan untuk dapat meraup laba Rp14 triliun akhir 2011.

"Memang kalau kita lihat pada saat ini kurang lebih (laba) Rp6,7 triliun. Kita kira-kira itu karena laba kita ini dari bulan per bulan cukup stabil," ujar Direktur Keuangan dan Internasional BRI Ahmad Baiquni di Jakarta, Jumat (29/7).

"Kita bisa memproyeksikan plus minusnya kurang lebih (laba) sekitar Rp14 triliun," tandasnya. Ia menambahkan, pertumbuhan laba tersebut sekitar 15%-17% dibandingkan tahun lalu.

Seperti diketahui, BRI kantongi laba setelah taksiran pajak sebesar Rp6,79 triliun per Juni 2011 atau naik 57,14% dibanding periode yang sama tahun lalu. Selain dari ekspansi kredit yang berkualitas, pertumbuhan laba juga didukung oleh petumbuhan fee based income yang mencapai 30% year on year. [hid]

AS Default, Dow Jones dan IHSG Rontok 500 Poin

Headline
INILAH.COM, Jakarta – AS diperkirakan tidak akan mencapai kata sepakat soal kenaikan batas atas utang AS hingga 2 Agustus sehingga potensial gagal bayar (default). Indeks Dow Jones dan IHSG pun bakal rontok 500 poin.

Pengamat pasar modal Irwan Ariston Napitupulu menilai, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) untuk hari kedua ini sangat wajar di tengah koreksi indeks Dow Jones. Apalagi, indeks sudah menguat sejak pekan ketiga Juni 2011 dari level 3.700-an hingga mencapai level tertingginya 4.177 pada Rabu (27/7).

Dia menegaskan, tren IHSG masih bullish meskipun saat ini rawan profit taking. Jika ditarik garis trend line-nya, level 4.100 merupakan minor support . Sedangkan level support kuaatnya di level 3.950-3.940. “Jika level ini ditembus ke bawah, sudah menandakan indeks bearish dan tren penguatannya terpatahkan,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (29/7).

Jika tren bullish-nya terpatahkan, lanjut Irwan, akan terjadi koreksi yang lebih dalam. Tapi, untuk saat ini kecil kemungkinan untuk menembus 3.940 ke bawah. “Jika ternyata tembus, support berikutnya di level 3.704 yang merupakan angka sebelum rally panjang pada pekan ketiga Juni,” ujarnya.

Angka itu akan menjadi kenyataan jika indeks Dow Jones turun 400-500 poin jika AS gagal bayar akibat alotnya negosiasi di Kongres soal kenaikan batas atas utang AS. “Jika AS didown grade, perekonomian AS akan terganggu sehingga biaya-biaya ekonomi naik dan semakin membebani perekonomiannya,” ungkap Irwan.

Menurut Irwan, berbagai analis sudah memperkirakan, AS tidak akan mencapai kesepakatan mengenaikan kenaikan batas atas utang AS hingga 2 Agustus 2011. Kesepakatan itu menurunya baru akan dicapai setelah 2 Agustus. Sebab, bargaining anggota Kongres AS sangat kuat. “Setelah itu, ekonomi AS akan goyang dan dua pekan kemudian baru ada deal antara pemerintah Obama dengan Kongres sekitar 10 Agustus,” imbuhnya.

Pada sesi pertama perdagangan Jumat (29/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36,16 poin (0,87%) ke level 4.109,663. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 yang turun 7,31 poin (1%) ke angka 725,751.

Ditopang bisnis otomotif, laba bersih TURI naik 17%

JAKARTA. Meskipun kontribusi bisnis pembiayaan dan rental turun, namun PT Tunas Ridean Tbk (TURI) mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 17% menjadi Rp 4,056 triliun pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode serupa tahun lalu. Sementara itu, laba bersih tumbuh 8% menjadi Rp162 miliar dibandingkan semester I 2010.

Laba bersih TURI dari bisnis otomotif naik 16% menjadi Rp 140,2 miliar seiring meningkatnya permintaan konsumen dan tersedianya suku bunga menarik dari bisnis pembiayaan. Perseroan mencatat pasar mobil dan motor tumbuh 13% menjadi 418.000 unit dan 4,1 juta unit. Adapun penjualan mobil TURI naik 15% menjadi 18.800 unit sementara penjualan motor naik 28% menjadi 93.600 unit.

Di sisi lain, laba bersih bisnis rental turun 47% menjadi Rp 5,7 miliar. Hal ini disebebkan dalam laba bersih tahun lalu terdapat keuntungan atas penjualan kendaraan sewa dari pemutusan kontrak yang lebih awal. Kendati demikian, portofolio jangka panjang divisi rental tumbuh 12% menjadi 3.800 unit dibandingkan semester pertama 2010.

Perusahaan afiliasi yang 49% sahamnya dimiliki TURI yakni Mandiri Tunas Finance (MTF) juga turun kontribusinya pada semester pertama tahun ini. Sumbangan laba bersih MTF semester I 2011 turun 12% menjadi Rp 16,1 miliar dibandingkan periode serupa tahun lalu. Faktor pemicunya adalah kenaikan kerugian dan penyisihan atas portofolio pembiayaan konsumen. Namun demikian, MTF mampu membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 3,8 triliun atau naik sebesar 121% dibandingkan semester satu tahun lalu.

"Berkembangnya permintaan konsumen akan menunjang penjualan otomotif dan membantu menutupi penurunan di bidang pembiayaan dan rental," ungkap Direktur Utama TURI Rico Setiawan, Jumat (29/7).

Analis: Tak perlu cemas, penurunan indeks hari ini akibat profit taking

Analis: Tak perlu cemas, penurunan indeks hari ini akibat profit taking
JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I ini merosot cukup dalam. Pada pukul 12.00, indeks tercatat turun 0,87%.

Menurut Managing Research Indosurya Asset Management, koreksi yang terjadi pada indeks di sesi I terbilang wajar. Pasalnya, "Indeks kita sudah tembus rekor beberapa kali di atas level 4.100. Itu pun dicapai dalam waktu singkat. Kalau ada penurunan, itu merupakan sesuatu yang sangat wajar," jelasnya.

Dia lantas menjelaskan, jika kita melihat dari posisi indeks sesuai perhitungan teknikal, level support indeks hari ini akan berada di kisaran 4.096-4.121. "Batas atas sudah terlampaui. Namun, jika level 4.096 tidak tembus pada akhir perdagangan nanti, indeks berpotensi rebound pada pekan depan," paparnya.

Hal senada diungkapkan Jimmy Dimas Wahyu, pengamat pasar modal. Menurutnya, sentimen yang membuat indeks loyo pada hari ini adalah sentimen profit taking. "Soalnya indeks sudah terlampau tinggi dan mendekati level 4.200," jelasnya. Jimmy menambahkan, akan ada koreksi sehat sebelum indeks kembali bergerak positif.

Lakukan profit taking

Reza menyarankan, bagi investor yang sudah memiliki saham dan perhitungannya sudah menembus target, sebaiknya lakukan profit taking. "Nah, jika melorot seperti sekarang, investor bisa masuk kembali atau istilahnya buy on weakness," papar Reza.

Serap dana obligasi, APLN berharap tuntaskan akuisisi tiga proyek di Jakarta

Serap dana obligasi, APLN berharap tuntaskan akuisisi tiga proyek di Jakarta
JAKARTA. Segera setelah mengantongi dana hasil penawaran obligasi I 2011, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) berharap dapat menuntaskan target tiga akuisisi proyek di tahun ini.

Ketiga proyek tersebut tersebar di kawasan Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat. Total luasan lahan yang dibidik dari ketiga lokasi ini berkisar 15-30 hektare (ha).

"Satu proyek di Jakarta Utara sedang dalam negosiasi. Bangunannya sudah jadi dan sudah beroperasi. Kalau yang di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan masih dijajaki. Tunggu dapat dana dari obligasi baru bisa finalisasi," ungkap Wakil Presiden Direktur APLN Indra Wijaya, Jumat (29/7).

Sebagaimana diketahui, melalui penerbitan obligasi senilai Rp 800 miliar, APLN berencana mengakuisisi perusahaan-perusahaan properti yang memiliki proyek di Jakarta, Bali, maupun Bogor.

Untuk lahan di Bali, APLN mengincar lahan seluas 2,5-10 ha. Perseroan berniat membangun apartemen ataupun hotel di lahan tersebut. Sementara itu, di Bogor, APLN merencanakan mengambil proyek perumahan seluas 80 ha.

APLN akan Akuisisi Tiga Proyek

Headline
INILAH.COM, Jakarta – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) akan mengakuisisi tiga proyek berupa bangunan dan lahan di Jakarta Barat, Utara dan Selatan pada semester kedua 2011.

“Kita sedang melakukan negoisasi untuk satu proyek di Jakarta Utara. Selain itu, kita sedang finalisasi untuk proyek di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, “ ujar Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land Tbk, Indra Widjaja, Jumat (29/7) seusai paparan publik penawaran umum obligasi I Tahun 2011 PT Agung Podomoro Land Tbk.

Lebih lanjut ia mengatakan, luas lahan proyek yang diakusisi rata-rata masing-masing seluas 5 hektar hingga 10 hektar. Untuk proyek bangunan yang di Jakarta Utara, Indra mengatakan, perseroan menginginkan kepemilikan sebesar 51%.

Dana untuk akuisisi ketiga proyek ini berasal dari penerbitan obligasi senilai Rp800 miliar. “Kita harapkan dapat memfinalisasi akuisisi tersebut pada akhir tahun,” tutur Indra.

Selain itu, perseroan juga mengincar sebagai operator hotel di Bali. Investasi tambahan yang dianggarkan sebesar Rp500 miliar. Dana investasi ini berasal dari penjualan. Perseroan juga akan mengembangkan proyek berupa residential di Bogor. Luas lahan sekitar 80 hektar.

“Untuk di Bogor masih agak jauh karena konsep butuh waktu panjang. Akusisi di Bogor bisa tahun ini dan tahun depan,” tambah Indra.

Sebelumnya, perseroan menerbitkan obligasi I tahun 2011 senilai Rp800 miliar. Dana penerbitan obligasi ini untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang memiliki proyek dalam industri properti yang berlokasi di Bali, Bogor dan Jakarta yang dapat berupa apartemen, perhotelan, perkantoran, pertokoan, pusat perbelanjaan, pusat rekreasi dan perumahan. [hid]

Meski Terkoreksi, ASII Masih Menyimpan Potensi

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Kinerja produsen dan distributor otomotif terbesar di Indonesia, PT Astra International (ASII) semester pertama 2011, masih positif. Tak heran bila analis memprediksikan adanya pembalikan arah di tengah koreksi siang ini.

Pada perdagangan Jumat (29/7) sesi pertama, Astra International (ASII) berada di level Rp70.250 per lembarnya, atau turun Rp1.500 (2,09%). Emiten ini cukup membebani pergerakan bursa, dengan nilai transaksi sebesar Rp145 miliar, atau 5,5% dari total transaksi siang ini.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, emiten otomotif ASII terkoreksi karena deraan aksi profit taking investor. Namun, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan aksi beli di harga rendah. “Ada potensi, ASII akan kembali menguat pada pertengahan perdagangan, sehingga investor bisa buy on weakness, ” ujarnya.

Senada dengan Yuganur Wijanarko, analis pasar modal dari HD Capital yang melihat saham ASII masih menarik. Menurutnya, aliran dana asing yang masih deras, menjadikan emiten berkapitalisasi terbesar di pasar ini, sebagai inti dan panutan untuk memenuhi permintaan konsumen dan kredit domestik. “Rekomendasi beli ASII dengan target harga bisa mencapai Rp73.500,” ucapnya.

Yuga menilai, ASII memiliki fundamental yang sangat bagus, didukung pertumbuhan industri otomotif serta kinerja anak-anak usahanya di sektor lain. Terlihat dari solidnya performa perseroan, meski sempat mengalami kendala ketersediaan pasokan akibat bencana di Jepang. “Suku bunga yang masih terkendali juga memicu daya beli pada otomotif,” katanya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang kondusif juga menopang kinerja ASII. Ini ditambanh kenaikan harga komoditas, yang berimbas positif pada kinerja anak usaha yang bergerak di sektor tambang dan perkebunan.

ASII pada semester pertama 2011 mencetak pertumbuhan laba bersih dan pendapatan, masing-masing sebesar 33,4% YoY dan 24% YoY, menjadi Rp76,26 triliun dan Rp8,6 triliun. Pertumbuhan laba bersih ditopang oleh kenaikan harga komoditas, ketersediaan pembiayaan konsumen dan inflasi yang stabil. Menurut manajemen, meski terjadi bencana di Jepang, perseroan yakin tidak akan berdampak signifikan pada pencapaian akhir 2011 karena prospek permintaan tetap tinggi.

Selama enam bulan pertama ini, divisi otomotif mengkontribusikan 49,89% dari total pendapatan, bisnis alat berat dan pertambangan batubara menyumbang 33,58%, bisnis jasa keuangan dan agribisnis masing-masing menyumbang 7,3% dan 6,94% terhadap total pendapatan. Sementara, divisi usaha infrastruktur dan logistic dan teknologi informasi mengkontribusikan 3,12% dan 0,84% kepada total pendapatan.

Analis dari Samuel Sekuritas mengatakan, pendapatan dan laba bersih ini sedikit di atas estimasi yang mencerminkan 55% dari proyeksi 2011, serta melampui estimasi pasar sebesar 52% untuk 2011. “Rekomendasi hold untuk ASII,” ujarnya. [ast]