Selasa, 21 Juni 2011

Benakat Janji Tahun Depan Bisa Bagi Dividen

Gb
Jakarta - PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) baru bisa membagikan dividen minimal pada 2012, saat perseroan telah membukukan laba. Untuk mengejar laba, BIPI terus melakukan efisiensi dan perbaikan fasilitas produksi, seperti pompa-pompa injeksi.

Perseroan tahun lalu mencatat rugi bersih Rp 96 miliar. Rugi BIPI karena masih tingginya beban usaha selama mereka produksi. Pendapatan yang meningkat 46,6% dari 2009 Rp 231,9 miliar, tidak mampu menekan biaya operasi yang terus membengkak.

"Iya tentu setelah kita menghasilkan laba. (Di 2012) insyaallah," ungkap Presiden Direktur BIPI, Suluhudin Noor usai RUPS Tahunan di Ritz Calton Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (21/6/2011).

Sepanjang tahun lalu, perseroan mencatat produksi minyak mentah 684 ribu barel, meningkat 33,08% dari periode sebelumnya. Produksi dihasilkan oleh anak usaha BIPI, PT Benakat Barat Petroleum, dengan rata-rata produksi minyak mentah per hari, 22 ribu barel.

Tahun 2011, perseroan akan mengoptimalisasi produksi minyak pada level 25-26 ribu barel per hari. Dengan adanya kenaikan produksi tentu akan berdampak positif pada pendapatan BIPI.

"Kita optimalkan pada lapangan yang sama. Kita masih lakukan studi 3D seismic dan akan selesai akhir tahun ini," paparnya.

Namun hal ini belum tentu berdampak pada perbaikan laba usaha yang masih mencatat saldo negatif. Demi mengejar target positif laba, selain kenaikan produksi minyak, perseroan akan memperbaiki fasilitas produksi agar tidak lagi terjadi pembengkakan di beban usaha.

"Tentu lakukan perbaikan pada pompa-pompa injeksi dan fasilitas produksi lain. Sumur itu kalau sekali produksi pasti akan decline (penurunan produksi) sekitar 15-25%, jika kita tidak melakukan sesuatu. Kalau kita enggak kerja pasti turun," terangnya.

(wep/ang)

Tingkatkan Efisiensi, BIPI Incar Catatkan Laba

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) mengharapkan dapat mencatatkan untung dengan meningkatkan efisien pada 2011.

Direktur Utama PT Benakat Petroleum Energy Tbk, M. Suluhuddin Noor mengatakan, perseroan akan melakukan perbaikan peralatan dengan peremajaan fasilitas untuk meningkatkan fasilitas produksi.

Selain itu, perseroan juga akan mengoptimalkan sumur yang ada, reaktivasi sumur-sumur lama yang masih tertutup. "Kita terus berusaha melakukan pemboran. Kita sedang tready sismin selesai akhir tahun, baru kita ngebor," tutur Noor, Selasa (21/6).

Sementara itu, Direktur PT Benakat Petroleum Energy Tbk Firlie Ganundito mengatakan, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar US$25 juta pada 2011. Dana belanja modal akan digunakan kebanyakan untuk investasi alat berat. Dana belanja modal akan didapatkan dari pinjaman dan kas. "Dana belanja modal mix yang berasal dari pinjaman, yang telah digunakan sekitar 30%," ujar Firlie.

Firlie menambahkan, produksi minyak diperkirakan 2.200 bpod pada semester pertama 2011. Produksi minyak ini berasal dari PT Benakat Barat Petroleum. Perseroan memiliki lapangan minyak di area benakat Barat, Sumatera Selatan seluas 73km2. Lapangan minyak ini diperkirakan memiliki estimasi cadangan minyak sebanyak 30,8 mmstb.

Perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp96,37 miliar dan pendapatan sebesar Rp231,90 miliar pada 2010. [hid]

Inilah Saham Properti Pilihan Analis

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Inflasi yang terkendali dan bertahannya suku bunga acuan BI rate, diyakini menjadi katalis yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat, terutama pada seksot properti. Saham apa saja pilihan analis?

Analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah optimistis bursa akan menguat hari ini, didukung saham-saham yang berfundamental kuat dan sudah mengalami tekanan jual dalam. “Salah satunya adalah saham sektor properti,”katanya kepada INILAH.COM.

Inflasi Mei yang cukup rendah, hanya 0,12%, dengan inflasi year on year (yoy) masih di bawah 6%, membawa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI rate di level 6,75%. Terkontrolnya tekanan inflasi, maka daya beli tidak tergerus. Karena itu, porsi belanja akan bertambah dan hal ini tentu berdampak positif bagi perekonomian.

Cece mengatakan, terkendalinya inflasi berimbas positif bagi saham-saham terkait kredit, seperti properti selain perbankan. Dengan ekspektasi suku bunga kredit Kepemilikan Rumah (KPR) turun, orang akan terpicu mengambil kredit di sektor ini.

Para developer properti pun bisa meminjam dana ke bank dengan bunga rendah, sehingga ongkos operational akan lebih rendah. “Secara fundamental, ini sangat menguntungkan emiten properti,” timpal Cece.

Senada dengan Maxi Liestyaputra, analis dari BNI Securities. Menurutnya, tingkat inflasi terkendali akan mendorong permintaan di sektor properti, terutama di jenis produk perumahan dan ritel. Sebab inflasi yang terkontrol menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat. “Bank juga cenderung menahan tingkat suku bunga kredit termasuk properti,” ujarnya dihubungi terpisah.

Kendati demikian, ia menilai, faktor inflasi tidak secara signifikan mempengaruhi pergerakan harga saham properti. Pasalnya, perusahaan properti di bursa domestik didominasi pengembang besar yang memasarkan produk properti di segmen menengah atas. “Tingkat suku bunga tidak terlalu dominan mempengaruhi penjualan, karena daya beli konsumen di segmen ini cukup tahan terhadap perubahan inflasi dan suku bunga,” paparnya.

Di tengah situasi ini, Maxi merekomendasikan saham-saham yang memiliki kinerja masih bagus. Pilihan untuk properti adalah saham lapis dua, seperti Alam Sutera Realty (ASRI) dan Bumi Serpong Damai (BSDE),”Investor bisa cermati saham-saham ini karena masih undervalued,” katanya.

Di sisi lain, Willy Sanjaya, analis dari Lautandhana Securities merekomendasikan sektor properti, karena pada kuartal tiga dan empat, para pengembang biasanya melakukan ekspnasi penjualan. Saham-saham pilihannya adalah BSDE, Bakrieland (ELTY), Sentul City (BKSL), dan Dharmala Intiland (DILD). “Ada peluang penguatan pada sektor ini,” ucapnya. [ast]

Inilah tiga saham bluechips dengan performa terbaik di sesi I

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif dengan penambahan 31,10 poin di sesi I. Aksi borong broker atas saham-saham bluechips turut menjadi pemicu melonjaknya indeks.

- PT Bayan Resources (BYAN)
Saham BYAN ditutup dengan kenaikan 7,11% menjadi Rp 22.600 di sesi I. Sejumlah broker yang memburu saham ini adalah Mandiri Sekuritas senilai Rp 957,2 juta, Phillip Securities senilai Rp 463,8 juta, dan eTrading Securities senilai Rp 333,83 juta.

- PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
Saham BBRI ditutup dengan kenaikan 1,60% menjadi Rp 6.350 di sesi I. Sejumlah broker yang memburu saham ini adalah Trimegah Securities senilai Rp 14,45 miliar, RBS Asia Securities senilai Rp 5,02 miliar, dan CIMB Securities senilai Rp 3,03 miliar.

- PT Bank Central Asia (BBCA)
Saham BBCA ditutup dengan kenaikan 1,38% menjadi Rp 7.350 di sesi I. Sejumlah broker yang memburu saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 16,06 miliar, CIMB Securities senilai Rp 3,03 miliar, dan Kim Eng Securities senilai Rp 2,02 miliar.

Goodyear Indonesia Akan Bagi Dividen Rp250/ Saham

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) yang bergerak dalam bidang otomotif akan membagikan dividen sebesar Rp250 persaham.

Menurut Coorporate Secretari Goodyear Indonesia Tbk Agus Setia Negara, dividen akan diberikan pada awal agustus 2011 kepada para pemegang saham. "Tahun ini akan diberikan dividen sebesar Rp250 persaham, yang akan diberikan kepada pemegang saham," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (21/6).

Agus menjelaskan, Rp250 persaham deviden yang diberikan tersebut, dihitung dari laba bersih tahun 2010 sebesar Rp75 miliar dan juga dari cadangan dari tahun kemarin sebesar US$ 50 juta. "Sisanya laba akan ditahan oleh perusahaan untuk internal perusahaan," jelasnya.

Agus menambahkan, pada tahun ini capex perusahaan hanya digunakan untuk perbaikan (maintenance alat-alat). [cms]

Saham Tambang Dukung IHSG Siang Menguat

INILAH.COM, Jakarta – IHSG sesi pertama berhasil menguat, didukung saham sektor tambang. Hal ini menyusul kembali naiknya harga minyak mentah ke US$93,48 per barel.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sesi pertama, Selasa (21/6), ditutup naik 31,102 poin (0,83%) ke level 3.760,224. Demikian pula indeks saham unggulan LQ 45 yang naik 5,654 poin (0,85%) ke level 665,968.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi yang tercatat mencapai 2,024 miliar lembar saham, senilai Rp1,281 triliun dan frekuensi 47.277 kali. Sebanyak 157 saham menguat, sedangkan 54 saham melemah dan 89 saham stagnan.

Penguatan indeks sesi pertama, juga diwarnai aksi beli asing yang mencatatkan transaksi nilai beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp112,4 miliar. Rinciannya, transaksi beli mencapai Rp440,3 miliar sedangkan transaksi jual sebesar Rp327,9 miliar.

Mayoritas sektor saham mendukung penguatan indeks. Sektor pertambangan memimpin kenaikan 2,02%, disusul sektor konsumsi 1,02%, keuangan 0,91%, perdagangan 0,74%, manufaktur 0,71%, properti 0,59%, industri dasar 0,54%, aneka industri 0,46% dan perkebunan 0,23%. Hanya sektor infrastruktur yang melemah 0,01%.

Beberapa emiten yang menguat antara lain Bayan (BYAN) naik Rp 1.500 ke Rp 22.600, BFI Finance (BFIN) naik Rp 300 ke Rp 5.000, Indospring (INDS) naik Rp 300 ke Rp 3.825, dan Metro Realty (MTSM) naik Rp 290 ke Rp 1.790.

Sementara emiten-emiten lain yang melemah antara lain Bank Mayapada (MAYA) turun Rp 150 ke Rp 750, Axiata (EXCL) turun Rp 100 ke Rp 6.100, Multi Prima (LPIN) turun Rp 100 ke Rp 3.200, dan Pioneerindo (PTSP) turun Rp 90 ke Rp 510. [ast]

Sesi I Perdagangan Sepi, IHSG Naik 31 Poin Berkat Saham Tambang

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mencetak 31 poin di tengah perdagangan yang tidak terlalu ramai. Investor masih berhati-hati untuk memasukkan dananya ke pasar modal dengan segala ketidakpastian di ekonomi global.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menguat 14,521 poin (0,38%) ke level 3.743,643 atas bantuan bursa-bursa Asia yang mulai pulih setelah bursa Wall Street naik tipis.

Pergerakan IHSG sangat mulus di zona hijau sejak dibukanya perdagangan, dan memuncak hingga ke level 3.759,898. Aksi beli selektif yang dilakukan investor mendorong laju IHSG.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Selasa (21/6/2011), IHSG menanjak 31,102 poin (0,83%) ke level 3.760,224. Sementara Indeks LQ 45 bertambah 5,654 poin (0,85%) ke level 665,968.

Saham-saham tambang menjadi yang paling banyak dikoleksi para penanam modal pada perdagangan hari ini. Indeks sektor tambang pun melaju lebih dari 2%.

Seluruh sektor lainnya juga kompak berjalan di zona hijau, kecuali sektor infrastruktur yang masih terkena koreksi tipis akibat aksi profit taking.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 47.277 kali pada volume 2,022 miliar lembar saham senilai Rp 1,327 triliun. Sebanyak 157 saham naik, 54 saham turun, dan 89 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia juga masih mampu mempertahankan penguatannya meski sudah sedikit melambat ketimbang pagi tadi. Pasar masih menunggu kepastian menjelang agenda penting Yunani dan The Fed.

Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di regional hingga siang ini:
  • Indeks Komposit Shanghai naik tipis 5,73 poin (0,22%) ke level 2.626,98.
  • Indeks Hang Seng menguat tipis 68,72 poin (0,32%) ke level 21.668,23.
  • Indeks Nikkei 225 naik 37,14 poin (0,40%) ke level 9.391,46.
  • Indeks Straits Times menguat 18,90 poin (0,63%) ke level 3.032,50.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Bayan (BYAN) naik Rp 1.500 ke Rp 22.600, BFI Finance (BFIN) naik Rp 300 ke Rp 5.000, Indospring (INDS) naik Rp 300 ke Rp 3.825, dan Metro Realty (MTSM) naik Rp 290 ke Rp 1.790.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bank Mayapada (MAYA) turun Rp 150 ke Rp 750, Axiata (EXCL) turun Rp 100 ke Rp 6.100, Multi Prima (LPIN) turun Rp 100 ke Rp 3.200, dan Pioneerindo (PTSP) turun Rp 90 ke Rp 510.

(ang/qom)

Sumringah, indeks ditutup dengan lonjakan 0,83% di sesi I

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif di sepanjang sesi I. Pada pukul 12.00, indeks tercatat naik 0,83% menjadi 3.760,224.

Dalam transaksi hari ini, sembilan sektor menghijau. Lonjakan tertinggi dialami sektor pertambangan dengan kenaikan 2,01% dan sektor consumer goods sebesar 1,02%. Sementara, hanya ada satu sektor yang mengalami pelemahan tipis, yakni sektor infrastruktur, yang turun 0,01%.

Sementara itu, ada 150 saham yang melonjak. Sementara, 50 saham ditransaksikan melorot dan 82 saham lainnya tak berubah posisi. Volume transaksi perdagangan hari ini melibatkan 2,022 miliar saham senilai Rp 1,327 triliun.

Saham-saham yang menghuni posisi top gainers diantaranya: Equity Development (GSMF) yang naik 31,43% menjadi Rp 92, PT Prasidha Aneka Niaga (PSDN) naik 31,31% menjadi Rp 130, dan PT Metro Realty (MTSM) naik 19,33% menjadi Rp 1.790.

Sedangkan, saham-saham di posisi top losers adalah: PT Bank Mayapada (MAYA) anjlok 16,67% menjadi Rp 750, PT Pioneerindo Gourmet (PTSP) turun 15% menjadi Rp 510, dan PT Asuransi Dayin Mitra (ASDM) turun 10,26% menjadi Rp 350.

Pilih Saham Berfundamental Kuat & Sudah Terkoreksi

Headline
INILAH.COM, Jakarta- Penguatan IHSG siang ini diyakini akan berlanjut hingga penutupan. Saham-saham berfundamental kuat dan sudah mengalami tekanan jual di sektor konsumsi, keuangan, properti dan infrastruktur, bisa jadi pilihan.

Analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah memperkirakan, pergerakan indeks saham domestik hingga penutupan sore nanti akan menguat. “Indeks akan mengarah ke level resistance 3.765 dan 3.685 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (21/6).

Menurutnya, penguatan indeks hari ini dipicu oleh technical rebound yang terjadi pada bursa regional dan global terutama Hang Seng dan Dow Jones. “Apalagi, jika didukung oleh positifnya pembukaan bursa Eropa siang ini,” ujarnya.

Dow Jones, lanjutnya, sudah berada dalam posisi yang aman karena ditutup di atas 12.080. Artinya, Dow sudah menembus level kritis 12.060. Sementara itu, untuk IHSG harus menunggu 3.800 kembali ditembus. “Dalam beberapa hari ke depan, level tersebut bisa dicapai,” paprnya.

Tapi, Cece mewanti-wanti, agar pasar tetap memperhatikan perkembangan krisis utang Yunani. Saat ini, negara yang melahirkan banyak filsuf itu, diberi waktu dua pekan untuk memperketat anggarannya. “Tujuannya agar negeri Para Dewa bisa itu memenuhi syarat untuk menerima bantuan sebesar 12 miliar euro dari International Monetary Fund (IMF) dan Uni Eropa,” imbuhnya.

Dia menegaskan, sekuat apapun technical rebound di market hari ini, jika rumor Yunani kurang sedap, IHSG akan terdampak negatif. “Tapi, hari ini, peluang technical rebound lebih besar. Sebab, semua bursa regional dan global juga kompak naik,” tandasnya.

Adapun sektor saham yang bakal jadi penggerak utama indeks hari ini adalah saham-saham yang berfundamental kuat dan sudah mengalami tekanan jual dalam di sektor konsumsi, keuangan, properti dan infrastruktur. “Sektor-sektor saham tersebut mendapat sentiment positif dari koreksi dalam harga minyak mentah dunia ke level US$90-an per barel,” ucap Cece.

Menurut Cece, pasar melihat, inflasi akan terkendali baik di dalam maupun luar negeri seiring koreksi harga komoditas itu. Tapi, saham-saham di sektor pertambangan juga turut technical rebound. “Sebab, harga minyak juga kembali merambat naik meski terbatas ke level US$93 per barel saat ini,” ungkapnya.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Central Asia (BBCA). Lalu, PT Telkom (TLKM) yang akan membagikan dividen, PT Gudang Garam (GGRM), PT Astra Internasional (ASII), PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA). “Saya rekomendasikan buy on support saham-saham tersebut sambil memperhatikan bagaimana pembukaan bursa Eropa siang ini,” imbuhnya.[ast]

MIDI tandatangani kerjasama dengan perusahaan asal Jepang

JAKARTA. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) melakukan kerjasama sama strategis dengan perusahaan Jepang. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, MIDI sudah menandatangani Master License Agreement (MLA) dengan Lawson Inc pada 20 Juni 2011.

Dengan dilakukannya MLA tersebut, MIDI akan mendapatkan hak ekslusif untuk menggunakan dan bertindak sebagai sub-franchisor atas trademark dan knowhow Lawson di wilayah Indonesia selama 25 tahun. Lisence itu juga dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

"Diharapkan dengan sinergi pengembangan usaha ini, Perseroan dapat menunjukkan
pencapaian lebih optimal di berbagai bidang untuk tahun-tahun mendatang," jelas manajemen MIDI.

Pasar Relatif Stabil Jelang Agenda Penting Yunani dan The Fed

Gb
Jakarta -Mendekati momen-momen krusial bagi Yunani, euro terpantau diperdagangkan relatif stabil terhadap dollar pada sesi perdagangan Senin (20/6).

Euro sebelumnya sempat tertekan setelah pertemuan para menteri keuangan di Luksemburg gagal mencapai kesepakatan mengenai kebutuhan pendanaan jangka panjang Yunani. Namun, euro kemudian berhasil merebut kembali kerugiannya menyusul disetujuinya usulan untuk menambah Dana Stabilitas Finansial Eropa (EFSF/European Financial Stability Fund).

Klaus Regling, ketua EFSF mengatakan dana EFSF akan dinaikkan menjadi 780 miliar euro dari semual 440 miliar euro. Keputusan ini dapat memberikan tambahan nafas bagi negara-negara anggota euro yang perekonomiannya bermasalah.

Terhadap dollar, euro rebound dari terendah 1.4187 untuk kemudian ditutup di kisaran 1.4306 pada akhir sesi, naik tipis dari level penutupan Jumat lalu. Para pelaku pasar masih nampak berhati-hati seiring dengan belum jelasnya situasi Yunani.

Yunani sendiri hari ini dijadwalkan mengadakan mosi tidak percaya atas struktur pemerintahan baru bentukan PM George Papandreou. Lolos dari mosi tidak percaya ini, besar peluang proposal pemotongan anggaran, yang selama ini banyak ditentang, akan mendapatkan persetujuan parlemen pada pengambilan suara pekan depan.

Sementara itu, lemahnya data perekonomian Jepang berdampak pada hilangnya sebagian status safe-haven yen. Data yang dirilis kemarin menunjukkan neraca perdagangan Jepang mengalami defisit sebesar 474,6 miliar yen pada bulan Mei.

Yen ditutup melemah sekitar 0,3 persen di kisaran 80.27 per dollar.

Mata uang safe-haven lainnya, franc Swiss, justru menguat, diuntungkan oleh krisis hutang Yunani dan sinyal melambatnya perekonomian AS. Versus dollar, franc Swiss membukukan gain lebih dari 0,3 persen dengan ditutup di 0.8458 pada akhir sesi perdagangan Senin.

Demikian pula harga emas dunia, berlanjut menguat mencapai tertinggi $1546.30 per troy ounce kemarin. Logam mulia tersebut kemudian stabil di kisaran $1539.70 pada akhir sesi.

Di samping menunggu kepastian mengenai Yunani, para pelaku pasar juga akan memusatkan perhatian pada pengumuman hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral AS (Federal Reserve) minggu ini. Meski besar kemungkinan Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunganya di level rendah, para pelaku pasar berharap mendapatkan petunjuk mengenai kondisi ekonomi AS dari kacamata bank sentral.

Pengumuman hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve dijadwalkan pada hari Rabu waktu setempat. (atz)

(qom/qom)

Proyek PLTU Adaro Mulai Dibangun 2012

Jakarta - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) akan mulai membangun Pembangkit Listrik Ultra Supercritical (USC) berkapasitas 2x1.000 MW di Jawa Tengah mulai Agustus 2012. Proyek tersebut diperkirakan memakan waktu 4,5 tahun.

Seperti dikutip dari keterbukaan informasi perseroan di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (21/6/2011), pembangunan pembangkit Unit 1 diperkirakan memakan waktu selama 48 bulan (4 tahun). Dengan demikian pengoperasioan secara komersilnya akan dimulai pada Agustus 2016.

Sementara pengerjaan pembangkit unit 2 membutuhkan waktu sekitar 54 bulan (4,5 tahun) sehingga perkiraan waktu komersilnya pada Februari 2017.

Seperti diketahui, konsorsium Adaro dan dua perusahaan asal Jepang, J-Power dan Itochu, memenangkan tender PLTU 2x1000 MW Jawa Tengah. Jika nanti pembangkit tersebut beroperasi, konsorsium tersebut akan menjual listriknya ke PT PLN (Persero) selama 25 tahun.

Harga penjualan listrik disepakati sebesar US$ 5,79 sen. Ini merupakan proyek PPP (Public Private Partnership) pertama Indonesia yang berhasil dilelangkan. Pemerintah mendorong diadakannya proyek-proyek PPP, namun sejauh ini masih banyak hambatan.

Secara teknologi, proyek ini merupakan pertama di Indonesia yang menggunakan ultra super critical. Di Jepang dan Tiongkok memang sudah agak lama diterapkan teknologi yang sangat efisien dan ramah lingkungan ini, namun untuk Indonesia baru kali ini.

Adaro menguasai kepemilikan 34% di proyek konsorsium ini, sedangkan J-Power mendapat 34%. Sementara sisanya sebanyak 32% dipegang oleh Itochu.
(ang/hen)

Aussie keok setelah RBA menyatakan akan mempertahankan suku bunga

Aussie keok setelah RBA menyatakan akan mempertahankan suku bunga
SYDNEY. Sudah dua hari belakangan, pergerakan dollar Australia melemah. Keoknya mata uang yang lebih dikenal dengan sebutan Aussie terjadi setelah Bank Sentral Australia mengatakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan bulanan RBA mendatang.

Pagi ini, Aussie melemah terhadap 16 mata uang utama dunia. Aussie jatuh ke level US$ 1,0549 pada pukul 12:58 waktu Sydney dari US$ 1,0582 di New York, kemarin. Aussie juga melemah terhadap dollar Selandia Baru dan sempat bertengger di posisi 1,3017 dari NZ$ 1,3064 di hari sebelumnya. Ini merupakan level terendahnya sejak 14 Juni.

"RBA menyoroti resiko-resiko yang ada di ekonomi global dan juga krisis utang Yunani. Namun di saat yang sama, RBA perlu meningkatkan pertumbuhan upah domestik dan pengetatan moneter lebih lanjut dalam beberapa level," kata Mitul Kotecha, head of global foreign-exchange strategy Credit Agricole SA di Hongkong.

Dia juga mengatakan, market telah cukup lama bermain di mata uang beresiko. Hal ini pula yang menjadi alasan mereka untuk melakukan profit taking.

Medco Raih Pinjaman US$ 140 Juta dari BRI

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Medco Energi Internasional Tbk (Medco Energi) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) melakukan penandatangan perjanjian kredit atas fasilitas pinjaman (standby loan) sebesar US$ 140 juta.

Fasilitas pinjaman ini akan tersedia untuk digunakan selama 24 bulan setelah penandatangan, dengan jangka waktu pelunasan 5 tahun sejak fasilitas pinjaman tersebut dicairkan dan bunga berbasis LIBOR 3 bulan yang kompetitif.

Rencananya fasilitas pinjaman ini akan digunakan perseroan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) pinjaman-pinjaman perseroan yang akan jatuh tempo, serta kebutuhan-kebutuhan lain seperti modal kerja, investasi atau penggunaan lain yang diperlukan oleh perseroan sehubungan dengan kegiatan usahanya.

"Ketersediaan fasilitas pinjaman akan memudahkan Medco Energi untuk memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan sewaktu-waktu guna membiayai kembali pinjaman yang ada atau mendanai modal kerja perseroan agar dapat terus tumbuh secara berkesinambungan," ungkap Direktur Keuangan Medco Energi Syamsurizal Munaf, usai penandatangan di Jakarta Selasa (21/6).

Sementara Direktur Utama Medco Energi, Lukman Mahfoedz mengatakan, dengan diperolehnya fasilitas pinjaman ini akan memudahkan perusahaan dalam mengembangkan bisnis minyak dan gas, maupun bisnis energi lainnya. [cms]

Outlook positif, saham-saham perbankan diburu investor

Outlook positif, saham-saham perbankan diburu investor
JAKARTA. Saham-saham perbankan hari ini menjadi incaran investor. Ambil contoh, Bank International Indonesia (BNII) naik 1,89% menjadi Rp 540, Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 0,69% menjadi Rp 3.625, dan Bank Pembangunan Daerah (BJBR) naik 1,72% menjadi Rp 1.180.

Melonjaknya saham-saham perbankan seiring dengan outlook kinerja perbankan ke depannya. Asal tahu saja, beberapa bank papan atas akan merevisi rencana bisnis pada akhir semester 1/2011 seiring dengan lonjakan ekspansi usaha pada paruh pertama tahun ini. Namun, masih ada juga bank yang mempertahankan kredit secara konservatif.

"Revisi target ini merupakan cerminan baiknya perekonomian domestik. Hal ini dikarenakan jumlah pencapaian kredit sejumlah bank yang melebihi estimasi semula," jelas analis eTrading Securities M Wafi dalam hasil riset yang dirilis hari ini.

Pencapaian tersebut merupakan cerminan optimisme debitur dalam mengajukan kredit terhadap kreditur. Hal ini tentu saja tidak lepas dari estimasi tingkat suku bunga BI yang diharapkan berada pada level yang tetap di level 6,75%. "Namun, dengan revisi target penyaluran kredit ini, bank harus tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit agar kredit yang disalurkan tidak menambah jumlah non-performing loan bank nantinya," pungkasnya.

Outlook perusahaan positif, saham PTBA melaju di zona positif

Outlook perusahaan positif, saham PTBA melaju di zona positif
JAKARTA. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) menjadi incaran investor pada transaksi perdagangan pagi. Pada pukul 11.03, saham PTBA tercatat naik 0,73% menjadi Rp 20.700.

Perburuan investor atas saham ini terkait dengan outlook perusahaan. Asal tahu saja, manajemen PTBA menargetkan mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp 11 triliun di akhir tahun 2011. Angka tersebut naik 40%
dibandingkan pendapatan tahun 2010 lalu sebesar Rp 7,9 triliun.

Menurut Kepala Riset eTrading Securities Betrand Reynaldi, target pendapatan yang ditetapkan manajemen tersebut terlalu optimistis. "Hal ini merujuk pada pencapaian pendapatan kuartal I tahun ini yang hanya sebesar Rp 2,3 triliun atau baru 21% dari target tahun ini," jelasnya.

Namun, dia menambahkan, diharapkan dengan adanya ekspektasi peningkatan harga batubara dan penambahan armada angkutan kereta pada Juli mendatang untuk peningkatan produksi, manajemen PTBA bakal mampu mencapai target penjualan itu.

Genggam pinjaman US$ 140 juta, saham MEDC pun melaju

Genggam pinjaman US$ 140 juta, saham MEDC pun melaju
JAKARTA. Saham PT Medco Internasional (MEDC) menguat pagi ini. Pada pukul 10.58, saham MEDC naik 1,12% menjadi Rp 2.250.

Data yang dihimpun dari Bloomberg menunjukkan, sejumlah broker yang memborong saham ini antara lain: Indo Premier Securities senilai Rp 337,81 juta, Phillip Securities senilai Rp 203,63 juta, dan Lautandhana Securities senilai Rp 151,88 juta.

Perburuan investor atas saham ini terkait aksi korporasi perusahaan. Seperti yang diketahui, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memberikan fasilitas kredit pada MEDC senilai US$ 140 juta. Tenor kredit ini adalah lima tahun dari masa pencairan.

Data perdagangan dari Thailand dan Taiwan mendorong penguatan mata uang Asia

Data perdagangan dari Thailand dan Taiwan mendorong penguatan mata uang Asia
TAIPEI. Mata uang Asia ramai-ramai perkasa atas dollar. Data positif mengenai perdagangan di Thailand dan Taiwan yang lebih baik ketimbang prediksi, mendongkrak optimisme kalau perekonomian Asia akan tetap bertahan di tengah krisis utang Eropa.

"Pesimisme akan perekonomian dirasakan di AS dan Eropa, bukan Asia. Bursa saham regional tumbuh tinggi dan hal itu positif untuk mata uang Asia," jelas Sean Callow, senior currency strategist Westpac Banking Corp.

Catatan saja, dollar Taiwan menguat 0,1% menjadi NT$ 28,975 pada pukul 11.12 waktu Taipei. Sementara, baht Thailand menguat 0,1% menjadi 30,56 per dollar, won Korea Selatan menguat 0,3% menjadi 1.082,85 per dollar, dan rupiah Indonesia menguat 0,2% menjadi 8.600.

Reminder Cum Date Dividen SKLT, SCCO,ICBP 21/06/2011

Hari ini 21 June 2011 adalah Cum Date untuk pelaksanaan kegiatan Corporate Action sebagai berikut :

No.

Kode Efek

Nama Efek

Jenis Kegiatan

1.

SKLT

SEKAR LAUT Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 2.- per saham

2.

SCCO

SUPREME CABLE MANUFACTURING AND COMMERCE Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 90.- per saham

3.

ICBP

INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 116.- per saham

MIDI Teken Kerjasama dengan Lawson Jepang

Medium
INILAH.COM, Jakarta - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) menjalin kerjasama dengan Lawson, Inc Jepang dengan menandatangani Master License Agreement (MLA) pada 20 Juni 2011.

Dalam penjelasannya ke Bursa, Selasa (21/6) disampaikan MLA memberikan hak ekslusif bagi Perseroan untuk menggunakan dan bertindak sebagai sub-franchisor atas trademark dan knowhow Lawson di wilayah Indonesia selama 25 tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Diharapkan dengan sinergi pengembangan usaha ini, Perseroan dapat menunjukkan pencapaian lebih optimal di berbagai bidang untuk tahun-tahun mendatang.