Jumat, 29 April 2011

Penjualan Dongkrak Laba Bersih PTBA Naik 108%

INILAH.COM, Jakarta - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) berhasil mencetak kenaikan laba sebesar 108,07% pada kuartal 1-2011 menjadi Rp760,92 miliar dari Rp365,7 miliar pada periode serupa 2010.

Kenaikan laba bersih kuartal 1-2011 ini disebabkan peningkatan laba usaha yang sangat signifikan menjadi Rp944,64 miliar pada kuartal 1-2011 dibanding periode serupa 2010 senilai Rp422,92 miliar. Laba sebelum pajak penghasilan pada kuartal 1-2011 mencapai Rp1,02 triliun atau naik dari Rp480,85 miliar pada kuartal 1-2010.

Penjualan kuartal 1-2011 juga mengalami kenaikan menjadi Rp2,32 triliun dari Rp1,78 triliun pada periode serupa 2010. Kewajiban kuartal 1-2011 tercatat mencapai Rp2,7 triliun atau turun dibanding periode serupa 2010 sebesar Rp2,28 triliun. Sementara jumlah ekuitas mencapai Rp7,2 triliun.

Pendapatan di 2010 melorot, saham KRAS dilanda aksi jual

Pendapatan di 2010 melorot, saham KRAS dilanda aksi jual
JAKARTA. Saham PT Krakatau Steel (KRAS) didera aksi jual. Pada pukul 10.56, saham KRAS tercatat turun 1,71% menjadi Rp 1.150. Melorotnya saham KRAS terjadi setelah perusahaan baja pelat merah tersebut merilis kinerjanya.

Meski laba bersih KRAS melompat 114%, namun hal itu tidak disokong oleh tingkat pendapatannya. Seperti yang diberitakan KONTAN sebelumnya, di kuartal I 2011, KRAS mencatatkan penurunan pendapatan selama 2010 sebesar 12,16% menjadi Rp 14,86 triliun.

Hal tersebut disebabkan penjualan produk baja di dalam negeri selama 2010 merosot 13,48% menjadi Rp 13,25 triliun. Padahal pada tahun 2009 penjualan baja di pasar lokal bisa mencapai Rp 15,32 triliun.

Selain itu, pendapatan KRAS dari real estate dan perhotelan juga turun jadi Rp 192,46 miliar dari sebelumnya yang mencapai Rp 121,75 miliar. Kontribusi pendapatan rekayasa anjlok 30,14% jadi Rp 467,81 miliar.

Tapi untungnya, KRAS masih tertolong dengan menyusutnya beban pokok penjualan yang harus mereka tanggung.

Indofood Raup Laba Rp 1 Triliun dalam Tiga Bulan

Jakarta - PT Indofoof Sukses Makmur Tbk (INDF) meraup laba Rp 1,17 triliun dalam periode tiga bulan pertama tahun ini. Laba ini naik 52,8% jika dibandingkan perolehan laba tahun lalu pada periode yang sama Rp 765,69 miliar.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan, Jumat (29/4/2011), penjualan perseroan pun naik dari Rp 9,3 triliun di triwulan I tahun lalu menjadi Rp 10,76 triliun di periode yang sama tahun ini.

Perseroan berhasil menekan beban operasi menjadi Rp 74,65 miliar di triwulan I-2011 dari tahun sebelumnya Rp 123,14 miliar. Ini membuat laba sebelum pajak naik menjadi Rp 1,66 triliun dari tahun sebelumnya pada periode yang sama Rp 1,17 triliun.

Atas pertumbuhan laba itu, laba bersih per saham dasar perseroan pun naik dari Rp 72 per lembar di triwulan I-2010 menjadi Rp 84 per lembar di periode yang sama tahun ini.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 10.58 waktu JATS, saham INDF turun 50 poin (0,89%) ke level 5.550 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 67 kali dengan volume 1.536 lot senilai Rp 4,278 miliar.
(ang/dnl)

Triwulan I Laba PTBA Naik 2 Kali Lipat Menjadi Rp 760 Miliar

Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bukukan laba Rp 760,32 miliar di triwulan I tahun ini, naik dua kali lipat dari perolehan laba periode yang sama tahun lalu Rp 373,03 miliar. Laba baik disokong tumbuhnya penjualan serta turunnya beban pokok.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan, Jumat (29/4/2011), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang itu mencatat penjualan sebesar Rp 2,31 triliun di tiga bulan pertama tahun ini, naik dibanding tahun lalu Rp 1,78 triliun.

Beban pokok penjualan berhasil diturunkan meski penjualannya naik, dari Rp 1,075 triliun tahun lalu menjadi Rp 1,071 di tahun ini. Dengan demikian, laba kotor perseroan pun melonjak jadi Rp 1,24 triliun dari sebelumnya Rp 706,74 miliar.

Perseroan juga bisa mengurangi kerugian kurs menjadi hanya Rp 3,13 miliar di triwulan I tahun ini, sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu rugi selisih kurs perseroan mencapai Rp 17,57 miliar.

Dengan naiknya laba, laba bersih per saham dasar emiten berkode PTBA itu pun naik menjadi Rp 330 per lembar, dari sebelumnya tahun lalu sebesar Rp 162 miliar.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 10.46 waktu JATS, harga saham PTBA naik 50 poin (0,22%) ke level Rp 22.540 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 172 kali dengan volume 1.462 lot senilai Rp 16,471 miliar.

Hemat biaya pokok penjualan, laba bersih KRAS meroket 114%

JAKARTA. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mencatatkan penurunan pendapatan selama 2010 sebesar 12,16% menjadi Rp 14,86 triliun. Hal tersebut disebabkan penjualan produk baja di dalam negeri selama 2010 merosot 13,48% menjadi Rp 13,25 triliun. Padahal pada tahun 2009 penjualan baja di pasar lokal bisa mencapai Rp 15,32 triliun.

Selain itu, pendapatan KRAS dari real estate dan perhotelan juga turun jadi Rp 192,46 miliar dari sebelumnya yang mencapai Rp 121,75 miliar. Kontribusi pendapatan rekayasa anjlok 30,14% jadi Rp 467,81 miliar.

Tapi untungnya, KRAS masih tertolong dengan menyusutnya beban pokok penjualan yang harus mereka tanggung. Selama 2010, beban pokok pendapatan KRAS hanya Rp 12,62 triliun. Padahal di tahun 2009 beban pokok penjualan KRAS bisa mencapai Rp 15,73 triliun.

Karena itu, laba kotor KRAS meningkat 88,52% menjadi Rp 2,23 triliun. Tak heran hasil laba usaha KRAS juga ikut terangkat sampai 37 kali lipat menjadi sebesar Rp 992,93 miliar.

Karena penghematan dari beban pokok penjualan tersebut hasil laba bersih KRAS juga terangkat 114,82% jadi Rp 1,06 triliun. Pendapatan lain-lain KRAS justru turun menjadi Rp 394,22 miliar. Bandingkan dengan pendapatan lain-lain KRAS selama 2009 lalu yang mencapai Rp 442,72 miliar.

Penurunan penghasilan lain-lain KRAS terdorong karena mereka tak lagi mendapatkan laba penjualan investasi dan laba penyelesaian kewajiban imbalan kesehatan pasca kerja. Dimana pada pos tersebut sebelumnya KRAS bisa memperoleh Rp 501,58 miliar.

SCG Building Materials bakal ambil alih 93,47% saham KIAS

JAKARTA. SCG Building Materials Company Limited bakal mengambil alih kendali dalam PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk (KIAS).

Pemegang saham mayoritas perseroan sudah meneken perjanjian Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan SCG Building, pada 27 April 2011. Rencananya, perusahaan asal Thailand itu akan mengambil alih sejumlah 7,875 miliar saham atau setara 93,47% saham KIAS.

Sekretaris Perusahaan KIAS Suparman Surjadi menyebut, perjanjian itu bisa mengakibatkan perubahan yang fundamental dalam jalannya operasional perseroan. "Dalam bentuk perubahan pengendali atau perubahan penting dalam manajemen," ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, hari ini.

Transaksi penjualan saham ini akan dilaksanakan apabila sudah terpenuhinya seluruh syarat dan kondisi yang telah disepakati.

Adapun, hingga pukul 10.43 WIB, saham KIAS diperdagangkan naik 9,2% ke level Rp 95 per saham.

Laba bersih melonjak 43%, saham ASII kian menjadi incaran

JAKARTA. Saham PT Astra International (ASII) menjadi salah satu saham yang menggerakkan indeks pagi ini. Pada pukul 10.32, saham ASII tercatat naik 0,54% menjadi Rp 55.900. Sebelumnya, saham ASII sempat menyentuh posisi Rp 55.950 atau naik 0,62%.

Melonjaknya saham ASII terkait dengan kinerja perusahaan di tiga bulan pertama tahun ini. Seperti yang diberitakan sebelumnya, ASII mengalami lompatan laba bersih sebesar 43% pada kuartal pertama tahun 2011 menjadi Rp 3,014 triliun dibandingkan periode serupa tahun lalu.

Hal ini didukung peningkatan pendapatan di semua lini bisnis. Kuartal pertama 2011, pendapatan bersih ASII mencapai Rp 38,693 triliun atau naik 30% dari kuartal pertama tahun lalu. Hanya saja, bisnis otomotif dan alat berat sedikit mengalami gangguan suplai akibat pengaruh bencana gempa bumi dan tsunami Jepang.

BRI Raih Laba Rp3,260 Triliun

Logo Bank BRI. Foto: Tangguh Putra/okezone
JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan laba (setelah taksiran pajak) pada triwulan I-2011 sebesar Rp3,260 triliun.

Angka ini meningkat signifikan sebesar 51,58 persen dibanding kuartal I-2010, yaitu sebesar Rp2,151 triliun. Peningkatan laba ini didukung oleh total aset Bank BRI yang meningkat sebesar 20,70 persen dari Rp303,383 triliun menjadi Rp366,734 triliun.

Disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (29/4/2011), sejalan dengan itu peningkatan modal mengalami pertumbuhan sebesar 33,03 persen dari Rp30,247 triliun pada triwulan I tahun 2010 menjadi Rp40,238 triwulan I tahun 2011.

Kemudian untuk dana pihak ketiga (DPK) BRI berhasil meningkat sebesar 20,32 persen dari Rp241,497 triliun di triwulan I 2010 menjadi sebesar Rp290,575 triliun di triwulan I 2011.

Adapun untuk komposisi DPK BRI pada triwulan I 2011 masing masing adalah Giro 15,23 persen (Rp44,266 triliun, Tabungan Rp117,795 triliun (40,54 persen) dan Deposito Rp128,513 triliun (44,23 persen).

Posisi LDR BRI berada pada 85,75 persen, ROE meningkat dari 33,61 persen menjadi 37,73 persen. Sedangkan untuk ROA juga meningkat dari 3,71 persen menjadi 4,41 persen. Sementara CAR BRI meningkat 15,44 persen menjadi 15,60 persen.

Analis: Ada kemungkinan harga emas menyentuh US$ 1.800 tahun ini

SINGAPURA. Kenaikan harga emas di bulan April merupakan yang terbaik sejak November 2009. Keoknya dollar dan tingginya tingkat inflasi mendorong investor untuk memborong emas sebagai lindung nilai.

Di Singapura pukul 08.29, kontrak harga emas co Comex New York untuk pengantaran cepat tak banyak mengalami perubahan di posisi US$ 1.536,72 per troy ounce. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh rekor di posisi US$ 1.540,85 per troy ounce. Sepanjang bulan ini, harga emas sudah melonjak 7,3%.

Kenaikan juga dialami kontrak harga emas untuk pengantaran Juni di New York yang naik 0,4% menjadi US$ 1.537,20 per troy ounce. Angka tersebut mendekati harga rekor yang dicapai kemarin di posisi US$ 1.538,80 per troy ounce.

"Pelemahan dollar mendorong investor ke pasar emas. Apalagi banyak spekulasi kalau harga emas akan terus mengalami reli. Ada kemungkinan harga emas menyentuh US$ 1.800 tahun ini," jelas Lim Han Jo, trader Tongyang Futures Co.

Gerak Saham BUMI Masih 'Sideways'

INILAH.COM, Jakarta – Laju saham BUMI, Jumat (29/4) diprediksi sideways. Kondisi ini tampak dalam 10 candle terakhir. Jika tembus Rp3.400 dengan volume yang besar, penguatan berikutnya ke level Rp3.600.

Technical analyst dari Jsxpro.com Tommy Yu mengatakan, potensi sideways-nya saham PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan karena secara teknikal masih berada dalam fase konsolidasi. Hal ini bisa dilihat dalam 10 candle terakhir.

Karena itu, dia menegaskan, pergerakan saham ini di akhir pekan akan sideways. Tapi, dilihat dari trennya, saham sejuta umat ini masih berada dalam up trend sehingga masih aman. “BUMI akan bergerak terbatas dalam kisaran support Rp3.300 dan Rp3.400 sebagai resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (28/4).

Pada perdagangan Kamis (28/4) saham BUMI ditutup menguat tipis Rp25 (0,75%) menjadi Rp3.350 dibandingkan sebelumnya Rp3.325. Harga intraday tertingginya mencapai Rp3.350 dan terendah Rp3.300. Volume transaksi mencapai 122,8 juta unit saham senilai Rp409,7 miliar dan frekuensi 1.915 kali.

Lebih jauh Tommy mengatakan, level support BUMI juga ditahan oleh indikator Exponential Moving Average (EMA)-20. Karena itu, saham BUMI memiliki double support yakni support terdekatnya dan support EMA20-nya di level yang sama Rp3.300. “Akibatnya, saham BUMI susah turun di bawah level tersebut,” ujarnya.

Tapi, menurutnya, sampai kapan saham BUMI akan konsolidasi juga belum bisa dipastikan. Tapi, dilihat dari volume transaksi kemarin, cukup besar 122,8 juta unit saham. Karena itu, jika dalam 1 atau 2 candle ke depan volumenya naik dan bisa menembus Rp3.400, saham ini akan terus menguat.

Kondisi itu, lanjut Tommy, bisa dibuktikan di pekan depan Senin (2/5) atau Selasa (3/5). Target penguatan berikutnya diharapkan di level Rp3.550-3.600 jika Rp3.400 berhasil ditembus ke atas dengan volume transaksi di atas 200 juta unit saham. “Investor bisa lebih merasa oke,” ucap Tommy.

Jadi, kenaikan harus diiringi dengan tenaga yang direpresentasikan oleh besarnya volume transaksi. Jika naik tanpa besarnya volume transaksi, justru berbahaya karena berpeluang turun. “Untuk akhir pekan ini, pergerakan saham BUMI masih susah dipastikan menguat atau melemah,” tandasnya.

Apalagi, dalam tiga hari sebelumnya, pergerakan saham tidak diiring besarnya volume transaksi. Baru pada perdagangan Kamis (28/4) volumenya besar hingga tiga kali lipat dari volume tiga hari sebelumnya.

Bagi investor jangka panjang, dia menyarankan lebih baik hold saja. “Bagi trader jangka pendek, lebih baik bermain cepat. Buy on weakness di level Rp3.300 dan bisa jual di level mendekati Rp3.400,” imbuh Tommy. [mdr]

ASGR Berpeluang ke Rp 1200

INILAH.COM, Jakarta - PT Astra Graphia Tbk (ASGR) akan segera melaju ke level Rp1.200. Hal ini dipicu rencana perseroan membagi dividen dan memperbesar capex.

ASGR dikabarkan akan membagikan dividen sekitar Rp47,36miliar atau 40%. Peningkatan pembagian dividen itu seiring kenaikan laba bersih 2010 sebesar 76,88% menjadi Rp118,41 miliar, dari Rp66,95 miliar pada akhir tahun sebelumnya.

Selain itu, ASGR akan menambah capex menjadi Rp200 miliar untuk 2011, baik untuk ASGR maupun anak perusahaannya, AGIT (PT Astra Graphia Information Technology). Dana ini akan dipergunakan untuk pembelanjaan modal dan memperkuat teknologi jangka panjang.

Salah satunya menggarap pasar solusi keamanan transaksi kartu kredit di Indonesia dengan pihak Fico Australia. Kabar inilah yang membuat ASGR berpeluang terkerek ke Rp 1200.

ASGR pada perdagangan Kamis (28/4) kemarin ditutup di level Rp830, atau naik Rp20 (2,5%). [ast]

Harga emas kembali tembus rekor setelah the Fed tahan suku bunga

NEW YORK. Kemarin malam, kontrak harga emas kembali melaju menembus rekor baru. Dengan demikian, harga emas tertinggi sepanjang sejarah tercipta dalam dua hari berturut-turut.

Melejitnya harga emas terjadi setelah the Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunganya di level rendah, sehingga memupuskan prospek penguatan dollar dan mendongkrak permintaan emas sebagai investasi alternatif.

Asal tahu saja, kontrak harga emas di divisi Comex, New York, untuk pengantaran Juni naik US$ 14,10 atau 0,9% menjadi US$ 1.531,20 per troy ounce pada pukul 13.49 waktu New York. Sebelumnya, kontrak yang sama menembus rekor di level US$ 1.538,80 per troy ounce. Sepanjang setahun terakhir, harga emas sudah naik 31%.

Sementara itu, kontrak harga emas untuk pengantaran cepat naik 0,7% ke rekor tertinggi di posisi US$ 1.538,47.

"Pasar emas bukan membentuk buble dan harga emas akan terus naik dalam jangka panjang karena kebijakan moneter global bertentangan dengan ekonomi riil," jelas John Hathaway, senior managing director of Tocqueville Asset Management LP.

Harga minyak masih bergerak mendekati level tertinggi dalam 31 bulan terakhir

SYDNEY. Di New York, harga minyak pagi ini ditransaksikan mendekati level tertinggi dalam 31 bulan terakhir. Melejitnya harga minyak terjadi setelah dollar keok ke level paling rendah sejak 2008 terhadap mata uang utama dunia lainnya.

Pada pukul 09.07 waktu Sydney, kontrak harga minyak untuk pengantaran Juni di New York Mercantile Exchange berada di posisi US$ 112,81 per barel. Kemarin, harga minyak sempat naik 10 sen menjadi US$ 112,86 sebarel, yang merupakan level paling tinggi sejak 22 September 2008.

Jika dihitung, sepanjang bulan ini, harga minyak sudah naik 5,7% dan setahun terakhir kenaikannya mencapai 32%. Sementara, kontrak harga minyak jenis Brent untuk pengantaran Juni turun 11 sen menjadi US$ 125,02 per barel di ICE Futures Europe exchange, kemarin.

"Volume transaksi di pasar sangat kecil dan tidak 100% mengarah ke aksi jual saat ini. Penyebabnya, ada dua hari libur berturut-turut di Eropa sehingga investor banyak yang malas melakukan transaksi. Hal itu saya prediksi masih akan berlangsung hingga minggu depan," jelas Carl Larry, President of Oil Outlook & Opinions LLC di Houston.

Sekadar tambahan informasi, hari ini merupakan hari libur nasional Inggris untuk merayakan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Sementara, market di sejumlah negara lain seperti Jerman dan China akan ditutup pada 2 Mei karena libur nasional.

ADMF bagi dividen 65%

ADMF bagi dividen 65%
JAKARTA. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) bagi dividen sebesar 65% dari laba bersih sepanjang tahun 2010.

Tahun lalu ADMF membukukan laba bersih senilai Rp 1,47 triliun naik 21% dibanding laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,21 triliun. “Sudah saatnya ADMF memberikan dividen besar, tahun lalu laba kita besar. Selain itu ekuitas kita berlebih,” kata I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan ADMF. Pembayaran dividen akan dilakukan pada bulan Juni 2011.

Sedang sisa laba bersih sepanjang 2010 menurut Stanley Setia Atmadja, Direktur Utama ADMF akan digunakan untuk working capital ADMF.

Selain bagi-bagi dividen, ADMF juga akan membayar utang obligasi Adira Dinamika Multi Finance III seri B sebesar Rp 51 miliar pada 13 Mei 2011, obligasi Adira Dinamika Multi Finance II seri C sebesar Rp 90 miliar pada 8 Juni 2011. Pembayaran obligasi tersebut menggunakan kas internal perusahaan.

Dengan pembayaran tersebut maka debt to equity ratio (DER) ADMF menjadi sebesar 0,7 kali. Namun bulan Mei 2011 ADMF akan kembali menerbitkan obligasi senilai Rp 2 triliun maka DER akan menjadi 1 kali.

Penguatan IHSG Mulai Goyah-goyah

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin masih mampu naik tipis di tengah positifnya kinerja keuangan emiten dan rencana pembagian dividen. Indeks berhasil cetak rekor baru lagi.

Pada perdagangan, Kamis (28/4/2011), IHSG naik tipis 3,998 poin (0,10%) ke level 3.808,929. Sementara Indeks LQ 45 turun tipis 0,266 poin (0,04%) ke level 680,894.

Posisi IHSG yang sudah terlalu tinggi dan mencetak rekor terbarunya membuat investor mulai memilih untuk keluar sejenak. Profit taking pada perdagangan akhir pekan ini diprediksi akan semakin marak. IHSG pada perdagangan Jumat (29/4/20110 diprediksi akan bergerak fluktuatif cenderung melemah.

Bursa Wall Street tadi kembali melanjutkan penguatannya dipicu oleh kuatnya laporan keuangan. Investor terus berekspektasi laporan keuangan akan menunjukkan kinerja yang gemilang. Dow Jones Transportasi Average bahkan mencatat rekor tertingginya setelah naik 1,2% menjadi 5.510,06.

Pada perdagangan Kamis (28/4/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup menguat 72,35 poin (0,47%) ke level 12.763,31. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 4,82 poin (0,36%) ke level 1.360,48 dan Nasdaq menguat 2,65 poin (0,09%) ke level 2.872,53.

Sementara bursa Jepang pagi ini libur untuk memperingati libur nasional.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

eTrading Securities:

IHSG pada perdagangan kemarin (28/4), ditutup menguat sebesar 3,99 poin (0,10%) ke level 3.808,93. Sektor yang menjadi pendorong penguatan IHSG pada perdagangan kemarin adalah sektor macam-macam industri yang menguat 0,70% disusul oleh sektor pertambangan yang menguat 0,49%. Sementara sektor yang mengalami pelemahan terbesar
adalah sektor infrastruktur yang tercatat melemah 0,63%. Investor asing tercatat membukukan pembelian bersih (foreign net buy) sebesar Rp 372,99 milliar, dengan saham yang paling banyak dibeli adalah BUMI, ASII, BBRI, dan UNTR.

Secara teknikal, pada perdagangan kemarin IHSG bergerak menguat tipis dengan candlestick membentuk pola spinning top setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan. Sementara dilihat dari pergerakan indikator, tampak candlestick masih berada di area garis upper Bollinger band, indikator stochastic mencoba membentuk golden cross di area overbought, sementara indicator William’s% R mulai bergerak downtrend di area overbought. Pada perdagangan hari ini (29/4), IHSG diperkirakan akan bergerak dikisaran 3,777-3,830 dengan saham- saham yang dapat diperhatikan a.l. PTPP , BBCA, dan BUMI.

Kresna Securities:

Meskipun kembali mencetak rekor baru, tekanan jual kembali menahan penguatan IHSG. Munculnya spinning tops dan candlestick yang deadcross mengindikasikan tekanan jual masih dapat berlanjut. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3,780-3,830 dengan ASII dan UNTR sebagai saham pilihan.

Bursa Wall Street Lanjutkan Penguatan

New York - Saham-saham di bursa Wall Street kembali melanjutkan penguatannya dipicu oleh kuatnya laporan keuangan. Investor terus berekspektasi laporan keuangan akan menunjukkan kinerja yang gemilang.

Dow Jones Transportasi Average bahkan mencatat rekor tertingginya setelah naik 1,2% menjadi 5.510,06, dipimpin lonjakan saham Norfolk Southern hingga 8%,

Pada perdagangan Kamis (28/4/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup menguat 72,35 poin (0,47%) ke level 12.763,31. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 4,82 poin (0,36%) ke level 1.360,48 dan Nasdaq menguat 2,65 poin (0,09%) ke level 2.872,53.

Volume perdagangan berjalan moderat dengan transaksi di New York Stock Exchange sebesar 7,49 miliar lembar saham, di bawah rata-rata harian yang sebesar 7,73 miliar lembar saham.

Namun penguatan saham-saham terjadi dalam volume yang tipis dan ditambah data perekonomian terbaru, maka diyakini kenaikan harga saham-saham sudah mulai tidak stabil.

"Ada diskoneksi di pasar saat ini, kita mendapatkan berita yang beragam," ujar Jonathan Corpina, kepala operasi lantai NYSE dari Meridian Equity Partners seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/4/2011).

Kenaikan saham-saham terhambat sebagian perusahaan yang menurunkan estimasi laporan keuangannya seperti Procter & Gamble Co. Saham P&G tercatat turun 0,8% setelah memangkas proyeksinya hingga akhir tahun.

Sementara sentimen positif masih datang dari pernyataan Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang akan mempertahankan dukungannya untuk kebijakan moneter yang longgar. Hal itu terus mendorong harga saham-saham bersamaan dengan kenaikan inflasi.

"Karena biaya operasional terus naik, maka jelas akan berdampak pada basis untuk pergerakan ke depan. Melihat harga-harga komoditas, minyak dan energi pada tingkat yang diperdagangkan sekarang, tanpa ada akhir dalam jangka pendek, maka hal itu akan diperhitungkan pada kuartal II," jelas Corpina.

Bagian II Kisah Morgan Stanley Tertipu Bank Garansi Palsu 'Bank Mandiri' US$ 55 Juta

Jakarta - Morgan Stanley sedang dibuat bingung oleh Bank Garansi palsu 'Bank Mandiri' yang diterbitkan berkaitan dengan fasilitas kreditnya kepada Lee Man Investment Co Ltd sebagai peminjam dan obligor yang terdiri dari PT General Energy Bali, Tjandra Limanjaya, Geolink Worldwide Ltd, Merryline International Pte Ltd, City Energy Pte Ltd dan PT General Energy Indonesia.

Bagaimana kisah Bank Garansi palsu itu bisa sampai mengguncang Morgan Stanley? Semua ternyata melibatkan sebuah sindikat pemalsuan. Kisah Bank Garansi palsu 'Bank Mandiri' itu bermula pada tahun 2007 ketika Omega Consultan & Management yang terdiri Tony Pribadi Ridwan dan Koen Semedi Prakoso alias Nicholas Koen dkk menawarkan bertindak sebagai Financial Advisor PT General Energy Bali (GEB) dalam penerbitan Bank Garansi itu melalui Abdul Djalil selaku direktur .

Baik Tony dan Koen menyanggupi pembuatan Bank Garansi untuk General Energy Bali hanya dalam 2 bulan, dan ternyata faktanya bisa selesai lebih cepat hanya dalam waktu 1 bulan. Dari pihak General Energy Bali menerima tawaran pembuatan Bank Garansi tersebut karena atas permintaan mendesak dari pihak Morgan Stanley untuk memperpanjang atau memperbarui perjanjian kredit dengan Lee Man karena Bank Garansi yang diterbitkan tahun 2007 sudah tidak berlaku lagi karena utang Lee Man sudah lunas terbayar.

GEB pun diminta Morgan Stanley untuk memperbarui bilyet giro untuk jangka waktu 1 tahun sehingga GEB memutuskan untuk menerima tawaran Omega Consultan untuk penerbitan Bank Garansi tersebut. Dan pada 8 Juli 2008, Omega mengirimkan surat no 12/Omega/TP/GEB/VII/2008 kepada GEB perihal financial advisor dalam rangka fund raising. Dalam tawaran tersebut, Omega mendapatkan fee dari fund raising sebesar Rp 600 juta yang dibayar 2 tahap masing-masing Rp 400 juta setelah terbitnya mandat dan Rp 200 juta setelah terealisasinya dan diterimanya pencairan dana pertama kali atau penerbitan instrumen surat utang itu.

Terkait penerbitan Bank Garansi 'Bank Mandiri' itu, GEB juga telah menyerahkan sejumlah dokumen penting kepada Onega seperti profil perusahaan, feasibility study, power purchase agreement (PPA). GEB juga menyerahkan dokumen kontrak EPC antara GEB dengan Shanghai Electric tertanggal 5 Maret 2008 kepada Omega guna keperluan pengurusan proses pembiayaan di Bank Mandiri Jakarta sebagaimana tercermin dalam tanda terima.

Dan akhirnya, pada tanggal 27 Agustus 2008, terbitlah Bank Garansi 'Bank Mandiri' yang ditekan oleh Martono selaku Senior Manager dan Yan Pranasurya MBK selaku Department Head. Bank Garansi nomor MBG7912127298508 atas nama PT GEB itu untuk kepentingan Morgan Stanley Bank International Limited senilai US$ 55 Juta.

Selanjutnya, Abdul Djall dari pihak GEB meminta klarifikasi kepada pihak Omega karena Nicholas Koen diketahui menerbitkan bilyet giro palsu. Abdul Djall merasa perlu meminta keterangan dari Omega dikarenakan info seputar kredibilitas Omega. Meski sudah diberi penjelasan oleh pihak Omega, namun Abdul Djall tidak puas dan akhirnya minta nasihat kepada penasihat hukumnya. Selanjutnya, pihak penasihat hukum meminta keterangan melalui nomor telpon dari pihak 'Bank Mandiri' yang ternyata tidak terjawab dan setelah diperiksa oleh penasihat hukum GEB diketahui ternyata nomor tersebut hanyalah sebuah wartel di Gedung menara BDN Thamrin.

Ditelusuri kemudian, ternyata diketahui oleh GEB bahwa Bank Garansi dengan nomor MBG7912127298508 tertanggal 27 Agustus 2008 yang diurus Omega Consultan dan Management itu palsu dan tidak pernah terdaftar di Bank Mandiri. Kasus pemalsuan Bank Garansi ini telah masuk ke pengadilan. Untuk dakwaan terhadap Tony Pribadi, surat dakwaan telah disusun oleh Jaksa Penuntut Umum adalah Satria Irawan pada 11 Februari 2011. Tony telah ditahan sejak 17 Desember 2010.

Dalam surat dakwaan Tony tersebut, juga melibatkan Nicholas Koen, Agus Purwanto, M Amiruddin Halim, Bambang Irawan dan Sulastri. Keempat pihak yang disebut terakhir disebut dalam dakwaan masih DPO. Mereka semua didakwa karena telah memalsukan surat yang menimbulkan kerugian bagi Abdul Djall dan juga GEB.

Sementara terhadap Nicholas Koen, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menyatakannya bersalah karena melakukan tindak pidana pemalsuan surat dengan hukuman 1 tahun penjara. Nicholas Koen sendiri sudah meninggal dunia setelah sebelumnya sempat ditahan.

Di tengah kisruh pemalsuan Bank Garansi tersebut, GEB diketahui mengajukan gugatan kepada Morgan Stanley dan Lee Man Investment ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 29 Juni 2010. GEB mengugat karena merasa telah dipakai sebagai formalitas sebagai pihak yang ikut menandatangani perjanjian utang 'New Facility Agreement' tertanggal 27 Agustus 2008.

Sementara pada tanggal 28 September 2009 Morgan Stanley telah mengajukan gugatan kepada Lee Man Investment Limited dengan mendaftarkan ke Pengadilan Hong Kong untuk membayar pinjaman yang telah jatuh tempo pada tanggal 01 September 2009 sebesar US$ 54.850.000 dengan Bank Garansi palsu tersebut.

Seperti diketahui, tanggal 27 Agustus 2008 telah ditandatangani 'New Facility Agreement' tersenilai US$ 51,7 juta antara Morgan Stanley (MS) sebagai kreditur dengan Lee Man Investment Co Ltd sebagai peminjam dan obligor yang terdiri dari PT General Energy Bali, Tjandra Limanjaya, Geolink Worldwide Ltd, Merryline International Pte Ltd, City Energy Pte Ltd dan PT General Energy Indonesia. Sebagian jaminan keamanan bagi kewajiban peminjam yang tercantum dalam 'New Facility Agreement' maka diterbitkan bank garansi dari 'Bank Mandiri' yang ternyata dipalsukan itu.

Pengacara pengacara Morgan Stanley, Frans Hendra Winarta yang dikonfirmasi mengenai kasus Morgan Stanley dengan GEB itu mengaku saat ini sedang diupayakan perdamaian.

"Mereka sedang mengupayakan perdamaian, semoga dapat tercapai dalam waktu dekat," ujar Frans melalui pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (27/4/2011).

Sementara pengacara GEB, Hotman Paris Hutapea ketika dikonfirmasi lebih jauh mengenai perkembangan kasus tersebut mengaku belum bisa berkomentar banyak.

"Kamu tahu-tahu saja kasus itu, jawaban saya No Comment. Soal perdamaian dan sebagainya, saya bilang no comment karena masih kasus," ujar Hotman Paris Hutapea kepada detikFinance.

Bagian I Kisah Morgan Stanley Tertipu Bank Garansi Palsu 'Bank Mandiri' US$ 55 Juta

Jakarta - Tak hanya melibatkan bank nasional, kisah tipu menipu ternyata juga melanda bank kelas internasional. Salah satunya dialami oleh bank internasional asal Amerika Serikat, Morgan Stanley yang tertipu garansi palsu 'Bank Mandiri' senilai US$ 55 Juta atau sekitar Rp 500 Miliar.

Kisah ini bermula dari penandatanganan 'New Facility Agreement' tertanggal 27 Agustus 2008 senilai US$ 51,7 juta antara Morgan Stanley (MS) sebagai kreditur dengan Lee Man Investment Co Ltd sebagai peminjam dan obligor yang terdiri dari PT General Energy Bali, Tjandra Limanjaya, Geolink Worldwide Ltd, Merryline International Pte Ltd, City Energy Pte Ltd dan PT General Energy Indonesia.

Sebagai jaminan keamanan bagi kewajiban peminjam yang tercantum dalam 'New Facility Agreement' maka diterbitkan bank garansi. Bank Garansi atas permintaan dari PT General Energy Bali ini dikeluarkan oleh 'Bank Mandiri' dengan nomor MBG7912127298508 tertanggal 27 Agustus 2008 senilai US$ 55 juta yang ditujukan bagi Morgan Stanley Bank International Ltd. Bank Garansi tersebut dikeluarkan di bawah perundang-undangan negara bagian New York.

Sebagai konfirmasi atas Bank Garansi tersebut, Divisi Legal 'Bank Mandiri' mengeluarkan surat konfirmasi No. JCCOTH/L/BG/2450808 tertanggal 27 Agustus 2008 yang menyatakan bahwa Martono dan Yan Pranasurya (pihak yang menandatangani Bank Garansi) memiliki wewenang untuk menandatangani bank garansi senilai US$ 55 juta. Surat konfirmasi tersebut dilegalisir oleh notaris publik Drs Atrino Leswara SH.

Bersamaan dengan surat konfirmasi tersebut, 'Bank Mandiri' juga mengeluarkan surat konfirmasi yang menyatakan bahwa jika ada pertanyaan yang perlu diajukan terkait dengan bank garansi tersebut, dapat menghubungi 'Bank Mandiri' di beberapa nomor telepon.

Namun Morgan Stanley tidak melakukan konfirmasi/klarifikasi atas penerbitan Bank Garansi tersebut ke Bank Mandiri. Baru pada tanggal 13 Agustus 2009 Morgan Stanley mengajukan konfirmasi kepada Bank Mandiri Bank Garansi bernomor MBG7912127298508 tanggal 27 Agustus 2008 senilai US$ 55 juta dalam rangka pengajuan tuntutan pembayaran (klaim) Irrevocable Bank Guarantee tersebut kepada Bank Mandiri.

Surat konfirmasi tersebut kemudian dibalas Bank Mandiri dengan bantahan. Bank Mandiri merespons surat konfirmasi Morgan Stanley itu melalui surat tertanggal 14 Agustus 2009 yang ditandatangani oleh Martono dan Parluhutan Siregar yang menyatakan Bank Garansi yang dimaksud Tidak pernah dikeluarkan oleh dan terdaftar di Bank Mandiri, oleh karena itu bank garansi tersebut bukan menjadi tanggung jawab Bank Mandiri. Martono merupakan pihak yang 'dicatut' dalam Bank Garansi dari 'Bank Mandiri' itu.

"Merujuk pada fax Anda (Morgan Stanley) tertanggal 13 Agustus 2009, dengan ini kami nyatakan Bank Garansi itu tidak pernah diterbitkan dan tercatat di PT Bank Mandiri (persero) tbk," demikian surat balasan dari Bank Mandiri yang ditandatangani Regional Credit Operations Jakarta Thamrin, Martono dan Team Leader Parluhutan Siregar tertanggal 14 Agustus 2009 dengan nomor surat TOP.CRO/RCO.JTH/5094/2009.

Dalam surat balasan kepada Morgan Stanley itu juga dinyatakan bahwa karena Bank Garansi itu tidak pernah diterbitkan Bank Mandiri, maka setiap risiko yang berkaitan dengan Bank Garansi tersebut tidak menjadi tanggung jawab Bank Mandiri.

Berdasarkan dokumen Bank Garansi 'Bank Mandiri' dan Surat Bantahan dari Bank Mandiri yang diperoleh detikFinance, tanda tangan Martono yang tercantum dalam bank garansi dan surat konfirmasi bantahan dari Bank Mandiri memang jauh berbeda.

Dokumen Bank Garansi yang diterbitkan 'Bank Mandiri' itu juga banyak kejanggalan, seperti tidak menggunakan kop Bank Mandiri, tidak ada nomor surat dan cap resmi dari Bank Mandiri. Selain itu, Bank Garansi yang bernilai sangat besar itu ternyata hanya diteken oleh seorang Senior Manager yakni Martono. Padahal mestinya Bank Garansi senilai tersebut diteken oleh pejabat yang lebih tinggi seperti direksi.

Bank Mandiri saat diterbitkannya Bank Garansi juga diketahui tidak ada Unit Kerja bernama Jakarta City Credit Operations IV Thamrin. Kertas/warkat yang dipergunakan bukan produk Bank Mandiri, demikian pula kode Nomor Irrevocable Bank Guarantee dan Surat-surat bukan standar Bank Mandiri.

Bagaimana Bank Garansi palsu 'Bank Mandiri' itu bisa sampai ke tangan Morgan Stanley? Nantikan berita berikutnya...

Kamis, 28 April 2011

Dolar Merosot, Harga Emas Lagi-lagi Cetak Rekor Tertinggi

London - Dolar AS kembali merosot nilainya atas euro, dan harga emas pun kembali menciptakan rekor tertingginya sepanjang sejarah. Pelemahan dolar AS terus memicu investor berburu aset yang aman termasuk emas.

Pada perdagangan Kamis (28/4/2011), mata uang tunggal euro menguat ke level US$ 1,4882, yang merupakan titik tertingginya sejak 7 Desember 2009. Namun euro selanjutnya surut lagi ke level US$ 1,4834, dibandingkan pada penutupan di pasar New York kemarin di US$ 1,4785. Terhadap yen, dolar AS juga merosot ke 81,63 yen dibandingkan sebelumnya di 82,15 yen.

Pelemahan dolar AS itu langsung memicu harga emas di titik tertingginya yakni di pasar spot sempat menembus di US$ 1.534,30 per ounce, sebelum akhirnya surut di US$ 1.530,99 naik dibandingkan penutupan sebelumnya di level 1.526,40.

Sementara harga emas berjangka juga menembus titik tertingginya di US$ 1.535,1 per ounce sebelum akhirnya surut ke US$ 1.531,90 per ounce.

"Segala sesuatu berkaitan dengan dolar dan pembelian aset 'safe-haven'. Keputusan The Fed sebenarnya bukan sebuah kejutan, tidak ada yang berubah, namun nada dari pernyataan Bernanke meninggalkan kesan akan dibiarkan sementara sebelum akhirnya kenaikan suku bunga dipertimbangkan," jelas kepala MKS Finance, Afshin Nabavi seperti dikutip dari Reuters.

"The Fed secara jelas tidak memikirkan kebijakan ketat dalam waktu dekat dan dari perspektif ini, tidak ada dalam bahasa the Fed untuk menangkap pelemahan dolar AS akhir-akhir ini," ujar Spiros Papadopoulos dari National Australia Bank seperti dikutip dari AFP.

Seperti diketahui, Bank Sentral AS dalam pertemuan rutinnya kembali mempertahankan suku bunga ekstra rendahnya di kisaran 0-0,25%. Federal Open Market Committe juga menyatakan akan menuntaskan program pembelian surat berharga hingga US$ 600 miliar hingga Juni sesuai jadwal.

Bernanke dalam konferensi persnya juga mengatakan sedikit kurang momentum dalam perekonomian dan ia melihat sedikit melemahnya angka-angka kemungkinan di bawah 2% untuk pertumbuhan PDB dalam 3 bulan tahun ini. Hal tersebut mengindikasikan the Fed sepertinya akan mempertahankan kebijakan akomodatifnya meski khawatir tentang masalah inflasi.

Kisruh BPHTB hambat Bisnis KPR BTN

Jakarta - Ketidakjelasan pungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) di daerah menjadi kendala PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dalam merealisasikan penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) di awal 2011. Kredit BTN di awal tahun justru lebih rendah dibanding realisasi di 2010.

"Realisasi kredit sampai Maret 2011 (year to date) tercatat tidak maksimal, sebesar Rp 4,51 triliun, lebih rendah dari realisasi kredit di Maret 2010 sebesar Rp 4,55 triliun. Ini terkait dengan BPHTB, atau biaya pemindahan hak atas ini banyak kabupaten yang belum bisa memutuskan harga jualnya," ungkap Direktur Utama BTN Iqbal Latanro dalam jumpa pers di Menara BTN, Harmoni, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Selain BPHTB, lanjutnya, persoalan lain yang memengaruhi tidak maksimalnya realisasi kredit BTN di triwulan satu 2011 adalah banyaknya pengembang yang masih menunggu kepastian harga jual rumah untuk program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

"Namun, untuk kantong-kantong atau wilayah-wilayah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN semuanya sudah punya instansi untuk mengelola BPHTB. Jadi tidak ada masalah," kata Dia.

Realisasi kredit BTN di awal 2011 tercatat, selama Januari sebesar Rp 1,16 triliun, Februari Rp 1,46 triliun, dan mulai meningkat di Maret sebesar Rp 1,87 triliun.

"Nah setelah Maret ada kepastian BPHTB dan harga jual untuk FLPP itu bisa dilihat pertumbuhannya cukup besar," jelas Iqbal.

Seperti diketahui, mulai 2011 pemerintah pusat menyerahkan kewenangan pelaksanaan pungutan BPHTB ke pemerintah daerah. Namun masih banyak daerah yang belum siap untuk memungut BPHTB akibat belum keluarnya Perda sebagai landasan hukumnya.

Hal ini membuat para pelaku properti bingung untuk menyelesaikan transaksi propertinya. Sehingga transaksi properti di banyak daerah pun tersendat.

Sementara itu terkait perolehan laba BTN mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 245 miliar selama triwulan I-2011, naik 30,31% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 188 miliar.

"Kalau dibandingkan secara PSAK 50/55 perbandingan perolehan laba di akhir Maret 2011, tumbuh sekitar 1,54% atau sekitar Rp4 miliar dibandingkan akhir Maret 2010," ujar Iqbal.

Menurutnya, perolehan laba yang tidak terlalu bertumbuh akibat meningkatnya biaya dana (cost of fund). Hal ini tidak dibarengi dengan peningkatan bunga kredit. "Sehingga delta laba kita lebih rendah padahal," jelasnya.

Sementara itu, bisnis syariah BTN memberikan kontribusi laba sebesar Rp 15,2 miliar selama triwulan pertama 2011.

"Untuk pembiayaannya sendiri tumbuh 41,51% dari Rp 2,14 triliun di Maret 2010 menjadi Rp 3,04 triliun di Maret 2011," kata Dia.

Dari perolehan dana pihak ketiga (DPK) sampai triwulan I-2011 tercatat sebesar Rp 2,47 triliun, tumbuh 56,49% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,57 triliun.

Triwulan I Astra Raup Untung Rp 4 Triliun dalam 3 Bulan

Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) meraup laba Rp 4,303 triliun selama kuartal I-2011. Laba ini naik 43% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,014 triliun.

Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto dalam siaran pers, Kamis (28/4/2011).

Prijono mengatakan, kinerja semua lini bisnis perseroan mengalami peningkatan. Namun, bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang telah mengakubatkan adanya gangguan suplai yang berpengaruh pada bisnis otomotif dan alat berat.

"Namun demikian, kami berharap bahwa kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan dapat normal kembali dalam waktu yang tidak lama," jelas Prijono.

Peningkatan laba bersih tersebut didorong oleh pendapatan bersih di kuartal I-2011 yang mencapai Rp 38,693 triliun, atau naik 30% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 29,688 triliun.

Laba usaha meningkat 34%, yaitu dari Rp 3,247 triliun menjadi Rp 4,340 triliun, sehingga sepanjang kuartal pertama tahun 2011 Astra membukukan laba bersih Rp 4,303 triliun, naik 43% dari Rp 3,014 triliun pada periode yang sama tahun 2010 dan laba bersih per saham naik 43% menjadi Rp 1.063 dari Rp 744.

"Kondisi perekonomian Indonesia yang kondusif, termasuk inflasi yang relatif stabil, meningkatnya harga komoditas dan kemudahan pembiayaan konsumen dengan suku bunga yang menarik, mendukung penguatan kinerja Grup Astra di kuartal pertama 2011," tukas Prijono.
Pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham ASII naik 450 poin (0,81%) ke level Rp 55.600 per lembar. Sahamnya aktif diperdagangkan hingga 1.224 kali dengan volume 3.235 lot senilai Rp 89,726 miliar.

Triwulan I Bank Permata Raih Laba Rp 321 Miliar, Naik 20%

Jakarta - PT Bank Permata Tbk meraih laba bersih Rp 321 miliar di kuartal I-2011. Laba ini naik 20% dibandingkan kuartal I-2010 lalu yang sebesar Rp 269 miliar.

Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Bank Permata David Fletcher dalam siaran pers, Kamis (28/4/2011).

Kenaikan laba bersih ditopang oleh kenaikan laba operasional perseroan sebesar 6% menjadi Rp 343 miliar di kuartal I-2011. Ini didorong kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 19% menjadi Rp 932 miliar.

"Bank Permata juga terus mengoptimalkan fungsi intermediasinya untuk mendukung perekonomian Indonesia. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit sebesar 35% menjadi Rp 54,7 triliun di kuartal pertama 2011 dari Rp 40,6 triliun pada tahun sebelumnya," ujar Fletcher.

Total aset perseroan juga naik 28% dari Rp 62,1 trilun di kuartal I-2010 menjadi Rp 79,6 triliun di kuartal I-2011.

"Dana pihak ketiga meningkat 35% menjadi Rp 62,4 triliun. Giro dan Tabungan membukukan kenaikan yang kuat 40% dan 20% menjadi Rp 13,4 triliun dan Rp 12 triliun," jelas Fletcher.

Rasio kredit bermasalah (NPL) Bank Permata menurun sepanjang kuartal I-2011. NPL gross turun menjadi 2,6% di 31 Maret 2011, dibandingkan dengan 4,2% pada tahun sebelumnya, sementara NPL net turun menjadi 0,7% dari 1,2% di tahun sebelumnya.

Laba BCA Naik Tipis 4% Raup Rp 2 Triliun

Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat laba bersih Rp 2,016 triliun, naik 4,4% dari periode sebelumnya Rp 1,931 triliun.

Demikian disampaikan Presiden Direktur BCA D.E. Setijoso dalam paparan publik di Grand Indonesia, Jumat (28/4/2011).

Pencapaian laba didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 40,9% menjadi Rp 3,847 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 2,731 triliun. Pertumbuhan aktiva juga mencapai 14,9% menjadi Rp 326,5 triliun di triwulan I-2011, dari sebelumnya Rp 284,2 triliun.

Portofolio kredit juga meningkat 24,4% menjadi Rp 150,3 triliun. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) mencapai 54,4% atau lebih rendah dari ketentuan Bank Indonesia.

"Kredit konsumer tumbuh 36,2% menjadi Rp 38,7 triliun didorong oleh pertumbuhan KPR dan kredir kendaraan bermotor roda empat, yang merupakan hasil positif dari pertumbuhan segmen kelas menegah dan rendahnya tingkat suku bunga kredit," jelasnya.

Sedangkan segmen UKM dan komersial mencapai Rp 59,5 triliun, tumbuh 27% dibanding sebelumnya. Sementara kredit korporasi naik 14,1% (YoY) menjadi Rp 52,1 triliun pada Maret 2011.

Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan hingga akhir Maret 2011 mencapai Rp 275,8 triliun, tumbuh dari periode sebelumnya. Dengan pembagian masing-masing Giro Rp 65,7 triliun, tabungan Rp 145,6 triliun. Sedangkan deposito turun 2,7% menjadi Rp 64,5 triliun.

Pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham emiten berkode BBCA itu naik 100 poin (1,33%) ke level Rp 7.600 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 353 kali dengan volume 10.377 lot senilai 39,053 miliar.
Pada kesempatan yang sama, BCA targetkan perhitungan rasio pendanaan terhadap kredit (LDR/Loan To Deposit Ratio) mencapai 60% dalam waktu dekat, dari posisi per triwulan I-2011, Rp 54,4%.

"Kami akan tingkatkan rasio LDR menjadi 60%, secepatnya," jelasnya.

Namun, Setijoso tidak merinci lebih jauh kapan target 60% rasio LDR tersebut terpenuhi. Pasalnya, meski pertumbuhan kredit meningkat, namun ini diimbangi oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga 13,8% (YoY) di triwulan I-2011.

"Tidak bisa (dipastikan) tahun ini terpenuhi (60%). Kami terus upayakan. Tabungan sebenarnya sudah tumbuh 20%, jadi bukan berarti malas menyalurkan kredit. Dalam perhitungan LDR ada dua komponen, dana dan pinjaman. Dan obligasi sendiri kan tidak dimasukkan dalam komponen LDR," tambahnya.

Sinyal The Fed Hijaukan Bursa Asia

Headline
INILAH.COM, Tokyo – Bursa Asia ditutup positif pada perdagangan Kamis (27/4) karena sinyal-sinyal positif dari Bank Sentral AS The Federal Reserve.

Indeks Komposit Morgan Stanley (MSCI) Asia Pasifik (APAC) menguat 1,2% ke 139,47 dan menuju penutupan terkuatnya sejak 21 Februari. Rasio perdagangan, lima saham menguat untuk empat yang turun. Pekan ini, MSCI APAC naik 2,2% dan price earning ratio (PER) berada pada 13,2 kali.

Indeks Nikkei di Jepang naik 1,6% atau tertinggi sejak gempa bumi-tsunami 11 Maret lalu. Bursa Selandia Baru naik 0,3% setelah bank sentral negara tersebut mempertahankan suku bunga ke rekor terendahnya, dalam upaya memulihkan diri dari gempa bumi terbesar selama 80 tahun terakhir.

Bursa Kospi di Korea Selatan menguat 0,1% dan bursa Australia tak banyak berubah. Sebaliknya, indeks Hang Seng di Hong Kong merosot 0,2% dan indeks komposit Shanghai turun 1,1%. Futures Standard & Poors menguat 0,2% hari ini.

Perusahaan otomotif Jepang yang 45% penjualannya dari Amerika Utara, Honda Motor Co., menguat 2,9% di Tokyo. Produsen otomotif Korea Selatan, Hyundai Motor, juga mengalami kenaikan 7,3% ke rekor tertingginya.

Produsen chip memori terbesar dunia, Advantest, naik 5,6%. Computershare Ltd. yang share registrar nomor satu dunia, membubung 7,7% di Sydney setelah setuju memberi saham setelah setuju membeli divisi bisnis jasa Bank of New York Mellon Corp.

“Ada kombinasi suku bunga rendah dan earning kuat. Ini koktail yang amat baik untuk bursa saham,” ujar Nader Naeimi dari AMP Capital yang mengelola aset sebesar US$100 miliar.

Gubernur The Fed Ben Bernanke memberi sinyal pihaknya masih tetap mempertahankan stimulus moneter setelah mengakhiri pembelian obligasi besar-besaran pada Juni mendatang. Sementara ada kebutuhan menekan inflasi dengan melonggarkan kebijakan, mungkin takkan terjadi.

“Saham-saham AS ditopang kebijakan yang longgar dan harganya semakin murah. Kenaikan saham-saham AS amat positif untuk pasar saham,” ujar Toshio Sumitani dari Tokai Tokyo Research Center. The Fed akan mempertahankan suku bunga pada 0-0,25%, sejak Desember 2008.

Indeks perusahaana konsumsi, termasuk elektronik dan pabrikan otomotif, memimpin kenaikan diantara 10 sektor industri yang dipantau MSCI APAC. Selain Honda dan Hyundai, produsen otomotif terbesar Toyota Motor Corp. naik 1,4%. Produsen ponsel terbesar ketiga, LG Electronics Inc., naik 1,9% di Seoul.

Produsen alat berat konstruksi terbesar kedua dunia, Komatsu Ltd., naik 2,8%. Produsen robot industri terbesar Jepang, naik 1,4%. China Coal Energy Co., produsen bahan bakar terbesar kedua di negaranya, memimpin penguatan Hang Seng dengan 4,6%.

Nippon Electric Glass Co. meroket 8,6% dan menjadi penggerak terbesar MSCI APAC. Computershare naik 7,7% di Sydney. BNY Mellon setuju menjual kepemilikan bisnis jasa di perusahaan itu kepada perusahaan Australia seharga US$550 juta. [ast]

Triwulan I, BTN Bukukan Laba Rp245 Miliar

Logo BTN. Foto: Idris Rusadi P/okezone
JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan dana pihak ketiga pada triwulan I-2011 tumbuh sebesar 27,86 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

"DPK tumbuh dari Rp37,852 triliun pada triwulan I 2010 menjadi Rp48,396 triliun pada posisi yang sama di 2011," ungkap Direktur Utama BTN Iqbal Latanro saat memberikan paparannya di Menara BTN, Jakarta Kamis (28/4/2011).

Sementara untuk laba bersih perseroan pada triwulan I-2011 juga mengalami pertumbuhan sekira 30,31 persen dibanding periode sebelumnya. "Bank BTN berhasil meningkatkan laba bersihnya menjadi Rp245 miliar pada dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp188 miliar," tuturnya.

Adapun hingga Maret 2011 BTN telah membuka sebanyak 111 kantor kas. "Tahun lalu sudah membuka 100 kantor kas, dan diharapkan tahun ini bisa menjadi 200 kantor kas," pungkasnya.

Saham ENRG Teraktif Diperdagangkan Hari Ini

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham Energi Mega Persada Tbk (ENRG) teraktif diperdagangkan pada hari ini dengan transaksi mencapai 3.692 kali senilai Rp120,3 miliar dengan volume 786,05 juta saham.

Demikian dikutip dari data BEI, Kamis (28/4). IHSG ditutup naik 4 poin atau 0,1% ke 3.808,9. Volume perdagangan mencapai 5,3 miliar saham senilai Rp3,3 triliun. IHSG mengalami net foreign buy mencapai Rp372,9 miliar dengan penjualan asing sebesar Rp905,6 dan pembelian asing mencapai Rp1,2 triliun.

Urutan kedua saham BIPI dengan transaksi sebanyak 2.763 kali senilai Rp22,9 miliar dengan volume perdagangan mencapai 175,2 juta saham. Urutan ketiga saham CPIN dengan transaksi sebanyak 2.733 kali senilai Rp68,2 miliar dengan volume perdagangan mencapai 34,8 juta saham. Urutan keempat saham GREN dengan transaksi sebanyak 2.501 kali senilai Rp8,6 miliar dengan volume perdagangan mencapai 83,4 juta saham.

Urutan kelima saham BJBR dengan transaksi sebanyak 2,260 kali senilai Rp100,4 miliar dengan volume perdagangan mencapai 77,5 juta saham. Urutan keenam saham RICY dengan transaksi sebanyak 2.232 kali senilai Rp3,07 miliar dengan volume perdagangan mencapai 17,1 juta saham. Urutan ketujuh saham MRAT dengan transaksi sebanyak 2.201 kali senilai Rp3,9 miliar dengan volume perdagangan mencapai 6,9 juta saham.

Urutan kedelapan saham EMDE dengan transaksi sebanyak 1.934 kali senilai Rp8,2 miliar dengan volume perdagangan mencapai 11,6 juta saham. Urutan kesembilan saham BUMI dengan transaksi sebanyak 1.915 kali senilai Rp409,7 miliar dengan volume perdagangan mencapai 122,8 juta saham. Urutan kesepuluh saham APLN dengan transaksi sebanyak 1.821 kali senilai Rp51,06 miliar dengan volume perdagangan mencapai 142,6 juta saham.

Kuartal I-2011 Laba Bersih Bhakti Capital Naik 7%

Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - PT Bhakti Capital Indonesia Tbk (BCAP) mengalami peningkatan laba bersih sebesar tujuh persen menjadi Rp68 miliar pada kuartal-I 2011 dibandingkan periode yang sama di 2010 yang mencapai Rp64 miliar.

Demikian hal tersebut disampaikan oleh Komisaris Utama Bhakti Investama, Hary Tanoesoedibjo, ditemui dalam acara Public Expose, di MNC Tower, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Sementara dari sisi pendapatan konsolidasi pada kuartal-I 2011 ini juga mengalami peningkatan sebesar 26 persen menjadi Rp129 miliar dari Rp102 miliar pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Hasil tersebut dapat tercapai terutama karena sebagian besar pendapatan mengalami kenaikan dan pada 2011 BCAP memiliki pendapatan premi yang berasal dari MNC Life, anak perusahaan BCAP yang bergerak pada bidang asuransi.

Peningkatan pendapatan ini diikuti oleh kenaikan EBITDA sebesar 15 persen dari Rp75 miliar menjadi Rp86 miliar.

BHIT Cetak Laba Bersih Rp170 Miliar

Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 12 persen mencapai Rp170 miliar pada kuartal-I 2011 dibandingkan periode yang sama 2010 sebesar Rp153 miliar.

Demikian hal tersebut disampaikan oleh Komisaris Utama BHIT, Hary Tanoesoedibjo, ditemui dalam acara Public Expose, di MNC Tower, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Sementara itu, pendapatan konsolidasi BHIT pada kuartal-I di 2011 mencapai Rp1,8 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 17 persen dari periode yang sama di 2010 yang mencapai Rp1,5 triliun.

Hasil tersebut dapat tercapai terutama karena adanya peningkatan pendapatan usaha yang signifikan dari investasi strategis BHIT disektor media dan jasa keuangan.

Sementara untuk laba usaha BHIT pada kuartal-I 2011 meningkat sebesar 19 persen dari Rp425 miliar menjadi Rp504 miliar. Dari sisi EBITDA pun juga terjadi peningkatan sebesar 22 persen menjadi Rp662 miliar dibandingkan periode yang sama di 2010 sebesar Rp544 miliar.

BHIT bagi dividen senilai Rp 59,7 miliar

BHIT bagi dividen senilai Rp 59,7 miliar
JAKARTA. PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) akan membagi dividen tunai sebesar Rp 2 per saham atau senilai total Rp 59,7 miliar.

"Dividen ini naik 100% dibandingkan tahun lalu," ujar Direktur Utama BHIT Hary Tanoesoedibjo, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2010, Kamis (28/4).

Selain mengungkapkan soal dividen, Hary juga memaparkan kinerja perseroan di tiga bulan pertama tahun ini. Pendapatan BHIT pada kuartal pertama 2011 naik 17% menjadi Rp 1,8 triliun.

Kontribusi pendapatan terbesar disokong tiga sektor, yakni bisnis media berbasis pelanggan, bisnis pembiayaan dan efek, serta media berbasis konten dan iklan.

Sementara, laba bersih BHIT di periode tiga bulan pertama 2011 tercatat Rp 170 miliar, atau meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

DJ Astra International 1Q Net Profit Rises 43% To IDR4.3 Tln

Date : Apr 28 2011, 16:37
Title : News Story
Header : DJ Astra International 1Q Net Profit Rises 43% To IDR4.3 Tln


Story
=======================================================================================

JAKARTA (Dow Jones)--Diversified company PT Astra International (ASII.JK)
reported Thursday its net profit rose to IDR4.3 trillion ($502 million) in the
first quarter compared with IDR3.01 trillion a year earlier, on the back of
rising revenue.
Astra's revenue stood at IDR38.7 trillion in the January-March period, a
30% increase from IDR29.7 trillion in the same period a year earlier.
Astra, which has interests ranging from automotives, heavy equipment,
agribusiness, mining, and financials, cited that conducive economic conditions
in the country, increasing commodity prices and stable interest rates have
helped its financial performance.
The company noted a risk of supply shortage for automotives and heavy
equipment after earthquakes and tsunami hit Japan last month.
"But we hope the situation to be temporary and can return to normal in the
near term," Astra Chief Executive Prijono Sugiarto said in a statement.
-By Andreas Ismar, Dow Jones Newswires; 62 21
39831277;andreasismar.sandiwan@dowjones.com
Click here to go to Dow Jones NewsPlus, a web front page of today's most
important business and market news, analysis and commentary:
http://www.djnewsplus.com/access/al?rnd=a11FHb%2BsXU%2BcrtQ1qlZCww%3D%3D. You
can use this link on the day this article is published and the following day.

(END) Dow Jones Newswires
April 28, 2011 05:35 ET (09:35 GMT)
Copyright (c) 2011 Dow Jones & Company, Inc.- - 05 35 AM EDT 04-28-11

=======================================================================================

Kinerja Emiten Kinclong, IHSG Cetak Rekor Lagi

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu naik tipis menjelang penutupan di tengah positifnya kinerja keuangan emiten dan rencana pembagian dividen. Indeks berhasil cetak rekor baru lagi.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 8.575 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.625 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 6,347 poin (0,16%) ke level 3.811,278. Indeks terdorong penguatan bursa Wall Street semalam dan memantapkan posisinya di level 3.800.

Sentimen positif itu mampu menjaga indeks bertahan di teritori positif sepanjang perdagangan sesi I. Posisi tertingginya sempat didaki di awal perdagangan 3.824,068 sebelum akhirnya laju pertumbuhannya melambat.

Posisi IHSG tersebut merupakan intraday tertinggi yang sebelumnya pernah diraih pada 21 April 2011 lalu di posisi 3.813,177. Namun sayangnya, laju penguatan IHSG melambat setelah beberapa pelaku pasar memutuskan untuk ambil untung di beberapa saham unggulan.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik tipis 1,953 poin (0,05%) ke level 3.806,884. Pertahanan IHSG pun jebol, aksi ambil untung berlanjut dan akhirnya jatuh ke teritori negatif.

Melihat posisi IHSG yang sudah cukup tinggi, investor lokal tergoda untuk terus melakukan aksi ambil untung. Bahkan di perdagangan sesi II, indeks sempat jatuh ke posisi terendahnya di 3.787,856.

Menutup perdagangan, Kamis (28/4/2011), IHSG naik tipis 3,998 poin (0,10%) ke level 3.808,929. Sementara Indeks LQ 45 turun tipis 0,266 poin (0,04%) ke level 680,894.

Sentimen positif seperti tumbuhnya kinerja keuangan emiten dan rencana pembagian dividen tidak dapat diserap dengan baik oleh bursa. Aksi profit taking terus berlanjut ditambah dengan pelemahan bursa-bursa di Asia sehingga laju penguatannya terhambat.

Investor asing masih banyak mengakumulasi saham, terlihat dari transaksinya yang tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 371,864 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 102.351 kali pada volume 5,339 miliar lembar saham senilai Rp 3,839 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 114 saham turun, dan 97 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih bergerak mixed sampai sore ini, namun cenderung balik arah melemah. Hanya bursa Jepang yang masih melesat tinggi meski data ekonominya kurang menggembirakan.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai ambruk 37,74 poin (1,29%) ke level 2.887,67.
  • Indeks Hang Seng turun 87,21 poin (0,37%) ke level 23.805,63.
  • Indeks Nikkei 225 melesat 157,90 poin (1,63%) ke level 9.849,74.
  • Indeks Straits Times turun tipis 0,57 poin (0,02%) ke level 3.182,11.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 9.500 ke Rp 129.500, Petrosea (PTRO) naik Rp 5.900 ke Rp 35.400, Indospring (INDS) naik Rp 1.500 ke Rp 9.200, dan Astra Internasional (ASII) naik Rp 450 ke Rp 55.600.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam katagori top losers antara lain Sarana Menara (TOWR) turun Rp 500 ke Rp 10.500, Mayora (MYOR) turun Rp 350 ke Rp 11.350, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 300 ke Rp 25.900, dan Indomobil (IMAS) turun Rp 150 ke Rp 8.400.

Kuartal I 2011, laba bersih MNCN tumbuh 27%

Kuartal I 2011, laba bersih MNCN tumbuh 27%
JAKARTA. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mencatat pertumbuhan kinerja di awal tahun ini. Pada kuartal pertama 2011, perseroan membukukan laba bersih senilai Rp 243 miliar, atau naik 27% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan laba bersih itu ditopang naiknya pendapatan di kuartal pertama 2011 menjadi Rp 1,16 triliun, atau sebesar 15% dari kuartal pertama tahun lalu. Peningkatan pendapatan ini disebabkan adanya pertumbuhan pendapatan iklan dari tiga televisi free to air sebesar 29% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Akibatnya, laba usaha pun meningkat sebesar 25% menjadi Rp 355 miliar pada kuartal pertama 2011. Pada kuartal pertama tahun ini, EBITDA marjin juga tumbuh menjadi 35%, dibandingkan periode yang sama di 2010 yang hanya 32%.

"Kenaikan ini dikarenakan pertumbuhan pendapatan serta biaya operasional yang stabil," kata manajemen MNCN, dalam keterbukaan informasi BEI, hari ini.

Perseroan yakin kinerja yang kuat di kuartal pertama ini menjadi indikasi bakal tercapainya kinerja yang luar biasa pada tahun ini.

Seiring Bursa AS, Bursa Eropa Menguat

Headline
INILAH.COM, London - Bursa saham Eropa pada perdagangan Kamis (28/4) naik mengikuti penguatan Wall Street. Pasar merespon pernyataan The Fed soal ekonomi AS.

Indeks FTSE naik 7,6 poin atau 0,1% ke 6.075, indeks CAC naik 26,4 poin atau 0,6% dan indeks DAX naik 40,3 poin atau 0,5% ke 7.445,2.

The Fed akan menyelesaikan pembelian obligasi pemerintah senilai US$600 miliar hingga bulan Juni untuk mendukung pemulihan ekonomi. Lembaga ini juga menegaskan lagi tentang rencana mempertahankan suku bunga mendekati nol untuk jangka waktu panjang.

"Kelihatannya seolah-olah kita akan mendapatakan EQ2. Pasar akan tenang mesikpun terjadi gejolak yang lebih kecil. Hari ini data PDB AS diperkirakan akan melemah dan akan ada kepanikan sesaat," kata Justin Urquhart Stewart, Direktur di Seven Investment Management yang dikutip dari yahoo.finance.com.

Saham Deutsche Bank naik 3,5% setelah laba bersih pada kuartal I naik mendekati rekor. Apalagi terjadi perubahan investasi di bank.

TOTL bagi dividen senilai Rp 14,67 per saham

TOTL bagi dividen senilai Rp 14,67 per saham
JAKARTA. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) akhirnya membagikan dividen tunai sebesar Rp 50,02 miliar, atau 62% dari total laba bersih tahun buku 2010. Tiap pemegang saham akan mendapatkan Rp 14,67 per saham.

"Ini merupakan dividen dengan persentase dan total terbesar sejak kita listing," kata Direktur TOTL Moeljati Soetrisno di Jakarta, Kamis (28/4). Penetapan ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), hari ini.

Sementara, sisa laba bersih sebesar Rp 20,75 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan.

Pembayaran dividen akan dilakukan pada 8 Juni mendatang. Dengan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi sampai 20 Mei 2011.

Lagi, emas torehkan rekor sepanjang sejarah di US$ 1.534

JAKARTA. Emas kembali torehkan rekor baru, pada siang ini. Harga si kuning ini terus melambung setelah Federal Reserves mempertahankan suku bunga mendekati nol untuk menstimulus ekonomi. Dollar pun melemah, sehingga mendongkrak daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Kontrak emas untuk pengiriman Juni di Comex, NYMEX melejit 1,1% ke level US$ 1.534 per ons troy, pada pukul 11.37 WIB. Ini level tertinggi sepanjang sejarah. Adapun, hingga pukul 14.20 WIB, harganya masih bertengger di US$ 1.531,3 per ons troy.

Kemarin, Ketua The Fed Ben S. Bernanke memberi sinyal bank sentral akan mempertahankan stimulus moneter senilai US$ 600 miliar hingga berakhir sesuai jadwal pada Juli mendatang.

Dollar tumbang ke level US$ 1,48 per euro untuk pertama kali sejak Desember 2009. Indeks dollar terhadap enam mata uang utama dunia turun dalam delapan hari terakhir ke level terendah sejak Juli 2008.

Hwang Il Doo dari KEB Futures Co. menyebut ketakutan investor atas penurunan dollar ada di balik reli emas saat ini. "Selama AS terus menahan suku bunga di level rendah akan dipersepsi pasar sebagai sinyal untuk membeli lebih banyak emas," ujarnya.

Credit Suisse AS memperkirakan, emas akan menyentuh US$ 1.650 per ons troy, dalam dua belas bulan ke depan, karena tingginya permintaan untuk melawan rendahnya bunga AS.