Senin, 08 Agustus 2011

Turun 7,28%, Bursa Korsel Disuspensi 5 Menit

Waspadai sudden revearsal di pasar obligasi
JAKARTA. Semakin derasnya dana asing yang masuk ke pasar obligasi domestik, membuat kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) kembali bertambah.

Diambil dari data di Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Negara (DJPU), sampai 4 Agustus lalu, proporsi kepemilikan asing di SBN sebesar Rp 248,42 triliun atau sebanyak 35,54% dari total kepemilikan SBN sebesar Rp 698,99 triliun. Jika dibandingkan akhir Januari lalu, kepemilikan asing sudah naik 27,41% sampai per 4 Agustus dari Rp 194,97 triliun.

Tumpal Sihombing, Corporate Secretary Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) memprediksi, aliran dana asing yang masuk akan terus meningkat pada paruh kedua tahun ini. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran investor akan terus memburuknya situasi krisis utang AS dan Eropa yang masih akan terus berlanjut.

Namun, Tumpal juga memperingatkan adanya potensi pembalikan arah dengan pelarian modal (sudden reversal). Sejauh ini, terdapat empat kebijakan antisipasi atau management protocol crisis yang disiapkan oleh pemerintah. "Kebijakan ini bernama Bond Stabilization Framework," jelas Tumpal.

Pertama, pemerintah melakukan operasi pasar untuk buyback obligasi negara dengan menggunakan dana APBN.

Kedua, pemerintah menggunakan dana menganggur (idle cash) yang dikelola Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang bertindak sebagai bendahara negara.

Ketiga, pemerintah bersama BUMN menyiapkan bond stabilization fund, yaitu dengan mengajak perusahaan-perusahaan milik negara menganggarkan dana untuk membantu buyback jika krisis terjadi.

"Dan terakhir pemerintah menggunakan SAL (Saldo Anggaran Lebih) untuk melakukan operasi pasar," imbuhnya.

BUMN Publik Diminta tak Ikut-ikutan Jual Saham

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Menteri BUMN Mustafa Abubakar menghimbau emiten-emiten pelat merah untuk tidak turut menjual saham dalam kondisi IHSG yang masih labil.

Mustafa mengatakan, kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih melanjutkan pelemahan. "IHSG kan sekarang turun kemarin dah sempat bagus sampai dengan 4.200 kan ya. Recall sekali, sekarang sempat di bawah 4.000 malah sekarang," tutur Mustafa di kantor Kemenko Perekonomian, Senin (8/8).

Ia pun menghimbau bagi para emiten yang berada di bawah benderanya untuk tidak melakukan aksi jual seperti yang dilakukan para pelaku pasar. "Sekarang tidak ada alasan dari BUMN-BUMN kita yang investor untuk melakukan selling (penjualan) ini," tuturnya.

Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini hanyalah bersifat sementara sebagai imbas dari kepanikan yang melanda bursa global. "Ini adalah harapan kita gejala sementara mudah-mudahan ini cuma panic selling ya, karena perkembangan dari ekonomi Eropa barat khususnya di Amerika Serikat kemaren," tandasnya. [cms]

Aksi jual asing masih mendominasi bluechips di sesi I

Aksi jual asing masih mendominasi bluechips di sesi I
JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 195,86 poin di sesi I. Alhasil, posisi indeks di penutupan siang ini adalah 3.725,78.

Sepertinya, aksi jual investor asing terhadap saham-saham bluechips menjadi salah satu pemicu utama penurunan. Siapa saja bluechips yang mengalami penurunan terbesar?

- PT Bank Central Asia (BBCA)
Saham BBCA ditutup melorot 6,02% menjadi Rp 7.800 di sesi I. Sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini antara lain: Merrill Lynch Indonesia senilai Rp 75,63 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 23,88 miliar, dan Bahana Securities senilai Rp 19,81 miliar.

- PT Astra Internasional (ASII)
Saham ASII ditutup melorot 4,02% menjadi Rp 64.500 di sesi I. Sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini antara lain: CIMB Securities Indonesia senilai Rp 35,68 miliar, Bahana Securities senilai Rp 25,46 miliar, dan Deutcshe Securities senilai Rp 24,84 miliar.

- Saham Bank Mandiri (BMRI)
Saham BMRI ditutup melorot 6,12% menjadi Rp 6.900 di sesi I. Sejumlah broker yang melepas kepemilikannya atas saham ini antara lain: CIMB Securities senilai Rp 39,98 miliar, CLSA Indonesia senilai Rp 31,41 miliar, dan Deutsche Securities senilai Rp 29,19 miliar.

IHSG Koreksi, Beli Saham Unggulan yang Anjlok

INILAH.COM, Jakarta- Koreksi IHSG siang ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga penutupan. Namun, momen ini bisa digunakan untuk akumulasi beli pada saham unggulan yang sudah terkoreksi tajam.

Analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah memperkirakan, pergerakan indeks domestik hingga penutupan sore nanti akan variatif cenderung melemah tajam pada kisaran 2-5%. “Indeks akan bergerak dalam kisaran support 3.723 dan 3.966 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/8).

Koreksi indeks hari ini, menurutnya, dipicu oleh kerontokan bursa regional yang rata-rata mencapai 4%. Pasar merespon negatif penurunan peringkat utang AS oleh Standar & Poor’s Rating Service (S&P) pada Sabtu (6/8) WIB, bersamaan dengan penutupan Wall Street. Peringkat kredit AS turun jadi AA+ dari AAA.

Menurutnya, yang ingin dilihat pasar saat ini adalah apakah bursa AS akan kembali anjlok seiring down grade peringkat kredit AS itu akan hanya turun bertahap. Apalagi, pada perdagangan akhir pekan lalu, investor asing, berposisi net sell hingga Rp1,2 triliun di Bursa Efek Indonesia.

Hanya saja, lanjut Cece, investor asing memang melakukan aksi jual. Tapi, situasi ini tidak sepenuhnya negatif. Sebab, aksi itu semata untuk mendapatkan harga saham (barang) yang murah. “Secara teori, jika ekonomi AS dan Eropa melambat, investor dua benua itu akan beralih ke Indonesia seperti Surat Utang Negara (SUN) dan bursa saham,” timpalnya.

Tapi, memang, untuk saat ini asing masih merealisasikan keuntungan (profit taking). Karena itu, meski IHSG rontok, pasar tak perlu khawatir berlebihan. Hingga pukul 11.15 WIB, asing berposisi net buy hingga Rp400 miliar.

Dalam situasi ini, Cece merekomendasikan positif saham-saham bluechip yang sudah turun tajam dan beberapa broker asing sudah kembali melakukan aksi beli (buy back) pada saham-saham tersebut.

Tapi, Cece tidak menampik kenyataan, investor domestik masih wait and see dengan melihat perkembangan Wall Street nanti malam. Pasar ingin melihat, apakah Wall Street akan kembali anjlok drastis kembali hingga 500 poin sehingga pasar regional masih jadi ancaman. “Padahal, IHSG sudah mencapai batas support-nya,” paparnya.

Saham-saham pilihannya adalah PT Astra Internasional (ASII), PT Tambang Bukit Asam (PTBA), PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur (INDF) dan PT Indo Tambang Raya (ITMG). “Saya rekomendasikan buy on support saham-saham tersebut,” imbuh Cece. [ast]

Di penutupan sesi I, penurunan 287 saham bikin indeks terjungkal nyaris 5%

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terpuruk saja. Pada penutupan sesi I, indeks ditutup dengan penurunan 4,99% menjadi 3.725,782.

Sektor dengan penurunan terbesar dicatat oleh sektor agrikultur sebesar 6,6%. Baru kemudian disusul oleh sektor konstruksi dan sektor perdagangan dengan penurunan masing-masing sebesar 5,99% dan 5,69%.

Di penutupan sesi I, hanya ada enam saham yang ditransaksikan naik. Sisanya sekitar 287 saham melorot dan 14 saham lainnya tak bergerak. Volume transaksi mencapai 4,587 miliar saham senilai Rp 4,103 triliun.

Saham-saham yang terjungkal ke posisi top losers diantaranya: Equity Development (GSMF) anjlok 31,54% menjadi Rp 89, Argha Karya Prima (AKPI) turun 24,84% menjadi Rp 1.180, dan Bank Mega (MEGA) turun 24,32% menjadi Rp 2.800.

Sementara, sejumlah saham yang menduduki posisi top gainers antara lain: Apac Citra Centertex (MYTX) naik 5,88% menjadi Rp 180, Ace Hardware Indonesia (ACES) turun 4,84% menjadi Rp 3.250, dan Trust Finance Indonesia (TRUS) naik 2,33% menjadi Rp 440.

Asia Keok,IHSG Sesi I Ditutup Terjungkal Hampir 5%

INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan sesi I Senin (8/8) ini, IHSG ditutup melemah 4,99% ke level 3.725,83.

Pelemahan IHSG siang ini masih dipengaruhi sentimen negatif koreksi di bursa global. Namun, diperkirakan efek koreksi eksternal ini hanya akan berupa sentimen seiring fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat dan berorientasi domestik.

Pekan kemarin bursa global mengalami koreksi signifikan dalam 2 hari perdagangan terakhir seiring pesimisme investor ekonomi AS akan melambat setelah rilis data manufaktur di bulan Juli lebih rendah dari ekspektasi. Setelah bursa AS tutup di akhir pekan kemarin, lembaga rating Standard & Poor’s menurunkan rating utang AS satu level menjadi AA+ seiring meningkatnya risiko utang AS dan risiko politik.

Harga minyak dunia kemarin relatif flat di level US$87/barel sementara harga metal mengalami koreksi signifikan dengan Nikel -4,8% dan Timah -4,5%.

Bursa Asia siang masih terkoreksi memfaktorkan penurunan rating AS dan ditambah dengan sentimen negatif dari langkah China menaikkan suku bunga acuannya sebesar 23 bps menjadi 6,43%. Harga minyak dunia pagi ini terkoreksi sekitar 3% ke level US$84,1/barel.

Di Asia siang, Shanghai turun 3,68%, Hang Seng turun 4,04%, KLSE turun 3,06%, Nikkei turun 2,54%, STI turun 4,82%, dan Seoul turun 6,84%.

Sebanyak 305 saham tercatat turun siang ini, sedang hanya 9 saham yang naik, dan 14 saham stagnan. Indeks LQ45 sesi I ditutup turun 4,53% ke level 661,82, sedang JII turun 3,82% ke level 517,41. Asing terpantau masih menepi dari pasar dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp468,88 miliar.

Volume perdagangan siang sebanyak 3,76 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp3,86 triliun.

Saham-saham yang turun tajam pagi ini adalah MBAI yang turun 18,29%, ASII turun 4,09%, SCPI turun 8,59%, ITMG turun 4,46%, TOWR turun 13,38%, dan GGRM turun 3,03%.

Sesi I Aksi Jual Masif Bawa IHSG Jatuh ke Level 3.700

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 195 poin akibat tekanan aksi jual masif yang dilakukan investor asing dan lokal. Pemangkasan peringkat utang AS berakibat sangat parah terhadap psikologis investor.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG terpangkas 65,057 poin (1,66%) ke level 3.856,586. Saham-saham unggulan terkena koreksi akibat sentimen dipangkasnya peringkat utang AS.

Sentimen negatif tersebut terus menyeret IHSG jatuh semakin lama semakin dalam, hingga ke posisi terendahnya hari ini di level 3.722,155. Indeks sama sekali tak menyentuh zona hijau sejak pembukaan perdagangan.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (8/8/2011), IHSG terjun bebas 195,861 poin (5,00%) ke level 3.725,782. Sementara Indeks LQ 45 anjlok 31,250 poin (4,55%) ke level 661,773.

Koreksi masif yang kembali diderita IHSG ini sudah setara dengan koreksi yang terjadi pada krisis tahun 2008 lalu jika dilihat dari persentasenya. Tekanan jual yang sangat hebat membuat indeks harus puas menjadi bulan-bulanan investor.

Seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) 'terbakar' di zona merah dengan rata-rata melemah lebih dari 5%, bahkan ada yang sampai 6% yaitu sektor properti.

Aksi ambil untung ini dilakukan investor untuk mengamankan portofolionya agar tidak ikut jatuh semakin dalam. Aksi ini dilakukan oleh investor asing dan lokal.

Perdagangan hari ini berjalan ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 94.253 kali pada volume 4,587 miliar lembar saham senilai Rp 4,103 triliun. Hanya 6 saham naik, sisanya 305 saham turun, dan 15 saham stagnan.

Penurunan yang terjadi di bursa-bursa Asia pun semakin dalam, IHSG kembali menjadi pasar modal yang jatuh paling dalam siang ini. Turunnya peringkat utang AS dan krisis Eropa yang berkepanjangan memberi sentimen negatif yang cukup signifikan.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional hingga siang hari:
  • Indeks Komposit Shanghai jatuh 96,54 poin (3,68%) ke level 2.529,88.
  • Indeks Hang Seng ambruk 845,94 poin (4,04%) ke level 20.100,20.
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 232,00 poin (2,49%) ke level 9.067,88.
  • Indeks Straits Times terjun bebas 140,57 poin (4,69%) ke level 2.854,21.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 500 ke Rp 125.000, Ace Hardware (ACES) naik Rp 150 ke Rp 3.250, Sari Roti (ROTI) naik Rp 25 ke Rp 3.125, dan Trust Finance (TRUS) naik Rp 10 ke Rp 440.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Breeder (MBAI) turun Rp 5.150 ke Rp 23.000, Astra Internasional (ASII) turun Rp 2.700 ke Rp 64.500, Schering Plough (SCPI) turun Rp 2.450 ke Rp 26.050, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 2.000 ke Rp 42.750.
(ang/dnl)

Indeks Anjlok Lebih Baik Ketimbang Turun Pelan

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Investor diminta tidak panik mengingat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai level 3.749 atau turun 4,40% pada perdagangan saham Senin (8/8) pukul 11.19 WIB.

Pengamat pasar modal David Cornelis menuturkan, pemberitaan akhir pekan lalu mengenai penurunan rating utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ oleh lembaga pemeringkat S&P memberikan sentimen negatif terhadap bursa saham global termasuk bursa saham Indonesia. IHSG secara teknikal pun dinilai memiliki peluang untuk melemah cukup besar sejak penembusan rekor baru pada bulan lalu. David memprediksikan, IHSG akan berada di level support terdekat di level 3.730 pada Senin (8/8)."Investor tidak perlu panik selama tidak menggunakan margin dalam bertransaksi," ujar David saat dihubungi Senin (8/8).

David menilai, penurunan IHSG ini dinilai lebih baik sifatnya ketimbangan penurunan yang pelan tapi sistematis. IHSG pun diprediksikan akan stabil dalam dua hingga tiga hari ke depan."Penurunan yang cepat, drastis dan dramatis ini sifatnya hanya temporer karena hanya tercipta oleh dua hari saja, tidak firm untuk dikatakan bearish karena sifatnya bukan sistematis, kemungkinan besar akan reversal dua hingga tiga hari ke depan, ini hanya temporer, jangan panik," kata David.

David juga menyarankan investor tidak menggunakan margin terlebih dahulu. Ia merekomendasikan buy on weakness. [cms]

Hatta: Jangan Anggap 'Enteng' Kondisi AS

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kendati kondisi fundamental bursa saham RI kuat, namun Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan untuk tidak mengganggap enteng kondisi AS dan Eropa yang masih lemah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir pekan lalu ditutup anjlok 4,86%. Pelemahan masih berlanjut hingga pembukaan pagi ini dengan turun 1,6% dan berlanjut turun 4,34%.

"Saya kira ini fenomena global, jadi tidak usah panik. Ini imbas dari apa yang terjadi di AS dan Eropa. Tidak menyentuh sama sekali dari fundamental bursa saham kita, karena harus kita akui fundamental emiten kita bagus," ujar Hatta di kantornya, Senin (8/8).

Ia pun yakin bahwa bursa saham lokal akan segera pulih karena aliran dana asing (capital inflow) masih deras masuk ke Indonesia. "Dan saya akan merasa indoensia akan cepat pulih nanti karena bagaimanapun flight to quality - dana itu akan mengalir ke tempat yang berkualitas. Oleh karena itu Indonesia atau emerging country itu berkualitas maka flight dia (dana asing) ke tempat-tempat itu," ungkapnya.

Namun, ia menekankan untuk tetap waspada dan tidak menganggap enteng kondisi yang kuat tersebut. "Nah, pandai-pandai kita. Memang kita harus mewaspadai, jangan menganggap enteng, semua kita itu punya instrumen ada sesuatu yang kita lakukan, tapi sejauh ini tidak perlu panik. Quality ada di kita," tandasnya. [cms]

Penghasilan bunga kerek kinerja SCMA di semester I 2011

JAKARTA. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) beserta anak perusahaan berhasil membukukan laba bersih pada semester I tahun 2011 ini sebesar Rp 382,63 juta. Angka itu naik 81,82% dari Rp 210,44 di perode yang sama tahun sebelumnya. Padahal kalkulasi laba usaha hanya naik 57,9% dari Rp 326,51 akhir Juni 2010 menjadi Rp 515,67 pada periode yang sama tahun ini.

Diambil dari laporan non audit (5/8), rupanya kenaikan laba bersih dipicu oleh bertambahnya penghasilan bunga sebesar Rp 26,41 juta dari sebelumnya Rp 17,99 juta pada periode yang sama. Selain itu,perusahaan media ini telah menorehkan laba bersih lain-lain sebesar Rp 2,19 juta, padahal pada semester 1 tahun 2010 malah merugi dengan pos rugi lain-lain-bersih sebesar Rp 2,69 juta, yang berarti adanya kenaikan 181,41%.

Seiring dengan naiknya laba bersih ini, laba per saham SCMA juga terdongkrak menjadi Rp 198,97 di semester I tahun ini dari Rp 110,09 dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Biayai belanja modal, KREN pertimbangkan penerbitan obligasi Rp 200 miliar

JAKARTA. Dalam sebulan terakhir, pergerakan saham Kresna Graha Sekurindo (KREN) terus mengalami kenaikan. Saham KREN sempat bertengger di level tertingginya pada level Rp 1.010 pada 7 Juli lalu. Beredar rumor, lonjakan saham KREN dipicu oleh rencana perusahaan untuk menerbitkan obligasi senilai Rp 200 miliar.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Octavianus Budiyanto, direktur KREN, tak menampiknya. "Jika dirasa perlu, mengapa tidak kita lakukan?" katanya, Senin (8/8). Selain itu, rencana penerbitkan obligasi ini telah dicanangkan sejak awal tahun lalu.

Menurutnya, penerbitan obligasi ini dalam rangka untuk membiayai belanja modal, refinancing, dan ekspansi usaha di paruh semester akhir 2011.

Namun Octavianus mengelak bahwa alasan penerbitan obligasi yang menyebabkan harga saham KREN belakangan reli cukup tinggi. "Kinerja KREN di semester I kemarin, perlu diperhitungkan juga," imbuhnya.

Asal tahu saja, laba bersih KREN selama paruh waktu tahun ini tumbuh sebesar 30% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Selain itu, pada Juni kemarin, KREN yang bertindak sebagai underwriter penerbitan saham PT Indomobil Suskes Internasional Tbk (IMAS) berhasil menorehkan keberhasilannya. "Saham tersebut ditawarkan tinggi Rp 700 per saham dan itu menjadi keberhasilan kami juga yang menyebabkan ranking transaksi kami menjadi naik," tuturnya.

Catatan saja, pada pukul 11.41, saham KREN tercatat melorot 15,79% menjadi Rp 640.

Hanya 11 saham yang naik, indeks kembali terjungkal hingga 4% lebih

Hanya 11 saham yang naik, indeks kembali terjungkal hingga 4% lebih
JAKARTA. Indeks Harg Saham Gabungan (IHSG) terpuruk kian dalam. Pada pukul 11.13, indeks tercatat anjlok4,37% menadji 3750,144.

Seluruh sektor mengalami tekanan jual yang sangat besar dengan penurunan di atas 3%. Sektor yang mengalami penurunan paling besar adalah sektor agrikultur dengan penurunan 5,7%. Baru kemudian disusul dengan sektor konstruksi dengan penurunan 5,19%.

Dari semua saham yang ditransaksikan, 270 saham melorot dan hanya 11 saham yang naik. Volume transaksi hari ini melibatkan 3,550 miliar saham senilai Rp 3,16 triliun.

Tiga saham bluechips yang mencatatkan penurunan terbesar antara lain: PT Astra Internasional (ASII) yang turun 3,94% menjadi Rp 64.550, PT Bank Central Asia (BBCA) turun 5,45% menjadi Rp 7.850, dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun 5,44% menjadi Rp 6.950.

Jika dihitung, indeks sudah mengalami penurunan sebesar 11% dari nilai rekor tertingginya pada 1 Agustus lalu. Penurunan 10% atau lebih dari rekor tertinggi kerap disebut dengan koreksi oleh sejumlah analis dan investor.

Penurunan kredit rating AS merontokkan pesona dollar AS terhadap mata uang Asia

JAKARTA. Pagi ini, mata uang Asia masih bergerak beragam, di mana ada mata uang yang menguat dan juga ada yang menurun. Sebagai contoh, ringgit Malaysia menguat 0,21% atas dollar AS ke posisi 3,0055 pada pukul 9.35. Penguatan juga dialami dengan baht Thailand yang menguat 0,31% menjadi 29,7550.

Namun lain halnya dengan won Korea Selatan. Mata uang Negeri Ginseng ini terkoreksi 0,26% terhadap the greenback. Selain itu, dollar Taiwan juga melemah 0,1175% di waktu yang sama.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Realtime Futures mengatakan, sentimen negatif berupa penurunan kredit rating AS oleh S&P berpotensi merontokkan pesona dollar AS terhadap mata uang mitra dagangnya. tak terkecuali mata uang regional.

Namun menurut Wahyu, kenaikan ini tidak serta merta membawa angin segar untuk Asia. "Penguatan mata uang ini akan cukup mengganggu nilai ekspor negara-negara di Asia," tuturnya. Seperti yang dialami yen Jepang. Pada 4 Agustus lalu, bank sentral Negeri Sakura memutuskan untuk melakukan intervensi dalam rangka membatasi penguatan yen terhadap dollar setelah yen menguat ke level tertingginya selama 15 tahun menjadi 76,30 pada 1 Agustus lalu.

Maka, lanjut Wahyu, adalah hal yang wajar jika pemerintah Asia seperti Jepang, China, hingga Korea Selatan segera merespon penurunan peringkat tersebut dengan menyatakan keyakinannya terhadap surat hutang AS untuk meredam potensi kenaikan mata uang mereka. "Mereka membeli treasury Bond AS," jelas Wahyu.

Wahyu memprediksi, mata uang Asia dalam sepekan ini berpotensi mengalami penguatan. Salah satunya adalah won dengan support di 1,020 dan resistance mencapai 1,060. Kemudian untuk ringgit, penguatannya bisa mencapai 2,9500 untuk posisi support terhadap dollar AS dengan resistance 3,0650 pekan ini. "Sedangkan dollar Singapura masih ada kemungkinan bergerak stabil di area 1,2020-1,2280 terhadap the greenback,"imbuhnya

Rajawali Setujui PTBA Tambah 20% Saham di BATR

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Manajemen grup Rawajali tidak keberatan dengan rencana PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk menambah 20% saham di proyek Bukit Asam Transpacific Railway (BATR).

Hal itu disampaikan Managing Director Grup Rajawali Darjoto Setyawan, saat dihubungi baru-baru ini."Rajawali tidak berkeberatan dengan rencana PTBA menambah 20 persen saham di Bukit Asam Transpacific Railway," ujar Darjoto.

Lebih lanjut ia mengatakan, PTBA memang menginginkan tambah 20% di proyek BATR.Hal ini bertujuan agar PTBA tidak hanya memiliki minoritas 10% saham saja tetapi juga memiliki porsi cukup besar sekitar 30%. Selain itu, Departemen Perhubungan sebagai regulator yang mengeluarkan ijin perkeretaapian khusus bagi BATR menghimbau agar PTBA sebagai pemilik batu bara yang akan diangkut meningkatkan sahamnya.

Seperti diketahui, PTBA akan menambah kepemilikan saham di BATR pada akhir tahun 2011. PTBA akan membeli saham milik Rajawali Corporation yang menguasai 80% saham BATR. Perseroan diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$320 juta untuk mengambil saham tersebut. [cms]

CIMB Niaga Raup Laba Bersih Rp1,54 Triliun

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,54 triliun pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp1,13 triliun.

Demikian seperti dikutip dari laporan keuangan yang dipublikasikan Senin (8/8). Laba yang didistribusikan secara konsolidasi kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,51 triliun pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp539,61 miliar. Pendapatan bunga bersih secara konsolidasi naik menjadi Rp3,79 triliun pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp3,53 triliun. Laba operasional perseroan secara konsolidasi naik menjadi Rp2,07 triliun pada semester pertama 2011 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp1,50 triliun.

Aset perseroan secara konsolidasi naik menjadi Rp152,70 triliun pada 30 Juni 2011 dari periode Desember 2010 sebesar Rp143,65 triliun. Kas perseroan turun menjadi Rp2,37 triliun pada 30 Juni 2011 dari periode Desember 2010 Rp2,51 triliun. [cms]

GIAA terancam tidak bisa kuasi organisasi tahun ini

GIAA terancam tidak bisa kuasi organisasi tahun ini
JAKARTA. PT Garuda Indoensia Tbk (GIAA) terancam tidak bisa melakukan kuasi reorganisasi jika masih membukukan kerugian di semester II 2011 ini. Perusahaan akan dinilai tidak memiliki prospek usaha yang baik.

"Bottom line (laba bersih) harus positif, baru bisa kuasi," ujar Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan (PKP) Sektor Jasa Gonthor Ryantori Aziz, Jumat (5/8).

Berdasarkan laporan keuangan semeseter I 2011, emiten berkode GIAA itu mencatatkan rugi bersih senilai Rp 185,75 miliar. Padahal, akhir tahun 2010 lalu, perseroan mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 515,52 miliar. Namun,

Dalam peraturan Bapepam-LK nomor IX.L.1 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kuasi Reorganisasi disebutkan salah satu syarat kuasi adalah perseroan memiliki saldo laba negatif yang material selama tiga tahun berturut-turut.

Namun, saldo laba negatif itu harus diikuti kinerja positif perusahaan. Pasalnya, hal itu menunjukkan perusahaan memiliki status kelancaran usaha dan memiliki prospek yang baik pada saat kuasi reorganisasi dilakukan. Sehingga, negatifnya saldo laba memang disebabkan akumulasi kerugian yang ditanggung di masa lampau. Adapun saldo laba BUMN penerbangan per Juni 2011 mengalami defiist Rp 6,8 triliun.

Dalam kuasi reorganisasi, emiten bisa melakukan penilaian kembali akun-akun aktiva dan kewajiban pada nilai wajar. Selain itu perusahaan publik diperkenakan menghapus saldo laba negatif. Sehingga, kondisi perusahaan secara pembukuan akan kembali kinclong. Pasalnya, perusahaan yang mengalami akumulasi kerugian, saldo labanya bisa kembali positif, atau minimal nol. Dengan demikian, mereka bisa melanjutkan kegiatan usahanya layaknya mulai dari awal.

Perusahaan juga bisa berkesempatan membagikan deviden. Maklum, ketika saldo laba perseroan masih negatif, perusahaan tidak diperkenankan membagikan deviden.

Selain Garuda ada beberapa emiten yang berencana melakukan kuasi reorganisasi tahun ini. Mereka antara lain Bakrie And Brothers, Barito Pacific, Policham Indonesia, Bank Artha Graha, Eterindo Wahanatama, dan Asia Natural Resources.

Eratex Konversi Utang Jadi Saham Baru

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Eratex Djaja Tbk berencana melakukan penambahan modal Tanpa Hak memesan Efek Terlebih Dahulu.

Dari keterbukaan perseroan Senin (8/8) disampaikan langkah tersebut dilakukan untuk memperbaiki posisi keuangan perseroan yang diprediksi tidak mampu untuk membayar utang perseroan ke Radmet Concept Investment Limited. Karenanya, perseroan melakukan konversi utang perseroan menjadi saham baru sejumlah 48,08 juta saham.

Perseroan memiliki utang ke Radmet sebesar US$2,82 juta.

Saham IMAS terperosok hingga 10% di transaksi pagi

JAKARTA. Saham PT Indomobil Sukses Internasional (IMAS) melorot tajam. Pada pukul 10.07, saham IMAS terperosok hingga 10,62% menjadi Rp 10.100.

Sepertinya, aksi jual tersebut terkait dengan aksi PT Tritunggal Intipermata (TIP) yang baru saja meningkatkan kepemilikan sahamnya di IMAS. Asal tahu saja, TIP melakukan pembelian sejumlah 4,78 juta saham IMAS melalui proses transaksi di bursa. Pembelian itu dilakukan pada tanggal 29 Juli 2011 dengan harga sebesar Rp 12.000 per saham.

Menurut Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities, aksi beli yang dilakukan oleh TIP sekilas terlihat seperti aksi buyback untuk mempertahankan proporsi kepemilikan saham perusahaan atas IMAS. Hal ini disebabkan pada saat right issue kemarin, TIP tidak mengeksekusi haknya sehingga proporsi kepemilikannya sahamnya turun dari sebelumnya 23,61% menjadi 17,71%. Pada saat itu, harga eksekusi right issue perusahaan sebesar Rp 8.000 per saham.

"Boleh jadi hal ini dilakukan oleh TIP dengan mempertimbangkan outlook perusahaan yang dianggap bagus, mengingat tujuan investasi yang dilakukan oleh perusahaan bukan sekedar investasi jangka pendek yang lebih menekankan pada aspek trading, namun lebih berupa investasi strategis jangka panjang yang dilakukan dengan mempertimbangkan potensi perusahaan," paparnya. Hal ini terbukti dengan kinerja perusahaan yang terbilang cukup cemerlang terhitung tahun 2010.

Transaksi pagi, saham ELTY terpukul hingga 4%

JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development (ELTY) terjungkal pada transaksi pagi. Pada pukul 09.58, saham ELTY anjlok 4% menjadi Rp 144.

Belum ada rumor terbaru mengenai ELTY yang mendorong aksi jual investor. Hanya saja, kabar terbaru, ELTY masih mencari investor strategis untuk pengelolaan lahan di kawasan Rasuna Epicentrum.

Sejauh ini anak usaha Grup Bakrie telah melepas sebanyak 3 hektare (ha) dari total 16 ha lahan yang dimiliki di kawasan tersebut. Nilai penjualan mencapai Rp 500 miliar.

Menurut Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities, ELTY sebagai perusahaan Property Developer yang saat ini memiliki land bank terbesar baik secara keseluruhan maupun secara lokasi (CBD, Kuningan) semakin diyakini akan memberikan potensi yang baik kedepannya. "Namun sebelumnya ada beberapa hal yang patut diperhatikan untuk itu. Diantaranya adalah kemampuan management dalam memaksimalisasi lahan yang dimiliki agar dapat menghasilkan penjualan," jelasnya.

Apabila penjualan land bank tersebut dapat menghasilkan gain yang sangat bagus, cash flow perusahaan akan bertambah dan terjaga dalam melanjutkan poyek-proyek yang sedang berjalan seperti The Grove and The Wave yang menjadi perhatian Investor dimana progress sampai saat ini masih dibawah 50%.

"Dengan Penilaian NAV (Per Desember 2010) sebesar Rp 341 per saham, dengan discount 40% (maximum Industry) maka berdasrkan NAV perusahaan, saham ELTY masih dinilai undervalued dimana saat ini diperdagangkan seharga Rp 150 saham," paparnya.

Terseret Global, IHSG Dibuka Anjlok 1,64%

INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Senin (8/8) ini, IHSG dibuka melemah 1,64% ke level 3.857,1.

Pelemahan IHSG pagi ini seiring sentimen negatif koreksi di bursa global dan akan mencoba menembus level support kuat di 3.900 serta memasuki trend bearish jangka pendek.

Namun demikian, Samuel Sekuritas dalam ulasan pasarnya Senin (8/8) memperkirakan efek koreksi eksternal hanya akan berupa sentimen seiring fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat dan berorientasi domestik.

Pekan kemarin bursa global mengalami koreksi signifikan dalam 2 hari perdagangan terakhir seiring pesimisme investor ekonomi AS akan melambat setelah rilis data manufaktur di bulan Juli lebih rendah dari ekspektasi. Setelah bursa AS tutup di akhir pekan kemarin, lembaga rating Standard & Poor’s menurunkan rating utang AS satu level menjadi AA+ seiring meningkatnya risiko utang AS dan resiko politik.

Harga minyak dunia kemarin relatif flat di level US$87/barel sementara harga metal mengalami koreksi signifikan dengan Nikel -4,8% dan Timah -4,5%.
Market. Bursa Asia pagi ini dibuka tekoreksi sekitar 1,5% memfaktorkan penurunan rating AS dan ditambah dengan sentimen negatif dari langkah China menaikkan suku bunga acuannya sebesar 23 bps menjadi 6,43% pagi ini. Harga minyak dunia pagi ini terkoreksi sekitar 3% ke level US$84,1/barel.

Di Asia, Shanghai turun 0,84%, Hang Seng turun 2,77%, KLSE turun 1,77%, Nikkei turun 1,31%, STI turun 3,2%, dan Seoul turun 1,66%.

Sebanyak 190 saham tercatat turun pagi ini, sedang 8 saham yang naik, dan 19 saham stagnan. Indeks LQ45 dibuka turun 2,31% ke level 677,27, sedang JII turun 1,95% ke level 527,46. Asing terpantau masih menepi dari pasar dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp93,61 miliar.

Volume perdagangan pagi sebanyak 370,46 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp431,77 miliar.

Saham-saham yang turun tajam pagi ini adalah ASII turun 2,52%, ITMG turun 2,79%, GGRM turun 1,27%, AALI turun 2,07%, UNTR turun 1,64%, dan PTBA turun 1,52%.