Kamis, 22 September 2011

Rupiah Turun 2,52%, IHSG Ditutup Anjlok 8,88%

INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan Kamis (22/9) ditutup anjlok 328,4 poin atau turun 8,88% ke level 3.369,14.

Pelemahan IHSG ini seiring sentimen negatif dari bursa global dan diperparah oleh pelemahan tajam nilai tukar Rupiah. Hari ini rupiah ditutup ditutup melemah 235 poin atau turun 2,52% ke level 9.080. Pelemahan rupiah tertinggi hari berada di level 9.440.

Di Asia Nikkei turun 2,11%, Hang seng turun 5,09%, Shanghai turun 2,86%, KLSE turun 2,2%, STI turun 2,61%, Seoul turun 2,9%. Hal ini juga seiring sentimen negatif dari bursa AS.

Bursa AS ditutup melemah signifikan semalam sekitar 2,5% seiring penurunan rating 3 bank besar AS yakni Bank of America, Citigroup dan Wells Fargo & Co. oleh Moody’s. Pesimisme investor juga kembali muncul seiring pernyataan The Fed bahwa ekonomi AS berada dalam risiko perlambatan meski kemudian diikuti dengan kebijakan stimulus pembelian SUN bertenor panjang senilai US$400 miliar untuk menekan suku bunga pinjaman di AS.

Sebanyak 304 saham turun, sedang hanya 7 saham yang naik, dan 19 saham masih stagnan. Indeks saham unggulan LQ45 ditutup turun 65,2 poin atau 10,13% ke level 461,37, sedang JII turun 48,1 poin atau 9,43% ke level 461,37. Asing terpantau menjual sahamnya dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp825,92 miliar.

Volume perdagangan mencapai 6,7 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp11,04 triliun karena terjadi crossing di pasar negosiasi yang dilakukan CIMB Securites untuk transaksi pembelian 30% Chandra Asri Petrochemical Tbk senilai US$442 juta oleh Siam Cement Thailand.

Saham-saham yang turun tajam sore ini adalah ASII turun 9,44%, ITMG turun 11,93%, MBAI turun 20%, HMSP turun 10,09%, GGRM turun 5,27%, dan UNTR turun 9,48%.

Rupiah Jeblok, IHSG Anjlok Hampir 9%

Medium
INILAH.COM, Jakarta - IHSG melanjutkan koreksi perdagangan kemarin, dengan luluh lantak hampir 9%. Memburuknya sentimen regional dan global serta anjloknya rupiah membebani pergerakan bursa.

Pada perdagangan Kamis (22/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun drastis 328,35 poin (8,88%) ke level 3.369,14, dengan intraday terendah di 3.360,19 dan tertinggi di 3.695,93. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45 yang turun 64,93 poin (10,09%) ke 578,46.

Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di teritori negatif, dengan grafik turun. Dibuka langsung anjlok 2,13% ke level 3.618 dan terus terpuruk hingga pada sesi siang bertengger di angka 3.470 dan akhirnya ditutup di level 3.368.

Satrio Utomo dari Universal Broker Indonesia mengatakan, IHSG hari ini turun drastis, mengikuti pelemahan bursa regional dan global. “IHSG kembali mengalami tekanan koreksi seiring sentimen negatif dari bursa global dan diperparah oleh pelemahan tajam nilai tukar rupiah,“ujarnya.

Menurutnya, kegagalan IHSG kemarin ditutup di atas suport 3710 sudah mensinyalkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Hal ini ditambah bursa AS ditutup terkoreksi signifikan semalam sekitar 2,5% seiring penurunan rating 3 bank besar AS yakni Bank of America, Citigroup dan Wells Fargo & Co. oleh Moody’s.

Selain itu, hasil pertemuan FOMC ternyata juga mengecewakan pasar. The Fed menyatakan bahwa ekonomi AS berada dalam resiko perlambatan, meski kemudian diikuti dengan kebijakan stimulus pembelian SUN bertenor panjang senilai US$400 miliar untuk menekan suku bunga pinjaman di AS.

Menurut data Bloomberg pukul 05.00 WIB, rupiah diperdagangkan melemah 0,06% ke level 9.023 per dolar AS ketimbang posisi kemarin. Analis PT Bank Saudara Rully Nova mengatakan, pelemahan rupiah dipicu kepanikan pelaku pasar.

Hal ini terjadi setelah bank sentral AS (The Fed) dengan jelas tidak menyebutkan program paket stimulus dalam upaya memperbaiki ekonominya. “The Fed hanya menyebutkan akan tetap mempertahankan suku bunga rendah dua tahun kedepan dan akan menerbitkan obligasi dari jangka pendek ke jangka menengah,” katanya.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 6,071 miliar lembar saham, senilai Rp 11,037 triliun dan frekuensi 173.509 kali. Sebanyak 7 saham naik, sisanya 304 saham turun, dan 19 saham stagnan.

Koreksi bursa didukung keluarnya dana asing, dimana nilai transaksi jual bersih (net foreign sell) tercatat sebesar Rp825 miliar. Rinciannya adalah transaksi jual sebesar Rp6,152 triliun dan transaksi beli mencapai Rp5,326 triliun.

Semua sektor terkoreksi lebih dari 6%, dimana sektor finansial memimpin pelemahan sebesar 10,4%, disusul industri dasar sebesar 10,25%. Kemudian sektor tambang yang anjlok 9,6%, aneka industri 9,1%, dan manufaktur 8,6%. Demikian pula sektor infrastruktur 7,9%, perkebunan 7,6%, konsumer 7,2% dan properti 7,1%.

Beberapa emiten yang melemah antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 6.050 ke Rp 58.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 5.250 ke Rp 48.750, Multibreeder (MBAI) turun Rp 4.800 ke Rp 19.200, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 3.200 ke Rp 28.500.

Sedangkan emiten-emiten lain yang menguat antara lain Century Textile (CNTX) naik Rp 100 ke Rp 6.800, Indonesia Paradise (INPP) naik Rp 60 ke Rp 250, Goodyear (GDYR) naik Rp 50 ke Rp 9,350, dan Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 50 ke Rp 2.250.

Bursa regional Asia juga terpuruk dalam zona negatif. Indeks Komposit Shanghai jatuh 69,91 poin (2,78%) ke level 2.443,06, indeks Hang Seng anjlol 912,22 poin (4,85%) ke level 17.911,95, indeks Nikkei 225 turun 180,90 poin (2,07%) ke level 8.560,26, indeks Straits Times melemah 2,56% ke level 2.720,42 dan indeks Kospi melemah 2,9% ke 1.800,55. [mdr].

Rupiah Dijaga Ketat BI, Dolar Stop di Rp 8.750

Medium
Jakarta - Bank Indonesia (BI) terus melakukan segala daya dan upaya untuk menahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak jatuh terlalu dalam. Atas intervensi ini, dolar bisa distop di Rp 8.750.

"BI intervensi di pasar valas dan juga beli SBN (Surat Berharga Negara) dalam jumlah besar," kata Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo dalam pesan singkat kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011).

Menurutnya, gejolak yang terjadi di nilai tukar rupiah ini murni faktor eksternal. Investor asing banyak yang menjual SBN dalam jumlah banyak.

Namun, ia memastikan masyarakat tak perlu khawatir karena sebenarnya fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat. Pertumbuhan ekonomi masih tinggi dan inflasi terkendali.

"Fundamental kita kuat. Growth (pertumbuhan ekonomi) tinggi, inflasi rendah. BOP (neraca pembayaran) surplus," ujarnya.

Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat di posisi Rp 8.750 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.900 per dolar AS. Dolar sempat menembus Rp 9.120 siang tadi, menjadi posisi rupiah paling lemah sejak Juni 2010 lalu.
(ang/dnl)

Sentimen The Fed menyeret minyak ke level terendah empat pekan

Sentimen The Fed menyeret minyak ke level terendah empat pekan
MELBOURNE. Minyak mentah jatuh ke level terendah hampir empat pekan terakhir di New York. Koreksi harga emas hitam ini dipicu pernyataan Federal Reserve AS yang menyiratkan sinyal adanya risiko penurunan yang signifikan pada prospek ekonomi di AS. Padahal, AS merupakan negara pengonsumsi minyak terbesar di dunia.

Minyak WTI untuk pengiriman November di New York Mercantile Exchange turun US$ 2,75 ke level US$ 83,17 per barel. Ini merupakan harga intraday terendah sejak 26 Agustus. Kontrak yang sama bergeser ke posisi US$ 83,62 per barel pada pukul 9.14 waktu London.

Sementara minyak Brent untuk penyelesaian November tergerus US$ 2,23 atau sebesar 2% ke posisi US$ 108,13 per barel di ICE Futures Europe Exchange, di London.

Harga komoditas tumbang setelah The Fed mengatakan akan menjual surat utang jangka pendek dan memegang obligasi jangka panjang untuk mengurangi biaya pinjaman. Langkah tersebut dilakukan guna menjaga perekonomian tidak kembali ke situasi resesi. Di sisi lain, data Departemen Energi menunjukkan, stok bensin AS naik lebih dari perkiraan per pekan lalu. Sementara, produksi minyak nasional naik ke level tertinggi dalam delapan tahun.

Analis senior dari Danske Bank A/S Christin Tuxen menuturkan, saat ini pasar saham anjlok, posisi euro terhadap dollar AS juga terpukul, sehingga berimbas sampai ke pasar komoditas. "Keputusan Fed untuk tidak menerapkan langsung pelonggaran kuantitatif putaran ketiga, memicu investor untuk mengambil dana mereka dari aset berisiko seperti minyak," ujarnya, hari ini, di Copenhagen.

Kekayaan Warren Buffet Turun US$6 Miliar Lebih

Kekayaan Warren Buffet Turun US$6 Miliar Lebih
INILAH.COM, Jakarta - Kekayaan Warren Buffet diperkirakan turun lebih dari US$6 miliar dari tahun lalu menjadi $ 39 miliar dalam daftar 400 orang terkaya Amerika yang baru dirilis Forbes.

Dia satu-satunya orang di antara 20 terkaya yang mengalami penurunan kekayaan. Tapi dia berada di urutan kedua terkaya AS dalam daftar Forbes, namun kesenjangan antara dia dan temannya Bill Gates telah melebar.

Bos Microsoft ini memiliki perkiraan kekayaan sebesar $ 59 miliar, naik $ 5 miliar dari tahun lalu. Yang menempatkan Gates memiliki kekayaan $ 20 miliar dolar di atas Buffett. Pemimpin Oracle Larry Ellison memiliki kekayaan satu rating di bawah Buffet. Dia berada di urutan ketiga dengan kekayaan sekitar $ 33 miliar, atau naik $ 6 miliar dari tahun lalu.

Salah satu alasan memudarnya kekayaan Buffett adalah terjadinya penurunan saham sebesar 17% di Berkshire Hathaway selama dua belas bulan terakhir. Tapi faktor besar lainnya Buffet menyumbangkan uangnya ke yang lain.

Donasi tahun inisebesar $ 3,27 miliar ke Bill and Melinda Gates Foundation, pemenang besar dalam daftar Forbes dari hadiah amal terbesar yang dibuat oleh daftar orang kaya pada tahun 2010 dan 2011. "Lebih dari enam tahun Buffett telah menyumbangkan saham Berkshire Hathaway senilai hampir $ 10 miliar ke Gates Foundation.

Hedge dana Steven Mandel adalah nomor dua sumbangannya tervesar sekitar $ 134 juta ke Zoom Foundation.

Pernyataan Fed Picu Bursa Eropa Jatuh

Pernyataan Fed Picu Bursa Eropa Jatuh
INILAH.COM, London - Bursa saham Eropa turun tajam pada perdagangan Kamis (22/9) setelah The Fed memperingkatkan ekonomi global sudah terjadi kontraksi.

Indeks FTSE turun 2,5% ke 5.155,41, indeks DAX turun 2,9% ke 5.273,99 dan indeks CAC turun 2,6% ke 2.859. Sejak awal tahun ini, bursa Eropa sudah turun 20% dengan kekhawatiran krisis utang Eropa dan lesunya pertumbuhan ekonomi global, seperti dikutip dari yahoofinance.com.

"Terlepas dari ketidakpastian politik, kia sudah mendapatkan fakta ekonomi yang melambat dengan banyaknya tekanan di bursa China sebagai negara yang tumbuh cukup pesar. Jika tidak ada masalah maka akan mendorong kenaikan bursa global," kata ekonom di Generali investment, Klaus Wiener.

Sektor pertambangan dalam tekanan cukup berat dengan penurunan harga logam yang turun 1,4-3,4 persen. Pemicunya karena kekhawatiran turunnya permintaan industri logam. Indeks sektor pertambangan Eropa turun 4,8%.

Soros Yakin AS Menuju Resesi 'Double Dip'

Soros Yakin AS Menuju Resesi 'Double Dip'
INILAH.COM, Jakarta - Investor miliarder George Soros yakin Amerika Serikat siap menuju resesi double dip dan oposisi Republik yang menghambat rencana stimulus stimulus fiskal Obama membuat pertumbuhan lamban.

Saat ditanyakan oleh CNBC apakah dia percaya bahwa risiko AS jatuh ke dalam resesi double-dip, Soros mengatakan: "Saya pikir kita berada dalam lingkaran itu."

"Kami telah melambat dan pada dasarnya konflik mengenai apakah yang kaya harus membayar pajak untuk menciptakan lapangan kerja atau tidak dan tidak ada kesepakatan dalam pembuatan yang akan menyeimbangkan anggaran dalam jangka panjang, namun akan memungkinkan jangka pendek stimulus fiskal, yang akan menjadi kebijakan yang tepat," Soros mengatakan dalam sebuah wawancara Rabu malam. "Itu ditolak, hancur ... sehingga akan datang ke pemilu tahun depan untuk memutuskan apa yang mereka inginkan," tambahnya.

Pembuat kebijakan zona euro telah berulang kali mengikuti pergeseran kebijakan yang salah, menciptakan situasi di Eropa lebih berbahaya terhadap sistem keuangan global daripada runtuhnya Lehman Brothers pada 2008, Soros mengatakan.

"Ini adalah situasi yang lebih berbahaya (dari Lehman Bros) dan saya berpikir bahwa pemerintah, ketika didorong untuk melakukan apa saja untuk mempertahankan sistem bersama, karena alternatif yang terlalu mengerikan untuk direnungkan," tegasnya.

Sejumlah negara zona euro akan default dan meninggalkan area mata uang tunggal, Soros mengatakan, namun ia memperingatkan jika hal itu terjadi atas dasar ad hoc, akan ada risiko yang cukup besar bagi perekonomian global. "Saya berpikir bahwa Anda bisa memiliki dua atau tiga default atau sebuah negara kecil meninggalkan euro selama itu disusun dan dilakukan secara tertib," kata Soros.

"Jika itu terjadi itu dan benar-benar belum siapm itu akan mengganggu sistem keuangan global, tapi itulah kenapa penting mengikuti apa yang terjadi dan kemudian negara-negara memiliki pilihan asli yang itu tidak berarti mereka diusir."

Soros mengatakan ia percaya apa yang disebut 'Troika' dari Uni Eropa, ECB dan IMF akan merilis tahap berikutnya bantuan ke Yunani yang dililit utang, namun dia menekankan penciptaan dari bailout Eropa akan menentukan apakah orang-orang Yunani menerima bailout lain pada bulan Desember.

BEI Terus Antisipasi IHSG Jatuh Cukup Dalam

INILAH.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah menyiapkan sejumlah antisipasi terkait penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Hal itu disampaikan Direktur Pengawasan BEI, Uriep Budhi Prasetyo, Kamis (22/9). "Memang pelemahan yang terjadi sudah cukup signifikan. Kami sudah tentukan bahwa di titik tertentu akan ada rapat internal. Dan kalau sudah di satu titik yang dianggap rawan, kami akan usulkan ke Bapepam-LK agar perdagangan saham sementara disuspensi. Hingga saat ini kami terus mencermati perkembangan," ujar Uriep di Jakarta.

IHSG sempat berada di level 3.425,19 pada perdagangan saham Kamis (22/9). Uriep mengakui, IHSG turun seiring penurunan saham berkapitalisasi besar antara lain saham PT Astra Internasional Tbk (ASII), saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga turut mencermati pergerakan bursa saham. Menurut Nurhaida, penurunan bursa saham ini tidak lepas dari kondisi pasar global yang tak kunjung membaik. Bapepam-LK pun telah menginstruksikan BEI untuk terus mencermati perdagangan saham.

"Kami sudah instruksikan kepada BEI untuk terus mencermati kondisi perdagangan. Seperti kita tahu kondisi global saat ini sedang kurang bagus. Semuanya sedang kami amati. Nanti akan kami terus kabarkan perkembangannya," kata Nurhaida.

Inilah Faktor Internal Pemicu IHSG Terpental

INILAH.COM, Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh level 3.470 pada perdagangan saham Kamis (22/9) juga dipicu isu kurs rupiah dan dolar AS.

Untuk nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS sempat melonjak ke level Rp9.200 karena permintaan dolar AS yang banyak.

Kepala Riset PT Sinarmas Sekuritas, Jeff Tan menuturkan, bursa saham masih akan bergejolak dalam jangka pendek. Kekhawatiran terhadap likuiditas perbankan di Eropa yang diakibatkan oleh krisis sovereign debt negara-negara Uni Eropa.

Selain itu, sentimen negatif lain dipicu dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sempat melonjak ke level Rp9.200 karena permintaan Dolar AS yang banyak," ujar Jeff, saat dihubungi INILAH.COM, Kamis (22/9).

Hal senada dikatakan, Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang. Edwin menuturkan, IHSG mengalami pelemahan karena rupiah melemah ditambah bursa saham regional juga ikut turun.

Bursa saham regional turun karena pelaku pasar kecewa terhadap pernyataan Chairman The Fed, Ben Bernanke yang tidak jadi mengeluarkan quantitative easing ketiga.

Menurut Edwin, bursa saham akan tergantung dari bagaimana respon dan kekuatan Bank Indonesia menghadapi kejatuhan Rupiah. "Bila BI dapat menjaga rupiah ke level Rp9.000 maka IHSG akan ke level 4.000," tambah Edwin.

Jeff mengharapkan, BI akan aktif meredam gejolak di pasar valas. Dengan hal itu dapat menciptakan kepercayaan ke para investor lokal dan fund-fund asing yang berorientasi jangka panjang. [hid]

Waduh, indeks kehilangan 328 poin sore ini

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian terpuruk pada penutupan sore ini. Pada pukul 16.00, IHSG terpuruk 8,88% atau kehilangan 328,351 poin menjadi 3.369,143.

Dari semua sektor yang ditransaksikan, tak ada satu pun yang bergerak positif. Sektor keuangan merupakan sektor dengan penurunan terbesar sore ini mencapai 10,40%. Baru kemudian disusul oleh sektor industri dasar yang anjlok 10,26% dan sektor pertambangan yang terjungkal 9,66%.

Sekitar 285 saham melorot. Sementara, saham yang naik hanya 7 saham dan 18 saham lainnya tak berubah posisi. Volume transaksi hari ini melibatkan 6,701 miliar saham senilai Rp 11,037 triliun.

Saham-saham top losers hari ini adalah: PT Centris Multi Persada (CMPP) turun 25% menjadi Rp 375, PT Kokoh Inti Arebama (KOIN) turun 24,78% menjadi Rp 173, dan PT Agis (TMPI) turun 23,90 menjadi Rp 156.

Sementara itu, saham-saham yang masih bercokol di zona hijau adalah: PT Indonesian Paradise (INPP) naik 31,58% menjadi Rp 250, PT Jakarta Kyoei Steel (JKSW) naik 4,35% menjadi Rp 120, dan PT Apac Citra Centertex (MYTX) naik 4,29% menjadi Rp 170.

IHSG terpukul paling hebat di kawasan Asia

TOKYO. Bursa Asia kompak memerah. Pada pukul 15.40, indeks MSCI Asia Pacific anjlok 3,7% menjadi 113,55. Ini merupakan level paling rendah sejak 7 Juli 2010. Dalam setiap sembilan saham yang melorot, hanya ada satu saham yang naik.

Hampir semua indeks acuan saham Asia tampak melempem. Indeks Nikkei 225 Stock Average Jepang melorot 2,1%, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 2,6%, dan indeks Kospi Korea Selatan turun 2,9%. Penurunan dalam juga terjadi pada indeks Hang Seng Hongkong sebesar 4,2%. Sedangkan indeks NZX 50 Selandia Baru tak banyak berubah dari posisi pembukaan.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks acuan yang terpukul paling hebat di Asia. Pada pukul 15.02, IHSG terjerembab 7,31% menjadi 3.425.

Sejumlah saham yang pergerakannya mempengaruhi bursa regional antara lain: HSBC Holdings Plc anjlok 3,3% di Hongkong, BHP Billiton Ltd turun 4% di Sydney, Toyota Motor Corp melorot 1,7% di Tokyo, dan Samsung Electronics Co turun 2,8% di Seoul.

Penurunan indeks acuan regional ini terjadi setelah the Federal Reserve mengingatkan pelaku pasar akan kemungkinan resiko penurunan outlook perekonomian AS yang sangat signifikan. Faktor lainnya adalah langkah Moody's Investor Service yang memangkas peringkat utang sejumlah perbankan Amerika.

"Apa yang disampaikan the Fed itu sesuai yang diprediksi pelaku pasar sebelumnya. Seluruh indeks pengukuran resiko kredit melonjak. Di luar itu semua, kita bergerak cepat ke masa krisis utang kedua," jelas Angus Gluskie, analis White Funds Management di Sydney.

BWPT bayar dividen final Rp 9 per saham pada 1 November

JAKARTA. PT BW Plantations Tbk (BWPT) akan membayarkan dividen final tahun buku 2010 senilai Rp 9 per saham atau total Rp 36,334 miliar pada 1 November mendatang.

Total dividen yang akan dibagikan tersebut setara 15% dari laba bersih 2010 yang mencapai Rp 243,567 miliar.

Manajemen BWPT dalam keterbukaan informasi BEI, hari ini, menyebut, batas akhir perdagangan saham dengan hak dividen atau cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi hingga 13 Oktober 2011. Sementara, cum dividen di pasar tunai sampai 18 Oktober 2011.

Hingga perdagangan pukul 14.59 WIB, saham BWPT turun 4,27% ke Rp 1.120 per saham. Jika mengacu pada harga tersebut, maka investor yang mengoleksi saham ini akan memperoleh potensi keuntungan dividen (dividen yield) sekitar 0,008%.

Dollar menguat, harga emas batangan di pasar domestik malah stabil

Dollar menguat, harga emas batangan di pasar domestik malah stabil
JAKARTA. Harga kontrak berjangka emas di pasar global terus melorot mengikuti pergerakan harga komoditas. Pada pukul 12.27 waktu Singapura, kontrak harga emas untuk pengantaran cepat di divisi Comex, New York Merchatile Exchange, turun 0,5% menjadi US$ 1.773,38 per troy ounce (31,1 garm). Sementara, kontrak harga emas untuk pengiriman bulan Desember turun 2% menjadi US$ 1.772,50 per troy ounce.

Namun, meski harga kontrak emas di pasar global cenderung turun, di dalam negeri, harga emas batangan masih stabil. Mengutip situs resmi www.logammulia.com, hari ini (22/9), divisi Logam Mulia PT Aneka Tambang (Antam) menjual harga emas batangan seberat 1 kilogram (kg) dengan harga Rp 535.000 per gram. Sedangkan harga pembelian kembali (buy back) mereka patok sebesar Rp 505.000 per gram.

Harga ini hanya turun tipis dari rekor harga tertinggi emas batangan seberat 1 kg. Berdasarkan catatan KONTAN, harga emas batangan seberat 1 kg mencetak rekor harga tertinggi Rp 545.000 per gram pada hari Rabu (21/9) kemarin.

Tren penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) atas sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah, menjadi penopang utama harga emas batangan tersebut. Asal tahu saja, hari ini, nilai tukar dollar AS mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Nah, karena dinyatakan dalam rupiah, di saat dollar menguat, harga emas batangan di dalam negeri tidak akan turun terlalu dalam meskipun di pasar global harga emas (yang dinyatakan dalam dollar) sedang terpuruk.

Catatan saja, rupiah masih terus melemah siang ini. Pada pukul 12.37 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp 9.134 per dollar AS. Bahkan, pada transaksi sebelumnya, rupiah sempat terpuruk hingga Rp 9.367 per dollar AS. Artinya rupiah melemah sekitar 1,7%.

Penguatan dollar AS terhadap yen paling tajam dalam dua pekan

Penguatan dollar AS terhadap yen paling tajam dalam dua pekan
SINGAPURA. Hari ini, dollar Amerika Serikat (AS) menguat paling tajam dalam dua pekan terakhir terhadap yen. Dollar menguat setelah Federal Reserve menurunkan biaya pinjaman jangka panjang. Apalagi, muncul spekulasi Bank of Japan (BoJ) akan bertindak untuk membendung penguatan yen.

Dollar AS naik ke level ¥ 76,74 pada pukul 1.22 di Tokyo, dari posisi kemarin di ¥ 76,46. Sementara itu, Dollar Index yang menunjukkan pergerakan Greenback terhadap enam mitra dagang utama AS, naik 0,8% ke 77,97.

Indeks dollar itu naik ke posisi tertinggi tujuh bulan setelah Federal Open Market Committee (FOMC) mengatakan ada risiko penurunan yang signifikan pada prospek ekonomi AS. The Fed memutuskan untuk menjual obligasi pemerintah bertenor pendek, dan membeli obligasi jangka panjang. Itu merupakan cara untuk menekan tingkat suku bunga jangka panjang dan membantu menjadikan kondisi keuangan lebih akomodatif.

Kepala strategi mata uang dari Barclays Bank Plc. Masafumi Yamamoto menyebut, pasar bereaksi terhadp FOMC, di mana The Fed terlihat pesimis terhadap ekonomi AS. "Hal itu mendorong penurunan pada aset berisiko secara umum. Dollar menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk terhadap yen," ujarnya, hari ini, di Tokyo.

Di sisi lain, BoJ dikabarkan sedang mencermati pasar dan ada kemungkinan untuk mengintervensi guna menahan penguatan yen lebih lanjut. Penguatan yen bakal mengancam pendapatan eksportir. Kemarin, yen naik ke level tertinggi sejak pasca-Perang Dunia II di 75,95 per dolar AS.

Asing Lepas Saham Rp 4,5 Triliun, IHSG Terjun Bebas 8%

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas 328 poin akibat aksi jual masif yang dilakukan investor lokal dan asing. Indeks mencetak rekor koreksi terburuk di Asia dan kembali bertengger di level 3.300.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 8.750 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.900 per dolar AS. Dolar sempat menembus Rp 9.120, posisi rupiah paling lemah sejak Juni 2010 lalu.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG ambles 81,423 poin (2,21%) ke level 3.616,071 menyusul suramnya prospek ekonomi global. Krisis utang AS dan Yunani belum usai, ditambah adanya penurunan peringkat tiga bank raksasa di AS.

Indeks langsung meluncur tajam sesaaat setelah pembukaan perdagangan. Sentimen negatif buruknya prospek ekonomi global memaksa IHSG terpuruk di zona merah.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG jatuh 226,663 poin (6,14%) ke level 3.470,831. Tekanan jual terjadi di seluruh lapisan saham sehingga koreksi yang terjadi di IHSG paling parah di Asia.

Tekanan jual makin menjadi-jadi memasuki perdagangan sesi II. Indeks pun kembali meluncur sangat tajam dan menyentuh posisi terendahnya di 3.361,562.

Menutup perdagangan, Kamis (22/9/2011), IHSG terjun bebas 328,351 poin (8,89%) ke level Rp 3.369,143. Sementara Indeks LQ 45 jatuh 65,184 poin (10,14%) ke level 578,207. Ini adalah posisi IHSG terburuk sejak 20 September 2010, ketika IHSG di posisi 3.384,556.

Seluruh saham-saham terkena tekanan jual, tak satu pun indeks sektoral yang mampu menguat, seluruhnya berguguran di zona merah. Hanya tujuh saham yang mampu menguat hari ini.

Investor panik dan mengamankan portofolio investasinya sebelum jatuh lebih dalam. Minat beli sangat minim hari ini, bahkan menjelang penutupan perdagangan sekalipun.

Volume dan nilai transaksi di lantai bursa hari ini sedikit meningkat karena ada aksi borong saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) oleh SCG Chemicals Co Ltd senilai Rp 3,76 triliun. Sahamnya yang dibeli sebanyak 1,839 juta lot (30%) saham.

Jika mengesampingkan penjualan oleh SCG Chemical yang merupakan investor asing tersebut, transaksi investor asing menjadi jual bersih (foreign net sell) senilai Rp 4,585 triliun miliar di seluruh pasar.

Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 173.509 kali pada volume 6,071 miliar lembar saham senilai Rp 11,037 triliun. Sebanyak 7 saham naik, sisanya 304 saham turun, dan 19 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih tak berdaya di teritori negatif dengan pelemahan yang sangat dalam, tapi tetap saja koreksi yang diderita IHSG masih yang paling parah.

Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai jatuh 69,91 poin (2,78%) ke level 2.443,06.
  • Indeks Hang Seng terjun bebas 912,22 poin (4,85%) ke level 17.911,95.
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 180,90 poin (2,07%) ke level 8.560,26.
  • Indeks Straits Times ambruk 72,85 poin (2,61%) ke level 2.718,94.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Century Textile (CNTX) naik Rp 100 ke Rp 6.800, Indonesia Paradise (INPP) naik Rp 60 ke Rp 250, Goodyear (GDYR) naik Rp 50 ke Rp 9,350, dan Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 50 ke Rp 2.250.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 6.050 ke Rp 58.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 5.250 ke Rp 48.750, Multibreeder (MBAI) turun Rp 4.800 ke Rp 19.200, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 3.200 ke Rp 28.500.

(ang/qom)

Monitor Koreksi Tajam IHSG, BEI Siapkan Opsi Suspensi

Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang merosot ke level 3.400 pada penutupan sesi I perdagangan hari ini, Kamis (22/9/2011). Waspada kejatuhan indeks terus dipantau tim internal BEI secara seksama.

"Kami sedang terus monitoring pergerakan pasar dan pergerakan saham-saham yang turun drastis seperti ASII, BBNI dan BBRI," jelas Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo, di Jakarta, Kamis (22/9/2011).

Antisipasi siap dilakukan otoritas Bursa, termasuk opsi penghentian perdagangan pasar modal saat kondisi terus menyusut. Koordinasi internal terus dilakukan antar divisi.

"Tapi saat ini yang sudah berkoordinasi baru divisi-divisinya saja. Kalau sampai batas selanjutnya baru kita rapat," tegas Uriep.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito menyampaikan gerak liar pasar saham Indonesia berlangsung singkat. Koreksi pun tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga banyak negara di dunia.

"Untuk investor portofolio menghadapi ketidakpastian, anjlok karena fenomena jangka pendek. Karena Eropa yang tidak menentu, seluruh saham juga sama ," ucap Ito.

(wep/ang)

Rupiah Terseok, IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 6,13%

Headline
INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan sesi I Kamis (22/9) ditutup anjlok 6,13% ke level 3.470,83.

Pelemahan IHSG ini seiring sentimen negatif dari bursa global dan diperparah oleh pelemahan tajam nilai tukar Rupiah. Pagi tadi Rupiah dibuka anjlok ke level 9.360, kemudian bergerak volatile dengan pelemahan tertinggi di level 9.440, yang kemudian bergerak ke level 9.140 siang ini yang kemungkinan karena adanya intervensi BI.

Bursa AS ditutup melemah signifikan semalam sekitar 2,5% seiring penurunan rating 3 bank besar AS yakni Bank of America, Citigroup dan Wells Fargo & Co. oleh Moody’s. Pesimisme investor juga kembali muncul seiring pernyataan The Fed bahwa ekonomi AS berada dalam risiko perlambatan meski kemudian diikuti dengan kebijakan stimulus pembelian SUN bertenor panjang senilai US$400 miliar untuk menekan suku bunga pinjaman di AS.

Harga komoditas melanjutkan koreksinya dengan harga minyak terkoreksi ke level US$85.9/barel diikuti harga metal dunia seperti Nikel -3,8% dan Timah -4,4%.

Bursa Asia juga hancur siang ini. Shanghai turun 1,74%, Hang seng turun 4,03%, KLSE turun 1,36%, Nikkei turun 2,06%, STI turun 1,75%, Seoul turun 3,32%. Hal ini juga seiring sentimen negatif dari bursa AS dan diperparah dengan koreksi signifikan yang terjadi di pasar valas di Asia seperti Won Korea -2,2%.

Sebanyak 287 saham turun, sedang hanya 3 saham yang naik, dan 16 saham masih stagnan. Indeks saham unggulan LQ45 sesi I ditutup turun 6,87% ke level 599,14, sedang JII turun 6,55% ke level 476.

Volume perdagangan mencapai 2,54 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp3,05 triliun di pasar reguler. Namun, terjadi crossing di pasar reguler yang dilakukan CIMB Securites untuk transaksi pembelian 30% Chandra Asri Petrochemical Tbk senilai US$442 juta oleh Siam Cement Thailand, sehingga transaksi total mencapai lebih dari 8 triliun. Ini membuat terjadi net foreign buy sebesar Rp66,25 miliar.

Saham-saham yang turun tajam siang ini adalah ASII turun 8,04%, MBAI turun 20%, GGRM turun 8,75%, ITMG turun 7,04%, UNTR turun 9,70%, dan DSSA turun 12,04%.

BI: Dolar Masih di Bawah Rp 9.000

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan posisi nilai tukar dolar AS masih di bawah Rp 9.000 untuk kurs domestik. Namun BI mengakui kurs offshore terjadi perbedaan yang signifikan sehingga menembus Rp 9.300/US$. Perbedaan tersebut kini sedang dalam penyelidikan BI.

"BI masih mempelajari penyebab adanya perbedaan quotation antara pasar valas offshore dan onshore," jelas juru bicara BI Difi Johansyah kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011).

Difi mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan imbas dari sentimen global yang juga menyebabkan pelemahan mata uang regional lainnya terjadap dolar AS.

"Rupiah masih terkena imbas sentimen global yang negatif yang juga dialami mata uang regional lainnya," tambah Difi.

Hingga siang ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar domestik terpantau kembali melemah ke level 9.045 per dolar AS, dibandingkan posisi pagi tadi di kisaran 8.950 per dolar AS. Namun pagi tadi, untuk Non Deliverable Forward (NDF) rupiah terhadap dolar AS sudah di posisi Rp 9.300.

NDF merupakan produk derivatif valas yang diperdagangkan secara over the counter. Pasar NDF menawarkan alat lindung nilai alternatif untuk investor asing yang memiliki eksposure mata uang lokal atau instrumen spekulatif bagi mereka untuk mengambil posisi offshore atas mata uang lokal.

Difi menjelaskan, ada perbedaan kuotasi kurs rupiah karena dua sumber data yang berbeda yakni onshore (domestik) dan offshore (LN). "Selama ini kurs dari kedua pasar ini jalan bareng, tapi khusus pagi ini ada perbedaan signifikan," jelas Difi.

Ia menegaskan, quote yg ada di pasar offshore belum tentu mencerminkan transaksi atau belum tentu mencerminkan transaksi karena lebih bersifat penawaran yang belum tentu diikuti transaksi riil.

"Kemungkinan pasar rupiah offshore dipengaruhi secara psikologis oleh kejatuhan Wall Street dan permasalahan di Eropa sehingga memaksa beberapa fund managers untuk menyesuaikan portofolio mereka untuk mitigasi risiko," tambahnya.

Yang pasti, tegas Difi, pasar valas domestik tetap stabil dan BI akan selalu menjaga kestabilan kurs rupiah dan akan berada di pasar.
(dru/qom)

Reminder Cum Date Dividen CSAP 22/09/2011

Berikut ini kami informasikan bahwa pada hari ini 22 September 2011 adalah Cum Date untuk pelaksanaan kegiatan Corporate Action sebagai berikut :

No.

Kode Efek

Nama Efek

Jenis Kegiatan

1 .

CSAP

CATUR SENTOSA ADIPRANA Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 2.- per saham

IHSG Terkoreksi, Sebaiknya Pegang Cash

INILAH.COM, Jakarta – Koreksi IHSG siang ini akan berlanjut hingga penutupan. Pelaku pasar disarankan untuk memegang dana tunai (cash) dibandingkan saham.

Analis Panin Securities Purwoko Sartono memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti tetap bakal berada dalam pelemahan tajam. Sebab, indeks belum meberikan sinyal reversal naik meski sudah turun dan menembus level 3.500. “Indeks mengarah ke level support 3.360 dan 3.525 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (22/9).

Anjloknya IHSG, lanjut Purwoko, dipicu oleh kerontokan bursa regional setelah Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun tajam sebesar 283, 82 poin (2,49%) ke level 11.124,80 semalam. “Jadi, pelemahan indeks domestik, mengikuti pelemahan yang terjadi pada bursa regional,” ujar Purwoko.

Semua itu, menurut dia, dipicu oleh pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke semalam dalam Federal Open Market Committee (FOMC) meeting. “Bernanke menyatakan, peluang pelemahan ekonomi AS semakin membesar,” papar dia.

Sementara itu, terkait kejatuhan IHSG yang lebih dalam dan pergerakan harganya lebih volatile dibandingkan bursa regional, menurutnya, memang secara historis selalu terjadi saat bursa global jatuh. “Secara natural selalu begitu dibandingkan bursa saham lain yang negaranya sudah maju,” tuturnya.

Dia menegaskan,emerging market seperti Indonesia lebih volatile dibandingkan bursa saham di negera developing. “Karena itu, baik pelemahan maupun penguatan terjadi lebih tajam,” ungkap Purwoko.

Di sisi lain, pelemahan indeks, juga dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar internasional. Kontrak rupiah hari ini sempat melemah ke level 9.350 lalu kembali ke 9.200 dan saat ini berada di level 9.100-an per dolar AS. “Jadi, rupiah sangat fluktuatif dalam kisaran yang sangat lebar hari ini,” timpalnya.

Menurutnya, pasar melihat, pelemahan rupiah menandakan terjadinya capital outflow dalam jumlah besar. Karena itu, setelah indeks melemah dan menembus level 3.500, seharusnya pelemahannya berkurang. Tapi, indeks tetap belum memperlihatkan tanda-tanda reversal naik. “Sebab, bursa regional juga masih running melemah cukup dalam,” ungkap dia.

Dalam situasi ini, Purwoko menyarankan dengan sangat, pelaku pasar lebih baik memegang dana tunai (cash) dibandingkan memegang saham. Sebab, pergerakan bursa regional pun belum memberikan tanda-tanda reversal naik. “Jika market mulai reversal, baru bisa malakukan pola buy on weakness pada saham-saham tertentu. Tapi, sampai saat ini belum ada tanda-tandanya akan reversal naik,” imbuhnya.

Pelaku pasar bisa masuk, jika secara candlestick, IHSG sudah memperlihatkan tanda-tanda rebound dalam intraday-nya dan didukung besarnya volume transaksi. “Hingga saat ini, level buttom indeks belum tampak secara teknikal. Kalaupun rebound, harus dilihat juga apakah itu sebagai pembalikan arah atau bukan,” tutur dia. [ast]