Rabu, 04 April 2012

Keputusan Fed akan Paksa Bursa Eropa Negatif

Medium
INILAH.COM, London - Bursa saham Eropa diperkirakan akan melemah pada perdagangan Rabu (4/4/2012) setelah Federal Reserve AS tidak memungkinkan akan melakukan pelonggaran moneter.

Indeks FTSE berpotensi melemah 15 poin pada pembukaan hari ini, indeks DAX akan turun 55 poin dan indeks CAC akan lebih rendah hingga 24 poin. Pada menit-menit terakhir pertemuan Fed bulan Maret hanya dua anggota dari sepuluh anggota memiliki stimulus moneter dilanjutkan lagi. Demikian mengutip CNBC.com.

Sementara pasar akan mencermati kondisi ekonomi Eropa. Hari ini Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengeluarkan kebijakan soal suku bunga. Pasar memperkirakan ECB akan tetap mempertahankan suku bunga saat ini.

Hari ini juga ada lelang obligasi pemerintah Spanyol antara 3-4 miliar euro atau sekitar US$4 miliar-5,2 miliar. Obligasi itu akan jatuh tempo pada Januari 2015, Oktober 2016 dan Oktober 2020. Spanyol saat ini sedang melakukan langkah penghematan dan mengatasi defisit anggaran.

Pemerintah Jerman juga melelang obligasi senilai 4 miliar euro yang akan jatuh tempo pada Februari 2017. Sementara Portugal akan melelang hingga 1,25 miliar euro untuk jangka waktu 6 bulan dan 18 bnulan.

Untuk bursa Asia mayoritas melemah seperti indeks Hang Seng naik 1,3%, indeks Nikkei turun 2,2%, indeks ASX turun 0,07%, indeks Kospi turun 1,5%, indeks STI turun 0,6%.

Asing Mulai Tarik Dana, IHSG Ambles Satu Persen

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebih dari satu persen akibatnya maraknya aksi ambil untung. Investor asing mulai mengambil kembali dana-dananya yang selama ini disimpan di pasar.

Mengawali perdagangan, IHSG menipis 6,891 poin (0,17%) ke level 4.208,553 terkena profit taking. Posisi indeks sudah jenuh beli setelah kemarin cetak rekor.

Aksi ambil untung langsung terjadi pada pembukaan perdagangan, dilakukan oleh baik investor lokal dan asing. Indeks sempat ambles ke posisi terendahnya di 4.167,348.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (4/4/2012), IHSG ambles 52,185 poin (1,24%) ke level 4.163,259. Sementara Indeks LQ 45 anjlok 12,565 poin (1,71%) ke level 719,070.

Investor asing yang sudah terus menerus menempatkan dananya di lantai bursa sejak perdagangan pekan lalu kini mulai mengambil untung. Hingga siang ini pemodal asing sudah mencatat penjualan bersih meski nilainya masih tipis.

Seluruh indeks sektoral di bursa saham terkena koreksi, rata-rata cukup dalam lebih dari satu persen. Indeks sektor konsumer memimpin pelemahan bursa dengan koreksi lebih dari dua persen.

Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 67.948 kali pada volume 4,149 juta lot saham senilai Rp 2,3 triliun. Sebanyak 75 saham naik, sisanya 160 saham turun, dan 103 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih kompak terjebak di zona merah akibat ambil untung setelah kemarin naik cukup tinggi. Bursa saham China, Hong Kong dan Taiwan hari ini tutup menyambut hari libur nasional.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional siang hari ini:
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 154,52 poin (1,54%) ke level 9.895,87.
  • Indeks Straits Times melemah 10,38 poin (0,34%) ke level 3.004,60.
  • Indeks KOSPI ambles 26,19 poin (1,28%) ke level 2.023,09.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Hero Supermarket (HERO) naik Rp 5.900 ke Rp 35.500, Century Textille (CNTX) naik Rp 950 ke Rp 10.950, Ashimas (AMFG) naik Rp 400 ke Rp 6.250, dan Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 200 ke Rp 2.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.800 ke Rp 57.650, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.400 ke Rp 75.350, United Tractor (UNTR) turun Rp 1.200 ke Rp 31.400, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 44.350.

(ang/dru)

Bursa Asia terjegal koreksi harga komoditas

Bursa Asia terjegal koreksi harga komoditas
TOKYO. Pasar saham Asia merosot pada perdagangan Rabu pagi (4/4). Indeks acuan bursa regional pun tumbang untuk pertama kalinya dalam empat hari terakhir.
Sinyal dari Federal Reserve yang meredam harapan akan stimulus moneter tambahan, menyebabkan harga komoditas terpangkas. Kondisi ini menekan laju saham-saham perusahaan berbasis komoditas.

MSCI Asia Pacific Index turun 0,5% ke posisi 126,76 pada pukul 10.00 di Tokyo. Pasar di Cina, Hong Kong dan Taiwan libur pada hari ini. Sementara itu, indeks Nikkei 225 bergerak liar dan tercatat melemah tipis 0,1%. Lalu, indeks S&P/ASX 200 tergerus 0,3%, dan indeks Kospi jatuh 0,4%.

Saham-saham yang memberatkan langkah indeks, antara lain, saham BHP Billiton Ltd. yang terpangkas 1,7% di Sydney. Kemudian, saham SK Telecom Co. yang tergelincir 3,5% di Seoul, setelah Posco menjual kepemilikannya di operator ponsel ini. Namun, saham Toyota Motor Corp. tercatat masih reli 0,8% setelah yen melemah terhadap dollar AS.

"Saya tidak berpikir akan ada pelonggaran moneter lanjutan di AS, dan itu menekan pasar. Di sisi lain, pasar tercatat sudah reli cukup lama, sehingga bisa terkonsolidasi lebih dulu," ujar Matt Riordan, dari Paradice Investment Management Pty.

Bursa Jepang bergerak liar di dua arah

Bursa Jepang bergerak liar di dua arah
TOKYO. Bursa saham Jepang bergerak liar di dua arah pada perdagangan hari ini (4/4). Pergerakan fluktuatif ini terjadi lantaran pasar diguyur sentimen pelemahan yen, serta surutnya harapan atas stimulus lanjutan di AS.

Indeks Nikkei 225 tercatat naik kurang dari 0,1% ke level 10.055,06 pada pukul 9.41 di Tokyo. Sementara, indeks Topix naik 0,2% ke posisi 852,65.

Adapun, salah satu saham yang masih menyokong indeks, yaitu Toyota Motor Corp. yang reli 1%. Sedangkan, saham yang memberatkan langkah indeks, yaitu saham operator supermarket Izumiya Co. dengan penurunan 2,5%. Ini terjadi setelah laba bersihnya turun pada tahun lalu.
Pasar domestik sejatinya cenderung positif seiring melemahnya yen, sebab akan meningkatkan prospek pendapatan bagi eksportir. Yen tercatat melemah ke level 82,99 terhadap dollar AS pada hari ini, dibandingkan kemarin, sempat menyentuh 82,03 per dollar AS. Itu terjadi setelah The Fed menyatakan tak akan melanjutkan program pembelian aset, kecuali jika ekspansi ekonomi terputus-putus.

"Yen melemah di bawah rata-rata, sehingga perusahaan berasumsi hal itu akan meningkatkan ekspektasi pendapatan. namun, investor masih wait and see, sebelum AS melaporkan data ketenagakerjaan pada pekan ini," kata Hiroichi Nishi, manajer ekuitas di SMBC Nikko Securities Inc.

Analis: Jenuh beli, IHSG rentan koreksi

JAKARTA. Setelah kemarin ditutup menguat tajam, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) diprediksi akan terkoreksi di awal perdagangan Rabu (4/4). Posisi IHSG yang sudah berada di area jenuh beli (overbought), cenderung menyebabkan indeks sensitif terhadap berita-berita negatif.
Analis Reliance Securities Andy Wibowo Gunawan menduga, hari ini, IHSG berpotensi melemah karena sentimen negatif yang berasal dari eksternal dan dari sisi teknikal sudah jenuh beli.

Andy bilang, kemarin (3/4), bursa Eropa mengakhiri tren rebound setelah rilis data produksi pabrik di Amerika Serikat (AS) sedikit berada di bawah ekspektasi pasar, dan juga naiknya yield obligasi spanyol. "Naiknya yield memberikan indikasi yang kurang baik terhadap perekonomian suatu negara," ujar Andy, Rabu (4/4).

Dari AS, pada penutupan kemarin, Wall Street juga melemah dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi 0,49% dan S&P turun 0,4%. Kata Andy, pelemahan tersebut seiring kecewanya pelaku pasar terhadap hasil pertemuan The Fed yang meredam ekspektasi adanya stimulus moneter.

Di perdagangan hari ini, dia memperkirakan, IHSG akan cenderung bearish di kisaran 4.200 - 4.250. Dia merekomendasi jual untuk saham-saham AALI, HRUM, ASGR, ITMG, ANTM, BBNI, juga TINS

Sementara itu, analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono juga memprediksi, indeks akan mulai mengalami tekanan jual menyusul kenaikan yang telah terjadi selama lebih dari sepekan terakhir. "Indeks akan bergerak pada kisaran support 4.190, dan resistance di 4.245," prediksinya.
Adapun, saham pilihan yang direkomendasikan beli oleh Purwoko antara lain BSDE, BBNI, BMRI, JSMR, dan TBIG.

Pernyataan Fed Patahkan Semangat Wall Street

Headline
INILAH.COM, New York - Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan saham Selasa (3/4/2012).

Hal itu didorong dari pernyataan the Fed yang cenderung kurang menyediakan stimulus ekonomi. Indeks Dow Jones turun 64,94 poin atau 0,49% ke level 13.199,55. Indeks S&P 500 turun 5,73 poin atau 0,40% ke level 1.413.31. Indeks Nasdaq turun 6,13 poin atau 0,20% ke level 3.113,57.

Meski hari ini mengalami penurunan, indeks Dow telah naik 8% sepanjang tahun ini, sementara S&P500 naik 12,4%, dan Nasdaq naik 19,5%. Adapun sektor saham mengalami penurunan yaitu sektor saham energi turun 1%, dan material 0,9%. Sedangkan sektor saham utilities defensif.

Dalam pertemuan the Fed, beberapa anggota berpikir rangsangan lebih mungkin dibutuhkan jika perekonomian kehilangan momentum. Sebelumnya pertemuan pada Januari lalu melihat perlunya pelonggaran lebih. "Ada tanda-tanda kekuatan dalam manufaktur dan pekerjaan. The Fed menunggu dan melihat pendekatan di sela-sela, dan hal itu mengecewakan investor," kata Eric Teal, Chief Investment Officer First Citizenz Bancshares, seperti dikutip dari yahoofinance.

Saham mengalami penurunan, saham General Motors Co turun 4,6% ke level US$25,54. Sementara saham Ford Motor Co naik 0,2% menjadi US$12,64. Sedangkan sektor keuangan turun 0,7% di mana saham Morgan Stanley ditutup ke level US$19,37 setelah The Fed mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan untuk cara salah satu unit hipotek pelayanan pinjaman rumah. Sebelumnya, data dari Departemen Perdagangan diperkuat ekonomi domestik perlahan-lahan membaik seiring pesanan baru pada Februari. Penjualan mobil pun naik 15% pada Maret di Amerika Serikat.

Volume perdagangan saham di bursa saham Amerika Serikat sekitar 6,75 miliar saham di bursa saham New York, American Stock Exchange, dan Nasdaq di bawah rata-rata harian sekitar 7,84 miliar. [cms]

Harga emas terpangkas lagi

Harga emas terpangkas lagi
MELBOURNE. Harga emas kembali terpangkas untuk hari yang kedua. Koreksi harga emas terjadi seiring memudarnya ekspektasi terhadap stimulus moneter lanjutan.

Pasar menilai, hasil pertemuan terakhir Federal Reserve mengindikasikan, tak akan adanya stimulus lanjutan, kecuali jika pertumbuhan ekonomi AS melambat. Ketua The Fed menyatakan, pertumbuhan ekonomi AS berjalan moderat, dan untuk saat ini tidak ada urgensi untuk melakukan pelonggaran moneter dengan penambahan stimulus.
Sinyal ini pun lantas meredam permintaan emas sebagai aset alternatif investasi yang aman (safe haven).
Kontrak emas untuk pengiriman Juni di Comex, New York terpangkas 1,4% ke level US$ 1.648,40 per ons troy pada pukul 9.02 waktu Melbourne. Sementara itu, emas batangan untuk pengiriman segera bergulir tipis ke posisi US$ 1.647,38 per ons troy.

Stok menggemuk, harga minyak melorot di New York

Stok menggemuk, harga minyak melorot di New York
SYDNEY. Minyak diperdagangkan mendekati level terendah dua hari di New York. Harga emas hitam ini melorot, lantaran stok minyak di Amerika Serikat menggemuk. Sementara, pertumbuhan order pabrik meleset dari prediksi.

Data American Petroleum Institute menunjukkan, pasokan minyak mentah AS bertambah 7,8 juta barel per pekan lalu. Ini yang terbesar sejak 23 Desember. Pemerintah juga akan merilis data persediaan minyak pada hari ini, yang diprediksi akan menunjukkan adanya peningkatan stok sebesar 2,5 juta barel.

Di sisi lain, pesanan pabrik di AS hanya naik 1,3% sepanjang Februari lalu. Ini meleset dari prediksi analis yang mencapai 1,5%. Kedua data tersebut mengindikasi kemungkinan bakal surutnya permintaan minyak.
Sebagai catatan, kontrak minyak bergulir tipis, setelah kemarin turun untuk pertama kali dalam tiga hari. Minyak WTI untuk pengiriman Mei naik tipis 4 sen ke posisi US$ 104,05 per barel pada perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pukul 9.34 waktu Sydney. Kemarin, kontrak yang sama terpangkas 1,2% ke US$ 104,01 per barel. Ini level penutupan terendah sejak 30 Maret.

Sementara, minyak Brent untuk pengiriman Mei melorot 0,5% ke level US$ 124,86 per barel di bursa ICE Futures Europe, kemarin.

Respons FOMC, Rupiah Bakal Fluktuatif-naik

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (4/4/2012) diprediksi fluktuatif cenderung menguat. Hasil FOMC The Fed dini hari tadi jadi katalisnya.

Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, rupiah berpeluang fluktuatif cenderung menguat. Sebab, pasar merespons Federal Open Market Committee (FOMC) Rabu (4/4/2012) dinihari tadi. Pertemuan itu memberikan gambaran tentang voting The Fed yang dilakukan pada 13 Maret 2012.

Menurutnya, pasar sudah mendapat jawaban atas pertanyaan apakah mutlak semua anggota dewan gubernur The Fed setuju dipertahankannya suku bunga rendah di level 0-0,25%. "Karena itu, rupiah berpeluang fluktuatif dengan kecenderungan menguat dalam kisaran 9.100-9.150 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Selain itu, lanjutnya, dini hari tadi juga ada tambahan statemen dari Fed. "Itu yang memberikan gambaran untuk Quantitative Easing (QE) dari The Fed selanjutnya," timpalnya.

Memang, kata dia, berdasarkan data-data AS yang dirilis dan pernyataan dari Gubernur The Fed Ben Bernanke yang terakhir, sudah diprediksi Quantitative Easing masih akan diundur terlebih dahulu. "Sebab, data-data ekonomi AS belakangan ini sudah membaik," paparnya.

Karena itu, tidak perlu ada stimulus lanjutan. Masalahnya, Gubernur The Fed sudah memberikan sinyal QE lanjutan sehingga dolar AS akan melemah dan rupiah akan terangkat hari ini.

Pada saat yang sama, Fed juga memaparkan soal prospek pertumbuhan ekonomi AS. Dari data fundamental, hari ini AS akan merilis data ADP Employment yang akan berkontribusi pada data nonfarm payrolls AS pada Jumat (6/4).

Angkanya, kata dia, sudah diperkirkan melandai jadi 200 ribu dari sebelumnya 216. Ini jadi sentimen negatif bagi dolar AS dan akan mendongrak rupiah. "Tapi, rupiah akan fluktuatif, selain karena faktor profit taking juga dipicu oleh antisipasi pasar atas libur hari wafat Isa Al-Masih pada Jumat (6/4)," imbuh Daru.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (3/4/2012) ditutup menguat 15 poin (0,16%) ke angka 9.125/9.135.

Sinyal stimulus memudar, Wall Street pun lunglai

Sinyal stimulus memudar, Wall Street pun lunglai
NEW YORK. Sentimen di pasar saham AS melemah seiring pudarnya harapan atas stimulus moneter lanjutan. Tak heran, bursa Wall Street pun mulai tergerus. Apalagi, data ekonomi yang dirilis semalam pun tak sesuai harapan.

Indeks S&P 500 terpangkas 0,4% ke posisi 1.413,38 pada penutupan pukul 4 sore di New York. Indeks acuan saham AS ini tumbang setelah melejit ke level tertinggi sejak 2008, kemarin. Senada, indeks Dow Jones pun terkoreksi 0,5% ke 13.199,55, pasca menyentuh level tertinggi sejak Desember 2007 pada hari sebelumnya.

Di awal perdagangan, pasar saham mulai tertekan lantaran rilis data produksi pabrik di AS lebih rendah dari prediksi. Departemen Perdagangan melaporkan, produksi pabrik pada Februari naik 1,3%. Angka tersebut meleset dari prediksi analis yang mencapai 1,5%.

Bursa saham pun semakin terkoreksi, lantaran pasar mengacu pada hasil pertemuan The Fed yang terakhir pada Maret lalu. Pertemuan tersebut menyiratkan berkurangnya urgensi untuk menambah stimulus moneter. The Fed mengindikasi, penambahan stimulus akan dilakukan jika pertumbuhan ekonomi AS tertatih-tatih, atau inflasi naik pada level yang lebih rendah dari target 2%.

Sementara itu, pada bulan lalu, bank sentral AS juga sudah menegaskan rencananya untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol hingga 2014 mendatang.

James Dunigan dari PNC Wealth Management menyebut, semua orang menginginkan adanya sedikit tambahan stimulus. "Ini menegaskan kembali penilaian ketua The Fed yang melihat pertumbuhan ekonomi masih moderat, dan mereka siap untuk bertindak. Tetapi pada saat ini, tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk menggelontorkan stimulus tambahan," ujarnya.

Sebelumnya, S&P 500 naik ke level tertinggi sejak Mei 2008, setelah data menunjukkan pertumbuhan manufaktur AS lebih kuat dari prediksi analis. David Pearl, wakil kepala investasi dari Epoch Investment Partners menilai, pasar terlalu optimis terhadap keuntungan perusahaan dan pertumbuhan PDB untuk sisa tahun ini. "Kita berada dalam pemulihan, tetapi pasar telah cukup banyak mendiskonto kondisi tersebut," sebutnya di New York.

IHSG Siap-siap Kena Tekanan Jual

Jakarta - Kemarin, IHSG berhasil cetak rekor tertingginya sepanjang sejarah ke level 4.215,443 setelah naik 49,3721 poin (1,18%), dengan level intraday tertinginya di 4.232,923.

Rekor IHSG sebelumnya dicetak pada Senin 1 agustus 2011 di level 4.193,441 setelah naik 62,641 poin (1,51). Sementara Intraday tertinggi di keesokannya, yaitu Selasa 2 agustus 2011 pada level 4.195,724

Menutup perdagangan, selasa (3/4/2012), IHSG menanjak 49,372 poin (1,19%) ke level 4.215,444. Sementara Indeks LQ 45 melesat 11,093 poin (1,54%) ke level 731,635.

Setelah mencetak rekor, IHSG diperkirakan akan terkena tekanan jual. Pasalnya, penguatan indeks ini sudah berlangsung sejak pekan lalu dan dana asing banyak yang sudah 'parkir' di lantai bursa.

Semalam, Bursa saham Wall Street terkena koreksi meninggalkan posisi tertingginya dalam empat tahun terakhir. Semua berkat pernyataan The Federal Reserve yang tak lagi berniat memberikan stimulus tambahan ke pasar.

Pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat, Indeks Dow Jones terpangkas 64,94 poin (0,49%) ke level 13.199,55. Indeks Standard & Poor's 500 melemah 5,73 poin (0,40%) ke level 1.413,31. Indeks Komposit Nasdaq turun 6,13 poin (0,20%) ke level 3.113,57.

Pergerakan bursa-bursa di regional pagi ini:
  • Indeks Nikkei 225 naik tipis 2,96 poin (0,03%) ke level 10.053,35.
  • Indeks Straits Times turun tipis 1,09 poin (0,04%) ke level 3.014,98.

Rekomendasi saham hari ini:
Panin Sekuritas
Pada perdagangan kemarin bergerak menguat menembus level 4.200. Kenaikan indeks didukung oleh aliran dana asing ke bursa, disamping juga sentimen positif dari regional menyusul data manufaktur Amerika Serikat, serta data industri jasa China yang diatas ekspektasi. Hari ini kami perkirakan indeks mulai mengalami tekanan jual menyusul kenaikan yang telah terjadi selama lebih dari sepekan terakhir. Kami proyeksikan indeks akan bergerak pada kisaran support-resistance 4.190-4.245. Saham pilihan : BSDE, BBNI, BMRI, JSMR, TBIG

eTrading Securities
Secara teknikal, IHSG berhasil melanjutkan penguatannya dan mencetak rekor tertingginya sepanjang sejarah. Candlestick kembali membentuk Bullish Marubozu di luar garis Upper Bollinger Band. Sementara RSI bergerak uptrend memasuki area Overbought namun indikator stochastic telah membentuk deathcross di area Overbought. Pada perdagangan Rabu (4/4), diperkirakan IHSG akan bergerak pada range 4195-4250 dengan kecenderungan profit taking.

(ang/ang)

Wall Street Terkoreksi Berkat Pengumuman The Fed

New York - Bursa saham Wall Street terkena koreksi, meninggalkan posisi tertingginya dalam empat tahun terakhir. Semua berkat pernyataan The Federal Reserve yang tak lagi berniat memberikan stimulus tambahan ke pasar.

Dukungan dari bank sentral itu merupakan katalis utama penggerak S&P 500 menanjak 30% sejak Oktober tahun lalu disamping petumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Investor memang mengharapkan adanya aksi ambil untung setelah dua perdagangan terakhir naik tinggi.

Sektor-sektor yang kemarin naik tinggi kini memimpin pemelahan di pasar, indeks sektor energi turun 1% dan bahan material melemah 0,9%. Sementara sektor yang memimpin penguatan adalah sektor peralatan rumah tangga.

"Sudah ada sinyal penguatan di industri manufaktur dan tingkat tenaga kerja. Tapi langkah the Fed yang berniat menunggu dan melihat perkembangan situasi pasar itu membuat investor kecewa," kata Eric Teal, Kepala Investasi dari First Citizens Bancshares di Raleigh, North Carolina, dikutip dari Reuters, Rabu (4/4/2012).

Pekan lalu, situasi pasar sudah memasuki tren bullish, sebelum adanya pengumuman dari bank sentral negeri paman sam tersebut. Data penjualan otomotif AS juga sudah mencetak performa terbaik sejak 2008 lalu, satu lagi sinyal pemulihan ekonomi.

Pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat, Indeks Dow Jones terpangkas 64,94 poin (0,49%) ke level 13.199,55. Indeks Standard & Poor's 500 melemah 5,73 poin (0,40%) ke level 1.413,31. Indeks Komposit Nasdaq turun 6,13 poin (0,20%) ke level 3.113,57.

Meski terkena koreksi, sejak awal tahun ini Dow Jones masih naik 8% sementara S&P 500 bertahan di penguatan 12,4%, sedangkan Nasdaq tumbuh 19,5%.

(ang/ang)

Selasa, 03 April 2012

Data Manufaktur Topang Penguatan Wall Street

Headline
INILAH.COM, New York - Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat padaperdagangan saham Senin (2/4/2012) didukung dari data manufaktur Amerika Serikat dan China yang membantu mendukung prospek pertumbuhan ekonomi.

Indeks Dow Jones naik 52,45 poin atau 0,40% menjadi 13.264,49. Indeks S&P500naik 10,43 poin atau 0,74% ke level 1.418,90. Indeks Nasdaq naik 28,13 poin atau0,91% ke level 3.199,70.

Penutupan saham indeks S&P tertinggi sejak pertengahan Mei 2008. Indeks Dow tertinggi sejak 31 Desember 2007. Sementara indeks Nasdaq naik sejak akhir 2.000. Indeks US Institute for Supply Management naik menjadi 53,4 atau melebihi perkiraan.Indeks purchasing managers China ke level tertinggi dalam 11 bulan. "Ada yangkhawatir bahwa data kuartal pertama hanya kuat karena cuaca musim dingin ringan.Tapi ISM menunjukkan kekuatan ini lebih sedikit daripada yang diantisipasi. Selain itu China PMI telah meredakan kekhawatiran, " ujar Mark Luschini, ChiefInvestment Strategist Janney Montgomery Scott, seperti dikutip dari yahoofinance.

Data ekonomi tersebut membantu mengangkat saham energi dan basic material karena harga minyak mentah dan komoditi naik. Saham Chevron naik 1% menjadi US$108,30. Indeks sektor saham material S&P naik 1,4%, sementara saham Alcoa Inc mendorong kenaikan Dow Jones. Saham Alcoa naik 1,5% ke level US$10,17.

Perusahaan Coty Inc menawarkan untuk membeli Avon Products Inc dengan US$23,25 per saham, dengan 20% di atas harga premium pada penutupan Jumat lalu. Saham Avon naik 17,3% ke level US$22,70. Saham Apple Inc membantu mengangkat Nasdaq naik 3,2% menjadi US$618,63. Saham Home Depot Inc turun 0,6% menjadi US$449,99.

Selain itu, sebuah laporan di Eropa menunjukkan sektor manufaktur di kawasan Eropa menyusut pada Maret. Sehingga itu menjadi sorotan kesulitan ekonomi di zona Euro. Sedangkan pasar ekuitas akan ditutup tutup untuk liburan Jumat Agung yang dapat menciptakan volume lebih ringan dan meningkatkan volatilitas minggu ini. Meskipun libur, pemerintah akan merilis laporan payroll pada Jumat ini. Sehingga membuat investor ragu-ragu untuk mengambil langkah besar menjelang pengumuman data.

Volume perdagangan saham sekitar 6,46 miliar saham yang diperdagangkan di bursa saham New York, American Stock Exchange, dan Nasdaq di bawah rata-rata harian tahun lalu sekitar 7,84 miliar saham. [cms]

Harga emas tersetir dollar AS

Harga emas tersetir dollar AS
JAKARTA. Harga emas masih fluktuatif. Setelah sempat menanjak pekan lalu, emas sempat terperosok lagi ke kisaran US$ 1.654,9 per troy ounce (toz), Kamis (29/3).
Banderol harga logam mulia itu menguat 1,02% menjadi US$ 1.671,9 per toz, menutup pekan lalu. Namun, membuka bulan April, emas kembali terkoreksi tipis ke posisi
US$ 1.667,3 per toz.

Ariston Tjendra, Kepala Riset Monex Investindo Future, melihat, dorongan kenaikan harga emas sejatinya sudah muncul saat ini kendati masih bermain di area konsolidasi. “Pergerakan dollar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama penggerak harga emas,” ujar dia, seperti dikutip dalam riset mingguan yang diterima KONTAN, Senin (2/4).

Sepekan ini, harga emas dia prediksi akan bergerak di rentang US$ 1.659-US$ 1.674 per toz. Jika naik hingga menyentuh US$ 1.674, maka harga emas bisa ngebut lebih tinggi lagi hingga US$ 1.684.

Namun, jika logam mulia itu jatuh lagi ke level US$ 1.659, maka emas bisa terlempar lagi ke kisaran US$ 1.645.

Wahyu T. Laksono, pengamat komoditas dan valuta, menuturkan, harga emas beberapa pekan ini memang tengah konsolidasi. Ketika pasar meragukan kelanjutan stimulus moneter lanjutan AS, daya tarik emas langsung pudar.

Februari lalu, ketika spekulasi tersebut meruyak, harga emas jatuh hingga US$ 100. Demikian halnya ketika pernyataan The Federal Reserves 26 Maret lalu memicu spekulasi kelanjutan quantitative easing AS, emas bangkit meski tidak dramatis.

Wahyu menilai, saat ini harga emas secara teknikal cenderung melemah. “Moving Average Convergence Divergence menurun. Stochastic juga menurun, usai menyentuh level 50,” ujar dia.
Selama pekan ini, hitungan Wahyu, emas akan berkisar US$ 1.600-US$ 1.700. Emas akan sulit kembali menjadi US$ 1.800, di waktu dekat.

Dollar AS memang menjadi penyetir utama arah harga emas. Sepanjang kuartal I lalu, emas sudah menanjak 6,7%. Sedangkan dollar AS melemah 1,5% terhadap enam mata uang utama dunia.

Mengutip survei Bloomberg, 14 dari 21 dealer U.S. Treasuries, memprediksi The Fed akan membutuhkan quantitative easing untuk mempercepat pemulihan perekonomian AS. “Jika The Fed melakukan quantitative easing tahun ini, ditambah melonjaknya defisit fiskal dan tergerusnya mata uang dollar AS dibanding mata uang dunia lainnya, maka emas akan menjadi investasi pokok,” ungkap Loan Smith, Direktur Knight Capital Europe.

Indeks Manufaktur AS Siap Dongkrak Rupiah

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (3/4/2012) diprediksi menguat. Positifnya indeks manufaktur AS menjadi katalisnya.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, potensi penguatan rupiah hari ini terutama didukung oleh rilis indeks manufaktur AS semalam yang sudah diprediksi membaik. Angkanya diprediksi naik 53 untuk Maret 2012 dari bulan sebelumnya 52,2.

Secara historis, lanjut Firman, jika data manufaktur dirilis positif, efek positifnya bisa berlangsung dua hari. "Karena itu, rupiah cenderung menguat dalam kisaran 9.100 hingga 9.160 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Dia menegaskan, rupiah masih memiliki ruang penguatan. Tapi, ruang penguatan tersebut sedikit tipis. "Sebab, pagi ini pasar dihadapkan pada pengumuman suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA)," ujarnya.

Firman menjelaskan, meski Australia sudah diprediksi akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25%, pernyataan dari Bank Sentral yang akan dirilis pagi ini sudah diprediksi bersifat dovish (pro kebijakan suku bunga rendah). "Karena itu, meski suku bunga RBA dipertahankan, ada potensi penurunan suku bunga ke depannya," paparnya.

Selain itu, pasar juga mencemaskan potensi pelemahan nilai tukar dolar Australia yang berada pada level tinggi (jenuh beli). "Kondisi ini, akan memberikan sentimen negatif terhadap rupiah sehingga penguatannya jadi terbatas secara umum," imbuh Firman.

Tapi, rupiah bisa menguat tipis. Sebab, bagusnya data manufaktur mulai dari China, Jepang, Inggris, Uni Eropa, Kanada dan AS bisa memberikan sentimen positif bagi bursa saham global dan seharusnya bisa turut berimbas positif bagi rupiah. "Karena itu, kecenderungan rupiah jadi menguat tipis," paparnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (2/4/2012) ditutup menguat 9 poin (0,09%) ke level 9.130/9.145.

Dominasi yen belum akan bangkit

Dominasi yen belum akan bangkit
JAKARTA. Pamor yen Jepang (JPY) sepanjang kuartal I-2012 terpuruk. Di antara 10 valuta negara-negara maju, yen tercatat sebagai valuta dengan performa terburuk.
Pelemahan yen mencapai 10,4% dalam tiga bulan terakhir. Otot yen di hadapan dollar Amerika Serikat (AS) misalnya, melemah ke level terendah setahun di level 84,18 di pertengahan Maret lalu.

Bank of Japan (BoJ) membanjiri pasar dengan stimulus hingga ¥ 10 triliun agar yen bertahan melemah. Pelemahan yen disengaja agar kinerja ekspor Jepang tidak terganggu.
Para eksportir Jepang berharap pelemahan yen tetap berlangsung. Akio Toyoda, Presiden Toyota Motor Corporation, salah satunya, meminta yen untuk diperlemah lagi untuk membantu ekspor Jepang.

"Yen yang melemah adalah hal yang baik untuk eksportir, tapi level USD/JPY sekitar 80-an masih sebuah hal yang sulit," imbuh Takashi Okuda, Presiden Sharp.
Namun, BoJ sendiri tidak ingin pemerintah terlalu bergantung pada kemampuannya mencetak uang. "Ada batasan terhadap apa yang bisa dilakukan BoJ, menuntut pelemahan kurs yen adalah harapan kosong belaka," kata Yuuki Sakurai, CEO di Fukoku Capital Management.
Para eksportir Jepang, menurut Sakurai, lebih baik menyusun strategi dan rencana bisnis, berdasarkan nilai tukar yen di saat ini.

Para analis memangkas prediksi harga yen terhadap dollar AS di kuartal ketiga hingga 6%. Harga dollar AS diperkirakan bertahan sekitar 84 yen, hingga akhir tahun ini.
"BoJ sudah memulai awal yang baik, tapi untuk melanjutkannya dibutuhkan keadaan ekonomi Amerika yang baik dan kemungkinan pelonggaran kebijakan tanpa akhir di Jepang," ujar Shahab Jalinoos, Senior Currency Strategist UBS AG, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Prediksi UBS, nilai tukar yen akan melemah, hingga USD/JPY mendekati kisaran 85-an, dalam enam bulan mendatang. Hari ini, pamor yen secara teknikal masih kalah dibandingkan valuta dunia lain.

Senin, 02 April 2012

Minyak berpeluang menembus US$ 105

Minyak berpeluang menembus US$ 105
JAKARTA. Harga minyak mentah kembali memanas. Penyulutnya kali ini adalah pernyataan Barrack S. Obama, Presiden Amerika Serikat (AS), tentang sanksi untuk Iran. Minyak juga terungkit sentimen positif data terbaru kondisi perekonomian AS.

Kontrak pengiriman minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei 2012 di New York Merchantile Exchange, akhir pekan lalu (30/3), menguat 0,23% menjadi US$ 103,2 per barel. Harga minyak jenis Brent, menguat 0,4% ke level US$ 122,8 per barel. Banderol Brent sudah melesat 14% sepanjang kuartal I-2012, sedangkan WTI telah menguat 4,2%.

Angka belanja konsumen di AS naik 0,6% Februari lalu, berdasarkan data Departemen Perdagangan AS. Indeks sentimen konsumer dari Thomson Reuters/University of Michigan AS juga naik dari 75,3 menjadi 76,2.

Sinyal pemulihan ekonomi AS positif bagi harga minyak mengingat Negeri Paman Sam tersebut adalah negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia.

Harga minyak juga terkerek oleh kebijakan terbaru Obama yang mengancam akan mengeluarkan bank dari sistem perbankan, jika melayani transaksi yang terkait dengan jual-beli minyak Iran. Obama dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy terus berupaya menekan Iran dengan ancaman sanksi lanjutan, agar Negeri Mullah itu menghentikan proyek nuklirnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menambahkan, Iran telah melanggar resolusi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dengan terus meningkatkan program nuklirnya di tengah-tengah kecaman dunia.

Survei Bloomberg mencatat, produksi minyak Iran Maret lalu telah anjlok 65 ribu barel menjadi 3,385 juta. Ini merupakan level terendah sejak Juni 2002. Hal ini tentu memengaruhi sisi suplai minyak di pasar dan berimbas ke prospek harga.

Kendati dari sisi fundamental, minyak di atas angin, dari sisi teknikal minyak sejatinya masih berada dalam tren melemah sepekan ini. "Pergerakan harganya masih di bawah harga rata-rata harian," kata Apelles RT Kawengian, analis Monex Investindo Futures.

Sepekan ini, harga minyak diperkirakan ada di kisaran US$101,6-US$105,2 per barel.

BBM Batal Naik, Rupiah Bisa Menguat

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (2/4/2012) diprediksi naik. Pasar merespons positif batalnya penaikan harga BBM dan faktor sentimen dari Eropa dan AS.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi penguatan rupiah awal pekan ini salah satunya dipicu oleh pembatalan penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dalam Paripurna DPR akhir pekan lalu. Sebab, menurut Christian, dengan tidak naiknya harga BBM per 1 April 2012, rupiah akan kembali stabil setelah terkoreksi tajam akibat wacana penaikan harga BBM.

Di sisi lain, lanjutnya, pasar juga melihat tidak adanya bahaya tekanan inflasi. "Karena itu, rupiah cenderung menguat dalam kisaran 9.110 hingga 9.150 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Selain itu, pergerakan rupiah juga terpengaruh positif oleh hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa akhir pekan lalu dan menteri keuangan Uni Eropa yang juga bertemu dalam Ecofin Meeting.

Pada saat yang sama, rupiah masih mendapat dukungan dari tersedianya peluang pemberian stimulus moneter AS oleh Bank Sentral The Fed. "Sentimennya akan positif bagi aset-aset berisiko termasuk rupiah. Jadi, rupiah masih tertopang oleh pteonsi arus hot money yang masuk seiring terbukannya peluang Quantitative Easing (QE) di AS," tandas Christian.

Hanya saja, Christian memperkirakan, setelah rupiah mendiskon faktor AS dan Eropa, pasar akan fokus pada indikasi kekuatan ekonomi China yang akan melaporkan aktivitas manufaktur selama Maret 2012. "Para investor akan melihat konfirmasinya apakah terjadi kontraksi seperti pada PMI Manufacturing Indeks sebelumumya," ujarnya.

Jika terjadi perlambatan, kata dia, manufaktur China menunjukkan prospek pelonggaran moneter negeri Tirai Bambu itu untuk kembali mendongkrak perekonomian. "Setelah ekonomi China mendapat topangan, akan terkoreksi kembali jika data manufaktur kembali menunjukkan kontraksi," tandasnya.

Angkanya, lanjut Christian, sudah diperkirakan turun dari 51 menjadi 50,5. "Tapi, meski China negatif, rupiah bakal menguat untuk jangka pendek karena sentimen AS dan Eropa serta batalnya penaikan harga BBM," imbuh Christian.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Jumat (30/3/2012) ditutup menguat 13 poin (0,14%) ke angka 9.165/9.175.

Emiten terciprat fluktuasi harga minyak

Emiten terciprat fluktuasi harga minyak
JAKARTA. Harga minyak mentah berfluktuasi, mengikuti kondisi ekonomi dan politik dunia. Pada Jumat (30/3), kontrak pengiriman minyak untuk Mei 2012, di New York Mercantile Exchange senilai US$ 103,02 per barrel. Angka itu naik tipis dari hari sebelumnya yang sebesar US$ 102,78 per barel.

Pada akhir Februari 2012, harga minyak sempat menyentuh harga US$ 110, 18 per barel. Saat itu, hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran sedang panas-panasnya. Alwi Assegaf, Analis Universal Broker Indonesia, bilang jika ketegangan antara kedua negara kembali memanas, harga minyak dunia bisa menyentuh US$ 125 per barel di tahun ini.

Raditya Christian Artono, Analis Mandiri Sekuritas, menghitung, harga rata-rata minyak tahun ini US$ 95 per barel, lebih tinggi daripada rata-rata di tahun 2011, yaitu US$ 90 per barel.

Tentu kenaikan harga minyak bakal mengerek pendapatan para emiten di sektor energi. Memang, pendapatan emiten juga ditentukan oleh jumlah produksinya.

Produksi bertambah
Ambil contoh PT Medco Energi International Tbk (MEDC). Wilim Hadiwijaya, analis Ciptadana Securities, memperkirakan produksi MEDC tahun ini tidak akan banyak mengalami kenaikan. "Tahun ini oil lifting MEDC relatif sama dibanding tahun sebelumnya yang sekitar 30 thousands barrel oil per day (mbopd)," kata Willim.

Maklum tambang MEDC sudah memasuki masa matang, hingga produksi cenderung menurun. Di kuartal ketiga 2011, produksi minyak MEDC sebesar 29,4 mbopd, turun 3,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal pada awal tahun 2000, produksi minyak MEDC mencapai 85,5 mbopd.

Namun, untuk tahun 2014, Wilim memprediksi produksi MEDC akan kembali rebound menjadi sekitar 32,6 thousands barrel oil equivalent per day (mboepd). Peningkatan produksi minyak ini seiring dengan mulai berproduksinya proyek Blok EOR Rimau di Sumatera Selatan.

Sedang, Arief Budiman, Analis OSK Nusadana Securities, memprediksi, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), tahun ini bisa memproduksi minyak dan gas rata-rata sebesar 44,800 boepd. Jumlah ini naik 169,87% dari produksi migas tahun sebelumnya.

Arief bilang, ENRG akan mendapat tambahan produksi minyak dari Blok Kangean yang mulai beroperasi kuartal 2-2012. Blok tersebut akan menambah produksi gas ENRG sebesar 25.000 boepd.

Selain itu ada tambahan output, dari Blok Offshore North West Java (ONWJ) sekitar 11.700 boepd. Berdasarkan catatan KONTAN, blok ONWJ menghasilkan gas sebanyak 5.800 boepd serta minyak 5.900 boepd.

PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) mengandalkan jurus anorganik untuk meningkatkan kinerjanya. BIPI hendak mengakuisisi perusahaan infrastruktur pertambangan Astrindo Mahakarya Indonesia (AMI), optimistis bisa mengantongi laba sebesar US$ 110 juta di 2012.
Berikut ulasan analis terhadap tiga emiten energi.

Kenaikan BBM Ditunda, Beberapa Emiten Rebound

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada Senin (2/4/2012) masih akan bergerak fluktuatif. Namun, keputusan penundaan kenaikan BBM akan mendorong rebound teknikal beberapa emiten.

Edwin Sebayang, analis pasar modal dari MNC Securities mengatakan, penundaan kenaikan BBM bersubsidi belum mengakhiri ketidakpastian di pasar keuangan, “Hal ini karena pemerintah dihadapkan pada resiko naiknya ekspektasi inflasi yang terjadi, sejak rencana ini digulirkan ke publik,”ujarnya kepada INILAH.COM.

Sementara itu, dengan opsi kenaikan bisa dilakukan, jika harga indeks harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ ICP) lebih dari 15% dari asumsi ICP US$105 per barel, maka kenaikan BBM dapat dilakukan sewaktu-waktu.

“Emiten juga sudah memproyeksikan penurunan earning dan tidak bisa begitu saja menghilangkan resiko kenaikan BBM bersubsidi,”paparnya.

Menurutnya, jangka pendek penundaan kenaikan BBM premium jelas akan mendongkrak inflasi berkepanjangan ke level 6,5%-7%, dan mendorong BI Rate ke level 6%-6,5% di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat.

Namun, saham-saham consumers kemungkinan berbalik positif. Sektor ini berpotensi mengalami rebound teknikal, setelah sepanjang pekan lalu didera sentimen negatif akibat terombang-ambing keputusan kenaikan BBM.

Sementara itu, saham komoditas gas menjadi negatif. Karena penundaan kenaikan BBM ini menjadikan melemahnya peluang peningkatan earning, padahal penyaluran gas sudah mulai normal. Misalkan saja Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang sepanjang 2011, sudah mendistribusikan gas untuk produksi minyak, sehingga distribusi gasnya turun.

Mengantisipasi rebound jangka pendek, Edwin menyarankan investor untuk melakukan aksi beli terhadap saham-saham dari sektor perbankan, seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

Kemudian saham Astra International (ASII), Indocement (INTP), Semen Gresik (SMGR), Indo Tambangraya Megah (ITMG), Intraco Penta (INTA), United Tractor (UNTR), Unilever (UNVR) dan Indofood Sukses Makmur (INDF). “Rekomendasi beli untuk emiten-emiten ini,”ujarnya.

Sedangkan beberapa saham yang disarankan untuk dilepas adalah AKR Corporindo (AKRA), PGAS, Intiland Development (DILD) dan Bumi Resources (BUMI), “Rekomendasi jual untuk saham-saham ini,” tutupnya. [nat]