Senin, 18 Juli 2011

Kinerja kinclong di semester I, saham ADHI menjadi incaran

Kinerja kinclong di semester I, saham ADHI menjadi incaran
JAKARTA. Saham PT Adhi Karya (ADHI) menjadi salah satu saham yang diincar investor pagi ini. Pada pukul 10.50, saham ADHI tercatat naik 1,35% menjadi Rp 750.

Aksi beli atas saham perusahaan kontraktor ini terkait dengan kinerjanya di sepanjang semester I 2011. Asal tahu saja, ADHI membukukan kontrak sebesar Rp 4,1 triliun pada semester I-2011. Hal itu terbilang sukses karena sesuai dengan rencana semester I terhadap total target kontrak baru di tahun 2011 sebesar Rp 12,5 triliun.

Tim Riset eTrading Securities menilai, hasil kinerja ADHI di semester I membentuk pattern tahun 2010. "Dimana kebanyakan kontrak yang diperoleh terjadi di kuartal III dan IV. Diharapkan rencana pemberian tax incentives untuk sektor ini juga akan membantu bottom line perusahaan," jelas eTrading.

eTrading mencatat, konsensus Bloomberg untuk saham ini adalah sebagai berikut: lima analis merekomendasikan buy dan satu analis merekomendasikan hold. Adapun target harganya adalah Rp 990.

Krisis Eropa masih menyengat rupiah

Krisis Eropa masih menyengat rupiah
JAKARTA. Pergerakan mata uang rupiah pagi ini melemah. Dengan demikian, keoknya mata uang Garuda ini sudah terjadi selama dua hari berturut-turut. Rupanya, kembali memuncaknya kecemasan akan krisis Eropa membuat tingkat permintaan aset-aset dengan yield tinggi di emerging market mengalami penurunan.

Asal tahu saja, pagi ini, indeks MSCI Asia Pacific mengalami kemerosotan setelah Presiden bank sentral Eropa Jean-Claude Trichet mengatakan ECB tidak akan menerima jaminan obligasi dari negara-negara yang mengalami default. Terkait permasalahan ini, pimpinan Eropa akan menggelar pertemuan khusus pada 21 Juli mendatang yang akan membicarakan mengenai permasalahan krisis Eropa.

"Seperti mata uang Asia lainnya, rupiah melemah karena sentimen utang Eropa. Pelemahan ini hanya sementara saja karena berhubungan dengan Eropa. Sedangkan fundamental Indonesia relatif kuat," jelas Mika Martumpal, currency analyst PT Bank Commonwealth di Jakarta kepada Bloomberg.

Catatan saja, pada pukul 08.50, rupiah melemah 0,1% menjadi 8.556 per dollar. Sepanjang tahun ini, rupiah sudah menguat sebesar 4,9%.

Rupiah jatuh ke hari kedua setelah krisis Eropa makin dalam

Rupiah jatuh ke hari kedua setelah krisis Eropa makin dalam
JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah di awal pekan. Hingga perdagangan pukul 9:57 WIB, mata uang garuda ini ada di level Rp 8.556 per dollar AS. Melemah dari penutupan akhir pekan lalu yaitu Rp 8.544 per dollar AS.

Rupiah melemah dalam hari kedua seiring dengan semakin mengerucutnya kecemasan investor terhadap krisis Eropa yang semakin dalam. Hal ini membuat permintaan ke instrumen dengan imbal hasil yang tinggi di emerging market berkurang.

"Seperti mata uang Asia lainnya, kelemahan rupiah datang dari krisis utang Eropa," ujar Mika Martumpal, analis mata uang di Commonwealth Bank Jakarta. Namun, menurutnya, pelemahan ini hanya bersifat sementara.

Perdagangan awal pekan, IHSG dibuka menguat

Perdagangan awal pekan, IHSG dibuka menguat
JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan sinyal positif. Pada Senin (18/7) pagi, indeks dibuka dengan kenaikan 2,096 poin di posisi 4.025,298 di tengah bursa regional yang bergerak tak seragam.

Penguatan indeks dipimpin oleh sektor aneka industri. Selain itu, penguatan bursa kita juga ditopang oleh sektor manufaktur, pertambangan, konstruksi, perdagangan, dan barang konsumen.

Hingga pukul 09.37 WIB, sudah ada 55 saham menguat dan 36 saham melemah di bursa. Sementara 88 saham lainnya belum meninggalkan harga penutupan akhir pekan lalu.

Di posisi teratas ada saham PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) yang telah meroket hingga 14,94% ke Rp 100 per saham. Selanjutnya, disusul oleh saham PT Pelayaran Tempur Tbk (TMAS) yang naik 4,55% ke Rp 345 dan PT Sentul City Tbk (BKSL) yang naik 4,44% ke Rp 47 per saham.

Sedangkan posisi top losers diisi oleh PT Equity Development Tbk (GSMF) yang turun 4,85% ke Rp 98, PT Tifa Finance Tbk (TIFA) yang turun 3,45% ke Rp 280, dan PT Kresna Graha Sekurindo Tbk (KREN) yang turun 3,26% ke Rp 890.

"Kalau dilihat dari posisi penutupan akhir pekan lalu, indeks memang masih memiliki potensi untuk naik, setidaknya sampai resistance 4.035-4.050," kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo.

Akan tetapi, sentimen negatif yang datang dari bursa regional setelah lemgaba pemeringkat Standard & Poor's (S&P) mengancam akan melakukan downgrade surat utang Amerika diperkirakan akan membuat IHSG cenderung bergerak bervariasi pada kisaran 4.005-4.050. Level 3.975 akan menjadi support kedua.

IHSG Dibuka Naik 0,07%

Medium
INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan Senin (18/7) dibuka naik 0,07% ke level 4.026,06 pukul 09.30 WIB.

IHSG secara teknikal diperkirakan menguat pada perdagangan saham Senin (18/7). IHSG akan berada di kisaran 4.000-4.050. Data manufaktur US dan tingkat kepercayaan konsumer pada Juni yang kurang bagus serta belum disetujuinya peningkatan batas atas US dapat memberikan sentimen terhadap IHSG.

Volume perdagangan saham mencapai 6,10 juta lembar saham dengan nilai Rp11,97 miliar. Sebanyak tujuh saham mengalami kenaikan, 10 saham bergerak stagnan. Sedangkan indeks LQ45 naik 0,31% dengan volume perdagangan saham 76,48 juta lembar saham senilai Rp186,99 miliar. Indeks JII naik 0,56% dengan volume perdagangan saham 52,86 juta saham senilai Rp74,64 miliar.

Saham-saham yang naik hari ini antara lain saham ASII naik 0,14% ke level Rp70.500 per saham, saham ITMG naik 0,10% ke level Rp47.700 per saham, saham SMGR naik 0,50% ke level Rp10.000 per saham, saham BDMN naik 0,90% ke level Rp5.600 per saham, saham ADRO naik 0,98% ke level Rp2.575 per saham, dan saham BUMI naik 0,84% ke level Rp2.975 per saham.

Intraco Penta rilis MTN Rp 200 miliar

Intraco Penta rilis MTN Rp 200 miliar
JAKARTA. PT Intraco Penta Tbk (INTA) segera menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) demi menambal kebutuhan pendanaan pada tahun ini.

Emiten penjaja alat berat ini akan merilis MTN senilai Rp 200 miliar. "Jangka waktu pinjamannya selama dua hingga tiga tahun," kata Direktur Keuangan INTA Fred L. Manabong kepada KONTAN, kemarin (17/7).

Dia berharap dana hasil MTN sudah mengucur bulan ini. Tapi Fred enggan membeberkan identitas calon pembeli surat utang itu.

Yang pasti INTA akan menggunakan dana segar tersebut untuk mengembangkan anak usahanya, yakni PT Intan Baruprana Finance (IBF). IBF bergerak di bidang pembiayaan alat berat.

INTA memilih MTN sebagai sumber pembiayaan karena lebih murah ketimbang obligasi. Bila menerbitkan obligasi, maka INTA harus membayar bunga premium setiap periode. Apalagi, obligasi memiliki jangka waktu lebih panjang. "Dari sisi prosedural, menerbitkan MTN juga lebih menguntungkan," imbuh Fred.

Utang bertambah

INTA sejatinya mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) pada tahun ini senilai US$ 40 juta. Dana ini akan dipakai untuk mengembangkan seluruh anak usahanya.

Hingga semester pertama tahun ini, capex yang telah dipakai sekitar US$ 30 juta. Antara lain digunakan untuk membeli alat berat baru. Semua dana capex itu mengucur ke anak usahanya. "Tidak ada untuk induk usaha, karena tidak berencana akuisisi," ungkap Fred.

Kinerja INTA sepanjang paruh pertama tahun ini cukup bagus. Penjualan alat beratnya mencapai 750.00 unit, atau melonjak 150% dibandingkan penjualan alat berat di semester pertama tahun lalu yang sebanyak 300.000 unit.

Dus, manajemen INTA optimistis kinerja keuangan sepanjang tahun ini bisa tumbuh 10%. Penopang pertumbuhan masih berasal dari penjualan alat berat.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai, langkah INTA menerbitkan MTN sudah tepat. Pasalnya, nilai surat utang itu tidak terlampau besar, sehingga jatuh temponya tidak lama. "Salah satu keunggulan MTN adalah waktunya lebih pendek," katanya.

Tapi Reza mengingatkan tumpukan utang INTA kian bertambah. Hingga akhir tahun lalu, total kewajiban INTA mencapai Rp 1,2 triliun. Meski demikian, bisnis INTA terbilang lengkap dan bisa menjadi daya tarik. "INTA tidak hanya dalam penjualan dan penyewaan alat berat, tetapi juga pembiayaan dan consulting," ujar Reza.

Dia memprediksi harga saham INTA akan bergerak di kisaran Rp 890 hingga Rp 820 per saham dalam jangka menengah. Harga INTA Jumat lalu melompat 4,11% menjadi Rp 760 per saham.

Kekhawatiran "Lehman moment part : 2" membuat harga emas terus menanjak

Kekhawatiran
JAKARTA. Harga emas terus menanjak, seiring gagalnya Amerika Serikat (AS) memperoleh kesepakatan melakukan defisit anggaran. Eropa yang masih terpuruk juga membuat permintaan aset-aset safe haven seperti emas turut melonjak.

Pengiriman emas jangka pendek naik 0,3% menjadi US$ 1.598,60 per ounce. Naik selama 11 hari berturut-turut dan mencetak rekor tertinggi sejak 8 Juli 1980. Sejak awal tahun, harga emas telah naik 12% dan diperdagangkan di level US$ 1.594,97 per ounce.

Emas untuk pengiriman Agustus di New York juga naik ke rekor tertinggi, mendaki 0,6% menjadi US$ 1.599,20 per ounce. Logam mulia ini juga melonjak ke tingkat tertinggi terhadap mata uang zona Eropa yaitu di 1.135,12 euro dan £ 992,09 terhadap mata uang Inggris.

Presiden AS, Barack Obama masih menekan para pemimpin kongres untuk menyetujui rencana penghematan moneter pada 2 Agustus mendatang. Mantan Menteri Keuangan Larry Summers mengatakan, kekhawatiran akan terjadinya default menyebabkan kepanikan dalam sistem keuangan. Situasi ini mengingatkan investor terhadap peristiwa Lehman Brothers Holdings Inc pada 2008 silam.

"Krisis Eropa dan AS masih terus menjadi fokus yang sangat kuat," kata Ben Westmore, ekonom energi dan mineral di National Australia Bank Ltd.

Asing bisa menyulut IHSG hingga 5.000

Asing bisa menyulut IHSG hingga 5.000
JAKARTA. Sudah dua akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selalu mencetak rekor baru di penutupan perdagangan. Jumat (15/7) lalu, IHSG mencapai level 4.023,20, yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.

Penopang indeks adalah aliran dana asing yang kian deras masuk ke Indonesia. Pengamat ekonomi David Sumual menuturkan, investor di luar negeri masih melarikan dananya ke emerging market sebagai imbas krisis utang yang terjadi di Eropa dan pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang berjalan lambat.

David memperkirakan aliran dana asing yang masuk sejak awal tahun hingga akhir Juni lalu sudah mencapai Rp 65 triliun. Sekitar Rp 18,6 triliun di antaranya masuk ke bursa saham, sementara sisanya masuk ke instrumen surat utang maupun Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Sementara, cadangan devisa Indonesia sudah menembus angka US$ 120 miliar. Padahal pengamat memperkirakan jumlah itu baru bisa tercapai pada akhir tahun ini.

David memprediksi Indonesia masih berpotensi terus kebanjiran dana asing. Dus, ia menilai IHSG masih berpeluang menciptakan rekor baru. Bahkan, tak mustahil IHSG mencapai level 5.000 di akhir tahun nanti.

Namun, laju IHSG ini bukannya tanpa risiko. Memang, dana asing masih terus mengalir masuk lantaran menilai fundamental Indonesia cukup kuat. Jadi, bila ada sentimen negatif yang mempengaruhi ekonomi Indonesia, aliran masuk dana asing akan terhenti dan berpotensi terjadi arus balik (sudden reversal).

Selain itu, David menilai instrumen finansial yang ada saat ini belum bisa menampung seluruh dana asing yang masuk. Maka, ia menyarankan instrumen finansial yang ada diperluas untuk memperbesar kapasitas penyerapan. "Perusahaan harus diberi insentif untuk melakukan IPO, rights issue, atau menerbitkan obligasi," katanya.

Pelaku pasar juga harus mewaspadai dampak sistemik dari krisis utang di negara-negara maju. "Indonesia bisa ikut terpengaruh jika terjadi krisis finansial global," tambah David.

Selain itu, analis Reliance Securities Wilson Sofan mengungkapkan, masih ada ancaman penurunan peringkat utang Amerika Serikat. Pemangkasan peringkat utang Negeri Patung Liberty ini akan jadi sentimen negatif bagi pasar.

Wilson memperkirakan hari ini IHSG masih memiliki potensi menguat tipis. Ia menganalisis IHSG akan bergerak di kisaran 3.953–4.040.

Prospek emiten konstruksi di tengah pertumbuhan industri properti

Prospek emiten konstruksi di tengah pertumbuhan industri properti
JAKARTA. Sektor konstruksi ikut kecipratan manisnya pertumbuhan bisnis properti tahun ini. Berdasarkan survei BCI Asia, sebuah perusahaan riset industri konstruksi di kawasan Asia, proyek konstruksi di Indonesia berpotensi mencatatkan pertumbuhan sekitar 40,3% dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Mngutip riset tersebut, anlis Mandiri Sekuritas Maria Renata menuturkan, nlai proyek konstruksi tahun ini bisa mencapai Rp 194,2 triliun. Dari jumlah tersebut, 60% di antaranya merupakan proyek-proyek sektor swasta. Sianya merupakan royek dari pemerintah.

Proyek properti residensial masih mendominasi. Sekitar 24% dari total proyek konstruksi tahun ini merupakan proyek pembangunan residensial. Sementara porsi proyek-proyek infrastruktur 1,3% dan proyek utilisasi mencapai sekitar 11,7%.

Asosiasi Kontraktor Indonesia menargetkan kontrak baru yang diperoleh tahun ini bisa mencapai Rp 125 triliun. Ini naik 25% dari realisasi tahun lalu yang sebesar p 100 triliun. Hingga April lalu realisasi perolehan kontrak baru sudah Rp 63,3 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi kontrak baru dari pemerintah 1,8%.

Maria menilai wajar jika proyek pembangunan kawasan residensial mendominasi proyek baru sektor knstruksi thun ini. Pasalnya, perusahaan properti sedang giat berekspansi di tengah arga tanah yang sedang menanjak. Di samping itu, "Tingkat suku bunga yang dipertahankan relatif rendah memungkinkan orang membeli properti," kata Maria, Jumat lalu (15/7).

Meski tumbuh pesat, bukan berarti tidak ada hambatan yang bisa memperlambat laju pertumbuhan sektor konstruksi tahun ini. Sebab, pertumbuhan tersebut didominasi oleh proyek swasta.

Padahal proyek swasta memiliki kelemahan dibanding proyek pemerintah. "Kemungkinan default lebih besar," ungkap Maria. Sementara proyek pemerintah tidak mungkin gagal. Hanya saja, pembayaran bisa terlambat lantaran pencairan dana dari kas pemerintah yang molor.

Proyek pemerintah

Perusahaan konstruksi yang mencatatkan sahamnya di bursa efek pun tidak mau ketinggalan momentum pertumbuhan konstruksi ini. Seperti, PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Perusahaan pelat merah ini mengincar kontrak baru senilai Rp 12,5 triliun tahun ini.

Adrianus Bias Prasuryo, analis Samuel Sekuritas, optimistis emiten ini bisa mencapai target tersebut. Pertimbangannya, anggaran belanja infrastruktur pemerintah tahun ini juga meningkat.

Sebagai perusahaan BUMN, tentu saja ADHI lebih banyak mengandalkan proyek pemerintah. Maria mencatat, ADHI merupakan perusahaan konstruksi dengan pangsa pasar paling besar.

Perusahaan konstruksi milik pemerintah lainnya, yakni PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), juga menetapkan target pertumbuhan yang optimistis. Perusahaan ini menargetkan kontrak proyek tahun ini bisa mencapai dua kali lipat dari perolehan tahun lalu yang sebesar Rp 16,6 triliun.

Namun Maria menghitung pertumbuhan PTPP tidak akan setinggi itu. Ia memprediksi nilai kontrak baru yang diraih PTPP tahun ini bakal sekitar Rp 10 triliun. Pasalnya, ia menilai PTPP masih mengalami masalah dalam pembebasan lahan.

Emiten lain yang sudah merencanakan ekspansi strategis adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Perusahaan ini menyiapkan belanja modal Rp 500 miliar-Rp 600 miliar. Duit itu antara lain untuk menyelesaikan proyek kawasan industri.

Lalu ada PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL). Perusahaan yang banyak mengerjakan konstruksi gedung ini juga mulai mengincar proyek pembangkit listrik. Perusahaan ini tengah mengikuti tender power plant di Lahat, Sulawesi Selatan.

Namun Arief Budiman, analis OSK Nusadana Securities, menilai TOTL tidak cukup kuat bila ingin mengeksekusi proyek di luar konstruksi bangunan. Berikut rekomendasi analis untuk empat emiten bidang konstruksi.

Akan Ada (Lagi) Koreksi IHSG Sehat

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Pasar diterpa suasana ketidakpastian seiring munculnya sentimen negatif dari AS dan benua hijau. Tapi para analis di bursa Jakarta bisa mengumbar senyum lantaran prediksi mereka terbukti benar.

Lihat saja ramalan yang mereka lontarkan kepada wartawan INILAH.COM, sepekan lalu (11/7). Ketika itu, sejumlah analis dan kepala riset menengarai akan adanya koreksi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ^JKSE. Namun mereka menyarankan investor bertahan di pasar, karena diyakini penurunan bersifat sementara alias koreksi sehat. Setelah itu, indeks akan kembali terangkat.

Pehitungan itu, seperti kita saksikan bersama, terbukti benar. Setelah dua hari pertama di awal pekan mengalami koreksi, indeks kembali mendaki dan akhirnya ditutup pada level 4.023,20 (15/7). Optimisme pun merebak di benak para pelaku pasar.

Investor yakin, 4.000 merupakan level baru yang akan bertahan dalam waktu lama. Apalagi, selain didukung tingkat suku bunga yang tak berubah (karena BI mempertahankan tingkat bunga acuan di 6,75%), pekan-pekan yang segera datang ini akan bermunculan laporan keuangan emiten untuk semester I.

Walhasil, penguatan yang terjadi belakangan ini, hingga IHSG menembus level 4.000, bukanlah kenaikan yang keropos. Namun benar-benar didukung oleh kondisi perekonomian Indonesia yang relatif stabil. Beberapa analis percaya indeks masih akan menguat mendekati level barunya yakni 4.100.

Hanya saja, itu bukan berarti penguatan akan berlangsung mulus. Seperti minggu kemarin, aksi-aksi profit taking akan mewarnai pasar. Sehingga seorang kepala riset menaksir indeks dalam sepekan ke depan akan bergerak di kisaran 3.980-4.050.

Ada sejumlah faktor yang diprediksi bakal menjadi pemicu melemahnya IHSG. Namun yang paling besar pengaruhnya adalah krisis keuangan yang terjadi di sejumah negara Eropa. Sebut saja Yunani, Portugal, Italia dan Spanyol. Sementara perekonomian di Negeri Paman Sam juga belum menunjukkan perbaikan signifikan. Sementara sang raksasa China, Juni lalu, mencatatkan tingkat inflasi tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir.

Kendati demikian, para analis menyarankan agar investor tetap bertahan di pasar. Sebab, memburuknya kondisi ekonomi di sejumlah negara besar tersebut sedikit banyak ikut mendorong semakin banyaknya capital inflow yang masuk. “Jakarta tetap merupakan pasar yang menawan bagi asing yang memburu gain,” katanya.

Untuk mengantisipasi penguatan yang diduga bakal berlanjut, para analis menyodorkan sejumlah saham yang layak koleksi. Salah satunya adalah saham perbankan yang berkaitan erat dengan kebijakan BI yang mempertahankan bunga acuan.

PT Bank Tabungan Negara (BBTN) misalnya, kendati telah menguat lumayan dalam pekan lalu, diprediksi masih akan naik menuju Rp1.840. Sementara PT Bank Danamon (BDMN) pantas dikoleksi karena memiliki target harga Rp6.100.

Selain perbankan, saham dari sektor pertambangan dan konsumsi juga mendapap rekomendasi beli yang cukup kuat. Pilihannya, antara lain, PT Indofood (INDF), PT Unilever (UNVR), PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Batu Bara Bukit Asam (PTBA).

Menurut seorang analis, dalam jangka pendek, saham-saham tersebut paling tidak bisa mendatangkan gain 2-3%. Nah, selamat berinvestasi. [mdr]

Total Obligasi Capai Rp27,41T Hingga Juli 2011

INILAH.COM, Jakarta - Total emisi obligasi, sukuk dan efek beragun aset (EBA) mencapai Rp27,41 triliun sepanjang 2011.

Pencatatan emisi obligasi ini ditambah satu emisi obligasi dolar senilai US$50 juta. Total emisi obligasi mencapai 29 emisi senilai Rp27,21 triliun dan dua emisi sukuk senilai Rp200 miliar sepanjang 2011. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatatkan obligasi senilai US$50 juta pada 14 Juli lalu. Obligasi ini memiliki jangka waktu lima tahun dan mendapatkan peringkat rating Pefindo AA- dengan outlook negatif. PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai wali amanat. Demikian seperti dikutip dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/7).

Dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi, sukuk, EBA mencapai 174 emisi obligasi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp133,83 triliun dan satu emisi obligasi US$ senilai US$50 juta yang diterbitkan 91 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 84 seri dengan nilai nominal Rp693,33 triliun. Efek Beragun Aset (EBA) berjumlah tiga emisi dengan nilai nominal Rp971,53 miliar.

Sentimen negatif dari AS bikin bursa Asia melempem

Sentimen negatif dari AS bikin bursa Asia melempem
TOKYO. Mayoritas saham di bursa Asia mengalami aksi jual pagi ini. Dengan demikian, penurunan bursa Asia sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut setelah data menunjukkan tingkat manufaktur AS bergerak stagnan pada bulan lalu dan tingkat kepercayaan konsumen menurun di luar prediksi analis. Kondisi itu memicu kecemasan kalau permintaan atas tingkat ekspor Asia akan melemah.

Pada pukul 09.00 waktu Hongkong, indeks MSCI Asia Pacific di luar indeks Jepang turun 0,5% menjadi 473,71.

Sejumlah saham yang mempengaruhi pergerakan bursa Asia diantaranya: Samsung Electronics Co yang turun 2% di Seoul, James Hardie Industries SE turun 0,9% di Sydney, dan News Corp anjlok 5,9% di Sydney.

Universal: Sentimen negatif bursa Asia bisa mengancam IHSG

JAKARTA. Universal Broker Indonesia dalam hasil riset hariannya memprediksi bagaimana pergerakan indeks pada transaksi hari ini. Menurut Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker, kalau dilihat dari posisi penutupan hari Jumat, IHSG memang masih memiliki potensi untuk bergerak naik, setidaknya hingga mencapai resisten 4.035-4.050.

"Akan tetapi, sentimen negatif yang datang dari bursa regional setelah S&P mengancam untuk downgrade peringkat surat hutang Amerika, diperkirakan akan membuat IHSG lebih cenderung untuk bergerak bervariasi pada kisaran 4.005-4.050," jelasnya. Level 3.975 akan menjadi suport kedua bagi IHSG.

Indosurya: Waspadai jika ada sinyal koreksi pada IHSG

JAKARTA. Dalam hasil riset hariannya, Indosurya Asset Management memprediksi, pada perdagangan Senin (18/7), diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.978-4.001 dan resistance 4.034-4.046.

"Secara teknikal, IHSG terlihat membentuk pola three white soldier. Meski masih dimungkinkan menguat namun, secara teknikal penguatan ini mulai terbatas," jelas Managing Research Indosurya Reza Priyambada.

Posisi candle kian mendekati upper bollinger band. MACD masih terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought. "Investor bisa mewaspadai bila sinyal koreksi mulai masuk," pungkasnya.

eTrading: Indeks akan konsolidasi, perhatikan saham ADES, INTP, dan ULTJ

eTrading: Indeks akan konsolidasi, perhatikan saham ADES, INTP, dan ULTJ
JAKARTA. Pada perdagangan Jumat (15/7) lalu, indeks Dow Jones ditutup naik 42,6 point (0,34%) ke level 12.479,73. Kenaikan tersebut menyusul naiknya saham-saham dari sektor energi dan teknologi sehingga mampu menghapus kekhawatiran akan krisis utang di Eropa.

Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (15/7) ditutup naik 25,57 point (0,64%) ke level 4.023,20. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp 174 miliar dengan saham yang paling banyak di beli adalah BMRI, ASII, BBCA, ICBP, dan BUMI.

"Secara teknikal, IHSG berhasil bergerak menguat dalam tiga hari terakhir namun dengan volume yang semakin menurun, sementara dari pergerakan indikator stochastic membentuk golden cross di area overbought sementara RSI mulai bergerak landai di area overbought," papar Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities.

Dia memprediksi, pada perdagangan hari ini (18/7), IHSG akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah dan akan bergerak pada kisaran 3.955-4.051. Adapun saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain ADES, INTP, dan ULTJ.

Tak likuid, emisi MTN dan promissory notes sepi

JAKARTA. Perusahaan cenderung tidak terlalu meminati penerbitan surat utang jangka pendek dan menengah pada tahun ini. Hal ini terlihat dari pertumbuhan nilai emisi surat utang sanggup bayar (promissory notes) dan obligasi jangka menengah (medium term notes/MTN) yang tidak terlalu mengesankan.

Mengutip data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), total nilai surat utang jangka pendek dan menengah selama semester pertama tahun ini mencapai Rp 14,95 triliun. Terdiri dari medium term notes Rp 14,93 triliun, dan promissory notes senilai Rp 24,1 miliar.

Memang, jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, ada kenaikan nilai sebesar 30% year to date. Per Juni 2010, penerbitan medium term notes mencapai Rp 11,4 triliun dan promissory notes sebesar Rp 20 miliar.

Namun, angka tersebut kalah jauh jika dibandingkan dengan nilai penerbitan obligasi biasa sepanjang semester I 2011 yang mencapai Rp 25,91 triliun ditambah Rp 100 miliar obligasi syariah (sukuk).

Margaret M. Tang, Direktur KSEI, menuturkan, penerbitan MTN dan promissory notes memang tidak signifikan. "Di pasar sekunder itu (promissory notes dan medium term notes) tidak likuid karena bersifat private placement," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Walhasil, investor yang menyerap dua instrumen ini khusus dan terbatas. Apalagi, emiten penerbitnya tidak wajib memberikan peringkat surat utang tersebut. Otomatis, bisa dibilang risiko promissory notes dan medium term notes lebih besar dibandingkan obligasi biasa.

I Made Adi Saputra, analis Obligasi NC Securities, berpendapat serupa. Mencari investor yang bersedia membeli alias menyerap dua jenis instrumen surat utang jangka pendek dan menengah tersebut tidaklah mudah.

Padahal, dari segi kebutuhan, si emiten tentu membutuhkan dana tersebut untuk membiayai ekspansi usaha. "Konsekuensi menyerap MTN dan promissory notes adalah memegang sampai jatuh tempo, sehingga investor harus tahu benar emiten yang menerbitkan," kata Made. Contoh, jika emiten merupakan perusahaan konstruksi maka biasanya yang membeli surat utang itu adalah mitra atau pemilik proyek.

Menurut Made, penerbit dua instrumen tersebut juga memperhatikan faktor yang menarik minat investor. Pertama, profil emiten, yaitu kegiatan usaha perusahaan penerbit. Kedua, struktur instrumen medium term notes dan promissory notes, khususnya jangka waktu dan kupon yang ditawarkan. Biasanya jangka waktu yang ditawarkan berkisar satu hingga lima tahun. Tawaran kupon juga harus lebih tinggi dibandingkan obligasi senior agar investor berminat.

Kondisi keuangan emiten akan menjadi perhatian besar investor. Kupon yang tinggi dan kecenderungan investor memegang hingga jatuh tempo, mengharuskan arus kas emiten selalu sehat. Emiten selaku penerbit harus bisa meyakinkan investor bahwa ia mampu menebus surat utang itu saat jatuh tempo.

Reminder Cum Date Dividen TINS, AMFG,SMMA 18/07/2011

Hari ini 18 July 2011 adalah Cum Date untuk pelaksanaan kegiatan Corporate Action sebagai berikut :

No. Kode Efek Nama Efek Jenis Kegiatan

1.

TINS

TIMAH Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp94.17.- per saham

2.

AMFG

ASAHIMAS FLAT GLASS Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 80.- per saham

3.

SMMA

SINAR MAS MULTIARTHA Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 1.- per saham

Saham DGIK Akan Dikerek ke Rp250

Medium
INILAH.COM, Jakarta - Investor asal Singapura yang juga pemilik saham PT Duta Graha Indah Tbk (DGIK) dikabarkan akan menambah kepemilikan sahamnya di DGIK.

Kabar tersebut akan menaikkan harga saham DGIK ke level harga Rp250 per saham. Pada perdagangan saham akhir pekan lalu, harga saham DGIK ditutup di level Rp118 per saham demgam volume 6,57 juta saham.

Asing Tambah Kepemilikan, GDST Akan Melesat

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Dalam waktu dekat, PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) akan menjual 5% porsi saham yang dimiliki Jayapari Steel kepada Kellywood Holdings pada harga 300 per lembar saham.

Harga ini dinilai fair oleh pihak asing, dengan pertimbangan PE ratio di kisaran 8 kali, dengan kinerja pertumbuhan 2010 yang sangat baik. Beberapa investor strategis lokal mengakumulasi beli GDST pada perdagangan Jumat kemarin.

Diperkirakan harga GDST akan terus meningkat seiring kabar tender offer ini.

Saham GDST pada Jumat (15/7) akhir pekan lalu ditutup di area positif dengan naik 23 poin (14,2%) ke level Rp185. Volume transaksi tercatat sebesaqr 28.83 juta lembar, senilai Rp4,9 miliar. [ast]

RUIS belum dapat investor strategis

JAKARTA. Proyek blok minyak dan gas bumi (migas) Bukit Barisan milik PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) belum bisa berjalan. Pasalnya RUIS belum mendapat investor strategis yang bersedia bergabung untuk mendanai proyek tersebut.

RUIS sebenarnya sudah menyiapkan skema masuknya investor strategis, yakni melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Investor strategis akan menjadi pembeli siaga di skema ini.

”Namun hingga saat ini belum ada investor yang mau jadi standby buyer,” kata Coki Lubis, Sekretaris Perusahaan dan Direktur Operasional RUIS kepada KONTAN, akhir pekan lalu (15/7).

Padahal, sebelumnya ada dua investor strategis yang bersedia bekerjasama. Satu di antaranya merupakan perusahaan lokal yang bergerak di sektor pembiayaan, sementara satu lagi adalah perusahaan migas asing.

Selain mencari investor, emiten sektor migas ini juga mempersiapkan opsi penerbitan obligasi untuk membiayai pengembangan blok tersebut. Maklum saja, kebutuhan dana untuk kegiatan eksplorasi di Bukit Barisan mencapai US$ 15 juta atau setara Rp 135 miliar.

Coki bilang, rights issue segera dilaksanakan jika mereka telah mendapat standby buyer. Namun, dia pesimistis RUIS bakal mendapatkan investor strategis tahun ini. ”Tahun ini tidak ada rights issue,” tukas dia.

RUIS mendapat blok migas Bukit Barisan melalui anak usahanya, PT Radiant Bukit Barisan E&P (RBB) tahun 2008. Di blok ini, RUIS punya hak pengelolaan 51%. Porsi sisa 49% dimiliki oleh PC (SKR) International Ltd.

Potensi migas yang terkandung di blok Bukit Barisan masing-masing sebanyak 120 juta barel minyak dan 260 miliar kaki kubik gas. Di blok ini, RUIS memiliki konsesi bagi hasil dengan pemerintah. Rasio bagi hasil minyak bumi adalah 85% untuk pemerintah dan sisanya jatah RUIS. Sedang rasio untuk gas adalah 65% untuk pemerintah dan 35% jatah RUIS.

Manajemen RUIS memperkirakan untuk eksplorasi tahap awal, seperti survei seismic serta pembangunan infrastruktur, akan memakan waktu tiga tahun. RUIS telah mengeluarkan dana sekitar US$ 4 juta buat kegiatan tersebut. Sedangkan tahap pengeboran akan dimulai setelah RUIS mendapatkan investor strategis.

Proyek molor ganggu target kinerja SHID

JAKARTA. PT Hotel Sahid Jaya Internasional Tbk (SHID) terpaksa mengerem laju ekspansi usahanya tahun ini. Pasalnya, hingga kini pemilik jaringan Hotel Sahid tersebut masih belum mengantongi pendanaan untuk membiayai belanja modalnya.

Sahid Jaya menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini senilai Rp 100 miliar. Sebanyak 30% dari capex itu dipenuhi dari kas internal. Sementara 70% dari porsi belanja modal diupayakan dari pendanaan eksternal.

Tahun ini SHID menganggarkan capex senilai Rp 100 miliar. Sekitar 30% dari kebutuhan dana tersebut dipenuhi dari kas internal, sisanya dari pendanaan eksternal. Hingga saat ini perseroan masih mengkaji apakah pendanaan eksternal tersebut adalah kombinasi dari pinjaman bank dan dana dari pasar modal. Atau hanya salah satunya saja.

Yang jelas, “Saat ini kami sedang dalam proses negosiasi dengan perbankan,” kata Muhamad Nurdin, Direktur Keuangan Sahid Jaya, kepada KONTAN, kemarin (17/7).

Manajemen SHID menargetkan kebutuhan dana belanja modal tahun ini paling lambat akan diperoleh pada kuartal IV mendatang. Maklum, emiten perhotelan ini sudah menyiapkan rencana ekspansi usaha yang dibiayai dari dana belanja modal itu.

Rencananya perseroan akan menggunakan sebesar 60% dari capex tersebut untuk membiayai renovasi 620 kamar Hotel Grand Sahid Jaya. Sedangkan 40% lagi buat merenovasi ruang lobi hotel.

Nah, Sahid menargetkan, seluruh kegiatan renovasi tersebut tuntas tahun ini. Namun sampai saat ini SHID baru menyelesaikan 20% dari total proyek.

Tadinya seluruh renovasi ditargetkan akan selesai pada tahun ini. Namun hingga saat ini perseroan baru menyesaikan dibawah 20% dari target renovasi tahun ini. "Penyelesaian akan sedikit mundur sehingga seluruh renovasi akan selesai pada pertengahan 2012,” jelas Nurdin.

Yang jelas, tarif sewa kamar Hotel Grand Sahid Jaya pasca renovasi bisa di atas Rp 1 juta per kamar semalam. Sehingga, target rata-rata pendapatan sewa kamar hotel sebesar Rp 500.000 per kamar pada tahun ini dapat tercapai. Angka ini naik dari pencapaian 2010 sebesar Rp 450.000.

Kenaikan tarif kamar tersebut adalah salah satu penunjang pertumbuhan kinerja tahun ini. Manajemen SHID menargetkan pendapatan tahun ini bisa mencapai Rp 162,34 miliar, atau naik 30,94% dari capaian tahun lalu.

Perseroan ini juga menargetkan laba bersih Rp 24,63 miliar. Target tersebut lebih tinggi 38,53% daripada laba bersih selama 2010, yaitu Rp 17,78 miliar.

Namun, penundaan penyelesaian renovasi kamar memaksa emiten ini merevisi target kinerjanya tahun ini. “Proyeksi kita turunkan 10% dari target semula. Kalau dibanding tahun lalu tetap akan lebih tinggi,” tukas Nurdin.

Sekadar informasi, SHID membukukan pendapatan Rp 30,04 miliar pada kuartal I 2011 atau naik 15,63% dari tahun lalu. Adapun laba bersihnya melejit 88,40% menjadi Rp 766,54 juta.

Bursa Asia Terkoreksi di Awal Perdagangan

Headline
INILAH.COM, Sydney – Koreksi tipis pada saham yang terdaftar di Sydney dan Seoul memicu perdagangan Asia turun pada Senin (18/7), dengan saham energi dan News Corp turun di Australia dan tekanan dari saham eksportir Korea Selatan.

Indeks S & P / ASX 200 Australia turun 0,3% menjadi 4.461.60, sementara indeks Kospi Korea turun 0,5%. Pasar Jepang tutup karena libur.

Melanjutkan pelemahan pekan lalu, ketika indeks acuan Australia jatuh 3,9, saham News Corp jatuh 3,6% di tengah memburuknya skandal dugaan penyadapan ponsel di tabloid News of the World yang sekarang tutup.

Sektor energi Australia berada di bawah tekanan, dimana raksasa sektor ini, Woodside Petroleum Ltd memperpanjang penurunannya, setelah tambang utama BHP Billiton Ltd mengajukan penawaran untuk membeli perusahaan energi AS Petrohawk Energy Corp akhir pekan lalu.

Kesehatan ekonomi global tetap dalam fokus investor, setelah kepercayaan konsumen AS turun ke level terendah sejak Maret 2009, sementara delapan bank Eropa gagal dalam putaran kedua tes stres.

Eksportir kelas berat jatuh di Korea, dengan Samsung Electronics Co turun 1,3% dan Hyundai Motor Co, melemah 1,7%, di tengah kenaikan pasar akhir pekan lalu. [ast]

BBCA Bukukan Laba Bersih Rp3,9 T per Mei

Medium
INILAH.COM, Jakarta - Dengan pendatapan mencapai Rp9,7 triliun per bulan Mei 2011 telah mendorong laba bersih Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp3,9 triliun.

Demikian dikutip dari data Bank Indonesia, kemarin. Dengan beban pendapatan bunga sebesar Rp6,6 triliun maka pendapatan operasional non bunga sebesar Rp3,2 triliun.

Untuk pendapatan lainnya sebesar Rp187,1 miliar maka pendapatan selain bunga mencapai Rp4,9 triliun. Dengan pajak penghasilan sebesar Rp952,3 miliar maka laba bersih menjadi Rp3,9 triliun.

Saham Bank & Konsumsi Cocok di Awal Pekan

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Senin (18/7), bursa saham Indonesia diperkirakan akan melanjutkan penguatan. Saham konsumsi dan perbankan bisa jadi pilihan.

Analis Samuel Sekuritas M Alfatih mengatakan, IHSG hari ini masih berpotensi besar untuk melanjutkan apresiasi, “Meskipun sentimen global yang masih berisiko membuat IHSG berfluktuasi,” katanya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, penempatan investasi negara-negara besar di Eropa yang relatif besar ke PIGScountry (Portugal, Irlandia, Yunani dan Spanyol) menjadi fokus global. “Terutama karena negara-negara tersebut kini bermasalah dengan penurunan rating akibat melemahnya kemampuanbayar utang,” paparnya.

Risiko gagal bayar utang ini membuat indeks dolar AS terus naik, yang artinya mata uang AS ini cenderung menguat. Namun, rupiah masih bisa melanjutkan apresiasi,sehingga masih bisa mempertahankan inflasi Indonesia di kisaran rendah. “BImelihat apresiasi rupiah masih bisa membuat target inflasi akhir tahun 2011di5% (plus minus 1%) bisa tercapai,” imbuhnya.

Di tengah situasi ini, Alfatih melihat perusahaan dengan profit margin tinggi dan rasioutang rendah akan diuntungkan, seperti sektor perbankan dan konsumer. Apalagi kinerja keuangan emiten Indonesia semester pertama 2011 diperkirakan masih bagus.“Kebanyakan emiten masih akan mencatat pertumbuhan laba,” katanya.

Beberapa saham pilihan untuk trading buy adalah Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Demikian juga saham properti Alam Sutera Realty (ASRI) terkait ekspansi perluasan lahan, sehingga meningkatkan nilai landbank emiten. “ASRI akan terbitkan bond/obligasi sekitar 1 triliun, yang dimungkinkan dengan DER yang masih rendah,”

Sementara Yuganur Wijanarko dari HD Capital menilai, IHSG hari ini akan bergerak di support 3.996-3.910-3.820, serta resistan 4.050-4.125-4.200. Penutupan IHSG di atas all time high 4.023 dan dukungan dari Dow Jones yang masih positif di jalur hijau, membuka ruang untuk saham unggulan penggerak indeks yang terlupakan, namun secara fundamental punya prospek menarik,” ujarnya.

Beberapa saham pilihannya adalah Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Indofood Sukses Makmur (INDF) dan Astra International (ASII),”Rekomendasi beli untuk saham-saham ini,” tutupnya.

Pada perdagangan Jumat (15/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 25,567 poin (0,64%) ke level 4.023,20, dengan intraday tertinggi di 4.024,02 dan terendah di 3.989,73.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 4,046 miliar lembar saham, senilai Rp 4,368 triliun dan frekuensi 115,596 kali.

Sebanyak 121 saham naik, 98 saham turun, dan 90 saham stagnan. Asing mendukung penguatan bursa, dengan mencatat nilai transaksi belibersih (net foreign buy) sebesar Rp213 miliar. Rinciannya adalah transaksi beli mencapai Rp1,698 triliun dan transaksi jual sebesar Rp1,484 triliun. [ast]

Besok, Posisi Dirut BII Resmi Kosong

Headline
INILAH.COM, Yogyakarta - Pengunduran diri Dirut Bank International Indonesia Tbk (BNII), Ridha Wirakusumah, akan efektif pada Selasa besok (19/7).

"Saya menyatakan berhenti menjadi Presiden Direktur BII untuk kembali atau bergabung kembali dengan keluarga di luar negeri," kata Ridha dalam kesempatan BII Journalist Training and Gathering 2011 di Yogyakarta yang dikutip dari Antara, Sabtu kemarin.

Menurut dia, pengunduran diri dari jabatan direktur utama BII itu juga karena alasan keinginan untuk melanjutkan studi S-3. Selama 3,5 tahun di BII, kata Ridha, dirinya mendapat dukungan dari berbagai pihak dan menjalin hubungan baik dengan semua pihak.

"Saya titip pesan kepada teman-teman untuk disampaikan kepada para redaktur ekonomi dan perbankan. Terima kasih atas kerjasamanya selama ini," katanya.

Sebelumnya Komisaris Independen BII, Umar Juoro mengungkapkan adanya pengunduran diri Ridha sebagai Dirut BII. "Dewan Komisaris sudah menyetujui pengunduran dirinya yang diajukan melalui surat yang kami terima pada Jumat 10 Juni 2011," kata Umar Juoro.

Umar mengatakan, Ridha memutuskan untuk mengundurkan diri karena alasan keluarga. Alasan yang diungkapkan dalam surat tersebut adalah Ridha ingin berkumpul dengan keluarganya yang saat ini menetap di Hong Kong. "Putrinya masih kecil dan sangat membutuhkan kehadiran ayahnya," katanya.

Menurut Umar, kinerja dan pola kepemimpinan Ridha cukup bagus memperbaiki dan meningkatkan bisnis BII.

Ridha Wirakusumah menjabat sebagai Dirut BII sejak Maret 2009. Sebelumnya, Ridha adalah president and chief executive officer di AIG Consumer Finance untuk kawasan Asia Pasifik yang berbasis di Hong Kong. Ia juga pernah menjabat sebagai chairman of board untuk bank-bank milik AIG di Filipina dan Thailand.

Pendapatan Naik, Laba BBRI Per Mei Rp5,43 Triliun

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Bank Rakyat Indonesi Tbk (BBRI) per bulan Mei meraih laba bersih Rp5,43 triliun dengan dukungan pendapatan bunga mencapai Rp18,4 triliun.

Demikian dilansir dari data BI kemarin. Dengan beban bunga mencapai Rp13,06 triliun maka pendapatan operasional non bunga menjadi Rp7,3 triliun.

Dengan beban lainnya maka laba kotor perseroan menjadi Rp6,6 triliun. Dengan pajak penghasilan sebesar Rp159,1 miliar maka laba bersih mencapai Rp5,43 triliun.

Pasar Masih Was-was Batas Atas Utang AS

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (18/7) diprediksi sideways cenderung melemah. Meski pasar was-was batas atas utang AS, tapi tren inflasi Indonesia melandai.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, hasil uji stress test perbankan Eropa yang dirilis akhir pekan lalu akan mempengaruhi pergerakan rupiah awal pekan ini. Hanya saja, rupiah akan bergerak konsolidasi alias sideways dengan kecenderungan melemah.

Pasalnya, lanjut Firman, kalaupun hasil uji stress test perbankan Eropa positif, pasar akan kembali kecewa terhadap penyelesaian krisis utang zona euro di tengah melonjaknya yield obligasi Portugal, Italia, Spanyol dan Yunani. "Karena itu, rupiah sideways cenderung melemah dalam kisaran 8.520-8.550 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Selain itu, lanjut Firman, pasar melihat ketidakjelasan kebijakan Uni Eropa untuk menyelesaikan masalah utang kawasan itu. Sebab, sebelumnya, sudah diekspektasikan UE kembali mengagendakan pertemuan di Brussel akhir pekan lalu yang akan dihadiri para petinggi Uni Eropa. "Tapi, karena German tidak bersedia untuk menghadirinya, pertemuan itu ditunda hingga pekan ini," ungkapnya.

Pada saat yang sama, memang perhatian pasar juga fokus pada kemelut negosiasi kenaikan batas atas utang AS. Sebagian pelaku pasar pesimistis batas atas utang AS bakal dinaikkan. Tapi, sebagian pelaku pasar beranggapan, tidak mungkin AS berani melakukan hal tersebut. "Kondisi ini seharusnya memperlemah dolar AS," papar Firman.

Tapi, lanjutnya, berkaca pada pertikaian Capitol Hill dengan Washington terkait penyelesaian krisis finansial pada 2008, memang pada awalnya, Kongres tidak menyetujui bailout industri finansial di negara itu. "Tapi, pada akhirnya Kongres juga setuju untuk bailout di luar Quantitative Easing (QE) tahap pertama," timpalnya.

Dalam kasus kenaikan batas atas utang AS pun, menurut Firman, mungkin tidak akan berbeda jauh skenario-nya. Firman memperkirakan, 1-2 hari sebelum deadline pada 2 Agustus 2011, dipastikan Kongress dan Pemerintah Obama mencapai kesepakatan. "Sebelum batas atas utang AS disepakati, market akan waswas dan dibayangi berbagai koreksi yang mengiringi kecemasan tersebut," ucap Firman.

Dia menegaskan, kondisi utang AS seharusnya memperlemah dolar AS. Tapi, di sisi lain, level rupiah 8.500 cukup kuat bertahan dan Bank Indonesia enggan untuk menaikkan suku bunga. Sebab, BI yakin tekanan inflasi Indonesia akan melambat. "Itulah yang mengurangi sentimen penguatan rupiah lebih jauh. Padahal, kokohnya fundamental ekonomi Indonesia dan suramnya kondisi makro ekonomi global seharusnya memperkuat rupiah," imbuh Firman.

Asal tahu saja, kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (15/7) ditutup menguat tipis 1 poin (0,01%) ke level 8.529/8.539 per dolar AS dari posisi kemarin 8.530/8.540.

Waspadai Koreksi Bursa Regional!

INILAH.COM, Jakarta - Tren kenaikan IHSG belum memperlihatkan sinyal menyerah. Tapi, pasar harus waspada jika bursa regional anjlok tiba-tiba pekan ini. Moody’s dan S&P yang akan men-downgrade AS menjadi ancaman serius.

Head of Research Division PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan IHSG ^JKSE pekan ini masih berada dalam tren naik. Menurutnya, indeks bisa menguat meskipun sebagian kalangan menilai sudah overbought (jenuh beli).

Dia menegaskan, indeks domestik pekan ini dalam tren naik terakhir sebelum bergerak konsolidasi. Karena itu, pasar tak perlu takut overbought. Apalagi, asing masih dalama posisi net buy hingga akhir pekan lalu sebesar Rp213,7 miliar dan mayoritas masuk di saham-saham perbankan. “Hanya saja, hingga level berapa batas kenaikannya susah dipastikan,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (18/7).

Pada perdagangan Jumat (15/7), IHSG ditutup menguat 25,567 poin (0,64%) ke level 4.023,20, dengan intraday tertinggi di 4.024,02 dan terendah di 3.989,73. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45 yang naik 5,496 poin (0,78%) ke level 713,178.

Lebih lanjut Satrio mengatakan, indeks domestik memiliki resistance pertama di level 4.040-4.050 sedangkan resistance kedua di level 4.150. “Tapi, yang peling penting bagi pelaku pasar adalah level support-nya. Level support pertama pekan ini di angka 3.989 dan 3.975 sebagai level support keduanya,” imbuhnya.

Namun demikian, imbuhnya, pasar harus waspada jika level support kedua ditembus ke bawah. Jika itu yang terjadi, lebih baik keluar terlebih dahulu. Sebab, meski trennya naik, volume transaksi semakin mengecil. “Apalagi, jika tiba-tiba bursa regional jatuh tajam,” ungkap Satrio.

Pasalnya, akhir pekan lalu pun indeks regional masih berada dalam tren turun. Hanya saja, koreksi tersebut terjadi secara perlahan. Karena itu, pekan ini bursa regional memiliki peluang untuk turun tajam.

Satrio memaparkan, lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service Rabu (13/7) disusul Standard & Poor’s Rating Service pada Kamis (14/7) akan men-downgrade peringkat utang AS sehingga merupakan ancaman yang serius. “Itu akan jadi kenyataan jika sampai 2 Agustus mendatang Kongres tak kunjung setuju untuk menaikkan plafon utang AS,” tandas Satrio.

Menurutnya, down grade utang AS bakal memicu koreksi tajam bursa regional sewaktu-waktu. Karena itu, pelaku pasar dalam negeri pun jangan kecewa jika terjadi pembalikan arah melemah. “Sebaliknya, jika bursa regional masih bergerak naik, indeks domestik pun akan naik menyongsong resistance 4.150 pekan ini,” ucapnya.

Sementara itu, lanjutnya, laporan kinerja keuangan berbagai emiten untuk kuartal kedua 2011, juga masih harus dipastikan apakah sesuai ekspektasi, di atas atau justru di bawah ekspektasi. “Jika indeks masih berada dalam tren naik pekan ini, sektor saham penggeraknya adalah perbankan,” ucapnya.

Dia menambahkan, saham-saham yang dikejar investor asing pekan ini adalah bluechips sedangkan investor lokal berburu saham-saham ‘gorengan’ (lapis ketiga dan keempat). Saham-saham lapis dua cenderung dibiarkan. Dalam situasi ini, tak satu pun saham mendapat rekomendasi positif. “Menurut saya, saat ini lebih baik mewaspadai koreksi yang mungkin terjadi,” timpal Satrio.

Di atas semua itu, jika indeks masih naik, lebih baik hold saham yang Anda miliki. Tapi, jika tren kenaikan indeks selesai dan balik arah turun sehingga menembus level support kedua 3.975 lebih baik lakukan aksi jual. “Jika indeks bertahan di level support pertama 3.989, menandakan indeks masih bertenaga naik,” imbuh Satrio. [mdr]

Laba Bersih Mandiri Per Mei Capai Rp5,4 Triliun

Headline
INILAH.COM, Jakara - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) per Mei 2011 meraih laba bersih mencapai Rp5,4 triliun. Kinerja ini didukung pendapatan bunga mencapai Rp13,1 triliun.

Demikian dikutip dari data BI, kemarin. Untuk beban bunga mencapai Rp7,8 triliun dan beban operasional selain bunga sebesar Rp2,3 triliun. Dengan demikian laba kotor mencapai Rp6,8 triliun.

Namun dengan pajak penghasilan mencapai Rp684,9 miliar maka laba bersih Bank Mandiri pada bulan Mei 2011 mencapai Rp5,4 triliun.

Inilah Rekomendasi Saham Pilihan Senin (18/7)

INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia pada perdagangan Senin (18/7) diprediksi masih berpotensi bullish meskipun tipis. Indeks akan berada di kisaran 3.995-4.030 dan soft resisten di 4.040.

Demikian dikutip dari hasil riset analis saham AMCapital, Andre Mahardika kemarin. Secara teknikal IHSG masih potensi bullish spekulasi mendekati 4.030-4.040.

IHSG akhir pekan lalu ditutup naik 0,63% ke level 4.023,12, atau tertinggi dalam sejarah. Volume perdagangan tercatat mencapai 3,39 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp3,62 triliun. Asing terpantau masih berada di pasar dengan mencatatkan net foreign buy sebesar Rp213,74 miliar.

Dari Sthocastic, IHSG masih mengkonfirmasi Bullish sementara atau spekulasi. Kalau dari DMI, IHSG kembali mendapatkan tekanan beli yang kuat pada perdagangan Jumat 15 Juli 2011 dengan trend D+ dan D- semakin menjauh yang menandakan trend bullish lanjutan. Sedangkan dari MACD, IHSG masih potensi bullish jangka pendek.

Saham pilihan seperti saham BJBR, menurut Andre, masih berpotensi mendekati resisten di 1.220 dengan kisaran di 1.170-1.220 dan stop loss di 1.150. Dari sthocastic, BJBR telah mengkonfirmasi Bullish dan potensi menembus zona downtrend sthocastic di harga 1.180. Dari DMI, saham BJBR telah mengkonfirmasi bullish Sementara karena tekanan beli pada saham BJBR masih kecil dan menunggu konfirmasi selanjutnya.

Sedangkan saham BMTR menurut Andre, masih Potensi bullish lakukan trading jangka pendek dengan kisaran 830-860 dengan stop loss di 810. Secara teknikal saham BMTR masih ada potensi bullish jangka pendek dimana secara teknikal saham BMTR masih sinyal Uptrend. Alasan rekom buy pada saham BMTR.

Sedangkan saham lain yang masih bullish seperti saham TLKM yang disarankan hold saham TLKM, selama masih berada di atas 7.100. Dengan potensi jual di harga 7.200-7.300.

Saham TRST disarankan hold jika masih diatas harga 600. Dengan potensi jual di harga 700, dengan spekulasi jual. Saham BBLD disarankan hold jika masih berada diatas harga 520. Dengan potensi Jual di harga 600. Bukan rekomendasi beli tetai spekulasi jual.

Akumulasi Bertahap Saham Bluechips

INILAH.COM, Jakarta – Semua saham bluechips dinilai paling menarik saat ini. Saham-saham tersebut bakal mendorong penguatan indeks tembus 4.200 menuju 4.500 hingga akhir tahun. Saatnya akumulasi bertahap.

Pengamat Pasar Modal Dandossi Matram mengatakan, negatifnya situasi krisis utang di Uni Eropa dan AS memicu peralihan modal ke Asia. Salah satunya adalah Indonesia. Karena itu dia optimistis (IHSG ) akan terus menguat hingga akhir tahun dan saham-saham bluechips sebagai pendongkraknya.

Karena itu, lanjut Dandossi, hingga akhir tahun, pasar akan fokus pada saham-saham bluechips yang bakal mendorong kenaikan indek. “Hal itu juga yang terjadi dalam sebulan terakhir,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (17/6).

Pada perdagangan Jumat (15/7), IHSG ditutup menguat 25,567 poin (0,64%) ke level 4.023,20, dengan intraday tertinggi di 4.024,02 dan terendah di 3.989,73. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45 yang naik 5,496 poin (0,78%) ke level 713,178. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah IHSG mencapai level 4.023, menurut Anda saham apa yang paling menarik saat ini?

Semua saham bluechips sangat menarik. Sebab, kenaikan indeks sehingga tembus ke atas 4.000 ditopang oleh saham-saham bluechips. Jadi, indeks itu sendiri kemungkinan masih akan bergerak naik.

Apa yang membuat Anda optimistis indeks akan terus positif?

Kondisi ini dipicu oleh sentimen eksternal terkait krisis utang di Eropa dan Amerika. Para investor global mencari alternatif investasi yang tidak banyak di dunia ini. Salah satu alternatif itu adalah Indonesia.

Apalagi, yield di pasar uang di luar negeri sangat kecil terutama di Eropa dan AS. Salah satu instrumen investasi yang cukup meberikan return yang tinggi adalah saham. Sementara salah satu equity yang aman adalah Asia termasuk Indonesia salah satunya.

Lantas, bagaimana nasib saham-saham spekulatif?

Pendorong kenaikan IHSG adalah saham-saham bluechips. Saham-saham spekulatif memang diharapkan terdorong naik. Tapi, kenaikan indeks hingga akhir pekan lalu masih didorong oleh kenaikan saham-saham bluechips dan bukan saham-saham spekulatif. Hingga akhir tahun, pasar akan fokus pada saham-saham bluechips yang bakal mendorong kenaikan indek. Itu juga yang terjadi dalam sebulan terakhir.

Bahkan, saham-saham spekulatif, cenderung melemah dan belum mengalami pemulihan harga. Artinya, permainan investor hanya terjadi pada saham-saham bluechips yang tergabung dalam LQ45.

Lalu, siapa yang bermain saham bluechips sehingga saham-saham spekulatif terabaikan?

Mayoritas adalah pemain investor institusi dan sebagian besar dari investor institusi itu pelakunya adalah asing.

Kalau begitu, saham bluechips apa yang paling Anda jagokan?

Sejauh ini, indeks masih digerakan oleh saham-saham perbankan dan PT Astra Internasional (ASII). Tapi, hingga akhir tahun semua saham bluechips sangat menarik.

Anda punya target IHSG hingga akhir tahun?

Hingga akhir tahun, IHSG bakal berada di atas 4.200. Mungkin indeks akan bertenger di level 4.500 akhir tahun.

Apa rekomendasi Anda untuk saham-saham bluechips?

Saya rekomendasikan beli bertahap saham-saham bluechips yang tergabung dalam saham-saham LQ45, lalu simpan jangan dilepas (di-trading-kan) hingga lewat akhir 2011. Investor tak perlu khawatir. Sebab, IHSG hingga akhir tahun akan lebih tinggi dari sekarang. [mdr]

Beleid kuasi reorganisasi bisa diperpanjang

JAKARTA. Rencana penghapusan ketentuan kuasi reorganisasi bagi perusahaan diperkirakan bakal ditunda. Sampai saat ini Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia (DSAK IAI) masih belum memutuskan waktu yang tepat untuk mencabut aturan tersebut.

Etty R. Wulandari, Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Bapepam-LK, mengungkapkan, sejauh ini belum ada agenda pembicaraan mengenai penghapusan peraturan kuasi reorganisasi. Dia juga belum bisa memastikan jadwal waktu konsultasi tersebut. "Jadi, belum ada keputusan kapan akan dicabut. Bisa saja mundur tahun depan," ujar dia di Jakarta, Jumat pekan lalu (15/7).

Sekadar informasi, kuasi reorganisasi memungkinkan para emiten menilai kembali akun-akun aktiva dan kewajibannya pada nilai wajar. Perusahaan publik juga diperkenankan menghapus saldo laba negatif. Melalui langkah tersebut, kondisi perusahaan secara pembukuan bisa kembali kinclong. Selanjutnya, perusahaan dapat melanjutkan kegiatan usahanya layaknya mulai dari awal.

Ketentuan kuasi reorganisasi ini diatur dalam Peraturan Bapepam Nomor IX.L.1 tahun 2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kuasi Reorganisasi. Beleid ini mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 51.

Nah, DSAK IAI yang mengesahkan aturan tersebut telah mencabut ketentuan penggunaan standar akuntansi PSAK. Mereka akan mengganti dengan standar akuntansi internasional (International Financial Reporting Standard/IFRS). Otomatis, peraturan Bapepam-LK yang mengacu pada ketentuan PSAK 51 itu ikut terkena imbas.

Asal tahu saja, tujuan penggunaan IFRS selain agar memenuhi standar internasional, juga untuk meningkatkan transparansi perusahaan dalam penyusunan laporan keuangan. Konvergensi IFRS sudah dirintis sejak tahun 2008 lalu. Nah, penerapan atau implementasi dari konvergensi IFRS tersebut mulai tahun depan.

Lebih suka ditunda

Isakayoga, Direktur Eksektif Asosiasi Emiten Indonesia, berpendapat, pencabutan aturan kuasi reorganisasi sebaiknya memang diundur. Pasalnya, dia menilai, sejauh ini sosialisasi oleh otoritas terhadap emiten masih kurang. "Terutama mengenai ketentuan pajak, saat aset dinilai dengan nilai wajar, maka kewajiban pajak juga naik atau bagaimana?” katanya.

Selain itu, lanjut dia, emiten juga perlu waktu melakukan kuasi reogranisasi. Apalagi jika emiten bersangkutan memiliki sejumlah anak usaha sehingga penilaian mark to market atas aset-asetnya memakan waktu yang lama.

Data Bapepam-LK mencatat, ada dua perusahaan yang positif akan menempuh kuasi reorganisasi, yaitu PT Polychem Indonesia Tbk dan PT Barito Pacific Tbk. Beberapa emiten yang sempat gembar-gembor melakukan langkah serupa di antaranya adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, PT Garuda Indonesia Tbk, PT Bank Artha Graha Tbk, PT Eterindo Wahanatama Tbk, dan PT Asia Natural Resources Tbk.

Ini dia sejumlah agenda penting yang diramal mempengaruhi pasar Asia hari ini

Ini dia sejumlah agenda penting yang diramal mempengaruhi pasar Asia hari ini
TOKYO. Sejumlah event dan agenda penting berikut diprediksi akan mempengaruhi pergerakan pasar obligasi dan mata uang Asia hari ini.

Jepang:
Pasar obligasi, mata uang, dan saham Jepang ditutup hari ini karena libur nasional.

Korea Selatan:
- Bank sentral akan menjual surat utang berjangkawaktu 91 hari dan 182 hari dengan total nilai 1 triliun won atau US$ 944 juta. Sedangkan pemerintah akan menjual obligasi berjangkawaktu 10 tahun senilai 1,6 triliun won.
- Tingkat yield untuk obligasi dengan bunga 4,25% yang jatuh tempo Juni 2021 adalah 4,19%. Sedangkan won berada di posisi 1.057,95 per dollar.

Malaysia:
- Bank sentral akan menjual surat utang berjangkawaktu 163 hari dan 261 hari senilai 2 miliar ringgit atau US$ 665 juta hari ini. Bank sentral juga akan menjual sukuk berjangkawaktu 154 hari senilai 500 juta ringgit.

- Tingkat yield untuk obligasi dengan bunga 4,16% yang jatuh tempo Juli 2021 adalah 3,86%. Sedangkan ringgit berada di posisi 3,0063 per dollar.

Singapura:
- Pemerintah akan menjual surat utang berjangkawaktu 91 hari senilai S$ 3,9 miliar atau US$ 3,2 miliar hari ini.
- Tingkat yield untuk obligasi dengan bunga 2,25% yang jatuh tempo Juni 2021 adalah 2,11%. Sedangkan dollar Singapura berada di posisi S$ 1,2191 per dollar.

Harga minyak kembali merangsek naik di New York

Harga minyak kembali merangsek naik di New York
MELBOURNE. Kontrak harga minyak dunia kembali naik di New York. Dengan demikian, lonjakan harga minyak sudah terjadi selama dua hari berturut-turut.

Asal tahu saja, pagi ini di Melbourne, kontrak harga minyak untuk pengantaran Agustus naik 18 sen atau 0,2% menjadi US$ 97,42 sebarel di New York Mercantile Exchange. Sementara, sepanjang pekan lalu, kontrak yang sama mengalami lonjakan sebesar 1,1%.

Ketidakpastian global membuat bursa AS terpuruk sepanjang pekan lalu

Ketidakpastian global membuat bursa AS terpuruk sepanjang pekan lalu
NEW YORK. Mayoritas saham di bursa AS mengalami aksi jual sepanjang pekan lalu. Indeks S&P 500 melorot 2,1% menjadi 1.316,14 pada minggu ini, dan merupakan penurunan terbesar sejak periode lima hari yang berakhir 10 Juni lalu. Indeks S&P melorot setelah membukukan kenaikan terbesar dua mingguan sejak 2009. Sedangkan indeks Dow Jones turun 177,47 poin menjadi 12.479,73.

Sejumlah saham yang pergerakannya mempengaruhi bursa AS sepanjang minggu lalu antara lain Alcoa Inc yang turun 5,5% setelah melaporkan laba di bawah prediksi analis, Bank of America turun 6,5% setelah saham-saham perbankan dilanda aksi jual, dan Google Inc melonjak 12% setelah tingkat penjualannya melampaui estimasi.

"Reaksi pasar mengacu pada ketidakpastian yang terjadi secara global. Pasar saham AS melorot karena krisis utang di Eropa dan apa yang terjadi dalam perdebatan ekonomi di Kongres mengenai batasan nilai utang. Dua faktor tadi menyebabkan investor cemas," jelas Chief Executive Officer sekaligus Founder YCMNet Advisors Michael Yoshikami.

IHSG Dalam Posisi Overbought

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu bergerak sangat fluktuatif, digerus sentimen global. Namun IHSG menutup perdagangan pekan lalu pada titik tertingginya. IHSG akhir minggu lalu IHSG berada di posisi 4.023,35 atau menguat 19,65 poin (0,49%) bila dibandingkan akhir minggu sebelumnya, namun indeks Lq-45 malah tercatat turun 3,21 poin (0,45%).

Mengawali perdagangan pekan lalu, IHSG langsung merosot terkena sentimen negatif kemungkinan penyebaran krisis Eropa ke Italia. IHSG semakin tergerus sentimen negatif dari ancaman Moody's yang akan menurunkan peringkat Amerika Serikat. Namun seiring memudarnya kekhawatiran, IHSG secara perlahan bangkit bahkan akhirnya menciptakan rekor tertingginya pada pekan lalu di level 4.023.

Pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu adalah:
  • Senin (11/7/2011), IHSG terpangkas 8,104 poin (0,21%) ke level 3.995,587.
  • Selasa (12/7/2011), IHSG melemah 57,572 poin (1,45%) ke level 3.938,015.
  • Rabu (13/7/2011), IHSG menanjak 42,830 poin (1,08%) ke level 3.980,845.
  • Kamis (14/7/2011), IHSG menguat 16,790 poin (0,42%) ke level 3.997,635.
  • Jumat (15/7/2011), IHSG melesat 25,567 poin (0,64%) ke level 4.023,202.
Peluang IHSG untuk menguat terbatas masih terbuka, seiring dengan penguatan bursa-bursa utama dunia. Namun posisi IHSG yang cukup tinggi juga membuka peluang koreksi. Investor akan berhati-hati sembari mencermati gerak bursa regional. Pada perdagangan Senin (18/7/2011), IHSG diprediksi bergerak fluktuatif cenderung melemah tipis.

Sementara bursa Wall Street pada akhir pekan lalu akhirnya ditutup menguat setelah mengalami pekan yang sangat fluktuatif. Kenaikan saham Google mampu membawa Wall Street ke teritori positif.

Pada perdagangan Jumat (15/7/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup menguat 42,61 poin (0,34%) ke level 12.479,73. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 7,27 poin (0,56%) ke level 1.316,14 dan Nasdaq menguat 27,13 poin (0,98%) ke level 2.798,80. Sementara Bursa Jepang masih libur perdagangan.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Indosurya:

Pada perdagangan Senin (18/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.978-4.001 dan resistance 4.034-4.046. IHSG terlihat membentuk pola three white soldier . Meski masih dimungkinkan menguat namun, secara teknikal penguatan ini mulai terbatas. Posisi candle kian mendekati upper bollinger band . MACD masih terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought. Investor bisa mewaspadai bila sinyal koreksi mulai masuk.

eTrading Securities:

Pada perdagangan Jumat (15/7) IHSG ditutup naik 25.57 point (+0.64%) ke level 4,023.20 dengan hampir seluruh sektor mengalami kenaikan kecuali mining (-0.30%) dan property (-0.16%).Total transaksi tercatat sebanyak 8 juta lot atau setara dengan Rp4.37 triliun dengan 121 saham mengalami kenaikan, 98 saham mengalami penurunan, 90 saham tidak mengalami perubahan dan 144 saham tidak diperdagangkan sama sekali.

Saham-saham yang menjadi motor penggerak indeks Jumat lalu a.l. ASII, BBCA, BMRI, LPPF dan TLKM sementara yang menjadi penarik terbesar bursa hari ini a.l. BDMN, INCO, PTBAm GGRM dan BRMS. Asing sendiri hari ini tercatat melakukan net buy sebesar Rp174 miliar dengan saham yang paling banyak di beli adalah BMRI, ASII, BBCA, ICBP dan BUMI.

Secara teknikal, IHSG berhasil bergerak menguat dalam tiga hari terakhir namun dengan volume yang semakin menurun, sementara dari pergerakan indikator stochastic membentuk golden cross di area overbought sementara RSI mulai bergerak landai di area overbought. Pada perdagangan hari ini (18/7), IHSG akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah dan akan bergerak pada kisaran 3955-4051, sementara itu saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. ADES, INTP, dan ULTJ.

(qom/qom)