Senin, 03 Oktober 2011

Euro mungkin terkoreksi hingga akhir Oktober

Euro mungkin terkoreksi hingga akhir Oktober
JAKARTA. Posisi euro semakin terpojok di hadapan sejumlah valuta dunia. Kurs euro terhadap dollar Amerika Serikat (EUR/USD), Jumat (30/9) lalu, menyentuh 1,3387. Ini adalah level terburuk euro terhadap dollar AS selama delapan bulan terakhir.

Euro juga jatuh terhadap yen Jepang dan franc Swiss. Pairing EUR/JPY merosot 1,3% menjadi 103,12. Sedangkan, euro terhadap franc Swiss (EUR/CHF) melorot 0,3% menjadi 1,215.

Kejatuhan euro dipicu meningkatnya kecemasan bahwa pengambil kebijakan di Uni Eropa tak mampu menyelesaikan krisis utang. Kondisi itu diperkuat ancaman default Yunani pada Oktober ini.

"Dua isu utama yang mendominasi pasar kini adalah masalah utang Eropa dan ketakutan menurunnya perekonomian global. Pelaku pasar masih menghindari risiko. Itulah yang menopang dollar AS dan mata uang safe haven lainnya," ujar Vassili Serebriakov, analis Wells Fargo & Co. di New York, kepada Bloomberg, Sabtu (1/10).

Kepala Riset Divisi Tresuri Bank BNI Nurul Eti Nurbaeti melihat euro masih akan tertekan. "Data unemployment rate Eropa diprediksi stagnan. Ini bisa mengganjal laju euro," ujar dia. Nurul memperkirakan pada minggu ini support EUR/USD di 1,330 dengan resistance di posisi 1,37.

Kepala Riset Real Time Futures, Wahyu Tribowo Laksono, melihat Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin akan memangkas suku bunga 0,25%. Ini akan menekan posisi euro hingga akhir Oktober.

"Sampai ada rencana yang pasti mengenai pencegahan default Yunani, masih ada risiko euro jatuh lebih dalam," ujar Wahyu. Dia memprediksi, EUR/USD pada akhir Oktober nanti berpotensi melemah ke 1,300. EUR/JPY bisa melemah ke 103,00 dan berlanjut menuju 101,93.

Tapi jika investor menilai pemangkasan bunga adalah jalan keluar layaknya bailout, euro bisa menanjak. "Penurunan bunga biasanya menekan valuta. Tapi ketika itu dianggap solusi, peluang rebound terbuka," tambah Wahyu.

BUMI Raup Pinjaman US$400 Juta dari Axis Bank?

INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merencanakan pinjaman dari Axis Bank Hong Kong senilai US$400 juta.

Mengutip IFR ASia, pinjaman tersebut rencananya akan digunakan untuk refinancing sebagian cicilan pertama (tranche I) utang kepada China Investment Corporation (CIC) sebesar US$600 juta. Pinjaman ini bertenor lima tahun dengan kupon mencapai LIBOT plus 5,5% untuk dua tahun pertama dan LIBOR plus 6,5% untuk tahun berikutnya.

Hal ini juga diakui Direktur BUMI Dileep Srivastava. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan darimana dana tersebut akan diperoleh. Adapun total utang BUMI ke CIC mencapai US$1,9 miliar dengan bunga 12%. Tranche I sejarusnya jatuh tempo pada September 2014, Tranche II September 2014, dan Tranche III US$700 juta.

Saham Ekportir Tekan Bursa Jepang

Headline
INILAH.COM, Los Angeles - Saham Jepang dibuka anjlok drastis pada Senin (3/10), setelah aksi sell-off AS akhir pekan lalu.

Indeks Nikkei Stock Average kehilangan 2% menjadi 8.530,88, dengan Topix turun 2,2%, didukung koreksi saham eksportir. Sony Corp turun 4,2%, Advantest Corp turun 3,2%, dan Panasonic Corp turun 4,5%.

Sektor perdagangan melemah terimbas turunnya harga komoditas, dengan Mitsubishi Corp kehilangan 3,1%, dan Itochu Corp turun 4,1%. Sektor pengiriman juga melemah, dengan Mitsui OSK Lines Ltd jatuh 5,7%, dan Nippon Yusen K.K. jatuh 4,3%. [ast]

IHSG Masih Diwarnai Volatilitas

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG hari ini cenderung terbatas dan diwarnai banyak volatilitas. Namun, ada beberapa saham yang menarik untuk dicermati.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, IHSG awal pekan ini masih akan bergerak dengan fluktuasi cukup besar. “IHSG akan berada di kisaran 3.468-3.600 hari ini,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan IHSG pekan lalu dipicu kembalinya investor lokal ke pasar modal. Selain intervensi BI terhadap mata uang dalam negeri. “Dengan kembalinya rupiah ke kisaran Rp8.700, kepercayaan diri pelaku pasar tumbuh sehingga mereka kembali masuk ke bursa saham, katanya.

Pasar saat ini juga masih menantikan rilisnya data ekonomi, baik dari eksternal maupun domestik. Seperti inflasi, yang diperkirakan masih terkendali.

Senada dengan Felix Sindhunata, analis dari Henan Putihrai. Menurutnya, volatilitas bursa pekan ini masih akan tinggia, karena belum pastinya kondisi ekonomi global. Ia menuturkan, selama bulan lalu, banyak kesepakatan yang dilakukan Uni Eropa untuk mengatasi krisis,”Namun belum ada realisasi yang cukup signifikan meredam kekhawatiran pasar.

Di tengah situasi ini, Edwin masih merekomendasikan beberapa saham, seperti dari sektor perbankan, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI). Kemudian Indo Tambangraya Megah (ITMG), Astra International (ASII), Jasa Marga (JSMR) dan Inocement (INTP),”Saham-saham ini masih memiliki potensi penguatan lebih lanjut,” ucapnya.

Pada perdagangan Jumat (30/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032, dengan intraday tertinggi di 3.579,66 dan terendah di 3.523,75. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 6,52 miliar lembar saham, senilai Rp 12,105 triliun dan frekuensi 117.040 kali.

Sebanyak 99 saham naik, sisanya 126 saham turun, dan 75 saham stagnan. Aliran dana asing mendukung penguatan bursa, dengan nilai transaksi beli bersih (net foreign buy) mencapai Rp7,585 triliun. Rinciannya adalah transaksi beli sebesar Rp9,030 triliun dan transaksi jual sebesar Rp1,445 triliun. [mdr]

Inflasi September Melandai, Rupiah Juga

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (3/10) diprediksi melemah. Ekspektasi pelonggaran moneter BI jadi katalisnya seiring landainya inflasi.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, awal pekan ini, rupiah berpeluang masih konsolidasi dengan kecenderungan sedikit tertekan ke bawah. Sebab, pergerakan rupiah awal pekan ini sangat tergantung pada data inflasi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (3/10) ini.

Sebab, lanjut dia, data itu akan memberikan gambaran bagi pasar tentang bagaimana outlook kebijkana moneter Bank Indonesia. Inflasi diperkirakan masih melandai dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) di level 5% plus-minus 1% (year on year). "Karena itu, rupiah akan konsolidasi cenderung melemah dalam kisaran 8.700 - 8.900 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Jika inflasi kembali mereda, Firman menegaskan, semakin besar peluang untuk menurunkan suku bunga setelah bulan lalu, bank sentral tetap mempertahankan BI rate di level 6,75% dan di sisi lain, suku bunga Fasbi (Fasilitas Bank Indonesia) diturunkan. "Tapi, peluang pelemahan rupiah hari ini bersifat terbatas," ujarnya.

Sebab, pada Sabtu (1/10) sudah dirilis data Indeks Manufaktur China yang angkanya sudah diperkirakan membaik. "Indeks PMI China diperkirakan naik jadi 51,2 dari sebelumnya 50,9," ujarnya.

Lalu, pada Senin (3/10) pagi ini, pasar juga sudah dihadapkan pada data manufacturing Jepang yang juga sudah diprediksi membaik. "Indeks manufaktur Tamkan yang dirilis Bank of Japan (BoJ), angkanya sudah diprediksi positif 2 dari sebelumnya -9," papar Firman.

Dua data dari mitra dagang utama Indonesia ini, lanjutnya, bisa menahan pelemahan rupiah lebih jauh akibat ekspektasi pelonggaran moneter dari Bank Indonesia. Jika kedua data China dan Jepang itu baik, outlook ekonomi Indonesia pun membaik. "Ini juga akan meredakan kecemasan investor terhadap performa ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar," imbuh dia.

Tapi, bagaimanapun, karena Indonesia memiliki rilis inflasi September yang diumumkan BPS awal pekan ini, investor juga butuh angka itu sebagai petunjuk untuk outlook kebijakan moneter Bank Indonesia yang akan diumumkan pekan depan. "Jadi, kemungkinan rupiah akan menguat terlebih dahulu, lalu konsolidasi, dan pada akhirnya akan ditutup sedikit melemah awal pekan ini," imbuh Firman.

Asal tahu saja, kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (30/9) ditutup menguat 60 poin (0,67%) ke level 8.780/8.800 per dolar AS.

Bursa Regional Kembali Melemah, IHSG Siap Kena Imbas

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu mengalami gerak yang sangat fluktuatif meski akhirnya ditutup menguat. IHSG secara perlahan pulih seiring membaiknya bursa-bursa regional.

Mengawali perdagangan pekan lalu, IHSG sempat merosot tajam ke level 3.300 akibat sentimen negatif krisis utang Yunani yang belum juga menemukan jalan penyelesaian. Namun seiring munculnya setitik harapan dari komitmen pemimpin Eropa untuk penyelesaiannya, IHSG membaik bersamaan dengan membaiknya bursa regional.

Berikut pergerakan IHSG pada pekan lalu, yang ditutup menembus lagi level 3.500.
  • Senin (26/9/2011), IHSG anjlok 110,209 poin (3,22%) ke level 3.316,137.
  • Selasa (27/9/2011), IHSG menguat 157,801 poin (4,76%) ke level 3.473,938.
  • Rabu (28/9/2011), IHSG menguat 39,228 poin (1,12%) ke level 3.513,166.
  • Kamis (29/9/2011), IHSG menguat 24 poin (0,68%) ke level 3.537,178.
  • Jumat (30/9/2011), IHSG naik tipis 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032.
Sentimen negatif kembali melingkari pergerakan IHSG. Anjloknya lagi bursa-bursa utama dunia akan kembali menekan laju IHSG pada perdagangan Senin (3/10/2011). Sentimen negatif itu akan lebih kuat, meski hari ini akan ada data inflasi yang dirilis BPS.

Bursa Wall Street pada akhir pekan lalu merosot tajam, sekaligus menutup perdagangan kuartal III-2011 pada titik terendahnya sejak krisis tahun 2008. Data ekonomi yang negatif dari China semakin menimbulkan kecemasan investor. Data dari China menunjukkan sektor manufaktur yang merupakan motor penggerak ekonomi menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut. Sementara saham Morgan Stanley merosot karena kekhawatiran adanya eksposure pada bank-bank di Eropa.

Pada perdagangan Jumat (30/9/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup merosot hingga 240,60 poin (2,16%) ke level 10.913,38. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah hingga 28,98 poin (2,50%) ke level 1.131,42 dan Nasdaq melemah 65,36 poin (2,63%) ke level 2.415,40.

Sentimen negatif bertambah setelah Yunani gagal mencapai target defisit, yang merupakan bagian dari kesepakatan bailout. Hal itu semakin menambah kekhawatiran terjadinya gagal bayar dari Yunani. Yunani mengatakan defisit anggarannya akan turun menjadi 8,5% dari PDB pada 2011, turun dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 10,5%. Namun angka itu meningkat dari target awal yang dibuat pada Juni sebesar 7,4%.

Merosotnya bursa Wall Street tersebut langsung diikuti oleh bursa-bursa Asia Pasifik. Berikut pergerakan bursa regional pada Senin pagi:
  • Indeks S&P/ASX melemah 70,5 poin (1,8%) ke level 3.938,1.
  • Indeks Nikkei-225 melemah 132,31 poin (1,52%) ke level 8.567,98.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Kresna Sekuritas:
Resisten 3.600-3.650 masih menjadi risiko terbesar pergerakan IHSG, dan munculnya doji menjadi indikasi semakin besarnya tekanan di pasar. Penutupan di bawah level 3.470 akan mengkonfirmasi pembalikan ke arah negatif bagi IHSG. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3.470-3.600

Panin Sekuritas:
Perdagangan terakhir pekan lalu indeks ditutup menguat tipis melanjutkan kenaikan tiga hari berturut-turut. Meski demikian kami melihat mulai muncul tekanan pada indeks sekaligus mengakhiri sentimen positif dari perkembangan krisis hutang Yunani. Pekan ini, fokus investor masih pada faktor eksternal seperti berita krisis hutang, data makro ekonomi AS, serta dari dalam negeri seperti laporang keuangan emiten kuartal 3, data inflasi September, dan juga BI Rate. Secara teknikal, kami melihat indeks mulai membentuk doji star pada short term bullish rally, yang mengindikasikan adanya peluang reversal. Kisaran support-resistance hari ini 3.490-3.580. Saham pilihan : INTP, ANTM, ASRI, BSDE.

Indosurya:
Pada perdagangan Senin (3/10) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.494-3.521 dan resistance 3.578-3.607. IHSG membentuk three white soldier . Posisi candle mulai menjauhi lower bollinger bands. MACD masih mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba reversal dari area oversold meski masih sedikit tertahan. IHSG akhirnya menguat selama 4 hari perdagangan. Tetapi, penguatan ini belum dapat menyamai posisi tertinggi IHSG pada 22 September, saat terjadi penurunan. Kembali melemahnya bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan dan adanya spekulan yang memanfaatkan kondisi tersebut diperkirakan akan menahan laju penguatan IHSG. Diharapkan rilis inflasi bisa direspon positif sehingga mampu menahan pelemahan, bila terjadi.

eTrading Securities:
IHSG pada Jumat (30/9) ditutup naik 11 point (+0.33%) ke level 3,549.03 dengan hampir seluruh sektor mengalami kenaikan kecuali basic-industry (-0.48%), misc-industry (-0.77%), infrastructure (-0.22%) dan finance (-0.40%) dengan total transaksi di bursa tercatat sebanyak 13.04 juta lot atau setara dengan Rp12.10 triliun. Tercatat sebanyak 94 saham mengalami kenaikan, 117 saham mengalami penurunan, 69 saham tidak mengalami perubahan dan 173 saham tidak diperdagangkan sama sekali.

Saham-saham yang menjadi penahan turunnya bursa kemarin a.l. UNVR, GGRM, TLKM, ASII dan ICBP sementara yang menjadi pemberat bursa hari ini a.l. BMRI, INTP, PGAS, SMGR, dan BBNI.

Asing tercatat melakukan net sell pada pasar regular sebesar Rp165 milliar dengan saham-saham yang paling banyak di jual adalah BMRI, ASII, ADRO, TLKM dan HRUM. Rupiah diperdagangkan menguat 46 point ke level Rp8,810 per US Dollar.

Secara teknikal, setelah mengalami kenikan empat hari berturut-turut Candlestick IHSG tampak membentuk pola Spinning Top mengindikasikan sinyal bearish reversal sementara dari pergerakan indikator tampak stochastic dan RSI masih bergerak uptrend. Pada perdagangan hari ini (3/10) perlu diwaspadai adanya aksi profit taking, diperkirakan IHSG akan bergerak pada range 3513-3590. Sementara itu, saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. ICBP, HEXA, dan BHIT.

(qom/qom)

Rupiah berpeluang kembali menguat

Rupiah berpeluang kembali menguat
JAKARTA. Analis menilai, hari ini nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpeluang kembali menguat. Apalagi, rupiah sudah tertekan cukup dalam sepanjang pekan lalu. Pekan lalu mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, mengalami penurunan terburuk sejak krisis di 1997.

Hari ini pemerintah akan kembali mengumumkan data inflasi serta neraca perdagangan Indonesia. Analis memprediksi data-data kinerja ekonomi bakal positif, sehingga bisa meniupkan sentimen positif bagi rupiah.

Kepala Riset Divisi Tresuri BNI Nurul Eti Nurbaeti menganalisis, Indonesia akan mencetak surplus di neraca perdagangan September. Laju inflasi juga masih terkendali. "Peluang rupiah menguat terbuka," kata dia, Jumat (30/9).

Lelang Surat Utang Negara (SUN) turut menopang rupiah. Selasa (4/10) nanti, pemerintah akan kembali melelang lima seri SUN dengan target indikatif Rp 6 triliun.

Nurul juga yakin Bank Indonesia (BI) akan terus menjaga nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi. "BI akan terus menjaga supaya tidak lebih banyak dana jangka pendek yang keluar dari Indonesia," sebut dia.

Meski begitu, para analis menilai rupiah belum bisa menguat secara signifikan. "Kita masih melihat investor global melakukan penyesuaian posisi seiring dengan risk aversion," kata Roy Teo, analis ABN Amro Private Bank seperti dikutip Bloomberg, akhir pekan lalu.

Proyeksi Nurul, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hari ini akan berada di kisaran Rp 8.700 - Rp 8.850.

Inilah Saham Pilihan Senin (3/10)

INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia pada perdagangan Senin (3/10) diperkirakan mulai memiliki peluang untuk menguat dengan kisaran 3.490-3.580.

"Secara teknikal, kami melihat indeks mulai membentuk doji star pada short term bullish rally, yang mengindikasikan adanya peluang reversal. Saham pilihan seperti INTP, ANTM, ASRI dan BSDE," kata analis saham Panin Sekuritas, Purwoko Sartono kemarin dalam catatannya.

Pekan ini, fokus investor masih pada faktor eksternal seperti berita krisis hutang, data makro ekonomi AS. Dari dalam negeri seperti laporang keuangan emiten kuartal 3, data inflasi September, dan juga BI Rate.

Perdagangan terakhir pekan lalu indeks ditutup menguat tipis melanjutkan kenaikan tiga hari berturut-turut. "Meski demikian kami melihat mulai muncul tekanan pada indeks sekaligus mengakhiri sentimen positif dari perkembangan krisis utang Yunani," ujarnya.

Pada Jumat pekan lalu, IHSG ditutup naik 11,85 poin atau 0,3% ke 3.549,03. Volume perdagangan mencapai Rp6,5 miliar saham senilai Rp11,7 triliun. IHSG mengalami net foreign buy Rp7,6 triliun dengan pembelian asing mencapai Rp9,02 triliun dan penjualan asing sebesar Rp1,4 triliun.

Publik China: Eropa Lambat Atasi Krisis

Headline
INILAH.COM, Beijing - Seperempat dari cadangan devisa China senilai US$3,2 triliun dalam bentuk euro. Publik China mulai khawatir dengan keamanan aset euro tersebut.

Pemerintah China sampai saat ini masih yakin euro dan Uni Eropa akan berhasil mengatasi krisis utang. China tetap bersedia berinvestasi di Eropa walaupun menunggu krisis dapat teratasi terlebih dahulu.

Beberapa media besar China mulai menurunkan tulisan tentang kejengkelannya terhadap Uni Eropa yang dinilai lamban mengatasi krisis. "Negara-negara Eropa harus bertindak tegas untuk menyelesaikan krisis utang atau berisiko negara anggota harus keluar dari mata uang tunggal," komentar Harian People's Daily, koran resmi Partai Komunis China, kemarin yang dikutip dari yahoofinance.com .

Salah satu yang menjadi sumbernya adalah Qin Hongm ahli studi internasional. Menurutnya, jika Eropa tetap membuang-buang waktu maka situasinya akan memburuk lagi. Pihak luar pun tidak akan berani dengan cepat memberi bantuan.

"Zona Eropa mungkin akan benar-benar hancur. Tanpa diragukan lagi, ini akan menjadi bencana besar bagi Eropa dan dunia," katanya.

Sumber lain mengatakan Eropa sedang barada dalam titik penting dalam sejarah. Mereka harus menunjukkan sikap bijaksana dan keberanian besar untuk mengambil tindakan.

Sumber lain menyarankan kalau saja Uni Eropa dapat mendirikan Fiscal Union maka mungkin masih bsia mengubah nasib. Jika terlambat mengambil tindakan maka beberapa anggotanya mungkin terpaksa akan keluar.

Harian People's Daily menilai terjadi perbedaan mendasat antara ekonomi di kawasan Selatan dan Utara. Jadi berbagai solusi ternyata sulit untuk diterapkan dalam mengatasi krisis.

Harga minyak kembali melorot dari level terendah dalam setahun terakhir

Harga minyak kembali melorot dari level terendah dalam setahun terakhir
SYDNEY. Harga kontrak minyak kembali melorot dari level terendah dalam satu tahun terakhir. Pagi tadi, harga kontrak minyak untuk pengantaran November yang ditransaksikan di New York Mercantile Exchange turun US$ 1,30 menjadi US$ 77,90 per barel. Pada pukul 10.06 waktu Sydney, kontrak yang sama berada di level US$ 78,30 sebarel.

Sekadar mengingatkan, pada 30 September lalu, harga kontrak minyak turun US$ 2,94 menjadi US$ 79,20 per barel. Ini merupakan level terendah sejak 29 September 2010. Penurunan harga minyak pada kuartal III lalu merupakan yang tebesar sejak periode tiga bulanan yang berakhir 31 Desember 2008.

Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran November turun US$ 1,36 atau 1,3% menjadi US$ 101,40 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Penurunan harga minyak terjadi setelah investor berspekulasi bahwa perlambatan ekonomi AS serta krisis utang Eropa akan memangkas permintaan bahan bakar minyak.

Resesi makin nyata, minyak kian lemah

Resesi makin nyata, minyak kian lemah
JAKARTA. Banderol minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terpuruk ke posisi terendah sepanjang tahun 2011. Menutup pekan lalu, minyak WTI untuk pengiriman November 2011 di bursa New York terjatuh di harga US$ 79,2 per barrel. Sementara minyak jenis Brent tergerus 1,1% ke posisi US$ 102,76 per barrel.

Data perekonomian negara-negara berukuran ekonomi besar telah mengecewakan pasar. Indeks pembelian manajer atau purchashing manager index (PMI) di China turun tiga bulan berturut-turut. Di saat yang sama, penjualan ritel di Jerman juga menurun.

Sementara belanja konsumen di Amerika Serikat melambat. "Kita mendapati data-data ekonomi yang mengecewakan," kata Gene McGillian, analis dan broker Tradition Energy AS, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (1/10).

Sinyal pelambatan ekonomi di China dan AS otomatis memukul harga komoditas energi ini. Pasalnya, dua negara besar tersebut saat ini tercatat sebagai konsumen minyak terbesar di dunia. "Ada risiko pelemahan permintaan China," kata Eugen Weinberg, Head of Commodities Research Commerzbank AG Frankfurt.

Data dari AS tak kalah suram. Departemen Energi AS mengungkapkan, permintaan rata-rata bahan bakar hingga 23 September lalu telah turun 0,6% menjadi 19 juta barel per hari. Sementara itu tingkat belanja konsumen di bulan Agustus hanya naik 0,2%, lebih rendah dibanding peningkatan Juli yang sebesar 0,7.

Data manufaktur dan PMI juga turun. "Tanda-tanda resesi meningkat dan ini artinya permintaan akan melemah," imbuh John Kilduff, analis Again Capital LLC.

Produksi minyak moncer

Di saat yang sama, produksi minyak organisasi negara-negara penghasil minyak (OPEC) justru naik, bulan lalu. Bahkan volumenya tercatat sebagai yang tertinggi sejak November 2008.

Iran misalnya, mencatat kenaikan 3,4% produksi minyak menjadi 2,77 juta barrel. Sementara produksi minyak Libya dan Angola juga naik masing-masing 55 ribu barrel dan 40 ribu barrel per hari. Sedangkan Uni Emirat Arab dan Kuwait mencatat kenaikan produksi minyak 15 ribu barrel per hari.
"Kembalinya produksi minyak mentah serta ekonomi yang melemah berdampak besar pada keseimbangan pasokan-permintaan selama kuartal IV ini," ujar Michael Lynch, President of Strategic Energy & Economic Research Massachussets AS.

Dalam jangka panjang, perekonomian global diperkirakan masih akan lesu. Mayoritas analis memperkirakan harga minyak masih belum memiliki otot untuk bangkit. Sebanyak 13 dari 28 analis yang disurvei Bloomberg memprediksi harga minyak masih akan jatuh pekan ini. Sedangkan delapan analis memperkirakan harga akan tetap, sisanya masih optimis banderol minyak bisa naik.

Ariston Tjendra, Kepala Riset Monex Investindo Futures, menuturkan, harga minyak sulit naik kembali melihat data-data ekonomi terakhir.
Apalagi, hiruk pikuk krisis Eropa masih belum mendapatkan solusi yang jelas. "Ini sentimen negatif bagi perekonomian dan permintaan minyak," tambah Ariston.

Titik support minyak yang terdekat ada di level US$ 75 per barrel. Jika level itu tersentuh, minyak bisa makin meluncur turun ke posisi US$ 70 per barel.

Wahyu T Laksono, Kepala Riset Real Time Futures, malah memiliki prediksi lebih pesimis terkait harga emas hitam ini. Dalam hitungannya, minyak berpotensi merosot ke level US$ 60 per barrel bulan ini atau November nanti.

Asumsi Wahyu, secara fundamental resesi ekonomi berkorelasi dengan harga minyak. Publik tentu masih ingat terjadinya krisis tahun 2008 ketika minyak ambles hingga di harga US$ 40 per barrel. "Bukan tidak mungkin itu terjadi lagi," tandasnya.

Kendati demikian, dia masih optimis harga minyak mampu kembali bangkit di akhir tahun nanti. "Minyak masih bisa ditutup di kisaran US$ 80-90 per barrel, akhir tahun ini," katanya.

Bursa futures AS tak banyak berubah pagi ini

Bursa futures AS  tak banyak berubah pagi ini
NEW YORK. Bursa futures AS ditransaksikan tak banyak perubahan pagi ini. Kontrak indeks Standard & Poor's 500 futures yang habis masa berlaku Desember naik kurang 0,1% menjadi 1.126,50 per pukul 08.25 waktu Tokyo. Sebelumnya, indeks S&P 500 sempat turun ke posisi 1.119,50. Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average futures naik kurang dari 0,1% menjadi 10.843.

Investor masih mencemaskan mengenai penyebaran krisis utang Eropa. Defisit anggaran yang kian membengkak dikhawatirkan akan memicu gagal bayar atau defaults. Apalagi, kerugian bank-bank di Eropa telah menyebabkan indeks MSCI World anjlok 17% dalam kurun waktu Juli hingga September.

Sementara itu, pemerintah Yunani sudah menyetujui kebijakan penghematan senilai 6,6 miliar euro atau setara dengan US$ 8,8 miliar. Kebijakan tersebut juga meliputi pemecatan pegawai negeri sipil. Langkah ini dilakukan Yunani untuk menunjukkan negara tersebut dapat melakukan penghematan sehingga bisa mengantongi dana paket penyelamatan ronde dua.

"Akan ada fokus utama baru di Eropa pada pekan ini. Investor mulai memperhatikan hasil kinerja perusahaan. Namun, pasar masih akan bergerak volatil karena transaksi perdagangan dipengaruhi emosi," papar Matt McCormick, money manager Bahl & Gaynor Inc.

Jumat, 30 September 2011

Indeks positif, melawan arus bursa regional

JAKARTA. Di saat bursa regional memerah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mempertahankan posisi di zona hijau. Pada pukul 16.00, indeks naik 0,34% menjadi 3.549,032. Sebelumnya, indeks sempat beberapa kali terpeleset ke zona merah.

Di sepanjang transaksi hari ini, ada 94 saham yang menghijau. Sementara, jumlah saham yang melorot sebanyak 117, dan 69 saham lainnya diam tak bergerak. Volume transaksi hari ini melibatkan 6,520 miliar saham senilai Rp 12,105 triliun.

Sektor yang ditransaksikan di IHSG sore ini tampak beragam. Sektor consumer goods mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 3,24%. Sedangkan, sektor industri lain-lain mencatatkan penurunan terbesar sebesar 0,78%.

Penghuni top gainers hari ini adalah: PT Mahaka Media (ABBA) naik 20,21% menjadi Rp 113, PT Rukun Raharja (RAJA) naik 12% menjadi Rp 560, dan PT Jaya Konstruksi (JKON) naik 11,76% menjadi Rp 950.

Selain itu, di posisi top losers, terdapat saham-saham: PT Capitalinc Investment (MTFN) turun 15,19% menjadi Rp 335, PT Agis (TMPI) turun 14,29% menjadi Rp 102, dan PT Titian Kimia Nusantara (FPNI) turun 8,38% menjadi Rp 153.

Bursa Asia mencatatkan penurunan kuartalan terbesar sejak Desember 2008

Bursa Asia mencatatkan penurunan kuartalan terbesar sejak Desember 2008
TOKYO. Bursa Asia melorot untuk kali pertama dalam empat hari. Pada pukul 15.52 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific turun 0,7% menjadi 113,39. Sebelumnya, indeks acuan di kawasan regional ini sudah enam kali keluar masuk zona hijau dan merah.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Stock Average Jepang turun tipis 0,01%, setelah sempat naik 0,6% pada transaksi pagi. Lalu, indeks Kospi Korea Selatan dan indeks S&P/ASX 200 Australia juga ditutup dengan posisi yang tak banyak berubah dengan level pembukaan. Selain itu, indeks Hang Seng Hongkong anjlok 2,2%. Sedangkan Shanghai Composite Index China turun 0,4%.

Saham-saham berkapitalisasi besar yang turut mempengaruhi pergerakan bursa Asia antara lain: Li & Fung Ltd anjlok 6,7% di Hongkong, Toyota Motor Corp turun 0,5% di Tokyo, dan Sony Corp turun 0,5% di Tokyo. Sementara, Glencore International Plc melorot 7% di Sydney.

Penurunan bursa Asia hari ini masih disebabkan kekhawatiran investor akan krisis ekonomi global. "Sentimen sekecil apapun akan mempengaruhi pergerakan pasar saat ini. Investor masih merasa tidak yakin dengan outlook ekonomi makro pada saat ini. Itu sebabnya, banyak investor yang melepas resiko (risk off) hingga ada respon positif untuk menangani krisis ini," urai Tim Schroeder dari Pengana Capital Ltd.

Catatan saja, sepanjang pekan ini, indeks bursa Asia naik 1,5% dan 9,3% sepanjang bulan ini. Sementara, jika dihitung secara kuartalan, indeks acuan di kawasan regional ini sudah anjlok 16%, penurunan tiga bulanan paling besar sejak Desember 2008.

Yah.. IHSG hanya Menguat Tipis 0,3%

INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia pada perdagangan Jumat (30/9) ditutup naik 11,85 poin atau 0,3% ke 3.549,03. Volume perdagangan mencapai Rp6,5 miliar saham senilai Rp11,7 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 156 saham turun dan 81 saham naik serta 64 saham stagnan. IHSG mengalami net foreign buy Rp7,6 triliun dengan pembelian asing mencapai Rp9,02 triliun dan penjualan asing sebesar Rp1,4 triliun.

Perdagangan hari ini terjadi crossing atau tutup sendiri antara LPPF dan Meadow sebesar 3,5 miliar saham senilai Rp8,1 triliun. Untuk perdagangan reguler volume mencapai 3,08 miliar saham senilai Rp3,8 triliun.

Indeks JII naik 2,09 poin ke 491,12, indeks ISSI naik 0,40 poin ke 115 dan indeks LQ45 naik 1,4 poin ke 619,41. Pelemahan dimotori saham perkebunan yang turun 20,66 poin ke 1.995,27, disusul sektor pertambangan yang turun 10,34 poin ke 2.474,97.

Indeks tidak dapat melanjutkan penguatan dengan sepinya aksi beli di akhir pekan. Level tertinggi terjadi di level 3.79,66 dan level terendah di 3.523,75.

Bursa Asia bergerak melemah seperti indeks Hang Seng turun 2,3% ke 17.592,41, indeks Nikkei turun 0,01% ke 8.700,29, indeks Shanghai turun 0,2% ke 2.359 dan indeks ASX naik 0,01% ke 4.008.

Demikian juga dengan bursa Eropa seperti indeks FTSE turun 0,9% ke 5.149,15, indeks DAX turun 1,6% ke 5.545 dan indeks CAC turun 0,9% ke 2.999.

Bank Spanyol Ambilalih 3 Bank Gagal

Medium
INILAH.COM, Jakarta - Bank Spanyol diperkirakan mengumumkan akan mengambil alih setidaknya tiga bank umum gagal untuk menarik modal swasta di bawah program pemerintah yang bertujuan memulihkan kepercayaan sistem perbankan negara ini.

Mengutip Reuters, bank sentral diperkirakan menyuntikkan modal ke dua bank umum di wilayah timur Catalonia, Caixa Catalunya dan Unnim ditambah bank NovaCaixaGalicia, di wilayah utara Galicia dan mungkin bank lainnya.

Bank umum Spanyol yang konsen terhadap keprihatinan sistem keuangan di negara ekonomi terbesar keempat di zona euro ini, di mana pemerintah sedang berjuang untuk memaksakan defisit belanja publik. Bank-bank non listed ini jumlahnya berkurang sejak didorong untuk merjer oleh pemerintah tahun lalu. Kredit terbesar untuk pengembang real estate selama booming perumahan dan digunakan oleh politisi lokal untuk mendanai proyek-proyeknya.

Bank Spanyol memperkirakan sistem perbankan negara memiliki kekurangan modal 17 miliar euro ($ 23 miliar) dan analis percaya ini disebabkan kerugian pada aset real estat bermasalah. "Spanyol mungkin akan ditekan untuk melakukan rekapitalisasi," kata Neil Smith, seorang analis perbankan di West LB.

Jumat adalah batas waktu bagi bank-bank umum untuk mencari modal swasta untuk meningkatkan keamanan finansial mereka atau dilakukan nasionalisasi.

Dua bank, yaitu Bankia dan Banca Civica berhasil keluar dari masalah pendanaan mereka dengan melakukan penawaran umum perdana pada bulan Juli, tetapi yang lain telah gagal untuk menarik investasi swasta.

Sebanyak tiga bank dinasionalisasi mempercantik 7 persen dari sistem perbankan Spanyol dan akan menggunakan hanya kurang dari 5 miliar euro dana negara melalui Bank of Spanyol yang memperkirakan bank kekurangan modal. Jumlah dana negara yang akan disuntikkan ke bank-bank umum tidak akan melebihi 7,7 miliar euro, termasuk yang telah digunakan untuk menasionalisasi bank Caja de Mediterraneo (CAM), Bank Sentral Spanyol mengatakan.

Peningkatan dana bailout Eropa, menunggu persetujuan parlemen nasional di 17 blok mata uang anggota, dapat digunakan untuk menyuntikkan modal ke dalam sistem perbankan Spanyol.

Rekapitalisasi oleh Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF) bisa menarik lebih banyak investor swasta untuk sistem perbankan Spanyol, Smith dari West LB mengatakan. "Prospek Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa berpotensi lebih besar dapat meningkatkan sentimen bank-bank Eropa dan menarik modal swasta dengan lebih mudah," katanya. Gubernur Bank Spanyol Miguel Angel Fernandez Ordonez akan melakukan jumpa pers pada pukul 10.00 GMT Jumat (30/9).

Bergerak Labil, IHSG Ditutup Naik Tipis

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 11 poin setelah berfluktuasi menjelang penutupan. Aksi ambil untung di akhir perdagangan sempat menyeret indeks ke zona merah.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 8.840 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.850 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka menguat tipis 7,668 poin (0,21%) ke level 3.544,846 didorong oleh banyaknya berita positif yang datang dari pasar global. Bursa Asia yang bergerak mixed sedikit menghambat laju IHSG.

Setelah sempat menanjak hingga ke posisi tertingginya di 3.579,662, indeks langsung dihajar aksi ambil untung ke posisi terendahnya di 3.523,755.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik tipis 8,743 poin (0,24%) ke level 3.545,921 disokong penguatan saham-saham konsumer. Bursa regional kompak melemah, memberi sentimen negatif terhadap IHSG.

Tekanan jual mulai marak di menit-menit terakhir sebelum penutupan perdagangan. Memerahnya bursa Asia menjadi sentimen negatif yang menyeret indeks kembali ke zona merah.

Mengakhiri perdagangan akhir pekan, Jumat (30/9/2011), IHSG ditutup naik tipis 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032. Sementara Indeks LQ 45 ditutup menguat tipis 1,822 poin (0,29%) ke level 622,636.

Saham-saham unggulan berbasis finansial, terutama bank, menjadi pemberat pergerakan bursa akibat aksi ambil untung setelah menguat dalam beberapa perdagangan terakhir. Sementara saham-saham konsumer melaju sangat kencang.

Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 117.040 kali pada volume 6,52 miliar lembar saham senilai Rp 12,105 triliun. Sebanyak 99 saham naik, sisanya 126 saham turun, dan 75 saham stagnan.

Nilai transaksi di lantai bursa naik cukup tinggi akibat adanya transaksi tutup sendiri alias crossing saham PT Matahari Department Store (LPPF) oleh CIMB Securities (YU) senilai Rp 7,749 triliun sehingga totalnya sebesar Rp 15,626 triliun.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 439,709 miliar di seluruh pasar jika transaksi crossing saham tersebut tidak masuk dalam hitungan.

Bursa-bursa di regional yang terus berguguran sempat menyeret IHSG ke zona merah. Namun, aksi beli selektif menjelang penutupan berhasil menyelamatkan indeks.

Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai turun 6,12 poin (0,26%) ke level 2.359,22.
  • Indeks Hang Seng anjlok 418,65 poin (2,32%) ke level 17.592,41.
  • Indeks Nikkei 225 turun tipis 0,94 poin (0,01%) ke level 8.700,29.
  • Indeks Straits Times ambruk 45,22 poin (1,67%) ke level 2.662,91.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.000 ke Rp 52.500, Unilever (UNVR) naik Rp 800 ke Rp 16.500, SMART (SMAR) naik Rp 550 ke Rp 6.750, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 500 ke Rp 16.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 950 ke Rp 39.000, Multibreeder (MBAI) turun Rp 800 ke Rp 14.300, Astra Internasional (ASII) turun Rp 400 ke Rp 63.650, dan Semen Gresik (SMGR) turun Rp 250 ke Rp 8.300.
(ang/dnl)

Ups! Euro Ditinggal Dolar dan Yen

Medium
INILAH.COM, Singapura - Kurs euro melemah terhadap yen dan dolar di pasar Asia pada Jumat (30/9) dengan sinyal pertumbuhan global yang melambat setelah data kuartalan di Eropa rendah.

Nilai tukar Yen naik 0,9% menjadi 103,52 per euro di Tokyo dan dolar menguat 0,7% menjadi US$1,3603 terhadap mata uang utama di Eropa, seperti dikutip dari yahoofinance.com.

Mata uang Selandia baru jatuh 0,9% dan imbal hasil obligasi naik 11 basis poin. Kondisi ini teradi setelah peringkat kredit negara ini diturunkan lembara rating.

"Orang masih menilai belum ada kepastian dalam prospek makro ekonomi. Negara ekonomi kuat saat ini menjadi tidak mandisi dan terancam krisis utang," kata Tim Schroeders analis di Penggana Capital di Melbourne.
Kekhawatiran krisis Eropa telah menyebar dan sulitnya pemulihan ekonomi AS telah mendorong investor memilih yen sebagai aset yang aman. Selain itu, investor juga memburu dolar dan obligasi.

Data yang dirilis hari ini di AS adalah belanja konsumen AS yang mungkin akan melambat dan penjualan ritel Jerman yang turun. Selain itu produksi manufaktur Jepang dan Korsel tumbuh di bawah ekspektasi. Apalagi indeks manufaktur China turun selama tiga bulan terakhir.

Kinerja Kuartalan Rendah, Bursa Eropa Melemah

Medium
INILAH.COM, London - Sentimen negatif dari kinerja perusahaan pada kuartal ketiga dinilai sangat rendah dengan krisis yang terjadi di Eropa telah menekan bursa pada perdagangan Jumat (30/9).

Indeks FTSE turun 1,09% ke 5.140,37, indeks DAX turun 1,1% ke 5.575 dan indeks CAC turun 0,8% ke 3.002,02. Indeks FTSE turun dipimpin saham BMW yang melemah hingga 4,6%, seperti dikutip dari yahoofinance.com.

Dalam jangka pendek, kita masih memiliki prospek yang sama soal ancaman default Yunani," kata Phillip Isherwood, Kepada Strategi Ekuitas di Evolution Securities.

Bursa saham Asia mayoritas negatif seperti indeks Hang Seng turun 2,4% ke 17.564, indeks Nikkei turun 0,01% ke 8.700,29, indeks Shanghai turun Rp0,2% ke 2.359 dan indeks ASX naik 0,01% ke 4.008.

Sentimen di Jerman tak Kuat Topang Saham Eropa

Sentimen di Jerman tak Kuat Topang Saham Eropa
INILAH.COM, London - Saham Eropa Jumat (30/9) mengindikasikan pelemahan saat dibuka akibat persetujuan penambahan dana Jerman ke Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF) terbukti tidak cukup untuk mempertahankan momentum positif di pasar.

Mengutip CNBC, pasar Eropa menutup kuartal ketiga dari krisis utang yang diderita oleh zona euro dan menemukan perkembangan sebagian besar sentimen di pasar di Amerika Serikat dan seterusnya. Periode ini telah menjadi salah satu yang brutal bagi investor: CAC 40 Prancis jatuh 24 persen untuk kuartal; DAX Jerman turun 23,5 persen, dan FTSE Inggris telah mengalami penurunan 12,6 persen.

S & P 500 turun 12 persen, juga kuartal terburuk bagi Amerika Serikat sejak krisis keuangan.

Pada hari Kamis, berita tentang Jerman mendorong saham Eropa naik, dengan pan-Eropa FTSEurofirst 300 Index ditutup naik ke 929,58 setelah jatuh 1,2 persen pada sesi sebelumnya.

Parlemen Jerman Kamis menyetujui reformasi ke EFSF yang akan memungkinkan dana untuk berpartisipasi di pasar primer dan untuk rekapitalisasi bank-bank Eropa dalam pemungutan suara. Para EFSF adalah kendaraan yang dibiayai oleh anggota zona euro, diciptakan pada Mei tahun lalu, dirancang untuk memberikan bantuan keuangan kepada negara-negara zona euro yang mengalami kesulitan ekonomi.

Data ekonomi AS juga membantu penguatan saham Eropa kemarin, karena Departemen Perdagangan mengatakan ekonomi tumbuh pada tingkat tahunan 1,3 persen pada kuartal kedua dan klaim pengangguran awal turun lebih dari yang diperkirakan, turun 37.000 sampai 391.000 untuk seminggu yang berakhir tanggal 24 September. Kedua angka lebih baik dari perkiraan analis.

Ke depan, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy bertemu dengan Perdana Menteri Yunani George Papandreou di Paris pada Jumat. Jumat juga menandai batas waktu bagi bank tabungan Spanyol untuk meningkatkan rasio modal. Bank Spanyol melakukan konferensi pers pukul 10 a.m BST.