Rabu, 30 November 2011

Investor Asing Bawa IHSG Menguat 0,7% ke 3.715

INILAH.COM, Jakarta - Pergerakkan IHSG pada penutupan perdagangan Rabu (30/11) menguat 27,31 poin atau 0,7% ke 3.715,08. Volume perdagangan mencapai 3,9 miliar saham senilai Rp3,8 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 121 saham menguat, 103 saham turun dan 84 saham stagnan. Posisi investor asing net foreign buy Rp239,02 miliar dengan pembelian asing sebesar Rp1,7 triliun dan penjualan asing Rp1,5 triliun.

Indeks JII naik 0,78 poin ke 519,29, indeks ISSI naik 0,4 poin ke 120,72 dan indeks LQ45 naik 4,4 poin ke 657,05. Penguatan didukung sektor perkebunan yang naik 20,6 poin ke 2.174,27 disusul sektor konsumsi naik 20,3 poin ke 1.320,50 dan sektor infrastruktur yang naik 12,27 poin ke 694,04.

Indeks bergerak cukup volatile yang terpengaruh faktor regional. Level terendah hari ini di 3.679,21 dan tertinggi di 3.719,95.

Bursa Asia juga mayoritas melemah seperti indeks Hang Seng turun 1,7%, indeks Shanghai turun 3,2%, indeks Nikkei turun 0,5%, indeks Kospi turun 0,4%, indeks KLSE naik 0,9%, indeks STI turun 0,1%.

Reli 0,74%, IHSG mendarat di level 3.715

JAKARTA. Walaupun sempat tertekan jelang penutupan perdagangan sore ini (30/11), namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mendarat di zona hijau setelah naik 0,74% ke level 3.715,074.

Reli sembilan sektor mengokohkan otot indeks di akhir sesi kedua. Sektor infrastruktur memimpin dengan penguatan sebesar 1,8%. Diikuti, sektor industri dasar yang maju 1,72%, juga sektor barang konsumsi yang naik 1,56%. Sedangkan, satu-satunya yang masih tertekan, yaitu sektor aneka industri yang melemah tipis 0,05%.

Sebanyak 111 saham berhasil naik, berbanding 99 saham yang masih jatuh. Adapun, 75 saham lainnya tidak beranjak dari level penutupan sebelumnya.

Transaksi hari ini melibatkan 3,937 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,892 triliun.

Saham Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) yang meroket 25% ke level Rp 2.625, menduduki peringkat pertama di deretan saham top gainers, sore ini. Disusul, saham Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) yang melejit 23,73% ke Rp 3.650, dan saham Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang maju 22,94% ke Rp 3.350.

Sementara itu, deretan saham yang tergelincir ke posisi top losers, yaitu saham Akbar Indo Makmur Tbk (AIMS) yang tumbang 9,43% ke Rp 240. Diikuti, saham Jakarta Kyoei Steel Tbk (JKSW) yang jatuh 9,09% ke Rp 100, dan saham Cahaya Kalbar Tbk (CEKA) tergerus 9,09% ke Rp 1.000.

IHSG Menanjak di Tengah Koreksi Bursa Asia

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menanjak 27 poin di tengah koreksi yang melanda bursa-bursa di Asia. Aksi beli di penghujung penutupan menyelamatkan IHSG dari zona merah.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 9.170 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di posisi Rp 9.190 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menipis 7,159 poin (0,20%) ke level 3.680.610. Namun, posisinya yang sudah jenuh jual membuat indeks balik arah ke zona hijau.

Indeks sempat menembus level tertingginya hari ini di level 3.719,948. Momen tertinggi itu dimanfaatkan para pelaku pasar untuk mengambil untung sesaat sehingga pertumbuhan IHSG terhambat.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik tipis 6,444 poin (0,17%) ke level 3.694,213. Aksi beli selektif mempertahankan indeks di jalur positif.

Tekanan jual mulai muncul menjelang penutupan perdagangan, indeks pun langsung ambles ke zona merah dan berhenti di level terendahnya 3.679,208 ebelum akhirnya bergerak fluktuatif.

Menutup perdagangan, Rabu (30/11/2011), IHSG menanjak 27,311 poin (0,74%) ke level 3.715,080. Sementara Indeks LQ 45 menguat 3,824 poin (0,58%) ke level 656,408.

Saham-saham bluechip malah menjadi pemberat bursa akibat terkena aksi jual. Poin yang dicetak IHSG ini berkat perburuan di saham-saham lapis dua yang sebelumnya terkena koreksi sehingga harganya sudah murah.

Hanya indeks sektor aneka industri yang memerah, sedangkan sembilan sektor industri lainnya berhasil menguat dipimpin oleh sektor infrastruktur. Investor masih tetap berhati-hati dalam bertransksi.

Pasalnya, masih ada sentimen negatif yang datang dari negeri paman sam setelah lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat bank-bank besar di AS. Namun, optimisme pemulihan krisis utang Eropa membuat investor sedikit percaya diri.

Meski jumlahnya kecil, dana asing kembali parkir di Bursa Efek Indonesia (BEI). Transaksi pemodal asing hingga sore ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 238,851 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 110.108 kali pada volume 3,936 miliar lembar saham senilai Rp 3,883 triliun. Sebanyak 118 saham naik, sisanya 102 saham turun, dan 88 saham stagnan.

Bursa saham China memimpin koreksi bursa-bursa di Asia dengan jatuh lebih dair tiga persen. Bursa saham Singapura menjadi satu-satunya yang mampu bertahan di zona hijau sejak pagi tadi.

Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di regional sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai anjlok 78,98 poin (3,27%) ke level 2.333,41.
  • Indeks Hang Seng ambles 266,85 poin (1,46%) ke level 17.989,35.
  • Indeks Nikkei 225 turun 43,21 poin (0,51%) ke level 8.434,61.
  • Indeks Straits Times naik tipis 5,65 poin (0,21%) ke level 2.693,75.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.400 ke Rp 65.000, Fajar Surya (FASW) naik Rp 700 ke Rp 3.650, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 625 ke Rp 3.350, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 600 ke Rp 22.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain United Tractor (UNTR) turun Rp 1.050 ke Rp 23.350, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 450 ke Rp 11.750, Harum Energy (HRUM) turun Rp 300 ke Rp 6.700, dan Bayan (BYAN) turun Rp 200 ke Rp 17.950.

(ang/qom)

AS Tekan Pengangguran Bagai 'Mission Impossible'

Medium
INILAH.COM, Jakarta - Negara-negara Barat menghadapi misi yang mustahil (mission impossible) dalam menekan jumlah pengangguran yang melambung, tekanan inflasi, dan nilai tukar yang berkontraksi.

"Negara-negara maju tengah menghadapi paradosk kebijakan. Mereka butuh inflasi untuk melepaskan diri dari lilitan utang, namun deflasi dibutuhkan untuk meningkatkan produksi dan lapangan kerja oleh perusahaan," papar ekonom global senior HSBC Karen Ward kepada CNBC.com, seperti dikutip Rabu (30/11).

Menurutnya, satu-satunya jalan tengah untuk kedua pihak dalah dengan menurunkan nilai tukar riil di negara maju. "Kalau kita tidak melakukan penyesuaian kurs, maka kita akan dihadapkan pada pertumbuhan ekonomi yang stagnan dalam jangka panjang, pengangguran yang tinggi, dan ketidakpastian yang berlanjut." tuturnya.

Kebijakan stimulus moneter berupa pelonggaran kuantitatif (quatitative easing) yang dilakukan AS dan bank sentral Inggris dalam beberapa bulan terakhir memiliki 'tujuan tersembunyi' untuk menurunkan nilai tukar yang bisa merugikan negara-negara berkembang.

"Di negara maju kita bisa menggunakan quantitative easing dengan menurunkan nilai mata uang, seperti yang kita lihat dalam dua tahun terakhir. Di negara berkembang, mereka enggan menerima kebijakan tersebut," tuturnya.

Selain itu, adanya ketegangan yang meningkat antara AS dan China dengan meningkatnya tagihan dagang AS terhadap China. Ward mengingatkan, hal ini tidak berdampak baik dalam jangka panjang dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi global.

"Ini tidak baik. Kita terus ditarik dalam permasalahan-permasalahan global ini dan pertumbuhan ekonomi global tidak akan pulih, sampai kita mendapatkan titik keseimbangan perekonomian global dan penyesuaian kurs sangat diperlukan," paparnya.

Ia menilai, solusi ideal adalah negara-negara maju mau sedikit bersabar dan membiarkan mata uang negara berkembang terapresiasi. Sayangnya, mesin politik bisa menggagalkan skenario ini.

Ia merasa khawatir dengan sikap politisi yang tidak sabar, khususnya di AS sehubungan dengan adanya pemilu 2012, akan menambah masalah. "Ini akan lebih baik bila kita tetap berdamai dalam sistim global," pungkasnya.

Saham Bank Picu Bursa Eropa Jatuh

Headline
INILAH.COM, London - Keputusan Lembaga S&P melakukan downgrade ke sejumlah bank AS dan Eropa telah merontokkan bursa Eropa pada pembukaan perdagangan Rabu (30/11).

Indeks FTSE turun 1,06% ke 5.280, indeks CAC turun 1,1% ke 2.992 dan indeks DAX turun 0,9% ke 5.745. Indeks saham bluechip Eropa turun 0,9%. Pelemahan dipimpin saham Barclays Plc di London Stock Exchange hingga 1,8%. Demikian mengutip yahoofinance.com.

Lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat kredit 15 perbankan besar terutama di Eropa dan AS kemarin.

"Pasar memantau keputusan penting itu. Tetapi kita mulai melihat investor institusi masuk lagi ke ekuitas berjangka untuk meminimalkan risiko," kata David Thebaoult, kepala trader di Global Equitties.

Bursa Asia juga mayoritas melemah seperti indeks Hang Seng turun 1,7%, indeks Shanghai turun 3,2%, indeks Nikkei turun 0,5%, indeks Kospi turun 0,4%, indeks KLSE naik 0,9%, indeks STI turun 0,1%.

Euro Menguat di Perdagangan Asia

Headline
INILAH.COM, Singapura - Dolar dan euro menguat terhadap yen di perdagangan Asia pada Rabu (30/11) setelah menteri keuangan Uni Eropa sepakat menambah pendanaan di EFSF untuk mengatasi krisis utang.

Dolar menguat 0,4% terhadap yen menjadi 77,94 melalui perdagangan elektronik di London dari 77,93 di New York. Euro juga menguat terhadap yen menjadi 103,82 dari 103,77. Namun euro melemah terhadap dolar menjadi US$1,3319 dari US$1,3317.

Mata uang Uni Eropa telah turun 3,9% terhadap dolar dan menurun 4,2% terhadap yen pada bulan ini. Dolar telah menguat 6,3% dari bulan lalu. Sedangkan yen telah menguat 1,4%. Demikian mengutip bloomberg.com.

Ketua Eurogroup, Jean Claude Junker mengungkapkan Uni eropa sepakat untuk menjamin 20-30% pertama dari emisi obligasi baru untuk utang negara anggota. Selain itu juga ada co-investment untuk menarik investasi asing dalam pembelian obligasi.

Dua skema ini, katanya, akan dimulai pada Januari 2012. Sementara dana senilai 250 miliar eur atau setara dengan US$332,5 miliar dialokasikan untuk pendanaan baru bagi Yunani. Mereka juga mengharapkan IMF setuju untuk mendukung pendanaan di Fasilitas Stabilisasi Keuangan Eropa (EFSF).

Kabar lain, IMF dan Italia pada bulan depan mungkin akan melakukan pembicaraan soal bailout senilai 400 miliar euro. Untuk sementara dana itu diharapkan akan dipenuhi dari EFSF sebesar 100 miliar euro dan dari Bank Sentral Eropa (ECB) mencapai 300 miliar euro.

Menteri Keuangan Uni Eropa hari ini akan melakukan pertemuan lagi di Brussels untuk membahas integrasi fiskal yang diusulkan Jerman dan Prancis pekan lalu.

"Para pembuat kebijakan Eropa telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi krisis. Optimisme hasil pertemuan menteri keuangan di Eropa memicu aksi jual Yen," kata Kengo Suzuki, analis valas Mizuho Securities Co di Tokyo.

Bursa Eropa Diprediksi akan Negatif

Bursa Eropa Diprediksi akan Negatif
INILAH.COM, London - Bursa saham Eropa diprediksi akan melemah pada perdagangan Rabu (30/11) setelah pertemuan pejabat Uni Eroa sepakat untuk meningkatkan dana bailout EFSF.

Indeks FTSE diprediksi akan melemah 49 poin, indeks DAX akan turun 35 poin dan CAC akan turun 26 poin. Demikian mengutip yahoofinance.com.

Ketua Eurogroup, Jean Claude Junker mengungkapkan Uni eropa sepakat untuk menjamin 20-30% pertama dari emisi obligasi baru untuk utang negara anggota. Selain itu juga ada co-investment untuk menarik investasi asing dalam pembelian obligasi.

Dua skema ini, katanya, akan dimulai pada Januari 2012. Sementara dana senilai 250 miliar eur atau setara dengan US$332,5 miliar dialokasikan untuk pendanaan baru bagi Yunani. Mereka juga mengharapkan IMF setuju untuk mendukung pendanaan di Fasilitas Stabilisasi Keuangan Eropa (EFSF).

Kabar lain, IMF dan Italia pada bulan depan mungkin akan melakukan pembicaraan soal bailout senilai 400 miliar euro. Untuk sementara dana itu diharapkan akan dipenuhi dari EFSF sebesar 100 miliar euro dan dari Bank Sentral Eropa (ECB) mencapai 300 miliar euro.

Menteri Keuangan Uni Eropa hari ini akan melakukan pertemuan lagi di Brussels untuk membahas integrasi fiskal yang diusulkan Jerman dan Prancis pekan lalu.

Transaksi Sepi, IHSG Ditutup ke 3.694

INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi I ditutup kembali ke level 3.600-an, kendati masih bertahan di zona hijau.

IHSG naik tipis 6,44 poin (0,17%) ke 3.694 dan indeks LQ45 naik 0,13% ke 653,45. Sektor pertambangan, aneka industri dan manufaktur memerah, sementara lainnya mengikuti indeks. Jumlah saham naik 83, saham turun 82, dan saham stagnan 103.

Nilai transaksi saham hingga penutupan sesi I hari ini mencapai Rp1,35 triliun dengan volume mencapai 1.378.321.000. Kendati terbilang sepi, namun asing masih aktif melakukan aksi beli, hal ini terlihat dari nilai net foreign buy sebesar Rp123,82 miliar.

Sentimen negatif datang dari penurunan peringkat tiga bank besar AS oleh S&P, namun tidak cukup kuat menyeret IHSG ke zona merah.

Meski regional tertekan, IHSG berhasil reli 0,17% di sesi pagi

JAKARTA. Meski mayoritas bursa regional tertekan, namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mendarat di zona hijau. IHSG reli 0,17% ke posisi 3.694,21 hingga sesi pertama perdagangan hari ini (30/11) berakhir.

Laju tujuh sektor mampu menyokong otot indeks. Penguatan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur, yaitu sebesar 0,68%. Sedangkan, tiga sektor lainnya masih melemah, di mana sektor aneka industri jatuh paling dalam, yaitu sekitar 1,28%.

Sebanyak 77 saham berhasil menguat, berbanding 76 saham yang masih tertekan. Sedangkan, 93 saham lainnya belum beranjak dari level penutupan kemarin.

Transaksi di sesi pagi ini terbilang sepi, yaitu hanya melibatkan sekitar 1,705 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp 1,546 triliun.

Adapun, beberapa saham yang berhasil menempati deretan top gainers, siang ini, yaitu saham Bumi Citra Permai Tbk (BCIP0 yang meroket 20,41% ke Rp 590. Disusul, saham Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) yang melejit 20,24% ke Rp 2.525, dan saham Surabaya Agung Industri Tbk (SAIP) yang maju 17,86% ke Rp 330.

Sedangkan, deretan saham yang terdepak ke posisi top losers, yaitu saham Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS) yang tumbang 9,43% ke Rp 240, dan saham Verena Multi Finance Tbk (VRNA) yang jatuh 8,09% ke Rp 125.

Bursa Asia Berguguran, IHSG Bertahan Positif

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau meski dikelilingi bursa Asia yang berjatuhan. Aksi beli selektif mempertahankan indeks di jalur positif.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menipis 7,159 poin (0,20%) ke level 3.680.610. Namun, posisinya yang sudah jenuh jual membuat indeks balik arah ke zona hijau.

Indeks sempat menembus level tertingginya hari ini di level 3.719,948. Momen tertinggi itu dimanfaatkan para pelaku pasar untuk mengambil untung sesaat sehingga pertumbuhan IHSG terhambat.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (30/11/2011), IHSG naik tipis 6,444 poin (0,17%) ke level 3.694,213. Sementara Indeks LQ 45 menguat tipis 0,862 poin (0,13%) ke level 653,446.

Aksi beli selektif terjadi di saham-saham lapis dua, sementara saham-saham bluechip yang kemarin naik tinggi kini terkena aksi ambil untung. Mayoritas indeks sektoral di lantai bursa menghijau, meski beberapa ada yang terjebak di zona merah.

Sentimen negatif datang dari negeri paman sam setelah lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat bank-bank besar di AS. Namun, optimisme pemulihan krisis utang Eropa membuat investor sedikit percaya diri.

Dana asing belum berhenti masuk ke lantai bursa, ini merupakan hari keduanya asing melakukan beli bersih setelah satu pekan lalu para pemodal asing terus melarikan dananya ke luar negeri.

Perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 52.034 kali pada volume 1,705 miliar lembar saham senilai Rp 1,546 triliun. Sebanyak 83 saham naik, sisanya 82 saham turun, dan 103 saham stagnan.

Koreksi bursa-bursa di regional semakin dalam, dipimpin oleh bursa saham China yang anjlok lebih dari dua persen. Pemangkasan peringkat bank-bank di AS benar-benar memberi pukulan yang telak.

Berikut situasi bursa-bursa di Asia hingga siang hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai anjlok 56,07 poin (2,32%) ke level 2.356,33.
  • Indeks Hang Seng ambruk 344,99 poin (1,89%) ke level 17.911,21.
  • Indeks Nikkei 225 jatuh 107,34 poin (1,27%) ke level 8.370,48.
  • Indeks Straits Times naik tipis 0,15 poin (0,01%) ke level 2.688,25.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 550 ke Rp 63.150, Indosiar (IDKM) naik Rp 425 ke Rp 2.525, Resources Alam (KKGI) naik Rp 350 ke Rp 6.150, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 300 ke Rp 22.100.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.050 ke Rp 69.900, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 450 ke Rp 11.750, Unilever (UNVR) turun Rp 300 ke Rp 17.800, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 250 ke Rp 24.150.

(ang/qom)

Saham Second Liner & Bluechip Pilihan Sesi Dua

INILAH.COM, Jakarta – Jika gagal menembus resistance 3.700, indeks diperkirakan bakal melemah. Sebab, kenaikan Dow Jones semalam belum memfaktorkan downgrade bank-bank besar AS.

Analis Panin Securities Purwoko Sartono memperkirakan, indeks saham domestik akan bertahan pada teritori positif jika tembus resistance 3.700-3.750. Sedangkan level support, di level 3.685. “Jika gagal menembus resistance 3.700, indeks berpeluang kembali melemah,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (30/11).

Menurutnya, penguatan indeks hari ini dipicu oleh penguatan bursa regional setelah Dow Jones ditutup positif. Kondisi ini, didukung oleh harapan pasar pada The Economic and Finansial Affairs Council (Ecofin) Meeting di mana para menteri keuangan Uni Eropa sudah menyepakati kenaikan kapasitas dana The European Financial Stability Facility (EFSF). “Pasar tinggal menunggu detil mekanismenya,” ujarnya.

Tapi, Purwoko menggarisbawahi, jika gagal menembus resistance 3.700, indeks bisa kembali melemah. Sebab, penguatan Dow Jones semalam belum memfaktorkan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s Rating Service (S&P) yang menurunkan peringkat Bank of America, Citigroup Inc, dan Goldman Sachs Group Inc. S&P menurunkan peringkat kredit jangka panjang bank tersebut dari A ke A- (minus) usai merevisi kriteria industri perbankan.

Dia menegaskan, jika down grade itu juga diarahkan pada bank-bank di Eropa, tentu sentimennya akan semakin negatif sehingga besar peluang bagi IHSG untuk kembali melemah.

Sementara itu, kenaikan indeks sentimen konsumen AS yang di atas ekspektasi, menurutnya, tidak terlalu kuat menopang kenaikan indeks. Sebab, data tersebut merupakan angka tentative dan fluktuatif. “Kenaikan indeks konsumen AS sangat wajar karena ada faktor Thanksgiving Day yang secara historis selalu mendongkrak kenaikan penjualan pada sektor ritel. Tapi, indeks ini tidak mencerminkan konsumsi AS keseluruhan apalagi untuk sepanjang tahun 2011,” imbuhnya.

Indeks sentimen konsumen AS yang dirilis oleh University of Michigan untuk bulan November naik menjadi 64,2 dari 60,9 pada bulan Oktober. Sebelumnya, para analis telah emmperkirakan indeks sentiment konsumen naik ke 61,5.

Di atas semua itu, Purwoko merekomendasikan positif saham-saham second liner dan bluechips yang secara teknikal memiliki potential upside dan sudah lepas dari tekanan jual. Saham-saham second liner pilihannya adalah PT Elang Mahkota Technology (EMTK), PT Indosiar Karya Mandiri (IDKM) dan PT Bhakti Investama (BHIT).

Untuk bluechips, ia merekomendasikan PT Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Gudang Garam (GGRM) dan PT Semen Gresik (SMGR). “Saya rekomendasikan trading buy, untuk jangka pendek saham-saham tersebut,” imbuhnya.

S&P 'Downgrade' Peringkat 3 Bank Besar AS

Headline
INILAH.COM, Jakarta - S&P menurunkan peringkat Bank of America, Citigroup Inc, dan Goldman Sachs Group Inc.

Seperti dikutip dari Washington Post, Rabu (30/11), Standard & Poor menurunkan peringkat kredit jangka panjang bank tersebut dari A ke A minus usai merevisi kriteria industri perbankan.

S&P juga melakukan hal yang sama terhadap Bank of America unit Merril Lynch di situsnya. Langkah ini akan dapat meningkatkan tekanan terhadap Bank of america, yang sahamnya telah anjlok 62% tahun ini di perdagangan New York.

Pemberi pinjaman terbesar kedua AS ini mengatakan, penurunan peringkat akan dapat memicu pembayaran jaminan (collateral payments) hingga miliaran dolar AS dan keringnya akses ke pasar kredit.

Penurunan rating akan meningkatkan biaya bagi bank. Bank of America mengatakan, pengajuan peraturan bulan ini telah membuat pihaknya menambah dana jaminan sebesar US$5,1 miliar dan perdagangannya turun akibat penurunan peringkat.

"Turunnya peringkat akan menimbulkan dampak material terhadap likuiditas kami, meminimalisir akses ke pasar kredit, peningkatan biaya bank, menekan bisnis, dan pada perdagangan tertentu khususnya kredit counterparty yang sangat penting," papar Bank of America.

Menteri Zona Euro Harus Konsul Dulu ke IMF

Headline
INILAH.COM, Milan - Menteri-menteri zona euro sepakat untuk menaikkan jumlah dana talangan, namun masih harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dana Moneter Internasional (IMF), terkait besar dananya.

Krisis utang Eropa yang sudah berjalan selama dua tahun, para investor yang 'lari' dari pasar obligasi zona euro, bank-bank Eropa membuang utang pemerintah, mengeringnya jumlah deposito di bank-bank Eropa Selatan dan resesi yang menjulang semakin memperparah prospek keberlangsungan mata uang tunggal ini.

Sebanyak 17 menteri telah menyepakati untuk menjamin 20%-30% emisi obligasi baru yang diterbitkan ole negara-negara euro yang kesulitan dana dan menciptakan investasi bersama untuk menarik investor asing kembali ke obligasi pemerintah zona euro.

Kedua skema ini akan mulai beroperasi pada Januari 2012 dengan dana sekitar 250 miliar euro yang diambil dari dana Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF), yang rencananya akan ditingkatkan usai pengucuran dana talangan tahap kedua ke Yunani. Demikian ungkap Ketua Eurogroup Jean-Claude Juncker, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (30/11).

Langkah ini bertujuan agar Dana Moneter Internasional (IMF) setuju akan penambahan besar dana ke dalam EFSF. "Kami juga sepakat untuk secara cepat mengeksplorasi peningkatan sumber daya IMF melalui pinjaman bilateral, mengikuti mandat dari KTT G20 Cannes. Sehingga IMF cukup bisa menyamai langkah EFSF dan bekerjasama lebih erat," katanya.

Para menteri eurogroup setuju melepaskan bagian mereka dari dana bantuan sebesar 8 miliar euro ke Yunani, angsuran keenam dari 110 miliar euro dari Uni Eropa dan IMF yang disepakati tahun lalu untuk mencegah terjadinya gagal bayar oleh Yunani.

"Kami harus membicarakannya terlebih dulu dengan IMF terkait kenaikan dana talangan ini. Saya rasa negara-negara di Eropa dan di luar Eropa harus bersiap diri untuk memberi bantuan dana lebih ke IMF," tutur Menteri Keuangan Belanda de Jager Jan Kees wartawan.

"Kami sudah membicarakan kenaikan dana talangan dengan mengambil dari pihak swasta, namun hanya akan ada peningkatan 2-2,5 kali sehingga tidak akan cukup dan kita harus mencari solusi untuk menyenangkan EFSF dan IMF," tutur Jan Kees.

Yen melandai terdorong pertemuan menteri keuangan Eropa

Yen melandai terdorong pertemuan menteri keuangan Eropa
SINGAPURA. Nilai tukar yen mulai turun terhadap sebagian besar mata uang kawasan setelah menteri keuangan zona euro memperbesar kapasitas dana penyelamatan bagi negara-negara yang memiliki utang sangat tinggi.

Yen tergelincir 0,3% menjadi 104,03 per euro pada 10:38 di Tokyo. Mata uang Negeri Sakura tersebut tidak berubah di level 77,93 per dollar AS.

Mata uang Jepang merespon positif pernyataan Perdana Menteri Luksemburg, Jean Claude Junker. Ia menuturkan bahwa kawasan euro akan meningkatkan pendanaan sebagai sumber Dana Moneter Internasional (IMF).

"Para pembuat kebijakan mengambil berbagai langkah untuk menanggulangi krisis," ulas Kengo Suzuki, analis valas Mizuho Securities Co. Optimisme yang terjadi di pasar dipicu oleh rencana pertemuan menteri keuangan di Eropa dan data kepercayaan konsumen AS. "Hal itu memicu pelepasan yen," jelasnya. Ia menebak, yen masih akan melandai jika optimisme yang terjadi di Amerika dan Eropa bukan euforia sesaat.

Selama krisis ini, nilai tukar yen terus perkasa terhadap mata uang utama di dunia. Kondisi ini sangat merugikan perekonomian Jepang yang mengandalkan pemasukan dari ekspor. bank Sentral Jepang menempuh berbagai cara untuk menekan nilai tukar yen.

Topix dan Nikkei tumbang setelah S&P pangkas peringkat bank AS

Topix dan Nikkei tumbang setelah S&P pangkas peringkat bank AS
TOKYO. Bursa saham Jepang tumbang setelah Standard & Poor's memangkas peringkat utang perbankan Amerika Serikat.

Indeks Topix tergelincir 0,99% ke posisi 722,44 pada pukul 12.42 waktu Tokyo. Ini penurunan pertama kalinya dalam empat hari terakhir. Sementara itu, indeks Nikkei jatuh 1,2% ke level 8.379,80. Sepanjang November, indeks acuan bursa Jepang ini sudah tergerus sebesar 6,8%.

Pasar saham regional tertekan setelah Standard & Poor's memangkas peringkat utang perbankan AS, termasuk Bank of America Corp. Apalagi, salah satu pejabat Eropa menyebut, jumlah dana bailout di kawasan Euro mungkin akan lebih rendah dari target.

Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menyeret bursa Jepang, diantaranya, saham bank terbesar kedua di Jepang, Sumitomo Mitsui Financial Group Inc. yang terkoreksi 1,9%. Lalu, saham Sony Corp. juga turun sekitar 3%.

"Pemangkasan peringkat bank berdampak negatif pada sentimen investor. Investor benar-benar memperhatikan apakah pembuat kebijakan akan mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan krisis utang Eropa," kata Koji Toda, fund manager Resona Bank Ltd., di Tokyo.

Harga minyak terdongkrak optimisme Amerika

Harga minyak terdongkrak optimisme Amerika
SINGAPURA. Harga minyak mentah dunia mendekati level penutupan tertinggi dua minggu dan menuju kenaikan bulanan terbesar kedua. Data kepercayaan konsumen yang mencatat kenaikan terbesar dalam kurun delapan tahun terakhir memberikan rasa optimisme di pasar. Maklum, Amerika merupakan negara pengomsumsi minyak terbesar di dunia.

Minyak Brent untuk pengiriman Januari naik 10 sen menjadi US$ 110,92 per barel ICE Futures Europe Exchange. Kemarin emas hitam ini ditutup naik 1,7% ke US$ 110,82.

Tapi, minyak mentah untuk pengiriman Januari berada di US$ 99,49 per barel, turun 0,2% dalam perdagangan New York Mercantile di 10:47 di Singapura. Harga kontrak kemarin naik 1,6% menjadi US$ $ 99,79, tertinggi sejak 16 November. Harga tersebut 6,8% lebih tinggi bulan ini dan naik 12% dari tahun lalu.

"Investor punya kesempatan profit taking hari ini," ujar Victor Shum, konsultan prinsipal senior Purvin & Gertz Inc di Singapura. Menurutnya, reli harga minyak juga dipicu oleh perusakan kedutaan besar Inggris di Teheran. "Kondisi ini memicu spekulasi ketegangan yang terjadi di Timur Tengah sebab suplai minyak bisa terancam," prediksinya.

Emas kembali reli dalam dua hari

Emas kembali reli dalam dua hari
LONDON. Harga emas berjangka naik dalam dua hari berturut-turut di tengah redupnya daya tarik dollar Amerika Serikat (AS). Emas futures untuk pengiriman Februari reli 0,3% ke US$ 1,718.90 per ounce pada pukul 1:57 di Comex, New York. Kemarin, harga emas tersebut naik 1,5% yang merupakan level tertinggi dalam dua minggu.

"Kenaikan harga komoditas picu harga emas. Apalagi dolar telah melemah 0,9% terhadap mata uang utama di dunia," ujar Sterling Smith, analis Country Hedging Inc di St Paul, Minnesota.

Harga emas diperkirakan akan naik lagi lantaran Eropa belum bisa menuntaskan permasalahan krisis. Kondisi ini tergambar pada imbal hasil atau yield yang diberikan Italia di atas ambang batas 7%.

"Di tengah ketidakpastian atas masa depan zona euro, pelaku pasar masih enggan melikuidasi emas dalam volume besar," tulis Andrey Kryuchenkov, analis VTB Capital di London. Oleh sebab itu, jikapun emas turun, namun pergerakannya akan terbatas.

Apalagi, lembaga pemeringkat semakin rajin menggunting ranking negara dan perbankan besar di Eropa dan Amerika. "Perburuan lebih lanjut mendukung kenaikan harga emas," ulas James Moore, analis TheBullionDesk.com di London.

Emas telah naik 21% tahun ini, menuju kenaikan terbesar dalam 11 tahun terakhir. Harga emas mencapai rekor US$ 1.923,70 pada 6 September lantaran investor menyebar risiko portfolio investasi.

Rupiah tumbang 3,5% dalam sebulan

Rupiah tumbang 3,5% dalam sebulan
JAKARTA. Rupiah kembali tumbang pada perdagangan Rabu(30/11). Tekanan yang terjadi hari ini bahkan telah membawa mata uang Garuda ini pada rekor pelemahan bulanan terbesar sejak Februari 2009. Otot rupiah melemah karena kekhawatiran memburuknya krisis utang Eropa bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Nilai tukar rupiah tergerus 0,2% pagi ini, sementara dalam sebulan ini tercatat sudah tumbang 3,5% menuju level Rp 9.170 per dollar AS hingga pukul 9.05 di Jakarta.

Kemarin, rupiah bahkan menyentuh level terlemah dalam 17 bulan terakhir. Namun, Direktur riset ekonomi dan kebijakan moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan, bank sentral berkomitmen untuk menstabilkan rupiah dengan menjual mata uang asing dan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Pada 10 November lalu, secara tak terduga, BI memangkas suku bunga 50 basis poin menjadi 6%, untuk menyokong pertumbuhan ekonomi domestik.

"Di tengah kekhawatiran zona Euro, pasar mencari sinyal positif. Pemangkasan suku bunga itu bersifat prematur. Ada kendala terkait berapa banyak bank sentral dapat intervensi ke dalam pasar," kata Radhika Rao, ekonom dari Forecast Pte, di Singapura.

Sementara itu, harga obligasi pemerintah jatuh paling dalam sejak Januari. Data Inter-Dealer Market Association menunjukkan, yield obligasi benchmark yang jatuh tempo Juli 2021 naik 51 basis poin dalam bulan ini menuju level 6,85% hingga kemarin.

Manajer investasi belum tertarik meramu reksadana beraset dasar sukuk global

Manajer investasi belum tertarik meramu reksadana beraset dasar sukuk global
JAKARTA. Manajer Investasi (MI) belum tertarik merilis reksadana yang menggunakan obligasi negara syariah berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS). Pemerintah Indonesia merilis instrumen, yang kerap disebut sukuk global tersebut, dua pekan lalu. Nilai surat utang tersebut US$ 1 miliar.

Agus Basuki Yanuar, Presiden Direktur Samuel Asset Management, menuturkan, obligasi dalam denominasi rupiah saat ini menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan obligasi dalam dollar AS.

Otomatis, potensi imbal hasil reksadana yang memanfaatkan obligasi rupiah sebagai aset dasar, lebih besar dibandingkan potensi keuntungan yang ditawarkan reksadana berisi obligasi dollar AS.

"Potensi pertumbuhan kinerja dan imbal hasil di Indonesia lebih menarik. Jadi, kami belum ada rencana menerbitkan reksadana yang berisi sukuk global," kata Agus.

Alasan lain MI enggan memanfaatkan sukuk global adalah aturan main yang membatasi penempatan dana di instrumen luar negeri. Batasnya adalah 15% dari total dana kelolaan masing-masing reksadana. Ini mengakibatkan MI kurang leluasa memanfaatkan sukuk global sebagai underlying. Sukuk global saat ini diperdagangkan di Singapore Stock Exchange.

Andreas M. Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi, melontarkan hal senada. Mandiri saat ini memilih memfokuskan pengembangan kinerja reksadana syariah yang sudah terbit, dibanding meramu produk baru beraset dasar sukuk global. "Kami fokus dulu menaikkan nilai dana kelolaan produk yang sudah ada," ujar dia.

Harga obligasi berisiko turun tahun depan

JAKARTA. Harga obligasi sepanjang tahun ini cukup cemerlang. Di pasar domestik, harga surat utang terangkat. Namun analis memperkirakan, tren itu kemungkinan berubah di tahun depan, seiring dengan makin tingginya tingkat ketidakpastian ekonomi global.

Ezra Nazula, Head of Fixed Income Manulife Asset Management Indonesia, menuturkan, penyebab utama penurunan yield adalah laju inflasi yang terkendali serta pengguntingan bunga acuan hingga menjadi 6%, bulan ini. Untuk obligasi, penurunan yield berarti kenaikan harga.

Herdi Ranuwibowo, Head of Debt Capital Markets Trimegah Securities, menambahkan, imbal hasil alias yield obligasi selama tahun ini sudah menurun, terutama obligasi pemerintah. Penurunannya mencapai 2% untuk tenor di atas 15 tahun. Yield obligasi bertenor di bawah 15 tahun sudah turun 1,25%.

Harga obligasi juga terangkat oleh derasnya arus masuk dana ke pasar obligasi. Dana itu datang, baik dari dalam negeri, maupun dari luar negeri.

Kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) misalnya naik 12,08% menjadi Rp 219,42 triliun, sejak akhir 2010 hingga 25 November lalu. Sedangkan dana pemodal lokal di SUN naik 13,22%.

Menanjaknya harga obligasi, berimbas ke kinerja reksadana beraset dasar obligasi, seperti reksadana pendapatan tetap. Kenaikan harga aset dasar bisa mengungkit nilai aktiva bersih (NAB).

Tren bisa berbalik

Mengutip data lembaga pemeringkat reksadana, Infovesta, rata-rata imbal hasil alias return reksadana pendapatan tetap sepanjang tahun ini mencapai 9,97%. Namun, tren moleknya harga obligasi tahun ini berisiko berbalik akibat situasi perekonomian global yang diperkirakan makin fluktuatif tahun depan.

Omar S. Anwar, Presiden Direktur Trimegah Securities, menilai, para investor global masih cenderung melihat dan menunggu perkembangan konkret penyelesaian krisis Eropa. Faktor Eropa dan prospek keseluruhan perekonomian global akan menjadi penentu utama arah pasar obligasi ke depan.

Nah, dampak dari ketidakpastian tersebut bisa menjalar ke pasar keuangan domestik, termasuk pasar obligasi. Herdi menilai, ada risiko mengalir keluarnya dana asing di pasar keuangan Indonesia, baik di pasar ekuitas maupun surat utang. "Investor akan lebih banyak mengamankan aset dalam bentuk uang tunai," katanya.

Helmi Arman, analis Citi Indonesia, memprediksi, obligasi pemerintah yang memiliki tenor panjang, di atas 10 tahun, merupakan obligasi yang paling berisiko mengalami tekanan harga di tahun depan. Sedang harga obligasi pemerintah dengan jangka waktu pendek, diproyeksikan akan relatif stabil. Pasalnya, investor perbankan masih banyak yang berburu obligasi tenor pendek.

I Made Adi Saputra, analis NC Securities, memperkirakan, penurunan harga obligasi selama tahun depan bisa berkisar 20-30 basis poin seiring kenaikan premi risiko. "Namun, penurunannya bisa sedikit teredam jika inflasi kita terjaga dan bunga acuan rendah," imbuh Helmi Therik, analis AAA Securities.