Selasa, 09 Agustus 2011

Pemerintah pede investor masih minati lelang SUN

Pemerintah pede investor masih minati lelang SUN
JAKARTA. Jadwal lelang Surat Utang Negara (SUN) tidak akan bergeser. Kendati pasar finansial global sedang guncang, pemerintah tetap menggelar lelang SUN hari ini.

Dalam dokumen penawaran lelang, pemerintah menargetkan perolehan dana Rp 7 triliun dari lelang itu. Dua seri surat utang baru yang ditawarkan, SPN20111110 serta SPN20120810 memiliki tenor masing-masing tiga bulan dan satu tahun.

Pemerintah juga melelang empat SUN reopening. Masing-masing adalah FR0055, FR0053, FR0056, FR0057. Tenornya berkisar lima hingga 30 tahun.

Bimantara Widyajala, Direktur Surat Berharga Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu), optimistis lelang SUN hari ini tidak akan terpengaruh sentimen negatif pasar global. "Investor tetap meminati SUN, jadi lelang akan dilaksanakan sesuai jadwal," ujar dia, kemarin.

Nilai outstanding SUN yang dapat diperdagangkan mencapai Rp 698,99 triliun per 5 Agustus lalu. Minat asing dinilai masih tinggi mengingat dana asing, akhir pekan lalu, bertambah Rp 1,2 triliun menjadi Rp 249,62 triliun.

Imam MS, analis obligasi Trimegah Securities, berpendapat senada. Investor, di saat sekarang, mengincar obligasi yang dinilai lebih aman dibandingkan saham. Apalagi pasar obligasi Indonesia dinilai cukup stabil sejauh ini.

Tawaran seri baru bertenor pendek juga dinilai akan menyedot minat peserta lelang, terutama perbankan. Prediksi ini merujuk ke hasil lelang sukuk beberapa waktu lalu. Sukuk bertenor enam bulan mendapat penawaran hingga Rp 8,25 triliun.

I Made AS, analis obligasi NC Securities, memprediksi investor akan menyerbu SUN bertenor pendek mengantisipasi ekonomi yang tak pasti. "Seri baru dan FR0055 akan banyak diminati," kata dia.

CDS meroket

Namun, lelang di tengah situasi pasar yang buruk seperti sekarang, tetap menyuguhkan kemungkinan terburuk. Senin kemarin, harga SUN terkoreksi tipis di 104,66 dari posisi 105,05 akhir pekan lalu. Investor asing boleh jadi sudah mulai angkat kaki meninggalkan pasar obligasi di emerging market, termasuk SUN.

Lelang kali ini juga kemungkinan besar diwarnai permintaan yield nan tinggi oleh investor, seiring meningkatnya risiko investasi. Credit Default Swap (CDS) yang mencerminkan persepsi risiko investasi di Indonesia, di semua tenor, melonjak drastis.

CDS tenor lima tahun naik ke 144,45 dari 140,53. CDS tenor 10 tahun melonjak ke posisi 202,715. Dalam lelang sukuk 13 Juli silam, berakhir tanpa hasil akibat investor meminta yield terlalu tinggi hingga pemerintah memutuskan untuk tidak menyerap tawaran investor.

Pasar Finansial Bergejolak, Pemerintah Minta 18 Dealer SUN Berjaga

Jakarta - Pasar finansial bergejolak menyusul penurunan peringkat AAA milik Amerika Serikat oleh Standard & Poor's. Pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan pasar, dan meminta 18 primary dealers Surat Utang Negara (SUN) untuk berjaga.

"Kami melakukan market surveillance dengan ketat dan sudah mengingatkan seluruh 18 primary dealers SUN untuk mendukung pemerintah menjaga pasar SUN agar tetap kondusif," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Selasa (9/8/2011).

Rahmat menjelaskan, setelah penurunan peringkat AS tersebut, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih cukup tangguh dan tidak terkena dampak yang signifikan.

"Ini karena capital inflows masih cukup deras karena investor global masih menghindari zona Eropa dan AS. Fundamental Indonesia masih cukup solid dan masih dalam upside terhadap investment grade," tambah Rahmat.

Pada hari pertama setelah kabar penurunan peringkat AS, harga SUN seri benchmart umumnya turun 56 hingga 126 basis poin atau yield naik 6-13 basis poin, kecuali SUN tenor 10 tahun yang tetap pd harga 110,5 atau yield 6,78.

"Berdasarkan Crisis Management Protocol (CMP) yang mempertimbangkan harga SBN, IHSG, nilai tukar rupiah, kepemilikan asing, maka volatilitas pasar SBN hari ini masih dalam kisaran wajar dan tidak ada indikasi reversal. Hasil komunikasi dengan pasar, permintaan terhadap Indo IDR Bonds dan USD Bonds, masih robust," ungkap Rahmat.

"Yang kami pantau terutama aksi 'bottom fishing' dimana pelaku pasar SUN bertindak opportunistik dengan sengaja menjual SUN dalam jumlah cukup besar dan membelinya," imbuh Rahmat.

Sementara dari pasar AS, harga surat utang AS justru melonjak tajam karena investor justru mencari aset-aset yang aman dan cabut dari aset-aset yang berisiko. Dan surat utang AS atau US Treasury dianggap sebagai selah satu yang aman.

"Surat berharga AS masih dikategorikan aset berisiko rendah. Dan saya kira tidak ada perdebatan soal itu," ujar Michael Schumacher, analis dari UBS seperti dikutip dari Reuters.

Benchmark surat berharga berjangka 10 taun melonjak lebih 2 tahun, dengan yield paling rendah mencapai 2,33%, terendah sejak Februari 2009. Imbal hasil surat berharga AS berjangka 2 tahun dan 3 tahun juga turun ke titik terendahnya menjadi 0,23% dan 0,38%.

(qom/qom)

Investor Saham Lebih Baik Pegang Uang Tunai Saja

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Apa yang dikhawatirkan pelaku pasart akhirnya menjadi kenyataan. Pada Senin (9/8) petang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot 1,82% ke level 3.850,27. Sebelumnya, pada sesi pertama pedagangan, IHSG sempat turun 4,99%.

Jika dihitung sejak penutupan Jum’at pekan lalu, IHSG mencatat penurunan yang cukup signifikan, yakni sebesar 6,75%. Penurunan harga saham ini tak hanya terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI), tapi juga dialami seluruh pasar modal dunia.

Aksi jual yang melanda bursa dunia terjadi setelah peringkat utang Amerika turun dari AAA menjadi AA+. Betul, Standard & Poor’s telah merevisi asumsi yang digunakannya dalam perhitungannya, tapi ternyata tak banyak membantu.

Kondisi inilah yang membuat orang berbondong-bondong mencari aman dengan mengoleksi dolar. “Pekan ini, indeks akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menurun,” kata seorang analis dari Kresna Securities.

Nah, lantaran yang menjadi pemicu utama adalah saham-saham komoditi, ia menyarankan untuk sementara menjauhi efek dari sektor ini. Lantas bagaimana dengan saham lainnya? Sang analis hanya berani menyarankan saham consumer goods dan telekomunikasi, yang bakal kecipratan rezeki Idul Fitri. Itu pun, lanjutnya, hanya layak dijadikan sarana trading jangka pendek. “Tapi kalau investor tak mempunyai keberanian, sebaiknya pegang uang kontan saja,” katanya.

Dengan uang tunai di tangan, investor bisa wait and see untuk mengamati kemungkinan yang bakal terjadi dalam beberapa hari ke depan serta bisa segera melakukan penyesuaian portfolio. Soalnya, pergerakan di bursa saat ini benar-benar sulit ditebak. Si analis memperkirakan, kondisi fluktuatif ini akan berlangsung hingga laporan keuangan kuartal ke-III terbit di bulan Oktober. [mdr]

Permintaan Produk Melesat, LMPI Perluas Pabrik

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) diperkirakan akan melesat ke level Rp500, terkait pertumbuhan kinerja yang signifikan.

Hingga pertengahan tahun ini, permintaan akan produk plastik dan rumah tangga yang dihasilkan oleh LMPI melonjak tajam, baik dari pasar domestik maupun internasional.

Dari dalam negeri, permintaan produk plastik dan rumah tangga bertumbuh 46%. Sedangkan dari luar negeri, konsumen menyumbang pertumbuhan permintaan sebesar 28% hingga pertengahan tahun ini.

Untuk mengantisipasi permintaan yang melonjak ini, pihak LMPI akan memperluas lahan pabrik dan menambah jalur produksinya. Dengan perluasan ini, kapasitas produksinya akan meningkat dari 35 ribu ton per tahun menjadi 55 ribu ton per tahun.

Ekspansi ini disebut–sebut akan membawa harga saham LMPI mencapai level Rp 500 per lembarnya.

Pada perdagangan Senin (8/8) kemarin, saham LMPI ditutup menguat Rp60 (21,42%) ke level Rp340 per lembarnya. [ast]

Awas! IHSG Masih Berpotensi Koreksi Lagi

INILAH.COM, Jakarta - IHSG diperkirakan akan kembali menguji level 3.714, dengan target testing support kuat di sekitar 3.704 pada perdagangan Selasa (9/8).

Demikian dikutip dari hasil riset pengamat pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko kemarin. Ini merupakan level kritis berikut yang harus dicermati, karena terdapat 2 support kuat di sekitar area ini, yaitu support awal uptrend bulan Juni lalu di 3.704 dan support garis MA 200 di 3.707. "Saya berharap koreksi ini akan tertahan di level ini," katanya.

Secara TA, penurunan IHSG sudah mulai terbatas. Terlihat perlawanan dari pihak buyer mulai muncul di sesi 2. Namun penutupan indeks yang di bawah support uptrend jangka menengah yaitu dilevel 3.855, membuat peluang penurunan masih akan berlanjut.

Namun jika support 3.704 tersebut masih dapat dijebol ke bawah, maka indeks akan menuju level 3.648 sebagai target berikutnya. Sedangkan untuk resisten terdekat berada di 3.899, dengan resisten selanjutnya berada di 3.955.

Indikator secara umum, masih bergerak negatif, dimana Stochastic dan MACD bergerak strong downtend. Volume transkasi pada saat terjadi penurunan juga masih tinggi diatas rata-rata.

Bursa Global masih mengalami tekanan jual akibat sentimen dipangkasnya rating kredit AS oleh lembaga pemeringkat S&P pada akhir penutupan perdagangan pekan lalu. Meski para menteri keuangan di negara-negara G7 berniat menjaga stabilitas market, dengan melakukan program pembelian obligasi Italia dan Spanyol.

Namun reaksi pasar atas pemangkasan peringkat kredit AS berdampak terhadap psikologis investor dan masih belum bisa ditenangkan, karena kekhawatiran akan ada penurunan peringkat berikutnya jika kondisi ekonomi AS memburuk.

Dini hari tadi, indeks Dow Jones turun 634,76 poin atau 5,55% ke level 10.809,85. Indeks S&P 500 turun 79,92 poin atau 6,66% ke level 1.119,46. Indeks Nasdaq turun 174,72 poin atau 6,90% atau ditutup di level 2.357,69.

Mengawali pekan ini, kemarin IHSG ditutup turun 71,377 poin (1,83%) ke level 3.850,2, total transaksi senilai Rp9,474 triliun, foreign mencatatkan net sell Rp1,136 triliun dan rupiah ditutup melemah di posisi Rp8.510/US$.

Aksi Sell Off AS Tulari Bursa Asia Pagi Ini

Headline
INILAH.COM, Sydney - Saham Asia memperpanjang koreksi pada awal perdagangan Selasa (9/8), setelah sell-off besar-besaran di pasar ekuitas AS semalam, yang melemahkan kepercayaan investor yang sudah rapuh.

Indeks Nikkei Stock Average turun 3,8% di menit awal perdagangan, sedangkan indeks Australia, S & P / ASX 200 kehilangan 3,9%. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,7%.

Keterpurukan itu terjadi setelah Dow Jones Industrial Average mencetak penurunan keenam terbesar dalam sejarah semalam, menyusul penurunan peringkat utang AS akhir pekan lalu.

"Langkah downgrade yang belum pernah terjadi sebelumnya menciptakan bayang-bayang lain pada pemulihan AS dan pada kecepatan pemulihan global," kata Andrew McLaughlin, kepala ekonom di Royal Bank of Scotland.

Saham bank anjlok tajam di perdagangan Amerika, dengan Bank of America Corp terjun 20%. Kerugian keuangan AS tersebut menular ke Asia. Nomura Holdings Inc turun 5,5% dan Mitsubishi UFJ Financial Group Inc turun 4,3% di Tokyo. Di Sydney, National Australia Bank Ltd kehilangan 4% dan Macquarie Group Ltd anjlok 5,5%.

Sementara itu, dengan patokan minyak mentah berjangka Nymex di bawah US$ 80 per barel pada perdagangan elektronik, di tengah kekhawatiran tentang tren permintaan, perusahaan energi juga berjuang, dengan Inpex Corp Jepang turun 5,9%, dan Woodside Petroleum Ltd Australia turun 4,4%. [ast]

Bursa Jepang Ikuti Anjloknya Wall Street

Headline
INILAH.COM, Los Angeles – Bursa saham Jepang merosot pada awal perdagangan Selasa (9/8), menyusul koreksi Wall Street semalam.

Indeks Nikkei Stock Average terjun 3,5% menjadi 8.776,48, dan Topix turun 3,2% menjadi 757,71.

Dengan Nasdaq yang jatuh hampir 7% di perdagangan AS, saham teknologi menanggung beban terberat, dengan Renesas Electronics Corp anjlok 5,4%, Advantest Corp turun 5,7%, dan Elpida Memory Inc tidak jelas arahnya di awal perdagangan.

Saham lainnya, seperti saham pengiriman Mitsui OSK Lines Ltd, turun 5,3%, utilitas Tokyo Electric Power Co, turun 11,3%, dan saham keuangan utama Nomura Holdings Inc jatuh 5%. [ast]

UNTR Bidik Penjualan Alat Berat Capai 700 Unit

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Manajemen PT United Tractors Tbk (UNTR) memperkirakan penjualan alat berat sekitar 700 unit pada Juli 2011.

"Perkiraan penjualan alat berat sekitar 700 pada Juli 2011. Distribusi penjualan kebanyakan untuk bisnis pertambangan," ujar Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara Loebis, Senin (8/8) malam.

Sebelumnya perseroan mencatatkan penjualan alat berat sebesar 742 unit pada Juni 2011 sehingga total penjualan hingga mencapai level 4.333 unit hingga semester pertama 2011. Lebih lanjut ia mengatakan, perseroan juga merevisi target penjualan menjadi 7.500-8.000 unit alat berat pada 2011. Perseroan masih memimpin market share penjualan alat berat. Kontribusi penjualan alat berat masih akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perseroan.

Sara menuturkan, saat ini perseroan memang mengembangkan bisnis tambang batu bara. Perseroan mulai melakukan akuisisi konsesi dan perusahaan batu bara seperti akuisisi Tuah Turangga Agung, PT Asmin Bara Baronang, PT Bukit Enim Energi senilai US$20 juta. Selain itu, perseroan juga telah melakukan perjanjian jual beli saham perusahaan batu bara PT Duta Sejahtera dan PT Duta Nurcahya.

Sara mengatakan, tambang-tambang batu bara yang baru diakusisi mulai produksi paling cepat pada 2013. Kontribusi bisnis batu bara ini masih kecil sekitar 10%. Kontribusi ini pun masih dilihat dari perhitungan harga batu bara.

"Kita harus melakukan akuisisi tambang batu bara mulai sekarang bila tidak maka akan terlambat. Tambang batu bara baru akan mulai produksi 2013 dan itu volumenya kecil, jadi kontribusinya masih di bawah 20%," jelas Sara. [hid]

Terkoreksi 3,9%, bursa Australia masih melanjutkan koreksi

Terkoreksi 3,9%, bursa Australia masih melanjutkan koreksi
SYDNEY. Mayoritas bursa saham Australia tergerus hebat. Bursa Negeri Kanguru itu terus melanjutkan penurunan yang sudah mencatatkan penurunan sebesar 20% dari level tertingginya pada April 2010. Anjloknya bursa saham Australia masih terkait dengan pemangkasan kredit rating AS oleh Standard & Poor's.

Pada pukul 10.19 waktu Sydney, indeks S&P/ASX 200 Australia anjlok 3,9% menjadi 3.830,1 pada pukul 10.19 waktu Sydney.

Sejumlah saham yang mempengaruhi pergerakan bursa Australia diantaranya: Billabong International Ltd yang turun 6%, BHP Billiton Ltd yang turun 3,4%, dan National Australia Bank Ltd yang anjlok 3,6%.

"Sepertinya sentimen yang mempengaruhi saat ini adalah kepercayaan investor. Anda akan melihat seberapa efektif kepercayaan dan persepsi mengambilalih realitas. Ini menjadi resiko terbesar bagi investor pasar saham," papar James Holt, director of BlackRock Investment Management (Australia) Ltd.

WINS panen kontrak baru jasa sewa kapal

WINS panen kontrak baru jasa sewa kapal
JAKARTA. Jasa penyewaan kapal PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) laris manis. Agustus ini, perusahaan penunjang jasa angkutan lepas pantai ini memperoleh dua kontrak baru untuk menambah pundi-pundi pendapatannya.

Dalam keterbukaan informasi pada Bursa Efek Indonesia, Senin (8/8), WINS melalui anak usahanya PT Wintermar memperoleh kontrak dari PT Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO). Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 11,3 juta.

Dalam kontrak ini, Wintermar akan menyediakan satu unit kapal jenis Multi Purpose Supply atau Personal Carries tipe kelas B. "Kontrak tersebut akan berlaku di semester kedua tahun ini," kata Pek Swan Layanto, Investor Relation Wintermar Offshore Marine, dalam keterbukaan informasi di BEI.

Sekadar informasi, PHE WMO bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas di Indonesia, dan operator dari West Madura Production Sharing Contract (PSC).

Selain itu, Wintermar juga memperoleh kontrak tiga tahun dari West Natuna Transportation System (WNTS). Ini adalah konsorsium tiga perusahaan minyak dan gas internasional yaitu ConocoPhillips, Star Energy, dan Premier Oil.

Wintermar nantinya akan menyediakan tiga unit kapal jenis Pipeline Protection Vessels (PPV). Ketiga kapal ini akan digunakan untuk proyek pipa tekanan tinggi berdiameter 28 inci sepanjang 600 kilometer, dari ladang gas West Natuna ke Singapura. "Ladang gas ini merupakan sumber energi penting bagi kompleks industri di Singapura," kata Pek Swan. WINS memperkirakan, nilai kontrak ini mencapai US$ 12,5 juta.

Kontrak ini akan berlaku hingga Juli 2011.

Kontrak baru ini akan menambah catatan kontrak WINS. Sampai akhir Juli lalu, WINS telah mengantongi 24 tender dengan nilai total kontrak sebesar US$ 122 juta. Nilai kontrak ini melampaui target manajemen yaitu US$ 93,6 juta yang rencananya didapatkan dari 42 kontrak.

Reza Priyambada, Managing Research Indosurya Asset Management menilai, WINS kompetitif dalam memenangkan tender karena memiliki kapal-kapal berusia muda. Dengan kapal yang lebih muda perseroan bisa lebih efesien baik untuk pemakaian bahan bakar dan waktu yang lebih cepat dalam pengangkutan.

Dengan kontrak baru, tersebut Reza merevisi targetnya. Dia memproyeksikan, WINS bisa mencapai pendapatan Rp 950 miliar di akhir tahun ini dan laba bersih Rp 180 miliar. “Tapi harus diperhatikan juga berapa realisasi kontrak untuk tahun ini," kata dia, kemarin.

Menurut Reza, dengan waktu yang tersisa hingga akhir tahun ini WINS masih berpotensi untuk mendapatkan kontrak-kontrak baru lagi.

Keuangan sehat

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, WINS bukan hanya rajin menambah kontrak baru. Emiten pelayaran yang menjadi penghuni bursa sejak Oktober 2010 ini membukukan kinerja yang ciamik juga.

Sampai akhir Juni 2011, WINS memperoleh pendapatan Rp 472,23 miliar. Jika dibandingkan dengan pencapaian di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 270,31 miliar, pendapatan tumbuh 74,70%. Dengan pencapaian itu, WINS mengantongi pertumbuhan untung sebesar 67,65% menjadi Rp 78,63 miliar.

Meski tipis, perusahaan juga bisa menguruskan utang sebesar 0,95% menjadi Rp 978,03 miliar. Sedangkan ekuitas bertambah 8,95% menjadi
Rp 1,19 triliun. Secara keseluruhan, aset WINS bertambah 4,32% menjadi Rp 2,17 triliun.

Sebelumnya Pek Swan menyatakan, pencapaian kontrak tersebut akan memudahkan emiten itu mencapai target pertumbuhan sebesar 20% untuk pendapatan dan 45% untuk laba bersih.

Itu artinya, perusahaan menargetkan pendapatan sekitar Rp 825 miliar dan laba bersih Rp 153,77 miliar. Harga WINS, kemarin, melemah 8,97% dari penutupan akhir pekan lalu menjadi Rp 355 per saham.

Harga emas kembali sentuh rekor tertinggi di New York kemarin malam

Harga emas kembali sentuh rekor tertinggi di New York kemarin malam
NEW YORK. Harga emas kemarin malam kembali menembus rekor baru. Hal ini terjadi setelah Standard & Poor's memangkas peringkat utang AS. Kondisi ini membuat pasar saham dan komoditas anjlok akibat kecemasan perlambatan ekonomi global.

Sekadar informasi saja, S&P 500 Index turun 5,7%. Sementara Thomson Reuters/Jefferies CRB Index dari 19 material menyentuh 317,6, terendah sejak 17 Desember.

Catatan saja, kontrak harga emas untuk pengantaran Desember naik US$ 61,40 atau 3,7% menjadi US$ 1.713,20 per troy ounce pada pukul 13.45 di Comex, New York. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak 19 Maret 2009 lalu. Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ke posisi US$ 1.721,90 per troy ounce, level tertinggi sepanjang sejarah.

"Ada pembelian emas secara besar-besaran karena kondisi tidak pasti perekonomian AS. Untuk harga emas, langit adalah batasannya," jelas Matthew Zeman, strategist Kingsview Financial di Chicago.

Zeman memprediksi, harga emas bisa menyentuh level US$ 2.000 dalam beberapa minggu ke depan.

Potensi rebound tipis

Keberhasilan indeks saham bangun di sesi kedua pada perdagangan awal pekan membesarkan hati para analis. Mereka memprediksi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hari ini, berpeluang mengalami rebound.

Kepala Riset Recapital Securities Pardomuan Sihombing memprediksi, IHSG, Selasa (9/8), bergerak di kisaran 3.780-3.920. "Volatilitas masih tinggi, tapi ada potensi rebound," ujar dia. Prediksi Pardomuan ini merujuk pada selective buying yang berlangsung pada sesi perdagangan kedua, Senin (8/8).

Sentimen penurunan peringkat utang Amerika Serikat, ujar Pardomuan, belum berdampak ke fundamental ekonomi Indonesia. "Dampaknya lebih psikologis, pasar kaget," kata Pardomuan.

Analis Sinarmas Securities Eddy Wijaya juga menduga indeks akan rebound hari ini, dengan support 3.737 dan resistance 3.915. "Indeks sudah turun jauh," ujar dia.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diramal juga akan bergerak fluktuatif. "Rupiah akan cooling down," tutur Kepala Market Treasury ANZ Panin Willing Bolung. Proyeksi Willing, trading range hari ini berkisar Rp 8.490 hingga Rp 8.530 per dollar AS.

Senada dengan Pardomuan, Willing menilai penurunan peringkat utang AS tidak membawa dampak langsung ke ekonomi Indonesia,
Penurunan peringkat utang AS memangkas IHSG, kemarin, hingga 1,82% menjadi 3.850,27. Sentimen yang sama kemarin menjadi pendorong rupiah hingga menguat 0,27%. Kurs di pasar spot, kemarin, Rp 8.525 per dollar AS.

Analis meramalkan Nikkei dibawah level 9.000

Analis meramalkan Nikkei dibawah level 9.000
TOKYO. Indeks Nikkei kemungkinan akan terus melemah setelah bursa Wall Street tumbang. Analis para modal memperkirakan Nikkei akan berada di level 9.000.

Analis mengatakan, investor tetap menghindari investasi berisiko kendati valuasi pasar Tokyo telah sangat murah. "Kami melihat pelemahan ini akan tergantung pada aksi Federal Reserve," kata Fumiyuki Nakanishi, analis SMBC Friend Securities. "Investor akan melepas saham dan berganti ke surat utang."

Asal tahu saja, indeks bursa Amerika Serikat tumbang pasca penurunan peringkat surat utang. Para investor melakukan aksi jual besar-besar, kemarin.

Saat ini pelaku pasar menanti hasil rapat Federal Open Market Commitee yang akan digelar pada Selasa (9/8). Salah satu yang dinanti adalah apakah bank sentral Amerika akan mampu menghasilkan kebijakan moneter yang mampu mengangkat keterpurukan pasar.

Selain faktor itu, analis mengatakan indeks Nikkei juga terpengaruh oleh krisis utang Eropa. Para investor juga menanti data inflasi China yang akan dikeluarkan pada hari ini (9/8).

Bila ramalan analis ini benar, berarti Nikkei telah melemah selama empat hari berturut-turut. Dan bila ternyata anjlok dibawah 9.000, maka level ini merupakan pertama kali terjadi sejak 17 Maret lalu.

Trader: Tak ada penarikan likuiditas di pasar AS

Trader: Tak ada penarikan likuiditas di pasar AS
NEW YORK. Meskipun Wall Street mengalami penurunan terbesar sejak Desember 2008, para trader menilai, tidak ada tanda-tanda penarikan likuiditas seperti kejadian selloff yang terjadi pada Mei 2010 lalu.

Sekadar informasi, indeks Standard & Poor\'s 500 melorot 6,7% menjadi 1.119,46 pada pukul 16.00 waktu New York. Ini merupakan level terendah harian kemarin. Jika ditotal, dalam tiga hari terakhir, indeks S&P sudah turun sebesar 11% dan jatuh ke level terendah sejak September 2010.

Lebih dari 30 saham mengalami penurunan untuk setiap satu saham yang naik. Ini merupakan selloff terbesar sejak 2004. Selain itu hampir 18 miliar saham berpindah kepemilikan pada perdagangan kemarin, yang merupakan volume kelima tertinggi sejak pertengahan 2008.

"Penurunan yang terjadi masih cukup wajar. Saya melihat tidak ada isu likuiditas hari ini, seperti terjadinya crash. Kejadian hari ini (kemarin) sangat berbeda," jelas Mark Turner, head of sales trading Instinet Group Inc di New York. Dia menambahkan, pasar saham kolaps terjadi akibat rendahnya penawaran yang masuk. "Nah, itu tidak terjadi pada hari ini," imbuhnya.

Indeks S&P Anjlok 6%, Wall Street Memerah

Headline
INILAH.COM, New York - Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan saham Senin (8/8) dipengaruhi indeks S&P 500 turun lebih dari 6% karena kekhawatiran resesi dan rating utang Amerika Serikat di down grade jadi AA+.

Aksi jual membuat S&P 500 mencatatkan level terendah sejak 2008 di mana setiap saham masuk teritori negatif. Total volume perdagangan saham sebesar 17,89 miliar saham di bursa saham New York, the American Stock Exchange, dan Nasdaq. Volume perdagangan saham lebih besar dua kali dari rata-rata harian senilai 8,47 miliar saham.

"Kita mulai melihat kenyataan aksi jual yang disorder jauh lebih dari yang kita lihat. Apalagi berdasarkan indeks VIX Kita mulai masuk dalam kepanikan," ujar Head of Active Equities Northern Trust Matthew Peron, seperti dikutip dari yahoofinance.com.

Ada persepsi Washington tidak dapat menyelesaikan masalah utang dan mengatasi pertumbuhan ekonomi melambat sehingga aksi jual pun terjadi di bursa saham. Hal ini dipengaruhi pernyataan dari Presiden Barack Obama yang menawarkan berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah fiskal dan ekonomi.

Kekhawatiran perekonomian Amerika Serikat juga diikuti dengan masalah utang Eropa di mana inisiatif terakhir untuk membeli obligasi Itali dan Spanyol jauh dari menyelesaikan program untuk masalah krisis utang zona Eropa.

CBOE Volatility Index naik 50 dari 48.
Indeks S&P 500 turun 17,9% dari penutupan tertinggi pada 29 April.
Selain itu, indeks Dow Jones pun ditutup di bawah 11.000 pada Senin (8/8).

Indeks Dow Jones turun 634,76 poin atau 5,55% ke level 10.809,85. Indeks S&P 500 turun 79,92 poin atau 6,66% ke level 1.119,46. Indeks Nasdaq turun 174,72 poin atau 6,90% atau ditutup di level 2.357,69.

Sementara itu, semua sektor masuk S&P turun lebih dari 3,5% adapun sektor paling sensitif yaitu perbankan dan komoditas. Indeks sektor keuangan S&P turun 10% sementara indeks sektor energi S&P turun 8,3%, dan US crude oil futures berada di level US$81,31.

Saham Bank of America turun 20,3% ke level US$6,51. Saham ini mencatatkan penurunan terbesar di bursa saham New York.

Bursa saham global menjual lebih dari US$1,35 triliun pada Senin (8/8) berdasarkan indeks MSCI World pun turun 5,2%. Indeks dimulai dengan nilai pasar US$26,42 triliun pada minggu ini. S&P 500 saja kehilangan nilai perdagangan US$729,3 miliar atau 6,66% pada Senin.

Seperti diketahui, pada penutupan perdagangan saham Jumat lalu S&P memotong rating kredit Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+. Presiden Obama pun menyalahkan downgrade ini di Washington dan menawarkan rekomendasi untuk mengurangi defisit federal.

Setiap 66 saham turun untuk setiap saham naik di bursa saham New York, dan 22 saham turun untuk setiap saham naik. [hid]

Pertemuan The Fed Bakal Dongkrak Rupiah

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (9/8) diprediksi menguat. Pasar merespon FOMC The Fed yang bakal menjaga pelonggaran moneternya.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, potensi penguatan rupiah hari ini karena fokus pasar pada The Fed Open Market Committee (FOMC) Meeting pada Selasa (9/8) ini atau Rabu (10/8) pagi WIB. Karena itu, rupiah cenderung menguat.

Pasalnya, lanjut Firman, pasar mengantisipasi, bahwa The Fed akan menjaga pelonggaran moneternya sehingga jadi tekanan bagi dolar dan otomatis menguntungkan rupiah. "Karena itu, rupiah cenderung menguat dan akan bergerak dalam kisaran 8.480-8.510 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Hanya saja, imbuh Firman, penguatan rupiah akan terbatas oleh pelemahan bursa saham global, meskipun koreksi IHSG kemarin, diminimalisasi oleh pembelian Bank Sentral Eropa (ECB) atas obligasi Italia dan Spanyol di sesi dua. "Investor sangat mencemaskan outlook ekonomi dunia di tengah krisis utang zona euro yang belum mereda dan ancaman perlambatan ekonomi AS," ucapnya.

Karena itu, dikatakan Firman, kurang cukup alasan untuk memegang aset cukup lama. "Bursa saham berpeluang pulih jika Federal Rerserve (Fed) mau menambah stimulus berikutnya sekaligus sebagai sinyal Quantitative Easing (QE) lanjutan," imbuh Firman.

Asal tahu saja, kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (8/8) ditutup menguat 43 poin (0,50%) ke level 8.500/8.510 per dolar AS.

Bursa Regional Kembali Terkapar, IHSG Bakal Tertular

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 71 poin (1,83%). Koreksi IHSG tercatat paling tipis di Asia yang rata-rata turun lebih dari 2% merespons penurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan, Senin (8/8/2011), IHSG terkoreksi 71,377 poin (1,83%) ke level 3.850,266. Sementara Indeks LQ 45 terpangkas 11,347 poin (1,64%) ke level 681,946.

Koreksi tajam IHSG diprediksi masih akan berlanjut karena bursa-bursa regional masih berjatuhan. Investor masih akan melanjutkan aksi jualnya meski posisi IHSG kini sudah sangat oversold. IHSG pada perdagangan Selasa (9/8/2011) diprediksi masih akan bergerak melemah mengikuti irama bursa regional.

Sentimen negatif datang dari bursa Wall Street yang ambruk merespons penurunan peringkat AS. Investor melakukan aksi jual besar-besaran karena mengkhawatirkan dampak dari penurunan peringkat, sekaligus kondisi perekonomian AS yang masih rentan.

Pada perdagangan Senin (8/8/2011), indeks Dow Jones ditutup ambles 634,76 poin (5,55%) ke level 10.809,85. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 79,92 poin (6,66%) ke level 1.119,46 dan Nasdaq merosot 174,72 poin (6,90%) ke level 2.357,69.

Mengikuti kejatuhan Wall Street, bursa-bursa regional pada Selasa pagi ini langsung terkapar. Berikut pergerakan bursa regional pada Selasa pagi ini:
  • Indeks KOSPI merosot 61,57 poin (3,29%) ke level 1.807,88.
  • Indeks S&P/ASX merosot 147,1 poin (3,7%) ke level 3.839.
  • Indeks Nikkei melemah 324,08 poin (3,56%) ke level 8.773,48.
Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

eTrading Securities:

IHSG kemarin kembali ditutup turun 71 point (-1.82%) ke level 3,850.27 masih terkena sentimen negatif setelah peringkat utang AS resmi diturunkan oleh S&P dari level tertinggi. Seluruh sektor kemarin mengalami penurunan dan total transaksi tercatat sebesar 19.6 juta lot atau setara dengan Rp9.5 triliun. Tercatat sebanyak 50 saham mengalami kenaikan, 200 saham mengalami penurunan, 52 saham tidak mengalami perubahan dan 125 saham tidak diperdagangkan sama sekali. Saham-saham yang menjadi penahan turunnya indeks kemarin a.l. INTP, PGAS, SMGR, AALI dan TLKM sementara yang menjadi pemberat terbesar bursa hari ini a.l. BBCA, BBRI, BUMI, GGRM dan EXCL. Asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp1.1 triliun dengan saham yang paling banyak di jual adalah BBRI, BBCA, BBNI, INDF dan ASII.

Secara teknikal, pada perdagangan kemarin (8/8) IHSG kembali terkoreksi dengan candlestick membentuk pola hanging man yang diharapkan mampu mengindikasikan sinyal bullish reversal atau potensi rebound, namun perlu diwaspadai dari pergerakan indikator seperti yang masih belum mengindikasikan sinyal reversal hal ini terlihat darri indikator stochastic, MACD dan RSI yang masih bergerak downtrend. Pada perdagangan hari ini (9/8), diperkirakan IHSG akan bergerak pada range 3773-3918 dengen kecenderungan masih melanjutkan koreksinya. Sementara itu, saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. INTP, PGAS, dan AALI.

Panin Sekuritas:

Setelah sempat anjlok -5%, IHSG akhirnya berhasil menipiskan pelemahannya pada perdagangan kemarin. Panic selling yang terjadi di pasar berangsur pulih oleh aksi bargain hunting terhadap saham-saham yang turun terlampau tajam. Penurunan rating hutang AS oleh S&P ditenggarai menjadi katalis negatif bagi bursa regional.Untuk jangka pendek kami perkirakan indeks masih akan dipengaruhi oleh perkembangan dari perekonomian global. Sementara hari ini kami perkirakan indeks akan bergerak fluktuatif pada kisaran support-resistance 3.801-3.930. Dapat diperhatikan peluang trading pada saham bluechip yang sudah oversold.

Millenium Danatama:

Melihat perkembangan ekonomi dan keuangan Amerika dan Uni Eropa terkini yang tidak terlalu bagus, membuat investor global, khususnya fund manager asing untuk mengamankan porftofolionya, khususnya di bursa saham Asia yang selama ini sudah mengalami kenaikan yang cukup signifikan seperti bursa saham Indonesia.
Dengan situasi ketidakpastian seperti saat ini, maka IHSG kemungkinan masih akan melanjutkan koreksi pada perdagangan hari ini dengan rentang 3488-3900. Saham-saham unggulan masih akan berpotensi terkoreksi, walaupun beberapa saham sebenarnya sudah dalam nilai yang cukup wajar untuk dibeli dan berpeluang untuk kembali menguat, seperti PGAS, INDF, ICBP, CPIN, BMRI, ANTM, dan ASII.

(qom/qom)

UNTR Naikkan Target Penjualan Jadi 7.500 Unit Alat Berat

Gb
Jakarta - PT United Tractors menaikkan target penjualan alat beratnya dari semula 7.000 unit menjadi 7.500 unit. Kenaikan target itu didasarkan angka penjualan selama semester I-2011 yang telah melampaui target.

Selema semester I-2011, anak perusahaan Astra International tersebut telah mencapai 4.300 unit untuk penjualan alat berat. Sampai dengan pertengahan tahun ini, separuh dari target telah terlampaui (dari target awal).

"Penjualan alat berat bisa sampai 7.500 unit sampai akhir tahun ini," ujar Corporate Secretary UNTR, Sara Loebis, ketika ditemui di Jakarta, Senin malam (8/8/2011)..

Untuk penjualan alat berat Juli 2011 lalu, UNTR berhasil mencapai angka kisaran 700 unit. Kesemua alat berat tersebut mayoritas terjual untuk sektor pertambangan. Ini mengalami kenaikan menjadi normal ketimbang penjualan Mei 2011 yang turun akibat terganggu dari pengaruh gempa dan tsunami Jepang beberapa waktu lalu.

Namun, tambah Sara, penjualan alat berat di bulan Agustus diperkirakan akan mengalami penurunan. Mengingat bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ramadan. Ditambah juga dengan siklus akhir tahunan yang biasa penjualan mengalami penurunan.

"Tidak setiap bulan bisa terjual sampai 700, tapi di Agustus ini diperkirakan gak sampai 700 unit. Namun, di bulan-bulan biasa bisa mencapai 700," ungkapnya.

(nrs/qom)

Rekor Harga Emas Belum Berhenti, Minyak Merosot 5%

New York - Carut marut di pasar finansial merespons penurunan peringkat Amerika Serikat, turut berdampak ke pasar komoditas. Harga emas kembali menciptakan rekor tertingginya, sementara harga minyak mentah justru merosot hingga 5%.

Pada perdagangan Senin (8/8/2011) di pasar New York, harga emas di pasar spot melonjak hingga 3,1% menjadi US$ 1.714,09 per ounce. Harga emas sempat menembus US$ 1.719,99, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa jika dikonversi ke poundsterling dan euro.

Harga perak juga ikut melonjak 1,6% menjadi US$ 38,90 per ounce. Harga emas berjangka untuk pengiriman Desember ditutup naik US$ 61,40 menjadi US$ 1.713,20 per ounce. Perdagangan mencapai 300.000 lot, salah satu yang terbesar sepanjang tahun ini.

Kenaikan harga emas hingga US$ 50 tersebut juga merupakan kenaikan harian terbesar sejak November 2008, ketika pasar finansial jatuh menyusul bangkrutnya Lehman Brothers.

Lonjakan harga emas terjadi berbarengan dengan merosotnya pasar saham global. Bursa Wall Street bahkan mengalami kejatuhan terdalam, dengan indeks Dow Jones kembali terpuruk di bawah level 11.000.

Reaksi pasar tersebut terjadi setelah AS kehilangan peringkat AAA miliknya, akibat belitan tingginya utang yang sudah mencapai 100% PDB. Para pialang kini menunggu pertemuan Bank Sentral AS pada Selasa ini untuk mencari apa langkah yang akan diambil pemerintah AS mengatasi kekacauan pasar finansial kali ini.

"Orang-orang khawatir tentang gagal bayar di Eropa, inflasi di AS karena pencetakan uang," ujar Evan Smith, manajer portofolio US Global Investor seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/8/2011).

"Emas akan terus bergerak menguat... Karena sepertinya kebijakan belanja pemerintah dan pengurangan utang tidak akan berubah dalam jangka pendek," imbuh Smith, yang perusahaannya mengelola aset hingga US$ 2,5 miliar.

Sementara harga minyak mentah dunia justru turun hingga 5% karena para pialang khawatir kekacauan perekonomian dunia akan menggerus permintaan energi.

Pada perdagangan Senin, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) light sweet tercatat merosot US$ 5,57 menjadi US$ 81,31 per barel, terendah sejak November. Minyak Brent pengiriman September juga merosot US$ 5,63 menjadi US$ 103,74 per barel.

(qom/qom)

TBIG Closing Akuisisi Infratel Pekan Ini

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) akan melakukan closing akuisisi 100 persen saham PT Mitrayasa Sarana Informasi (Infratel), perusahaan penyedia menara telekomunikasi independen pekan ini.

Hal ini disampaikan Chief Financial Officer TBIG Helmy Yusman Santoso usai acara buka puasa di Jakarta, Senin (8/8) malam. "Kita sekarang lagi tahap finalisasi. Due dilligence sudah lebih dari 60 persen. Minggu ini mau close," ujarnya.

Molornya jadwal akuisisi, menurut Helmy, karena proses due dilligence dan legal perlu klarifikasi mengingat yang namanya tower asset itu jumlahnya ratusan.

Per Juni 2011 perseroan sudah memiliki 5.381 tenant dengan 3.610 site. Perseroan berencana untuk mengakuisisi 672 tenant yang sudah menghasilkan revenue. "Sementara, akuisisi infratel merupakan yang belum menghasilkan revenue," tukasnya.

Dengan rampungnya akuisisi terhadap Infratel ini nantinya, lanjut Helmy, target di kuartal 3-2011 setidaknya sudah aman. Adapun dana akuisisi diambil dari dana hasil IPO. Namun, berapa besarnya, dia belum bersedia mengungkapnya. "Nanti, minggu ini akan dirilis," ungkapnya.

Perseroan berhasil meraup dana dari hasil IPO sebesar Rp1,1 triliun. Sebagian dana ini sudah diabsorbsi untuk pembangunan tower. Perseroan juga di awal tahun sudah mengagarkan capex sebesar US$120 juta untuk tahun ini.