Jumat, 03 Juni 2011

CTRP & Lotte MoU Kelola Mall Ciputra World

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Ciputra Property Tbk dan PT Lotte Shopping Plaza Indonesia setujui perjanjian menyewa dan mengelola seluruh area di mall Ciputra World Jakarta selama 20 tahun.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (3/6). Pernjanjian dilakukan melalui anak usaha CTRP, PT Ciputra Adigraha dengan PT Lotte Shopping Plaza Indonesia –– anak perusahaan Lotte Shopping Co. Area mall seluas 130,000 m2 ini merupakan salah satu bagian dari kawasan superblock Ciputra World Jakarta yang sedang dibangun di pusat bisnis Jakarta, Jl Prof Dr Satrio, kawasan Casablabca.

“Kami merasa senang dengan kesempatan membuka Lotte Department Store di Ciputra World Jakarta, yang merupakan salah satu superblok terbaik di Jakarta,” kata Mr. Suh Chang Suk, Presiden Direktur PT Lotte Shopping Plaza Indonesia.

Selain membuka Department Store kami sendiri dan beberapa retail lainnya dari Group, pihaknya juga akan bekerja sama dengan pemain retail lain yang telah sukses di Indonesia untuk menciptakan paradigma baru dalam pengalaman berbelanja di Jakarta.

Mall di Ciputra World diharapkan dapat beroperasi di semester kedua tahun 2012. Mall ini akan berdampingan dengan fasilitas lain di Ciputra World seperti all suite hotel Raffles, apartemen myHome serta Raffles Residence, gedung perkantoran Ciputra World, serta Ciputra Artpreneur Centre yang terdiri dari museum seni dan theatre.

Dirut Ciputra Group, Candra Ciputra menyatakan Lotte memiliki prestasi yang meyakinkan dan melayani high end market yang sesuai dengan Ciputra World. Mall ini akan menjadi tujuan yang penting di Jl. Prof. Dr. Satrio yang rencananya akan menjadi sabuk perdagangan dan belanja Jakarta.

Mall di Ciputra World diharapkan dapat beroperasi di semester kedua tahun 2012. Mall ini akan berdampingan dengan fasilitas lain di Ciputra World seperti all suite hotel Raffles, apartemen myHome serta Raffles Residence, gedung perkantoran Ciputra World, serta Ciputra Artpreneur Centre yang terdiri dari museum seni dan theatre.

Kinerja laba merosot, saham INDY lanjut melemah untuk hari yang ketiga

Kinerja laba merosot, saham INDY lanjut melemah untuk hari yang ketiga
JAKARTA. Saham Indika Energy Tbk (INDY) tumbang untuk hari yang ketiga, setelah kinerja emiten ini dilaporkan turun pada tiga bulan pertama di tahun ini.

INDY terkoreksi 1,2% ke level Rp 4.175 per saham, pada pukul 9.36 WIB. Pelemahan yang berlangsung tiga hari ini merupakan koreksi yang terpanjang sejak 29 Maret lalu.

Pada kuartal pertama tahun ini, laba bersih produsen batubara ini dilaporkan turun menjadi senilai Rp 265,2 miliar, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 291,7 miliar.

IHSG Jumat Pagi Dibuka Turun 0,4%

INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia pada perdagangan Jumat (3/6) pagi dibuka turun 18,76 poin atau 0,4% ke 3.819. Volume perdagangan mencapai 203,9 juta saham senilai Rp195,4 miliar.

Perdagangan diwarnai dengan 100 saham turun, 14 saham naik dan 53 saham stagnan. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp9,8 miliar dengan pembelian asing mencapai Rp84,8 miliar dan penjualan asing sebesar Rp75 miliar.

Indeks JII turun 4,6 poin ke 527,81, indeks ISSI turun 0,9 poin ke 123,29 dan indeks LQ45 turun 5,09 poin ke 678,37. Mayoritas sektor saham memerah kecuali sektor perkebunan yang naik 0,5 poin ke 2.4008 sedangkan penurunan terdalam dialami sektor pertambangan mencapai 26,2 poin ke 3.232,86 diikuti sektor industri dasar turun 9,6 ke 1.061,30.

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (3/6) pagi setelah euro naik sehingga meningkatkan prospek pendapatan bagi eksportir. Indeks Nikkei turun 0,2% menjadi 9.529 dan indeks Topix turun ke 822,5. Indeks Kospi turun 0,05% menjadi 2.114,35. Indeks ASX turun 0,0% ke 4.592,90. Untuk Indeks Hang Seng naik 0,1% ke 23.281,72.

Euro naik sehingga dapat memperkuat pasar saham. Walaupun kami telah memiliki data negatif soal ekonomi AS. Tetapi investor akan menahan diri," kata Juichi Waki, Strategic Senior di Nomura Holdings Inc yang dikutip dari yahoo.finance.com.

Sementara dini hari tadi penurunan bursa Wall Street mulai terbatas dan berakhir mixed. Dow Jones ditutup turun 41,59 poin (0,34%) menjadi 12.248,55, S&P 500 turun tipis 1,61 poin (0,12%) menjadi 1.312,94, namun Nasdaq ditutup naik 4,12 poin (0,15%) menjadi 2.773,31.

Investor menunggu data laporan ketenagakerjaan bulan Mei yang akan dirilis Jum'at malam ini dan mencermati pernyataan peringkat Moody`s atas utang Amerika Serikat.

Untuk saham yang menguat seperti saham UNVR naik Rp100 ke Rp14.900, AMFG naik Rp50 ke Rp7.000, BBCA naik Rp50 ke Rp7.150, BBRI naik Rp50 ke Rp6.300, EXCL naik Rp50 ke Rp5.900, HEXA naik Rp50 ke Rp6.500.

Sementara saham yang turun seperti saham UNTR turun Rp350 ke Rp22.600, IMAS turun Rp200 ke Rp8.400, ITMG turun Rp200 ke Rp46.750, PTBA turun Rp150 ke Rp21.250, MAIN turun Rp100 ke Rp5.550, SMGR turun Rp100 ke Rp9.550, TLKM turun Rp100 ke Rp7.650, AUTO turun Rp50 ke Rp16.200, BMRI turun Rp50 ke Rp7.100.

Seluruh sektor terkoreksi, IHSG dibuka melemah 0,61%

Seluruh sektor terkoreksi, IHSG dibuka melemah 0,61%
JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) beraktivitas normal di hari cuti bersama, Jumat (3/6). Pagi ini, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah sedalam 0,61% menuju posisi 3.818,365, pada pukul 09.30 WIB.

Pergerakan IHSG sejalan dengan bursa Asia yang rata-rata memerah pagi ini. Seluruh sektor terjerembab di zona merah, dengan dipimpin sektor aneka industri dan pertambangan yang masing-masing melemah 1,04% dan 1,01%.

Sebanyak 106 saham yang ada di bursa tercatat mengalami pelemahan, sementara 16 saham masih bisa menguat, dan 51 sisanya masih stagnan.

Di posisi teratas top losers ada PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang turun 4,76% ke Rp 200, PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) yang melemah 4,44% ke Rp 215, dan PT Bank Bumi Arta Tbk 9BNBA) yang turun 3,31% ke Rp 141.

Sementara itu, saham PT Apex Citra Centertex Tbk (MYTX) yang melejit 13,27% ke Rp 128 memimpin posisi top gainers. Disusul PT FKS Muti Agro Tbk (FISH) yang naik 4,74% ke Rp 1.990 dan PT Asuransi Bintang Tbk 9ASBI) yang reli 3,13% ke Rp 330.

Laju bursa Asia melambat seiring antisipasi data tenaga kerja AS

Laju bursa Asia melambat seiring antisipasi data tenaga kerja AS
TOKYO. Reli pasar saham Asia melambat dan cenderung surut seiring investor menunggu laporan bulanan pekerjaan di Amerika Serikat (AS). Data tersebut kemungkinan bakal memberikan bukti lebih lanjut goyahnya pemulihan di AS.

Indeks MSCI Asia Pasifik sedikit bergeser ke 134,49, pada pukul 10.47 di Tokyo, setelah naik sebanyak 0,4% sebelumnya. Lebih dari empat saham turun untuk setiap tiga yang naik. Meski demikian, pekan ini merupakan reli mingguan indeks regional yang pertama kalinya dalam lima pekan terakhir. Pekan lalu, saham tumbang karena kekhawatiran krisis utang Eropa dan di tengah spekulasi pemulihan global yang melambat akan mengurangi laba perusahaan.

Indeks Nikkei 225 tercatat melemah 0,32%. Sementara indeks Hang Seng naik tipis 0,10%. Adapun, indeks Australia S&P/ASX 200 turun 0,22%, dan indeks Kospi melemah 0,12%.

Hari ini, saham Honda Motor Co, yang 44% penjualannya dari Amerika Utara, tergelincir 0,8% di Tokyo. Saham Toyota Motor Corp. terkoreksi 0,6%. Sementara, saham Foster's Group Ltd. melonjak 4,9% setelah Grupo Modelo SAB de CV dan Molson Coors Brewing Co melaporkan sedang menjajaki kerjasama.

Analis senior dari Nomura Holdings Inc. Juichi Wako menyebut, penguatan euro berdampak positif pada pasar saham. "Pasar sudah menerima beberapa data buruk dari AS belakangan ini. Investor akan berada pada posisi bertahan hari ini, sambil menunggu data tenaga kerja AS," ujarnya.

Menimbang dampak penerbitan saham baru terhadap pertumbuhan BMRI

Menimbang dampak penerbitan saham baru terhadap pertumbuhan BMRI
JAKARTA. Anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terus bertambah. Bank dengan nilai aset terbesar di Indonesia akan mengakuisisi 60% saham PT Asuransi Dharma Bangsa (ADB) di kuartal ketiga tahun ini.

BMRI telah merambah bisnis asuransi dengan memiliki saham PT AXA Mandiri Financial Services. Joseph Pangaribuan, Analis Samuel Sekuritas mengatakan, segmen yang disasar ADB berbeda dengan AXA. "ADB fokus ke ritel, syariah dan usaha kecil. Sedang AXA lebih ke korporasi," kata Joseph, Selasa (31/5).

Menurut Joseph, akuisisi ADB bisa jadi tak membawa dampak signifikan bagi BMRI. Dalam hitungan Joseph, pendapatan komisi ADB tak sampai 1% jika dibandingkan dengan pendapatan total BMRI.

Jika ADB diasumsikan sudah bergabung dengan BMRI di tahun 2009, maka asuransi itu menyumbang 0,02% dari pendapatan konsolidasi bank tersebut. Joseph menilai, aksi BMRI mengakuisisi ADB lebih merupakan strategi memperluas basis nasabah.

Kredit kuat

Pertumbuhan BMRI tahun ini masih akan ditopang kredit. Apalagi, bank beraset terbesar di Tanah Air ini baru mendapat dana segar Rp 11,7 triliun, hasil rights issue.

Syaiful Adrian, Analis Ciptadana Securities menilai, rights issue berperan signifikan untuk menyokong rasio kecukupan modal minimum (CAR) BMRI hingga bank itu bisa memperbesar kredit.

CAR BMRI per akhir kuartal I-2011 sebesar 18,5%, naik dibanding posisi per akhir Maret 2010, yaitu 13,1%. Sementara kredit di kuartal I-2011 tumbuh 25% secara tahunan, lebih tinggi dari target manajemen BMRI, yaitu 20%-22%.

Joseph memperkirakan, CAR BMRI berkisar 14%-15% dalam lima tahun mendatang. Pertumbuhan kredit BMRI akan dimotori kredit ke segmen usaha kecil, mikro dan komersial.

AG Pahlevi, Analis Andalan Artha Advisindo Securities bilang, ada penyusutan dikredit korporasi. "Bagus karena risiko kredit korporasi terbesar, " kata dia dalam risetnya.

Bagi BMRI, memperbesar kredit perlu untuk memenuhi aturan rasio penyaluran kredit berbanding dana pihak ketiga (LDR). Per akhir kuartalI-2011, LDR BMRI 60%, lebih tinggi daripada posisi di akhir Maret 2010, 55%. Namun LDR BMRI masih di bawah ketentuan minimal yaitu 78%.

Syaiful memperkirakan, LDR BMRI akan naik secara bertahap menjadi masing-masing 70%, 72%, dan 75% sepanjang 2011-2013.

Joseph memprediksi, pendapatan bunga bersih BMRI tahun ini tumbuh menjadi
Rp 26,51 triliun dan laba bersih Rp 12,75 triliun.

Prediksi Syaiful, pendapatan bunga bersih dan laba bersih BMRI tumbuh menjadi masing-masing Rp 23,02 triliun dan Rp 11,52 triliun. Proyeksi Pahlevi, laba bersih bisa mencapai Rp 15,16 triliun.

Ketiga analis kompak memberi rekomendasi buy saham BMRI. Joseph memasang target harga Rp 8.300 berdasarkan rasio price to book value (PBV) 3,7 kali. Target Pahlevi Rp 8.500 berdasarkan PBV 3,5 kali. Saat ini, BMRI diperdagangkan dengan PBV 3 kali.

Target harga Syaiful paling tinggi, Rp 9.200 per saham, yang mencerminkan rasio PBV sebesar 3,5 kali-2,4 kali sepanjang 2011-2012

Harga BMRI, Rabu (1/6), terperosok 0,69% menjadi Rp 7.150 per saham

IHSG Lesu, Rupiah Stabil

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi setelah libur sehari. IHSG langsung mengikuti trend pelemahan, setelah kemarin absen dari hingar bingar melorotnya bursa regional.

Pada perdagangan preopening, IHSG tercatat melemah tipis 11,531 poin (0,30%) ke 3.826,230. Indeks LQ 45 melemah 2,967 poin (0,43%) ke level 679,325.

Dan pada perdagangan Jumat (3/6/2011), IHSG tercatat melemah 17,432 poin (0,45%) ke level 3.820,329. Indeks LQ 45 juga melemah 3,574 poin (0,52%) ke level 678,718.

Sementara nilai tukar rupiah dibuka bergerak tipis ke level 8.535 per dolar AS, dibandingkan penutupan Rabu lalu di level 8.538 per dolar AS.

IHSG langsung merosot dipicu oleh melorotnya saham-saham sektor pertambangan. Saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tercatat mengalami tekanan jual terbesar, dengan saham turun Rp 25 menjadi Rp 2.400 senilai Rp 32,4 miliar.

Pelemahan IHSG ini beriringan dengan pelemahan mayoritas bursa-bursa regional. Pergerakan bursa Asia pagi ini adalah:
  • Indeks Komposit Shanghai naik tipis 9 poin (0,33%) ke level 2.714,18.
  • Indeks Hang Seng turun 11,19 poin (0,05%) ke level 23.242,65.
  • Indeks Nikkei-225 melemah 30,87 poin (0,32%) ke level 9.542,17.
  • Indeks Straits Times melemah 6,92 poin (0,22%) kle level 3.153,68.
(qom/dnl)

Euro Naik, Bursa Asia Menguat Tipis

Headline
INILAH.COM, Singapura - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (3/6) pagi setelah euro naik sehingga meningkatkan prospek pendapatan bagi eksportir.

Saham Jepang turun tipis dengan transaksi pendek karena data pekerjaan AS yang turun sehingga mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi global. Indeks Nikkei turun 0,2% menjadi 9.529 dan indeks Topix turun ke 822,5.

Untuk bursa Seoul stabil mengikuti penutupan Wall Street yang menguat walaupun diliputi kekhawatiran lesunya pasar tenaga kerja AS pada laporan akhir pekan ini. Indeks Kospi turun 0,05% menjadi 2.114,35.

Sementara bursa Australia bergerak tipis turun 0,1% dengan sektor penggerak adalah perbankan dan pertambangan. Saham Foster's Group dibuka naik 5% dengan rumor Molson Coors Brewing dan Meksiko Grupo Modelo akan menjajaki penawaran. Indeks ASX turun 0,0% ke 4.592,90.

Untuk Indeks Hang Seng naik 0,1% ke 23.281,72 yang ditopang MGM Resorts International naik 1,7% dan Hongkon Miliarfer Pansy Ho dibuka naik 5,5% Saham Telecommunication Group naik 5,05% setelah Bursa Efek Hong Kong menyetujui rencana spin off bisis telekomunikasi di Hong Kong. Sementara bursa Asia Tenggaran seperti indeks FTSE turun 0,1% dan indeks KLSE naik 0,1%.

Euro naik sehingga dapat memperkuat pasar saham. Walaupun kami telah memiliki data negatif soal ekonomi AS. Tetapi investor akan menahan diri," kata Juichi Waki, Strategic Senior di Nomura Holdings Inc yang dikutip dari yahoo.finance.com.

Toyota Astra dan Serasi Autoraya bersaing tawarkan obligasi

JAKARTA. Keramaian pasar obligasi di Tanah Air berlanjut. Pekan ini, dua perusahaan merilis rencana emisi obligasi senilai Rp 1,55 triliun. Mereka adalah PT Serasi Autoraya (SERA) dan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS). SERA berniat menerbitkan obligasi Rp 800 miliar, sedang TAFS senilai Rp 750 miliar.

Obligasi Serasi Autoraya terdiri atas empat seri, masing-masing bertenor 370 hari, dua tahun, tiga tahun, dan empat tahun. Bunga yang dtawarkan untuk empat seri obligasi tersebut berkisar 7,5% hingga 10,5%.

Pongki Pamungkas, Presiden Direktur Serasi Autoraya, menjelaskan, hasil emisi obligasi akan dimanfaatkan untuk membeli 4.000 unit kendaraan. "Sampai akhir tahun ini, kami targetkan penambahan unit baru hingga 1.000 unit," ujar dia, Rabu (1/6).

Surat utang dari perusahaan milik PT Astra International Tbk dan Arya Kharisma ini mendapat peringkat A+ dari Pemeringkat Efek Indonesia.

SERA sudah menunjuk beberapa sekuritas sebagai underwriter, yakni Victoria Sekuritas, OSK Nusadana Securities, dan Indo Premier Securities. Adapun Bank Mega mereka dapuk sebagai wali amanat. "Penawaran awal (bookbuilding) dijadwalkan mulai 1-15 Juni ini," kata Pongki.

Toyota Astra juga merilis obligasi dalam tiga seri. Seri A bertenor satu tahun dengan bunga 7,5%-8,75%.Seri B bertenor dua tahun menawarkan bunga 8,25%-9,25%. Dan seri C berbunga 9%-9,75% yang berjangka waktu tiga tahun. "Bunganya akan kami bayarkan setiap tiga bulan," ujar Buntoro Muljono, Presiden Direktur TAFS.

Bookbuilding dijadwalkan selama 31 Mei-15 Juni 2011. Dana penjualan obligasi dialokasikan untuk modal pembiayaan kendaraan bermotor. Toyota menunjuk tiga underwriter yaitu, Trimegah Securities, HSBC Securities, dan Indo Premier Securities.

Ariawan, Analis Obligasi BNI Securities, menilai, emisi obligasi dalam waktu berdekatan akan memicu perangantar emiten untuk memberikan premium (selisih kupon obligasi dengan yield surat utang negara) terbaik kepada investor. "Yang premiumnya lebih tinggi, akan menarik investor lebih banyak," kata dia.

BEI Suspensi Saham RODA

INILAH.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian saham sementara (suspensi) saham PT Royal Oak Development Tbk (RODA) pada perdagangan saham Jumat (3/6).

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa BEI, Umi Kulsum dan Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle dalam keterbukaan informasi BEI. Suspensi ini dilakukan mempertimbangkan kondisi perseroan yang saat ini tidak memiliki pendapatan usaha.

BEI pun melakukan suspensi agar mencegah terjadinya perdagangan yang tidak wajar atas efek perusahaan tercatat. Supensi ini dilakukan di seluruh pasar mulai sesi I perdagangan pada Jumat (3/6). [hid]

BUMI Bertenaga ke Level Rp4.000 Akhir Juni

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Laju saham BUMI, Jumat (3/6) diprediksi naik tipis seiring reversal naik harga minyak ke atas US$100 per barel. Di sisi lain, listingnya BUMI Inc pada 17 Juni, juga bisa menggiring harga ke level Rp4.000 akhir Juni ini.

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan ini salah satunya dipicu oleh tren harga batu bara yang terus naik seiring balik arah menguat harga minyak mentah dunia ke atas US$100 per barel. Bahkan, sebelumnya, harga minyak sempat mencapai US$103 per barel.

Dia menegaskan, harga minyak mentah dunia memiliki peluang menguat ke level US$105 per barel dalam jangka pendek. “Karena itu, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp3.450 dan support 3.300,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (2/6).

Pada perdagangan Rabu (1/6) saham BUMI ditutup menguat Rp50 (1,51%) ke level Rp3.350 dari level sebelumnya Rp3.300. Harga intraday tertingginya mencapai Rp3.375 dan terendah Rp3.300. Volume transaksi mencapai 74,1 juta unit saham senilai Rp248,2 miliar dan frekuensi 2.185 kali.

Lebih lanjut dia menjelaskan, setelah lama konsolidasi di kisaran US$117-120 per metrik ton, harga batu bara pun bakal balik arah menguat dalam waktu yang cepat. Berdasarkan harga minyak di New Castle, harga batu bata bertenger di level US$119,47 per metrik pada 27 Mei 2011.

Tapi, untuk akhir pekan ini, saham BUMI hanya berpeluang tembus Rp3.400 ke level resistance Rp3.450. Menurutnya, penguatan tersebut tidak terlalu agresif karena kondisi market berpeluang sepi. “Sebab, hari ini merupakan hari kejepit dan cuti bersama,” paparnya.

Menurut Irwan, pelaku pasar yang masih bertahan hanya melakukan selective buying di saham-saham tertentu saja. “Untuk jangka pendek, saham BUMI kurang menarik karena pembelian orang akan terbatas karena faktor libur panjang tadi,” ujar Irwan.

Di sisi lain, peluang penguatan saham BUMI juga karena faktor BUMI Inc yang akan segera listing di bursa London pada 17 Juni 2011. Itu menjadi katalis positif di market meskipun dari sisi fundamental tidak terlalu berpengaruh banyak pada emiten ini di dalam negeri.

Sentimen tersebut, menurut Irwan, bisa menggiring harga saham sejuta umat ini menuju level Rp4.000. Angka ini bisa dicapai saham ini saat window dressing akhir Juni 2011 dan Rp5.000 merupakan target harga di akhir 2011. “Saya rekomendasikan buy saham BUMI untuk jangka panjang,” imbuh Irwan. [mdr]

IHSG masih dalam Fase Konsolidasi

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Pergerakkan IHSG pada perdagangan diperkirakan masih akan konsolidasi dengan transaksi kemungkinan cenderung tipis dengan kisaran 3.820-3.860.

Dalam risetnya, trader independent Stefanus Mulyadi Handoko menyebutkan secara TA, jika IHSG mampu bertahan di level 3800, diperkirakan support akan berada di 3.808. Namun jika level 3.800 tertembus ke bawah, maka diperkirakan level 3.797 akan menjadi supportnya, dan support kuat berikutnya yang diperkirakan dapat menahan penurunan indeks hari ini, berada di level 3.781.

"Mengingat hari ini merupakan hari "kejepit" maka diperkirakan transaksi akan berlangsung sepi. Perkiraan saya, IHSG masih akan bertahan di level 3800 pada hari ini dan sepertinya indeks baru akan menentukan arahnya pada pekan depan ketika perdagangan sudah kembali berjalan normal."

Saham yang jadi pilihan seperti CPIN, namun mengingat kondisi Bursa Global yang mengalami tekanan, disarankan BOW dengan strategi buy pertama di 1880, dan buy ke dua di 1830. Stop loss jika close di bawah 1830.

Saham ADRO secara MACD masih bergerak naik dalam trend positif Spekulasi BOW di 2350-2375, dengan target masih berada di 2500, stop loss jika close di bawah 2350.

Saham ASRI yang diperkirakan dibuka dengan open Gap Up di 315-320. Berhasil Break Out Level All Time High dengan volume yang sangat besar. Stochastic dan MACD golden cross dan bergerak naik Jika masih melanjutkan kenaikannya, berpeluang menuju 355-360.

Sementaera dini hari tadi penurunan bursa Wall Street mulai terbatas dan berakhir mixed. Dow Jones ditutup turun 41,59 poin (0,34%) menjadi 12.248,55, S&P 500 turun tipis 1,61 poin (0,12%) menjadi 1.312,94, namun Nasdaq ditutup naik 4,12 poin (0,15%) menjadi 2.773,31. Investor menunggu data laporan ketenagakerjaan bulan Mei yang akan dirilis Jum'at malam ini dan mencermati pernyataan peringkat Moody`s atas utang Amerika Serikat.

BI Rate Masih akan Ditahan di 6,75%

Jakarta - Bank Indonesia (BI) diprediksi kembali menahan tingkat suku bunga acuan, BI Rate di kisaran 6,75%. BI diperkirakan baru akan menaikkan suku bunga lagi pada Desember 2010.

Ekonom dari Bank Danamon, Helmi Arman mengatakan, optimisme BI Rate akan ditahan di level 6,7% itu didasarkan pada inflasi yang sesuai dengan koridor.

"Data (inflasi) konsisten dengan ekspektasi kami bahwa BI akna menahan kebijakan suku bunganya di 6,75% pada bulan ini," ujar Helmi dalam reviewnya, Kamis (3/6/2011).

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan inflasi Mei sebesar 0,12%. Inflasi kumulatif Januari-Mei 2011 adalah 0,51%, sementara inflasi yoy di Mei mencapai 5,98%.

"Kami memperkirakan data inflasi year on year akan terus turun dalam beberapa bulan ke depan, sesuai dengan proyeksi BI di kisaran 4%-6% di 2011," ujarnya.

Helmi memperkirakan BI baru akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin pada Desember 2010.

"Kami masih memperkirakan satu kali kenaikan BI Rate 25 basis poin pada Desember 2010, dengan ekspektasi kenaikan inflasi inti dan prospek penyesuaian subsidi BBM di awal 2012," tambahnya.

BI sudah menahan BI Rate di kisaran 6,75% sejak Februari 2011. BI Rate naik per 4 Februari 2011, setelah bercokol di level 6,5% sejak 5 Agustus 2009. Rencananya, BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk menentukan arah kebijakan moneter, termasuk BI Rate pada Kamis, 9 Juni 2011.

(qom/qom)

Sarulla lepas dari MEDC

Sarulla lepas dari MEDC
JAKARTA. PT Medco Energi International Tbk (MEDC) bakal kehilangan salah satu proyeknya. Penyebabnya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana mengambilalih proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sarulla di Sumatera Utara.

LN menilai tidak ada kejelasan mengenai nasib proyek tersebut. "PLN sudah tidak sabar menunggu proyek itu karena tidak jalan juga," papar Dahlan Iskan, Direktur Utama PLN, Rabu (1/6).

Perusahaan penyedia listrik ini memang berhak mengambil alih proyek. "Secara hukum proyek itu berada di bawah PLN," terang Dahlan.

Proyek senilai US$ 1,4 miliar ini dikembangkan oleh konsorsium pimpinan anak usaha MEDC, yaitu PT Medco Geothermal Indonesia. Saat ini konsorsium proyek itu sedang mengevaluasi lokasi tenaga panas bumi.

Dahlan menuturkan, PLN akan mengerjakan sendiri secara bertahap proyek yang diambilalih dari MEDC tersebut. Menurut hitungan perusahaan listrik ini, setiap pembangunan 50 megawatt (MW) membutuhkan dana investasi sekitar Rp 1 triliun.

Namun MEDC mengaku tidak tahu soal rencana PLN tersebut. "Kami belum tahu kalau PLN mau ambilalih lagi," kata Lukman Mahfoedz, Direktur Utama MEDC.

Tadinya, perusahaan milik keluarga Panigoro ini berniat mengembangkan PLTP Sarulla dengan investasi US$ 1,3 miliar-US$ 1,4 miliar bersama Ormat Technologies dari Amerika Serikat serta Kyushu Electric dan Itochu Corporation dari Jepang. Kepemilikan saham MEDC di proyek ini mencapai 37,25%.

Sekitar 25%-30% pendanaan proyek berasal dari konsorsium. Sisanya dari pinjaman perbankan. MEDC tengah bernegosiasi dengan JBIC dan Bank Pembangunan Asia serta bank komersial lainnya untuk mendukung pendanaan.

DSSA akan Bangun IPP di Sumsel

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dikabarkan akan membangun pembangkit listrik mandiri atau Independent power Producer (IPP) dengan kekuatan 2x150 megawatt.

Proyek tersebut untuk mendukung pasokan listrik PLN di Sumatera Selatan. Perseroan akan menggandeng pengusaha asal China. Saat ini DSSA memiliki empat pembangkit listrik di Serang, Tangerang dan Karawang dengan kapasitas 300 megawatt.

Saham DSSA pada perdagangan Rabu kemarin ditutup naik Rp300 ke Rp17.100 dengan volume 75 lot saham senilai Rp640,7 juta sebanyak 61 kali transaksi.

Berlina Raih Kontrak dari Produsen Kosmetik Dunia

Headline
INILAH.COM, Jakarta - PT Berlina Tbk (BRNA) dikabarkan mendapat kontrak panjang dari produsen kosmetik dunia.

Perseroan juga akan meningkatkan kapasitas produksi untuk mendukung hal itu. Dalam jangka pendek saham BRNA akan menuju Rp2.500. Saham perseroan juga disebut-sebut akan diakuisisi salah satu kliennya.

Pada perdagangan Rabu kemarin, saham BRNA ditutup naik Rp30 ke Rp1.530 dengan volume 1.605 saham senilai Rp1,2 miliar sebanyak 144 kali transaksi.

Dilirik Lakhsmi Mittal, JPRS Menuju Rp 1000

INILAH.COM, Jakarta - Desas-desus perebutan porsi saham Jaya Pari Steel (JPRS) akan membawa harga saham ini ke level Rp1000. Benarkah?

Sebelumnya disebutkan bahwa JPRS akan dibeli oleh Int'l Magnificent Fortune Ltd. dan Vihara Ltd. Namun, hal ini dipatahkan kabar yang sangat mencengangkan.

Beredar kabar bahwa perusahaan raksasa penghasil baja nomor satu dari India di bawah pimpinan miliarder Lakhsmi Mittal akan mengakuisisi JPRS di harga Rp 1000 melalui anak perusahaannya di Indonesia.Hal ini pun tampaknya akan membawa emiten ini melesat.

JPRS mencetak laba usaha kuartal pertama 2011 yang naik sangat signifikan sebesar 100.6% jika dibandingkan dengan laba usaha kuartal pertama tahun lalu.

Pada perdagangan Rabu (1/6), JPRS ditutup menguat 70 poin (10,45%) ke level Rp740. Volume perdagangan mencapai 52.63 juta lembar saham senilai Rp37.15 miliar. [ast]

Inilah Bukti Kegagalan 'Quantitative Easing' AS

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Quantitative Easing (QE) tahap dua usai pada akhir Juni ini. Namun, data-data ekonomi AS tak kunjung membaik yang menjadi indikator kesuksesannya. Artinya, QE2 tak tepat sasaran.

Analis Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, Quantitative Easing (Pelonggaran Kuantitatif/QE) pada mulanya bertujuan meningkatkan tarap hidup masyarakat dengan memberikan keringanan utang jangka panjang.

Secara teknis, lanjut Daru, Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menggelontorkan dana bagi masyarakat. Tapi, karena likuiditas dolar AS yang beredar di masyarakat AS terlalu banyak, inflasi AS pun terdongkrak. “Karena itu, efek negatif dari QE adalah tingkat konsumsi berkurang. Ini terlihat dari retail sales AS yang menurun,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (2/6).

Padahal, lanjut Daru, QE dimaksudkan untuk mengatasi keterpurukan ekonomi negara adidaya itu. Sementara itu, inflasi juga memicu efek negatif pada kenaikan suku bunga di masa depan. “Sisi positifnya, penghentian QE tahap dua akhir Juni ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagus bagi dolar AS. Sebab, likuiditas dolar AS di pasar berkurang,” ungkapnya.

Menurut Daru, QE sempat membuat dolar AS menguat ke level US$1,395 per euro pada pekan ketiga-keempat Mei 2011. Sebab, jelang berakhirnya, QE bulan ini, sempat memicu perburuan pasar atas dolar AS. “Karena itu, dolar AS sempat menguat terhadap mata uang utama,” ungkapnya.

Hanya saja, jika dilihat dari indikator-indikatornya, QE justru gagal mendongkrak ekonomi AS. Di sisi lain, tuduhan miring pun muncul. Sejauh ini QE dituding sebagai pemicu kenaikan harga komoditas. Sedangkan harga rumah di AS tidak beranjak karena memburuknya faktor kredit. “Masyarakat AS lebih mengutamakan kebutuhan primer terutama pangan dan kesehatan,” ucapnya.

Dari sisi ini, lanjut Daru, jelas QE tidak efektif. Padahal, perumahan memiliki high impact terhadap perekononomian. Data pending home sales (Penjualan Rumah Tertunda) pada April 2011 dirilis minus 11,6% dari prediksi minus 1% dan bulan sebelumnya 5,1%. “Padahal, ini merupakan penjualan rumah bekas. Apalagi, rumah baru,” timpal Daru.

Begitu juga dengan data durable goods yang angkanya turun di bawah estimasi 4% ke level 3,6%. Data non-farm payroll Mei yang dirilis Jumat (3/6) angkanya sudah diprediksikan turun ke level 180 ribu tenaga kerja dari sebelumnya 244 ribu. “Jadi, QE kurang mengena sasaran,” tuturnya.

Dia menjelaskan, QE hanya hanya bermanfaat bagi sektor finansial tapi berpengaruh negatif di sektor lain. “QE bertujuan mengangkat pemulihan ekonomi. Tapi, kenyataannya, indikator-indikator ekonomi AS justru negatif,” ucapnya.

Dengan indikator ekonomi AS yang bermunculan belakangan ini, lanjut Daru, The Fed akan tertinggal oleh bank-bank sentral lain untuk menaikkan suku bunga. Sebab, saat ini, dolar AS kembali terpukul ke level US$1,4450 per euro. “Memburuknya, data-data ekonomi sulit untuk menopang penguatan dolar AS selanjutnya,” urai Daru.

Di sisi lain, QE juga bertujuan mengangkat konsumsi masyarakat. Faktanya, belanja konsumen AS hanya tumbuh 0,4% pada April dibandingkan sebelumnya naik 0,5%. Situasi ini kurang memuaskan harapan investor atas dampak QE.

Pada saat yang sama, klaim pengangguran AS juga terus bertambah. Data ISM manufaktur AS juga di bawah ekspektasi. Sebelumnya 60,4 menjadi ekspektasi 57,7. Kondisi ini menjadi tekanan bagi ekonomi yang sedianya dipulihkan QE. Begitu juga dengan data construction spending. Angka sebelumnya 1,4% menjadi ekspektasi 0,3%.

Data-data tersebut memberikan hight impact bagi perekonomian AS. Akibatnya, Gross Domestic Product (GDP) AS dirilis di bawah prediksi analis. Memang, imbuhnya, PDB AS sempat naik ke level 3,2% pada kuartal IV/2010.

Tapi, kembali turun ke 1,8% pada kuartal I/2011 dari prediksi 2,2%. “QE tidak kena sasaran sehingga indikator-indikator ekonomi AS yang dirilis tidak memuaskan. Ini bisa jadi karena pengontrolannya yang kurang efektif,” imbuh Daru. [mdr]

Wall Strett Mixed Merespon Data Tenaga Kerja AS

Headline
INILAH.COM, New York - Bursa saham Amerika Serikat ditutup mixed pada perdagangan saham Kamis (2/6). Pergerakan saham begitu volatile dipengaruhi laporan data tenaga kerja.

Aksi penjualan meningkat setelah S&P 500 melewati level terendah di 1.311,08 pada Mei dipengaruhi rencana utang baru untuk Yunani. Tiga indeks saham Amerika Serikat menunjukkan tren menurun dan pelaku pasar khawatir kehilangan jika ekonomi mengecewakan.

Saham bank stabil setelah berita Goldman Sachs Group Inc akan mengalami goncangan sehingga mempengaruhi menuju krisis keuangan. Saham Goldman turun 1,3% ke level US$134,38 sementara indeks bank KBW naik 0,2%.

Saham sektor pendidikan bergerak rally setelah offical Amerika Serikat akan memperlonggar peraturan yang dapat memotong biaya. Saham DeVry Inc dan Apollo Group Inc merupakan dua saham mencatatkan top gainer di sektor S&P consumer discreationary. Tapi saham DeVry ke level US$61,86.

Indeks Dow Jones turun 41,59 poin atau 0,34% ke level 12.248,55. Indeks S&P 500 turun 1,61 poin atau 0,12% ke level 1.312,94. Indeks Nasdaq naik 4,12 poin atau 0,15% ke level 2.773,31.

Klaim initial jobless sekitar 422.000 minggu lalu dibandingkan prediksi ekonom 415.000
"Sejak pertumbuhan perekrutan kelihatan minim sementara harga gas naik, investor memahami tentang momentum ekonomi semakin melemah," ujar Managing Director Columbia Management Tom Galvin.

Selain itu, pasar saham tidak terpengaruh atas berita Moody's Investor Service kemungkinan peningkatan resiko oleh pemerintah apabila batas utang pemerintah tidak dinaikkan.

Laporan penjualan mengalami pertumbuhan pada Mei tetapi pertumbuhan tidak seperti diharapkan. Saham Gap Inc turun 4,1% ke level US$18,12. Sementara Costco Whosale Corp turun 1,5% ke level US$79.

Saham Groupon Inc menaikkan penawaran umum saham perdana menjadi US$750 juta. Volume perdagangan saham tipis sekitar 7,2 miliar saham perdagangan di bursa saham New York, The American Stock Exchange dan Nasdaq di bawah rata-rata harian sebesar 8,47 miliar saham. [hid]

Akhir Pekan, Cermati Saham Berdividen

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada Jumat (3/6) berpeluang terkoreksi. Namun investor bisa cermati saham-saham dengan potensi dividen.

Nico Omer Jonckheere VP Research dari Valbury Asia Securities mengatakan, nuansa profit taking masih akan terus terasa hingga perdagangan akhir pekan, "Hal ini karena IHSG kian mendekati level 3872, sebagai level resistant yang kuat dan sulit tembus," katanya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, pergerakan naik IHSG sudah sulit menembus level resistant baru yang terbentuk, setelah mencetak rekor tertinggi baru di3.872. "Selain belum didukung volume yang tebal, upside jugamenjadi lebih terbatas."

Nico menilai, katalis fundamental cenderung sudah terserap oleh pasar. Dengan inflasi Mei yang relatif masih terkendali, pasar sudah mengantisipasi belum akan ada perubahan signifikan tingkat suku bunga acuan BI.

Sementara itu sentimen dari pasar global justru mengarah negatif dan kemungkinan menekan pergerakan IHSG di akhir pekan. Data tenaga kerja AS yang dirilis mingguan (ADP report non-farm payroll dan jobless claim) diperkirakan masih lemah.

Tingkat pengangguran AS masih di kisaran 9% ,dan ekspektasi data kegiatan manufaktur di AS melemah, menyusul pelemahan kegiatan manufaktur di Inggris dan China.

Di sisi lain, indikator valuasi harga saham, PE ratio saham-saham Indonesia sudah premium 1,35 kali dibanding pasar saham negara berkembang lainnya. Sehingga ada indikasi capital outflow ke pasar yang lebih murah,"Namun bukan capital outflow dalam skala besar, melainkan hanya profit taking ringan."

Di tengah situasi ini, Nico merekomendasikan saham-saham yang bagi dividen dan yang kian dekat dengan tanggal cum dividennya. Beberapa saham yang disarankan adalah Alam Sutera Realty ( ASRI) , Citra Marga Nusaphala (CMNP), TB Bukit Asam (PTBA) dan Lonsum (LSIP). "Peluang beli masih ada pada saham-saham ini," katanya.

Pada perdagangan Rabu (1/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat sangat tipis 0,79 poin (0,02%) ke 3.837,76. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 10,262 miliar lembar saham, senilai Rp 5,947 triliun dan frekuensi 128.606 kali.

Sebanyak 125 saham naik, 111 saham turun, dan 93 saham stagnan. Apresiasi bursa didukung masuknya aliran dana asing, yang mencatatkan nilai transaksi jual bersih (net foreign buy) sebesar Rp611 miliar. Dimana transaksi beli mencapai Rp2,581 triliun dan transaksi jual sebesar Rp1,970 triliun. [mdr]

Ekspektasi Negatif Tenaga Kerja AS Perkuat Rupiah

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (3/6) diprediksi menguat. Negatifnya ekspektasi atas data tenaga kerja AS yang akan dirilis nanti malam memperlemah dolar AS.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi penguatan rupiah akhir pekan ini salah satunya dipicu oleh pasar yang secara umum sudah memperkirakan data tenaga kerja AS yang akan dirilis nanti malam angkanya melambat. Tingkat pengangguran AS diperkirakan tidak berubah pada Mei 2011 di level 9% setelah Maret sempat turun ke level 8,8%.

Sementara itu, lanjutnya, berdasarkan konsensus, data non-farm payroll AS diperkirakan di level 194 ribu untuk Mei 2011 dari level bulan sebelumnya 244 ribu. Akibatnya, data ekonomi AS diperkirakan, masih melambat hingga kuartal III-2011. "Karena itu, rupiah hari ini cenderung menguat dan akan bergerak dalam kisaran 8.520 dan batas atasnya 8.540-8.560 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Tapi, jika data-data AS itu dirilis di atas ekspektasi, pergerakan rupiah hari ini menjadi serba tidak pasti. Jika rilis angkanya di atas ekspektasi, mengindikasikan pemulihan ekonomi AS yang lebih baik. "Kondisi itu, bisa memperlemah rupiah seiring penguatan dolar AS," paparnya.

Sebaliknya, imbuh Christian, jika sesuai prediksi, rupiah akan menguat ke bawah 8.520. Jika tidak, mata uang RI ini akan terkoreksi ke atas 8.600.

Sebab, sejak awal Mei, rupiah hanya ranging (bergerak dalam kisarannya) antara 8.520-8.600. "Ini menandakan, bahwa pasar memang sedang menunggu data tenaga kerja AS nanti malam," paparnya. Data AS itu akan menentukan kebijakan moneter Bank Sentral AS The Fed yang berpengaruh pada pergerakan dolar AS.

Sementara itu, lanjutnya, dari Asia rupiah masih mendapat sentimen positif dari data indeks manufaktur China yang dirilis di atas ekspektasi pada Rabu (1/2). Angkanya di level 52 dari prediksi 51,6 dan angka sebelumnya 52,9.

"Data ini menunjukkan, perekonomian China belum melambat sehingga berdampak positif bagi Indonesia karena banyaknya ekspor ke negera itu," imbuh Christian. Asal tahu saja, kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (1/6) ditutup menguat 5 poin (0,05%) ke level 8.533/8.543 per dolar AS.

Inilah Pilihan Saham Jumat (3/6)

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan penguatan dengan level support 3.770 dan resistance 3.950 pada perdagangan saham Jumat (3/6).

Analis Senior PT HD Capital Tbk Yuganur Widjanarko menuturkan, IHSG akan melanjutkan penguatan pada perdagangan saham Jumat (3/6). IHSG kemungkinan akan digerakkan oleh sektor keuangan terutama perbankan. Selain itu, sektor saham infrastruktur juga akan menggerakkan IHSG. Hal ini dikarenakan sektor perbankan dan infrastruktur sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Demikian seperti dikutip dari PT HD Capital, Kamis (2/6). "IHSG akan berada di level support 3.770-3.700 dan level resistance 3.880-3.950," ujar Yuganur.

Sementara itu, analis PT Sinarmas Sekuritas Jansen Kustianto menuturkan, IHSG secara teknikal cenderung bergerak mixed. IHSG akan berada di kisaran 3.825-3.863. Jansen merekomendasikan, saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain saham PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA), saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Sedangkan Yuganur merekomendasikan, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI), saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), saham PT Astra International Indonesia Tbk (ASII), dan saham PT Adaro ENergy Tbk (ADRO). "Saya rekomendasikan buy untuk saham tersebut," kata Yuganur.

Listing di London Katalis Penguatan BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Laju saham BUMI, Jumat (3/6) diprediksi naik tipis karena situasi market yang sepi. Tapi, listingnya BUMI Inc pada 17 Juni, bisa menjadi katalis kenaikan harga saham ini ke level Rp4.000 akhir bulan ini.

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, katalis penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) selain faktor harga batu bara juga karena BUMI Inc akan segera listing di bursa London pada 17 Juni 2011. Hal itu menjadi katalis positif meskipun dari sisi fundamental tidak terlalu berpengaruh banyak pada emiten ini di dalam negeri.

Irwan memperkirakan, sentimen tersebut, bisa menggiring harga saham sejuta umat ini menuju level Rp4.000. Angka ini bisa dicapai saham ini saat window dressing akhir Juni 2011 dan Rp5.000 merupakan target harga di akhir tahun. “Saya rekomendasikan buy saham BUMI untuk jangka panjang,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (1/6) saham BUMI ditutup menguat Rp50 (1,51%) ke level Rp3.350 dari level sebelumnya Rp3.300. Harga intraday tertingginya mencapai Rp3.375 dan terendah Rp3.300. Volume transaksi mencapai 74,1 juta unit saham senilai Rp248,2 miliar dan frekuensi 2.185 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah menguat 1,51%, bagaimana Anda memperkirakan laju saham BUMI di hari ‘kejepit’ ini?

Menurut saya berpotensi menguat. Salah satunya dipicu oleh tren harga batu bara yang terus naik seiring balik arah menguat harga minyak mentah dunia ke atas US$100 per barel. Bahkan, sebelumnya, harga minyak sempat mencapai US$103 per barel. Harga minyak mentah dunia memiliki peluang menguat ke level US$105 per barel dalam jangka pendek.

Karena itu, setelah lama konsolidasi di kisaran US$117-120 per metrik ton, harga batu bara pun bakal balik arah menguat dalam waktu yang cepat. Berdasarkan harga minyak di New Castle, harga batu bata bertenger di level US$119,47 per metrik ton.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp3.450 dan support 3.300. Untuk akhir pekan ini, saham BUMI hanya berpeluang tembus Rp3.400 ke level resistance Rp3.450.

Mengapa penguatannya tidak terlalu agresif?

Ya memang penguatan tersebut tidak terlalu agresif karena kondisi market berpeluang sepi. Sebab, hari ini merupakan hari kejepit dan cuti bersama. Pelaku pasar yang masih bertahan di market hanya melakukan selective buying di saham-saham tertentu saja. Karena itu, untuk jangka pendek, saham BUMI kurang menarik karena pembelian orang akan terbatas karena faktor libur panjang tadi.

Selain faktor harga batu bara, apa lagi yang membuat saham BUMI menarik untuk jangka panjang?

Juga ada faktor BUMI Inc yang akan segera listing di bursa London pada 17 Juni 2011. Peristiwa ini menjadi katalis positif di market meskipun dari sisi fundamental tidak terlalu berpengaruh banyak. Sentimen tersebut, bisa menggiring harga saham sejuta umat ini menuju level Rp4.000. Angka ini bisa dicapai saham ini saat window dressing akhir Juni 2011 dan Rp5.000 merupakan target harga di akhir 2011.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan buy saham BUMI untuk jangka panjang. [mdr]

Sinyal ekonomi melambat, emas berpeluang reli pada pekan depan

 Sinyal ekonomi melambat, emas berpeluang reli pada pekan depan
TOKYO. Emas berpeluang menguat pada pekan mendatang. Mayoritas analis dan trader yang disurvei Bloomberg memperkirakan emas bakal reli di tengah spekulasi sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi. Situasi ini mengindikasikan Federal Reserve tidak akan mulai mengetatkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Selain itu, krisis utang Eropa memicu meningkatnya permintaan untuk perlindungan kekayaan, survei yang ditemukan.

Dalam minggu ini, kontrak emas untuk pengiriman Agustus sudah turun 1,1% ke level US$ 1.520,60 per ons troy, hingga kemarin di Comex, New York. Kontrak yang sama sempat mencapai rekor di US$ 1.577,40, padal 2 Mei lalu.

Data manufaktur di Cina, Eropa dan AS melambat pada bulan Mei. Sementara, laporan tenaga kerja dari sektor swasta menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan, sehingga memicu kekhawatiran data tenaga kerja bulanan bakal melemah pula.

The Fed berencana menyelesaikan program sitmulus pembelian obligasi pemerintah senilai US$ 600 miliar pada bulan ini, dan mempertahankan suku bunga di level sangat rendah untuk jangka waktu yang panjang.

Direktur eksekutif GoldCore Ltd. Mark O'Byrne menyebut, kemungkinan stimulus tahap ketiga atau QE3 menyebabkan melambatnya ekonomi AS, sehingga bakal mendorong emas mencapai rekor baru.

"Kami tetap memproyeksi bullish untuk emas dalam non dolar AS maupun dalam dolar itu sendiri. Emas sudah menjadi mata uang, bukan sekedar logam," kata Dennis Gartman, ekonom dan editor dari Gartman Letter.

Antisipasi data tenaga kerja, Dow Jones dan Standard & Poor's tumbang

Antisipasi data tenaga kerja, Dow Jones dan Standard & Poor's tumbang
NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat kembali tumbang untuk hari yang kedua. Kemarin, indeks Standard & Poor's bahkan mengalami penurunan yang terbesar sejak Agustus. Melemahnya sentimen di pasar saham ini karena investor menunggu laporan bulanan terkait pasar tenaga kerja.

Indeks Standard & Poor's 500 turun 0,1% ke level 1.312,94, pada pukul 4 sore di New York. Kemarin, indeks ini jatuh hingga 2,3% karena rilis proyeksi pertumbuhan lapangan kerja bakal melambat. Sementara, Dow Jones Industrial Average turun 0,3% ke posisi 12.248,55.

Pasar saham jatuh seiring data yang menunjukkan melambatnya pemulihan ekonomi. Pesanan pabrik-pabrik (factory orders) di AS pada April lalu mengalami penurunan tertajam dalam setahun. Laporan lain menunjukkan, jumlah klaim pengangguran per pekan lalu dirilis lebih besar dari perkiraan, sehingga menjadi sinyal melemahnya pasar tenaga kerja.

Tidak hanya itu, sinyal negatif datang dari pemerintahan AS. Moody's Investors Service mengatakan jika dalam pekan-pekan mendatang tidak ada kemajuan pada peningkatan batas utang wajib minimum, maka ada kemungkinan untuk memangkas peringkat utang pemerintah AS. Menurut Moody's, jika batas utang dinaikkan dan gagal bayar terhindari, peringkat Aaa akan dipertahankan. Namun, kurangnya kesepakatan bisa mendorong Moody's untuk mengubah proyeksi menjadi negatif.

Peter Jankovskis dari Oakbrook Investments menyebut, tidak ada yang bergerak masuk ke pasar dengan keyakinan yang kuat sebelum rilis data tenaga kerja. "Beberapa indikator ekonomi cukup lemah, sehingga investor perlu lebih banyak bukti kalau ini hanya penurunan sementara," ujarnya

Sementara, kepala strategi investasi KeyCorp Bruce McCain menilai ada banyak kekhawatiran yang menyebabkan investor tidak tahu ke mana harus fokus lebih dulu. "Pertumbuhan lamban, krisis Eropa, masalah fiskal, harga komoditas yang tinggi. Ini masih menjadi saat yang tidak menentu, dan terefleksi pada pasar global," imbuhnya.

Beberapa saham yang menyeret indeks diantaranya, saham Limited Inc. dan Gap Inc. yang turun setidaknya 2,1%. Lalu, Goldman Sachs Group Inc. yang tumbang 1,3% setelah dikabarkan bank ini menerima surat perintah pengadilan dari Kejaksaan Negeri Manhattan terkait aktivitas bank yang mengarah ke krisis kredit.

MI tak berminat rilis reksadana penjaminan

JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) merilis tiga aturan main baru dipasar modal. Satu aturan itu adalah Keputusan Bapepam-LK Nomor: KEP-262/BL/2011 tentang Pedoman Pengelolaan Reksadana Terproteksi, Reksadana dengan Penjaminan dan Reksadana Indeks.

Beleid ini merupakan penyempurnaan peraturan IV.C.4 yang dikemas dalam keputusan Ketua Bapepam-LK bernomor KEP-429/BL/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Reksadana Terproteksi, Reksadana dengan Penjaminan dan Reksadana Indeks.

Salah satu ketentuan yang diatur dalam regulasi ini adalah kebijakan investasi disetiap produk reksadana. Untuk reksadana terproteksi, misalnya, sebesar 70% dari nilai aktiva bersih (NAB) diinvestasikan pada portofolio efek yang terbit di dalam negeri.

Dana kelolaan itu sejatinya bleh diinvestasikan di portofolio efek yang diperdagangkan di luar negeri. Hanya saja, efek itu harus diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia, perusahaan publik domestik, atau badan hukum asing yang sebagian besar sahamnya dimiliki perusahaan publik domestik maupun BUMN.

Untuk reksadana dengan penjaminan, manajer investasi (MI) wajib menempatkan dana investor minimal 80% dari NAB pada efek utang yang menyandang kategori investment grade. "Penyempurnaan peraturan V.C.4 dilakukan agar MI fleksibel mengelola reksadana," kata Nurhaida, Ketua Bapepam-LK

Andreas Muljadi Gunawidjaja, Managing Director Mandiri Manajemen Investasi, menyatakan perusahaannya belum memiliki produk reksadana penjaminan. Selain harus menunjuk institusi penjamin alias asuransi, nantinya ada beban biaya premi atas penjaminan tersebut.

Memang, premi atas penjaminan reksadana tersebut bakal menjadi tanggungan nasabah. "Jadi produknya tidak menarik karena mengurangi return bagi nasabah," ungkap Rudiyanto, Analis Senior Infovesta Utama.

Maka itu, hingga kini tak ada satu pun MI yang menerbitkan reksadana penjaminan.

Investasi besar-besaran membuat BTEL merugi

Investasi besar-besaran membuat BTEL merugi
JAKARTA. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menderita rugi bersih sepanjang tiga bulan pertama tahun ini sebesar Rp 41,13 miliar. Padahal, pada periode sama di tahun lalu, BTEL membukukan laba bersih Rp 29,04 miliar.

Pendapatan BTEL sepanjang kuartal I-2011 cenderung stagnan, cuma tumbuh 0,72% menjadi Rp 900,03 miliar dibanding kuartal I-2010 sebesar Rp 893,62 miliar.

Manajemen BTEL menjelaskan, rugi tersebut disebabkan besarnya investasi yang tidak diimbangi oleh pendapatan. “Kami investasi besar-besaran untuk promosi, anak usaha, juga untuk fasilitas broadband. Pendapatan dari investasi tersebut belum masuk,” kata Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Service BTEL Rabu (1/6).

Mengutip laporan keuangan BTEL per akhir Maret 2011, beban penjualan dan pemasaran naik dari Rp 104,26 miliar menjadi Rp 152 miliar. Ini membuat beban usaha juga terdongkrak 16% menjadi 704,98 miliar.

Sepanjang tahun ini, BTEL menyiapkan dana investasi dengan nilai berkisar US$ 180 juta-US$ 200 juta. Separuhnya akan digunakan untuk melanjutkan pengembangan layanan broadband wireless access alias layanan data berkecepatan tinggi. Dalam dua tahun sebelumnya, BTEL telah mengeluarakan dana sebesar US$ 400 juta untuk pengembangan teknologi dan kapasitas broadband.

Jastiro Abi, Direktur Keuangan BTEL, menegaskan, perusahaannya masih akan tahun ini BTEL akan lebih memprioritaskan pengembangan layanan data tersebut, ketimbang pertumbuhan laba bersih perseroan. Dia enggan menyebut target pendapatan atau laba bersih tahun ini. Dia menolak untuk menyebutkan apakah tahun ini BTEL bisa mencetak laba atau tidak. Dia juga menolak menyebutkan target pendapatan BTEL ditahun ini.

Manajemen BTEL berharap, layanan data akan menjadi kontributor pendapatan terbesar pada tahun-tahun mendatang. Asal tahu saja, average revenue per user (ARPU) dari bisnis data cukup besar, mencapai Rp 75.000. Sedang ARPU dari bisnis suara hanya sebesar Rp 25.000.

Saat ini jumlah pelanggan data BTEL mencapai 200.000 pelanggan,naik tiga kali lipat dari Desember tahun 2010. Sedangkan jumlah pelanggan BTEL kuartal I-2011 sudah mencapai Pada kuartal 1-2011, total jumlah pelanggan BTEL telah mencapai " 13,6 juta pelanggan, naik dari tahun 2010 yang sebanyak 11 juta pelanggan.

Krakatau Steel mencari pinjaman US$ 500 juta

Krakatau Steel mencari pinjaman US$ 500 juta
JAKARTA. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mengungkap nilai utang yang menjadi incarannya. KRAS membutuhkan pinjaman tersebut untuk membiayai pembangunan pabrik besi dengan tanur tinggi atawa blast furnace.

Produsen besi dan baja ini tengah mencari pinjaman senilai US$ 500 juta. "Kami akan ambil pinjaman dari bank kredit ekspor senilai US$ 400 juta sampai US$ 500 juta," kata Sukandar, Direktur Keuangan KRAS, Rabu (1/6).

Bank kredit ekspor pemberi pinjaman ke KRAS merupakan bank asal China. KRAS sengaja mencari pendanaan dari China karena kontraktor yang memenangkan tender proyek pembangunan pabrik blast furnace adalah perusahaan asal China.

Direktur Utama KRAS Fazwar Bujang sempat menuturkan, pabrik baja lokal tersebut sudah mengantongi pernyataan lisan untuk menyalurkan kredit dari bank asal China tersebut. "Saat ini kami masih penjajakan, tapi kalau secara lisannya mereka sudah setuju untuk melakukan pendanaan di sini," terang Fazwar.

Dengan pinjaman dari bank ekspor kredit itu, dipastikan KRAS tidak perlu menerbitkan obligasi untuk mendanai proyek pembangunan pabrik blast furnace tadi. "Lebih murah pinjaman dari obligasi," papar Sukandar.

Namun sebelum bisa mendapatkan pinjaman tersebut, KRAS harus mendapatkan persetujuan dari pemegang saham perseroan mengenai rencana tersebut. KRAS akan memintakan persetujuan saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 8 Juni nanti.

Terkait dengan rencana pembangunan blast furnace itu, KRAS tengah mengurus izin aksi korporasi ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Transaksi itu termasuk transaksi material yang harus dilaporkan.

Sekadar informasi, nilai investasi pembangunan pabrik besi tanur tinggi tadi mencapai Rp 5,92 triliun. Sukandar mengatakan hanya sekitar 70% dari kebutuhan dana yang dipenuhi dengan pinjaman. Kebutuhan dana tersisa akan ditutup dengan kas interen.

Rencananya, kapasitas terpasang pabrik tersebut mencapai 1,5 juta ton. KRAS akan membangun pabrik ini di Cilegon. Pembangunan pabrik akan dimulai di kuartal ketiga tahun ini dan ditargetkan selesai pada 2014 mendatang.

Selain pabrik besi tanur tinggi tadi, KRAS juga membangun pabrik blast furnace bersama Posco dari Korea Selatan. Kedua pabrik besi ini akan melengkapi pabrik besi yang sudah ada.

Saat ini KRAS sudah memiliki pabrik besi dengan teknologi direct reduction yang berbahan bakar gas. Sementara pabrik blast furnace akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar.

KRAS akan menuai untung dengan penggunaan batubara karena meringankan biaya energi yang harus ditanggung. Selain itu, proporsi pemakaian scrap juga jadi lebih kecil dan penggunaan bahan baku menjadi lebih fleksibel.


Setelah kuasi reorganisasi, aset ADMG jadi Rp 4,79 triliun

JAKARTA. Merasa perlu mempercantik posisi keuangannya, PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) berniat menghapus defisit neraca di atas kertas lewat kuasi reorganisasi. Rencana ini melakukan kuasi reorganisasi atau penghapusan atas defisit pada neracanya. Rencana itu disampaikan manajemen perusahaan melalui prospektus pada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perusahaan industri kimia dasar ini memilih kuasi reorganisasi karena Maklumlah, neraca keuangannya defisit Rp 1,30 triliun. Menurut manajemen ADMG, defisit terjadi karena kerugian selisih kurs dari utang valuta asing.

"Tapi keberadaan defisit ini tidak mengganggu aktivitas pendanaan selama ini," kata Richard I Tursadi, Sekretaris Perusahaan ADMG, dalam surat kepada BEI tersebut.

Manajemen ADMG sudah menyiapkan sejumlah agenda kuasi reorganisasi. Pertama, perusahaan akan melakukan penilaian kembali aset dan kewajiban sesuai dengan nilai wajar. Sekadar informasi, ADMG telah menunjuk akuntan publik KJP Antonius Setiady dan rekan untuk melakukan penilaian kembali aset dan kewajibannya sesuai dengan nilai wajar.

Kedua, perusahaan juga akan menghitung kembali transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan.

Ketiga, perusahaan akan menghitung rugi belum direalisasikan dari pemilikan efek yang tersedia untuk dijual.

Terakhir, perusahaan akan melakukan restrukturisasi entitas pengendali.

Hasil revaluasi tersebut cukup menggembirakan. Proses ini menghasilkan nilai aset bersih yang lebih tinggi daripada nilai buku. Setelah dihitung-hitung, total aset perusahaan meningkat 27,05% menjadi Rp 4,79 triliun. Ada kenaikan sebesar Rp 1,03 triliun dari nilai aset per akhir 2010, yaitu Rp 3,77 triliun.

Sementara itu, pada kewajiban, tidak mengalami perubahan setelah direvaluasi. Saldo total kewajiban tetap sebesar Rp 2,52 triliun.

Namun, ada peningkatan aset tidak lancar dari Rp 2,22 triliun menjadi Rp 3,26 triliun. Sedangkan aset lancar turun dari Rp 1,55 triliun menjadi Rp 1,54 triliun.

Rinciannya, untuk asset lancar jadi Rp 1,536 triliun, sebelumnya Rp 1,549 triliun. Sedang asset tidak lancar menjadi 3,257 triliun dari Rp 2,216 triliun.

Keputusan atas rencana kuasi reorganisasi ini akan diumumkan lagi setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) ADMG yang dijadwalkan pada 30 september 2011 mendatang. Andai kuasi reorganisasi ini berhasil, maka perusahaan ini juga bisa membagikan dividen.

Kondisi neraca keuangan yang lebih sehat setelah kuasi reorganisasi diharapkan bisa mempermudah perusahaan mendapatkan pendanaan, baik dari investor ataupun perbankan sehingga lebih leluasa berekspansi.

Tahun ini, perusahaan memang agresif berekspansi memperbesar kapasitas produksi poliester sebanyak 120 ton per hari dari sebelumnya 85.750 ton per tahun.

Harpitnas, IHSG Siap-Siap Melemah

Ilustrasi
JAKARTA - Pelaku pasar diproyeksikan akan melakukan aksi jual di tengah perdagangan yang ditaksir bakal sepi ini lantaran cuti bersama. Pemicu tekanan jual ini adalah inflasi yang terjadi pada bulan Mei 2011 sebesar 0,12 persen.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi pada bulan Mei 2011 sebesar 0,12 persen dengan inflasi inti sebesar 0,27 persen. Namun, inflasi ini bukan disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan. Dengan demikian, inflasi sepanjang bulan Januari hingga Mei 2011 tercatat 0,51 persen, sedangkan inflasi year-on-year (YoY) sebesar 5,98 persen dengan inflasi inti yoy sebesar 4,64 persen.

"Indeks kali ini akan berada dikisaran 3.825-3.865," ungkap analis pasar modal Desmon Slilitonga kala dihubungi okezone, Jakarta, Jumat (3/6/2011).

Selain itu, data-data perekonomian yang dirilis oleh Amerika Serikat juga dipredikisikan masih akan melemah terlebih lagi pemerintah AS yang memberlakukan quantitive easing. Lalu daya beli masyarakat AS yang juga melemah memicu data perekonomian AS masih diperkirakan belum stabil.

Belum lagi masalah krisis bailout Yunani yang hingga saat ini belum diputuskan, karena masih terjadi pro dan kontra didalamnya, sehingga para pnvestor pun cenderung wait and see mengenai hal tersebut.

Adapun saham-saham pilihan dalam perdagangan kali ini diantaranya PT Bank Mandiri (persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT United Tracktor Tbk (UNTR), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Seperti diketahui, IHSG, Rabu (1/6/2011) sore ditutup menguat tipis 0,79 poin atau 0,02 persen ke 3.837,76. Adapun indeks LQ45 naik tipis 0,04 poin ke 682,29 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,12 poin ke 532,5.
(wdi)

Wait & See, Dow Jones Kembali Melemah

Ilustrasi
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat (AS) bergerak dengan volatilitas yang tinggi. Hal ini membuktikan investor wait and see atas data ekonomi AS yang akan dirilis.

Tiga indeks utama AS masih tertekan pada perdagangan tersebut kendati mucul berita tentang kemajuan rencana utang baru untuk Yunani yang memicu rebound. Namun, investor tampaknya tak mau berekspetasi dengan data perekonomian kali ini.

"Arah pasar tergantung dengan data yang akan dirilis, investor akan perlu melihat paket data yang lebih kuat untuk menggerakkan pasar," jelas Direktur BNY Mellon Wealth Management Christopher Sheldon seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/6/2011).

Data non farm payroll diperkirakan akan menunjukan adanya tambahan lapangan kerja sebanyak 150.000 pada bulan Mei, menurut jajak pendapat Reuters Thomson. Tapi karena investor lemahnya data ekonomi sebelumnya, pasar saham anjlok terburuk dalam satu tahun ini. "Mengingat kerugian baru-baru ini, potensi downside masih ada," kata Sheldon.

Saham bank stabil setelah sebelumnya jatuh di tengah berita Goldman Sachs Group Inc telah diperintahkan oleh jaksa New York mencari informasi terkait dalam krisis keuangan global. Saham Goldman turun 1,3 persen menjadi USD134,38, sedangkan KBW Bank Index naik 0,2 persen setelah jatuh sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis (2/6/2011) waktu setempat, Dow Jones Industrial turun 41,59 poin atau 0,34 persen ke 12.248,55. Indeks Standard & Poor's 500 turun 1,61 poin atau 0,12 persen ke 1.312,94. Dan Nasdaq Composite Index naik 4,12 poin atau 0,15 persen menjadi 2.773,31.
(wdi)

IHSG Serba Minim di 'Hari Kejepit'

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu lalu ditutup stagnan. Investor memilih untuk wait and see menjelang libur dan juga setelah keluarnya data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi para analis.

Pada perdagangan, Rabu (1/6/2011), IHSG ditutup naik sangat tipis 0,794 poin (0,02%) ke level 3.837,761. Indeks LQ 45 ditutup menguat sangat tipis 0,038 poin (0,01%) ke level 682,292.

Dalam suasana libur, IHSG pada perdagangan Juni (3/6/2011) diprediksi bergerak melemah dengan transaksi super tipis. Investor akan merespons negatif pergerakan bursa-bursa utama dunia yang kemarin anjlok akibat data negatif dari AS.

Tadi malam Bursa Wall Street masih melanjutkan pelemahannya meski tidak sebesar perdagangan sebelumnya. Indeks saham bergerak sangat fluktuatif menjelang keluarnya data tenaga kerja.

Pada perdagangan Kamis (3/6/2011), indeks Dow Jones ditutup melemah 41,59 poin (0,34%) ke level 12.248,55. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 1,61 poin (0,12%) ke level 1.312,94, namun Nasdaq menguat 4,12 poin (0,15%) ke level 2.773,31.

Namun bursa Jepang sudah mulai pulih. Mengawali perdagangan Jumat, indeks Nikkei-225 dibuka naik 19,52 poin (0,20%) ke level 9.574,56.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

eTrading Securities:

Pada perdagangan Rabu (1/6), IHSG ditutup naik 1 point (+0.02%) ke level 3,837.76 menyusul keluarnya data inflasi, yang meskipun tercatat lebih tinggi dari estimasi semula, tapi menunjukkan penurunan dari bulan sebelumnya.Transaksi tercatat sebanyak 20.5 juta lot atau setara dengan Rp5.9 triliun dengan hampir seluruh sektor mengalami penguatan kecuali sektor basic-industry, infrastructure, finance dan trade.

Selama perdagangan tercatat sebanyak 118 saham mengalami penguatan, 104 saham mengalami penurunan, 87 saham tidak mengalami perubahan dan 137 sektor saham tidak diperdagangkan sama sekali. Saham-saham yang menjadi pendorong terbesar IHSG hari ini a.l. GGRM, ASII, BUMI, TLKM dan BYAN sementara yang menjadi pemberat terbesar a.l. EXCL, BBRI, KLBF, BMRI dan BBNI. Asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp385.5 miliar pada pasar reguler dengan saham yang paling banyak di beli adalah BMRI, BBRI, ADRO, BBCA dan PGAS.

Secara teknikal, pada perdagangan kemarin IHSG membentuk pola Gravestone doji yang mengindikasikan mulai terhambatnya kekuatan daya beli sementara indikator stochastic dan RSI tampak mulai bergerak reversal. Pada perdagangan hari ini (3/6), IHSG diperkirakan akan bergerak pada trading range yang sempit di kisaran 3,817-3,859. sementara itu, saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. GGRM, ELTY, dan BISI.

Kresna Sekuritas:

Munculnya shooting star di tengah stochastic yang golden cross diperakan membuat IHSG cenderung melanjutkan konsolidasinya di kisaran 3810-3870 dengan TINS dan ELTY sebagai saham pilihan.

(qom/qom)

Penanganan Krisis Yunani Belum Mampu Angkat Wall Street

Jakarta - Bursa Wall Street masih melanjutkan pelemahannya meski tidak sebesar perdagangan sebelumnya. Indeks saham bergerak sangat fluktuatif menjelang keluarnya data tenaga kerja.

Aksi jual di awal perdagangan terjadi setelah S&P 500 menembus titik terendahnya selama Mei di 1.311,08, meski ada kabar seputar perkembangan krisis utang Yunani yang sempat memicu rebound. Namun akhirnya 3 indeks saham di Wall Street tetap berada pada trend penurunan dan investor khawatir tentang data terbaru yang kemungkinan mengecewakan.

"Saya akan mengambil sejumlah jalan keluar dengan ekspektasi (data ekonomi) besok memberikan kami guncangan negatif lainnya, tapi karena penyebaran data-data yang lemah, investor perlu untuk melihat paket data yang lebih kuat untuk menggerakan kita naik dan itu sepertinya butuh beberapa bulan," ujar Christopher Sheldon, direktur BNY Mellon Wealth Management seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/6/2011),

Pada perdagangan Kamis (3/6/2011), indeks Dow Jones ditutup melemah 41,59 poin (0,34%) ke level 12.248,55. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 1,61 poin (0,12%) ke level 1.312,94, namun Nasdaq menguat 4,12 poin (0,15%) ke level 2.773,31.

Saham-saham perbankan mulai stabil setelah sempat merosot akibat keluarnya kabar Goldman Sachs Group Inc mendapatkan panggilan sidang dari jaksa New York yang akan mencari informasi seputar peran bank tersebut saat krisis global. Saham Goldman merosot 1,3%.

Sementara saham-saham pendidikan menguat dalam volume yang besar setelah pemerintah AS melonggarkan kebijakan yang dapat memangkas bantuan pendidikan guna menjalankan program perkuliahan yang bisa menguntungkan. Saham DeVry Inc melonjak 14,6% dan Apollo Group Inc menguat 11,1%.

Data perekonomian menunjukkan klaim awal pengangguran turun 6.000 secara musiman menjadi 422.000, namun masih di atas ekspektasi.

Perdagangan berjalan tidak terlalu ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 7,2 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebesar 8,47 miliar lembar saham.

(qom/qom)