Senin, 03 Oktober 2011

Ups! Sentimen Yunani, Euro Melemah di Asia

Headline
INILAH.COM, Singapura - Kurs euro melanjutkan pelemahan di perdagangan Asia pada Senin (3/10) terhadap mata uang utama khususnya dolar AS.

Euro turun 0,07% menjadi US$1,3363 dari sebelumnya di US$1,3409 di AS pada perdagangan Jumat pekan lalu. Sedangkan kurs dolar terhadap enam mata uang utama naik 0,35% menjadi 78,930 DXY dari 78,647 DXY pada Jumat pekan lalu, seperti dikutip dari marketwatch.com.

Pelemahan euro dipicu rencana penghematan yang dilakukan Yunani tidak sesuai target awal. Padahal ini sebagai persyaratan pencairan dana bantuan dari IMF, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Uni Eropa.

Sementara kurs dolar terhadap pound Inggris turun 0,08% menjadi US$1,5683 dari US$1,5632. Dolar juga naik terhadap yen Jepang dengan pelemahan yen sebesar 0,12% menjadi 77,21 yen dari 77 yen pada perdagangan Jumat pekan lalu.

RI Siapkan Opsi Terburuk Pangkas Target Pertumbuhan di 2012

Nusa Dua - Pemerintah tetap mematok target pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6,7%. Meskipun skenario terburuk akan disiapkan termasuk mengoreksi asumsi pertumbuhan lebih cepat jika krisis global tahun depan semakin parah.

"Kita akan terus proses RAPBN 2012 dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 6,7%, tapi kita juga menyampaikan kewaspadaaan, kalau ternyata perekonomian global ternyata memburuk dan akan ada dampak ke Indonesia, kita akan mengajukan APBN-P lebih awal dari yang direncanakan. Tapi forum sekarang kita tidak mengubah asumsi 6,7%," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo usai membuka forum The 2011 Asian Roundtable on Corporate Governance, di Nusa Dua, Bali, Senin (3/10/2011)

Ia mengatakan target 6,7% merupakan hasil nota keuangan yang disampaikan Presiden SBY dan hasil Musrenbang Maret 2011 yang memperkirakan pertumbuhan 6,4%-6,8%. Agus mengakui kondisi global saat ini lebih buruk dari apa yang diperkirakan pemerintah.

"Kita kira masalah di Yunani, Irlandia, Portugal, itu sudah akan tertangani. Tapi sudah melebar sampai ke Italia. Bahkan di pemerintah terus berkomunikasi di DPR," katanya.

Agus memperkirakan pada triwulan III-2011 ini pertumbuhan ekonomi akan mencapai diangka 6,6%. Sementara total pertumbuhan sepanjang 2011 akan berada ke angka 6,45%,

"Kami memang melihat bahwa kalau seandainya investasi di Indonesia dan pertumbuhan sektor-sektor seperti yang kita amati terakhir ini bisa terjaga itu Indonesia mungkin bisa mencapai 6,5-6,6% di Q3. Walaupun satu tahun 6,5% adalah yang akan kita capai," katanya

Ia mengaku prihatin dengan kondisi ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global sudah ada revisi dari 4,4% menjadi 4% di tahun ini ."Kalau seandainya ekonomi dunia itu terus menunjukan kondisi seperti sekarang, itu bisa koreksinya di tahun depan bisa turun jadi 3%," katanya.
(hen/dnl)

Yunani Bakal Hancur, Saham Eropa Bersiap Anjlok

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham Eropa diperkirakan akan melemah tajam pada pembukaan perdagangan Senin (3/10) terkait berita bahwa Yunani tidak mencapai target defisit meskipun telah melakukan langkah-langkah penghematan baru.

Mengutip CNBC, saham Asia jatuh dan euro jatuh, sementara emas naik, di mana investor gelisah setelah berita tersebut. Kementerian keuangan Yunani pada Minggu malam mengumumkan perkiraan rancangan anggaran menunjukkan defisit akan lebih besar dari yang diperkirakan di bawah ketentuan kesepakatan penyelamatan tanggal 21 Juli.

Berita itu muncul setelah kabinet Yunani menandatangani langkah-langkah penghematan baru bahkan lebih keras. Pejabat Yunani berharap bahwa kesepakatan tentang langkah-langkah penghematan baru akan dilihat pejabat dari Dana Moneter Internasional, Bank Sentral Eropa dan Uni Eropa dengan menandatangani fase terbaru dari bantuan menurut ketentuan dari paket penyelamatan sebelum mengikuti pembicaraan di Athena selama akhir pekan.
Menteri Keuangan kelompok zona euro akan bertemu di Luxembourg hari ini untuk membahas bagaimana untuk memastikan bahwa Yunani mengimplementasikan reformasi struktural dan apakah atau tidak mengambil ukuran leverage Dana Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF), dana yang dibentuk untuk membantu anggota zona euro yang tertekan.

Selama akhir pekan Menteri Keuangan Jerman dalam sebuah wwancaranya dengan media setempat mengatakan tidak akan menyediakan dana lebih untuk EFSF. Itu berarti Jerman hanya akan menambah hingga 410 miliar euro ($ 543 miliar) saja.

Gubernus bank sentral Prancis dan anggota dewan ECB Christian Noyer menggemakan Menteri Keuangan Jerman tadi malam, dengan mengatakan tidak akan ada uang lagi untuk dana tersebut. "Apakah jumlah yang cukup besar adalah masalah pendapat," Noyer mengatakan dalam sebuah pidato. "Ini akan menjadi tidak realistis untuk mengharapkan peningkatan EFSF secara sendiri-sendiri tetapi saya terbuka untuk setiap skema yang akan memungkinkan komitmen untuk dimanfaatkan untuk memberikan kapasitas intervensi yang lebih besar."

Sementara itu, Joseph Ackermann, CEO Deutsche Bank dan ketua Institute of International Finance, memperingatkan terhadap amandemen yang diusulkan dari swap utang Yunani. Beberapa pejabat Uni Eropa menuntut potongan utang yang lebih besar untuk investor swasta tetapi Ackerman memperingatkan ini bisa menyebabkan runtuhnya dukungan untuk swap utang dan memiliki konsekuensi perhitungan.

Di Madrid, media The El Mundo melaporkan bahwa bank-bank Spanyol prihatin tentang kesehatan fiskal pemerintah daerah. Media ini menulis bahwa para bankir mengkhawatirkan default, dengan utang jatuh tempo pemerintah daerah sebesar hampir 7 miliar sebelum akhir tahun.

Di Inggris George Osborne, kanselir Inggris diperkirakan akan melakukan pidato tahunan untuk Partai Konservatif untuk mempertahankan program anggaran pemerintahnya. Dalam pidato tersebut, Osborne diperkirakan akan menyampaikan akan membekukan dewan pajak daerah tahun depan.

Investor Kabur, IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 4,02%

INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan sesi I Senin (3/10) ini ditutup melemah 4,02% ke level 3.406,16.

Kejatuhan tajam indeks siang ini seiring dengan anjloknya bursa Asia dan komoditas yang melemah.

Bursa Asia siang ini, Shanghai turun 0,25%, Hang Seng anjlok 4,95%, KLSE turun 2,05%, Nikkel melemah 2,51%, STI merosot 2,56%.

Sebanyak 244 saham turun siang ini, sementara hanya 10 saham yang naik, dan 25 saham masih stagnan. Indeks LQ45 sesi I ditutup anjlok 4,45% ke level 594,88, sedang JII melorot 4,38% ke level 470,69.

Volume perdagangan siang ini sebanyak 1,48 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,52 triliun. Asing terpantau keluar dari pasar dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp311,94 miliar.

Saham-saham yang turun tajam siang ini adalah ASII turun 5,1%, ITMG turun 4,96%, UNTR turun 5,22%, INTP turun 7,85%, AALI turun 5,18%, dan SMAR turun 11,85%.


Saham Asia di luar Jepang mungkin telah menurun sekitar 20% pada kuartal ketiga dalam kinerja terburuk mereka dalam tiga tahun, tapi mungkin akan lebih parah lagi di masa mendatang.

UBS memperkirakan penurunan saham Asia bisa mencapai 40% jika Yunani keluar dari zona euro, dalam apa yang Bank ini gambarkan sebagai "skenario terburuk".

Hal ini mengirim investor melarikan diri dari aset berisiko ke safe haven tradisional seperti emas dan Treasurys AS, mengirimkan dolar AS melonjak dan pasar saham di luar Jepang jatuh ke posisi terendah dengan mencatatkan price t0 book terendah 1x yang tidak pernah terjadi sejak krisis keuangan global tahun 2008, Kelvin Tay, kepala strategi investasi di UBS, mengatakan kepada CNBC Senin (3/10). "Masalahnya adalah, jika spiral situasi Yunani di luar kendali, dan itu masuk ke default tidak hanya daerah tapi dari zona euro itu sendiri, maka kita cenderung melihat pengulangan apa yang terjadi pada tahun 2008, dan akan terjadi aksi jual di seluruh papan, karena investor gugup terhadap situasi global," kata Tay.

Aksi jual terjadi Senin (3/10), dengan mayoritas indeks jatuh lebih dari 2 persen dan Hong Kong turun hampir 5 persen, di tengah kekhawatiran meningkatnya krisis utang Eropa.

Sementara UBS tidak berpikir Yunani keluar dari zona euro atau resesi AS sangat mungkin, bank percaya Yunani benar-benar akan bangkrut dan default di Maret 2012. Dan investor mungkin meremehkan riak yang terjadi di pasar Asia dalam jangka pendek. "Saya pikir banyak orang tidak menyadari bahwa jika seluruh situasi di Eropa meledak, itu akan mempengaruhi pinjaman bank global," kata Tay.

"Dalam kasus Asia, misalnya, dari pinjaman luar negeri sebesar $ 100, $ 50 sebenarnya disediakan oleh bank-bank Eropa, jadi jika bank-bank Eropa benar-benar harus rekapitalisasi, maka Anda memiliki masalah dengan suku bunga jangka pendek yang benar-benar bergerak naik."

Skenario kasus terbaik, menurut Tay, jika Yunani menghindari gagal bayar, pemulihan ekonomi AS yang kuat dan China menghindari pinjaman yang besar, yang dapat memicu penurunan saham (bouncing) 18% di pasar Asia kecuali Jepang. Namun, perkiraan yang realistis oleh UBS adalah untuk Yunani ke default, pertumbuhan yang lemah di AS dan pinjaman yang perlahan untuk China. Hasilnya masih akan memicu pelemahan lebih lanjut untuk saham Asia sekitar 18 persen, bank mencatat.

Dalam iklim saat ini, Tay percaya pasar Asia seperti China, India dan Indonesia masih bisa dijadikan opsi untuk investor, di mana permintaan domestik di negara-negara ini akan mengimbangi penurunan lingkungan eksternal. "Dalam hal ini, negara berkembang Asia lainnya seperti Korea, Taiwan, Singapura dan Hong Kong kemungkinan akan paling terkena dampak negatif mengingat bahwa mereka yang paling terkena siklus perekonomian di Asia di luar Jepang," Tay dicatat dalam sebuah laporan penelitian.

Namun, jika efek spiral pasar untuk menghindari risiko ekstrim, pasar seperti Indonesia dengan kepemilikan besar lembaga asing akan paling rentan terhadap aksi jual.

Hanya 8 saham yang naik, IHSG terpukul 4,05% di sesi I

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpukul cukup dalam di sepanjang sesi I. Pada pukul 12.00, indeks turun 4,05% menjadi 3.405,436.

Seluruh sektor memerah. Sektor agrikultur mencatatkan penurunan terbesar yakni 5,77%. Baru kemudian disusul oleh sektor industri dasar dan industri lain-lain dengan penurunan masing-masing sebesar 5,09% dan 4,85%.

Hanya ada 8 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Sedangkan 229 saham lainnya melorot dan 24 saham diam tak bergerak. Volume transaksi hari ini melibatkan 1,838 miliar saham senilai Rp 1,823 triliun.

Saham-saham yang menghuni posisi top losers di antaranya: PT Intikeramik Alamasri (IKAI) yang turun 28,97% menjadi Rp 103, PT Nusantara Inti Corpora (UNIT) turun 20% menjadi Rp 300, dan PT First Media (KBLV) turun 18% menjadi Rp 410.

Sementara itu, saham-saham yang berhasil menduduki posisi top gainers siang ini adalah: PT Sorini Agro Asia (SOBI) yang naik 6,98% menjadi Rp 2.300, PT Verena Multi Finance (VRNA) naik 3,31% menjadi Rp 125, dan PT Multibreeder Adirama (MBAI) naik 2,45% menjadi Rp 14.650.

Koreksi Berlanjut, Pilih Saham Penggerak Indeks

INILAH.COM, Jakarta- Koreksi yang terjadi pada siang ini akan berlanjut hingga penutupan. Saham yang menjadi penggerak indeks bisa menjadi pilihan menarik.

Pada sesi pertama perdagangan Senin (3/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam 142,87 poin (4,03%) ke level 3.406,161. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 yang anjlok 27,75 poin (4,46%) ke angka 594,883.

Laju indeks siang ini cukup ramai, didukung oleh volume transaksi yang tercatat mencapai 1,482 miliar lembar saham di pasar reguler dan total mencapai 1,836 miliar. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp1,520 triliun di pasar reguler dan total Rp1,555 triliun dan frekuensi 53.376 kali. Sebanyak 9 saham menguat, sedangkan 243 saham melemah dan 25 saham stagnan.

Kerontokan indeks, juga diwarnai aksi jual asing yang mencatatkan transaksi nilai jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp311,9 triliun. Rinciannya, transaksi beli mencapai Rp568,2 triliun sedangkan transaksi jual sebesar Rp880,2 miliar.

Semua sektor saham, kompak mendorong pelemahan IHSG. Sektor perkebunan memimpin pelemahan 5,76%, disusul industri dasar 5,09%, properti 4,99%, aneka industri 4,85%, keuangan 4,83%, manufaktur 3,81%, pertambangan 3,68%, perdagangan 3,30%, infrastruktur 3,01% dan konsumsi 2,18%.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo memperkirakan, indeks saham domestik bakal melemah hingga penutupan sore nanti. “Indeks akan menguji support 3.400 dan 3.522-3.580 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (3/10).

Pelemahan indeks hari ini menurutnya, dipicu oleh bursa regional dan global yang diselimuti berita buruk. Di antaranya adalah, meski Jerman sudah menyetujui kenaikan kapasitas dana The European Financial Stability Facility (EFSF), tapi pasar melihat belum tentu cukup. Berdasarkan kesepatakan Uni Eropa pada 21 Juli, kapasitas dana EFSF dinaikkan dari 220 miliar menjadi 440 miliar euro untuk membantu penyelesaian masalah krisis Eropa.

Di sisi lain, lanjut Tommy (panggilan akrab Satrio), banyak analis menyatakan, AS bakal terjebak pada resesi. Karena itu, jika melihat berita-berita terkini, sulit mencari sentimen positif bagi IHSG terutama yang berasal dari luar negeri.

Hanya saja, lanjutnya, sekarang pasar sudah memasuki kuartal keempat 2011 dan penutupan laporan keuangan kuartal ketiga. “Jika market mau berharap, tinggal bagaimana laporan keuangan kuartal ketiga itu,” tandasnya. “Jika angkanya bagus, pergerakan IHSG pun bakal baik.”

Pada saat yang sama, para analis saat ini sudah mulai ramai membicarakan outlook market 2012. Menurutnya, jika kinerja keuangan emiten pada kuartal ketiga positif, outlook 2012 pun masih memiliki harapan. “Sekarang, pasar tinggal mencermati posisi netbuy asing,” ujarnya.

Satrio memaparkan, dana jangka pendek asing, sejak awal 2011 sudah mencapai Rp18 triliun hingga 20 September 2011. Yang keluar sudah mencapai Rp15-16 triliun. “Artinya, dana jangka pendek asing yang tersisa tinggal Rp2-3 triliun di market domestik,” ungkap Tommy.

Sementara itu, Tommy mengatakan, dana jangka panjang asing, sudah mencapai Rp40 triliun sejak 2008 hingga 20 September 2011. Hingga saat ini dana tersebut belum mengalami perubahan. Jika yang keluar hanya dana jangka pendek, masih bisa diserap pasar. “Tapi, jika dalam bulan ini dana yang Rp40 triliun mulai keluar bertahap Rp2-3 trilun, bersiaplah atas peluang terjadinya longsor lebih lanjut di market,” katanya mengingatkan.

Dalam situasi ini, Satrio merekomendasikan saham-saham yang jadi penggerak indeks. Untuk lapis pertama, PT Astra Internasional (ASII), PT Gudang Garam (GGRM) dan PT Bank Mandiri (BMRI). Lapis kedua, PT Unilever Indonesia (UNVR) dan Lapis ketiga PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan PT Mitra Adi Perkasa (MAPI). “Pada saat IHSG turun tajam, saatnya akumulasi banyak-banyak saham-saham tersebut,” imbuhnya. [ast]

Dibayangi Banyak Sentimen Negatif, IHSG Anjlok 143 poin

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 143 poin dibayang-bayangi banyaknya sentimen negatif, antara lain lemahnya data ekonomi China, potensi gagal bayar Yunani dan potensi lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG jatuh 50,029 poin (1,41%) ke level 3.499,003. Buruknya data ekonomi China serta krisis utang Eropa yang tak kunjung usai menjadi sentimen negatif.

Tekanan jual tak henti-hentinya terjadi sejak pembukaan perdagangan, bahkan indeks sempat hampir kembali ke level 3.300 ketika berhenti di level terendahnya 3.402,093.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (3/9/2011), IHSG anjlok 143,596 poin (4,05%) ke level 3.405,436. Sementara Indeks LQ 45 terjun 27,933 poin (4,49%) ke level 594,703.

Sentimen negatif yang beredar pada perdagangan hari ini cukup marak, mulai dari lemahnya data manufaktur China yang sudah turun dalam tiga bulan terakhir, sampai Yunani yang gagal mencapai target defisit,

Target defisit Yunani untuk bisa mendapatkan bailout yaitu 7,4% pada kesepakatan Juni lalu. Namun ternyata, defisit anggaran Yunani hanya akan turun menjadi 8,5% dari PDB pada 2011.

Investor asing pun tak berlama-lama memegang portofolio sahamnya dan langsung menarik dananya keluar dari lantai bursa. Hingga siang ini, transaksi asing tercatat melakukan jual bersih dengan nilai cukup besar.

Lemahnya harga-harga komoditas dunia juga ikut memicu aksi jual di saham-saham yang berbasis komoditas. Selain itu, saham-saham properti dan finansial juga ikut dilepas.

Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 53.390 kali pada volume 1,838 miliar lembar saham senilai Rp 1,823 triliun. Sebanyak 9 saham naik, sisanya 243 saham turun, dan 25 saham stagnan.

Bursa saham Hong Kong menderita koreksi paling parah di regional. Maraknya sentimen negatif itu membuat investor khawatir perekonomian dunia kembali ke masa resesi.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia hingga siang ini:
  • Indeks Komposit Shanghai turun tipis 5,87 poin (0,25%) ke level 2.359,47.
  • Indeks Hang Seng terjun bebas 869,95 poin (4,95%) ke level 16.722,46.
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 223,27 poin (2,57%) ke level 8.477,02.
  • Indeks Straits Times ambruk 67,46 poin (2,52%) ke level 2.607,70.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Taisho (SQBI) naik Rp 1.000 ke Rp 118.000, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 550 ke Rp 53.050, Multibreeder (MBAI) naik Rp 350 ke Rp 14.650, dan Sorini Agro (SOBI) naik Rp 150 ke Rp 2.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 3.250 ke Rp 60.400, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.950 ke Rp 37.300, United Tractor (UNTR) turun Rp 1.150 ke Rp 20.850, dan Indocement (INTP) turun Rp 1.100 ke Rp 12.900.

(ang/qom)

UBS: Saham Asia Bisa Turun Hingga 40%

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Saham Asia di luar Jepang mungkin telah menurun sekitar 20% pada kuartal ketiga dalam kinerja terburuk mereka dalam tiga tahun, tapi mungkin akan lebih parah lagi di masa mendatang.

Mengutip CNBC, UBS memperkirakan penurunan saham Asia bisa mencapai 40% jika Yunani keluar dari zona euro, dalam apa yang Bank ini gambarkan sebagai "skenario terburuk".

Hal ini mengirim investor melarikan diri dari aset berisiko ke safe haven tradisional seperti emas dan Treasurys AS, mengirimkan dolar AS melonjak dan pasar saham di luar Jepang jatuh ke posisi terendah dengan mencatatkan price to book terendah 1x yang tidak pernah terjadi sejak krisis keuangan global tahun 2008, Kelvin Tay, kepala strategi investasi di UBS, mengatakan kepada CNBC Senin (3/10). "Masalahnya adalah, jika spiral situasi Yunani di luar kendali, dan itu masuk ke default tidak hanya daerah tapi dari zona euro itu sendiri, maka kita cenderung melihat pengulangan apa yang terjadi pada tahun 2008, dan akan terjadi aksi jual di seluruh papan, karena investor gugup terhadap situasi global," kata Tay.

Aksi jual terjadi Senin (3/10), dengan mayoritas indeks jatuh lebih dari 2 persen dan Hong Kong turun hampir 5 persen, di tengah kekhawatiran meningkatnya krisis utang Eropa.

Sementara UBS tidak berpikir Yunani keluar dari zona euro atau resesi AS sangat mungkin, bank percaya Yunani benar-benar akan bangkrut dan default di Maret 2012. Dan investor mungkin meremehkan riak yang terjadi di pasar Asia dalam jangka pendek. "Saya pikir banyak orang tidak menyadari bahwa jika seluruh situasi di Eropa meledak, itu akan mempengaruhi pinjaman bank global," kata Tay.

"Dalam kasus Asia, misalnya, dari pinjaman luar negeri sebesar $ 100, $ 50 sebenarnya disediakan oleh bank-bank Eropa, jadi jika bank-bank Eropa benar-benar harus rekapitalisasi, maka Anda memiliki masalah dengan suku bunga jangka pendek yang benar-benar bergerak naik."

Skenario kasus terbaik, menurut Tay, jika Yunani menghindari gagal bayar, pemulihan ekonomi AS yang kuat dan China menghindari pinjaman yang besar, yang dapat memicu penurunan saham (bouncing) 18% di pasar Asia kecuali Jepang. Namun, perkiraan yang realistis oleh UBS adalah untuk Yunani ke default, pertumbuhan yang lemah di AS dan pinjaman yang perlahan untuk China. Hasilnya masih akan memicu pelemahan lebih lanjut untuk saham Asia sekitar 18 persen, bank mencatat.

Dalam iklim saat ini, Tay percaya pasar Asia seperti China, India dan Indonesia masih bisa dijadikan opsi untuk investor, di mana permintaan domestik di negara-negara ini akan mengimbangi penurunan lingkungan eksternal. "Dalam hal ini, negara berkembang Asia lainnya seperti Korea, Taiwan, Singapura dan Hong Kong kemungkinan akan paling terkena dampak negatif mengingat bahwa mereka yang paling terkena siklus perekonomian di Asia di luar Jepang," Tay dicatat dalam sebuah laporan penelitian.

Namun, jika efek spiral pasar untuk menghindari risiko ekstrim, pasar seperti Indonesia dengan kepemilikan besar lembaga asing akan paling rentan terhadap aksi jual.

Mata uang Asia keok, pelemahan rupiah paling tajam

Mata uang Asia keok, pelemahan rupiah paling tajam
SINGAPURA. Pergerakan mata uang Asia masih menunjukkan pelemahan. Rupiah Indonesia dan baht Thailand menjadi dua mata uang dengan pelemahan terbesar diantara mata uang Asia lainnya.

Asal tahu saja, Bloomberg-JPMorgan Asia Dollar Index, yang mengukur kekuatan 10 mata uang terakhif di Asia di luar Jepang, turun ke posisi 114,58. Ini merupakan level terendah dalam seminggu terakhir. Sementara itu, pada pukul 09.45 waktu Jakarta, rupiah melemah 1,6% menjadi 8.928 per dollar. Sementara, baht melemah 0,6% menjadi 31,30. ringgit Malaysia juga melemah 0,6% menjadi 3,2071 per dollar.

Sebaliknya, Dollar Index yang diperdagangkan di ICE Futures di New York naik ke level tertinggi sejak Januari lalu. Kenaikan indeks dollar ini terjadi sebelum pertemuan menteri keuangan Eropa hari ini yang akan mendiskusikan ancaman gagal bayar utang (default) Yunani.

"Perekonomian Asia ikut terpukul perlambatan ekonomi global. Outlook pergerakan mata uang Asia saat ini masih negatif," jelas Philip Wee, senior currency economist DBS Group Holdings Ltd di Singapura.

Disumbang Emas dan Rokok, Inflasi September Capai 0,27%

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan laju inflasi di September 2011 cukup jinak mencapai 0,27%. Harga beras stabil, dan emas perhiasan masih menyumbang inflasi.

Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Djamal dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR. Soetomo, Jakarta, Senin (3/10/2011).

"Inflasi September rendah sekali dibanding Agustus 0,97%. Emas perhiasan perannya 0,05% di inflasi, Meski harganya turun tapi permintaan emas perhiasan masih tinggi," jelas Djamal.

Dia mengatakan harga beras stabil, harga cabai merah naik tipis 0,08%. Rokok kretek filter pun turut menyumbang inflasi September 0,04% karena kenaikan tarif cukai. Tarif angkutan udara juga tercatat menyumbang inflasi 0,03%. Kemudian sewa rumah menyumbang inflasi 0,02%, dan kenaikan uang kuliah menyumbang inflasi 0,02%.

Sementara penyumbang deflasi di September adalah daging ayam, lalu telur ayam yang harganya turun 0,04%. Ikan segar menyumbang deflasi 0,02%, dan harga properti menyumbang inflasi 0,02%.

Dari 66 kota, ada 45 kota yang mengalami inflasi dan 21 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Singkawang 1,53% dan Padang Sidempuan 1,43%. Sementara inflasi terendah di Bogor 0,01%, Sementara deflasi tertinggi terjadi di Palu 2,33% dan Manokwari 1,33%.


(dnl/qom)

Pasar tunggu data ekspor, rupiah tergerus 1,6%

Pasar tunggu data ekspor, rupiah tergerus 1,6%
JAKARTA. Rupiah melemah untuk pertama kali dalam lima hari terakhir. Otot rupiah tergerus sebelum pemerintah melaporkan data kinerja perdagangan. Pasalnya, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Agustus lalu diperkirakan melambat.

Apalagi, kecemasan terhadap krisis utang Eropa mendongkrak permintaan terhadap dollar AS. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah melemah 1,6% ke level 8.928 pada pukul 10.03 WIB. Padahal, dalam empat hari sebelumnya, mata uang Garuda ini telah menguat 3,1%.

Ekonom yang disurvei Bloomberg memprediksi, ekspor Indonesia pada Agustus naik 28,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini pertumbuhan terendah dalam lima bulan terakhir di 2011.

Sementara itu, dari kawasan Eropa, kekhawatiran terhadap krisis utang masih melemahkan sentimen di pasar. Hari ini, pejabat Eropa berkumpul di Luksemburg untuk membahas upaya melindungi perbankan dari krisis utang, dan mempertimbangkan sokongan lebih lanjut untuk dana penyelamatan di kawasan Eropa.

Kemarin, pemerintah Yunani menyetujui langkah penghematan sebagai syarat untuk mendapatkan dana talangan lebih lanjut. Dollar AS pun tercatat menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia, karena pasar lebih memilih untuk memegang mata uang safe haven.

Analis PT Bank Mandiri Reny Eka Putri memperkirakan, rupiah dan pasar saham kemungkinan akan melanjutkan tren bearish karena volatilitas yang dipicu oleh krisis utang Eropa dan lemahnya data ekonomi AS. "Kami mengekspektasikan BI akan menjaga rupiah di kisaran 8.700 - 8.800," ungkapnya, hari ini, di Jakarta.

Adapun, kepemilikan asing di surat utang pemerintah berbasis rupiah hingga 26 September lalu tercatat sekitar Rp 222,8 triliun, lebih rendah 10% dibandingkan awal September.

Goldman Sachs: Risiko Resesi AS Tinggi

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Risiko meningkat bahwa AS bisa jatuh ke dalam resesi dangkal, yang dapat menaikkan pengangguran negara ini sampai 12 persen, menurut catatan tim ekonom Goldman Sachs untuk kliennya.

"Mendasarkan perkiraan kami ekonomi AS akan menghindari resesi, meskipun risiko tinggi dan meningkat," tulis Zach Pandl, orang berpengaruh dari tim yang dijalankan oleh perusahaan Jan Hatzius seperti dilansir CNBC. "Resesi AS saat ini akan menyakitikan," ujar Goldman.

Secara khusus, perumahan dan pasar mobil tumbuh pada tingkat minimal, sehingga kemungkinan benar-benar tidak ada banyak ruang untuk turun, menurut catatan. S & P 500 kuartal terburuk sejak krisis keuangan pada 2008, dengan penurunan 14 persen.

Investor akan melihat apakah risiko resesi meningkat dari pengumuman manufaktur dan perekonomian jasa yang dirilis pekan ini. Laporan pekerja September akan diumumkan Jumat.

Produk domestik bruto kemungkinan menyusut 1,4 persen selama resesi dangkal, lebih kecil dari penghematan 2,3 persen. Kabar baik saat ini adalah bahwa sistem perbankan dalam kondisi jauh lebih baik daripada selama sektor itu diguncang oleh kerugian besar pada tahun 2008, menurut perusahaan. Kabar buruknya adalah bahwa langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal yang dapat mempercepat pemulihan ini (atau memiliki persepsi) maxed out. "Kendala untuk fokus pada kebijakan pengurangan defisit di Kongres dan mungkin persepsi bahwa kebijakan moneter telah mencapai batasnya negatif," tulis ekonom.

IHSG Masuki Masa Oktober Kelabu

Headline
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan mulai memasuki masa berkabung sejak Oktober ini. Beberapa emiten pun diperkirakan akan mengalami koreksi.

Yuganur Wijanarko, Senior Research HD Capital mengatakan, pada bulan kesepuluh ini, IHSG akan memasuki masa Oktober Kelabu. “Usai window dressing September lalu, IHSG akan terkoreksi secara medium term di bawah level 3.000,” katanya, Senin (3/10).

Hal ini didukung secara teknikal, dimana penutupan price gap atas dalam downtrend, merupakan pola berkelanjutkan untuk turun lagi. Apalagi secara bulanan MACD IHSG sudah mengkonfirmasi cross down 30 September.

“Pasca menutup semua price gap saham di atas, IHSG akan mengetes kembali support kritis di low 3.220 dengan potensi breakdown hingga 2.900 pada Oktober. Berhati-hati potensi suspen di bursa, bila hal itu terjadi,” ujarnya.

Prediksi koreksi ini terjadi karena ekonomi AS masih belum pulih sesuai ekspektasi, akibat harga komoditas minyak yang tinggi. Sehingga, The Fed belum berani melepas quantitative easing jilid tiga, sampai dolar kembali naik dan memicu komoditas turun ke harga yang lebih bersahabat.

Menurut Yuga, outlook AS dan Eropa yang masih belum jelas, serta problem likuiditas global, akan membuat asing menarik dana dari Indonesia, baik obligasi dan saham, sehingga rupiah berpotensi melemah dan saham terkoreksi, walaupun secara fundamental Indonesia masih bagus.

Melemahnya rupiah di atas 8.700 pada penutupan bulanan 30 September lalu, menandakan bahwa potensi swing di atas 9.000 sangat mungkin, dan merupakan sesuatu yang dapat memberikan sentimen negatif karena banyak emitten yang mempunyai cost serta hutang dalam dolar AS. “Penutupan bulanan rupiah di atas 8700 membuka potensi untuk bermain di 9.500 Oktober ini,” katanya.

Hal ini didukung ekspektasi inflasi Indonesia yang tinggi tahun depan. Suku bunga rendah memicu konsumsi domestik serta naiknya harga impor barang konsumen dapat menyebabkan inflasi (imported inflation) sehingga proyeksi angka-angka ekonomi dapat berubah.

Di sisi lain, tren investor gobal kembali ke mata uang aman dolar AS juga akan melukai emas, dimana logam mulia ini akan terus mengalami downtren karena mempunyai inverse relationship dengan dolar AS. “Emas akan menembus di bawah level 1.600 untuk bermian di range lebih rendah 1400-1600,” ujarnya.

Dengan ekspektasi Oktober kelabu, Yuga masih menyodorkan rekomendasi portfolio dan target harga koreksi beberapa emiten untuk satu bulan mendatang. “Investor sebaiknya melakukan strategi jual untuk saham-saham ini,” ucapnya.

Astra International (ASII) diperkirakan akan menyentuh level Rp45.000 dengan PER 2011 mencapai 11 kali, PBV 2011 3 kali dan ROE 2011 26%. Kemudian Charoen Pokphand (CPIN) yang akan mencapai level Rp1.850, dengan PER 2011 sebesar 12 kali, PBV 2011 3 kali dan ROE 49%. Serta ADMG yang akan menyentuh Rp350 dengan PER 6 kali, PBV 2 kali and ROE 33%.

Saham sektor perbankan seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Jabar (BJBR) dan Bank Central Asia (BBCA), juga diperkirakan akan terseret koreksi. BBRI akhir Oktober nanti diprediksi akan melemah hingga mencapai level Rp5.350, BMRI Rp5.250, BJBR Rp750 dan BBCA RP7.000 per lembarnya.

Yuga menilai, koreksi tidak terjadi hanya Oktober saja. Namun, juga berlanjut hingga tahun depan, dengan time frame hingga akhir Oktober, IHSG di level 2.900 dan Natalan IHSG mencapai 2.500-2.200. “Sedangkan IHSG 1700 tercapai pada Januari –Februari 2012,”pungkasnya. [ast]

Reminder Cum Date Dividen SCMA dan Right IssueAMAG 03/10/2011

Berikut ini kami informasikan bahwa hari ini 03 October 2011 adalah Cum Date untuk pelaksanaan kegiatan Corporate Action sebagai berikut :

No.

Kode Efek

Nama Efek

Jenis Kegiatan

1.

SCMA

SURYA CITRA MEDIA Tbk

Dividen Tunai Rasio Rp 205.- per saham

2.

AMAG

ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk

Right Issue Rasio Setiap 3 saham yang dimiliki dapat 3 Right , harga pelaksanaan Rp 150.- per saham
Untuk Setiap 3 Right yang di Exercise dapat 1 Waran Seri II


Kode AMAG- Right adalah AMAG-R , Efektif Pelaksanaan dan Perdagangan tgl. 10 - 21 Oktober 2011

Sebanyak 138 saham tergelincir, IHSG dibuka anjlok 3,17%

Sebanyak 138 saham tergelincir, IHSG dibuka anjlok 3,17%
JAKARTA. Koreksi bursa saham regional berimbas pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pagi ini. Pada Senin (3/9) pukul 09.34 WIB, IHSG sudah anjlok 3,17% ke level 3.436,36.

Sebanyak 138 saham bertumbangan, dan hanya 3 saham yang mampu naik. Sedangkan 17 saham lainnya masih diam di tempat.

Semua sektor memerah, dengan kejatuhan terdalam pada sektor keuangan yaitu sebesar 3,53%. Disusul sektor industri dasar yang tergelincir 2,93%.

Pagi ini, saham-saham yang tertekan di posisi top losers, antara lain PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang turun 5,05% ke Rp 2.350. Kemudian PT Indosat Tbk (ISAT) yang jatuh 4,76% ke Rp 5.000, dan saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) yang turun 4,49% ke Rp 1700.

Sementara, saham-saham yang berhasil menempati deretan top gainers, yaitu saham PT Myoh Technology Tbk (MYOH) yang reli 2,09% ke Rp 98, dan saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) yang naik 1,92% ke Rp 530.

Koreksi Bursa Asia Pukul IHSG Dibuka Anjlok 1,38%

Medium
INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada perdagangan Senin (3/10) ini dibuka melemah 1,38% ke level 3.499,72.

Pelemahan indeks pagi ini perkirakan seiring dengan koreksi bursa Asia dan komoditas yang melemah. Samuel Sekuritas dalam ulasan pasarnya hari ini memprediksi indeks yang selama 4 hari terakhir mampu menguat akan mengalami tekanan profit taking terutama di saham-saham sektor banking, mining dan consumer. Support indeks berada di level 3.473.

Bursa AS menutup pekan lalu dengan melemah signifikan sekitar 2,5% seiring rilis data manufacturing index China dan retail sales Jepang yang lebih buruk dari ekspektasi. Sentimen negative juga diperkuat oleh rilis data personal income AS di bulan Agustus yang kembali turun 0.1%, lebih buruk dari ekspektasi. Harga komoditas dunia juga turut melemah di akhir pekan lalu dengan harga minyak anjlok 3,6% ke level US$79,2/barel diikuti harga metal dunia seperti Nikel -5,7% dan Timah -1,6%.

Bursa Asia pagi ini turut dibuka melemah signifikan dengan Nikkei -2,3% dan HangSeng -3,3% memfaktorkan koreksi yang terjadi di bursa global dan komoditas di akhir pekan lalu. Harga minyak dunia melanjutkan koreksinya ke level US$78,6/barel pagi ini dengan harga batubara NEWC masih bergerak sideways di level US$122,5/ton.

Sebanyak 135 saham turun pagi ini, sedang 4 saham naik, dan 19 saham masih stagnan. Indeks LQ45 juga anjlok 1,96% ke level 610,39 pagi ini, sedang JII melorot 1,51% ke level 484,84.

Volume perdagangan pagi ini sebanyak 157,19 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp189,33 miliar. Asing terpantau lebih banyak menjual pagi ini dengan mencatatkan net foreign sell sebesar Rp14,4 miliar.

Saham-saham yang turun tajam pagi ini adalah UNTR turun 3,18%, ASII turun 1,02%, AALI turun 2,59%, GGRM turun 0,95%, INTP turun 2,85%, dan ITMG turun 0,63%.

Bailout Yunani Pendongkrak IHSG Pekan Ini

INILAH.COM, Jakarta – Laju IHSG pekan ini diprediksi menguat. Troika yang bakal mengumumkan persetujuan bailout Yunani awal pekan ini jadi katalisnya. Tapi, karena harus dicerna, strategi trading dinilai lebih cocok.

Pada perdagangan Jumat (30/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat tipis 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032, dengan intraday tertinggi di 3.579,66 dan terendah di 3.523,75. Demikian pula indeks saham unggulan indeks saham unggulan LQ45 yang naik 1,822 poin (0,29%) ke level 622,636.

Analis Riset Reliance Securities Gina Novrina Nasution memperkirakan, IHSG melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan. “Indeks akan bergerak dalam kisaran support 3.385 dan resistance 3.760. Artinya, indeks berpeluang tembus level psikologis 3.700," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Penguatan indeks pekan ini, menurutnya, terutama dipicu oleh faktor Troika yang akan mengumukan persetujuannya untuk bailout Yunani, pada Senin (3/10) ini. Troika merupakan delegasi yang terdiri Komisi Uni Eropa, European Central Bank (ECB) dan International Monetary Fund (IMF).

Sejauh ini, lanjut Gina, berdasarkan hasil investigasi dua hari, pada Kamis (29/9) dan Jumat (30/9) pekan lalu, di atas 50% anggota delegasi sudah menyetujui bailout tersebut. Sebanyak 243 anggota delegasi sudah menyetujuinya. "Tinggal 83 anggota yang masih membutuhkan negosiasi untuk setuju," ungkap dia.

Semua itu, Gina menegaskan, merupakan sentiment positif bagi market. Sebab, laporan pada Senin (3/9) malam WIB itu, merupakan laporan final apakah Yunani layak di-bailout atau tidak. "Hari Selasa (4/9) market Indonesia bakal merespon positif," paparnya.

Tapi, dia menegaskan, pada awal pekan pun, jelang penutupan sesi dua, IHSG berpeluang merespon positif.
Sebab, pada sesi dua indeks saham domestik, bursa Eropa sudah dibuka. "Lalu, pada sesi pagi, China dan Jepang juga bakal mengumumkan apakah akan membeli obligasi Yunani atau tidak," ungkap Gina.

Memang, Gina menggarisbawahi, secara teknikal, indeks berada dalam bearish trend. Tapi, untuk sepekan ke depan, indeks berpeluang menguat terlebih dahulu. "Karena itu, dalam situasi ini, indeks lebih cocok untuk trading jangka pendek dibandingkan beli untuk jangka menengah," timpal dia.

Sebab ke depannya, menurut Gina, dari keputusan Troika untuk membailout Yunani pada 3 Oktober ini, harus dicermati dan dicerna oleh pasar dalam sebulan ke depan. Pasar akan menguji apakah keputusan untuk Yunani merupakan yang terbaik. “Ditakutkan, keputusan tersebut hanya menunda default saja,” timpalnya.

Gina menilai, jika peneyelesainnya utang Yunani bersifat sementara alias tidak permanen, peluang default ke depannya tetap terbuka lebar. "Pasar juga masih khawatir, setelah Yunani default akan merembet ke negara Eropa yang lain," paparnya.

Dalam situasi ini, dia merekomendasikan positif untuk trading pada saham-saham yang potensial naik seperti PT Astra Internasional (ASII), PT United Tractor (UNTR), PT Indo Tambang Raya (ITMG), PT Bukit Asam (PTBA), PT Timah (TINS), PT International Nickel Indonesia (INCO) dan PT Bank Negara Indoensia (BBNI).

Dia juga merekomendasikan saham terbitan PT Bank Mandiri (BMRI) dengan target Rp7.100 dalam sepekan ke depan,PT Harum Energy (HRUM) dengan target Rp7.800, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dengan target Rp3.000, PT Jasa Marga (JSMR) dengan target Rp4.250, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan target Rp6.450 dan PT Bank Danamon (BDMN) dengan target Rp5.100.

Ia merekomendasikan trading buy saham-saham tersebut. "Main jangka pendek. Sebab, pasar masih harus mencerna penyelesaian krisis utang Yunani," katanya Gina dengan nada tegas.

Dihubungi terpisah, Analis Panin Securities Purwoko Sartono mengatakan, secara teknikal, IHSG tampak masih dalam tekanan jual sepekan ke depan karena negatifnya faktor eksternal. "Pasar masih was-was menantikan kepastian bailout Yunani," imbuh dia.

Memang dia mengakui, penguatan indeks dalam empat hari terakhir pekan lalu, karena tekanan dari Eropa berkurang. Sebab, Jerman mem-voting ratifikasi kapasitas dana The European Financial Stability Facility (EFSF) senilai 440 miliar euro untuk membantu penyelesaikan krisis kawasan itu.

Di sisi lain, pelaku pasar sudah mulai melakukan selective buying sejak awal pekan karena pekan sebelumnya indeks domestik rontok hingga 8,8% dalam sehari Kamis (22/9). "Tapi, secara umum, kenaikan pekan lalu lebih karena faktor technical rebound. Sebab, tidak ada faktor fundamental yang mempengaruhi trading," ucap Purwoko.

Karena itu, lanjutnya, dilihat dari pola trading, kalaupun indek menguat pekan ini akan tertahan. Apalagi, penutupan pekan lalu, membentuk Bearish Doji Star Candlestick yang menandakan tertahannya penguatan. "Dalam sepekan ke depan, indeks akan volatile meski ada peluang untuk cenderung menguat," tuturnya.

Kecenderungan penguatan IHSG, bisa saja dipicu oleh antisipasi pasar atas laporan keuangan untuk kuartal III-2011. Pada saat yang sama, inflasi September yang dirilis awal pekan ini sudah diperkirakan terkendali bahkan melandai. "Sebab, perekonomian global juga melunak," ucapnya.

Tapi, dia mengingatkan, sentiment external yang membuat market volatile akibat berita-berita negatif yang masih jadi ancaman. "Sebab, pasar juga masih menantikan hasil investigasi kelayakan bailout Yunani," ujarnya.

Karena itu, untuk awal pekan, dia memperkirakan, indeks akan melemah terlebih dahulu. Sebab, kenaikan indeks dalam empat hari terakhir di pekan lalu, dari 3.300 ke 3.550-an juga sudah cukup tinggi. "Memang, dibandingkan angka penurunan sebelumnya masih jauh," ucapnya.

Tapi, di tengah situasi market yang belum kondusif, pelaku pasar cenderung profit taking terlebih dahulu. Dalam sepekan ke depan, support indeks berada di 3.360 dan 3.650 sebagai level resistance-nya.

Secara sektoral, Purwoko merekomendasikan positif saham-saham di sektor perbankan, industri dasar semen dan saham-saham pertambangan yang sudah turun cukup dalam. Menurutnya, jika IHSG lepas dari tekanan jual, potensi penguatan saham-saham tambang sangat besar. "Saya rekomendasikan buy on weakness saham pada ketiga sektor itu," imbuh Purwoko.

Euro mungkin terkoreksi hingga akhir Oktober

Euro mungkin terkoreksi hingga akhir Oktober
JAKARTA. Posisi euro semakin terpojok di hadapan sejumlah valuta dunia. Kurs euro terhadap dollar Amerika Serikat (EUR/USD), Jumat (30/9) lalu, menyentuh 1,3387. Ini adalah level terburuk euro terhadap dollar AS selama delapan bulan terakhir.

Euro juga jatuh terhadap yen Jepang dan franc Swiss. Pairing EUR/JPY merosot 1,3% menjadi 103,12. Sedangkan, euro terhadap franc Swiss (EUR/CHF) melorot 0,3% menjadi 1,215.

Kejatuhan euro dipicu meningkatnya kecemasan bahwa pengambil kebijakan di Uni Eropa tak mampu menyelesaikan krisis utang. Kondisi itu diperkuat ancaman default Yunani pada Oktober ini.

"Dua isu utama yang mendominasi pasar kini adalah masalah utang Eropa dan ketakutan menurunnya perekonomian global. Pelaku pasar masih menghindari risiko. Itulah yang menopang dollar AS dan mata uang safe haven lainnya," ujar Vassili Serebriakov, analis Wells Fargo & Co. di New York, kepada Bloomberg, Sabtu (1/10).

Kepala Riset Divisi Tresuri Bank BNI Nurul Eti Nurbaeti melihat euro masih akan tertekan. "Data unemployment rate Eropa diprediksi stagnan. Ini bisa mengganjal laju euro," ujar dia. Nurul memperkirakan pada minggu ini support EUR/USD di 1,330 dengan resistance di posisi 1,37.

Kepala Riset Real Time Futures, Wahyu Tribowo Laksono, melihat Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin akan memangkas suku bunga 0,25%. Ini akan menekan posisi euro hingga akhir Oktober.

"Sampai ada rencana yang pasti mengenai pencegahan default Yunani, masih ada risiko euro jatuh lebih dalam," ujar Wahyu. Dia memprediksi, EUR/USD pada akhir Oktober nanti berpotensi melemah ke 1,300. EUR/JPY bisa melemah ke 103,00 dan berlanjut menuju 101,93.

Tapi jika investor menilai pemangkasan bunga adalah jalan keluar layaknya bailout, euro bisa menanjak. "Penurunan bunga biasanya menekan valuta. Tapi ketika itu dianggap solusi, peluang rebound terbuka," tambah Wahyu.

BUMI Raup Pinjaman US$400 Juta dari Axis Bank?

INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merencanakan pinjaman dari Axis Bank Hong Kong senilai US$400 juta.

Mengutip IFR ASia, pinjaman tersebut rencananya akan digunakan untuk refinancing sebagian cicilan pertama (tranche I) utang kepada China Investment Corporation (CIC) sebesar US$600 juta. Pinjaman ini bertenor lima tahun dengan kupon mencapai LIBOT plus 5,5% untuk dua tahun pertama dan LIBOR plus 6,5% untuk tahun berikutnya.

Hal ini juga diakui Direktur BUMI Dileep Srivastava. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan darimana dana tersebut akan diperoleh. Adapun total utang BUMI ke CIC mencapai US$1,9 miliar dengan bunga 12%. Tranche I sejarusnya jatuh tempo pada September 2014, Tranche II September 2014, dan Tranche III US$700 juta.

Saham Ekportir Tekan Bursa Jepang

Headline
INILAH.COM, Los Angeles - Saham Jepang dibuka anjlok drastis pada Senin (3/10), setelah aksi sell-off AS akhir pekan lalu.

Indeks Nikkei Stock Average kehilangan 2% menjadi 8.530,88, dengan Topix turun 2,2%, didukung koreksi saham eksportir. Sony Corp turun 4,2%, Advantest Corp turun 3,2%, dan Panasonic Corp turun 4,5%.

Sektor perdagangan melemah terimbas turunnya harga komoditas, dengan Mitsubishi Corp kehilangan 3,1%, dan Itochu Corp turun 4,1%. Sektor pengiriman juga melemah, dengan Mitsui OSK Lines Ltd jatuh 5,7%, dan Nippon Yusen K.K. jatuh 4,3%. [ast]

IHSG Masih Diwarnai Volatilitas

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG hari ini cenderung terbatas dan diwarnai banyak volatilitas. Namun, ada beberapa saham yang menarik untuk dicermati.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, IHSG awal pekan ini masih akan bergerak dengan fluktuasi cukup besar. “IHSG akan berada di kisaran 3.468-3.600 hari ini,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan IHSG pekan lalu dipicu kembalinya investor lokal ke pasar modal. Selain intervensi BI terhadap mata uang dalam negeri. “Dengan kembalinya rupiah ke kisaran Rp8.700, kepercayaan diri pelaku pasar tumbuh sehingga mereka kembali masuk ke bursa saham, katanya.

Pasar saat ini juga masih menantikan rilisnya data ekonomi, baik dari eksternal maupun domestik. Seperti inflasi, yang diperkirakan masih terkendali.

Senada dengan Felix Sindhunata, analis dari Henan Putihrai. Menurutnya, volatilitas bursa pekan ini masih akan tinggia, karena belum pastinya kondisi ekonomi global. Ia menuturkan, selama bulan lalu, banyak kesepakatan yang dilakukan Uni Eropa untuk mengatasi krisis,”Namun belum ada realisasi yang cukup signifikan meredam kekhawatiran pasar.

Di tengah situasi ini, Edwin masih merekomendasikan beberapa saham, seperti dari sektor perbankan, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI). Kemudian Indo Tambangraya Megah (ITMG), Astra International (ASII), Jasa Marga (JSMR) dan Inocement (INTP),”Saham-saham ini masih memiliki potensi penguatan lebih lanjut,” ucapnya.

Pada perdagangan Jumat (30/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032, dengan intraday tertinggi di 3.579,66 dan terendah di 3.523,75. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 6,52 miliar lembar saham, senilai Rp 12,105 triliun dan frekuensi 117.040 kali.

Sebanyak 99 saham naik, sisanya 126 saham turun, dan 75 saham stagnan. Aliran dana asing mendukung penguatan bursa, dengan nilai transaksi beli bersih (net foreign buy) mencapai Rp7,585 triliun. Rinciannya adalah transaksi beli sebesar Rp9,030 triliun dan transaksi jual sebesar Rp1,445 triliun. [mdr]

Inflasi September Melandai, Rupiah Juga

Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (3/10) diprediksi melemah. Ekspektasi pelonggaran moneter BI jadi katalisnya seiring landainya inflasi.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, awal pekan ini, rupiah berpeluang masih konsolidasi dengan kecenderungan sedikit tertekan ke bawah. Sebab, pergerakan rupiah awal pekan ini sangat tergantung pada data inflasi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (3/10) ini.

Sebab, lanjut dia, data itu akan memberikan gambaran bagi pasar tentang bagaimana outlook kebijkana moneter Bank Indonesia. Inflasi diperkirakan masih melandai dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) di level 5% plus-minus 1% (year on year). "Karena itu, rupiah akan konsolidasi cenderung melemah dalam kisaran 8.700 - 8.900 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Jika inflasi kembali mereda, Firman menegaskan, semakin besar peluang untuk menurunkan suku bunga setelah bulan lalu, bank sentral tetap mempertahankan BI rate di level 6,75% dan di sisi lain, suku bunga Fasbi (Fasilitas Bank Indonesia) diturunkan. "Tapi, peluang pelemahan rupiah hari ini bersifat terbatas," ujarnya.

Sebab, pada Sabtu (1/10) sudah dirilis data Indeks Manufaktur China yang angkanya sudah diperkirakan membaik. "Indeks PMI China diperkirakan naik jadi 51,2 dari sebelumnya 50,9," ujarnya.

Lalu, pada Senin (3/10) pagi ini, pasar juga sudah dihadapkan pada data manufacturing Jepang yang juga sudah diprediksi membaik. "Indeks manufaktur Tamkan yang dirilis Bank of Japan (BoJ), angkanya sudah diprediksi positif 2 dari sebelumnya -9," papar Firman.

Dua data dari mitra dagang utama Indonesia ini, lanjutnya, bisa menahan pelemahan rupiah lebih jauh akibat ekspektasi pelonggaran moneter dari Bank Indonesia. Jika kedua data China dan Jepang itu baik, outlook ekonomi Indonesia pun membaik. "Ini juga akan meredakan kecemasan investor terhadap performa ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar," imbuh dia.

Tapi, bagaimanapun, karena Indonesia memiliki rilis inflasi September yang diumumkan BPS awal pekan ini, investor juga butuh angka itu sebagai petunjuk untuk outlook kebijakan moneter Bank Indonesia yang akan diumumkan pekan depan. "Jadi, kemungkinan rupiah akan menguat terlebih dahulu, lalu konsolidasi, dan pada akhirnya akan ditutup sedikit melemah awal pekan ini," imbuh Firman.

Asal tahu saja, kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (30/9) ditutup menguat 60 poin (0,67%) ke level 8.780/8.800 per dolar AS.

Bursa Regional Kembali Melemah, IHSG Siap Kena Imbas

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu mengalami gerak yang sangat fluktuatif meski akhirnya ditutup menguat. IHSG secara perlahan pulih seiring membaiknya bursa-bursa regional.

Mengawali perdagangan pekan lalu, IHSG sempat merosot tajam ke level 3.300 akibat sentimen negatif krisis utang Yunani yang belum juga menemukan jalan penyelesaian. Namun seiring munculnya setitik harapan dari komitmen pemimpin Eropa untuk penyelesaiannya, IHSG membaik bersamaan dengan membaiknya bursa regional.

Berikut pergerakan IHSG pada pekan lalu, yang ditutup menembus lagi level 3.500.
  • Senin (26/9/2011), IHSG anjlok 110,209 poin (3,22%) ke level 3.316,137.
  • Selasa (27/9/2011), IHSG menguat 157,801 poin (4,76%) ke level 3.473,938.
  • Rabu (28/9/2011), IHSG menguat 39,228 poin (1,12%) ke level 3.513,166.
  • Kamis (29/9/2011), IHSG menguat 24 poin (0,68%) ke level 3.537,178.
  • Jumat (30/9/2011), IHSG naik tipis 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032.
Sentimen negatif kembali melingkari pergerakan IHSG. Anjloknya lagi bursa-bursa utama dunia akan kembali menekan laju IHSG pada perdagangan Senin (3/10/2011). Sentimen negatif itu akan lebih kuat, meski hari ini akan ada data inflasi yang dirilis BPS.

Bursa Wall Street pada akhir pekan lalu merosot tajam, sekaligus menutup perdagangan kuartal III-2011 pada titik terendahnya sejak krisis tahun 2008. Data ekonomi yang negatif dari China semakin menimbulkan kecemasan investor. Data dari China menunjukkan sektor manufaktur yang merupakan motor penggerak ekonomi menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut. Sementara saham Morgan Stanley merosot karena kekhawatiran adanya eksposure pada bank-bank di Eropa.

Pada perdagangan Jumat (30/9/2011), indeks Dow Jones industrial average ditutup merosot hingga 240,60 poin (2,16%) ke level 10.913,38. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah hingga 28,98 poin (2,50%) ke level 1.131,42 dan Nasdaq melemah 65,36 poin (2,63%) ke level 2.415,40.

Sentimen negatif bertambah setelah Yunani gagal mencapai target defisit, yang merupakan bagian dari kesepakatan bailout. Hal itu semakin menambah kekhawatiran terjadinya gagal bayar dari Yunani. Yunani mengatakan defisit anggarannya akan turun menjadi 8,5% dari PDB pada 2011, turun dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 10,5%. Namun angka itu meningkat dari target awal yang dibuat pada Juni sebesar 7,4%.

Merosotnya bursa Wall Street tersebut langsung diikuti oleh bursa-bursa Asia Pasifik. Berikut pergerakan bursa regional pada Senin pagi:
  • Indeks S&P/ASX melemah 70,5 poin (1,8%) ke level 3.938,1.
  • Indeks Nikkei-225 melemah 132,31 poin (1,52%) ke level 8.567,98.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Kresna Sekuritas:
Resisten 3.600-3.650 masih menjadi risiko terbesar pergerakan IHSG, dan munculnya doji menjadi indikasi semakin besarnya tekanan di pasar. Penutupan di bawah level 3.470 akan mengkonfirmasi pembalikan ke arah negatif bagi IHSG. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3.470-3.600

Panin Sekuritas:
Perdagangan terakhir pekan lalu indeks ditutup menguat tipis melanjutkan kenaikan tiga hari berturut-turut. Meski demikian kami melihat mulai muncul tekanan pada indeks sekaligus mengakhiri sentimen positif dari perkembangan krisis hutang Yunani. Pekan ini, fokus investor masih pada faktor eksternal seperti berita krisis hutang, data makro ekonomi AS, serta dari dalam negeri seperti laporang keuangan emiten kuartal 3, data inflasi September, dan juga BI Rate. Secara teknikal, kami melihat indeks mulai membentuk doji star pada short term bullish rally, yang mengindikasikan adanya peluang reversal. Kisaran support-resistance hari ini 3.490-3.580. Saham pilihan : INTP, ANTM, ASRI, BSDE.

Indosurya:
Pada perdagangan Senin (3/10) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.494-3.521 dan resistance 3.578-3.607. IHSG membentuk three white soldier . Posisi candle mulai menjauhi lower bollinger bands. MACD masih mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba reversal dari area oversold meski masih sedikit tertahan. IHSG akhirnya menguat selama 4 hari perdagangan. Tetapi, penguatan ini belum dapat menyamai posisi tertinggi IHSG pada 22 September, saat terjadi penurunan. Kembali melemahnya bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan dan adanya spekulan yang memanfaatkan kondisi tersebut diperkirakan akan menahan laju penguatan IHSG. Diharapkan rilis inflasi bisa direspon positif sehingga mampu menahan pelemahan, bila terjadi.

eTrading Securities:
IHSG pada Jumat (30/9) ditutup naik 11 point (+0.33%) ke level 3,549.03 dengan hampir seluruh sektor mengalami kenaikan kecuali basic-industry (-0.48%), misc-industry (-0.77%), infrastructure (-0.22%) dan finance (-0.40%) dengan total transaksi di bursa tercatat sebanyak 13.04 juta lot atau setara dengan Rp12.10 triliun. Tercatat sebanyak 94 saham mengalami kenaikan, 117 saham mengalami penurunan, 69 saham tidak mengalami perubahan dan 173 saham tidak diperdagangkan sama sekali.

Saham-saham yang menjadi penahan turunnya bursa kemarin a.l. UNVR, GGRM, TLKM, ASII dan ICBP sementara yang menjadi pemberat bursa hari ini a.l. BMRI, INTP, PGAS, SMGR, dan BBNI.

Asing tercatat melakukan net sell pada pasar regular sebesar Rp165 milliar dengan saham-saham yang paling banyak di jual adalah BMRI, ASII, ADRO, TLKM dan HRUM. Rupiah diperdagangkan menguat 46 point ke level Rp8,810 per US Dollar.

Secara teknikal, setelah mengalami kenikan empat hari berturut-turut Candlestick IHSG tampak membentuk pola Spinning Top mengindikasikan sinyal bearish reversal sementara dari pergerakan indikator tampak stochastic dan RSI masih bergerak uptrend. Pada perdagangan hari ini (3/10) perlu diwaspadai adanya aksi profit taking, diperkirakan IHSG akan bergerak pada range 3513-3590. Sementara itu, saham-saham yang dapat diperhatikan a.l. ICBP, HEXA, dan BHIT.

(qom/qom)

Rupiah berpeluang kembali menguat

Rupiah berpeluang kembali menguat
JAKARTA. Analis menilai, hari ini nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpeluang kembali menguat. Apalagi, rupiah sudah tertekan cukup dalam sepanjang pekan lalu. Pekan lalu mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, mengalami penurunan terburuk sejak krisis di 1997.

Hari ini pemerintah akan kembali mengumumkan data inflasi serta neraca perdagangan Indonesia. Analis memprediksi data-data kinerja ekonomi bakal positif, sehingga bisa meniupkan sentimen positif bagi rupiah.

Kepala Riset Divisi Tresuri BNI Nurul Eti Nurbaeti menganalisis, Indonesia akan mencetak surplus di neraca perdagangan September. Laju inflasi juga masih terkendali. "Peluang rupiah menguat terbuka," kata dia, Jumat (30/9).

Lelang Surat Utang Negara (SUN) turut menopang rupiah. Selasa (4/10) nanti, pemerintah akan kembali melelang lima seri SUN dengan target indikatif Rp 6 triliun.

Nurul juga yakin Bank Indonesia (BI) akan terus menjaga nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi. "BI akan terus menjaga supaya tidak lebih banyak dana jangka pendek yang keluar dari Indonesia," sebut dia.

Meski begitu, para analis menilai rupiah belum bisa menguat secara signifikan. "Kita masih melihat investor global melakukan penyesuaian posisi seiring dengan risk aversion," kata Roy Teo, analis ABN Amro Private Bank seperti dikutip Bloomberg, akhir pekan lalu.

Proyeksi Nurul, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hari ini akan berada di kisaran Rp 8.700 - Rp 8.850.

Inilah Saham Pilihan Senin (3/10)

INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham Indonesia pada perdagangan Senin (3/10) diperkirakan mulai memiliki peluang untuk menguat dengan kisaran 3.490-3.580.

"Secara teknikal, kami melihat indeks mulai membentuk doji star pada short term bullish rally, yang mengindikasikan adanya peluang reversal. Saham pilihan seperti INTP, ANTM, ASRI dan BSDE," kata analis saham Panin Sekuritas, Purwoko Sartono kemarin dalam catatannya.

Pekan ini, fokus investor masih pada faktor eksternal seperti berita krisis hutang, data makro ekonomi AS. Dari dalam negeri seperti laporang keuangan emiten kuartal 3, data inflasi September, dan juga BI Rate.

Perdagangan terakhir pekan lalu indeks ditutup menguat tipis melanjutkan kenaikan tiga hari berturut-turut. "Meski demikian kami melihat mulai muncul tekanan pada indeks sekaligus mengakhiri sentimen positif dari perkembangan krisis utang Yunani," ujarnya.

Pada Jumat pekan lalu, IHSG ditutup naik 11,85 poin atau 0,3% ke 3.549,03. Volume perdagangan mencapai Rp6,5 miliar saham senilai Rp11,7 triliun. IHSG mengalami net foreign buy Rp7,6 triliun dengan pembelian asing mencapai Rp9,02 triliun dan penjualan asing sebesar Rp1,4 triliun.

Publik China: Eropa Lambat Atasi Krisis

Headline
INILAH.COM, Beijing - Seperempat dari cadangan devisa China senilai US$3,2 triliun dalam bentuk euro. Publik China mulai khawatir dengan keamanan aset euro tersebut.

Pemerintah China sampai saat ini masih yakin euro dan Uni Eropa akan berhasil mengatasi krisis utang. China tetap bersedia berinvestasi di Eropa walaupun menunggu krisis dapat teratasi terlebih dahulu.

Beberapa media besar China mulai menurunkan tulisan tentang kejengkelannya terhadap Uni Eropa yang dinilai lamban mengatasi krisis. "Negara-negara Eropa harus bertindak tegas untuk menyelesaikan krisis utang atau berisiko negara anggota harus keluar dari mata uang tunggal," komentar Harian People's Daily, koran resmi Partai Komunis China, kemarin yang dikutip dari yahoofinance.com .

Salah satu yang menjadi sumbernya adalah Qin Hongm ahli studi internasional. Menurutnya, jika Eropa tetap membuang-buang waktu maka situasinya akan memburuk lagi. Pihak luar pun tidak akan berani dengan cepat memberi bantuan.

"Zona Eropa mungkin akan benar-benar hancur. Tanpa diragukan lagi, ini akan menjadi bencana besar bagi Eropa dan dunia," katanya.

Sumber lain mengatakan Eropa sedang barada dalam titik penting dalam sejarah. Mereka harus menunjukkan sikap bijaksana dan keberanian besar untuk mengambil tindakan.

Sumber lain menyarankan kalau saja Uni Eropa dapat mendirikan Fiscal Union maka mungkin masih bsia mengubah nasib. Jika terlambat mengambil tindakan maka beberapa anggotanya mungkin terpaksa akan keluar.

Harian People's Daily menilai terjadi perbedaan mendasat antara ekonomi di kawasan Selatan dan Utara. Jadi berbagai solusi ternyata sulit untuk diterapkan dalam mengatasi krisis.

Harga minyak kembali melorot dari level terendah dalam setahun terakhir

Harga minyak kembali melorot dari level terendah dalam setahun terakhir
SYDNEY. Harga kontrak minyak kembali melorot dari level terendah dalam satu tahun terakhir. Pagi tadi, harga kontrak minyak untuk pengantaran November yang ditransaksikan di New York Mercantile Exchange turun US$ 1,30 menjadi US$ 77,90 per barel. Pada pukul 10.06 waktu Sydney, kontrak yang sama berada di level US$ 78,30 sebarel.

Sekadar mengingatkan, pada 30 September lalu, harga kontrak minyak turun US$ 2,94 menjadi US$ 79,20 per barel. Ini merupakan level terendah sejak 29 September 2010. Penurunan harga minyak pada kuartal III lalu merupakan yang tebesar sejak periode tiga bulanan yang berakhir 31 Desember 2008.

Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran November turun US$ 1,36 atau 1,3% menjadi US$ 101,40 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Penurunan harga minyak terjadi setelah investor berspekulasi bahwa perlambatan ekonomi AS serta krisis utang Eropa akan memangkas permintaan bahan bakar minyak.

Resesi makin nyata, minyak kian lemah

Resesi makin nyata, minyak kian lemah
JAKARTA. Banderol minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terpuruk ke posisi terendah sepanjang tahun 2011. Menutup pekan lalu, minyak WTI untuk pengiriman November 2011 di bursa New York terjatuh di harga US$ 79,2 per barrel. Sementara minyak jenis Brent tergerus 1,1% ke posisi US$ 102,76 per barrel.

Data perekonomian negara-negara berukuran ekonomi besar telah mengecewakan pasar. Indeks pembelian manajer atau purchashing manager index (PMI) di China turun tiga bulan berturut-turut. Di saat yang sama, penjualan ritel di Jerman juga menurun.

Sementara belanja konsumen di Amerika Serikat melambat. "Kita mendapati data-data ekonomi yang mengecewakan," kata Gene McGillian, analis dan broker Tradition Energy AS, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (1/10).

Sinyal pelambatan ekonomi di China dan AS otomatis memukul harga komoditas energi ini. Pasalnya, dua negara besar tersebut saat ini tercatat sebagai konsumen minyak terbesar di dunia. "Ada risiko pelemahan permintaan China," kata Eugen Weinberg, Head of Commodities Research Commerzbank AG Frankfurt.

Data dari AS tak kalah suram. Departemen Energi AS mengungkapkan, permintaan rata-rata bahan bakar hingga 23 September lalu telah turun 0,6% menjadi 19 juta barel per hari. Sementara itu tingkat belanja konsumen di bulan Agustus hanya naik 0,2%, lebih rendah dibanding peningkatan Juli yang sebesar 0,7.

Data manufaktur dan PMI juga turun. "Tanda-tanda resesi meningkat dan ini artinya permintaan akan melemah," imbuh John Kilduff, analis Again Capital LLC.

Produksi minyak moncer

Di saat yang sama, produksi minyak organisasi negara-negara penghasil minyak (OPEC) justru naik, bulan lalu. Bahkan volumenya tercatat sebagai yang tertinggi sejak November 2008.

Iran misalnya, mencatat kenaikan 3,4% produksi minyak menjadi 2,77 juta barrel. Sementara produksi minyak Libya dan Angola juga naik masing-masing 55 ribu barrel dan 40 ribu barrel per hari. Sedangkan Uni Emirat Arab dan Kuwait mencatat kenaikan produksi minyak 15 ribu barrel per hari.
"Kembalinya produksi minyak mentah serta ekonomi yang melemah berdampak besar pada keseimbangan pasokan-permintaan selama kuartal IV ini," ujar Michael Lynch, President of Strategic Energy & Economic Research Massachussets AS.

Dalam jangka panjang, perekonomian global diperkirakan masih akan lesu. Mayoritas analis memperkirakan harga minyak masih belum memiliki otot untuk bangkit. Sebanyak 13 dari 28 analis yang disurvei Bloomberg memprediksi harga minyak masih akan jatuh pekan ini. Sedangkan delapan analis memperkirakan harga akan tetap, sisanya masih optimis banderol minyak bisa naik.

Ariston Tjendra, Kepala Riset Monex Investindo Futures, menuturkan, harga minyak sulit naik kembali melihat data-data ekonomi terakhir.
Apalagi, hiruk pikuk krisis Eropa masih belum mendapatkan solusi yang jelas. "Ini sentimen negatif bagi perekonomian dan permintaan minyak," tambah Ariston.

Titik support minyak yang terdekat ada di level US$ 75 per barrel. Jika level itu tersentuh, minyak bisa makin meluncur turun ke posisi US$ 70 per barel.

Wahyu T Laksono, Kepala Riset Real Time Futures, malah memiliki prediksi lebih pesimis terkait harga emas hitam ini. Dalam hitungannya, minyak berpotensi merosot ke level US$ 60 per barrel bulan ini atau November nanti.

Asumsi Wahyu, secara fundamental resesi ekonomi berkorelasi dengan harga minyak. Publik tentu masih ingat terjadinya krisis tahun 2008 ketika minyak ambles hingga di harga US$ 40 per barrel. "Bukan tidak mungkin itu terjadi lagi," tandasnya.

Kendati demikian, dia masih optimis harga minyak mampu kembali bangkit di akhir tahun nanti. "Minyak masih bisa ditutup di kisaran US$ 80-90 per barrel, akhir tahun ini," katanya.

Bursa futures AS tak banyak berubah pagi ini

Bursa futures AS  tak banyak berubah pagi ini
NEW YORK. Bursa futures AS ditransaksikan tak banyak perubahan pagi ini. Kontrak indeks Standard & Poor's 500 futures yang habis masa berlaku Desember naik kurang 0,1% menjadi 1.126,50 per pukul 08.25 waktu Tokyo. Sebelumnya, indeks S&P 500 sempat turun ke posisi 1.119,50. Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average futures naik kurang dari 0,1% menjadi 10.843.

Investor masih mencemaskan mengenai penyebaran krisis utang Eropa. Defisit anggaran yang kian membengkak dikhawatirkan akan memicu gagal bayar atau defaults. Apalagi, kerugian bank-bank di Eropa telah menyebabkan indeks MSCI World anjlok 17% dalam kurun waktu Juli hingga September.

Sementara itu, pemerintah Yunani sudah menyetujui kebijakan penghematan senilai 6,6 miliar euro atau setara dengan US$ 8,8 miliar. Kebijakan tersebut juga meliputi pemecatan pegawai negeri sipil. Langkah ini dilakukan Yunani untuk menunjukkan negara tersebut dapat melakukan penghematan sehingga bisa mengantongi dana paket penyelamatan ronde dua.

"Akan ada fokus utama baru di Eropa pada pekan ini. Investor mulai memperhatikan hasil kinerja perusahaan. Namun, pasar masih akan bergerak volatil karena transaksi perdagangan dipengaruhi emosi," papar Matt McCormick, money manager Bahl & Gaynor Inc.